Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39087 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nia Murniati; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Purwantyastuti; Penguji: Ratna Djuwita, Ali Nina Liche Seniati, Herqutanto, Ria Maria Theresa, Fidiansjah
Abstrak:
Banyak faktor pemicu terjadinya depresi pada lansia yang sudah terdokumentasi dengan baik melalui berbagai literatur, namun belum ada kajian antar kelompok lansia perkotaan dan perdesaan di Indonesia. Kajian antar kelompok ini diperlukan agar penatalaksanaan masalah depresi pada lansia dapat lebih tepat sasaran. Peran biopsikososial dipertimbangkan sebagai kajian holistik yang saling terkait untuk memeriksa sejauh mana hubungannya dengan depresi pada lansia. Kajian dilakukan menggunakan data Indonesia Family Life Survey gelombang 4 dan 5. Hasil menunjukkan terdapat perubahan faktor biopsikososial dengan depresi lansia di perkotaan dan perdesaan Indonesia. Perubahan kondisi fisik dan kesejahteraan subyektif menjadi risiko depresi lansia di perkotaan. Sedangkan untuk lansia perdesaan, ditemukan perubahan kondisi fisik, perubahan rasa saling percaya, perubahan partisipasi masyarakat dan perubahan status marital sebagai risiko depresi lansia.

There are several well-documented factors that contribute to elderly depression, however there haven't been any research in Indonesia comparing elderly populations in urban and rural areas. In order to better effectively manage depression issues in the elderly, a research across groups is required. The role of biopsychosocial is viewed as an interrelated holistic study to determine the extent of its impact on depression in the elderly using data from the Indonesian Family Life Survey waves 4 and 5. The results show that there are differences in the risk of depression in the elderly in urban and rural Indonesia. Changes in physical condition and subjective well-being are risks of depression in urban elderly people. Meanwhile, for rural elderly, changes in physical condition, changes in mutual trust, changes in community participation and changes in marital status were found as risks for elderly depression.
Read More
D-496
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Avliya Quratul Marjan; Promotor: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Endang Laksminingsih Achadi, Sri Redatin Retno Pudjiati; Penguji: Hartono Gunardi, Atmarita, Hera Nurlita, Ceisilia Meti Dwiriani, Besral
Abstrak:
Latar Belakang : Kemampuan kognitif anak dipengaruhi oleh kondisi gizi anak pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) atau saat anak usia dini. Upaya dalam peningkatan kemampuan kognitif anak salah satunya dengan menanggulangi masalah stunting anak baduta di Indonesia. Kondisi kejar tumbuh anak memberikan pengaruh pada kemampuan kognitif saat usia sekolah hingga remaja akhir. Tujuan: Menganalisis pengaruh kejar tumbuh dengan kemampuan kognitif anak di Indonesia.Metode : Penelitian menggunakan data longitudinal Indonesia Family Life Survey (IFLS) dengan desain studi observasional metode retrospektif. Penelitian dibagi menjadi 2 model sesuai periode pengamatan yaitu model 1 usia 0-23 bulan s/d 10-12 tahun (643 anak) dan model 2 usia 0-23 bulan s/d usia 17-19 tahun (515 anak). Penelitian ini menggunakan 2 model pengamatan karena pengukuran kemampuan kognitif menggunakan kuesioner yang berbeda saat usia 10-12 tahun dan usia 17-19 tahun. Anak dibagi menjadi 4 kelompok berdasarkan perubahan nilai HAZ >-1 SD, menjadi (1) kelompok tidak stunted, (2) stunted kejar tumbuh, (3) tidak stunted menjadi stunted, dan (4) stunted tidak kejar tumbuh. Hasil Penelitian : Hasil multivariat model 1 menunjukkan anak yang stunted tidak kejar tumbuh saat usia balita memiliki kemampuan kognitif usia 10-12 tahun 1,7 poin lebih rendah dibandingkan dengan anak tidak pernah stunted (p=0,001). Model 2 menunjukkan bahwa kelompok anak stunted kejar tumbuh memiliki kemampuan kognitif 0,9 poin lebih rendah dibandingkan dengan anak yang tidak stunted (p=0,020). Anak stunted yang kejar tumbuh memiliki kemampuan kognitif yang lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak kejar tumbuh pada usia 10-12 tahun, namun memiliki skor kemampuan kognitif yang lebih rendah pada usia 17-19 tahun. Kesimpulan : Stunted pada usia 0-23 bulan merupakan faktor penting dalam menentukan kemampuan kognitif anak pada usia selanjutnya. Kejar tumbuh setelah stunted pada usia sebelumnya mengindikasikan hubungan dengan kemampuan kognitif pada usia selanjutnya (usia 10-12 tahun dan 17-19 tahun), walaupun usia terjadinya berbeda pada model 1 dan 2. Penelitian ini merekomendasikan anak yang sudah terlanjur stunted harus didukung untuk kejar tumbuh, dengan cara harus tetap dipantau dalam pemberian makan, stimulasi dan pertumbuhannya agar memenuhi kebutuhan pertumbuhan linier dan perkembangan otak sehingga meningkatkan kemampuan kognitif
Read More
D-465
Depok : FKM-UI, 2022
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Artha Prabawa; Promotor: Sudijanto Kamso; Kopromotor: Purwantyatuti; Soewarta Kosen; Penguji: Purnawan Junadi, Ratna Djuwita, Besral, Artha Budi Susila Duarsa, Bachti Alisjahbana
D-372
Depok : FKM-UI, 2017
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eflita Meiyetriani; Promotor: Budi Utomo; Kopromotor: Ratu Ayu Dewi Sartika, Dian Kusuma; Penguji: Besral, Budi Iman Santoso, Hartono Gunardi, Helda Khusun, Alimoeso Sudibyo, Dwi Nastiti Iswarawanti
Abstrak:

Periode seribu hari pertama kehidupan (1000 HPK) merupakan masa yang sangat rentan terjadinya berbagai masalah gizi yang berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak. Salah satu bentuk gangguan pertumbuhan yang sering muncul pada periode ini adalah stunting. Kelahiran risiko tinggi, khususnya kelahiran “4 TERLALU” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, terlalu banyak) berperan penting dalam meningkatkan risiko morbiditas pada ibu dan anak. Sejumlah studi mengaitkan kelahiran “4 TERLALU” terhadap stunting, namun demikian temuan mengenai hal ini masih terbatas, tidak konsisten, dan umumnya hanya mencakup anak usia balita. Penelitian ini menggunakan data longitudinal Indonesia Family Life Survey (IFLS) tahun 2000, 2007, dan 2014 di 13 provinsi dengan 1.401 anak usia 0–59 bulan yang diikuti hingga usia remaja untuk menilai pengaruh kelahiran 4 TERLALU terhadap status stunting dan perubahan status stunting. Status stunting ditentukan dengan z skor PB/U atau TB/U berdasarkan standar WHO 2007, dan perubahan status dikelompokkan menjadi remained normal, height faltering, catch-up growth, dan remained stunted. Analisis dilakukan menggunakan Generalized Estimating Equation (GEE) untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap status stunting dan multinomial regresi logistik untuk menilai dampak kelahiran “4 TERLALU” terhadap perubahan status stunting di usia sekolah dan usia remaja. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting tertinggi pada usia balita (39%), menurun pada usia sekolah (35%), dan mencapai 25% pada remaja. Proporsi kelahiran terlalu muda sebesar 12,7%, terlalu tua 9,6%, terlalu dekat 6,8%, terlalu banyak 16,2%, dengan kelahiran risiko tinggi ≥1 sebesar 36,1% dan ≥2 sebesar 8,7%. Kelahiran terlalu dekat (<24 bulan) secara konsisten meningkatkan risiko stunting sejak balita hingga remaja, sedangkan kelahiran terlalu muda, terlalu tua, dan terlalu banyak tidak menunjukkan hubungan signifikan. Faktor lain yang berpengaruh antara lain usia anak pada saat baseline, berat badan lahir rendah, pendidikan ibu rendah, tinggi badan ibu ≤150 cm, tinggi badan ayah ≤161,9 cm, serta kondisi sosioekonomi dan lingkungan, di mana anak dari keluarga kuintil aset 3 memiliki risiko 21% lebih rendah dibanding kuintil 1. Analisis perubahan status stunting menunjukkan bahwa jarak kelahiran terlalu dekat meningkatkan risiko anak menjadi stunted (height faltering) dan remained stunted. Temuan ini menegaskan bahwa stunting bersifat dinamis dan kelahiran terlalu dekat berkontribusi besar pada gangguan pertumbuhan linier jangka panjang, sehingga diperlukan intervensi gizi, kesehatan reproduksi, dan pemantauan pertumbuhan yang berkesinambungan sejak masa sebelum konsepsi hingga masa remaja.


 

The first 1,000 days of life (1,000 HPK/Hari Pertama Kehidupan) represents a critical window during which children are highly vulnerable to various nutritional problems that can adversely affect their growth and development. Stunting is one of the most common forms of growth faltering that occurs during this period. Births with high-risk factors, particularly those related to the "4 Too's" (maternal age being too young or too old, a short birth interval, and numerous previous births), greatly increase the likelihood of illness among mothers and their children. Although several studies have linked the "4 Too's" birth characteristics to stunting, the evidence remains limited, inconsistent, and is generally confined to children under five years of age. This study used longitudinal data from the Indonesia Family Life Survey (IFLS) conducted in 2000, 2007, and 2014 across 13 provinces. A cohort of 1,401 children aged 0-59 months was followed through adolescence to assess the influence of the "4 Too's" birth characteristics on stunting status and its longitudinal changes. Stunting status was determined using height-for-age z-scores (HAZ) based on the 2007 WHO standards. Stunting status changes were classified as normal, height faltering, catch-up growth, and stunted persistence. Generalized Estimating Equations (GEE) were used to examine the impact of the 'Four Too' birth factors on stunting, while multinomial logistic regression was employed to investigate their effect on changes in stunting during school age and adolescence. The findings showed that stunting prevalence was most common among 5- year-olds (39%), decreased to 35% during school age, and dropped to 25% in adolescence. The proportions of high-risk births were as follows: 12.7% to mothers who were too young, 9.6% to mothers who were too old, 6.8% with a short birth interval, and 16.2% with high parity. The prevalence of births with at least one risk factor was 36.1%, while 8.7% had two or more risk factors. A birth interval of less than 24 months was constantly linked to an elevated risk of stunting from early childhood through adolescence, while no noteworthy correlation was found between births to mothers of young or older age and those of high parities. The other significant risk factors were the child's age at baseline, low birth weight, low levels of maternal education, maternal height of 150 cm or less, and paternal height of 161.9 cm or less. Socioeconomic factors also played a role, with children from the third asset quintile having a 21% lower risk of stunting than those from the first quintile. Analysis of the changes in stunting status revealed that short birth intervals increased the risk of a child experiencing height faltering or remaining stunted. These findings affirm the dynamic nature of stunting and highlight that a short birth interval is a major contributor to long-term linear growth faltering. Consequently, sustained nutritional and reproductive health interventions, along with continuous growth monitoring, are imperative from the pre-conception period through adolescence to break the intergenerational cycle of stunting.

Read More
D-597
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Faiza Yuniati; Promotor: Amal Chalik, Sjaaf; Kopromotor: Anhari Achadi, Budi Hidayat; Penguji: Meiwita Budiharsana, Mardiati Nadjib, Purnawan Junadi, Trihono, Harimat Hendrawan
Abstrak:
Perubahan dinamis di berbagai aspek merupakan salah satu pertimbangan perlunya penilaian kualitas hidup penduduk usia produktif yang merupakan sumber daya manusia utama. Tujuan penelitian ini adalah mengkonstruksi instrumen penilaian kualitas hidup berdasarkan 7 domain yaitu kesejahteraan, kesehatan umum, fisik, mental, lingkungan sosial, partisipasi di masyarakat dan keagamaan; serta mengetahui determinan yang berpengaruh terhadap perubahan kualitas hidup. Penelitian ini merupakan studi kohort menggunakan data IFLS 2007- 2014. Populasi target adalah individu usia 15-57 tahun (baseline) dengan jumlah sampel sebanyak 8920 orang yang memenuhi kriteria aktivitas utama bukan sekolah dan diikuti sampai tahu 2014. Confirmatory Factor Analysis digunakan untuk menguji validitas dan reliabilitas konstruk instrumen kualitas hidup. Determinan perubahan kualitas hidup di analisis dengan regresi linier. Hasil studi membuktikan bahwa terjadi penurunan kualitas hidup penduduk usia produktif dalam kurun waktu 7 tahun follow up. Penurunan rata-rata skor kualitas hidup tersebut sebesar 2,87 poin. Diketahui terdapat 4 domain kualitas hidup yang mengalami penurunan skor yaitu domain kesehatan umum, fisik, mental dan lingkungan sosial. Morbiditas akut dan indeks massa tubuh yang tinggi merupakan faktor dominan yang mempengaruhi penurunan kualitas hidup. Perlu dilakukan survei nasional penilaian multidimensional kualitas hidup penduduk usia produktif di Indonesia. Upaya preventif, promotif, menjaga berat badan dalam ambang normal dengan berperilaku hidup sehat dan gizi seimbang dapat mencegah morbiditas dan berat badan lebih.
Read More
D-418
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tri Noviyanti Nurzanah; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Bambang Wispriyono, Athena Anwar
S-10151
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jasrida Yunita; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika; Kopromotor: Ratna Djuwita Hatma, Widjaja Lukito; Penguji: Sudijanto Kamso, Kusharisupeni Djokosujono, Ekowati Rahajeng, Sugeng Eko Irianto, Purwita Wijaya Laksmi
Abstrak:
Penuaan populasi manusia di dunia dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat karena sering diikuti penurunan fungsi tubuh yang berdampak pada risiko penyakit. Peradangan kronis yang ditandai dengan peningkatan konsentrasi High Sensitivity C- reactive protein (hs-CRP) dianggap sebagai faktor kunci yang berkontribusi terhadap penuaan. Peradangan juga erat kaitannya dengan obesitas. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perubahan lingkar pinggang (LP) dan rasio lingkar pinggang tinggi badan (RLPTB) terhadap konsentrasi hs-CRP dari pralansia hingga lansia follow up 7 di Indonesia. Studi ini merupakan studi kohor prospektif dengan memanfaatkan data Indonesian Family Life Survey tahun 2007-2014. Populasi target adalah individu usia pralansia (53-59 tahun) yang diikuti sampai lansia (usia 60-66 tahun) dengan jumlah sample yang eligible adalah 348 sampel sesuai dengan kriteria yaitu individu dengan status tidak obesitas, baik dilihat dari nilai LP, RLPTB, dan indeks massa tubuh (IMT). Analisis Receiver Operating Characteristic dan Multiple Logistic Regression digunakan dalam analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa titik potong RLPTB adalah 0,55 untuk pria dan juga untuk wanita. Kejadian obesitas sentral berdasarkan LP sebesar 18,5% dan berdasarkan RLPTB sebesar 22,3%. Proporsi konsentrasi hs-CRP berisiko setelah 7 tahun adalah 36,5%. Ada perubahan bermakna antara perubahan LP dan perubahan RLPTB dengan perubahan konsentrasi hs-CRP. Indeks RLPTB lebih kuat dalam memprediksi konsentrasi hs-CRP berisiko dibandingkan dengan indeks LP. Mempertahankan kondisi tubuh tidak obesitas sentral pada pralansia dan lansia dapat mencegah dari risiko terjadinya peradangan

Population aging presents major challenges for public health in the world of often being accompanied by a decrease in bodily functions that have an impact on the risk of disease. The aging process is characterized by an increase in the concentration of chronic inflammatory parameters, high sensitivity C-reactive protein (hs-CRP). The age-related increase of inflammatory markers may also account for obesity. This study aimed to assess the relationship of the change of waist circumference (WC) and waist-to-height ratio (WHtR) to the concentration of hs-CRP in the pre-elderly and the elderly in Indonesia, followed through 7 years. A prospective cohort study was conducted using a set of public data of the Indonesian Family Life Survey (IFLS) between 2007 to 2014. A total of 345 subjects of pre-elderly, defined as those aged between 53 to 59 years old, and elderly, aged between 60 to 66 years old, were traced at the baseline of not being obesity based on the value of WC, WHtR, and body mass index (BMI). Receiver-operating characteristic curve and multiple logistic regression analysis were employed for the analysis of data. The WHtR cut-off was 0.55 for both males and females. Central obesity was 18.5% using WC and was 22.3% using WHtR. The proportion of concentration of hs-CRP with risk over 7 years was 36.5%. The associations between central obesity indices (WC and WHtR) and the concentration of hs-CRP were observed. WHtR was found to be stronger predictor of the concentration of hs-CRP than WC. This indicated that managing central obesity among pre-elderly and elderly can help reduce the risk of inflammatory mechanism
Read More
D-419
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Asniati Djaali; Promotor: Soekidjo Notoatmodjo; Kopromotor: Indang Trihandini, Fasli Jalal; Penguji: Sudijamso Kamso; Ratna Djuwita, Kusharisupeni, Yvonne Handayani, Suriah
D-352
Depok : FKM-UI, 2016
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nabila Novania Hermansyah; Pembimbing: R. Sutiawan; Penguji: Milla Herdayati, Ning Sulistyowati
S-10249
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yanti Harjono Hadiwiardjo; Promotor: Rita Damayanti; Kopromotor: Mardiati Nadjib, Fidiansjah; Penguji: Besral, Ede Surya Darmawan, Mondastri Korib Sudaryo, Sabarinah, Trihono
Abstrak:

Latar Belakang: Depresi merupakan masalah kesehatan mental yang sering terjadi pada lansia dengan persentase sebesar 12%-16%. Depresi dapat menurunkan fungsi kehidupan sehari-hari dan menurunkan kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui efektivitas terapi tawa dalam menurunkan depresi dan meningkatkan kualitas hidup pada lanjut usia serta evaluasi ekonominya. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian true experimental dan times series dengan menggunakan desain crossover pada terapi tawa dan terapi puzzle. Lokasi penelitian dilakukan di Panti Werdha Jakarta Timur. Populasi lansia adalah 250 orang dengan jumlah subjek penelitian sebanyak 86 orang yang dipilih menggunakan proporsional random sampling dan randomnisasi untuk dijadikan dua kelompok. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Geriatric Depression Scale (GDS) dan Older People’s Quality of Life (OPQOL) modifikasi. Analisis data untuk menilai efektifitas menggunakan uji Different in Different (DID) dan menilai efektifitas biaya menggunakan ICER. Hasil: Terdapat pengaruh terapi tawa terhadap depresi diawal intervensi sebelum crossover secara statistik( p= 0,011), sehingga terapi tawa menurunkan depresi lebih besar dibandingkan terapi puzzle. Setelah crossover tidak terdapat perbedaan terapi tawa dan terapi puzzle sama-sama dapat menurunkan depresi (P=0,347). Pada skor OPQOL tidak terdapat perbedaan pengaruh intervensi terapi tawa dan terapi puzzle secara statistik baik sebelum crossover (p=0,581) maupun setelah crossover (p=0,140), sehingga terapi tawa dan terapi puzzle sama-sama dapat meningkatkan kualitas hidup. Pada efektifitas biaya, terapi tawa lebih efektif (65,1%) dibandingkan terapi puzzle (37,2%) dalam menurunkan tingkat/kategori depresi. Untuk peningkatan efektivitas penurunan tingkat atau kategori depresi sebesar 1% pada kelompok terapi tawa diperlukan tambahan biaya sebesar Rp 5.640,-. Nilai tersebut dianggap sepadan (Worth spent) menurut para klinisi dan memiliki efektivitas penurunan tingkat atau kategori depresi dan efektivitas biaya dibandingkan terapi puzzle dalam menurunkan depresi. Kesimpulan: Terapi tawa dan terapi puzzle memiliki pengaruh pada penurunan tingkat/kategori depresi dan peningkatan kualitas hidup pada lansia namun pengaruh penurunan tingkat/kategori depresi pada terapi tawa lebih banyak dibandingkan dengan terapi puzzle. Biaya yang dikeluarkan sepadan (Worth spent) dengan penurunan tingkat/kategori depresi. Saran: Melakukan advokasi kepada Kementerian Sosial, Dinas Sosial, dan Panti Werdha agar dapat menambahkan program terapi tawa dalam upaya meningkatkan kesehatan lanjut usia khususnya menurunkan depresi.


 

Background: Depression is a mental health problem that often occurs in people over 65 years old with a percentage of 12%-16%. Depression can decrease the functioning of daily life. The purpose of this study is to determine the effectiveness and cost of laughter therapy in reducing depression and improving the quality of life in the elderly and its economic evaluation. Method: This study uses a crossover design and true experimental research with a time series. The location of the research was carried out at the East Jakarta Nursing Home. The elderly population was 250 with the number of 86 research subjects selected using proportional random sampling and randomization. Data were collected using modified Geriatric Depression Scale (GDS) and Older People's Quality of Life (OPQOL) questionnaires. Data analysis used the Different in Different (DID) test and the calculation of the cost-effectiveness of laughter therapy and puzzle therapy. Results: There was a statistically significant effect of laughter therapy on depression at the beginning of the intervention before crossover (p= 0.011), so that laughter therapy reduced depression more than puzzle therapy. After crossover, there was no difference between laughter therapy and puzzle therapy, both of which could reduce depression (P=0.347). In the OPQOL score, there was no statistically different effect of laughter therapy and puzzle therapy interventions both before the crossover (p=0.581) and after the crossover (p=0.140), so that laughter therapy and puzzle therapy could both improve the quality of life. In terms of cost-effectiveness, laughter therapy more effective (65.1%) than puzzle therapy (37.2%) in lowering the level/category of depression. For an increase in the effectiveness of reducing the level or category of depression by 1% in the laughter therapy group, an additional cost of Rp 5,640 is required, and the value is considered worth spent according to the clinicians and has the effectiveness of reducing the level or category of depression and cost-effectiveness compared to puzzle therapy in reducing depression. Conclusion: The effect of depression reduction on laughter therapy was more than puzzle therapy at the beginning of the intervention before the crossover. Laughter and puzzle therapy has an effect on improving the quality of life in the elderly. The costs incurred are commensurate with the decrease in the level/category of depression. Suggestion: Advocate to the Ministry of Social Affairs, Social Services, and Nursing Homes so that they can add a laughter therapy program in an effort to improve the health of the elderly, especially to reduce depression.

Read More
D-567
Depok : FKM UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive