Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35318 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Abraham Lawas; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Siti Masruroh
Abstrak: Wasting merupakan bentuk kekurangan gizi akut sebagai akibat dari keadaan kekurangan asupan makanan atau mengalami penyakit infeksi yang terjadi dalam waktu yang singkat yang ditandai dengan berat badan yang kurang menurut tinggi badan. Angka wasting di Provinsi Maluku (12%) pada tahun 2021 lebih tinggi dibandingkan dengan angka wasting Nasional (7,1%) pada tahun yang sama menurut data SSGI. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan kejadian wasting pada baduta usia 0-23 bulan di Provinsi Maluku tahun 2021. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional dan memanfaatkan data sekunder SSGI 2021 dengan jumlah sampel sebesar 978 baduta. Data dianalisis menggunakan uji chi square, fischer test, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukan terdapat 10.9% baduta yang mengalami wasting. Hasil analisis bivariat menunjukan terdapat hubungan yang signifikan antara wasting dengan jenis kelamin, umur, penyakit diare, dan penyakit ISPA, namun tidak ada hubungan yang signifikan antara wasting dengan status berat badan lahir, pneumonia, TB paru, kecacingan, campak, MDD, IMD, ASI Eksklusif, status imunisasi, kepemilikan buku KIA, pemberian Vitamin A, status pekerjaan ibu, tingkat pendidikan ibu, kerawanan pangan, wilayah tempat tinggal, sumber air minum, pemanfaatan posyandu, dan ketersediaan jamban. Faktor dominan kejadian wasting pada baduta di Provinsi Maluku tahun 2021, yaitu pemanfaatan layanan posyandu (OR = 2.12). Kesimpulan dari penelitian ini adalah baduta yang tidak pernah memanfaatkan layanan posyandu memiliki risiko 2.12 kali untuk mengalami wasting.
Wasting is a form of acute malnutrition as a result of a lack of food intake or experiencing an infectious disease that occurs in a short time which is characterized by underweight for height. The wasting rate in Maluku Province (12%) in 2021 is higher than the National wasting rate (7.1%) in the same year according to SSGI data. This study aims to determine the dominant factor for wasting in children aged 0-23 months in Maluku Province in 2021. This quantitative study used a cross-sectional design and utilized secondary data from SSGI 2021 with a total sample of 978 children. Data were analyzed using the chi square test, Fisher's test, and multiple logistic regression. The results of this study showed that there were 10.9% of toddlers who experienced wasting. The results of the bivariate analysis showed that there was a significant relationship between wasting and gender, age, diarrheal disease, and ARI, but there was no significant relationship between wasting and birth weight status, pneumonia, pulmonary TB, helminthiasis, measles, MDD, IMD , exclusive breastfeeding, immunization status, ownership of MCH handbook, provision of Vitamin A, mother's employment status, education level of mother, food insecurity, area of ​​residence, source of drinking water, utilization of posyandu, and availability of latrines. The dominant factor for wasting in toddlers in Maluku Province in 2021 is the utilization of posyandu services (OR = 2.12). The conclusion of this study is that toddlers who have never used Posyandu services have a 2.12 times risk of experiencing wasting
Read More
S-11420
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairina Mawazini Simatupang; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Rahmadi
Abstrak:
Wasting merupakan salah satu bentuk malnutrisi akut pada anak yang dinilai melalui indikator BB/PB untuk usia 0-23 bulan dan indikator BB/TB untuk usia 24-59 bulan. Anak dengan kondisi wasting dapat mengalami gangguan proses tumbuh-kembang hingga mengalami peningkatan risiko mortalitas. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi wasting di Kalimantan Selatan mencapai angka 13,8%. Prevalensi tersebut lebih tinggi dibandingkan prevalensi nasional yang mencapai angka 9,2%. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan terhadap kejadian wasting pada baduta 0-23 bulan di Provinsi Kalimantan Selatan dengan desain penelitian cross-sectional. Data yang digunakan adalah data SKI 2023 dengan jumlah sampel adalah 640 baduta yang memiliki data berdasarkan hasil survei kesehatan Indonesia. Variabel independen yang diteliti pada penelitian ini merupakan faktor risiko wasting dari berbagai aspek, meliputi faktor karakterisik dan riwayat kesehatan anak, riwayat penyakit infeksi, asupan makanan, pola asuh, faktor orang tua dan keluarga, serta sanitasi dan lingkungan. Distribusi frekuensi dari tiap variabel dianalisis secara univariat kemudian analisis bivariat dilakukan menggunakan uji chi-square, serta dilakukan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil analisis ditemukan bahwa prevalensi wasting mencapai angka 13,3% di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2023 untuk anak usia 0-23 bulan. Pada penelitian ini ditemukan bahwa tingkat pendidikan ayah merupakan variabel yang berhubungan signifikan terhadap kejadian wasting. Faktor dominan yang berhubungan  terhadap kejadian wasting pada anak usia 0-23 bulan di Provinsi Kalimantan Selatan tahun 2023 adalah jenis kelamin (aOR 3,28 95% CI 1,178-9,152).

Wasting is a form of acute malnutrition in children assessed using the Weight-for-Length indicator for ages 0-23 months and the Weight-for-Height indicator for ages 24-59 months. Children with wasting may experience impaired growth and development processes as well as an increased risk of mortality. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI), the prevalence of wasting in South Kalimantan reached 13,8%. This prevalence is higher than the national prevalence, which reached 9,2%. This study was conducted to identify the dominant factors associated with the incidence of wasting among children aged 0-23 months in South Kalimantan Province using a cross-sectional study design. The data used were from the 2023 SKI, with a sample size of 640 children aged 0-23 months who had complete data based on the survey results. The independent variables examined in this study were risk factors for wasting from various aspects, including child characteristics and health history, history of infectious diseases, food intake, parenting practices, parental and family factors, as well as sanitation and environmental factors. The frequency distribution of each variable was analyzed univariately, followed by bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The results showed that the prevalence of wasting among children aged 0-23 months in South Kalimantan Province in 2023 reached 13.3%. This study found that the father's education level was a variable significantly associated with the incidence of wasting. The dominant factor associated with the incidence of wasting among children aged 0-23 months in South Kalimantan Province in 2023 was sex (aOR 3.28, 95% CI 1.178-9.152).


Read More
S-12402
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nazlia Anjani; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Farida Ariyyani
Abstrak:
Wasting merupakan bentuk kekurangan gizi yang merepresentasikan berat badan balita kurus berdasarkan tinggi badan. Pada tahun 2022 berdasarkan data dari SSGI prevalensi wasting di DKI Jakarta lebih tinggi (8%) dibanding prevalensi nasional (7.7%). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian wasting pada balita usia 0-23 bulan di DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari SSGI 2022 dengan desain studi cross sectional dan metode stratified two stage sampling. Jumlah sampel yang digunakan sebesar 1192. Analisis data yang digunakan adalah chi-square, regresi logistik sederhana, dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian didapatkan 8.47% balita mengalami wasting. Analisis bivariat menggunakan CI 95% didapatkan terdapat hubungan yang bermakna antara usia balita dengan kejadian wasting pada balita usia 0-23 bulan di DKI Jakarta (p value 0.043) tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan jenis kelamin, tingkat pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, diare, ISPA, cacingan, TB paru, ASI eksklusif, status imunisasi, kunjungan ANC, MDD, IMD, kepemilikan KIA, pemberian vitamin A, PMT, BBLR, ketahanan pangan, sumber air minum, dan ketersediaan jamban. Analisis multivariat diperoleh tingkat pendidikan ibu merupakan faktor protektif dengan kejadian wasting (OR=0.467). Hasil uji interaksi diperoleh terdapat interaksi antara pendidikan ibu dengan infeksi ISPA (pvalue 0.030) dan TB paru (p value 0.021).

Wasting is a form of malnutrition that represents the weight of thin children based on height. In 2022, based on data from SSGI, the prevalence of wasting in DKI Jakarta was higher (8%) compared to the national prevalence (7.7%). The purpose of this study is to determine the factors associated with wasting in children aged 0-23 months in DKI Jakarta. This study used secondary data from SSGI 2022 with a cross-sectional study design and stratified two-stage sampling method. The sample size used was 1192. Data analysis used chi-square, simple logistic regression, and multiple logistic regression. The research found that 8.47% of children experienced wasting. Bivariate analysis using 95% CI found a significant correlation between the age of children with wasting among children in 0-23 months of age in DKI Jakarta (p-value 0.043), but there was no significant correlation with gender, mother’s education level, maternal occupation status, diarrhea, ARI, helminthiasis, pulmonary TB, exclusive breastfeeding, immunization status, ANC visits, MDD, IMD, ownership of KIA, vitamin A supplementation, PMT, LBW, food security, source of drinking water, and availability of toilets. Multivariate analysis found that maternal education level was a protective factor against wasting (OR=0.467). Interaction analysis found interactions between maternal education level and ARI infection (p-value 0.030) and pulmonary TB (p-value 0.021).
Read More
S-11727
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shilla Ananda; Pemimbing: Triyanti; Penguji: Diah Mulyawati Utari, Kusharisupeni Djokosujono
Abstrak: Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Anak dikatakan mengalami stunting jika tinggi badan terhadap usia mereka <-2 standar deviasi (SD) (WHO, 2015). Pada tahun 2022, angka stunting di Indonesia adalah 24,2%. Selain itu, angka prevalensi stunting di Provinsi Maluku pada tahun 2022, masuk ke peringkat ke-13 nasional yaitu 26,1% (SSGI, 2022). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor dominan stunting pada anak usia 6-23 bulan di Provinsi Maluku berdasarkan data Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional serta memanfaatkan data sekunder SSGI tahun 2022 dengan jumlah sampel sebesar 1954 baduta. Data dianalisa dengan uji chi square dan regresi logistic ganda. Hasil dari analisa bivariate penelitian ini, menunjukan bahwa variabel yang memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting diantaranya yaitu: jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, dan tingkat pendidikan ibu. Faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta (usia 6-23 bulan) di provinsi Maluku tahun 2022 yaitu tingkat pendidikan ibu nilai OR sebesar 2.645. Saran untuk faktor dominan. Saran dari penelitian ini, diharapkan program pendidikan minimal hingga lulus SMA lebih digencarkan, serta memaksimalkan program 1000 HPK untuk mencegah terjadinya BBLR dan PBLR, dalam rangka mengurangi kasus stunting di Provinsi Maluku.
Stunting is a growth and development disorder experienced by children due to malnutrition, repeated infections, and inadequate psychosocial stimulation. A child is considered to be stunted if their height for age is <-2 standard deviations (SD) (WHO, 2015). In 2022, the stunting rate in Indonesia was 24.2%. Additionally, the prevalence of stunting in Maluku Province in 2022 is 26,1% which ranked 13th nationally (SSGI, 2022). The aim of this study is to identify the dominant factors of stunting in children aged 6-23 months in Maluku Province based on data from the Indonesian Nutrition Status Study (SSGI) 2022. This quantitative research uses a cross-sectional design and utilizes secondary data from SSGI 2022 with a sample size of 1954 toddlers. Data were analyzed using chi-square tests and multiple logistic regression. The results of the bivariate analysis indicate that the variables significantly associated with the occurrence of stunting include: gender, birth weight, birth length, and maternal education level. The dominant factor associated with the occurrence of stunting in toddlers (aged 6-23 months) in Maluku Province in 2022 is the level of maternal education, with an odds ratio (OR) of 2.645. Based on the result, the research suggests to intensifying educational programs until high school graduation and optimizing the 1000 Days Program to prevent Low Birth Weight (LBW) and Short Birth Length (SBL), thereby reducing stunting cases in Maluku Province..
Read More
S-11832
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aprillia Cahya Azura; Pembimbing: Trini Sudiarti; Penguji: Ahmad Syafiq, Salimar
Abstrak:
Stunting diartikan sebagai gangguan tumbuh kembang yang dialami anak akibat gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Stunting memiliki dampak jangka pendek maupun panjang, termasuk peningkatan kejadian penyakit, gangguan perkembangan dan kapasitas belajar yang buruk, serta dampak antargenerasi lainnya. Banyak faktor yang menyebabkannya, seperti kesehatan dan gizi ibu hamil yang buruk, pola asuh yang tidak tepat, asupan tidak adekuat, serta penyakit infeksi. Data SSGI tahun 2022 melaporkan bahwa Provinsi Nusa Tenggara Barat merupakan provinsi keempat dengan prevalensi stunting yang tinggi di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan serta faktor dominan kejadian stunting pada baduta usia 6-23 bulan di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Penelitian ini dilakukan dengan desain cross-sectional menggunakan data sekunder SSGI tahun 2022, yang melibatkan 1827 responden. Data dianalisis menggunakan uji kai kuadrat pada analisis bivariat dan uji regresi logistik ganda pada analisis multivariat. Hasil penelitian menunjukkan terdapat lima variabel yang berhubungan dengan kejadian stunting, yaitu usia, jenis kelamin, BBL, TB ibu, dan konsumsi TTD. Riwayat BBL diketahui sebagai faktor dominan kejadian stunting dengan p-value 0,001 dan OR 5,238 (CI 95%: 3,172 – 8,649). Saran bagi masyarakat, yaitu ibu hamil dapat lebih memerhatikan kondisi kehamilannya, seperti terkait kecukupan gizi dan tumbuh kembang janinnya. Selain itu, instansi kesehatan diharapkan dapat mengoptimalkan dukungan kepada masyarakat melalui media KIE Gizi yang berkaitan dengan 1000 HPK, stunting, serta gizi ibu hamil untuk mengoptimalkan program pencegahan stunting.

Stunting defined as the impaired growth and development experienced by children due to poor nutrition, repeated infections, and inadequate psychosocial stimulation. Stunting has both short- and long-term impacts, including increased incidence of disease, impaired development and poor learning capacity, and other intergenerational impacts. Many factors contribute to it, such as poor maternal health and nutrition, inappropriate parenting, inadequate intake, and infectious diseases. SSGI data in 2022 reported that West Nusa Tenggara Province is the fourth province with a high prevalence of stunting in Indonesia. This study aims to analyze the associated and dominant factors of stunting among under-fives aged 6-23 months in West Nusa Tenggara Province. This study was conducted with a cross-sectional design using secondary data from SSGI, involving 1827 respondents. Data analyzed using the chi-square test in bivariate analysis and multiple logistic regression test in multivariate analysis. The results showed that there were five variables associated with the incidence of stunting, such as age, sex, LBW, maternal TB, and TTD consumption. LBW history was found to be the dominant factor in the incidence of stunting with a p-value of 0.001 and OR 5,238 (CI 95%: 3.172 – 8.649). Writer suggest that pregnant women can pay more attention to the condition of their pregnancy, mainly on their nutritional adequacy and fetal growth and development. Moreover, health agencies are expected to optimize support to the community through Nutrition IEC media related to 1000 HPK, stunting, and nutrition of pregnant women to optimize stunting prevention programs.
Read More
S-11632
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabilla Atelya; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Penguji: Wahyu Kurnia Yusrin Putra, Armein Sjuhary Rowi
S-10520
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cindy Cuandra; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Nurul Dina Rahmawati, Siti Romlah
Abstrak:
Stunting adalah masalah gizi kronis berupa gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat tiga faktor utama, yaitu asupan gizi yang tidak adekuat, infeksi secara terus-menerus, dan stimulasi psikososial yang tidak baik yang diukur melalui indikator PB/U atau TB/U < -2 SD. Berdasarkan SKI (2023), prevalensi kejadian stunting di Provinsi Nusa Tenggara Timur (37,9%) lebih tinggi dibandingkan dengan prevalensi nasional di Indonesia (21,6%). Tujuan dari penelitian ini adalah diketahuinya faktor dominan kejadian stunting pada baduta (0-23 bulan) berdasarkan kelompok umur di Nusa Tenggara Timur tahun 2023. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan data hasil SKI 2023 dengan jumlah sampel adalah 735 baduta 0-23 bulan di NTT. Analisis data yang dilakukan adalah analisis univariat untuk melihat distribusi frekuensi, analisis bivariat menggunakan chi-square, dan analisis multivariat menggunakan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menemukan bahwa ada 24% baduta 0-23 bulan yang mengalami stunting. Faktor dominan stunting pada baduta kelompok umur 0-5 bulan, 6-11 bulan, dan 12-23 bulan adalah berat badan lahir rendah (OR: 10,156), status pekerjaan ibu (OR: 3,154), dan tinggi badan ibu (OR: 6,077). Pada kelompok umur 0-5 bulan, ditemukan interaksi antara berat badan lahir (p-value 0,0001) dan status imunisasi (p-value 0,043) dengan riwayat penyakit infeksi. 

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired growth and development due to three main factors: inadequate nutritional intake, persistent infections, and poor psychosocial stimulation, which is measured using the height-for-age (HAZ) indicator < -2 SD. According to SKI (2023), the prevalence of stunting in East Nusa Tenggara Province (37,9%) is higher than the national prevalence in Indonesia (21,6%). The purpose of this study is to identify the dominant factors of stunting incidence in infants and young children based on age groups in East Nusa Tenggara. This research used a cross-sectional design with data from SKI 2023, involving a sample of 735 children aged 0-23 months in East Nusa Tenggara. Data analysis included univariate analysis to observe frequency distribution, bivariate analysis using chi-square, and multivariate analysis using multiple logistic regression. The study found that 24% of children aged 0-23 months experienced stunting. The dominant factors for stunting among children in the age groups 0-5 months, 6-11 months, and 12-23 months were low birth weight (OR: 10,156), mother's employment status (OR: 3,154), and mother's height (OR: 6,077). In the 0-5 months age group, an interaction was found between low birth weight (p-value 0,0001) and immunization status (p-value 0,043) with a history of infectious diseases.
Read More
S-11911
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tazkiyyah Alhaura; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Endang Laksminingsih Achadi
Abstrak:
Wasting merupakan bentuk kekurangan gizi yang merepresentasikan berat  badan balita kurus berdasarkan tinggi badan. Kejadian wasting umumnya merupakan akibat dari asupan gizi yang tidak adekuat, baik dari segi kuantitas maupun kualitas makanan, dan/atau karena anak sering mengalami penyakit infeksi. Di antara seluruh masalah gizi pada anak, wasting memiliki risiko kematian tertinggi. Risiko kematian pada anak yang mengalami wasting adalah 12 kali lebih besar dibandingkan anak dengan status gizi baik. Tujuan umum pada penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran dan faktor risiko kejadian wasting pada balita usia 0-59 bulan di DKI Jakarta tahun 2024. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari SSGI 2024 dengan desain studi cross sectional dan metode stratified two stage sampling. Jumlah sampel dalam penelitian ini terdiri dari 3476. Analisis data yang digunakan adalah chi-square. Hasil penelitian didapatkan 7,7% balita mengalami wasting. Hasil bivariat didapatkan terdapat hubungan yang bermakna antara riwayat diare (p value 0,014), kunjungan ANC (p value 0.020), dan pemberian makanan tambahan (p value 0,001) dengan kejadian wasting pada balita usia 0-59 bulan di DKI Jakarta tetapi tidak terdapat hubungan yang bermakna dengan usia balita, jenis kelamin balita, Riwayat ISPA, Riwayat pneumonia, Riwayat TBC, ASI eksklusif, status imunisasi, IMD, kepemilikan buku KIA, dan sumber air minum.

Wasting is a form of undernutrition characterized by low weight-for-height in children under five years of age. Wasting is generally caused by inadequate nutritional intake, both in terms of the quantity and quality of food consumed, and or frequent infectious diseases. Among all forms of child malnutrition, wasting carries the highest risk of mortality. Children with wasting are 12 times more likely to die than children with normal nutritional status. The general objective of this study was to describe the prevalence and identify the risk factors associated with wasting among children aged 0–59 months in DKI Jakarta in 2024. This study used secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) and employed a cross-sectional study design with a stratified two-stage sampling method. A total of 3,476 children were included in the analysis. Data were analyzed using the chi-square test. The results showed that 7.7% of children under five were affected by wasting. Bivariate analysis revealed significant associations between a history of diarrhea (p = 0.014), antenatal care (ANC) visits (p = 0.020), and supplementary feeding (p = 0.001) and the incidence of wasting among children aged 0–59 months in DKI Jakarta. However, no significant associations were found between wasting and the child's age, sex, history of acute respiratory infection (ARI), history of pneumonia, history of tuberculosis (TB), exclusive breastfeeding, immunization status, early initiation of breastfeeding (EIBF), ownership of a Maternal and Child Health (MCH) handbook, or source of drinking water.
Read More
S-12459
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fiddlin Nurani Qomara Putri; Pembimbing: Triyanti; Penguji: Sandra Fikawati, Kusharisupeni
Abstrak:
Stunting merupakan kondisi gagal tumbuh yang ditandai dengan nilai tinggi badan menurut umur (TB/U) atau panjang badan menurut umur (PB/U) berada di bawah -2 standar deviasi standar pertumbuhan anak WHO. Kejadian stunting bersifat multifaktorial dan dipengaruhi oleh faktor anak, pola asuh dan pemberian makan, kondisi kesehatan, karakteristik ibu, serta faktor lingkungan dan sanitasi. Dampak stunting tidak hanya berupa hambatan pertumbuhan fisik, tetapi juga gangguan perkembangan kognitif, peningkatan risiko PTM pada usia dewasa, serta menurunnya produktivitas. Berdasarkan hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting di Provinsi Sulawesi Barat tahun 2024 mencapai 35,4%, jauh di atas prevalensi nasional (19,8%). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Penelitian kuantitatif ini menggunakan desain cross sectional yang meneliti data sekunder SSGI 2024 dengan jumlah sampel 713 anak serta metode pemilihan sampel yaitu total sampling. Data dianalisis menggunakan uji chi square, fischer test, dan regresi logistik ganda dengan analisis bivariat menghasilkan adanya hubungan yang signifikan antara jenis kelamin, berat badan lahir, panjang badan lahir, pola konsumsi susu, sumber air minum rumah tangga, tingkat pendidikan ibu, dan pengetahuan/sikap ibu terkait stunting dengan kejadian stunting pada anak 6-23 bulan di Sulawesi Barat. Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara riwayat IMD, ASI eksklusif, konsumsi protein hewani, Minimum Acceptable Diet (MAD), riwayat penyakit infeksi, kepemilikan jamban, dan status pekerjaan terhadap kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor dominan kejadian stunting pada anak usia 6-23 bulan di Sulawesi Barat tahun 2024 adalah berat badan lahir (aOR = 3,05) yang berarti anak dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang 3,05 kali lebih besar untuk mengalami stunting.

Stunting is a condition of growth failure characterized by a height-for-age (HAZ) or length-for-age (LAZ) below -2 standard deviations of the WHO Child Growth Standards. Stunting is a multifactorial condition influenced by child characteristics, feeding practices, health status, maternal factors, as well as environmental and sanitation conditions. The impact of stunting includes not only impaired physical growth but also cognitive developmental delays, an increased risk of non-communicable diseases (NCDs) in adulthood, and reduced productivity. Based on the Indonesian Nutrition Status Survey (SSGI), the prevalence of stunting in West Sulawesi Province in 2024 was 35.4%, which is considerably higher than the national prevalence (19.8%). This study aimed to identify the dominant factors associated with stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi in 2024. This quantitative study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2024 SSGI. A total of 713 children were included through total sampling. Data were analyzed using the Chi-square test, Fisher's exact test, and multiple logistic regression. Bivariate analysis showed significant associations between child sex, birth weight, birth length, milk consumption pattern, household drinking water source, maternal education level, and maternal knowledge and attitudes regarding stunting with the occurrence of stunting among children aged 6-23 months in West Sulawesi. However, no significant associations were found between early initiation of breastfeeding, exclusive breastfeeding, animal-source protein consumption, Minimum Acceptable Diet (MAD), history of infectious diseases, household latrine ownership, maternal employment status, and stunting. Multivariate analysis identified low birth weight as the dominant factor associated with stunting (aOR = 3.05), indicating that children with low birth weight were 3.05 times more likely to experience stunting than those with normal birth weight.
Read More
S-12348
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggita Kirana Vinurya Putri; Pembimbing: Siti Arifah Pujonarti; Penguji: Asih Setiarini, Ni Putu Arik Diantari
Abstrak:
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang ditandai dengan gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi dalam waktu lama. Stunting pada baduta dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, baik faktor anak, ibu, pola asuh maupun lingkungan. Provinsi Bali merupakan provinsi dengan prevalensi stunting terendah di Indonesia, namun faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta di Bali masih perlu diperhatikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor dominan yang berhubungan dengan stunting pada anak usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Desain penelitian ini menggunakan cross-sectional dengan analisis data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023. Sampel penelitian berjumlah 549 baduta usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Analisis data meliputi analisis univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik kompleks. Analisis bivariat menunjukkan bahwa faktor anak, ibu, praktik pola asuh, dan lingkungan tidak berhubungan secara signifikan dengan kejadian stunting (p > 0,05). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa berat badan lahir merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan stunting. Anak dengan berat badan lahir rendah memiliki peluang mengalami stunting sebesar 6,2 kali dibandingkan anak dengan berat badan lahir normal setelah dikontrol oleh variabel lain dalam model (AOR=6,202; 95% CI: 1,081–35,586). Berat badan lahir merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting pada baduta usia 0–23 bulan di Provinsi Bali. Upaya pencegahan stunting perlu difokuskan pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan melalui peningkatan status gizi ibu dan pencegahan kejadian berat badan lahir rendah.

Stunting is a chronic nutritional problem characterized by impaired growth due to prolonged inadequate nutrient intake. Stunting among children under two years of age may be influenced by various factors, including child, maternal, caregiving, and environmental factors. Bali Province has the lowest prevalence of stunting in Indonesia; however, factors associated with stunting among children under two years of age in Bali still require further attention. This study aimed to determine the dominant factors associated with stunting among children aged 0–23 months in Bali Province. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia/SKI). The study sample consisted of 549 children aged 0–23 months in Bali Province. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using the chi-square test, and multivariate analysis using complex logistic regression. The bivariate analysis showed that child factors, maternal factors, caregiving practices, and environmental factors were not significantly associated with stunting (p > 0.05). The multivariate analysis revealed that birth weight was the dominant factor associated with stunting. Children with low birth weight had a 6.2 times higher likelihood of experiencing stunting compared with children with normal birth weight after controlling for other variables in the model (AOR = 6.202; 95% CI: 1.081–35.586). Birth weight was identified as the dominant factor associated with stunting among children aged 0–23 months in Bali Province. Therefore, stunting prevention efforts should focus on the first 1,000 days of life through improving maternal nutritional status and preventing low birth weight.
Read More
S-12372
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive