Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33347 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nurmalita Hartiyana Kusuma Wardani; Pembimbing: Renti Mahkota; Penguji: Trisari Anggondowati, Rina Handayani
Abstrak:
Indonesia merupakan negara dengan jumlah kasus tuberkulosis tertinggi kedua di dunia. Sedangkan provinsi Jawa Barat merupakan provinsi di Indonesia yang melaporkan jumlah kasus tuberkulosis paling besar. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan ketidakberhasilan pengobatan pasien tuberkulosis di Jawa Barat tahun 2020 – 2022. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi kohort retrospektif melalui data sekunder yang diperoleh dari SITB Kementerian Kesehatan RI pada tahun 2020 – 2022. Penelitian menggunakan total sampel yang memenuhi keriteria inklusi dan eksklusi. Data dibersihkan dan dianalisis menggunakan STATA 15 dengan uji chi-square untuk mengetahui derajat hubungan antar variabel dan p-value <0,05 sebagai batas kemaknaan. Total sebanyak 303.100 kasus TB (54,52% laki-laki) dimasukkan dalam studi. Prevalensi ketidakberhasilan pengobatan adalah sebesar 12,10% yang terdiri dari gagal (0,40%), lost to follow up (8,89%), dan meninggal (2,82%). Ketidakberhasilan pengobatan ditemukan berhubungan dengan usia semakin tua, jenis kelamin laki-laki, tinggal di wilayah rural, pekerjaan wiraswasta dan pegawai negeri/swasta, TB ekstraparu, TB resisten obat, pernah melakukan pengobatan sebelumnya, TB-HIV, TB-DM, dan berobat di FKRTL. Penelitian ini mengidentifikasi berbagai faktor yang memengaruhi ketidakberhasilan pengobatan TB. Hasil penelitian ini dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah untuk meningkatkan program dan kebijakan kesehatan dalam pengendalian TB. Pentingnya meningkatan cakupan skrining TB pada pasien DM. Peningkatan jumlah cakupan skrining dapat dilakukan dengan mengintegrasikan layanan geriatri dan prolanis di puskesmas hingga tingkat posbindu.

Indonesia is the country with the second highest number of tuberculosis cases in the world. Meanwhile, West Java province is the province in Indonesia that reports the largest number of tuberculosis cases. This study aims to identify factors associated with unsuccessful treatment outcomes of tuberculosis patients in West Java in 2020–2022. This research is a quantitative study with a retrospective cohort study design using secondary data obtained from the SITB of the Indonesian Ministry of Health in 2020–2022. Research using the total sample that meets the inclusion and exclusion criteria. Data were cleaned and analyzed using STATA 15 with the chi-square test to determine the degree of relationship between variables and p-value
 
Read More
S-11520
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Farhan Dwi Yulianto; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Putri Bungsu, Nining Mularsih, Sulistyo
Abstrak:

Abstrak Proporsi keberhasilan pengobatan pasien TBC di Jakarta Barat trend-nya mengalami penurunan dari tahun 2020 hingga 2022. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kepatuhan pengobatan, co-infeksi HIV, dan riwayat pengobatan dengan ketidakberhasilan pengobatan TBC SO di Kota Jakarta Barat tahun 2022. Desain studi penelitian yaitu kohort retrospektif, bersumber dari laporan TB03.SO Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Kota Jakarta Barat tahun 2022. Analisis penelitian meliputi analisis deskriptif, survival dengan Kaplan Meier, dan multivariat (cox regression). Dari 2116 pasien yang terdapat 1846 pasien menjadi sampel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan insiden rate kumulatif: 4,9/1000 orang-minggu; probabilitas survival kumulatif: 70,5%. Pada kelompok negatif DM, tidak patuh minum obat HR: 47,78 kali (95% CI: 32,59-70,03; p-value: <0,001). Pada kelompok ada riwayat pengobatan, tidak patuh minum obat HR: 26,28 (95% CI: 12,54-55,03; p-value: <0,001) setelah dikontrol variabel jenis kelamin. Pada kelompok patuh pengobatan, pada saat pasien TBC SO memiliki riwayat pengobatan sebelumnya memiliki HR: 2,3 (95% CI: 1,06-5,01; p-value: 0,035). Diharapkan menguatkan koordinasi dengan poli lainnya (Poli HIV/PDP atau Poli Penyakit Dalam) untuk memantau keteraturan minum OAT dan juga obat untuk penyakit penyerta lainnya untuk kasus TBC dengan komorbid. Perlu dilakukan pemantauan efek samping, konsultasi, tatalaksana efek samping sesuai standar, dan juga follow up pengobatan pasien. Kata kunci: Ketidakberhasilan Pengobatan, TBC Sensitif Obat, Analisis Survival


Abstract The proportion of successful treatment for TB patients treated in West Jakarta has decreased by 83.40% (2020), 79.36% (2021), and 77.18% (2022) (22.82% failure) . This study aims to determine the relationship between treatment adherence, HIV co-infection, and previous treatment history with TB SO patient survival and treatment failure in West Jakarta City in 2022. The study design of this research is a retrospective cohort with data sourced from the TB03.SO System report. Information on Tuberculosis (TBC SO) for West Jakarta City for the period January-December 2022. The analysis used in this research is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using cox regression. Of the 2116 eligible patients in this study, 1846 patients were included in the research sample. The results showed that the cumulative incidence rate was 4.9/1000 person-weeks with a cumulative survival probability of 70.5%. in the DM negative group, when TB SO patients were non-compliant with taking medication HR: 47.78 times (95% CI: 32.59-70.03; p-value: <0.001) after controlling for the gender variable. The results of the multivariate analysis showed that in the group with no history of treatment, when TB patients did not adhere to taking medication, the HR was: 65.65 times (95% CI: 43.09-100.03; p-value: <0.001) after controlling for variables gender. In the group with a history of treatment, when TB patients did not comply with taking medication, the HR was 26.28 times (95% CI: 12.54-55.03; p-value: <0.001) after controlling for the gender variable. in the treatment adherent group, when TB SO patients had a history of previous treatment, the HR was: 2.3 times (95% CI: 1.06-5.01; p-value: 0.035). It is hoped that coordination with other polyclinics (HIV/PDP Polyclinic or Internal Medicine Polyclinic) will be strengthened to monitor the regularity of taking OAT and also medication for other comorbidities for TB cases with comorbidities, for example ARVs for HIV patients and DM therapy for DM patients. It is necessary to monitor side effects, consult, manage side effects according to standards, and also follow up on patient treatment so as to increase treatment compliance and reduce the rate of treatment failure. Key words: Treatment Unsuccessful, Drug-Sensitive Tuberculosis, Survival Analysis

Read More
T-7134
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chrisshanti Putri Pasaribu; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Renti Mahkota, Sulistyo, Yusie Permata
Abstrak:
Pada tahun 2023 mulai diimplementasikan regimen Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid dengan atau tanpa Moxifloxacin (BPaL/M) sebagai regimen pengobatan tuberkulosis resisten obat (TBC RO) dengan durasi 6–9 bulan. Meskipun memiliki durasi pengobatan yang lebih singkat, data nasional tahun 2023–2025 menunjukkan bahwa 19,4% pasien masih mengalami ketidakberhasilan pengobatan dengan cure rate sebesar 69,1%. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor risiko ketidakberhasilan pengobatan pada pasien TBC RO yang menggunakan regimen BPaL/M berdasarkan tingkat beban TBC di Indonesia tahun 2023–2025. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dengan data sekunder Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Sebanyak 8.746 pasien yang  memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dianalisis menggunakan cox regression dan extended cox regression pada variabel yang tidak memenuhi asumsi proportional hazards dengan titik potong 120 hari. Hasil penelitian secara nasional menunjukkan bahwa tidak mengalami konversi sputum merupakan faktor risiko terkuat terhadap ketidakberhasilan pengobatan (aHR = 12,23; 95%CI: 10,92–13,71), diikuti oleh ketidakpatuhan pengobatan setelah 120 hari (aHR = 5,50; 95%CI: 3,82–7,91), HIV positif (aHR = 1,98; 95%CI: 1,61–2,44), HIV tidak diketahui (aHR = 1,91; 95%CI: 1,50–2,44), usia ≥45 tahun pada ≤120 hari pengobatan (aHR = 1,75; 95%CI: 1,56–1,97), riwayat pengobatan TBC sebelumnya setelah 120 hari (aHR = 1,48; 95%CI: 1,24–1,77), pola resistensi MDR (aHR = 1,17; 95%CI: 1,06–1,29), dan efek samping obat setelah 120 hari (aHR = 1,27; 95%CI: 1,04–1,54). Sebaliknya, inisiasi pengobatan >7 hari merupakan faktor protektif terhadap ketidakberhasilan pengobatan (aHR = 0,78; 95%CI: 0,71–0,86). Diperlukan penguatan pemantauan pasien berisiko tinggi, peningkatan kepatuhan pengobatan, serta pengembangan early warning system bagi pasien yang tidak mengalami konversi sputum.

In 2023, the Bedaquiline, Pretomanid, and Linezolid regimen with or without  Moxifloxacin (BPaL/M) was introduced as a treatment regimen for drug-resistant  tuberculosis (DR-TB), with a treatment duration of 6–9 months. Despite its shorter  treatment duration, national data from 2023–2025 showed that 19.4% of patients  experienced unsuccessful treatment outcomes, with a cure rate of 69.1%. This study  aimed to identify the risk factors for unsuccessful treatment outcomes among patients  with DR-TB receiving the BPaL/M regimen across regions with low, medium, and high  TB burden in Indonesia during 2023–2025. A retrospective cohort study was conducted  using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB). A total of 8,746  patients who met the inclusion and exclusion criteria were analyzed using Cox  proportional hazards regression and extended Cox regression for variables that violated  the proportional hazards assumption, with a 120-day time cut-off. Nationally, sputum  non-conversion was the strongest risk factor for unsuccessful treatment outcomes (aHR  = 12.23; 95% CI: 10.92–13.71), followed by treatment non-adherence after 120 days  (aHR = 5.50; 95% CI: 3.82–7.91), HIV-positive status (aHR = 1.98; 95% CI: 1.61–2.44),  unknown HIV status (aHR = 1.91; 95% CI: 1.50–2.44), age ≥45 years during the first 120  days of treatment (aHR = 1.75; 95% CI: 1.56–1.97), previous TB treatment after 120 days  (aHR = 1.48; 95% CI: 1.24–1.77), multidrug-resistant (MDR) resistance pattern (aHR =  1.17; 95% CI: 1.06–1.29), and adverse drug events after 120 days (aHR = 1.27; 95% CI:  1.04–1.54). In contrast, treatment initiation more than 7 days after diagnosis was  identified as a protective factor (aHR = 0.78; 95% CI: 0.71–0.86). These findings  highlight the need to strengthen the monitoring of high-risk patients, improve treatment  adherence, and implement an early warning system for patients who fail to achieve  sputum conversion
Read More
T-7648
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Immi Rizky Budiyani; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Dwi Oktavia Tatri Lestari Handayani, Meilina Farikha
Abstrak:
Tuberkulosis (TBC) merupakan penyakit menular yang menjadi masalah kesehatan global, termasuk di DKI Jakarta dengan beban TBC Resistan Obat (TBC RO) yang tinggi. Konversi kultur dahak adalah indikator penting dalam pemantauan pengobatan TBC. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi waktu konversi kultur dahak dan mengidentifikasi prediktor yang mempengaruhinya pada pasien TBC RO di DKI Jakarta tahun 2020-2022 menggunakan desain kohort retrospektif. Variabel yang dianalisis meliputi tipe resistensi, inisial sputum, usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, komorbid HIV, komorbid Diabetes Mellitus, jenis fasilitas kesehatan, dan paduan pengobatan TBC RO. Dari 936 pasien yang dianalisis, 82,05% mengalami konversi kultur dahak dengan probabilitas survival kumulatif di akhir pengamatan sebesar 11,01% dan median survival keseluruhan 3 bulan. Enam variabel yang menjadi prediktor waktu konversi kultur dahak adalah tipe resistensi, inisial sputum, usia, riwayat pengobatan sebelumnya, jenis fasilitas kesehatan, dan paduan pengobatan yang digunakan. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi bermanfaat untuk program TBC serta menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya

Tuberculosis (TB) is an infectious disease that poses a global health problem, including in DKI Jakarta, which has a high burden of Drug-Resistant TB (DR-TB). Sputum culture conversion is an important indicator in monitoring TB treatment. This study aims to evaluate the time to sputum culture conversion and identify its predictors among DR-TB patients in DKI Jakarta from 2020 to 2022 using a retrospective cohort design. The analyzed variables include resistance type, initial sputum, age, gender, previous treatment history, HIV comorbidity, Diabetes Mellitus comorbidity, type of healthcare facility, and DR-TB treatment regimen. Out of 936 analyzed patients, 82.05% experienced sputum culture conversion with a cumulative survival probability at the end of observation of 11.01% and an overall median survival of 3 months. Six variables were identified as predictors of sputum culture conversion time: resistance type, initial sputum, age, previous treatment history, type of healthcare facility, and treatment regimen used. This study is expected to provide valuable information for TB programs and serve as a reference for future research
Read More
T-7105
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indri Rizkiyani; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Trisari Anggondowati, Sulistyo
Abstrak:
Capaian inisiasi pengobatan TBC RO di Indonesia pada tahun 2022 masih rendah yaitu 65% dibandingkan target nasional yaitu 93%. Selain itu, tren inisiasi pengobatan TBC RO dalam 5 tahun ke belakang meningkat, tetapi rata-rata pasien yang tidak berobat masih rendah yaitu >35%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang mempengaruhi pasien terdiagnosis TBC RO yang tidak berobat di Indonesia tahun 2022 dengan menggunakan desain studi kohort retrospektif dan data sekunder nasional dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Analisis multivariat dilakukan dengan pemodelan prediksi yang bertujuan untuk memperoleh model yang dianggap terbaik untuk memprediksi kejadian inisiasi pengobatan dengan menggunakan cox regression. Sampel penelitan adalah semua pasien terdiagnosis TBC RO yang tercatat di register TB 06 SITB tahun 2022 (total sampling) yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Dari 11.589 pasien TBC RO yang eligible menjadi sampel penelitian, sebanyak 3.482 pasien TBC RO (30%) yang tidak inisiasi pengobatan. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan dengan kejadian pasien pasien TBC RO tidak inisiasi pengobatan di Indonesia tahun 2022 adalah usia, riwayat pengobatan TBC, ketersediaan layanan TBC RO, dan wilayah dampingan komunitas. Perluasan akses pengobatan TBC RO dan penguatan pendampingan dari komunitas menjadi faktor penting untuk meningkatkan inisiasi pengobatan TBC RO, sehingga dapat menurunkan risiko penularan TBC RO di masyarakat.

Low achievement of drug-resistant TB treatment initiation in Indonesia (65%) compared to the national target (93%) in 2022. The trend of drug-resistant TB treatment initiation in the past 5 years has increased, but the average number of pre-treatement lost to follow up is more than 35%. The aim of this study is to determine the factors related to drug-resistant TB patients not initiating treatment in Indonesia year 2022 using a retrospective cohort study design and secondary data from the national Tuberculosis Information System (SITB). Multivariate analysis was carried out using predictive modeling which aims to obtain a model that is considered the best for predicting the incidence of treatment initiation using cox regression. The research sample was all patients diagnosed with drug-resistant TB recorded in the TB 06 register in SITB year 2022 (total sampling) who met the inclusion and exclusion criteria. Out of the 11,589 drug-resistant TB patients who were eligible as research samples, 3.482 RO TB patients (30%) did not initiate treatment. The results of the multivariate analysis showed that the factors associated with the incidence of drug-resistant TB patients not initiating treatment are age, history of TB treatment, availability of drug-resistant services, and community support areas. Expanding access to drug-resistant TB treatment and strengthening assistance from the community are important factors in increasing the initiation of drug-resistant TB treatment as well as reducing the risk of drug-resistant transmission in the community.
Read More
T-6997
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hera Afidjati; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Soewarta Kosen
Abstrak:
Latar belakang: Kompleksitas pengobatan TB RO berupa durasi pengobatan yang panjang, penggunaan beberapa obat lini kedua, toksisitas obat, dan interaksi obat akibat multidrug use dapat menyebabkan efek samping pengobatan pada pasien. Hal ini dapat mengurangi efektivitas pengobatan dan memengaruhi luaran pengobatan TB RO. Tujuan: Untuk melihat efek samping obat/kejadian tidak diinginkan terhadap luaran pengobatan TB RO. Metode: Penelitian observasional dengan desain kohort retrospektif ini dilakukan di RSUP Persahabatan, Jakarta. Sumber data adalah data sekunder dari sistem informasi tuberkulosis (SITB) yang melibatkan pasien TB RO yang menjalani pengobatan di tahun 2021 – 2023. Metode sampling berupa total sampling. Analisis data bivariat antara KTD dengan luaran pengobatan TB RO berupa Cox regresi dan uji Log-Rank, yang kemudian dilanjutkan dengan analisis multivariat menggunakan Extended Cox Regresi. Hasil: Dari 583 subjek yang diikutsertakan dalam penelitian ini, insidens luaran pengobatan tidak berhasil sebanyak 40,65%. Sebanyak 12,69% pasien mengalami efek samping berat. Sebagian besar efek samping terjadi pada fase intensif pengobatan TB RO (43,57%). Jenis efek samping yang paling sering dialami pada pasien adalah gangguan gastrointestinal (79,25%), gangguan muskuloskeletal (58,32%), dan gangguan saraf (49,40%). Efek samping berupa KTD berat/serius tidak memiliki asosiasi yang signifikan terhadap terjadinya pengobatan tidak berhasil berdasarkan hasil analisis Cox regresi bivariat (HR=0,823; 95% CI: 0,558-1,216; p=0,329) dan analisis multivariat Extended Cox regresi (setelah dikontrol oleh variabel kovariat). Probabilitas survival antara kelompok dengan KTD berat dan kelompok non-KTD berat tidak berbeda bermakna. Kesimpulan: pemantauan efek samping selama pengobatan TB RO berlangsung merupakan hal yang penting untuk menunjang keberhasilan pengobatan.

Background: The complexity of treating drug-resistant tuberculosis (DR TB) involves prolonged treatment duration, the use of several second-line drugs, drug toxicity, and drug interactions due to multidrug use, which can lead to adverse drug reactions in patients. These issues can reduce treatment effectiveness and affect treatment outcomes for DR TB. Objective: To investigate the impact of adverse drug reactions/adverse events on DR TB treatment outcomes. Methods: This observational study utilized a retrospective cohort design conducted at RSUP Persahabatan, Jakarta. The data source was secondary data from the tuberculosis information system (SITB) involving DR TB patients who underwent treatment between 2021 and 2023. The sampling method was total sampling. Bivariate data analysis between adverse events and TB RO treatment outcomes involved Cox regression and Log Rank tests, followed by multivariate analysis using Extended Cox Regression. Results: Among the 583 subjects included in this study, the incidence of unsuccessful treatment outcomes was 40.65%. Severe adverse drug reactions were experienced by 12.69% of patients. Most adverse reactions occurred during the intensive phase of TB RO treatment (43.57%). The most common types of adverse reactions experienced by patients were gastrointestinal disorders (79.25%), musculoskeletal disorders (58.32%), and neurological disorders (49.40%). Severe/serious adverse reactions did not have a significant association with unsuccessful treatment outcomes based on the results of the bivariate Cox regression analysis (HR=0.823; 95% CI: 0.558-1.216; p=0.329) and the multivariate Extended Cox regression analysis (after adjusting for covariate variables). The survival probability between the group with severe adverse reactions and the non-severe adverse reactions group did not differ significantly. Conclusion: Monitoring adverse drug reactions during DR TB treatment is crucial to support the success of the treatment.
Read More
T-7063
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elsye Tendenan Malensang; Pembimbing: Yovsyah; PengujiL: Helda, Sulistyo
Abstrak:
Abstrak Tuberkulosis masih menjadi masalah Kesehatan Masyarakat sampai saat ini, baik di Indonesia maupun Tingkat global. Indonesia negara dengan peringkat ke dua sebagai negara dengan angka kasus TB terbesar di dunia. Succsess Rate TB RO di Indonesia dalam satu dekade terakhir bekisar antara 40-50%, tahun 2022 SR TB RO menjapai angka 51% masih jauh dari target nasional. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui hubhungan factor usia, jenis kelamin, Riwayat pengobatan, jenis faskes, status HIV dan status DM terhadap keberhasilan pengobatan TB RO Pengobatan Jangka Pendek di Indonesia tahun 2022. Desain studi yang digunakan yaitu cross sectional dengan menganalisis data dari data register TB RO 03 Aplikasi SITB Direktorat Jenderal P2P Kementerian Kesehatan RI dengan jumlah sampel sebesar 2.028. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunkana aplikasi SPSS versi 27.Hasil analisis menunjukkan bahwa faktor usia (PR=1,31; 95%; CI:1,20-1,42) dan status HIV (PR=1,4; 95%; CI: 1,02-1,90) menjadi faktor yang berhubungan dengan keberhasilan pengobatan TB RO Jangka Pendek(Short Treatment Regiment) di Indonesia tahun 2022. Oleh sebab itu, perlu adanya intervensi dan pengawasan ekstra bagi pasien yang berusia > 45 tahun dan dengan infeksi HIV dalam menjalani pengobatan TRB RO Jangka Pendek untuk mencegah kegagalan pengobatan dan meningkatkan keberhasilan pengobatan TB RO Jangka Pendek. Kata Kunci : Pengobatan TB RO Jangka Pendek, Usia, jenis Kelamin, Riwayat Pengobatan, Jenis Faskes, Status HIV, Status DM, Indonesia

Abstract Tuberculosis is still a public health problem today, both in Indonesia and at the global level. Indonesia is the country ranked second as the country with the largest number of TB cases in the world. The TB RO Success Rate in Indonesia in the last decade has ranged between 40-50%, in 2022 the TB RO SR will reach 51%, which is still far from the national target. The aim of this research is to determine the relationship between the factors age, gender, treatment history, type of health facility, HIV status and DM status on the success of Short Term RO TB treatment in Indonesia in 2022. The study design used is cross sectional by analyzing data from TB register data. RO 03 SITB Application Directorate General of P2P Ministry of Health of the Republic of Indonesia with a sample size of 2,028. Data were analyzed univariately and bivariately using the SPSS version 27 application. The results of the analysis showed that the factors were age (PR=1.31; 95%; CI: 1.20-1.42) and HIV status (PR=1.4; 95% ; CI: 1.02-1.90) is a factor related to the success of Short Term RO TB treatment (Short Treatment Regiment) in Indonesia in 2022. Therefore, there is a need for extra intervention and supervision for patients aged > 45 years and with HIV infection undergoing Short Term TRB RO treatment to prevent treatment failure and increase the success of Short Term TB RO treatment. Keywords: Short Term RO TB Treatment, Age, Gender, Treatment History, Type of Health Facility, HIV Status, DM Status, Indonesia
Read More
S-11509
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonita Nur Salamah; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Nining Mularsih, Wahyu Manggala Putra
Abstrak:

Tuberkulosis sensitif obat (TB SO) salah satu penyakit infeksius penyebab kematian utama dunia. Terjadi peningkatan kematian pasien TB SO di Provinsi DKI Jakarta. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor usia, jenis kelamin, status bekerja, klasifikasi lokasi anatomi, klasifikasi riwayat pengobatan, komorbid DM, dan status HIV dengan kematian pasien TB SO selama masa pengobatan di Provinsi DKI Jakarta. Metode : Desain studi penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan metode analisis survival Kaplan meier. Hasil : Hasil menunjukkan proporsi kematian pasien sebesar 4,5% dengan probabilitas kesintasan mencapai 90,1%. Faktor yang terbukti berpengaruh terhadap kematian pasien adalah usia >40 tahun (Hazard Ratio (HR) 2,3; 95% Confidence Interval (95% CI) 1,925-2,629), jenis kelamin laki-laki (HR 1,2; 95% CI 1,047-1,396), pasien kambuh dan lainnya (HR 2,8; 95% CI 2,351-3,339), memiliki komorbid DM (HR 1,4; 95% CI 1,159-1,598), dan status positif HIV (HR 4,7; 95% CI 3,879-5,623). Kesimpulan : Faktor usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan, komorbid DM, dan status HIV merupakan faktor kematian pasien TB SO di Provinsi DKI Jakarta. Saran berupa dilakukan audit penyebab kematian dan peningkatan standar prosedur layanan oleh pihak Dinas Kesehatan Provinsi direkomendasikan.


Drug-sensitive tuberculosis (TB SO) is one of the world's leading causes of death. There has been an increase in the deaths of TB SO patients in DKI Jakarta Province. Objective: This study aimed to determine the influence of age, gender, work status, anatomical location classification, treatment history classification, DM comorbidities, and HIV status on the death of TB SO patients during the treatment period in DKI Jakarta Province. Methods: The study design of this research was a retrospective cohort with the Kaplan-Meier survival analysis method. Results: The results showed that the proportion of patient deaths was 4.5% with survival probability was 90.1%. Factors of death were age >40 years (Hazard Ratio (HR) 2.3; 95% Confidence Interval (95% CI) 1.925-2.629), male gender (HR 1.2; 95% CI 1.047-1.396), patient relapse and others ( HR 2.8; 95% CI 2.351-3.339), having comorbid DM (HR 1.4; 95% CI 1.159-1.598), and HIV positive (HR 4.7; 95% CI 3.879-5.623). Conclusion: Age, gender, treatment history, comorbid DM, and HIV status are death factors of TB SO patients in DKI Jakarta Province. Suggestions in the form of an audit of the causes of death and improving standard service procedures by the Provincial Health Service are recommended.

Read More
T-6946
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rani Iftika Ningrum; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Hario Baskoro
Abstrak:
World Health Organization (WHO) mendeklarasikan corona virus disease 19 (COVID19) sebagai pandemic. Bukti yang terakumulasi dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa, meskipun infeksi SARS-CoV 2 menyebabkan penyakit pernapasan dengan manifestasi klinis yang sangat bervariasi, organ lain juga dapat rusak oleh virus tersebut, ginjal menjadi salah satu tempat utama komplikasi. Penyakit Ginjal kronis (PGK) muncul sebagai faktor risiko paling umum COVID-19 dengan manifestasi klinis yang parah dan mengkhawatirkan. Penyakit Ginjal kronis (PGK) dikaitkan dengan peningkatan tingkat rawat inap pasien dengan COVID-19, dan tingkat kematian tampaknya 14 - 16 kali lebih tinggi daripada populasi umum. RS UI merupakan rumah sakit rujukan COVID-19 di Kota Depok. Studi kasus kontrol dilakukan dengan memanfaatkan data rekam medis pasien COVID-19 terkonfirmasi yang dirawat inap di RS UI periode September 2020 ? Agustus 2022 dengan jumlah sampel pada kelompok kasus 121 responden dan kelompok kontrol 242 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan dan bermakna secara statistik antara Penyakit Ginjal Kronis dengan kematian pasien COVID-19 (OR 6,67; 95% CI 3,48?12,77; pvalue <0,001). Demikian, secara statistik hubungan antara Penyakit Ginjal Kronis dengan kematian pasien COVID-19 setelah dikontrol variabel kovariat yaitu : hipertensi, ARDS, ruang perawatan, obesitas dan umur. Jadi, pasien COVID-19 dengan Penyakit Ginjal Kronis memiliki resiko 3,65 kali lebih besar secara bermakna untuk meninggal dibanding pasien COVID-19 tanpa Penyakit Ginjal kronis

The World Health Organization (WHO) declared the corona virus disease 19 (COVID19) a pandemic. Evidence has accumulated over time indicating that, although SARSCoV 2 infection causes respiratory disease with a wide variety of clinical manifestations, other organs can be damaged by the virus, with the kidney being one of the main sites of complications. Chronic Kidney Disease (CKD) is emerging as the most common risk factor for COVID-19 with severe clinical manifestations and deficiencies. Chronic Kidney Disease (CKD) is associated with increased hospitalization rates of patients with COVID-19, and death rates are roughly 14 ? 16 times higher than the general population. UI Hospital is a COVID-19 referral hospital in Depok City. A case-control study was carried out by utilizing the medical record data of confirmed COVID-19 patients who were hospitalized at UI Hospital for the period September 2020 ? August 2022 with a sample size of 121 respondents in the case group and 242 respondents in the control group. The results of this study showed that there was a statistically significant relationship between Chronic Kidney Disease and the death of COVID-19 patients (OR 6.67; 95% CI 3.48?12.77; pvalue <0.001). Thus, statistically the relationship between Chronic Kidney Disease and the death of COVID-19 patients after controlling for covariate variables, namely: hypertension, ARDS, treatment room, obesity and age. So, COVID-19 patients with Chronic Kidney Disease have a significantly greater risk of dying 3.65 times than COVID-19 patients without Chronic Kidney Disease.
Read More
T-6514
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putu Wahyuni Wulandari Karnawati; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Puput Oktamianti, Hidayat Nuh Ghazali
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterlambatan inisiasi pengobatan pada pasien TBC RO di Jawa Barat tahun 2024 melalui analisis faktor individu, penilaian aksesibilitas geografis terhadap fasilitas pengobatan, serta pemetaan distribusi spasial faktor risiko keterlambatan. Penelitian ini merupakan studi observasional dengan desain cross sectional dan ekologi menggunakan data sekunder SITB tahun 2024. Keterlambatan inisiasi pengobatan didefinisikan sebagai interval antara tanggal hasil diagnosis TCM hingga dimulainya pengobatan, dengan cut-off >7 hari. Variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, domisili, riwayat pengobatan TBC RO sebelumnya, status diabetes, status HIV, dan jenis fasilitas pengobatan. Analisis faktor individu menggunakan regresi Poisson untuk mengestimasi prevalence ratio, sedangkan analisis kewilayahan dilakukan melalui peta risiko berbasis skoring komposit dan analisis aksesibilitas fisik dengan pendekatan Euclidean distance. Dari 2.216 pasien yang dianalisis, median keterlambatan inisiasi pengobatan adalah 16 hari, dengan 81,32% mengalami keterlambatan >7 hari. Pasien berusia >50 tahun (PR=1,06;95%CI: 1,02 – 1,11), ko-infeksi HIV (PR=1,20; 95%CI: 1,15-1,38), dan inisiasi pengobatan di balai kesehatan (PR=1,22; 95%CI: 1,09 – 1,36) meningkatkan risiko keterlambatan. Pemetaan kewilayahan mengidentifikasi 11 dari 27 kabupaten/kota (40,74%) berisiko tinggi. Analisis akses menunjukkan disparitas aksesibilitas fisik yang cukup lebar antar kabupaten/kota, terutama di wilayah kabupaten. Jarak yang lebih jauh umumnya berkaitan dengan proporsi keterlambatan yang lebih tinggi, meskipun pola ini tidak selalu konsisten di wilayah perkotaan.

This study aimed to investigate delayed treatment initiation among DR-TBC patients in  West Java in 2024 by examining individual-level factors, assessing geographic  accessibility to treatment facilities, and mapping the spatial distribution of delay risk  factors across the province. a cross-sectional and ecological study was conducted using  DR-TBC patient data from the Indonesian Tuberculosis Information System (SITB) in  West Java, Indonesia, 2024. Delayed treatment initiation was defined as treatment  initiation >7 days after diagnosis. Poisson regression with robust variance was used to  indetify individual-level factors, while geographic analyses assessed physical  accessibility using Euclidean distance and mapped the spatial distribution of delay risk.  Among the 2,216 patients included in the analysis, the median treatment initiation delay  was 16 days, with 81.32% experiencing a delay >7 days. Patients aged >50 years (PR =  1.06; 95% CI: 1.02–1.11), patient with HIV co-infection (PR = 1.20; 95% CI: 1.15–1.38),  and those who initiated treatment at Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM)  (PR = 1.22; 95% CI: 1.09–1.36) were more likely to experience delayed treatment  initiation. Spatial mapping identified 11 of the 27 districts/cities (40.74%) as high-risk  areas. Accessibility analysis revealed substantial disparities in physical access to  healthcare services across districts/cities, particularly in rural districts. Longer travel  distances were generally associated with a higher proportion of treatment delays, although  this pattern was not consistently observed in urban settings.
Read More
T-7599
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive