Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36391 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Galuh Areta Trustha; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Dyah Armi Riana
Abstrak:
Sindrom metabolik atau sindrom X merupakan kondisi yang berpotensi meningkatkan risiko seseorang mengalami penyakit tidak menular. Berdasarkan data Riskesdas 2013, prevalensi sindrom metabolik di Indonesia mencapai 39% dan lebih banyak terjadi pada wanita. Gaya hidup berpotensi mempengaruhi terjadinya sindrom metabolik. Namun, penelitian terdahulu tentang hubungan gaya hidup yang meliputi aktivitas fisik, pola makan dan merokok terhadap sindrom metabolik menunjukkan hasil yang beragam. Selain itu, belum ada penelitian tentang sindrom metabolik spesifik pada populasi wanita di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan gaya hidup dengan kejadian sindrom metabolik pada wanita usia ≥15 tahun di Indonesia. Desain studi yang digunakan adalah cross-sectional dengan sumber data dari Riskesdas 2018. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi sindrom metabolik pada wanita usia ≥15 tahun di Indonesia sebesar 37,6%. Umur berhubungan signifikan dengan kejadian sindrom metabolik pada wanita (PR=1,711; 95% CI=1,640-1,785; nilai P=0,001). Dalam penelitian ini, aktivitas fisik, merokok, konsumsi makanan manis, minuman manis, makanan berlemak, soft drink, buah, dan sayur tidak terbukti berhubungan secara statistik dengan sindrom metabolik. Karena tingginya prevalensi sindrom metabolik pada wanita di Indonesia, perlu untuk meningkatkan program skrining, seperti pengukuran lingkar perut, tekanan darah, dan gula darah secara rutin. Selain itu, perlu untuk menerapkan gaya hidup sehat bagi wanita untuk mencegah terjadinya sindrom metabolik.

Metabolic syndrome or syndrome X is a condition that can increase a person's risk of developing non-communicable diseases. Based on Riskesdas 2013 data, the prevalence of metabolic syndrome in Indonesia reaches 39% and is more prevalent in women. Lifestyle has the potential to influence the incidence of metabolic syndrome. However, previous research on the relationship between lifestyle including physical activity, diet and smoking on metabolic syndrome has shown mixed results. In addition, there has been no research on specific metabolic syndrome in women in Indonesia. This study aims to determine the relationship between lifestyle and the incidence of metabolic syndrome in women aged ≥15 years in Indonesia. The study design used was cross-sectional with data sources from Riskesdas 2018. The results showed that the prevalence of metabolic syndrome in women aged ≥15 years in Indonesia was 37.6%. Age is significantly associated with the incidence of metabolic syndrome in women (PR=1.711; 95% CI=1.640-1.785; P=0.001). In this study, physical activity, smoking, consumption of sweet foods, sweet drinks, fatty foods, soft drinks, fruit and vegetables were not statistically proven to be associated with metabolic syndrome. Due to the high prevalence of metabolic syndrome among women in Indonesia, it is necessary to improve screening programs, such as routine measurements of abdominal circumference, blood pressure and blood sugar. In addition, it is necessary to adopt a healthy lifestyle for women to prevent metabolic syndrome.
Read More
S-11240
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Farhan Dwi Yulianto; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Rindu Rachmiaty
Abstrak: Stroke merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi masalah kesehatan masyarakat di dunia termasuk di Indonesia. Sekumpulan faktor risiko yang dapat berinteraksi bersama yang terdiri dari obesitas sentral, kadar trigliserida tinggi, kadar kolesterol HDL rendah, kadar GDP tinggi, dan hipertensi dikenal dengan istilah sindrom metabolik (IDF, 2006). Seseorang yang mengalami sindrom metabolik mempunyai peluang 3 kali untuk mengalami serangan jantung dan stroke (IDF, 2006). Sementara, menurut IDF (2006) diestimasi bahwa 20-25% penduduk dewasa di dunia mengalami sindrom metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sindrom metabolik dengan kejadian stroke pada penduduk berusia ≥ 15 tahun di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel kovariat. Desain studi penelitian yaitu potong lintang (cross sectional) dengan menggunakan data Riskesdas 2018. Sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi diperoleh sebesar 24.451 responden. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh proporsi stroke berdasarkan diagnosis dokter sebesar 1,2%. Proporsi sindrom metabolik diperoleh sebesar 24,4%. Terdapat hubungan yang signifikan antara sindrom metabolik dengan kejadian stroke dengan nilai p sebesar 0,001 dengan POR sebesar 2,370 (95% CI: 1,872-3,001), artinya responden yang mengalami sindrom metabolik mempunyai odds atau peluang 2,370 kali lebih tinggi untuk mengalami stroke dibandingkan responden yang tidak mengalami sindrom metabolik. Hasil analisis multivariat diperoleh hubungan yang signifikan antara sindrom metabolik dengan kejadian stroke (nilai p = 0,000) dengan aPOR sebesar 2,415 (95% CI: 1,883-3,099) dan diperoleh adanya variabel confounding yaitu variabel jenis kelamin dan usia. Sindrom metabolik dapat menjadi faktor yang penting untuk diperhatikan dalam upaya pencegahan dan pengendalian stroke di Indonesia.
Kata Kunci: Sindrom Metabolik, Stroke, Riskesdas 2018

Stroke is a non-communicable disease that becomes one of public health problems in the world, including in Indonesia. A group of risk factors that can be interacted together including central obesity, high triglyceride levels, low HDL levels, high GDP levels, and hypertension are known as metabolic metabolism (IDF, 2006). The person who has metabolic syndrome has a chance 3 times to have heart attacks and strokes (IDF, 2006). Meanwhile, according to IDF (2006) it is estimated that 20-25% of the adult population in the world having metabolic syndrome. This research aims to study the relationship between metabolic syndrome and stroke event in population aged ≥ 15 years old in Indonesia after being controlled by covariate variables. The design study of this research is cross sectional using data from Riskesdas 2018. The sample of this research that met the inclusion and exclusion criteria was 24,451 respondents. Based on the result of the analysis, the proportion of strokes based on the doctor's diagnosis is 1.2%. The proportion of metabolic syndrome obtained is 24.4%. There is a significant relationship between metabolic syndrome and the stroke event with a p value of 0.001 with a POR of 2.370 (95% CI: 1.8872,001), which means that respondents with metabolic syndrome has a chance or odds 2.370 times higher for stroke compared to respondents without metabolic syndrome. The results of multivariate analysis obtained a significant relationship between metabolic syndrome and stroke event (p = 0,000) with aPOR of 2,415 (95% CI: 1,883- 3,099) and obtained confounding variables such as gender and age. Metabolic syndrome can be an important factor to consider in efforts to prevent and control stroke event in Indonesia.
Keywords: Metabolic Syndrome, Stroke, Riskesdas 2018
Read More
S-10417
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Nafisah Zahra; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Telly Purnamasari Agus
Abstrak: Prevalensi diabetes melitus (DM) di Indonesia mengalami peningkatan baik berdasarkan diagnosis dokter ataupun pemeriksaan kadar glukosa darah. Selain itu, DM menyumbang tingkat kematian yang tinggi, morbiditas di semua kelompok umur, serta memberikan pembebanan pada biaya kesehatan. Asma merupakan penyakit pernapasan kronis yang menjadi faktor risiko potensial DM mengalami peningkatan jumlah penderita, penyebab morbiditas orang dewasa, peningkatan angka kematian serta tingginya beban kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan asma dengan kejadian DM tipe 2 pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sumber data sekunder Riskesdas 2018. Terdapat 23.119 sampel yang sesuai dengan kriteria studi. Proporsi kejadian DM tipe 2 sebesar 14,8% dan proporsi kejadian asma sebesar 3,1%. Proporsi DM tipe 2 lebih besar pada penderita asma (16,7%) dibanding dengan bukan penderita asma (14,7%). Jenis kelamin, perilaku merokok, konsumsi alkohol, dan kadar trigliserida memiliki efek modifikasi dengan asma terhadap hubungannya dengan DM tipe 2. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa asma tetap tidak berhubungan signifikan dengan kejadian DM tipe 2 setelah dikontrol semua variabel kovariat (PR=1,138; 95% CI: 0,94-1,36; p=0,162). Penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk studi mendatang dalam menganalisis hubungan kedua penyakit ini lebih lanjut
Read More
S-10899
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadia Isnaini; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dewi Kristanti
Abstrak:
Penyakit ginjal kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan yang cukup serius sebab kasusnya terus meningkat dari tahun ke tahun. PGK berada pada peringkat ke-10 penyebab kematian global. Selain itu, pengobatan PGK juga membutuhkan biaya yang besar dan jangka waktu yang panjang. Diabetes mellitus yang merupakan faktor risiko utama terjadinya PGK juga mengalami peningkatan prevalensi dari tahun ke tahun di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes mellitus dengan kejadian penyakit ginjal kronis pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta tahun 2018. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional dan data sekunder dari Riskesdas 2018. Setelah menyesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi didapatkan sampel penelitian sebanyak 7.427 orang. Hasil penelitian menunjukan bahwa prevalensi PGK pada penduduk berusia ≥ 15 tahun di Provinsi DKI Jakarta sebesar 0,5% dan prevalensi diabetes mellitus sebesar 5,7%. Hasil analisis statistik menunjukan terdapat hubungan antara diabetes mellitus dengan PGK dengan Prevalence Odds Ratio (POR) sebesar 3,549 (95% CI=1,461-8,617). Setelah dilakukan stratifikasi diketahui bahwa usia berpotensi menjadi confounding dengan nilai POR sebesar 2,69 (95% CI=1,04-6,93). Oleh karena itu, promosi kesehatan dan deteksi dini diabetes mellitus perlu digencarkan sebagai upaya pencegahan PGK.

Chronic kidney disease (CKD) is serious health problem because the prevalence continues to increase from year to year. Based on WHO data in 2019, CKD was the 10th most common cause of death globally. In addition, CKD treatment also requires a lot of money and a long period of time. Diabetes mellitus as a major risk of CKD also experienced an increase in prevalence from year to year in DKI Jakarta Province. This study aimed to determine the association between diabetes mellitus and chronic kidney disease in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province in 2018. This study used quantitative method with a cross-sectional study design and secondary data obtained from Basic Health Research (Riskesdas) 2018). After adjusting the inclusion and exclusion criteria, a sample of 7,427 people was obtained. The result showed that the prevalence of CKD in population aged ≥15 years in DKI Jakarta Province was 0,5% and the prevalence of diabetes mellitus was 5,7%. Based on the statistical analysis showed that there was a relationship between diabetes mellitus and CKD with Prevalence Odds Ratio (POR) of 3,549 (95% CI=1,461-8,617). After stratification, it was found that age had the potential to be confounding with a POR value of 2.69 (95% CI=1.04-6.93). Therefore, health promotion and early detection of diabetes mellitus need to be intensified as an effort to prevent CKD.
Read More
S-11230
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danastri Widoningtyas; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Ratna Djuwita, Rofingatul Mubasyiroh
S-10407
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Leah Hadassah Kadly; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah, Rindu Rachmiaty
Abstrak: Latar Belakang: Penyakit Ginjal Kronis (PGK) merupakan masalah kesehatan masyarakat yang mendunia, karena prevalens dan insidens PGK yang terus meningkat, prognosis yang buruk, serta biaya perawatan yang tinggi. Epidemi penggunaan temabakau dengan penggunaan utamanya adalah melalui perilaku merokok merupakan salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar yang dihadapi dunia, termasuk Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku merokok dengan Penyakit Ginjal Kronis (PGK) pada penduduk berusia ≥ 15 tahun di Indonesia. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan desain studi potong lintang analitik. Sumber data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder yang dipeoleh dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 dengan jumlah sampel sebesar 324.801 yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil: Berdasarkan hasil analisis, didapatkan prevalensi kejadian PGK adalah 0,5% dan proporsi perilaku merokok adalah terdapat 15,8% merokok dan 1,8% pernah merokok dengan sebanyak 14,1% rata-rata batang rokok yang dihisap ≤ 20 batang/hari, 14,5% merokok > 10 tahun, 8,0% merupakan perokok sedang, dan 11,0% merokok jenis kretek. Terdapat hubungan yang bermakna antara status merokok, lama merokok, derajat merokok, dan jenis rokok dengan POR = 1,15 (95% CI = 1,02 ? 1,30), POR = 1,30 (95% CI = 1,15 ? 1,48), POR = 1,89 (95% CI = 1,48 ? 2,40), dan POR = 1,91 (95% CI = 1,30 ? 2,80), secara berturut-turut. Selain itu, beberapa variabel faktor risiko lain memiliki hubungan yang bermakna, yaitu usia (POR = 2,66, 95% CI = 2,40 ? 2,96), jenis kelamin (POR = 1,44, 95% CI = 1,30 ? 1,60), tingkat pendidikan (POR = 1,33 95% CI = 1,20 ? 1,48), hipertensi (2,43, 95% CI = 2,20 ? 2,69), diabetes mellitus (POR = 4,2, 95% CI = 3,63 ? 4,93), penyakit jantung (5,28, 95% CI = 4,51 ? 6,17), konsumsi minuman berenergi (POR = 1,51, 95% CI = 1,07 ? 2,13), dan aktivitas fisik (POR = 1,58, 95% CI = 1,42 ? 1,77). Selain itu, diidentifikasi variabel efek modifikasi (interaksi), yaitu status pekerjaan, diabetes mellitus, dan konsumsi minuman berenergi dan variabel perancu yaitu variabel usia dan jenis kelamin. Kesimpulan: Perilaku merokok, khususnya status merokok, lama merokok, derajat merokok, dan jenis rokok yang dihisap merupakan faktor risiko penting yang perlu diperhatikan dalam pencegahan dan pengendalian kejadian PGK.
Background: Chronic kidney disease (CKD) is a global public health problem, due to the increasing prevalence and incidence of CKD, poor prognosis, and high treatment costs. The epidemic of tobacco use with its main use being through smoking is one of the biggest public health threats facing the world, including Indonesia. This study aims to determine the relationship between smoking behavior and Chronic Kidney Disease (CKD) in the population aged 15 years in Indonesia. Methods: The research was conducted using quantitative methods and a a cross-sectional analytical design. The source of data used in this study is secondary data obtained from the Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 with a total sample of 324,801 according to the inclusion and exclusion criteria. Results: Based on the results of the analysis, the prevalence of CKD incidence was 0.5% and the proportion of smoking behavior was 15.8% smoked and 1.8% had ever smoked with 14.1% the average cigarette smoked 20 cigarette/days, 14.5% smoked > 10 years, 8.0% were moderate smokers, and 11.0% smoked kretek. There is a significant relationship between smoking status, smoking duration, smoking degree, and type of cigarette with POR = 1.15 (95% CI = 1.02 ? 1.30), POR = 1.30 (95% CI = 1.15 ? 1.48), POR = 1.89 (95% CI = 1.48 ? 2.40), and POR = 1.91 (95% CI = 1.30 ? 2.80), respectively. In addition, several other risk factor variables had a significant relationship, namely age (POR = 2.66, 95% CI = 2.40 ? 2.96), gender (POR = 1.44, 95% CI = 1, 30 ? 1.60), education level (POR = 1.33 95% CI = 1.20 ? 1.48), hypertension (2.43, 95% CI = 2.20 ? 2.69), diabetes mellitus ( POR = 4.2, 95% CI = 3.63 ? 4.93), heart disease (5.28, 95% CI = 4.51 ? 6.17), consumption of energy drinks (POR = 1.51, 95 % CI = 1.07 ? 2.13), and physical activity (POR = 1.58, 95% CI = 1.42 ? 1.77). In addition, the modification effect variables (interaction) were identified, namely employment status, diabetes mellitus, and consumption of energy drinks, and confounding variables, namely age and gender. Conclusion: Smoking behavior, especially smoking status, duration of smoking, degree of smoking, and types of cigarettes smoked are important risk factors that need to be considered in preventing and controlling the incidence of CKD.
Read More
S-11021
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syahwa Elae Azzahra; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Trisari Anggondowati, Dewi Kristanti
Abstrak:
Stroke menjadi masalah kesehatan di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Menurut riskesdas 2018 bahwa prevalensi stroke di Indonesia berdasarkan diagnosis dokter sebesar 1,09%. Provinsi Bangka Belitung menjadi salah satu provinsi dengan prevalensi stroke yang melebihi angka nasional dan urutan ketujuh tertinggi dari hasil Riskesdas pada tahun 2018. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan faktor kondisi kesehatan dan perilaku terhadap kejadian stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Bangka Belitung. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain studi cross sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Sumber data yang digunakan dari Riskesdas 2018. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Bangka Belitung sebesar 1,6%. Uji statistik yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stroke antara lain diabetes melitus (PR = 6.11; 95% CI = 3.65-10,22), hipertensi (PR = 9,09; 95%CI = 5,91-13,98), obesitas (PR = 2,12; 95%CI = 1,38-3,25), dan aktivitas fisik (PR = 3,44; 95%CI = 2,25-5,26). Menerapkan perilaku hidup sehat dan cek rutin kesehatan terutama yang memilki risiko seperti diabetes melitus, hipertensi, dan obesitas. Kata kunci: Stroke, kondisi kesehatan, perilaku, Bangka Belitung, Riskesdas 2018

Stroke is a health problem in the world including in Indonesia. According to Riskesdas 2018, the prevalence of stroke in Indonesia based on a doctor's diagnosis is 1,09%. Bangka Belitung Province is one of the provinces with a prevalence of stroke that exceeds the national rate and ranks seventh highest from the results of Riskesdas 2018. This study aims to determine the relationship between health conditions and behavioral factors with stroke in populations aged ≥ 15 years in Bangka Belitung Province. The method used in this study was a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The data in this study are secondary data from Riskesdas 2018. The results showed that the prevalence of stroke in populations aged ≥ 15 years in Bangka Belitung Province was 1.6%. Statistical tests that have a significant relationship with stroke include diabetes mellitus (PR = 6.11; 95% CI = 3.65-10,22), hypertension (PR = 9,09; 95%CI = 5,91-13,98), obesity (PR = 2,12; 95%CI = 1,38-3,25), and physical activity (PR = 3,44; 95%CI = 2,25-5,26). Healthy lifestyle behaviors and regular health checks, especially for those who have risks such as diabetes mellitus, hypertension, and obesity. Keywords: Stroke, health condition, behavior, Bangka Belitung, Riskesdas 2018
Read More
S-11234
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vika Azzahra; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Yovsyah; Soewarta Kosen
Abstrak: Menurut Riskesdas 2013, di Indonesia prevalensi stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun sebesar 7 permil dan mengalami kenaikan dari tahun 2007 yang sebesar 6 permil. DIY menjadi provinsi dengan prevalensi stroke tertinggi kedua di Indonesia dan prevalensinya melebihi angka nasional yakni sebesar 10,3 permil pada tahun 2013. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menyebabkan kejadian stroke pada penduduk usia ≥15 tahun di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan data Riskesdas 2018 Provinsi DIY sebanyak 6695 responden. Uji statistik pada penelitian ini adalah uji chi square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi DIY tahun 2018 yaitu sebesar 1,7%. Uji statistik yang memiliki hubungan signifikan dengan kejadian stroke antara lain usia (POR = 3,23 ; 95%CI = 2,03-5,13), aktivitas fisik (POR = 2,86 ; 95%CI = 1,90-4,31), hipertensi (POR = 5,69 ; 95%CI = 3,68-8,79), penyakit jantung (POR = 2,57 ; 95%CI = 1,47-4,48), dan diabetes melitus (POR = 2,44 ; 95%CI = 1,49-3,40). Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara usia, aktivitas fisik, hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes melitus dengan kejadian stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi DIY
Read More
S-10909
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Szafira Nurul Qolbi; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Syahrizal Syarif, Telly Purnamasari Agus
Abstrak: Penelitian ini bertujuan unttuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stroke yang terdiagnosis dokter pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Jawa Timur. Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional dengan analisis bivariat dan stratifikasi. Data penelitian ini menggunakan data sekunder dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2018. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Provinsi Jawa Timur pada tahun 2018 yaitu sebesar 1%.
Read More
S-10626
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Theodorus Holspid Sembodo; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Lhuri Dwianti Rahmartani, Telly Purnamasari Agus
Abstrak:
Stroke merupakan penyebab terjadinya disabilitas tertinggi dan penyebab kematian terbanyak ke-2 secara global. Di Asia Tenggara, Indonesia merupakan negara dengan kasus kematian akibat stroke terbanyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stroke pada penduduk yang berusia ≥ 15 tahun di Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan sumber data dari Riskesdas 2018 dengan total sampel 51860 responden yang diolah dengan analisis bivariat dan stratifikasi. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa prevalensi kejadian stroke pada penduduk usia ≥15 Tahun di Provinsi Jawa Barat adalah sebesar 1,4%. Diketahui bahwa terdapat hubungan signifikan antara stroke dengan usia (PRR=75,880; 95% CI; 28,335—203,205), hipertensi (PRR= 9,181; 95% CI; 7,793—10,816), diabetes mellitus (PRR= 6,757; 95% CI; 5,455—8,368), penyakit jantung (PRR= 5,887; 95% CI; 4,723—7,338), aktivitas fisik (4,709; 95% CI; 4,054—5,470), IMT (PRR= 1,254; 95% CI; 1,024—1,536), wilayah tempat tinggal (PRR= 1,246; 95% CI; 1,062—1,464), perilaku merokok (PRR= 0,654; 95% CI; 0,538—0,796), dan pola makan (PRR= 0,423; 95% CI; 0,327—0,546). Variabel jenis kelamin dan tingkat pendidikan tidak berhubungan signifikan dengan kejadian stroke. Namun, dalam penelitian ini terdapat temuan unik di mana perokok harian dan 3 pola makan berisiko memiliki efek protektif terhadap stroke. Hal tersebut merupakan keterbatasan penelitian ini, maka perlu dilakukan penelitian yang dapat lebih jelas melihat hubungan kausal antara pajanan dengan stroke.

Stroke is the leading cause of disability and the second leading cause of death globally. In Southeast Asia, Indonesia has the highest number of stroke deaths. This study aims to identify factors associated with the incidence of stroke in the population aged ≥ 15 years in West Java Province. This study used a cross-sectional study design with data sources from Riskesdas 2018 with a total sample of 51860 respondents processed by bivariate and stratification analysis. The results show that the prevalence of stroke incidence in the population aged ≥15 years in West Java Province is 1.4%. It is known that there is a significant relationship between stroke and age (PRR = 75.880; 95% CI; 28.335-203.205), hypertension (PRR = 9.181; 95% CI; 7.793-10.816), diabetes mellitus (PRR = 6.757; 95% CI; 5.455-8.368), heart disease (PRR = 5.887; 95% CI; 4.723-7.338), physical activity (4.709; 95% CI; 4.054-5.470), BMI (PRR= 1.254; 95% CI; 1.024-1.536), region of residence (PRR= 1.246; 95% CI; 1.062-1.464), smoking behavior (PRR= 0.654; 95% CI; 0.538-0.796), and diet (PRR= 0.423; 95% CI; 0.327-0.546). Gender and education level were not significantly associated with stroke incidence. However, in this study there were unique findings where daily smoking and 3 risky diets had a protective effect on stroke. This is a limitation of this study, so research that can more clearly see the causal
Read More
S-11402
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive