Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 21690 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rusbani Kurniawan; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Fatma Lestari, Mila Tejamaya, Widura Imam Mustopo; Djarot Sulistio Wisnubroto; Lana Saria; Heru Prasetio
Abstrak:
Latar belakang: Barrier adalah setiap tindakan yang dilakukan untuk mencegah, mengendalikan atau memitigasi risiko, agar suatu pekerjaan dapat dilaksanakan dengan selamat. Namun pada praktiknya, penggunaan barrier berpotensi menimbulkan dampak negatif, dimana selain mengatasi risiko, barrier juga berperan sebagai sumber bahaya (emerging risk). Saat ini, variabel emerging risk akibat barrier belum terkonsepsi di dalam standar internasional tentang manajemen risiko seperti ISO 31000 dan COSO. Industri tambang batubara memiliki sistem sosioteknologi yang kompleks dan memiliki tingkat keselamatan yang cukup rentan. Menurut ILO, secara global industri tambang menyerap 1% lapangan kerja, namun menyumbang 8% angka kecelakaan kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji munculnya fenomena emerging risk akibat barrier, serta menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kecelakaan pada industri tambang batubara.
Metode: Desain penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dan kualitatif. Data utama merupakan data sekunder berupa Laporan Investigasi Insiden PT. X tahun 2020, sebanyak 822 insiden dari seluruh site di pulau Jawa dan Sumatera. Triangulasi dilakukan dengan data primer berupa hasil wawancara mendalam, FGD dan telaah dokumen. Uji statistik bivariat dengan metode Chi Square digunakan untuk melihat hubungan antara variabel penyebab dasar (bulan, lokasi, jam, status kontrak, usia, pengalaman, departemen, jabatan dan tipe unit) dengan variabel penyebab langsung (kondisi tidak aman dan tindakan tidak aman). Sedangkan uji statistik multivariat dengan metode Regresi Logistik selanjutnya digunakan untuk melihat hubungan antara variabel barrier dengan variabel emerging risk.
Hasil: Variabel bulan, lokasi, jam dan tipe unit memiliki hubungan signifikan dengan variabel penyebab langsung (nilai-P < 0,05). Variabel usia, pengalaman, jabatan, departemen dan status kontrak tidak berhubungan dengan variabel penyebab langsung (nilai-P > 0,05). Sedangkan variabel barrier memiliki hubungan signifikan dengan variabel emerging risk (nilai-P < 0,0001).
Kesimpulan: Variabel terkait dengan job factor (bulan, lokasi, jam dan tipe unit) perlu diintervensi untuk menurunkan potensi munculnya penyebab langsung kecelakaan. Standar internasional tentang manajemen risiko juga perlu diperbarui sehingga praktek penilaian risiko dimasa mendatang mampu mengantisipasi emerging risk akibat barrier.

Background: Barrier is any action taken to prevent, control or mitigate risk, so that work can be carried out safely. In reality, however, the use of barriers has the potential to cause negative impacts, where in addition to overcoming risks, barriers also act as a source of hazard. Currently, emerging risk of barrier variable have not been conceptualized in international stadards on risk management such as ISO 31000 and/or COSO. The coal mining industry has a complex socio-technological system and has a level of safety that is quite vulnerable. According to the ILO, globally the mining industry absorbs 1% of employment, but contributes 8% to work accidents. The objective of this study is to investigate the phenomena of emerging risk due to barriers, and to analyze the factors that contribute to the occurrence of accidents in the coal mining industry.

Method: Both quantitative and qualitative analysis were used for this study. The main data is secondary data in the form of Incident Investigation Reports of PT. X in 2020, there were 822 incidents from all sites on the islands of Java and Sumatra. Triangulation was carried out using primary data in the form of in-depth interviews, FGDs and document reviews. Bivariate statistical tests with the Chi Square method are used to see the relationship between the basic cause variables (month, location, hour, contract status, age, experience, department, position and type of unit) and the immediate cause variables (unsafe conditions and unsafe acts). Meanwhile, multivariate statistical tests with the Linear Regression methode are then used to see the relationship between barrier variables and emerging risk variables.
Result: The barrier variable are significantly correlated to emerging risk variables (P-value < 0.0001). Meanwhile, the basic cause variables including month, location, hour and type of unit had a significant relationship with the immediate causes variable (P-value < 0.05). The basic cause variables including age, experience, position, department, and contract status are not related to the immediate cause variables (P-value > 0.05).
Conclusion: Variables related to job factors including month, location, hour and type of unit need to be intervened to reduce the developing of accident immediate causes. International standards regarding risk management also need to be updated so that future risk assessment practices are able to anticipate emerging risks of barrier.
Read More
D-480
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adenan; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Fatma Lestari, Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Budi Hartono, L. Meily Kurniawidjaja, Herlina J. EL- Matury, Kusnendi Soehardjo, Suparni
Abstrak:

Keselamatan kerja pada jalur hauling di industri pertambangan batubara merupakan aspek penting yang memerlukan perhatian serius, mengingat tingginya risiko kecelakaan kerja pada aktivitas pengangkutan material. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi kecelakaan kerja dan menyusun model pencegahan berbasis Human Factor Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI) serta metode investigasi Australian Transport Safety Bureau (ATSB). Pendekatan campuran digunakan dalam penelitian ini, dengan data kuantitatif diperoleh melalui survei terhadap 420 operator dump truck di tiga perusahaan tambang terbuka di Kalimantan, serta data kualitatif dari wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), dan observasi langsung di lapangan. Analisis regresi linier berganda digunakan untuk menguji pengaruh enam variabel independen faktor eksternal, pengaruh organisasi, kepemimpinan tidak berkeselamatan, pengendalian risiko, kondisi lingkungan, dan tindakan individu terhadap kecelakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh variabel memiliki pengaruh signifikan, dengan kepemimpinan tidak berkeselamatan dan kondisi lingkungan sebagai faktor dominan penyebab kecelakaan. Temuan ini mengindikasikan perlunya penguatan pengawasan, perbaikan perilaku kerja operator, serta peningkatan kualitas jalur hauling. Model pencegahan yang diusulkan menitikberatkan pada penguatan kepemimpinan, pengendalian risiko, dan perawatan infrastruktur hauling secara berkelanjutan untuk menurunkan angka kecelakaan kerja di sektor pertambangan.


 

Occupational safety in hauling roads within the coal mining industry is a critical aspect that requires serious attention, considering the high risk of work accidents during material transportation activities. This study aims to analyze the factors influencing occupational accidents and to develop a preventive model based on the Human Factor Analysis and Classification System for Mining Industry (HFACS-MI) and the Australian Transport Safety Bureau (ATSB) investigation method. A mixed-method approach was used, with quantitative data collected through a survey of 420 dump truck operators across three open-pit mining companies in Kalimantan, and qualitative data gathered from in-depth interviews, focus group discussions (FGDs), and direct field observations. Multiple linear regression analysis was employed to assess the influence of six independent variables external factors, organizational influence, unsafe leadership, risk control, environmental conditions, and individual actions on work accidents. The results indicated that all variables had a significant effect, with unsafe leadership and environmental conditions emerging as the dominant contributing factors. These findings highlight the need to strengthen supervision, improve operator behavior, and enhance the quality of hauling road infrastructure. The proposed accident prevention model emphasizes the reinforcement of leadership roles, risk control management, and continuous improvement of hauling infrastructure to reduce the incidence of occupational accidents in the mining sector.

Read More
D-589
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendra; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: I Made Djaja, Syahrul Meizar Nasri; Penguji:Mondastri Korib Sudaryo, Robiana Modjo, Indri Hapsari Susilowati, Sutanto Priyo Hastono, Lana Saria, Heny D. Mayawati
Abstrak:

Kelelahan merupakan hal umum yang dikeluhkan oleh pekerja dan hampir 20% pekerja melaporkan gejala kelelahan. Khusus pada pengemudi, kelelahan berkontribusi secara signifikan terhadap kecelakaan transportasi. Selain meningkatnya kerugian akibat kecelakaan, kelelahan mengemudi juga menyebabkan kerugian finansial yang besar di sesluruh dunia. Kelelahan mengemudi juga dialami oleh pekerja tambang batubara di Indoneisa, khususnya pekerja operator. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan determinan strategis kelelahan dari faktor individu, faktor pekerjaan dan faktor eksternal pada operator tambang batubara di Kalimantan dan Sumatra tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain potong lintang pada 2 perusahaan tambang batubara, 7 lokasi tambang, dan 480 operator. Pengumpulan data dilakukan secara daring dengan menggunakan kuesioner. Kelelahan diukur dengan menggunakan 3 instrumen yaitu checklist individual streght-20 (CIS-20), multidimensionall fatigue inventory-20 (MFI-20), dan swedish occupational fatigue inventory (SOFI). Tipe kelelahan yang diteliti meliputi kelelahan umum, kelelahan fisik, kelelahan mental, dan kelelahan emosional. Beberapa instrumen standar juga digunakan dalampenelitian ini seperti perceived stress scale untuk mengukur stres, dutch boredom scale untuk mengukur rasa bosan, dan Pittsburg sleep quality index untuk mengukur kualitas tidur. Analisis data menggunakan chi-square dan regresi logistik ganda. Operator yang menjadi responden penelitian mempunyai umur 32,13 ± SD 6,1 tahun (21 – 58 tahun), sedangkan IMT diperoleh rerata sebesar 24,86 ± SD 3,1 dengan rentang (16,51 – 33,75) serta IMT terbanyak 24,22. Terdapat 26,9% operator termasuk kategori obesitas. Mayoritas operator sudah menikah (85%) dan sebagian besar (63,5%) tinggal di luar mess dengan keluarga (55,8%) serta mayoritas (96%) berpendidikan SMA atau sederajat. Rerata masa kerja operator adalah 9,52 ± SD 4,2 tahun dengan rentang (124 tahun) serta masa kerja terbanyak adalah 10 tahun. Sebagian besar operator bekerja di area tambang (65,8%). Jumlah operator berdasarkan pola shift dan waktu shift, masingmasing 240 (50%). Prevalensi kelelahan pada operator berkisar antara 20%-31% dengan kelelahan umum 24,8%, kelelahan fisik 22,3%, kelelahan mental 32,3%, dan kelelahan emosional 30,6%. Determinan strategis kelelahan pada operator terdiri dari faktor individu yang meliputi tingkat stres, kualitas tidur, gangguan eksternal tidur, faktor pekerjaan meliputi lokasi kerja di tambang, dan faktor eksternal yaitu tinggal dengan keluarga. Sedangkan faktor pola shift kerja dan masa kerja merupakan faktor kontekstual. Faktor yang menjadi determinan pada semua tipe kelelahan adalah faktor tingkat stres dan lokasi kerja. Determinan strategis pada kelelahan umum adalah tingkat stres (OR=3,0), lokasi kerja (OR=2,5), kualitas tidur (OR=1,8), dan tinggal dengan keluarga (OR=1,6). Pada kelelahan fisik, determinan strategis adalah tingkat stres (OR=2,5), gangguan eksternal tidur (OR=2,2), dan lokasi kerja di tambang (OR=1,7). Kelelahan mental mempunyai determinan strategis yaitu kualitas tidur (OR= 2,1), lokasi kerja di tambang (OR=2,1), tingkat stres (OR=1,7) dan gangguan eksternal tidur (OR=1,6). Sedangkan kelelahan emosional mempunyai determinan strategis yaitu tingkat stres (OR=2,0), lokasi kerja (OR=1,9), dan kualitas tidur (OR=1,9). Kelelahan emosional juga mempunyai faktor pola shift yang merupakan faktor kontekstual dengan OR= 1,9 dan masa kerja dengan OR=1,6. Dapat disimpulkan bahwa determinan kelelahan pada operator tambang batubara meliputi faktor individu, faktor pekerjaan, dan faktor eksternal. Kelelahan mental merupakan tipe kelelahan yang paling banyak dirasakan oleh operator. Determinan kelelahan yang terdapat pada semua tipe kelelahan adalah tingkat stres dan lokasi kerja. Semua determinan dapat menjadi perhatian dalam pengembangan kebijakan dan program manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara. Kata kunci: kelelahan, kerja shift, kualitas tidur, operator batubara, stress


 

Fatigue is a common complaint by workers, and almost 20% of workers report symptoms of fatigue. Especially for drivers, fatigue contributes significantly to transportation accidents. In addition to the increasing loss due to accidents, driving fatigue is also causing many financial losses worldwide. Fatigued driving is also experiencing by coal mining workers in Indonesia, especially operator workers. This study aims to obtain strategic determinants of fatigue from individual factors, occupational factors, and external factors for coal mining operators in Kalimantan and Sumatra in 2021. This study uses a cross-sectional design for two coal mining companies, seven mine sites, and 480 operators. Data collection was online using a questionnaire. Fatigue was measured using three instruments, namely the individual strength-20 checklist (CIS-20), the multidimensional fatigue inventory-20 (MFI-20), and the Swedish occupational fatigue inventory (SOFI). The types of fatigue studied included general fatigue, physical exhaustion, mental fatigue, and emotional exhaustion. Several standard instruments were used in this study, such as the perceived stress scale to measure stress, the Dutch boredom scale to measure boredom, and the Pittsburgh sleep quality index to measure sleep quality. Data analysis used chi-square and multiple logistic regression. Operators who became research respondents had an age of 32.13 ± SD 6.1 years (21 – 58 years), while the BMI obtained an average of 24.86 ± SD 3.1 with a range (16.51 – 33.75) and the highest BMI 24.22. There are 26.9% of operators included in the obese category. The majority of operators are married (85%), and most (63.5%) live outside the mess with their families (55.8%), and the majority (96%) have a high school education or equivalent. The average operators' tenure is 9.52 ± SD 4.2 years with a range (1-24 years), and the most tenure is ten years. Most of the operators work in the mining area (65.8%). The number of operators based on shift patterns and shift times is 240 (50%). The prevalence of fatigue in operators ranges from 20%-31%, with general fatigue 24.8%, physical fatigue 22.3%, mental fatigue 32.3%, and emotional fatigue 30.6%. The strategic determinants of operator fatigue consist of individual factors, including stress levels, sleep quality, external sleep disturbances, work factors including work locations in the mine, and external factors, namely living with family. The work shift pattern and working period are contextual factors. Factors that determine all types of fatigue are stress levels and work locations. The strategic determinants of general fatigue were stress level (OR=3.0), work location (OR=2.5), sleep quality (OR=1.8), and living with family (OR=1.6). On physical exhaustion, strategic determinants were stress level (OR=2.5), external sleep disturbance (OR=2.2), and work location in the mine (OR=1.7). Mental fatigue has strategic determinants, namely sleep quality (OR = 2.1), work location in the mine (OR = 2.1), stress level (OR = 1.7) and external sleep disturbances (OR = 1.6). Meanwhile, emotional exhaustion has strategic determinants, namely stress level (OR=2.0), work location (OR=1.9), and sleep quality (OR=1.9). Emotional fatigue has a shift pattern as a contextual factor with OR = 1.9 and job tenure with OR = 1.6. The conclusion is the determinants of fatigue in coal mine operators include individual factors, occupational factors, and an external factor. Mental fatigue is the type of fatigue most felt by operators. The determinants of fatigue found in all fatigue types are work sites and stress levels. All determinants might be accountable for developing fatigue policy and risk management programs at coal mining companies. Keywords: coal mining operator, fatigue, shift work, sleep quality, stress

Read More
D-515
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lelitasari; Promotor: L. Meily Kurniawidjaja; Kopromotor: Sabarinah, Robiana Modjo; Penguji: Fatma Lestari, Purnawan Junadi, Lana Saria, Sudi Astono, Baiduri Widanarko
Abstrak:
Kelelahan dalam operasi tambang merupakan isu yang serius dan merupakan kontributor signifikan untuk terjadinya kecelakaan. Secara hukum perusahaan yang mengoperasikan tambang batubara harus mengembangkan dan mengimplementasikan strategi untuk mengendalikan setiap risiko keselamatan dan kesehatan yang berhubungan dengan kelelahan pada pekerja. Penelitian dilakukan untuk mengembangkan instrumen penilaian kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara di Indonesia. Pendekatan studi merupakan gabungan antara pendekatan kualitatif untuk menemukan indikator kinerja dan kuantitatif untuk menguji validitas, reliabilitas dan kualitas instrumen penilaian kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara. Sampel sebanyak 90 perusahaan tambang batubara yang ada di Indonesia. Penelitian menghasilkan instrumen penilaian kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara yamg terdiri dari 31 indikator, dengan validitas dan reliabilitas instrumen sudah memenuhi persyaratan. Hasil analisis kurva ROC diperoleh cut off point 73 dan AUC 71,3% yang artinya skor kinerja MRK memiliki kekuatan prediksi sedang untuk terjadinya kecelakaan karena kelelahan. Ditemukan kinerja manajemen risiko kelelahan di perusahaan tambang batubara dengan kategori kurang baik 45,6% dan baik 54,4% Kategori kinerja manajemen risiko kelelahan berkategori kurang baik paling banyak terdapat pada perusahaan yang jumlah karyawannya Fatigue in mining operations is a serious issue and a significant contributor to accidents. According to the law, companies operating coal mines must develop and implement strategies to control any safety and health risks associated with worker fatigue. This research was conducted to develop an instrument for assessing the performance of fatigue risk management in coal mining companies in Indonesia. The study approach combines a qualitative approach to find performance indicators and a quantitative one to test the validity, reliability, and quality of fatigue risk management performance assessment instruments in coal mining companies. The sample is 90 coal mining companies in Indonesia. The study produced a tool for assessing the performance of fatigue risk management in coal mining companies consisting of 31 indicators, with the validity and reliability of the instrument meeting the requirements. The results of the ROC curve analysis obtained a cut off point of 73 and an AUC of 71.3%, which means that the Fatigue Risk Management performance score has moderate predictive power for accidents due to fatigue. It was found that the fatigue risk management performance in coal mining companies was in the poor category (45,6% and 54,4% good). From the type of company permits, the fatigue risk management performance category was in the good category, the most in companies with IUJP permit types 80% and the poor category the most in companies with Production Operation IUP permit types 73,7%. It was found that there was a relationship between fatigue risk management performance with the number of employees and the type of company permit. In order to measure, monitor, and evaluate the performance of fatigue risk management in coal mining companies, it is hoped that the Indonesian Ministry of Energy and Mineral Resources and Indonesian coal mining companies will implement the fatigue risk management performance evaluation tool.
Read More
D-472
Depok : FKM UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Nadi Astuti; Promotor: Zulkifli Djunaidi; Kopromotor: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Fatma Lestari, Johny Wahyuadi Mudaryoto, Lana Saria, Herlina J. EL-Matury, Ayende, Ridha Renaldi
Abstrak:
Industri petrokimia merupakan sektor berisiko tinggi yang membutuhkan penerapan sistem manajemen keselamatan dan budaya keselamatan yang matang. Penelitian ini bertujuan mengembangkan model maturitas budaya keselamatan yang sesuai untuk industri petrokimia di Indonesia. Model ini mengadaptasi teori Hudson, Fleming, Parker et al., dan Filho, serta menggambarkan lima tingkat kematangan budaya keselamatan, dari tingkat “Dasar” hingga “Berkelanjutan.”. Melalui pendekatan multidimensi, dikembangkan kerangka dan instrumen penilaian yang valid dan reliabel dengan lima dimensi utama: Komitmen, Komunikasi, Informasi, Keikutsertaan Karyawan, dan Pembelajaran Organisasi. Penelitian ini menemukan bahwa semua perusahaan dalam sampel telah mencapai tingkat “Berkelanjutan,” khususnya pada aspek Komitmen dan Pembelajaran Organisasi. Namun, Keikutsertaan Karyawan masih menjadi aspek yang perlu ditingkatkan. Hasil juga menunjukkan bahwa perusahaan multinasional dan penanggung jawab keselamatan menunjukkan pemahaman budaya keselamatan yang lebih baik. Model yang dikembangkan dapat digunakan sebagai alat praktis untuk menilai dan meningkatkan strategi keselamatan berkelanjutan di sektor petrokimia, mendorong keterlibatan aktif pekerja, serta memperkuat efektivitas sistem manajemen keselamatan proses.

The petrochemical industry is a high-risk sector requiring a mature implementation of safety management and safety culture. This study aims to develop a safety culture maturity model tailored to the Indonesian petrochemical industry. The model adapts the theoretical frameworks of Hudson, Fleming, Parker et al., and Filho, and describes five levels of safety culture maturity, from "Basic" to "Sustainable." A multidimensional approach was used to develop a valid and reliable assessment framework and instrument comprising five key dimensions: Commitment, Communication, Information, Employee Participation, and Organizational Learning. Findings show that all sampled companies have reached the “Sustainable” level, particularly in Commitment and Organizational Learning. However, Employee Participation remains an area needing improvement. The study also reveals that multinational companies and safety officers demonstrate a stronger understanding of safety culture. The developed model serves as a practical tool for evaluating and improving sustainable safety strategies in the petrochemical sector, enhancing employee engagement, and strengthening the effectiveness of process safety management systems.
Read More
D-604
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vitara Caprinita Dewil Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Dyah Eka Prasadjati
Abstrak: Penyakit Jantung Koroner (PJK) merupakan salah satu dari jenis penyakit kardiovaskular yang menjadi penyebab kematian utama di dunia. Diketahui bahwa dislipidemia berperan penting terhadap terjadinya serangan jantung. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dislipidemia pada pekerja tambang emas PT. X Tahun 2017. Desain studi yang digunakan dalam penelitian ini adalah cross-sectional dengan target penelitian sejumlah 306 responden yang berasal dari semua departemen di PT. X. Ditemukan dislipidemia pada pekerja PT. X dialami oleh 157 pekerja (51,3%) dan sebanyak 149 pekerja tidak mengalami dislipidemia (48,7%). Dari hasil uji statistik ditemukan lima variabel yang signifikan antara lain: variabel usia (p-value=0,000), variabel wilayah tempat kerja (p-value=0,000), variabel Indeks Massa Tubuh (p-value=0,001), variabel kebiasaan konsumsi minuman beralkohol (p-value=0,013) dan variabel aktivitas fisik (p-value=0,013). Kesimpulannya, kejadian dislipidemia dipengaruhi beberapa faktor yang dapat dicegah dengan intervensi terkait pola makan dan olahraga.
Read More
S-10109
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Djokomuljanto, Robertus Josef Sri; Pembimbing: Boedhi Darmojo
D-29
Jakarta : FKM-UI, 1974
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Benhard Nataniel Tumanggor; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Dewi Susanna, Rita
S-10192
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Satria Pratama; Promotor: Haryoto Kusnoputranto; Kopromotor: Bambang Wispriyono, Faisal Yunus; Penguji: Fatma Lestari, Besral, Elisna Syahruddin, Inswiyasri, Sonny Warouw
D-338
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Rahmah Hidayatullah Lubis; Promotor: Indri Hapsari Susilowati; Kopromotor: Besral, Endang Laksminingsih; Penguji: L. Meily Kurniawidjaja, Robiana Modjo, Yuli Amran, Hera Nurlita
Abstrak:
Ibu bekerja memiliki risiko lebih tinggi untuk melakukan terminasi menyusui lebih awal. Berbagai bentuk kebijakan sudah ditetapkan oleh Pemerintah. Tetapi kesadaran di industri masih rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model dukungan laktasi di tempat kerja pada industri tekstil. Pendekatan penelitian menggunakan metode campuran dengan jenis desain eksploratori. Penelitian dilakukan pada April 2023-2024 pada 4 perusahaan tekstil di Kabupaten Sumedang Jawa Barat. Pengambilan data kualitatif dilakukan pada delapan orang informan. Sampel penelitian kuantitatif adalah pekerja wanita usia 15-49 tahun, memiliki anak usia ≥ 6 bulan-5 Tahun, dengan sampel berjumlah 558 orang yang didapatkan menggunakan teknik accidental sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian ASI eksklusif memiliki hubungan signifikan dengan variabel tidak terpapar iklan susu formula (p=<0.001, OR=30.8 (95% CI: 9.08 – 104.6)), tidak mengalami stress kerja (p=<0.001, OR= 8,65 (95% CI: 2.89 – 25.8)), bekerja non shift (p=<0,001 OR=3.84 (95% CI: 1.93 -7.62)), tidak terpapar sosial budaya (p=0,016, OR=2.38 (95% CI: 1.17–4.83)) dan pengetahuan baik (p=0,025, OR=2.299 (95% CI: 1.042 – 5.072)) setelah dikendalikan oleh faktor implementasi program GP2SP, kebijakan laktasi, cuti melahirkan, ruang laktasi, sikap dan niat. Model Galaksi-Rose menunjukkan bahwa strategi peningkatan pemberian ASI eksklusif berfokus pada aspek intrapersonal pada pekerja dengan memaksimalkan peran dari tempat kerja dan peran dari lingkungan sosial. Peran lintas sektor secara luas diharapkan terutama dalam hal pemberian edukasi manajemen dan fisiologi laktasi untuk meningkatkan kesadaran bahwa ASI eksklusif memiliki manfaat bagi pekerja wanita dan bayinya, memiliki keuntungan bagi perusahaan, melakukan pengawasan dan pengaturan kondisi lingkungan kerja untuk menguatkan pekerja wanita sebagai pejuang ASI.

Working mothers have a higher risk of early breastfeeding termination. The government has established various policies. However, awareness in the industry is still low. This study aims to develop a model of workplace lactation support in the textile industry. The research approach used mixed methods with exploratory design. The research was conducted in April 2023-2024 in 4 textile companies in Sumedang Regency, West Java. Qualitative data collection was conducted on eight informants. The quantitative research sample was female workers aged 15-49 years, with children aged ≥ 6 months-5 years, with a sample of 558 people obtained using accidental sampling. The results showed that exclusive breastfeeding had a significant relationship with the variables of not being exposed to formula milk advertising (p=<0.001, OR=30.8 (95% CI: 9.08 - 104.6)), not experiencing work stress (p=<0.001, OR=8.65 (95% CI: 2.89 - 25.8)), working non-shift (p=
Read More
D-523
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive