Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 29597 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Pratiwi Ananta A; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Ede Surya Darmawan, Vetty Yulianty Permanasari, Ervina Mariani, Yyli Riviyanti
Abstrak:
Penelitian yang dilakukan di gudang obat farmasi RSUD Kota Makassar ini membahas kegiatan proses penyimpanan barang, yang dinilai penulis masih terdapat permasalahan yang merupakan pemborosan atau waste. Penelitian ini diakukan dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif melalui pendekatan action reseach dengan fokus pada proses penyimpanan dan pendistribusian barang dengan metodologi lean. Lingkup penelitian mencakup proses penerimaan barang, penyusunan dan penyimpanan, penerimaan permintaan (Ampra) dari depo farmasi dan penyerahan barang ke depo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penyimpanan obat di gudang farmasi belum sesuai standar dan masih terdapat kegiatan yang tidak mendatangkan nilai tambah (non value added). Pada kegiatan penerimaan didapat komposisi value added di banding non value added sebesar 60% : 40%. Sedangkan pada proses penerimaan permintaan (Ampra) barang dari depo sampai penyerahan barang permintaan didapatkan komposisi value added disbanding non value added sebesar 30% : 70%. Hal ini menunjukkan bahwa sistem penyimpanan gudang yang sekarang ini belum dalam kondisi lean. Pemborosan (waste) yang terjadi antara lain: overproduction / duplication (rework), delay / waiting (penundaan), transportation (transportasi yang berlebihan), processes, inventories (persediaan tidak tepat/ berlebihan), motions (gerakan tidak perlu), defect (cacat) / Error Transaction, dan Human Potential / Defective Design. Untuk mengurangi waste tersebut maka dilakukan implementasi dengan menggunakan lean tools, seperti 5S (seiri, seiton, seiso, seiketsu, shitsuke), visual management, kanban, dan kaizen. Setelah dilakukan implementasi tersebut didapatkan hasil future state mapping terjadi penurunan yang signifikan pada proses penerimaan barang sampai penyimpanan barang, yaitu hasil perhitungan VSM (Value Stream Map) komposisi value added dibanding non value added sebesar 73% : 27%. Sedangkan pada proses penerimaan permintaan barang dari depo sampai penyerahan barang permintaan didapatkan komposisi value added dibanding non value added sebesar 38% : 62%. Kesimpulan penelitian ini Lean Hospital merupakan metode atau tool yang tepat untuk menurunkan nilai non value added dengan mengurangi waste dan meningkatkan nilai tambah untuk pelanggan. Saran dari peneliti adalah mendorong rumah sakit untuk melanjutkan sebagai langkah awal dalam perbaikan berkelanjutan, yang harus disertai dengan pemenuhan kebutuhan sumber daya manusia (SDM) dan fasilitas pendukung.

The research conducted in the pharmacy warehouse of the Regional General Hospital of Makassar City addresses the activities of the goods storage process, which the author considers to still have issues constituting waste. This qualitative research employs an action research approach with a focus on the storage and distribution processes using lean methodology. The scope of the study encompasses the receiving of goods, arranging and storing, receiving requests (Ampra) from the pharmacy depot, and delivering goods to the depot. The research findings indicate that the drug storage process in the pharmacy warehouse does not meet standards, and there are still activities that do not add value (non-value added). In the receiving activity, the composition of value-added compared to non-value-added is 60%:40%. Meanwhile, in the process of receiving requests (Ampra) from the depot to the delivery of requested goods, the composition of value-added compared to non-value-added is 30%:70%. This indicates that the current warehouse storage system is not in a lean condition. The waste that occurs includes overproduction/duplication (rework), delay/waiting, excessive transportation, inefficient processes, excessive inventories, unnecessary motions, defects/error transactions, and human potential/defective design. To reduce these wastes, implementation is carried out using lean tools such as 5S (sort, set in