Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36294 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Reihan Zulkarnaen; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Nurfi Afriansyah
Abstrak:
Indikator Konsumsi Telur, Ikan atau Daging (TID) adalah salah satu indikator Infants and Young Child Feeding WHO dan UNICEF sebagai salah satu cara untuk mencegah dan menanggulangi permasalahan gizi anak, seperti stunting. Penelitian ini dijalankan untuk mengetahui faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi TID pada anak usia 6-23 bulan. Pemanfaatan data sekunder SDKI 2017 dilakukan dalam penelitian ini. Desain studi yang digunakan adalah desain studi potong lintang atau cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase anak usia 6-23 bulan yang memenuhi konsumsi TID adalah sebesar 71,7%. Dari sekian variabel, terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara usia anak (PR = 3,34; 95% CI: 2,96-3,75), akses ibu terhadap internet (PR = 1,19; 95%CI: 1,06-1,34), kepemilikan buku KIA (PR = 0,74; 95% CI: 0,59-0,95), ibu berpendidikan rendah (PR = 1,65; 95% CI: 1,29-2,13) dan menengah (PR = 1,36; 95%CI: 1,09-1,70), ayah berpendidikan rendah (PR = 1,65; 95% CI: 1,27-2,13) dan menengah (PR = 1,28; 95% CI: 1,01-1,619), status bekerja ibu (PR = 1,32; 95%CI: 1,16-1,45), rumah tangga paling miskin (PR=1,86; 95%CI: 1,40-2,47), rumah tangga miskin (PR = 1,74; 95%CI: 1,32-2,31), rumah tangga menengah (PR = 1,67; 95%CI: 1,26-2,22), rumah tangga kaya (PR = 1,39; 95%CI: 1,05-1,83), dan kepemilikan kulkas (PR = 1,28; 95% CI: 1,14-1,44) terhadap ketidaktercapaian konsumsi TID. Informasi mengenai faktor-faktor yang memengaruhi konsumsi TID ini dapat menjadi dasar informasi terkini mengenai indikator konsumsi TID.

Egg and/or Flesh Food Consumption is one of WHO and UNICEF's Infants and Young Child Feeding indicators as a way to prevent and overcome child nutrition problems, such as stunting. This research was carried out to determine the factors that influence EFF consumption in children aged 6-23 months. The 2017 IDHS secondary data was utilized in this research. The study design used was a cross-sectional study design with univariate and bivariate analysis. The research results showed that the percentage of children aged 6-23 months who met EFF consumption was 71.7%. Of the variables, there is a statistically significant relationship between child age (PR = 3.34; 95% CI: 2.96-3.75), mother's access to the internet (PR = 1.19; 95% CI: 1, 06-1.34), ownership of KIA book (PR = 0.74; 95% CI: 0.59-0.95), mother with low (PR = 1.65; 95% CI: 1.29-2, 13) and middle (PR = 1.36; 95%CI: 1.09-1.70) education, low (PR = 1.65; 95%CI: 1.27-2.13) and middle (PR = 1.28; 95% CI: 1.01-1.619) education, mother's working status (PR = 1.32; 95% CI: 1.16-1.45), poorest household (PR = 1.86; 95%CI: 1.40-2.47), poor households (PR = 1.74; 95%CI: 1.32-2.31), middle class households (PR = 1.67; 95%CI: 1.26-2.22), rich households (PR = 1.39; 95%CI: 1.05-1.83), and refrigerator ownership (PR = 1.28; 95%CI: 1.14- 1.44) towards non-achievement of EFF consumption. Information regarding factors that influence EFF consumption can be the basis for current information regarding EFF consumption indicators.
Read More
S-11789
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gita Aprilicia; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Penguji: Yovsyah, Felly Philipus Senewe
Abstrak: Asma merupakan penyakit inflamasi saluran pernapasan yang sering dijumpai pada anak-anak dengan insiden kejadian yang lebih tinggi dibanding kelompok umur lainnya. Diperkirakan, sekitar 300 juta penduduk dunia saat ini menderita asma dan akan meningkat menjadi 400 kasus pada tahun 2025. Selain dari faktor pejamu yang tidak dapat dimodifikasi, peningkatan prevalens asma diduga juga berhubungan dengan adanya peran dari faktor lingkungan.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian asma dan pencetus serangan asma anak usia 0-11 tahun di Indonesia pada tahun 2013. Penelitian ini menggunakan data sekunder Riskedas tahun 2013 dengan desain cross sectional deskriptif. Responden terdiri dari 237.992 anak usia 0-11 tahun di Indonesia. Analisis data dilakukan dengan analisis chi square.

Hasil analisis univariat diperoleh prevalensi asma pada anak usia 0-11 tahun di Indonesia pada tahun 2013 sebesar 3,6% dengan faktor pencetus yang paling sering adalah flu atau infeksi sebesar 56,2%. Hasil analisis bivariat diperoleh bahwa kejadian asma pada anak usia 0-11 tahun berhubungan dengan umur, jenis kelamin, wilayah tinggal, keadaan sosioekonomi, asap dapur, paparan pestisida dalam rumah, jenis lantai rumah, jenis dinding rumah, jenis plafon rumah, kebersihan ruang tidur, kebersihan ruang masak, dan kebersihan ruang keluarga.

Penelitian ini menemukan bahwa peluang mendapatkan asma lebih tinggi ditemukan pada anak laki-laki, berumur 2 tahun, tinggal di wilayah pedesaan, mempunyai keadaan sosioekonomi rendah, terdapat asap dapur dalam rumah, terdapat paparan pestisida dalam rumah, mempunyai lantai rumah berjenis tanah, dinding berjenis bambu, plafon berjenis bambu, serta kebersihan ruang tidur, ruang masak, dan ruang keluarga yang tidak bersih.

Kata Kunci: Asma pada Anak, Pencetus Serangan Asma, Lingkungan Rumah
Read More
S-9043
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melinda Wulandari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarif, Asep Hermawan
Abstrak: Berdasarkan Riset Kesehatan 2013 dan 2018, anak usia 12-23 bulan memiliki prevalensipneumonia tertinggi diantara usia balita lainnya. Penelitian ini bertujuan untukmengidentifikasi prevalensi dan faktor yang berhubungan dengan kejadian pneumoniapada anak usia 12-23 bulan di Pulau Jawa. Desain penelitian yang digunakan yaitu desainpotong lintang dengan menggunakan sampel berjumlah 2.695 anak. Penelitian inimenggunakan analisis bivariat untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungandengan kejadian pneumonia. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi kejadianpneumonia pada anak usia 12-23 bulan sebesar 5,5%. Imunisasi campak berhubungandengan kejadian pneumonia secara signifikan (POR= 1,743; 95% CI= 1,077-2,822).Penelitian ini mendukung pentingnya pemberian imunisasi campak untuk mencegahpneumonia. Intervensi yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu meningkatkancakupan imunisasi campak melalui kampanye imunisasi campak.Kata kunci:Anak Usia 12-23 Bulan, Pneumonia, Pulau Jawa
According to Riskesdas 2013 and 2018, the highest prevalence of pneumonia in childrenunder five are the children aged 12-23 months. This study aims to identify the prevalenceand factors associated with pneumonia among children aged 12-23 months in Jawa Island.The study design used for this study is cross sectional with total sample of 2.695 children.Bivariate analysis is performed to identify factors associated with pneumonia. The resultsshow the prevalence of pneumonia among children aged 12-23 months is 5,5%. Measlesimmunization is significantly associated with pneumonia (POR= 1,743; 95% CI= 1,077-2,822). This study supports the importance of measles vaccination to prevent pneumonia.Intervention that can be implemented by the government is increasing measlesimmunization coverage through measles vaccination campaigns.Key words:Children Aged 12-23 Months, Pneumonia, Jawa Island.
Read More
S-10306
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sibongire Blessings Ngoma; Pembimbing: Sibongire Blessings Ngoma; Penguji: Trisari Anggondowati, Alexander A. Kalimbira, Poppy Elvira Deviany
Abstrak:
Stunting masih menjadi tantangan utama kesehatan masyarakat di Malawi. Menurut Malawi Survei Demografi dan Kesehatan (MDHS) 2024, sekitar 38% anak balita mengalami stunting, meningkat dari 37% pada tahun 2015/16. Meskipun berbagai program gizi dan kesehatan telah dilaksanakan selama beberapa dekade, penurunan stunting masih stagnan, yang menunjukkan bahwa strategi yang ada belum memadai untuk mengatasi faktor-faktor mendasar penyebab kurang gizi pada anak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan stunting pada anak usia 6–59 bulan di Malawi. Analisis data sekunder dari cross-sectional Malawi DHS 2024 telah dilakukan. Sebanyak 4.804 anak usia 6–59 bulan dengan data antropometri valid (sampel tertimbang: 4.550) diikutsertakan dalam penelitian ini. Analisis deskriptif berbobot survei dilakukan untuk mengestimasi prevalensi stunting dan menggambarkan karakteristik populasi. Analisis bivariat tidak berbobot dan analisis multivariat tersesuaikan dilakukan menggunakan regresi Cox termodifikasi dengan waktu konstan dan varians robust untuk mengestimasi prevalence ratio (PR) kasar dan tersesuaikan. Modifikasi efek berdasarkan wilayah juga dianalisis untuk menentukan apakah hubungan antara faktor-faktor yang diidentifikasi dengan stunting berbeda di berbagai wilayah Malawi. Prevalensi stunting berbobot survei adalah 39,1% (95% CI: 37,2%–41,0%) pada anak usia 6–59 bulan. Prevalensi stunting tertinggi ditemukan pada anak usia 24–35 bulan (48,5%; 95% CI: 44,9%–52,1%), anak laki-laki (41,3%; 95% CI: 38,9%–43,8%), anak yang berasal dari rumah tangga dengan kuintil kekayaan terendah (44,6%; 95% CI: 41,9%–47,3%), serta di wilayah Tengah (40,3%; 95% CI: 37,0%–43,6%) dan Selatan (40,2%; 95% CI: 37,6%–42,8%) Malawi. Usia anak (p<0,001), jenis kelamin (p<0,001), urutan kelahiran (p=0,027), berat lahir (p<0,001), durasi pemberian ASI (p<0,001), kunjungan antenatal (antenatal care/ANC) (p=0,011), usia ibu saat melahirkan (p<0,001), tingkat pendidikan ibu (p<0,001), Body Mass Index (BMI) ibu (p<0,001), tempat tinggal (p<0,001), wilayah (p<0,001), kuintil kekayaan (p<0,001), jumlah anggota rumah tangga (p<0,001), dan jenis fasilitas sanitasi (p<0,001) berhubungan dengan stunting. Setelah penyesuaian, usia anak, jenis kelamin, berat lahir, diare, BMI ibu, kuintil kekayaan, tingkat pendidikan ibu, wilayah, dan jumlah anggota rumah tangga (p<0,05) berhubungan secara independen dengan stunting. Tidak ditemukan adanya modifikasi efek yang bermakna berdasarkan wilayah terhadap kekuatan hubungan antara faktor-faktor independen yang diidentifikasi dengan stunting. Prevalensi stunting di Malawi masih tinggi dan dipengaruhi oleh faktor-faktor yang saling berkaitan pada tingkat anak, ibu, dan rumah tangga. Percepatan penurunan stunting di Malawi memerlukan penguatan koordinasi multisektoral, investasi gizi yang merata, pencegahan diare, serta edukasi gizi dan peningkatan status gizi ibu sebelum, selama, dan setelah kehamilan.

Stunting remains a major public health challenge in Malawi. According to the 2024 Malawi Demographic and Health Survey (MDHS), approximately 38% of children under five years of age are stunted from 37% in 2015/16. Despite decades of ongoing nutrition and health programs, progress in reducing stunting has largerly stagnated, suggesting that existing strategies have been insufficient to address the underying determinants of child undernutrition and achieve substantial reductions in stunting prevalence. This study aimed to examine factors associated with stunting among children aged 6-59 months in Malawi. A secondary data analysis of a cross-sectional 2024 Malawi DHS was conducted. A total of 4,804 children aged 6-59 months with valid anthropometric measurements corresponding to a weighted sample of 4,550 were included. Survey weighted descriptive analyses were perfomed to estimate stunting prevalence and describe population characteristics. Unweighted bivariate and adjusted multivariate analyses were conducted using modified Cox regression with constant time and robust variance to estimate crude and adjusted prevalence ratios (PRs). Effect modification by region were also assessed to determine whether the associations between the identified factors and stunting differed across Malawian regions. Survey-weighted prevalence of stunting was 39.1% (95% CI: 37.2%-41.0%) among children aged 6-59 months. Stunting was most prevalent among children aged 24-35 months (48.5%; 95% CI: 44.9%-52.1%), among male children (41.3%; 95% CI: 38.9%-43.8%), those from the lowest wealth quintile households (44.6%; 95% CI: 41.9%-47.3%) , Central (40.3%; 95% CI: 37.0%-43.6%) and Southern regions (40.2%; 95% CI: 37.6%-42.8%) of Malawi. Age of child (p<0.001), sex (p<0.001), birth order (p=0.027), birth weight (p<0.001), breastfeeding duration (p<0.001), ANC visits (p=0.011), mother’s age at delivery (p<0.001), mother’s education level (p<0.001), maternal Body Mass Index (BMI) (p<0.001), place of residence (p<0.001), region (p<0.001), wealth quintile (p<0.001), number of household members (p<0.001), and type of toilet facility (p<0.001) with stunting. After adjustment, child’s age, sex, birth weight, diarhoea, maternal BMI, wealth quintile, maternal education level, region, and number of household members (p<0.05) were independently associated with stunting. No significant effect mofification by region was observed in the strength of association of the identified independent factors on stunting. The prevalence of stunting remains high in Malawi driven by interconnected child, maternal, and household factors. Accelerating stunting reduction in Malawi requires strengthened multisectoral coordination, equitable nutrition investment, effective diarrhea prevention, and strengthening nutrition education for women and improving maternal nutritional status before, during, and after pregnancy.
Read More
T-7613
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Sisca Kumala Putri; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Ratna Djuwita, Ratu Ayu Dewi Sartika, Dodik Briawan, Iskari Ngadiarti
T-3349
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Melinda Ariyanti; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Putri Bungsu, Mugia Bayu Rahardja
S-9940
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risna Ilmi Aulia; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Renti Mahkota, Yoan Hotnida Naomi Hutabarat
Abstrak:
Kanker serviks merupakan salah satu penyebab utama kematian akibat kanker pada wanita. Berdasarkan data dari GLOBOCAN 2020, insiden kanker serviks di Indonesia mencapai 36.633 kasus di tahun 2020. Walaupun prevalensi kanker serviks di Indonesia tinggi, skrining nasional kanker serviks masih rendah yaitu 9,3% hingga tahun 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian lesi prakanker serviks di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi potong lintang (cross-sectional) dengan sumber data Riset PTM 2016. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah perempuan usia 25-64 tahun di Indonesia yang menjadi responden dalam Riset PTM 2016, yaitu sebanyak 32.564 responden. Hasil penelitian menemukan bahwa prevalensi lesi prakanker serviks pada wanita usia 25-64 tahun di Indonesia pada tahun 2016 sebesar 7,3%. Berdasarkan hasil analisis bivariat, terdapat hubungan yang signifikan antara usia (POR=1,38; 95% CI: 1,27–1,50) dan penggunaan kontrasepsi hormonal (POR=1,23; 95% CI: 1,11–1,36) dengan kejadian lesi prakanker serviks dan terdapat hubungan yang signifikan dengan efek protektif antara paritas (POR=0,91; 95% CI: 0,84–0,99) dan usia pertama melahirkan (POR=0,86; 95% CI: 0,78–0,96) dengan kejadian lesi prakanker serviks. Pemerintah perlu melakukan pemerataan dalam penyediaan peralatan skrining kanker serviks (terutama IVA) ke puskesmas dan fasilitas kesehatan primer lainnya untuk meningkatkan cakupan skrining nasional.

Cervical cancer is one of the leading causes of cancer deaths in women. Based on data from GLOBOCAN 2020, the incidence of cervical cancer in Indonesia reached 36,633 cases in 2020. Despite the high prevalence of cervical cancer in Indonesia, national cervical cancer screening is still low at 9.3% until 2022. This study aims to determine the factors associated with the incidence of cervical precancerous lesions in Indonesia. This study used a cross-sectional study design with the 2016 NCD Research data source. The sample in this study was women aged 25-64 years in Indonesia who were respondents in the 2016 NCD Research, totaling 32,564 respondents. The results of the study found that the prevalence of cervical precancerous lesions in women aged 25-64 in Indonesia in 2016 was 7.3%. Based on the results of bivariate analysis, there is a significant relationship between age (POR=1,38; 95% CI: 1,27–1,50) and the use of hormonal contraception (POR=1,23; 95% CI: 1,11–1,36) with the incidence of cervical precancerous lesions and there is a significant relationship with a protective effect between parity (POR=0,91; 95% CI: 0,84–0,99 and age at first birth (POR=0,86; 95% CI: 0,78–0,96) with the incidence of cervical precancerous lesions. The government needs to ensure equity in the provision of cervical cancer screening equipment (especially VIA) to community health centers (puskesmas) and other primary health facilities to increase national screening coverage.
Read More
S-11626
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Padri H.; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono
T-859
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vito Christian; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Inggariwati
Abstrak:
Pada tahun 2025, di Provinsi DKI Jakarta terjadi peningkatan kasus suspek campak pada anak umur 1-4 tahun dibandingkan tahun 2024, serta cakupan imunisasi MR anak umur 0-59 bulan belum mencapai target 95%. Anak-anak memiliki sistem kekebalan tubuh yang masih dalam tahap perkembangan sehingga risiko terkena campak dan mengalami komplikasi serius meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan di DKI Jakarta tahun 2025. Penelitian menggunakan desain penelitian cross-sectional dan data sekunder dari Form MR02 Campak/Rubella DKI Jakarta tahun 2025 dari Dinkes Provinsi DKI Jakarta. Sampel penelitian ini berjumlah 1.572 anak suspek campak dan dianalisis dari analisis univariat hingga bivariat dengan uji chi-square. Khusus untuk analisis faktor status gizi, jumlah sampel adalah 380 anak yang memiliki data tinggi badan dan berat badan secara lengkap. Didapatkan prevalensi anak umur 12-59 bulan yang positif campak adalah sebesar 43,45%. Faktor-faktor yang berhubungan signifikan dengan kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan adalah umur 24-59 bulan (PR: 1,301; 95% CI: 1,153–1,468), status imunisasi campak tidak lengkap (PR: 2,350; 95% CI: 2,000–2,761), dan status gizi buruk/kurang (PR: 1,281; 95% CI: 1,049–1,565). Sementara itu, faktor jenis kelamin, riwayat bepergian satu bulan terakhir, serta status gizi lebih/obesitas tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian campak pada anak umur 12-59 bulan. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi masukan bagi program pencegahandan pengendalian campak, khususnya program peningkatan cakupan imunisasi campak dan mendorong kesadaran orang tua dalam upaya pencegahan campak pada anak.

In 2025, DKI Jakarta Province experienced an increase in suspected measles cases among children aged 1-4 years compared to 2024, and the MR immunization coverage for children aged 0-59 months had not reached the 95% target. Children possess developing immune systems, which increases their risk of contracting measles and experiencing serious complications. This study aimed to determine the factors associated with measles occurrence among children aged 12-59 months in Jakarta in 2025. This study utilized a cross-sectional design and secondary data from the 2025 Jakarta Measles/Rubella MR02 Form, obtained from the DKI Jakarta Provincial Health Office. The total sample consisted of 1.572 children with suspected measles, analyzed using univariate and bivariate analysis with the chi-square test. Specifically for the nutritional status factor analysis, the sample size was 380 children who had complete height and weight data. The results showed that the prevalence of laboratory-confirmed positive measles among children aged 12-59 months was 43,45%. Factors significantly associated with measles occurrence in children aged 12-59 months were age 24-59 months (PR: 1,301; 95% CI: 1,153–1,468), incomplete measles immunization status (PR: 2,350; 95% CI: 2,000–2,761), and severely wasted/wasted status (PR: 1,281; 95% CI: 1,049–1,565). Meanwhile, gender, travel history within the past month, and overweight/obese status had no significant association with measles occurrence in children aged 12-59 months. This study is expected to provide valuable insights for measles prevention and control programs, particularly for programs aimed at increasing measles immunization coverage and encouraging parental awareness in childhood measles prevention efforts.
Read More
S-12283
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggun Purnama Dewi; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mahkota, Renti ; Mutaqin, Asep Adam
S-8985
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive