Ditemukan 31692 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Wisda Trisnawati; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Jaslis Ilyas, Basrin Harsono Sigalingging
Abstrak:
Read More
Sumber daya manusia kesehatan (SDMK) merupakan kunci utama dalam mencapai tujuan pembangunan kesehatan. Namun, kualitas SDMK masih menjadi masalah di Indonesia padahal kualitas tersebut dapat ditingkatkan melalui pelatihan. Sepanjang 2015-2016 hanya 30,1% penyedia pelayanan kesehatan dan staf pendukung yang mendapatkan pelatihan. Kendala yang terjadi adalah masih banyaknya program pelatihan yang tidak memiliki proses manajemen pelatihan yang baik. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis manajemen pelatihan tenaga kesehatan pada Medical Service Training Program (Medstrap) yang diselenggarakan oleh Perusahaan X sebagai provider layanan kesehatan. Analisis manajemen pelatihan yang digunakan pada penelitian ini adalah ADDIE (analyze, design, develop, implement, evaluate) Model. Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross-sectional dengan pendekatan kualitatif dengan data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam dan observasi sedangkan data sekunder melalui telaah dokumen. Penelitian ini menunjukkan hasil, antara lain: (1) Analyze – Analisis kebutuhan pelatihan didasarkan atas komplain dari klien dan identifikasi tujuan pelatihan belum memenuhi aspek SMART; (2) Design – Identifikasi tujuan pembelajaran, pengembangan kerangka materi, metode, dan instrumen penilaian pelatihan sudah dilakukan tetapi belum didokumentasikan sebagai blueprint; (3) Develop – Pengembangan materi dan media pelatihan dilakukan berdasarkan kebutuhan peserta dan pemateri tanpa proses validasi; (4) Implement – Proses pelaksanaan pelatihan didukung dengan penguasaan materi oleh pemateri tetapi belum didukung dengan penyampaian materi dan manajemen waktu yang baik; (5) Evaluate – Evaluasi proses belum dilakukan secara menyeluruh dan evaluasi efektivitas baru mencapai tingkat 1 (reaction). Peneliti menyimpulkan bahwa manajemen pelatihan yang baik dapat mendukung pelatihan yang efektif dan efisien. Perusahaan X perlu melakukan upaya perbaikan pada beberapa proses dan mempertahankan proses yang sudah baik.
Human resources for health (HRH) is the main key to achieving health development goals. However, the quality of HRH is still a problem in Indonesia even though this quality can be improved through training. During 2015-2016 only 30.1% of health service providers and support staff received training. The obstacle that occurs is that there are many training programs that do not have a good training management process. This research was conducted to analyze the management of training for health workers in the Medical Service Training Program (Medstrap) organized by Company X as a health service provider. The training management analysis used in this study is the ADDIE (analyze, design, develop, implement, evaluate) model. This study uses a cross-sectional design with a qualitative approach with primary data obtained through in-depth interviews and observation and secondary data through document review. This research shows the results, including: (1) Analyze – Analysis of training needs based on complaints from clients and identification of training objectives that do not meet the SMART aspect; (2) Design - Identification of learning objectives, development of material frameworks, methods and training assessment instruments have been carried out but have not been documented as blueprints; (3) Develop - The development of training materials and media is carried out based on the needs of the participants and presenters without a validation process; (4) Implement - The process of implementing the training is supported by mastery of the material by the presenters but not yet supported by good delivery of material and time management; (5) Evaluate - Process evaluation has not been carried out thoroughly and evaluation of effectiveness has only reached level 1 (reaction). The researcher concludes that good training management can support effective and efficient training. Company X needs to make efforts to improve several processes and maintain good processes.
S-11392
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fatiha Farah Santi Dewi; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Fortuna Febi Fajri
Abstrak:
Read More
Transformasi praktik Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) menuntut perusahaan untuk bergerak melampaui kepatuhan regulatif menuju pengelolaan program yang terukur, berbasis bukti, dan berkelanjutan. Tantangan utama dalam TJSL bidang kesehatan masih terletak pada dominasi pendekatan ad-hoc, lemahnya integrasi perencanaan berbasis kebutuhan, serta keterbatasan indikator kinerja yang mampu merefleksikan kualitas pelaksanaan dan output program. Penelitian ini bertujuan menganalisis implementasi program TJSL pilar kesehatan di Perusahaan X tahun 2025 menggunakan kerangka Evidence-Informed Theory of Change (ToC) dari World Health Organization (WHO), dengan fokus pada keterkaitan antara tahap input, activity, dan output. Pendekatan penelitian menggunakan desain kualitatif studi kasus melalui wawancara mendalam, telaah dokumen internal perusahaan, serta triangulasi data. Analisis dilakukan terhadap ketersediaan sumber daya, proses perencanaan dan pelaksanaan kegiatan, serta karakteristik output yang dihasilkan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi TJSL kesehatan Perusahaan X telah memenuhi aspek regulatif dan kemitraan, namun masih didominasi oleh pendekatan berbasis kegiatan jangka pendek, keterbatasan dokumentasi teknis, serta belum optimalnya penggunaan indikator output berbasis bukti. Meskipun demikian, program menghasilkan layanan dan produk kesehatan yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan Evidence-Informed Theory of Change secara operasional, yang diturunkan ke dalam SOP teknis, indikator kinerja terukur, dan sistem monitoring dan evaluasi terstruktur, berpotensi memperkuat akuntabilitas, kualitas pelaksanaan, serta keberlanjutan program TJSL kesehatan. Temuan ini menegaskan pentingnya pergeseran pengelolaan TJSL dari orientasi event-based menuju service-based program yang terintegrasi dengan strategi keberlanjutan perusahaan.
The implementation of Health-focused Social and Environmental Responsibility (TJSL) programs at Company X, a Third Party Administrator (TPA), faces challenges related to implementation consistency, technical governance clarity, and alignment with sustainability principles and national health policies. These challenges risk positioning the program as event-based, weakly measured, and insufficiently oriented toward service quality. This study aims to analyze the implementation of the Health TJSL program at Company X using the Evidence-Informed Theory of Change (ToC) framework, focusing on the input, activity, and output stages. A qualitative approach was employed through in-depth interviews with internal and external stakeholders, document reviews, and comparative analysis of relevant regulations and implementation standards. The findings reveal significant gaps between existing TJSL Standard Operating Procedures (SOPs) and the technical requirements of health program implementation, particularly in needs-based planning, role delineation among actors, performance indicators, and monitoring and evaluation systems. The program implementation remains predominantly activity-oriented, with limited emphasis on process quality and measurable service outputs. This study contributes by developing a technical Health TJSL SOP, formulating measurable key performance indicators from input to output stages, and designing an integrated monitoring and evaluation matrix. The findings highlight the necessity of shifting Health TJSL management from an event-based approach toward a service-oriented, measurable, and accountable program model to enhance sustainability and strengthen its contribution to health development outcomes.
S-12168
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Labbaika Nurmadani; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Puput Oktamianti, Basrin Harsono Sigalingging
Abstrak:
Pelayanan resep obat non racik via telemedicine merupakan serangkaian proses penerimaan resep, entri resep, penyiapan resep dan pengiriman obat. Pelayanan ini mulai dikembangkan pada saat terjadi Pandemi COVID-19 sebagai upaya menyediakan layanan farmasi yang tetap terjangkau bagi masyarakat dengan tetap mencegah penyebaran virus COVID-19. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan usulan perbaikan yang tepat dengan menggunakan metode Lean Six Sigma sebagai upaya peningkatan efektivitas dan efisiensi pelayanan obat non racik via telemedicine. Desain penelitian merupakan penelitian kualitatif dengan melakukan observasi, telaah dokumen dan wawancara mendalam. Hasil pengamatan menunjukkan bahawa rata-rata waktu pelayanan obat non racik via telemedicine selama 1 jam 37 menit 11 detik dengan kegiatan value add selama 32 menit 39 detik (33,6%) dan non value add selama 1 jam 4 menit 32 detik (66,4%). Waste yang ditemukan yaitu overprocessing, waiting, motion dan defect sehingga usulan perbaikan yang diberikan menggunakan standarisasi kerja, perbaikan diagram alur, 5S, dan Kaizen.
Non-compounding drug service via telemedicine is a series of processes for receiving prescriptions, entering prescriptions, preparing prescriptions and delivering drugs. This service was developed during the COVID-19 pandemic as an effort to provide affordable pharmaceutical services for the community while preventing the spread of the COVID-19 virus. This study aims to find the right improvement suggestion using the Lean Six Sigma method as an effort to increase the effectiveness and efficiency of non-compounding drug services via telemedicine. The research design is a quantitative and qualitative research by conducting observations, reviewing documents and in-depth interviews. The results showed that the average service time for non-compounding drugs services via telemedicine was 1 hour 37 minutes 11 seconds with value add activities of 32 minutes 39 seconds (33.6%) and non value add for 1 hour 4 minutes 32 seconds (66, 4%). The wastes found are overprocessing, waiting, motion and defects so the suggested improvements are given using work standardization, flow chart improvement, 5S, and Kaizen.
Read More
Non-compounding drug service via telemedicine is a series of processes for receiving prescriptions, entering prescriptions, preparing prescriptions and delivering drugs. This service was developed during the COVID-19 pandemic as an effort to provide affordable pharmaceutical services for the community while preventing the spread of the COVID-19 virus. This study aims to find the right improvement suggestion using the Lean Six Sigma method as an effort to increase the effectiveness and efficiency of non-compounding drug services via telemedicine. The research design is a quantitative and qualitative research by conducting observations, reviewing documents and in-depth interviews. The results showed that the average service time for non-compounding drugs services via telemedicine was 1 hour 37 minutes 11 seconds with value add activities of 32 minutes 39 seconds (33.6%) and non value add for 1 hour 4 minutes 32 seconds (66, 4%). The wastes found are overprocessing, waiting, motion and defects so the suggested improvements are given using work standardization, flow chart improvement, 5S, and Kaizen.
S-11069
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dewi Pusparani; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto; Puput Oktamianti, Roostiati, Ella Andalusia
Abstrak:
Tesis ini melihat gambaran mengenai kesiapan implementasi kebijakan pelatihan bidang kesehatan dengan didasarkan pada UU 36/2014 tentang Tenaga Kesehatan Pasal 31 untuk terselenggaranya pelatihan kesehatan yang bermutu, dengan mengidentifikasi regulasi yang terkait dengan pelatihan bidang kesehatan, identifikasi faktor-faktor yang berperan, serta mengetahui hambatan dan upaya yang dilakukan dalam kesiapan implementasi kebijakan bidang kesehatan. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan metode analisis kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam dan penelusuran dokumen. Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2017, berlokasi di wilayah DKI Jakarta. Dari hasil penelitian disimpulkan bahwa penerapan kebijakan pelatihan saat ini masih ada kendala dikarenakan penyiapan kebijakan turunan UU 36/2014 tentang Tenaga Kesehatan masih dalam proses penyusunan, kendala lain terutama dalam hal SDM, kuantitas sosialisasi kebijakan terhadap pelaksana kebijakan, dan perlunya penyesuaian instrument/pedoman yang ada terhadap kebijakan yang berlaku saat ini.
This thesis conducted a review of UU 36/2014 about Health Workers Article 31 to perceive readiness of health training implementation for the implementation of quality health training, by identifying regulations related to health sector training, identification of contributing factors, and to know the obstacles and efforts made in the readiness of health policy implementation. This study is a descriptive study with qualitative analysis method by conducting in-depth interviews and document tracking. The research was conducted in June 2017, located in DKI Jakarta area. The result of the study concluded that the implementation of the current training policy is still a problem because the preparation of the operational policy of UU 36/2014 is still in the process of drafting, other obstacles in the matter of human resources, the quantity of policy socialization to the policy implementer, and the need for adjustment of the instrument/guidelines against current policies.
Read More
This thesis conducted a review of UU 36/2014 about Health Workers Article 31 to perceive readiness of health training implementation for the implementation of quality health training, by identifying regulations related to health sector training, identification of contributing factors, and to know the obstacles and efforts made in the readiness of health policy implementation. This study is a descriptive study with qualitative analysis method by conducting in-depth interviews and document tracking. The research was conducted in June 2017, located in DKI Jakarta area. The result of the study concluded that the implementation of the current training policy is still a problem because the preparation of the operational policy of UU 36/2014 is still in the process of drafting, other obstacles in the matter of human resources, the quantity of policy socialization to the policy implementer, and the need for adjustment of the instrument/guidelines against current policies.
T-4948
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Listyana Kusumawati; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Puput Oktamianti, C. Falah Rakhmatiana
Abstrak:
Read More
Program Jaminan Kesehatan (JKN) menuntut setiap Perusahaan untuk mendaftarkan pekerjanya ke dalam BPJS Kesehatan sebagai upaya perlindungan social. Namun implementasi administrasi BPJS Kesehatan di Perusahaan outsourcing menghadapi tantangan tersendiri, terutama pada Perusahaan dengan Tingkat turnover karyawan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran pelaksanaan administrasi BPJS Kesehatan di Perusahaan outsourcing, khususnya pada proses pendaftaran, pengalihan data dan penonaktifan peserta. Penelitian ini merupakan studi kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam terhadap tiga informan kunci, yaitu Direktur, HRD dan admin operational. Hasil penelitian menunjukan bahwa meskipun alur administrasi telah terbentuk dan sebagian besar pekerja berhasil terdaftar sebagai peserta aktif, proses pelaksanaan masih menghadapi beberapa hambatan. Hambatan tersebut meliputi belum adanya SOP tertulis, kendala data tidak valid, tunggakan peserta dari Perusahaan sebelumnya dan proses input manual yang memakan waktu. Diperlukan Upaya perbaikan berupa peningkatan validasi data, digitalisasi form input, serta penetapan kebijakan internal yang lebih sistematis untuk mendukung efektivitas administrasi BPJS Kesehatan di perusahaan tersebut.
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) program requires all companies to register their to register their employees in BPJS Kesehatan as a form of social protection. However, the implementation of BPJS Kesehatan administration in outsourcing companies present unique challenges, especially in companies with high employee turnover. This study aims to describe the implementation of BPJS Kesehatan administration in an outsourcing company, focusing on the registration process, data diversion and participant deactivation. This research is a descriptive qualitative study using in-depth interviews with three key informants : the company director, HRD officer and administrative operation staff. The result showed that although the administrative process has been established and most employees were successfully registered as active participant, several challenge remain. These include the absence of a written standard oprating procedure (SOP), invalid data issues, participants with outstanding BPJS Payment from previous employers and time-consuming manual data entry. Improvements are needed through better data validation, digitalization of data collection and the formulation of more systematic internal policies to enhance the effectiveness of BPJS Kesehatan administration in outsourcing company.
S-11958
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Nurmawaty; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Ika Apriliyanti, Waldo Louis Tjahja
Abstrak:
Penyelenggaraan program Administration Service Only (ASO) terus mengalamiperkembangan. Selain disebabkan oleh meningkatnya kekecewaan terhadap sistemdan pelayanan perusahaan asuransi kesehatan komersial, perkembangan ini jugadikarenakan adanya kebutuhan dalam rangka pengelolaan benefit kesehatankaryawan secara tepat guna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambarankeikutsertaan program ASO pada perusahaan oil & gas dan mengetahui apakahterdapat hubungan antara faktor-faktor yang terkait dengan program ASO, faktorindividu dan faktor organisasi dengan keikutsertaan program ASO. Pendekatan yangdilakukan adalah dengan pendekatan kuantitatif dengan desain penelitian crosssectional. Analisis dilakukan adalah analisis univariat dan bivariat. Dari hasilpenelitian dapat disimpulkan bahwa faktor-faktor yang berkaitan dengankeikutsertaan program ASO antara lain : cakupan benefit, harga kepesertaan, providernetwork, fasilitas pelayanan, image perusahaan, tingkat pengetahuan, Kebutuhan(need), dan jumlah karyawan. Saran dalam penelitian ini adalah pada penelitianselanjutnya digunakan juga studi kualitatif guna menggali informasi lebih baik lagi,gunakan sampel lebih besar dan diharapkan menggunakan variabel-variabel lain yangbelum digunakan dalam penelitian ini.Kata Kunci :Keikutsertaan Program ASO
The Implementation of Administration Service Only (ASO) program continues toincrease. Beside was caused by the disillusionment with the system andcommercial health care insurance companies, ASO program is needed in order tomanage the employee health benefits as well. This research aims to know thedistribution of ASO program participation in oil & gas companies and todetermine the correlation between the ASO product, individual factors andorganizational factors with the participation of ASO program. Research is aquantitative approach with a cross sectional study design. Analysis is wereperformed through univariate and bivariate analysis. The final conclusion is thatthere are factors related to the participation of ASO program : coverage benefit,the price of membership, providers network, facilities service, corporate image,the level of knowledge, needs, and number of employees. Suggestions for furtherresearch is using qualitative study to explore better information, large number ofsample and using other variables that have not been used in this study.Key Words : Participation of ASO program
Read More
The Implementation of Administration Service Only (ASO) program continues toincrease. Beside was caused by the disillusionment with the system andcommercial health care insurance companies, ASO program is needed in order tomanage the employee health benefits as well. This research aims to know thedistribution of ASO program participation in oil & gas companies and todetermine the correlation between the ASO product, individual factors andorganizational factors with the participation of ASO program. Research is aquantitative approach with a cross sectional study design. Analysis is wereperformed through univariate and bivariate analysis. The final conclusion is thatthere are factors related to the participation of ASO program : coverage benefit,the price of membership, providers network, facilities service, corporate image,the level of knowledge, needs, and number of employees. Suggestions for furtherresearch is using qualitative study to explore better information, large number ofsample and using other variables that have not been used in this study.Key Words : Participation of ASO program
T-4585
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fariz Rahmansyah; Pembimbing: Masyitoh Bashabih; Penguji: Jaslis Ilyas, Indriya Purnamasari
Abstrak:
Tulisan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan tentang peran organisasi dan kepimpinan dalam memberikan bentuk reward kepada tenaga kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode literature review dengan basis data Google Scholar, Remote Lib UI dan PubMed. Hasil pencarian didapat 10literatur berasal dari China, AS, Eropa, Afrika, England, Italy, Indonesia yang telah melakukan penelitian terkait reward yang dapat diberikan untuk tenaga kesehatan selama masa pandemi COVID-19. Hasil telaah literatur menunjukan peran organisasi dan pemimpin dalam menganalisis bentuk reward yang diberikan yaitu mengenai kesehatan mental, finansial dan reward lainnya yang mendukung kebutuhan tenaga kesehatan. Penulis melakukan analisis kebijakan reward ini agar dapat digunakan oleh organisasi atau fasilitas kesehatan di Indonesia dalam memberikan gambaran reward yang tepat untuk diberikan sesuai dengan kebutuhan tenaga kesehatan selama masa pandemi COVID-19, namun perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk mengetahui tingkat efektivitas reward, agar lebih representatif.
Read More
S-10768
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rasta Naya Pratita; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Helen Andriani, Roy Himawan, Desak Ernawati
Abstrak:
Derajat kesehatan masyarakat ditentukan oleh kualitas pelayanan kesehatan. WHO menyatakan bahwa 80% keberhasilan pelayanan kesehatan sangat ditentukan oleh kuantitas dan kualitas SDM kesehatan. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 tahun 2014 tentang Tenaga Kesehatan Pasal 30 ayat (1) menyebutkan bahwa Pengembangan Tenaga Kesehatan diarahkan untuk meningkatkan mutu dan karier Tenaga Kesehatan. Salah satu masalah strategis SDM kesehatan adalah pengembangan karier. Sampai saat ini belum ada regulasi yang mengatur pengembangan karier tenaga kesehatan non ASN khususnya bagi Apoteker, serta belum ada sinkronisasi program pengembangan karier Apoteker yang dimiliki oleh organisasi profesi Apoteker dengan Pemerintah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif terkait proses formulasi kebijakan dan analisis stakeholder. Data yang digunakan adalah data sekunder dari telaah dokumen dan data primer diperoleh dengan wawancara mendalam kepada para informan terpilih. Hasil penelitian menunjukkan seluruh stakeholder mendukung dan berkomitmen pada program pengembangan karier Apoteker. Organisasi profesi Apoteker bersama pemerintah dinilai menjadi aktor yang paling bertanggungjawab dalam pelaksanaan kebijakan ini. Pola yang diharapkan sesuai untuk pengembangan karier tenaga kesehatan non ASN bagi Apoteker adalah melalui sertifikasi kompetensi dan program pendidikan spesialisasi. Namun, Proses interaksi dan advokasi antar stakeholder masih belum maksimal antara pihak regulator dan pihak organisasi profesi, serta pihak user/payer belum banyak tersosialisasi terkait program pengembangan karier tenaga kesehatan non ASN bagi Apoteker. Sehingga, perlu peningkatan koordinasi dan Kerjasama antar stakeholder dan organisasi profesi dapat menginisiasi pembuatan Policy Brief terkait pengembangan karier Apoteker sebagai bentuk advokasi
Read More
T-6104
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gambaran manajemen pelatihan tenaga perawat di bidang keperawatan RSU Kabupaten Tangerang tahun 2008
Bertha Rosanica Verawati; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Puput Oktaminati, Heri Iswanto
S-5811
Depok : FKM-UI, 2009
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zafril Luthfy RA Pembimbing: Anhari Achadi
T-766
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