order, shine, standardize, sustain), visual management, kanban, error proofing, and kaizen. After the intervention, the future state mapping results showed a signifikan decrease in the process from receiving goods to storing them, with the Value Stream Map (VSM) calculation indicating a composition of value added compared to non-value added at 73%:27%. Meanwhile, in the process of receiving requested goods from the depot to delivering them, the composition of value added compared to non-value added was found to be 38%:62%. The conclusion of this study is that Lean Hospital is an appropriate method or tool to reduce non-value-added aspects by minimizing waste and enhancing value for patients. The researcher's recommendation is to encourage the hospital to continue as an initial step in continuous improvement, which should be accompanied by meeting the needs of human resources (HR) and supporting facilities
Read More
B-2427
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fransiska Satriani Damput; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Helen Andriani, Masyitoh, Adhitya Wardhana, Vitrie Winastri
Abstrak:
Latar Belakang : Pengelolaan inventori obat yang efisien merupakan faktor penting dalam menjamin ketersediaan obat, mutu pelayanan, dan efisiensi biaya rumah sakit. Ketidakefisienan pengelolaan inventori dapat menimbulkan berbagai waste, seperti kelebihan stok, kekosongan stok, obat non-moving, dan obat kedaluwarsa, yang berdampak pada peningkatan biaya, penurunan mutu pelayanan, serta keterlambatan terapi pasien. Berbagai faktor, antara lain perencanaan yang tidak akurat, lamanya waktu pengadaan, penyimpanan yang belum optimal, dan variasi proses operasional, menjadi penyebab utama ketidakefisienan pengelolaan inventori obat. Tujuan: Mengoptimalkan manajemen rantai pasok internal farmasi di Instalasi Farmasi Medistra Hospital melalui pendekatan lean six sigma dalam pengendalian dan peningkatan efisiensi inventori obat sehingga dapat mengurangi pemborosan, menekan variasi proses, mengoptimalkan ketersediaan obat, serta mendukung mutu pelayanan rumah sakit. Metode: Penelitian ini menggunakan desain operational research dengan pendekatan mix method, dimana kerangka kerja Lean Six Sigma melalui DMAIC digunakan sebagai panduan sistematis untuk mengintegrasikan analisis data kuantitatif inventori obat dan data kualitatif operasional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah stratified random sampling, dengan total sampel sebanyak 400 nomor perencanaan obat. Hasil: Pendekatan Lean Six Sigma mengidentifikasi lead time pengelolaan inventori obat sebesar 139 jam 26 menit 30 detik (5,7 hari), dengan 99% waktu proses merupakan kegiatan non-value added yang didominasi oleh waste tipe waiting sebesar 137 jam 37 menit 3 detik. Kondisi awal inventori menunjukkan nilai persediaan sebesar Rp 12.223.885.423,40, terdiri atas 343 item obat overstock senilai Rp 301.047.282, 88 item obat kosong, 35 item obat stagnan senilai Rp 34.775.208, dan 9 item obat expired senilai Rp1.613.710. Akar masalah yang teridentifikasi meliputi belum optimalnya SIMRS inventori, tingginya variasi me-too brand dalam formularium rumah sakit, variasi pengetahuan dan kompetensi petugas, belum adanya regulasi tindak lanjut purchase order kepada distributor, kurangnya pemahaman staf pembelian terhadap kebutuhan pelayanan, pembatasan jam persetujuan purchase order, kurangnya supervisi pada tahap penerimaan, keterlambatan penyimpanan obat, belum tersedianya visual management untuk penerapan FEFO/FIFO, serta penempatan obat LASA yang belum sesuai regulasi. Intervensi Lean Six Sigma dilakukan melalui penerapan standardized work, sosialisasi ulang alur kerja, implementasi sistem kanban pada tahap perencanaan, optimalisasi prinsip 5R di gudang logistik farmasi, serta penerapan visual management untuk mendukung implementasi FEFO/FIFO. Kesimpulan : Implementasi lean six sigma berhasil menurunkan lead time pengelolaan inventori obat, menurunkan nilai stok inventori obat dan jumlah item inventori obat, menurunkan nilai pembelian obat, menurunkan nilai obat overstock, menurukan jumlah obat kosong, menurunkan jumlah obat stagnan dan menurunkan jumlah obat expired.

Background: Efficient drug inventory management is essential to ensure medicine availability, improve service quality, and enhance hospital cost efficiency. Inefficient inventory management can generate various forms of waste, including overstock, stockouts, non-moving medicines, and expired medicines, leading to increased costs, reduced quality of care, and delays in patient treatment. Inaccurate planning, prolonged procurement lead times, suboptimal storage practices, and variations in operational processes are among the major contributors to inefficiencies in drug inventory management. Objective: To optimize internal pharmaceutical supply chain management at the Pharmacy Department of Medistra Hospital through the implementation of Lean Six Sigma to improve drug inventory control and operational efficiency, thereby reducing waste, minimizing process variation, optimizing medicine availability, and supporting the quality of hospital services. Methods: This operational research employed a mixed-methods design. The Lean Six Sigma DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, and Control) framework was used as a systematic approach to integrate quantitative drug inventory data with qualitative operational data. A stratified random sampling technique was applied, resulting in a total sample of 400 drug planning records. Results: The Lean Six Sigma approach identified a total drug inventory management lead time of 139 hours, 26 minutes, and 30 seconds (5.7 days), of which 99% consisted of non-value-added activities, predominantly waiting waste, accounting for 137 hours, 37 minutes, and 3 seconds. The baseline inventory value was IDR 12,223,885,423.40, comprising 343 overstock items valued at IDR 301,047,282, 88 stockout items, 35 non-moving items valued at IDR 34,775,208, and 9 expired items valued at IDR 1,613,710. Root cause analysis identified several contributing factors, including suboptimal utilization of the Hospital Management Information System (HMIS) for inventory management, a high variation of me-too brands in the hospital formulary, variations in staff knowledge and competencies, the absence of regulations governing purchase order follow-up with distributors, limited understanding among purchasing staff regarding clinical service requirements, restrictions on purchase order approval hours, inadequate supervision during the receiving process, delays in transferring medicines to designated storage locations, the absence of visual management tools to support FEFO/FIFO implementation, and non-compliant placement of look-alike, sound-alike (LASA) medicines. Lean Six Sigma interventions included the implementation of standardized work, workflow reorientation, a kanban system during the planning stage, optimization of the Indonesian 5R workplace organization principles in the pharmacy logistics warehouse, and visual management to strengthen FEFO/FIFO implementation. Conclusion: The implementation of Lean Six Sigma successfully reduced drug inventory management lead time, inventory value, the number of inventory items, drug purchasing expenditure, overstock value, stockout incidents, non-moving medicines, and expired medicines, thereby improving the efficiency of internal pharmaceutical supply chain management.
Read More
B-2622
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Theresia Purba; Pembimbing: Adik Wibowo; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Anhari Achadi, Tahin Solin, Bulan Simanungkalit
Abstrak: Biaya obat yang besar memerlukan pengelolaan yang tepat. Proses pengelolaan obat yang paling mengganggu dalam siklus pengelolaan obat di Instalasi Farmasi RSU Sari Mutiara Medan adalah proses pengadaan/pembelian obat. Obat Tingkat pemakaian dan pembelian obat kronis yang tinggi mewakili tingkat pemakaian dan pembelian obat secara keseluruhan. Peningkatan efisiensi pada proses pengadaan/pembelian obat kronis dapat memberikan gambaran peningkatan efisiensi pengelolaan obat secara keseluruhan. Penelitian dengan metode kualitatif ini mengobservasi waktu yang digunakan selama proses pembelian obat dari mulai pemesanan hingga obat diap didistribusikan, dan bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pengelolaan obat di Instalasi Farmasi RSU Sari Mutiara Medan dengan menggunakan metode lean. Hasil penelitian dapat merumuskan kegiatan pembelian obat yang beragam menjadi satu alur proses pembelian obat, dalam desain usulan perbaikan tampak pengurangan waktu tunggu, peningkatan presentasi kegiatan value added dan reduksi presentasi kegiatan non value added. Dengan meningkatnya efisiensi proses pembelian/pengadaan obat diharapkan adanya domino effect pada proses pengelolaan obat lainnya. Dalam penelitian ini dicapai kendali biaya dan kendali mutu melalui usulan perbaikan jangka pendek perencanaan kebutuhan obat dengan menggunakan analisis pareto dan VEN, serta metode error proofing dalam evaluasi akhir setiap proses pembelian obat. Penerapan kaizen merupakan usulan jangka panjang yang akan selalu diterapkan dalam setiap analisis proses menggunakan metode lean.
Kata kunci : biaya obat, pengelolaan obat, pembelian/pengadaan obat, metode lean, kegiatan value added, kegiatan non-value added, kaizen, kendali mutu, kendali biaya.

Drugs is the most disturbing management process in the drug cycle management in the pharmacy unit of Sari Mutiara Medan Public Hospital. The high consumption and purchase level of chronic drugs represent the high consumption and purchase the whole drugs. Efficiency increasing of chronic drugs procurement/purchase is expected to represent the efficiency increasing of drug management in generally. This qualitative research, using the lean method, observed the time spent from when the drug was ordered until the drug was ready to distribute, with the aim to increase the efficiency of drug management in the pharmacy unit of Sari Mutiara Medan Public Hospital. The results formulate variation of purchasing flow to be one standard future state mapping, and it shows improvement in waiting time, increasing value added activity and reduction non-value added activity. Efficiency increasing of drugs procurement/purchase is expected to have a domino effect for the continuous drug management process. Cost and quality control in this research are obtained through the proposed short-term fixes : using pareto and VEN in drugs demand planning and using error proofing method in every end evaluation of drugs procurement/purchase. Kaizen is applied for the proposed long term fixes and for every flow analysis using lean method.
Keywords : drug cost, drug management, drugs procurement/purchase, lean method, value added activity, non-value added activity, kaizen, quality control, cost control
Read More
B-1838
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sauzan Pratiwi; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Atik Nurwahyuni, Wiwiet Nurwidya Hening
S-7654
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ainurinsan Amaludin; Pembimbuing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Anhari Achadi, Vetty Yulianty Permanasari, Netry Listriani, Khafifah Any
Abstrak:

ABSTRAK Nama : Ainurinsan Amaludin Program Studi : Kajian Administrasi Rumah Sakit Judul : Efisiensi Pengadaan dan Penyimpanan Obat dalam Penyusunan Rencana Pengadaan Obat di RSUD Pasar Minggu Masalah terkait pengadaan obat di rumah sakit kerapkali terjadi, tidak terkecuali di RSUD Pasar Minggu. Masalah pengadaan obat yang sering terjadi di RSUD Pasar Minggu adalah peningkatan anggaran obat, seringnya terjadi kekosongan stok obat, dan lead time  pengadaan obat yang relatif lama. Oleh karena itu, diperlukan upaya efisiensi pengadaan dan penyimpanan obat dalam penyusunan rencana kebutuhan obat untuk memperlancar kegiatan operasional dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan. Bentuk penelitian ini adalah riset operasional dengan metode kualitatif dan kuantitatif untuk menyusun upaya efisiensi baik dari pendekatan farmasi dan non farmasi. Pendekatan farmasi dilakukan dengan mengelompokkan obat menurut Analisis ABC nilai investasi kemudian membandingkan beberapa model inventori demi mendapatkan model dengan total biaya pengadaan dan penyimpanan obat terkecil, sementara pendekatan non farmasi melalui upaya manajemen formularium. Hasil Analisis ABC nilai investasi menunjukkan bahwa terdapat 34 jumlah obat kelompok A yang menjadi fokus utama efisiensi pengendalian biaya obat. Obat kelompok A tersebut kemudian dihitung perencanaan kebutuhannya dengan menggunakan model inventori Economic Order Quantity (EOQ) untuk menghasilkan perhitungan total biaya pengadaan dan penyimpanan obat (TIC) terkecil. Untuk mengantisipasi kejadian kekosongan stok obat dilakukan dengen menentukan nilai safety stock yang mempertimbangkan jumlah pemakaian dan lead time masing – masing obat. Kata kunci: Analisis ABC; Efisiensi; EOQ; TIC.


ABSTRACT Name : Ainurinsan Amaludin Program of Study : Hospital Administration Study Title : Medication Procurement and Inventory Efficiency in Planning Medication Procurement in RSUD Pasar Minggu Problems related to procuring medication often occur in hospital, including in RSUD Pasar Minggu. The problems involved are increased medication budget, the frequent occurrence of out of stock medication, and relatively long medication procurement lead time. Therefore, it is necessary to determine efforts to maximize efficiency in medication procurement and inventory in planning medication needs so that operational activities can be reinforced and the quality of health service can be improved. This is an operational research with qualitative and quantitative method to establish efficiency efforts both from pharmaceutical and nonpharmaceutical approaches. Pharmaceutical approach involves doing ABC Analysis to group the medication based on its investment values. Then, three inventory models will be compared to get the model with the lowest total inventory cost (TIC). Meanwhile, nonpharmaceutical approach is done by formulary management efforts. ABC Analysis of investment value indicates that group A medication consist of 34 items. Those items become the main focus of medication cost containment. The medication needs for group A are then calculated by Economic Order Quantity (EOQ) model to generate the lowest TIC. In addition, safety stock calculation that determines not only the demand of the medication but also the procurement lead time of each drug is vital to anticipate the occurrence of out of stock medication. Keywords: ABC Analysis; Efficiency; EOQ; TIC.

Read More
B-1865
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sari Amalia; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Etin Ratna Martiningsih
S-9003
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Veronica Yoseva; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Masyitoh, Nadia Farhanah Syafhan, Renita Agustina, Teuku Nebrisa Zagladin
Abstrak:
Pelayanan farmasi rawat jalan merupakan salah satu komponen penting dalam penyelenggaraan pelayanan rumah sakit yang berperan dalam menjamin mutu pelayanan, keselamatan pasien, serta tingkat kepuasan pasien. Salah satu indikator mutu pelayanan farmasi adalah waktu tunggu pelayanan resep. Hasil pengamatan awal di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Charitas Hospital Palembang menunjukkan bahwa waktu tunggu pelayanan resep, khususnya resep racikan, masih belum memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Lean Hospital sebagai upaya meningkatkan efisiensi proses pelayanan dan menurunkan waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Charitas Hospital Palembang. Penelitian ini merupakan studi operasional dengan pendekatan Lean Hospital. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi langsung terhadap alur pelayanan resep dan pengukuran waktu pada setiap tahapan pelayanan. Sebanyak 200 resep dianalisis, yang terdiri atas 152 resep obat jadi dan 48 resep racikan. Analisis dilakukan menggunakan Value Stream Mapping (VSM), identifikasi pemborosan (waste) berdasarkan prinsip Lean dan fishbone diagram, serta pengukuran efisiensi proses melalui perhitungan Value Added Ratio (VAR). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada kondisi current state, lead time pelayanan resep obat jadi mencapai 34,5 menit yang terdiri atas Value Added Time (VAT) sebesar 16,8 menit dan Non-Value Added Time (NVAT) sebesar 17,8 menit. Sementara itu, lead time pelayanan resep racikan mencapai 74,3 menit dengan VAT sebesar 45,4 menit dan NVAT sebesar 29,1 menit. Analisis waste menunjukkan bahwa jenis pemborosan yang paling dominan adalah waiting waste, yaitu sebesar 61,8% pada pelayanan resep obat jadi dan 53,61% pada pelayanan resep racikan, diikuti oleh overprocessing waste. Berdasarkan hasil analisis penyebab waste, dilakukan berbagai intervensi perbaikan Lean yang meliputi penambahan Tenaga Teknis Kefarmasian (TTK) pada shift pagi dan siang, pemanfaatan WhatsApp Blast sebagai media pemberitahuan real-time kepada pasien terkait penyelesaian obat, penguatan koordinasi dengan pihak provider asuransi, penyediaan hand blender dan alat pengisi kapsul untuk mendukung proses peracikan, implementasi prinsip 5S, optimalisasi tata letak ruang pelayanan, penerapan visual management, serta penyesuaian jadwal praktik dokter spesialis dan peningkatan kepatuhan terhadap jadwal pelayanan. Hasil future state mapping menunjukkan adanya peningkatan efisiensi proses pelayanan. Lead time pelayanan resep obat jadi menurun menjadi 20,3 menit atau berkurang sebesar 41,2%, sedangkan lead time pelayanan resep racikan menurun menjadi 52,9 menit atau berkurang sebesar 28,8%. Selain itu, nilai VAR pada resep obat jadi meningkat dari 48,7% menjadi 49,75%, sedangkan nilai VAR pada resep racikan meningkat dari 61,1% menjadi 62,75%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penerapan Lean Hospital mampu mengidentifikasi dan mengeliminasi aktivitas yang tidak memberikan nilai tambah sehingga meningkatkan efisiensi proses pelayanan farmasi dan menurunkan waktu tunggu pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan Charitas Hospital Palembang.

Outpatient pharmacy services constitute an essential component of hospital healthcare delivery, playing a significant role in ensuring service quality, patient safety, and patient satisfaction. One of the key indicators of pharmacy service quality is prescription waiting time. Preliminary observations conducted at the Outpatient Pharmacy Department of Charitas Hospital Palembang indicated that prescription waiting times, particularly for compounded prescriptions, had not yet met the established Minimum Service Standards (MSS). This study aimed to analyze the implementation of Lean Hospital principles as an approach to improving service efficiency and reducing prescription waiting times at the Outpatient Pharmacy Department of Charitas Hospital Palembang. This study employed an operational research design using a Lean Hospital approach. Data were collected through direct observation of prescription service workflows and time measurements at each stage of the dispensing process. A total of 200 prescriptions were analyzed, comprising 152 non-compounded prescriptions and 48 compounded prescriptions. Data analysis was conducted using Value Stream Mapping (VSM), waste identification based on Lean principles and fishbone diagram analysis, as well as process efficiency assessment through the calculation of the Value Added Ratio (VAR). The findings revealed that, in the current state, the lead time for non-compounded prescriptions was 34.5 minutes, consisting of 16.8 minutes of Value Added Time (VAT) and 17.8 minutes of Non-Value Added Time (NVAT). Meanwhile, the lead time for compounded prescriptions was 74.3 minutes, comprising 45.4 minutes of VAT and 29,1 minutes of NVAT. Waste analysis demonstrated that waiting waste was the most dominant type of waste, accounting for 61.8% of total waste in non-compounded prescription services and 53.61% in compounded prescription services, followed by overprocessing waste. Based on the analysis of waste causes, several Lean improvement interventions were implemented, including the addition of pharmacy technicians during morning and afternoon shifts, the utilization of WhatsApp Blast as a real-time notification system to inform patients when medications were ready for collection, enhanced coordination with insurance providers, the provision of hand blenders and capsule-filling devices to support compounding activities, implementation of the 5S methodology, optimization of pharmacy layout, application of visual management techniques, and adjustment of specialist physicians’ practice schedules along with improved compliance with service schedules. The future state mapping demonstrated improved process efficiency. The lead time for non-compounded prescriptions decreased to 20.3 minutes, representing a 41.2% reduction, while the lead time for compounded prescriptions decreased to 52.9 minutes, representing a 28.8% reduction. Furthermore, the VAR for non-compounded prescriptions increased from 48.7% to 49.75%, whereas the VAR for compounded prescriptions increased from 61.1% to 62.75%. This study concludes that the implementation of Lean Hospital principles effectively identified and eliminated non-value-added activities, thereby improving pharmacy service efficiency and reducing prescription waiting times at the Outpatient Pharmacy Department of Charitas Hospital Palembang.
Read More
B-2616
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mellisa Efiyanti; Pembimbing: Puiyanto; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Masyitoh, Sobari, Ekasari, Enny
B-1984
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Danyel Suryana; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Puput Oktamianti, Amal Chalik Sjaaf, Hinarto Satryana, Andi Heryono
Abstrak: Salah satu cara untuk melakukan efisiensi, meningkatkan mutu pelayanan dan meningkatkan keselamatan pasien di Amerika dengan menggunakan konsep Lean Thinking yang diterapkan di rumah sakit menjadi Lean Hospital. Di Rumah Sakit Atma Jaya yang merupakan Rumah Sakit Swata Kelas B Pendidikan, penelitian ini menganalisis alur pelayanan resep di Instalasi Farmasi Rawat Jalan sebagai data untuk perbaikan. Dengan menggunakan Root Cause Analysis (RCA), metodologi penelitian operational research, dilakukan observasi dan wawancara mendalam memperlihatkan bahwa kegiatan non value added bisa sampai 85% dan kegiatan value added hanya 15% pada penyiapan obat non racikan. Sedangkan untuk obat racikan kegiatan non value added sekitar 68% dan value added sebesar 32% nilainya. Data tersebut menunjukan bahwa telah terjadi pemborosan (waste). Usulan perbaikan untuk mengurangi pemborosan antara lain penggantian SIM RS yang baru dan menggiatkan fungsi Tim Kendali Mutu di Instalasi Farmasi. Bila perbaikan ini telah di implementasi, diharapakan terjadi peningkatan efisiensi di Instalasi Farmasi Rawat Jalan dan meningkatkan kepuasan pasien. Kata kunci: Konsep Lean, Lean Thinking, Lean Hospital, Resep, waktu tunggu obat, rawat jalan, pemborosan, analisis akar masalah One option to increase efficiency, service quality and patient safety in the United States of America is by using the Lean Thinking concept, which are implemented in Hospitals to become a Lean Hospital. In Atma Jaya Hospital, a class B study private hospital, the research analyses the workflow of prescription sevice in outpatient pharmacy departement to act as data for improvement analysis. Also, by utilizing Root Cause Analysis (RCA), operational research methology, indepth observation and interviews are conducted at compounding and noncompounding medicine storage of Outpatient Patient Departement, the result shows non-value added activities reaches 85%, while value added activities are only 15% on non-compounding medicine storage. While, on compounding medicine storage, non-value added and value added activities are at 68% and 32% respectively. These data clearly shows that great inefficiencies has occurred. Solution is suggested to increase the efficiency in the department, changing Hospital Information System and activate the Quality Control Team function. If these steps are implemented, we can expect the overall efficiency in the Outpatient Pharmacy Departement to improve significantly and resulted in higher patient satisfaction. Keywords: Concepts Lean, Lean Thinking, Lean Hospital, Prescription, drug waiting time, outpatient, waste, Root Cause Analysis
Read More
B-1877
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Elawati; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Masyitoh Basabih, Vetty Yulianty Purnamasari, Elga Ria Vinensa, Adriansyah
Abstrak:
Pendahuluan: Waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan non racikan dan racikan di Instalasi Farmasi RS Mitra Husada belum mencapai standar nasional yaitu ≤30 menit untuk obat non racikan dan ≤60 menit obat racikan sehingga masih menjadi keluhan bagi RS. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu tunggu pelayanan obat dengan menggunakan konsep Lean Hospital di Instalasi Farmasi RS Mitra Husada. Metode: Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan action research, pengambilan data dilakukan pada bulan Mei dan Juni 2022 di Instalasi Farmasi Rawat Jalan. Sampel yang diambil berjumlah 98 resep obat non racikan dan 100 obat racikan. Pengamatan langsung menggunakan lembar observasi VSM dan lembar waste, wawancara dengan informan menggunakan lembar wawancara. Analisis kuantitatif menggunakan SPSS dan kualitatif dengan mengolah data primer, sekunder dan wawancara. Hasil: Pada kondisi current state waktu yang dibutuhkan untuk pelayanan setiap 1 resep (lead time) untuk resep non racikan adalah 63,54 menit dari standar nasional ≤ 30 menit dengan waste 87,5% nya, sedangkan lead time untuk resep racikan adalah 106,5 menit dari standar nasional ≤ 60 menit dengan waste 81,82%. Pada analisa kegiatan non value added terdapat 22 kegiatan yang termasuk dalam waste, tertinggi ada pada kategori waste waiting dantransportation. Root cause analysis dengan metode 5 why’s menyimpulan bahwa akar masalah utama pada penelitian ini pada man. Kesimpulan: Dengan metode lean hospital dapat mengetahui capaian waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan, waste dan akar penyebab masalah hingga desain rancangan perubahan sebagai upaya perbaikan berupa desain perbaikan jangka pendek yaitu menggunakan lean kaizen, PDCA, 5S, Visual management dan heijunka, jangka menengah dan panjang. Kata kunci: Waktu tunggu obat, lean, Rawat Jalan, Farmasi

Pendahuluan: Waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan non racikan dan racikan di Instalasi Farmasi RS Mitra Husada belum meIntroduction: The waiting time for non compounding and compounding outpatient services at the Pharmacy Installation of Mitra Husada Hospital has not yet reached the national standard, namely 30 minutes for non compounding drugs and 60 minutes for compounding drugs so it is still a complaint for hospitals. This study aims to analyze the waiting time for drug services using the Lean Hospital concept at the Pharmacy Installation of Mitra Husada Hospital. Methods: This research is descriptive qualitative with action research, data collection was carried out in May and June 2022 at the Outpatient Pharmacy Installation. The samples taken amounted to 98 non compounding drug prescriptions and 100 compounding drugs. Direct observations using VSM observation sheets and waste sheets, interviews with informants using interview sheets. Quantitative analysis using SPSS and qualitative by processing primary, secondary and interview data. Results: In the current state, the time required for service for every 1 recipe (Lead Time) for non-compounding recipes is 63.54 minutes from the national standard 30 minutes with 87.5% waste, while the Lead Time for compounding recipes is 106, 5 minutes from the national standard 60 minutes with 81.82% waste. In the analysis of non-value added activities there are 22 activities that are included in the waste, the highest is in the category of waste waiting and transportation. Root cause analysis with the 5 why's method concludes that the main root cause of this research is man. Conclusion: With the lean hospital method, we can find out the waiting time for outpatient drug services, waste and the root causes of the problem to the design of the change design as an improvement effort in the form of short,with lean kaizen, PDCA, 5S, Visual management and heijunka tools and medium and long term improvement designs. Key words: Drug waiting time, lean, Outpatient, Pharmacyncapai standar nasional yaitu ≤30 menit untuk obat non racikan dan ≤60 menit obat racikan sehingga masih menjadi keluhan bagi RS. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu tunggu pelayanan obat dengan menggunakan konsep Lean Hospital di Instalasi Farmasi RS Mitra Husada. Metode: Penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan action research, pengambilan data dilakukan pada bulan Mei dan Juni 2022 di Instalasi Farmasi Rawat Jalan. Sampel yang diambil berjumlah 98 resep obat non racikan dan 100 obat racikan. Pengamatan langsung menggunakan lembar observasi VSM dan lembar waste, wawancara dengan informan menggunakan lembar wawancara. Analisis kuantitatif menggunakan SPSS dan kualitatif dengan mengolah data primer, sekunder dan wawancara. Hasil: Pada kondisi current state waktu yang dibutuhkan untuk pelayanan setiap 1 resep (lead time) untuk resep non racikan adalah 63,54 menit dari standar nasional ≤ 30 menit dengan waste 87,5% nya, sedangkan lead time untuk resep racikan adalah 106,5 menit dari standar nasional ≤ 60 menit dengan waste 81,82%. Pada analisa kegiatan non value added terdapat 22 kegiatan yang termasuk dalam waste, tertinggi ada pada kategori waste waiting dantransportation. Root cause analysis dengan metode 5 why’s menyimpulan bahwa akar masalah utama pada penelitian ini pada man. Kesimpulan: Dengan metode lean hospital dapat mengetahui capaian waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan, waste dan akar penyebab masalah hingga desain rancangan perubahan sebagai upaya perbaikan berupa desain perbaikan jangka pendek yaitu menggunakan lean kaizen, PDCA, 5S, Visual management dan heijunka, jangka menengah dan panjang. Kata kunci: Waktu tunggu obat, lean, Rawat Jalan, Farmasi
Read More
B-2277
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive