Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34340 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Surya D. Sembada; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Retno Ernawati, Aceng Solahudin Ahmad
Abstrak:
HIV/AIDS merupakan salah satu penyakit menular yang perlu diwaspadai dan menjadi perhatian dunia kesehatan karena dapat menyerang pertahanan tubuh manusia dan mengakibatkan munculnya berbagai penyakit infeksi oportunistik. Sebagai salah satu upaya mengatasi penyebaran HIV, strategi pencegahan berupa 90-90-90 telah dicanangkan untuk mengakhiri epidemi HIV di tahun 2030. Tujuan penelitian ini guna menilai implementasi program pencegahan HIV/AIDS yang dilakukan oleh Puskesmas Cimalaka dengan pendekatan Logic Model. Metode penelitian yang digunakan merupakan penelitian kualitatif desain studi kasus yang dilaksanakan bulan Juli 2022 dengan melakukan wawancara mendalam kepada 9 informan yang bertugas di Puskesmas Cimalaka, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Komisi Pengendalian AIDS dan salah seorang ODHIV yang aktif di LSM pengendalian HIV. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Sumber Daya Manusia, fasilitas, dan anggaran yang dimiliki oleh Puskemas Cimalaka sudah dirasa mumpuni. Adapun kegiatan pencegahan HIV yang telah dilakukan berupa edukasi dan konseling, skrining pemeriksaan HIV, dan kunjungan rumah sebagai upaya notifikasi pasangan dan meningkatkan kepatuhan minum obat ARV. Strategi capaian 90-90-90 pertama sudah tercapai, yakni 103,7%. Namun capaian target kedua dan ketiga masih belum tercapai, yaitu sebesar 88,9% dan 16,7%.

HIV/AIDS is an infectious disease that needs to be aware and has attracted the global health concern that leading cause of mortality due to opportunistic infection. As an attempt to overcome the spread of HIV, a prevention strategy 90-90-90 has been launched to ending HIV epidemic by 2030. The aim of the research is to assess the implementation of the HIV/AIDS prevention program carried out by Puskesmas Cimalaka using a Logic Model approach. This research used qualitative case study design that conducted in July 2022 with in-depth interviews to 9 informants who work at Puskesmas Cimalaka, Dinas Kesehatan Kabupaten Sumedang, Komisi Pengendalian AIDS and an PLHIV from HIV control NGO. The results of this research show that the human resources, facilities and budget costs at Puskesmas Cimalaka are deemed sufficient. The HIV prevention program that have been carried out include education and counseling, HIV screening, and home visits to notify partners and increase adherence to taking ARV medication. The first 90-90-90 strategy has been achieved, 103,7%. However, the second and third strategy have not yet been achieved, 88,9% and 16,7% respectitively.
Read More
T-6856
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nisrina Sajid Nurutami; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dien Anshari, Rosidah
Abstrak: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi hubungan faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku merokok di dalam rumah di Wilayah Kerja Puskesmas Cibodasari Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan metode multistage sampling. Data dikumpulkan melalui penyebaran kuesioner dengan jumlah responden yaitu 106 kepala keluarga. Pada penelitian ini, analisis univariat digunakan untuk melihat distribusi frekuensi dan analisis bivariat menggunakan uji chi square untuk menguji hubungan masing-masing variabel independen dengan variabel dependen. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian kecil responden yang merokok di dalam rumah, merokok di ruang tamu dan ruang keluarga ketika santai, setelah makan, dan saat menonton televisi.
Read More
S-10842
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Wahyuni; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih, Anwar Hassan; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Ratu Nur`aini Solihah, Lilis Qouliyah
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor (faktorpredisposisi yaitu umur, pengetahuan tentang HIV AIDS, sikap terhadappenggunaan kondom, faktor pendukung yaitu keterpaparan program HIV AIDSdan ketersediaan kondom, faktor penguat yaitu adanya kelompok dukungansebaya yang berhubungan dengan praktek penggunaan kondom pada kelompokwaria di Kota Tangerang tahun 2015. Penelitian ini menggunakan desain crosssectional dengan sampel berjumlah 151 waria yang diambil dari seluruh totalsampel dan kuesioner sebagai alat ukur penelitian. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa 55,6% responden selalu menggunakan kondom, 56,3%berumur sama dengan 30 tahun, 57,6% berpengetahuan baik, 51,7% bersikapnegatif terhadap penggunaan kondom, 53,6% terpapar program HIV AIDS, 62,3%tersedia kondom, 76,2% ada Kelompok dukungan sebaya. Menurut uji chi squareterdapat 4 variabel yang memiliki hubungan signifikan terhadap praktekpenggunaan kondom pada waria yaitu pengetahuan mengenai HIV AIDS,keterpaparan program HIV AIDS, ketersediaan kondom, dan dukungan kelompoksebaya. Faktor yang paling dominan adalah keterpaparan program HIV AIDSterhadap praktek penggunaan kondom pada waria.Kata kunci : waria, kondom, HIV AIDS
The purpose of this study was to determine the factors (predisposing factors suchas age, knowledge about HIV AIDS, attitudes towards condom use, enablingfactors are exposure to HIV AIDS program and the availability of condoms,reinforcing factor is the existence of peer support groups associated with thepractice of the use of condoms on transsexuals in Tangerang city in 2015. Thisstudy used cross sectional design with a sample totaling 151 transvestites taken ofthe total sample and questionnaire as a measuring tool of the study. The results ofthis study showed that 55.6% of respondents always use a condom, 56.3 % of thesame age to 30 years, 57.6% good knowledge, 51.7% negative attitudes towardcondom use, 53.6% are exposed to HIV AIDS program, 62.3% providedcondoms, 76.2% no peer support groups. According to chi square test there arefour variables that have a significant relation to the practice of condom use ontranssexuals that knowledge about HIV AIDS, exposure to HIV AIDS program,the availability of condoms, and peer support. The most dominant factor is theexposure of HIV-AIDS program to the practice of the use of condoms on atranssexual.Keywords: transvestites, condoms, HIV AIDS
Read More
T-4343
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Firda Azizah Ahmad; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dien Anshari, Syarah Desvania
Abstrak:
Latar belakang: Pemerintah DKI Jakarta melakukan berbagai upaya untuk mengatasi HIV/AIDS melalui berbagai inisiatif: layanan tes HIV, pengobatan PrEP, dan kondom gratis. LSL di wilayah ini masih menghadapi tantangan dalam mengakses kondom gratis. Perilaku berganti-ganti pasangan melalui aplikasi meningkatkan risiko hubungan seksual tanpa kondom, yang berpotensi menyebabkan penularan HIV/AIDS yang lebih tinggi. Penelitian ini membahas faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku pencegahan HIV/AIDS, khususnya konsistensi penggunaan kondom pada LSL di DKI Jakarta. Metode: Studi cross-sectional melalui kuesioner pada bulan November 2023 melibatkan 208 responden, mengetahui konsistensi penggunaan kondom, pengetahuan tentang HIV, dan persepsi pencegahan HIV/AIDS. Pengetahuan terkait HIV dinilai dengan menggunakan kuesioner HIV-K18 dan teori Health Belief Model. Menggunakan analisis univariat dan bivariat dengan p-value <0,05 dianggap signifikan. Hasil: Di antara 189 responden yang memenuhi syarat, tingkat seks aman dengan menggunakan adalah 54,5%. Responden yang memiliki persepsi keparahan (p-value 0,035), persepsi manfaat (p-value 0,006), persepsi hambatan (p-value 0,039), dan efikasi diri (p-value 0,015) yang lebih tinggi lebih cenderung menerapkan perilaku seks aman menggunakan kondom. Kesimpulan: Sebagian besar LSL di DKI Jakarta masih berisiko tinggi terinfeksi HIV/AIDS karena tidak menerapkan perilaku seks aman. Pemerintah perlu merancang program edukasi yang lebih spesifik dan relevan dengan konteks LSL, serta memastikan distribusi kondom gratis yang mudah diakses untuk mengatasi masalah ini.

Background: Despite the Jakarta government's efforts to address HIV/AIDS through various initiatives: HIV testing services, availability of PrEP treatment, and distribution of free condoms. MSM in the region still face challenges in accessing free condoms. The common practice of changing partners through applications increases the risk of unprotected sexual encounters, potentially leading to higher HIV/AIDS transmission. This study examined the factors influencing HIV/AIDS prevention behaviour, specifically condom use among MSM in DKI Jakarta. Methods: A cross-sectional survey was conducted in November 2023 with 208 respondents to assess condom use consistency, HIV knowledge, and perceptions of HIV/AIDS prevention. HIV-related knowledge was assessed using the HIV-K18 questionnaire and the Health Belief Model theory. Univariate and bivariate analyses were used and p-value < 0,05 was considered significant. Result: Among the 189 qualified respondents, the rate of safe sex with the use of a condom was 54.5%. Participants with higher scores on perceived susceptibility (p-value 0,035), perceived benefit (p-value 0,006), perceived barrier (p-value 0,039) and self-efficacy (p-value 0,015) were more likely to report adopting safe sex by using condoms. Conclusion: A significant number of MSM in DKI Jakarta remain at high risk of HIV/AIDS infection due to unsafe sex. The government should design more specific and contextualised education programmes for MSM and ensure that free condoms are easily accessible to address this public health concern.
 
Read More
S-11516
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tsalitsa Putri; Pembimbing: Dian Ayubi; Pennguji: Ella Nurlaella Hadi, Tri Yunis Miko Wahyono, Liska Sari, Eem Suhaemi
Abstrak:
Anak usia 6-12 tahun memiliki kerentanan terhadap karies gigi. Kesehatan gigi anak perlu mendapat perhatian orang tua khususnya dari ibu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku ibu dalam pencegahan karies gigi anak berdasarkan teori Health Belief Model. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan 140 ibu siswa. Terpilih enam SDN dengan teknik cluster random sampling. Jumlah sampel dihitung dengan rumus proportional sampling dan sampel diambil secara systematic random sampling. Data dikumpulkan dengan wawancara menggunakan kuesioner yang dianalisis secara univariat, bivariat dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan 53,6 % ibu berperilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak. Persepsi individu yang berhubungan dengan perilaku ibu adalah persepsi kerentanan dan efikasi diri. Efikasi diri adalah faktor paling dominan berhubungan dengan perilaku ibu, artinya ibu dengan efikasi diri rendah berpeluang 3,4 kali untuk memiliki perilaku kurang dalam pencegahan karies gigi anak dibandingkan ibu dengan efikasi diri yang tinggi setelah dikontrol oleh persepsi kerentanan dan persepsi hambatan (OR:3,475,95%CI:1,653-7,306). Untuk itu, perlu ditingkatkan efikasi diri ibu dengan edukasi dan penyuluhan serta membentuk kelompok dukungan ataupun forum online

Children aged 6-12 years have vulnerabilities to dental caries. Children's dental health needs to get good attentions of parents, especially from mothers. This study aims to determine the determinants of maternal behavior in preventing dental caries in children based on the theory of the Health Belief Model. This study used a cross-sectional design on 140 students’ mothers. Six elementary schools were selected using the cluster random sampling technique. The number of samples were calculated using the proportional sampling formula and the samples were collected using systematic random sampling. Data was gathered by interviewes using questionnaires which were analyzed by univariate, bivariate and multivariate. The results showed that 53.6% of mothers had poor behaviors in preventing children dental caries. Individual perceptions related to mother's behavior are perceptions of vulnerability and self-efficacy. Self-efficacy is the most dominant factor related to maternal behavior, meaning that mothers with low self-efficacy are 3.4 times more likely to demonstrate deficiencies in preventing dental caries in children than those with high self-efficacy after being controlled by perceived vulnerability and perceived obstacles (OR: 3,475 .95%CI:1.653-7.306). For this reason, it is esenssial to increase mothers’ self-efficacy with education and counseling as well as forming support groups or online forums.
Read More
T-6706
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulan Meilani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Helda, Wahyu Handriana Alamsyah
S-6343
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eni Istita; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Meri Safriani
Abstrak:
Tuberkulosis ditetapkan sebagai penyebab kematian akibat agen infeksi tunggal terbesar kedua di dunia pada tahun 2022. Indonesia menempati peringkat kedua kasus tuberkulosis tertinggi di dunia, dengan kasus mencapai 724.309. Pada tahun 2021-2022, terdapat peningkatan 79,61% kasus tuberkulosis di Kecamatan Cilodong, Kota Depok. Kenaikan kasus tersebut mengakibatkan tingginya risiko penularan, sehingga diperlukan perilaku kesehatan untuk mencegah penularan tuberkulosis. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis paru di wilayah kerja UPTD Puskesmas Cilodong tahun 2024. Metode penelitian ini adalah kuantitatif dengan desain cross sectional. Data dikumpulkan dari lembar kuesioner 100 responden. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata perilaku masyarakat terhadap pencegahan penularan tuberkulosis dalam skala 100 adalah 80,3. Variabel yang berhubungan dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis paru meliputi jenis kelamin, pendapatan keluarga, pengetahuan, persepsi kerentanan, persepsi keparahan, persepsi manfaat, persepsi hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri, dengan nilai-p < 0,05. Usia tidak memiliki hubungan dengan perilaku pencegahan penularan tuberkulosis paru. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemberian informasi mengenai tuberkulosis paru kepada masyarakat dengan cakupan lebih luas agar dapat menekan angka kasus tuberkulosis.

Tuberculosis was the second leading cause of death from a single infectious agent globally in 2022. Indonesia ranked second worldwide for the highest number of tuberculosis cases, with 724,309 cases. In 2021-2022, there was a 79.61% increase in tuberculosis cases in Cilodong District, Depok City. This rise led to a high risk of transmission, necessitating health behaviors to prevent tuberculosis transmission. This study aims to analyze factors related to pulmonary tuberculosis transmission prevention behaviors in the working area of the UPTD Puskesmas Cilodong in 2024. The study used a quantitative method with a cross-sectional design. Data were collected from questionnaires distributed to 100 respondents. The average score for community behavior towards preventing tuberculosis transmission was 80.3 out of 100. Variables related to pulmonary tuberculosis transmission prevention behavior included gender, family income, knowledge, perceived susceptibility, perceived severity, perceived benefits, perceived barriers, cues to action, and self-efficacy, with a p-value < 0.05. Age did not relate to prevention behavior. Therefore, providing broader information about pulmonary tuberculosis to the society is necessary to help reduce tuberculosis cases. Public awareness and education efforts are crucial to mitigating the spread of this disease.
Read More
S-11616
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gilar Sekar Pembajeng; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Helda; Silmy Kaaffah
Abstrak:
Kasus tuberkulosis di Indonesia pada tahun 2017 mencapai 420.994 kasus. Ada peningkatan kasus Tuberkulosis paru di Puskesmas Cinere, dimana jumlah kasus selama tahun 2021 sampai bulan Oktober 2021 tercatat 45 kasus dan meningkat menjadi 55 kasus sampai bulan Juli 2022. Tujuan penelitian ini adalah Mengindentifikasi faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan perilaku pencegahan Tuberkulosis paru pada masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Cinere tahun 2022. Penelitian dengan pendekatan kuantitatif, desain cross-sectional dilakukan pada 98 responden yang diambil secara quota sampling pada penduduk wilayah kerja puskesmas Cinere. Data dikumpulkan secara online menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya serta analisis dengan uji Chi Square untuk melihat hubungan antara 8 variabel independen dengan perilaku pencegahan Tuberkulosis paru. Hasil penelitian ini menunjukkan, responden memiliki perilaku pencegahan Tuberkulosis paru yang baik yaitu dengan skor rata-rata 71,09 (skala 0-100). Hasil analisis mendapatkan, persepsi manfaat (p=0,001), efikasi diri (p=0,013), isyarat untuk bertindak (p=0,001) menunjukkan hubungan dengan perilaku pencegahan Tuberkulosis paru. Variabel jenis kelamin (p=0,568), pengetahuan (0,986), persepsi kerentanan (p=0,933), persepsi keparahan (p=0,558), dan persepsi hambatan (p=0,161) menunjukkan tidak adanya hubungan dengan perilaku pencegahan Tuberkulosis Paru. Pemberian edukasi melalui media massa maupun media sosial yang masif mengenai pencegahan Tuberkulosis diperlukan guna meningkatkan perilaku masyarakat dalam pencegahan Tuberkulosis.

Tuberculosis cases in Indonesia in 2017 reached 420,994 cases. There is an increase in cases of pulmonary tuberculosis at the Cinere Health Center, where the number of cases during 2021 to October 2021 was recorded 45 cases and increased to 55 cases until July 2022. The purpose of this study was to identify what factors are related to pulmonary tuberculosis prevention behavior in community in the working area of the Cinere Health Center in 2022. This research used a quantitative approach, a cross-sectional design was carried out on 98 respondents who were taken by quota sampling from residents of the working area of the Cinere Health Center. Data were collected online using a questionnaire that had been tested for validity and reliability as well as analysis with the Chi Square test to see the relationship between 8 independent variables and pulmonary tuberculosis prevention behavior. The results of this study indicate that respondents have good pulmonary tuberculosis prevention behavior with an average score of 71.09 (scale 0-100). The results of the analysis obtained, perceived benefits (p=0.001), self-efficacy (p=0.013), cues to act (p=0.001) showed a relationship with pulmonary tuberculosis prevention behavior. Variables of gender (p=0.568), knowledge (0.986), perceived vulnerability (p=0.933), perceived severity (p=0.558), and perceived obstacles (p=0.161) showed no relationship with pulmonary tuberculosis prevention behavior. Provision of education through mass media and massive social media regarding TB prevention is needed to improve people's behavior in TB prevention
Read More
S-11172
Depok : FKMUI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmi Fitri; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Dien Anshari, Nadira, Siti Zubaidah
Abstrak:
Nama : Rahmi Fitri Program Studi : Ilmu Kesehatan Masyarakat Judul : Analisis Dukungan Keluarga Terhadap Pencegahan Penularan Tuberculosis Oleh Penderita TBC Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Ujung Batu Kabupaten Rokan Hulu Provinsi Riau Tahun 2023 Pembimbing : DR. Drs. Tri Krianto, M.Kes Berdasarkan data profil kesehatan Provinsi Riau, Kabupaten Rokan Hulu merupakan peringkat ke – 3 tertinggi jumlah kasus penderita TBC Paru dari 12 kab/kota yang ada di Provinsi Riau. Puskesmas Ujung Batu merupakan salah satu puskesmas yang memiliki kasus penderita TBC terbanyak se-Kabupaten Rokan Hulu. Faktor penyebab dari tingginya angka penderita TBC Paru dapat disebabkan oleh praktik perilaku pencegahan penularan penyakit TBC Paru yang rendah sehingga mempercepat penyebaran TBC Paru. Faktor- faktor yang mempengaruhi pencegahan penularan TBC Paru adalah faktor pengetahuan, sikap dan tindakan dari individu. Dukungan dari keluarga merupakan unsur terpenting dalam meningkatkan rasa percaya diri dan motivasi penderita TBC Paru dalam berperilaku untuk mencegah penularan TBC Paru. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran dukungan keluarga terhadap perilaku pencegahan penularan penyakit pada penderita TBC Paru di wilayah kerja Puskesmas Ujung Batu. Metode Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan studi kasus melalui wawancara mendalam terhadap lima orang informan utama dan lima orang informan kunci. Hasil dari penelitian ini diperoleh mayoritas penderita TBC Paru berjenis kelamin laki-laki yang berusia 30 - 60 tahun,status sosial ekonomi keluarga berada di level menengah kebawah dengan tingkat pendidikan mayoritas tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP), praktik dalam keluarga sebagian besar sudah menerapkan perilaku pencegahan penularan TBC Paru, budaya dalam batuk /bersin sebagian penderita sudah berperilaku menutup mulut dengan tangan / masker namun budaya meludah masih disembarang tempat. Penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan keluarga berpengaruh kuat terhadap perilaku pencegahan penularan penyakit pada penderita TBC Paru. Bagi puskesmas sebaiknya mengoptimalkan sosialisasi terkait peran dukungan keluarga bagi penderita TBC Paru, sehingga masyarakat khususnya keluarga dapat berperan aktif dalam memberikan dukungan untuk meningkatkan perilaku pencegahan penularan penyakit pada penderita TBC Paru. Kata Kunci : Dukungan keluarga, perilaku pencegahan penularan TBC Paru

Name : Rahmi Fitri Study Program : Public Health Sciences Title : Analysis of Family Support for Transmission Prevention Tuberculosis by Pulmonary TB Patients in the Working Area of Ujung Batu Health Center, Rokan Hulu Regency, Riau Province in 2023 Advisor : DR. Drs. Tri Krianto, M.Kes Based on health profile data for Riau Province, Rokan Hulu Regency is ranked 3rd with the highest number of cases of pulmonary TB sufferers from 12 districts/cities in Riau Province. Ujung Batu Health Center is one of the health centers that has the most TB cases in Rokan Hulu Regency. The causal factor for the high number of patients with pulmonary tuberculosis can be caused by the low level of practice of prevention of transmission of pulmonary tuberculosis, thereby accelerating the spread of pulmonary tuberculosis. The factors that influence the prevention of transmission of pulmonary tuberculosis are the factors of knowledge, attitudes and actions of individuals. Support from the family is the most important element in increasing the self-confidence and motivation of people with pulmonary tuberculosis in behavior to prevent transmission of pulmonary tuberculosis. The purpose of this study was to determine the description of family support for the behavior of preventing disease transmission in patients with pulmonary tuberculosis in the working area of the Ujung Batu Health Center. Methods This research uses qualitative methods with case studies through in-depth interviews with five key informants and five key informants. The results of this study obtained that the majority of pulmonary TB sufferers were male aged 30-60 years, the socioeconomic status of the family was at the lower middle level with the education level of the majority graduating from junior high school (SMP), most of the practices in the family had implemented behavioral prevention of pulmonary TB transmission, culture in coughing / sneezing, some sufferers have the behavior of covering their mouths with their hands / masks, but the culture of spitting is still everywhere. This study shows that family support has a strong effect on disease prevention behavior in patients with pulmonary tuberculosis. It is better for puskesmas to optimize socialization related to the role of family support for pulmonary tuberculosis sufferers, so that the community, especially families, can play an active role in providing support to improve disease transmission prevention behavior in pulmonary tuberculosis sufferers. Keywords: Family support, behavior to prevent pulmonary TB transmission
Read More
T-6704
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulidyah Ananda; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Asfi Raihan
Abstrak:
Kecamatan Bolo adalah salah satu Kecamatan yang ditetapkan sebagai daerah kejadian luar biasa (KLB) DBD pada bulan Maret Tahun 2023. Hal ini dapat dipicu oleh kurangnya penerapan perilaku pencegahan DBD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencegahan DBD pada masyarakat di Kecamatan Bolo. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional pada 110 responden berusia 17-60 tahun diambil secara consecutive sampling. Data dikumpulkan dengan cara responden mengisi kuesioner secara mandiri yang sebelumnya telah diujicobakan. Hasil penelitian menunjukkan responden memiliki perilaku pencegahan DBD dengan rata-rata nilai 64 dari skala 100. Hasil analisis variabel yang berhubungan dengan perilaku pencegahan DBD adalah: jenis kelamin (p=0,002), usia (p= 0,001,r= 0,307), pengetahuan (p= 0,001, r=0,43, persepsi manfaat (p=0,001, r=0,360) dan isyarat bertindak (p=0,006, r=0,360) sedangkan variabel yang tidak berhubungan dengan perilaku pencegahan DBD persepsi kerentanan (p=0,805, r=0,024), persepsi keparahan (p=0,266, r=0,107 dan persepsi hambatan (p=0,190, r=0,126). Atas dasar tersebut maka pemberian edukasi dan promosi kesehatan yang dilakukan secara rutin dengan metode-metode yang sesuai sangat diperlukan untuk meningkatkan perilaku pencegahan DBD.

Bolo District is one of the districts designated as a DHF outbreak area in March 2023. This could be triggered by the lack of implementation of DHF prevention behaviors. This study aimed to determine the factors associated with dengue prevention behavior in the community in Bolo. This study used a cross sectional study design on 110 respondents aged 17-60 years taken by consecutive sampling. Data was collected by respondents filling out a questionnaire independently which had previously been tested. The results of this study showed that the respondents had a good dengue prevention behavior which was 64 of a scale of 100. The results of the analysis of variables correlated with dengue prevention behavior, gender (p = 0.002), age (p = 0.001, r = 0.307), knowledge (p = 0.001, r = 0.43, perceived benefits (p = 0.001, r = 0.360) and cues to action (p = 0.006, r = 0.360), 006, r=0.360) while variables that were not correlated with DHF prevention behavior were perceived susceptibility (p=0.805, r=0.024), perceived severity (p=0.266, r=0.107 and perceived barriers (p=0.190, r=0.126). Providing education and health promotion that is carried out routinely with appropriate methods is needed to improve dengue prevention behavior.
Read More
S-11542
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive