Ditemukan 40665 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Ratna Wulandari; Promotor: Ahmad Syafiq; Kopromotor: Tria Astika Endah Permatasari; Penguji: Besral, Kusharisupeni Djokosujono, Emi Nurjasmi, Kodrat Pramudho, Sobar Darmadja
Abstrak:
Read More
Permasalahan gizi pada ibu hamil di Indonesia yang paling dominan adalah anemia dan kurang energi kronis. Intervensi telah dilakukan dengan pemberian tablet tambah darah dan pemberian makanan tambahan selama kehamilan, namun tingkat konsumsinya belum optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menilai intervensi pemberian edukasi menggunakan aplikasi catin sehat yang telah disusun pada masa prakonsepsi terhadap status gizi pada masa kehamilan. Populasi dalam penelitian ini adalah calon pengantin wanita di Puskesmas Wilayah Kota Depok pada tahun 2023, dengan total sampel yaitu 100 orang. Hasil penelitian berdasarkan uji t dependen menunjukkan bahwa pada kelompok yang diberikan intervensi pada masa calon pengantin wanita yang kemudian diukur pasca pemberian intervensi yakni pada masa kehamilan trimester I terdapat rata-rata peningkatan status gizi pada tiga indikator yaitu rata-rata; kadar hemoglobin meningkat 1,64 g/dL, indeks massa tubuh meningkat 2,51 kg/m2, dan lingkar lengan tengah atas meningkat 0,51 cm, sedangkan ketiga indikator pada kelompok kontrol rata-rata cenderung menurun. Efektivitas pemberian modul edukasi Aplikasi Catin Sehat dalam meningkatkan kadar haemoglobin sebesar 13.5% dan efektivitas dalam meningkatkan indeks massa tubuh sebesar 14.7%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah memberikan edukasi mengenai pemenuhan gizi kehamilan pada calon pengantin, akan berdampak pada perilaku konsumsi makanan dan meningkatkan status gizi yakni kadar haemoglobin dan indeks massa tubuh pada masa kehamilan. Edukasi mengenai persiapan gizi kehamilan yang diberikan kepada calon pengantin atau pada masa pra konsepsi, merupakan langkah strategis dan awal dalam mencegah kekurangan gizi pada masa kehamilan.
The most dominant nutritional problems among pregnant women in Indonesia are Anemia and chronic energy deficiency. Interventions have been carried out by administering blood supplement tablets and providing additional food during pregnancy, but the level of consumption is not optimal. This study aims to assess educational interventions using educational modules during the preconception period on nutritional status during pregnancy. The population in this study were prospective brides at the Depok City Regional Health Center in 2023, with a sample size of 100 people. The results of the study based on the dependent t test showed that in the group given the intervention during the bride's period which was then measured after the intervention was given, namely during the first trimester of pregnancy, there was a potential average increase in nutritional status in three indicators, namely average; Hemoglobin levels increased by 1.64g/dL, body mass index increased by 2.51kg/m2, and mid-upper arm circumference increased by 0.51cm, while the three indicators in the control group tended to decrease on average. The effective improvement is 14.7% and 13.4%. The conclusion of this research is that providing education regarding the provision of pregnancy nutrition to prospective brides and grooms will have an impact on food consumption behavior and improve nutritional status during pregnancy. Education regarding pregnancy nutritional preparation given to prospective brides and grooms or during the preconception period is a strategic and initial step in preventing malnutrition during pregnancy.
D-512
Depok : FKM-UI, 2024
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Petriana Ekklesia Mahmud; Promotor: Kemal Nazaruddin Siregar; Kopromotor: Tri Krianto, Mus Huliselan; Penguji: Asri C. Adisasmita, Besral, Ira Nurmala, Raditya Wratsangka, Sudibyo Alimoeso
Abstrak:
Read More
Perilaku seksual berisiko pada remaja puteri merupakan masalah kesehatan reproduksi yang dapat meningkatkan risiko kehamilan tidak diinginkan serta berdampak pada aspek kesehatan, sosial, dan ekonomi. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan menguji Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku sebagai model peningkatan determinan protektif perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon. Penelitian menggunakan mixed-methods exploratory sequential design yang terdiri atas tahap eksplorasi budaya dan kebutuhan intervensi, pengembangan model, serta pengujian efektivitas intervensi melalui desain kuasi-eksperimen. Tahap kualitatif melibatkan 53 informan, terdiri atas remaja, orang tua, tokoh agama, tokoh adat, guru/kepala sekolah, dan petugas kesehatan. Tahap kuantitatif melibatkan remaja usia 12–15 tahun, dengan 85 responden pada kelompok intervensi di Negeri Hative Kecil dan 83 responden pada kelompok kontrol di Negeri Passo. Data kuantitatif dianalisis menggunakan Difference-in-Differences (DiD). Analisis DiD menunjukkan bahwa kelompok intervensi mengalami peningkatan pengetahuan, sikap, dan keterampilan asertif yang lebih tinggi dibandingkan kelompok kontrol, dengan selisih masing-masing sebesar 32,24 poin, 23,26 poin dan 16,56 poin. Efek intervensi pada ketiga variabel signifikan secara statistik dengan nilai p<0,05. Temuan ini menunjukkan bahwa Strategi Holistik Intervensi Nilai dan Edukasi (SHINE) dengan pendekatan Tiga Batu Tungku berpotensi meningkatkan determinan protektif pengetahuan, memperbaiki sikap, dan memperkuat keterampilan asertif remaja puteri dalam menolak tekanan seksual, mempertahankan keputusan, serta menghindari situasi berisiko. Model ini dapat dipertimbangkan sebagai strategi intervensi berbasis budaya lokal untuk pencegahan perilaku seksual berisiko kehamilan pada remaja puteri di Kota Ambon.
Risky sexual behavior among adolescent girls is a reproductive health problem that can increase the risk of unintended pregnancy and affect health, social, and economic aspects. This study aimed to develop and test the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach as a model to improve protective determinants against pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City. This study employed a mixed-methods exploratory sequential design consisting of cultural exploration and intervention needs assessment, model development, and intervention effectiveness testing through a quasi-experimental design. The qualitative phase involved 53 informants, consisting of adolescents, parents, religious leaders, traditional leaders, teachers/school principals, and health workers. The quantitative phase involved adolescents aged 12-15 years, with 85 respondents in the intervention group in Negeri Hative Kecil and 83 respondents in the control group in Negeri Passo. Quantitative data were analyzed using Difference-in-Differences (DiD). The DiD analysis showed that the intervention group experienced greater increases in knowledge, attitudes, and assertive skills than the control group, with differences of 32.24 points, 23.26 points, and 16.56 points, respectively. The intervention effects on the three variables were statistically significant with p < 0.05. These findings indicate that the Holistic Strategy for Value Intervention and Education (SHINE) using the Tiga Batu Tungku approach has the potential to improve protective determinants of knowledge, enhance attitudes, and strengthen assertive skills among adolescent girls in refusing sexual pressure, maintaining their decisions, and avoiding risky situations. This model may be considered a local culture-based intervention strategy for preventing pregnancy-related risky sexual behavior among adolescent girls in Ambon City
D-645
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sania Fitria; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Rita Damayanti, Siti Khalimah
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesepian dengan gangguan mental emosional pada mahasiswa domisili kota Depok di masa pandemi COVID-19. Desain studi dari penelitian ini adalah cross-sectional dengan analisis univariat, bivariat dan stratifikasi. Penelitian ini menggunakan data primer dalam bentuk google form yang disebar secara daring kepada mahasiswa.
Read More
S-10675
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muri Maftuchan; Promotor: Indang Trihandini; Kopromotor: Nuryahati Adnan, Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Hadi Pratomo, Anton Rahardjo, Tri Erri Astoeti, Magdarina D. Agtini, Indirawati Tjahja
Abstrak:
Read More
Sebagian besar anak Indonesia masih belum menggosok gigi sebelum tidur dan sesudah sarapan. Edukasi model peer grup terbukti mampu meningkatkan kebersihan gigi pada anak sekolah. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui perubahan skor pengetahuan, sikap dan kebersihan gigi mulut pada anak usia 8 - 11 tahun pada kelompok yang diberikan edukasi oleh dokter kecil di Tangerang Selatan. Desain yang diginakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen pada 143 responden anak dari kelas 3,4 dan 5 di dua sekolah dasar pemerintah. Pada kelompok intervensi 15 anak dipilih sebagai dokter kecil dan ditugaskan memberikan edukasi sedangkan kelompok kontrol tidak . Data pengetahuan dan sikap diambil dikumpulkan menggunakan kuesioner yang diisi oleh sendiri oleh responden sedangkan data kebersihan gigi berupa OHIS dan PHP dikumpulkan melalui pemeriksaan intraoral oleh examiner. Data Diolah dengan t test dependen dan independen Hasil: Terdapat peningkatan pada skor pengetahuan, sikap, OHIS dan PHP pada kelompok intervensi setelah diberikan edukasi (p=0,005) dan perbedaan signifikan antar kelompok yang diberikan edukasi dengan tanpa perlakuan(p<0,05). Saran Edukasi kesehatan gigi mulut dengan menggerakkan anak sebagai dokter kecil khusus kesehatan gigi perlu dlaksanakan disekolah namun pelaksanaannya tetap perlu didampingi oleh tenaga kesehatan dan dukungan oleh Sekolah
D-428
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Milhan; Promotor: Indang Trihandini; Kopromotor Mardiati Nadjib, Ratna Djuwita; Penguji: Sutanto Priyo Hastono, Zulvayanti, Mahalul Azam, Mohammad Hakimi, IGM Wirabrata
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Lebih dari dua pertiga dari kematian ibu yang dilaporkan adalah karena Perdarahan Postpartum atau Postpartum Hemorrhage (PPH). Kombinasi oksitosin dan misoprostol dapat mencegah dan mengatasi PPH lebih baik. Masih terdapat gap antara kondisi ideal (harapan), yaitu tersedianya intervensi pencegahan PPH yang efektif dan hemat biaya. Tujuan Penelitian untuk: (1) Membandingkan efektivitas penggunaan OXYBUM (Injeksi Oksitosin 10 IU + Misoprostol Bukal 200 mikrogram) dibanding Oksitosin 10 IU untuk menurunkan Perdarahan Postpartum. (2) Menganalisis biaya dan potensi efisiensi penggunaan OXYBUM untuk menurunkan Perdarahan Postpartum dari perspektif penyedia layanan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain Randomized Controlled Trial dengan double-blind. Lokasi pengumpulan data di RSU Handayati, Rantau, Kabupaten Tapin. Kriteria Inklusi: Ibu hamil cukup bulan (lebih dari atau sama dengan 37 minggu) dengan janin tunggal, hidup intrauterina yang mengalami persalinan pervaginam atau sesar (SC/seksio cesarea). Outcome utama adalah kejadian Non-PPH dan PPH. Analisis dilakukan menilai efektivitas intervensi Hasil : (1) Pemberian OXYBUM (injeksi Oxytocin 10 IU + Buccal Misoprostol 200 mikrogram) meningkatkan terjadinya Non Perdarahan Postpartum (menurunkan kejadian PPH) sebesar 1,95 kali lebih besar dibandingkan Oksitosin saja, dengan RR 1,95 (1,34- 2,82). (2) Pada subkelompok dengan partus lama, intervensi OXYBUM menunjukkan proporsi keberhasilan Non-PPH yang lebih tinggi sebesar 2,5x dibandingkan oksitosin. (3) OXYBUM menghasilkan rata-rata biaya yang lebih rendah sekaligus proporsi keberhasilan klinis (Non-PPH) yang lebih tinggi dibandingkan Oksitosin tunggal Kesimpulan: Perlakuan dengan OXYBUM (injeksi Oxytocin 10 IU + Buccal Misoprostol 200 mikrogram) secara signifikan meningkatkan keadaan Non Perdarahan Postpartum (menurunkan Perdarahan Postpartum) dibandingkan ibu yang diberikan Oksitosin, dan lebih efisien secara ekonomi. Saran: Hasil ini menunjukkan bahwa OXYBUM (injeksi Oxytocin 10 IU + Buccal Misoprostol 200 mikrogram) berpotensi menjadi alternatif strategi profilaksis PPH yang efektif dan efisien. Ditambah analisis farmakoekonomi dapat dipertimbangkan dalam pengembangan kebijakan pelayanan kesehatan maternal. Kata Kunci: Perdarahan Postpartum, Oxytocin, OXYBUM (Oxytocin – Buccal Misoprostol)
Background: More than two-thirds of reported maternal deaths are due to Postpartum Hemorrhage (PPH). The combination of Oxytocin and misoprostol can better prevent and manage Postpartum Hemorrhage. There is still a gap between the ideal (hopeful) condition, namely the availability of effective, temperature-stable, and cost-effective PPH prevention interventions. This study aimed to: (1) Compare the effectiveness of using OXYBUM (Oxytocin Injection 10 IU + Buccal Misoprostol 200 micrograms) compared to Oxytocin 10 IU to reduce Postpartum Hemorrhage. (2) Analyze the costs and potential efficiency of using OXYBUM to reduce Postpartum Hemorrhage from the perspective of service providers. Methods: This study used a double-blind Randomized Controlled Trial design. Data collection was conducted at Handayati General Hospital, Rantau, Tapin Regency. Inclusion Criteria: Full-term pregnant women (more than or equal to 37 weeks) with a singleton fetus, living intrauterinely, who underwent vaginal or cesarean delivery (CS/section cesarean). The primary outcome was the incidence of Non-PPH and PPH. Analysis was conducted to assess the effectiveness of the intervention Results: (1) Administration of OXYBUM (10 IU Oxytocin injection + 200 micrograms Buccal Misoprostol) increased the incidence of Non-Postpartum Hemorrhage (reduce the incidence of PPH) by 1.95 times compared to Oxytocin alone, with a RR of 1.95 (1.34- 2.82). (2) In the subgroup with prolonged labor, the OXYBUM intervention resulted in a 2.5x higher proportion of Non-PPH events compared to oxytocin. (3) OXYBUM resulted in lower average costs and a higher proportion of clinical success (Non-PPH) compared to Oxytocin alone. Conclusion: Treatment with OXYBUM (Oxytocin 10 IU injection + Buccal Misoprostol 200 micrograms) significantly improves the condition of Non-Postpartum Hemorrhage (reduces Postpartum Hemorrhage) compared to mothers given Oxytocin, and is more economically efficient. Recommendation: This result indicates that OXYBUM (10 IU Oxytocin injection + 200 micrograms Buccal Misoprostol) has the potential to be an effective and efficient alternative strategy for PPH prophylaxis. Furthermore, pharmacoeconomic analysis can be considered in the development of maternal health care policies. Keywords: Postpartum Hemorrhage, Oxytocin, OXYBUM (Oxytocin – Buccal Misoprostol)
D-627
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Astriani Rakhamadina Nurhapsari; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Andi Wiradarma
Abstrak:
Skripsi ini membahas status kesehatan pasien prolanis di wilayah kerja BPJS Jakarta Timur pada Laboratorium Klinik Kimia Farma Duren Sawit. penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain kohort. Melihat terjadinya penurunan dan peningkatan terhadap hasil tahun 2017 dan 2018. Hasil penelitian menunjukan hasil HbA1c pasien mengalami penurunan. Hasil pemeriksaan kolesterol total terjadi peningkatan. Hasil pemeriksaan kolesterol HDL terjadi penurunan. Hasil pemeriksaan kolesterol LDL terjadi peningkatan. Hasil trigliserida menunjukan terjadi penurunan. Hasil ureum menunjukan peningkatan. Kreatinin menunjukan penurunan. Dan mikroalbumin urin menunjukan penurunan. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat diajadikan acuan untuk penelitian selanjutkan sebagai pengukur status kesehatan peserta prolanis
Read More
S-10065
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fajar Tri Ramadhan; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Artha Prabawa, Rahmadewi
S-9988
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yul Isnadi; Promotor: L. Meily Kurniawidjaja; Kopromotor: Besral, Robiana Modjo; Penguji: Dien Anshari, Fatma Lestari, Kemal Nazaruddin Siregar, Edrian Zulkarnain, Prihatin Oktivasari
Abstrak:
Read More
Penyakit jantung koroner (PJK) masih menjadi masalah penting pada pekerja industri energi karena dipengaruhi oleh faktor risiko individu, pekerjaan, perilaku, dan lingkungan kerja. Penelitian ini bertujuan mengembangkan dan mengevaluasi efektivitas promosi kesehatan kerja melalui modul cetak dan aplikasi web NadiFirst dalam meningkatkan kemampuan pekerja industri energi Indonesia untuk mengendalikan faktor risiko PJK pada domain pengetahuan, persepsi, dan perilaku yang dilaporkan sendiri. Penelitian menggunakan pendekatan mixed methods eksploratori dengan pengembangan intervensi berbasis model ADDIE dan evaluasi kuasi-eksperimental nonrandomized pre-test–post-test non-equivalent control group. Modul cetak “Jantung Sehat, Kerja Produktif” divalidasi oleh pakar dan pekerja, kemudian ditransformasikan menjadi aplikasi web NadiFirst. Kelompok kontrol merupakan kelompok pembanding aktif yang mendapatkan intervensi berupa modul cetak, sedangkan kelompok intervensi mendapatkan intervensi melalui aplikasi web NadiFirst. Sebanyak 455 pekerja dianalisis, terdiri atas 231 pekerja pada kelompok kontrol dan 224 pekerja pada kelompok intervensi. Luaran penelitian meliputi pengetahuan, persepsi, dan perilaku terkait pengendalian faktor risiko PJK. Analisis utama menggunakan Difference-in-Differences (DiD) adjusted regression sebagai model terpilih, dengan penyesuaian terhadap usia, pendidikan, direktorat, serta status hipertensi dan/atau diabetes melitus. Hasil menunjukkan bahwa modul cetak dan aplikasi web sama-sama layak digunakan. Secara deskriptif, skor post-test kelompok aplikasi web lebih tinggi dibandingkan kelompok modul cetak pada Total Pengetahuan (34,036 vs 31,753), Total Persepsi (154,201 vs 150,022), dan Total Perilaku (199,295 vs 198,455). Namun, analisis DiD multivariat dengan model terbaik adjusted regression menunjukkan bahwa aplikasi web NadiFirst memberikan efektivitas signifikan dibandingkan modul cetak hanya pada Pengetahuan Ketaatan SPO dan APD (β = 1,082; p < 0,001), Pengetahuan Risiko Tembakau (β = 0,316; p = 0,043), dan Perilaku Ketaatan SPO dan APD (β = -0,787; p = 0,014). Penelitian ini menyimpulkan bahwa aplikasi web NadiFirst memberikan efektivitas dibandingkan modul cetak pada luaran yang spesifik, teknis, dan dekat dengan praktik kerja, terutama Pengetahuan Ketaatan SPO dan APD serta Pengetahuan Risiko Tembakau. Aplikasi web NadiFirst lebih tepat diposisikan sebagai media penguat dalam sistem promosi kesehatan kerja.
Coronary heart disease (CHD) remains a major health concern among energy industry workers due to the influence of individual, occupational, behavioral, and workplace environmental risk factors. This study aimed to develop and evaluate the effectiveness of occupational health promotion delivered through a printed module and the NadiFirst web-based application in improving workers’ capacity to control CHD risk factors in terms of knowledge, perception, and self-reported behavior. An exploratory mixed-methods approach was employed. The intervention was developed using the ADDIE model and evaluated through a quasi-experimental nonrandomized pre-test–post-test non-equivalent control group design. The printed module, Healthy Heart, Productive Work, was validated by experts and workers and subsequently transformed into the NadiFirst web-based application. The control group received the printed module, while the intervention group used the NadiFirst application. A total of 455 workers participated in the analysis, including 231 in the control group and 224 in the intervention group. Study outcomes included knowledge, perception, and behavior related to CHD risk-factor control. The primary analysis used Difference-in-Differences (DiD) adjusted regression, controlling for age, education, directorate, and hypertension and/or diabetes mellitus status. Both interventions were found to be feasible for implementation. Descriptively, the web-based application group achieved higher post-test scores than the printed module group for Total Knowledge (34.036 vs. 31.753), Total Perception (154.201 vs. 150.022), and Total Behavior (199.295 vs. 198.455). However, multivariable DiD analysis demonstrated that the NadiFirst application provided significant added value over the printed module only for Knowledge of Standard Operating Procedures (SOP) and Personal Protective Equipment (PPE) Compliance (β = 1.082; p < 0.001), Knowledge of Tobacco Risk (β = 0.316; p = 0.043), and Behavior Related to SOP and PPE Compliance (β = -0.787; p = 0.014). The findings indicate that NadiFirst offers the most consistent benefits for outcomes that are specific, technical, and closely linked to workplace practices, particularly knowledge of SOP and PPE compliance and tobacco-related risks. Therefore, NadiFirst should be positioned as a reinforcing tool within a comprehensive occupational health promotion system.
D-622
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wijayantono; Promotor: Umar Fahmi Achmadi; Ko Promotor: Dewi Susana, Tris Eryando; Penguji: Soekidjo Notoatmodjo, Holani Achmad, Toni Wandra, Soewarta Kosen
D-255
Depok : FKM-UI, 2011
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dwi Sisca Kumala Putri; Promotor: Endang Laksminingsih Achadi; Kopromotor: Hartono Gunardi, Yekti Widodo; Penguji: Ahmad Syafiq, Besral, Kusharisupeni Djokosujono, Abas Basuni Jahari
Abstrak:
Read More
ABSTRAK Pertumbuhan pada masa janin, dengan berat dan panjang badan lahir sebagai titik tertinggi pencapaiannya, dapat mempengaruhi pertumbuhan pada masa baduta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pola gagal tumbuh linier, terutama waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan besarnya perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U) pada rentang umur 0-6, 6-12, dan 12-23 bulan berdasarkan status berat dan panjang badan lahir. Selain itu juga bertujuan mengetahui pengaruh status berat dan panjang lahir serta faktor risiko lainnya terhadap kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan juga terhadap perubahan pencapaian PB. Penelitian ini merupakan penelitian kohort prospektif dengan sampel sebanyak 408 anak responden Studi Kohor Tumbuh Kembang Anak di Kota Bogor Tahun 2012 – 2019. Variabel dependen pada penelitian ini ialah waktu kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan dan perubahan pencapaian PB (Δ z-score PB/U). Variabel independen utama pada penelitian ini ialah status berat dan panjang badan lahir. Pertumbuhan linier didefinisikan melambat jika linear growth velocity interval 3 bulan selama dua interval berturut-turut berada di bawah persentil ke-25 standar growth velocity WHO. Penelitian ini menunjukkan bahwa separuh anak SGA melambat pertumbuhannya sebelum umur 10 bulan dan separuh anak normal melambat pertumbuhannya sebelum umur 9 bulan. Penurunan z-score (Δ z-score PB/U) terbesar ialah pada rentang umur 0 – 6 bulan, sebesar -0,94 pada anak normal dan -0,4 pada anak SGA. Sedangkan pada rentang 6 – 12 bulan sebesar -0,33 pada anak normal dan -0,23 pada anak SGA. Dan pada umur 12 – 23 bulan sebesar -0,18 pada anak normal dan -0,03 pada anak SGA. Anak SGA memiliki risiko 10 persen lebih rendah untuk mengalami kejadian pertama kali melambatnya pertumbuhan pada masa baduta setelah dikontrol lama pemberian ASI, namun secara statistik tidak bermakna. Anak yang diberi ASI < 12 bulan memiliki risiko 50 persen lebih rendah untuk mengalami perlambatan pertumbuhan pertama kali pada masa baduta. Status SGA berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U Pada periode umur 0 – 6 bulan dan 6 – 12 bulan, namun berpengaruh negatif pada periode umur 12 – 23 bulan. Lama pemberian ASI < 12 bulan juga berpengaruh positif terhadap Δ z-score PB/U. Sedangkan frekuensi ISPA > 50% bulan pengamatan dan asupan seng < EAR berpengaruh negatif terhadap Δ z-score PB/U. Melambatnya kecepatan pertumbuhan linier pertama kali dan penurunan z-score PB/U terbesar, baik pada anak SGA maupun normal, terjadi pada masa bayi. Oleh karena itu pemantauan pertumbuhan linier harus dilakukan lebih ketat pada masa bayi, terutama sebelum umur 9 atau10 bulan. Anak SGA tidak dapat mengejar pencapaian panjang badan anak normal, meskipun memiliki kecepatan pertumbuhan yang secara signifikan lebih cepat di awal masa bayi. Hal tersebut menunjukkan bahwa program pencegahan anak pendek harus dimulai lebih dini, yaitu sejak masa prenatal untuk mencegah bayi lahir SGA. Kata Kunci: gagal tumbuh linier, berat badan lahir, panjang badan lahir.
ABSTRACT Fetal growth, with birth weight and birth length as its culmination, influences the linear growth during the first two years of life. This study aimed to identify the pattern of linear growth failure, mainly the onset of growth deceleration and the changes in the Length-for-Age Z-score (LAZ). Furthermore, this study investigated the risk of birthweight and length status and other factors to the onset of growth deceleration and the changes in the LAZ. This study is a prospective cohort study. This study analyzed 408 children, the participants of the Cohort Study on Child Growth and Development in Kota Bogor between 2012 – 2019. The dependent variables were the time to onset of the growth deceleration and the changes of LAZ (Δ LAZ) at the age interval of 0-6, 6-12, and 12-23 months. The main independent variable was birthweight and length status. The linear growth was defined decelerate when the two consecutive 3-month length increments fall below the 25th percentile of The WHO Child Growth Standard. This study showed that half of the SGA children experience the growth deceleration onset before 10 months, while half of normal children experience it before 9 month of age. The substantial losses occurred between 0-6 months and the LAZ declined by -0,94 z-score in normal children and -0,4 z-score in SGA children. While between 6-12 months, the decline was -0,33 z-score in normal children and 0,23 z-score in SGA children. And between 12-23 months, the decline was -0,18 z-score in normal children and -0,03 z-score in SGA children. The SGA children had a 10 percent lower risk than normal children to experience the onset of growth deceleration, adjusted by the duration of breastfeeding, but statistically insignificant. The children breastfed less than 12 months had a 50 percent lower risk to experience the onset of growth deceleration than children breastfed more than ≥ 23 months. The SGA status had a positive effect on the Δ LAZ in the age period of 0 – 6 months and 6 – 12 months but had a negative effect in the age period of 12 – 23 months. The duration of breastfeeding < 12 months also had a positive effect on Δ LAZ. While upper respiratory tract infection frequency of more than 50% of the observation month and seng intake less than Estimated Average Requirement, had a negative effect on Δ LAZ. The onset of the deceleration in linear growth and the substantial loss of LAZ, in SGA and normal children, occurred in the early period of infancy. Therefore, the linear growth should be monitored strictly and regularly in the period of infancy, especially before 9 or 10 months. The SGA children could not catch up with the normal children’s attained growth. Therefore, the stunting prevention program should start early, from the prenatal period to reduce the risk of SGA. Keywords: growth failure, birthweight, birth length
D-492
Depok : FKM-UI, 2023
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
