Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38399 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Muhammad Adrian Dharmawan; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Nickolas Fernando Parmualan
Abstrak:
Gastroenteritis merupakan penyakit yang mengalami inflamasi pada perut dan usus kecil yang menyebabkan gejala seperti diare dan muntah. DKI Jakarta memiliki kasus yang cukup tinggi dibandingkan dengan kota-kota yang berada di wilayah jabotedabek. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan faktor lingkungan (curah hujan, banjir), faktor sanitasi (sanitasi layak) dan faktor invidu (umur, jenis kelamin) dengan kasus gastroenteritis di DKI Jakarta pada tahun 2017-2022. Penelitian ini menggunakan studi ekologi dengan analisis uji korelasi serta regresi linear sederhana. Pada penelitian ini memiliki hasil menunjukan terdapatnya hubungan yang bermakna pada curah hujan (r= -0,422), banjir (r= 0,452), umur (balita r= 0,966; remaja r= 0,965; dewasa r= 0,963), dan jenis kelamin (laki-laki r=0,992; perempuan r= 0,994), dan sanitasi layak (r= -0,352). Hasil analisis multivariat menunjukan jika hubungan signifikan terhadapat kasus gastroenteritis dengan umur balita dan jenis kelamin perempuan. Umur balita dan jenis kelamin perempuan dapat menggambarkan 99,4% dari kasus gastroenteritis dengan realitiasnya. Kesimpulan pada penelitian ini yaitu terdapatnya hubungan yang searah dengan banjir (r= 0,452), umur balita (r= 0,966) dan jenis kelamin perempuan (r= 0,994), sedangkan curah hujan (r= -0,422) dan sanitasi layak (r= -0,352) memiliki hubungan yang tidak searah dengan kasus gastroenteritis.

Gastroenteritis is an inflammatory disease of the stomach and small intestines that causes symptoms such as diarrhea and vomiting. DKI Jakarta has higher incidence rates compared to other cities in the Jabodetabek region. This study aims to analyze the relationship between environmental factors (rainfall, flooding), sanitation factors (adequate sanitation), and individual factors (age, gender) with gastroenteritis cases in DKI Jakarta from 2017 to 2022. This ecological study utilized correlation analysis and simple linear regression. The results indicated significant relationships between gastroenteritis cases and rainfall (r= -0.422), flooding (r= 0.452), age (infants r= 0.966; adolescents r= 0.965; adults r= 0.963), gender (males r= 0.992; females r= 0.994), and adequate sanitation (r= -0.352). Multivariate analysis revealed that infant age and female gender were significantly associated with gastroenteritis cases, explaining 99.4% of the variance. The study concludes that there are positive relationships with flooding (r= 0.452), infant age (r= 0.966), and female gender (r= 0.994), while rainfall (r= -0.422) and adequate sanitation (r= -0.352) have inverse relationships with gastroenteritis cases.
Read More
S-11568
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Dhiyanissa; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Debbie Valonda
Abstrak:
Leptospirosis adalah penyakit zoonosis akibat bakteri Leptospira. DKI Jakarta termasuk dari 11 wilayah endemis. Penelitian ini menganalisis keterkaitan faktor sosial (kepadatan penduduk), iklim (kelembapan, curah hujan, suhu), dan lingkungan (rawan banjir, timbulan sampah) terhadap kasus leptospirosis di lima kota administrasi DKI Jakarta tahun 2017–2023. Hasil menunjukkan hubungan signifikan antara kelembapan, curah hujan, dan daerah rawan banjir (p<0,05), dengan korelasi kelembapan (r = -0,375) dan curah hujan (r = 0,477). Persebaran kasus lebih banyak pada wilayah rawan banjir, timbulan sampah sedang–tinggi, dan kepadatan penduduk sedang. Dengan demikian, perlu dilakukan optimalisasi pelaporan dan kolaborasi lintas sektor dalam mengintervensi masyarakat.


Leptospirosis is a zoonotic disease caused by Leptospira bacteria. DKI Jakarta is one of 11 endemic areas. This study analyzed the relationship between social (population density), climatic (humidity, rainfall, temperature), and environmental (flood-prone, waste generation) factors on leptospirosis cases in five administrative cities of DKI Jakarta in 2017-2023. The results showed a significant relationship between humidity, rainfall, and flood-prone areas (p<0.05), with a correlation of humidity (r = -0.375) and rainfall (r = 0.477). The distribution of cases was more in flood-prone areas, medium-high waste generation, and medium population density. Thus, it is necessary to optimize cross-sector collaboration in intervention. 

Read More
S-12113
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fadhilah Rasya Rahmadianingputri' Pembimbing: Zakianis; Penguji: R. Budi Haryanto, Edwin Nasli
Abstrak: Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang dapat merenggut sekitar 1,5 juta jiwa setiap tahunnya. Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit yang paling sering menyerang paru-paru. Penyakit Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2020, Provinsi DKI Jakarta berada diurutan kedua dalam hal Penyakit Tuberkulosis, yaitu 228 kasus per 100.000 penduduk. Ada banyak faktor yang mempengaruhi kejadian penyakit tuberculosis, meliputi faktor sosioekonomi, faktor kondisi rumah dan lingkungan, dan faktor gaya hidup. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis hubungan antara faktor status sosioekonomi, faktor kondisi rumah dan lingkungan, dan faktor gaya hidup terhadap kasus kejadian Penyakit Tuberkulosis di Provinsi DKI Jakarta tahun 2021. Serta, menganalisis hubungan antara kejadian Penyakit Tuberkulosis dan kematian COVID-19 di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan unit analisis kecamatan di Provinsi DKI Jakarta yang berjumlah 44. Data yang digunakan adalah data sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta, Badan Pusat Statistik, dan Data Terbuka Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Data disajikan dengan table untuk mengetahui besarnya kejadian Penyakit Tuberkulosis. Hasil analysis bivariat dengan uji korelasi menunjukkan bahwa faktor sosioekonomi, yaitu tingkat Pendidikan yang rendah merupakan faktor risiko terjadinya Penyakit Tuberkulosis.
Tuberculosis is an infectious disease that can kills almost 1,5 million humans every year. Tuberculosis is a disease that attacks the lung frequently. Tuberculosis is a disease caused by bacteria Mycobacterium tuberculosis. in 2020, DKI Jakarta Province, the capital city of Indonesia, was the second rank with the highest tuberculosis, that was 228 cases per 100.000 population. There are many factors that influence the incidence of tuberculosis, including socioeconomic factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors. The objective of this research is to analyze the relationship between socioeconomic status factors, house and environmental condition factors, and lifestyle factors with incidence of tuberculosis in DKI Jakarta Province in 2021. This research used Ecological study design with sub-district analysis unit in DKI Jakarta Province amounts 44. The data used are secondary data from DKI Jakarta Health Agency, DKI Jakarta Department of Population and Civil Registration, Central Statistics Agency, and Open Data from the DKI Jakarta Government. The data was displayed in a table to find out the magnitude of the incidence of tuberculosis. The results of the study indicate that socioeconomic factors, namely low levels of education are risk factors for the occurrence of Tuberculosis.
Read More
S-10975
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Ihsan; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Al Asyary, Widya Utami
Abstrak:
Higiene dan sanitasi dasar yang tidak memadai dapat menjadi salah satu faktor risiko penyakit menular lingkungan seperti diare. Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang paling banyak ditemui di daerah pesisir seperti di Kelurahan Pulau Harapan. Selain higiene dan sanitasi, lantai yang merupakan bagian dari bangunan rumah, dapat menjadi faktor risiko lain dari penularan penyakit diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi higiene dan sanitasi dasar serta kondisi lantai rumah dengan kejadian diare di Kelurahan Pulau Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta Desain studi yang digunakan adalah pada penelitian ini adalah cross-sectional, dengan metode pengambilan data berupa wawancara menggunakan instrumen kuesioner dan observasi langsung pada kondisi higiene dan sanitasi dasar serta kondisi lantai rumah rumah tangga penduduk. Dari total 96 responden pada penelitian ini, ditemukan kasus kejadian diare dalam sebulan terakhir, sebanyak 25 orang dan yang tidak mengalami kasus kejadian diare sebanyak 71 orang. Dengan kelompok anak-anak (dibawah 17 tahun) menjadi yang terbanyak yaitu berjumlah 13 kasus. Hasil analisis uji chi square menyatakan bahwa, terdapat hubungan yang signifikan pada variabel: jamban sehat (p-value 0,005), kualitas air (fisik) (p-value 0,005), dan fasilitas tempat sampah (p-value 0,019). Penentuan variabel yang paling dominan terhadap kejadian diare menggunakan uji regresi logistik didasarkan dari nilai Exp (B) atau Odds Ratio pada pemodelan multivariat akhir, yang terbesar adalah 6,389 pada variabel kondisi jamban (p-value 0,002), sehingga variabel kondisi jamban memiliki kecenderungan paling dominan yang berhubungan dengan penyakit diare. Dari penelitian ini, diharapkan pemerintah dan masyarakat dapat berkolaborasi untuk saling memperhatikan kebersihan lingkungan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kemudian, untuk penelitian selanjutnya dapat menggali lebih dalam terkait variabel lain yang mungkin berhubungan dengan kejadian diare di pulau lainnya dalam wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Inadequate basic hygiene and sanitation can be a risk factor for environmental infectious diseases such as diarrhea. Diarrhea is one of the diseases most commonly found in coastal areas such as Pulau Harapan Village. Apart from hygiene and sanitation, the floor which is part of the house building, can be another risk factor for transmitting diarrheal diseases. This study aims to determine the relationship between basic hygiene and sanitation conditions and the condition of house floors with the incidence of diarrhea in Harapan Island Village, North Seribu Islands District, Seribu Islands Administrative Regency, DKI Jakarta Province. The study design used in this research is cross-sectional, with data collection methods in the form of interviews using questionnaire instruments and direct observation of basic hygiene and sanitation conditions as well as the condition of the floors of residents' households. The number of total respondent in this research (96), 25 people found cases of diarrhea in the last month and 71 people did not experience cases of diarrhea. Children (under 17 years) are the most group by age (13 cases) found cases of diarrhea. The research analysis with chi square test stated that there was a significant relationship with the variables: healthy latrines (p-value 0.005), water quality (physical) (p-value 0.005), and waste bin facilities (p-value 0.019). Determining the most dominant variable in the incidence of diarrhea using the logistic regression test was based on the Exp (B) or Odds Ratio score in the final multivariate modeling, the biggest score was 6.389 in the latrine condition variable (p-value 0.002), that conclude the latrine condition variable is the most dominant to the relationship of diarrhea case. From this research, hopefully the government and the people can collaborate to pay attention to environmental cleanliness to improve the level of public health in Kelurahan Pulau Harapan. Then, for further research, hopefully other researcher can dig deeper into other variables that may be related to the incidence of diarrhea on other islands in North Seribu Islands District.
Read More
S-11580
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yaneva Azahra Rahmatunisa; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Fitri Kurniasari, Fahmi Hermawan
Abstrak:
Petugas tempat pengolahan sampah berbasis reuse, reduce, dan recycle (TPS 3R) merupakan kelompok pekerja yang berisiko tinggi mengalami penyakit akibat kerja seperti diare karena sering berkontak langsung dengan sampah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu, personal hygiene, dan kondisi lingkungan terhadap kejadian diare pada petugas TPS 3R di Provinsi DKI Jakarta. Desain penelitian yang digunakan adalah potong lintang (cross-sectional) dengan pendekatan kuantitatif dan melibatkan 62 responden dari 12 lokasi TPS 3R. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan observasi, lalu dianalisis menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masa kerja (p=0,033; OR=5,077; 95% CI: 1,138–22,650), penggunaan alat pelindung diri (APD) (p=0,004; OR=0,150; 95% CI: 0,042–0,541), dan keberadaan vektor penular penyakit (p=0,038; OR=3,600; 95% CI: 1,075–12,059) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare. Sementara itu, variabel usia, jenis kelamin, pendidikan terakhir, serta beberapa indikator personal hygiene dan kondisi lingkungan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menunjukkan bahwa penguatan perilaku penggunaan APD dan pengendalian vektor menjadi langkah penting dalam upaya pencegahan diare pada petugas TPS 3R.


Waste management facility based on reuse, reduce, and recycle principles or tempat pengolahan sampah reuse, reduce, and recylce (TPS 3R) workers are a high-risk occupational group for work-related diseases such as diarrhea due to frequent direct contact with waste. This study aims to examine the relationship between individual characteristics, personal hygiene, and environmental conditions with the incidence of diarrhea among TPS 3R workers in DKI Jakarta Province. A cross-sectional quantitative design was employed involving 62 respondents from 12 TPS 3R sites. Data were collected through questionnaires and observations and analyzed using chi-square tests. The results showed significant associations between diarrhea incidence and work duration (p=0.033; OR=5.077; 95% CI: 1.138–22.650), use of personal protective equipment (PPE) (p=0.004; OR=0.150; 95% CI: 0.042–0.541), and the presence of disease vectors (p=0.038; OR=3.600; 95% CI: 1.075–12.059). Meanwhile, variables such as age, gender, education level, and several indicators of personal hygiene and environmental conditions showed no significant associations. These findings highlight the importance of promoting protective equipment usage and vector control as key measures to prevent diarrhea among TPS 3R workers.
Read More
S-12120
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salwa Zalfa Elyanto ; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Dewi Susanna, Budi Setiawan
Abstrak:
Hepatitis A merupakan penyakit peradangan hati oleh virus Hepatitis A yang menular melalui jalur fekal-oral. Diperkirakan terdapat 160,86 juta kasus Hepatitis A di dunia pada tahun 2021. Jumlah kasus hepatitis A di Provinsi Daerah Khusus Jakarta berfluktuasi dalam tiga tahun terakhir, dengan 146 kasus pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara faktor lingkungan (sumber air minum layak, kualitas air minum, dan sanitasi layak (jamban sehat)) dan faktor sosial (kepadatan penduduk dan permukiman kumuh) dengan kejadian Hepatitis A di Provinsi Daerah Khusus Jakarta tahun 2024. Desain studi ekologi dengan unit analisis 43 kecamatan di dan memanfaatkan data sekunder. Rata-rata insidens Hepatitis A di Provinsi Daerah Khusus Jakarta sebanyak 1,14 kasus/100.000 penduduk. Rata-rata proporsi sumber air minum layak dan sanitasi layak masing-masing sebesar 99,96% dan 99,76%, sedangkan proporsi kualitas air minum tidak memenuhi parameter E.coli sebesar 20%, kepadatan penduduk sebanyak 19,926,93 jiwa/km2, serta proporsi permukiman kumuh 17%. Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara faktor lingkungan (sumber air minum layak, kualitas air minum, dan sanitasi layak (jamban sehat)) dan faktor sosial (kepadatan penduduk dan permukiman kumuh) dengan kejadian Hepatitis A di Provinsi Daerah Khusus Jakarta tahun 2024. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pemantauan terhadap kelayakan dan kualitas sumber air minum secara berkala serta kolaborasi lintas sektor sebagai upaya pencegahan penyakit menular.

Hepatitis A is an inflammatory liver disease caused by Hepatitis A virus which is transmitted through the faecal-oral route. It is estimated that there were 160,86 million cases of Hepatitis A in the world in 2021. The number of Hepatitis A cases in the Special Capital Region of Jakarta Province fluctuated in the last three years, with 146 cases in 2024. This study aims to analyze the relationship between environmental factors (sources of clean drinking water, drinking water quality, and proper sanitation (healthy latrines)) and social factors (population density and slums area) with the incidence of Hepatitis A in the Special Capital Region of Jakarta Province in 2024. This study uses an ecological study with 43 districts as the unit of analysis and utilizes secondary data. The mean incidence of Hepatitis A was 1,14 cases per 100.000 population. The mean proportion of clean drinking water sources and proper sanitation were 99,96% and 99,76%, while the proportion of drinking water samples not meeting E. coli parameter was 20%, population density was 19.926,93 persons/km2, and the proportion of slum area was 17%. The results indicated no significant relationship between environmental factors (sources of clean drinking water, drinking water quality, and proper sanitation (healthy latrines)) and social factors (population density and slums area) with the incidence of Hepatitis A in the Special Capital Region of Jakarta Province in 2024. Therefore, it is suitability and quality of drinking water sources periodically as well as cross-sector collaboration as an effort to prevent infectious disease. 
Read More
S-12249
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahma Yunita; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Haryanto, Agustin
Abstrak:
Keamanan pangan pada makanan siap saji merupakan aspek penting dalam pencegahan foodborne disease. Pangan yang aman harus terbebas dari cemaran biologis seperti Escherichia coli serta Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Kontaminasi B3 dapat menyebabkan gangguan kesehatan akibat paparan zat kimia, sedangkan Escherichia coli dapat memicu penyakit bawaan pangan akibat cemaran biologis. DKI Jakarta sebagai wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi dan perkembangan usaha kuliner yang pesat memiliki risiko keamanan pangan yang kompleks. Pada tahun 2023, DKI Jakarta menjadi provinsi dengan kasus keracunan makanan tertinggi di Indonesia yaitu sebanyak 370 kasus (31,78%), serta terjadi peningkatan kasus diare sebesar 3,35% pada tahun 2024. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan sanitasi dan perilaku higiene penjamah terhadap keamanan pangan pada gerai makanan siap saji di Lima Kota Administrasi DKI Jakarta tahun 2023. Penelitian menggunakan pendekatan observasional analitik dengan menggunakan data sekunder dari Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BBLKM) Jakarta. Sampel penelitian berjumlah 138 gerai makanan siap saji. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian menunjukkan sebanyak 76,8% gerai memenuhi syarat keamanan pangan. Faktor risiko yang paling banyak tidak memenuhi syarat adalah higiene penjamah (86,2%), metode pencucian alat makan dan masak (84,8%), tempat sampah (76,1%), dan penggunaan sumber air bersih non-perpipaan (55,1%). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan (p-value >0,05) antara seluruh faktor higiene penjamah dan sanitasi dengan keamanan pangan. Meskipun demikian, penerapan higiene dan sanitasi pangan tetap perlu ditingkatkan untuk mencegah risiko cemaran biologis maupun kimia pada makanan siap saji.

Food safety in ready-to-eat foods is a crucial component in the prevention of foodborne diseases. Safe food must be free from biological contaminants, such as Escherichia coli, as well as hazardous and toxic substances (B3). Exposure to hazardous chemicals in food may lead to adverse health effects due to chemical toxicity, whereas contamination by Escherichia coli may result in foodborne illnesses caused by biological hazards. DKI Jakarta, characterized by its high population density and rapid growth of the culinary industry, faces increasingly complex food safety challenges. In 2023, DKI Jakarta recorded the highest number of food poisoning cases in Indonesia, totaling 370 cases (31.78%), accompanied by a 3.35% increase in diarrhea cases in 2024. This study aimed to analyze the association between sanitation and food handler hygiene behavior and food safety among ready-to-eat food stalls across the Five Administrative Cities of DKI Jakarta in 2023. An analytical observational study was conducted using secondary data obtained from the Center for Public Health Laboratory (BBLKM) Jakarta. The study involved 138 ready-to-eat food stalls as research samples. Data analysis was performed using univariate and bivariate methods with the chi-square test. The findings indicated that 76.8% of food stalls met food safety standards. The most prevalent risk factors that failed to meet the required standards included food handler hygiene (86.2%), washing practices of eating and cooking utensils (84.8%), waste bin conditions (76.1%), and the use of non-piped clean water sources (55.1%). Statistical analysis demonstrated no significant association (p-value >0.05) between sanitation and food handler hygiene factors and food safety. Nevertheless, strengthening food hygiene and sanitation practices remains essential to minimize the risk of biological and chemical contamination in ready-to-eat foods.
Read More
S-12246
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosi Purnama Sari; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Budi Hartono, Desy Mery Dorsanti
Abstrak: Pada tahun 2018, KLB diare di DKI Jakarta sebanyak 124 kasus yang tersebar di beberapa Kecamatan. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan gambaran dan menganalisis secara statistik faktor lingkungan, permukiman kumuh dan bantaran sungai, kepadatan penduduk dengan kasus KLB diare di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2018. Desain penelitian yang digunakan yakni studi ekologi dengan menggunakan data sekunder yang berasal dari data Potensi Desa Tahun 2018 dan data Kependudukan yang berasal dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Provinsi DKI Jakarta dan menampilkan hasil dengan analisis spasial, meliputi variabel-variabel kasus KLB diare, pembuangan sampah, tempat pembuangan sampah sementara (TPS), jamban keluarga, tempat pembuangan akhir tinja, pembuangan limbah cair, sumber air bersih, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai, dan kepadatan penduduk. Hasil penelitian ini ditemukan hubungan signifikan antara permukiman kumuh dengan kasus KLB diare tahun 2018 di DKI Jakarta. Secara spasial mengindikasikan adanya hubungan antara keberadaan TPS, sumber air minum, permukiman kumuh, permukiman bantaran sungai dan kepadatan penduduk dengan kejadian KLB diare. Kesimpulan dari penelitian ini yakni kondisi sanitasi secara umum di DKI Jakarta memiliki kondisi yang lebih baik dari angka nasional, namun tingkat kepadatan peduduk di DKI Jakarta melebihi tingkat kepadatan nasional. Daerah tingkat kerawanan terjadi KLB diare yang tinggi terdapat pada 5 kecamatan. Upaya pencegahan peningkatan jumlah kasus KLB diare yang memiliki hubungan dengan sanitasi lingkungan sebaiknya dilakukan kerjasama dengan lintas sektor guna memenuhi cakupan sarana sumber air minum, pengelolaan tinja, pengelolaan limbah cair, relokasi permukiman, dan persebaran penduduk. Kata kunci: KLB diare, sanitasi, permukiman kumuh, kepadatan penduduk In 2018, outbreaks of diarrhea in DKI Jakarta were 124 cases spread across several districts. This research aims to provide an overview and statistically analyze environmental factors, slums and riverbanks, population density with the case of diarrhea outbreaks in DKI Jakarta in 2018. The design of the study uses an ecological study using secondary data from Potensi Desa 2018 data and Population data and presented the result with spatial analysis, including case variables Outbreaks of diarrhea, waste management, temporary landfills (TPS), family latrines, fecal landfills, disposal waste water, clean water, drinking water, slums, riverbank settlements, and population density. The results from this research found a significant association between slums and diarrhea outbreaks in 2018 in DKI Jakarta. Spatially indicate a relationship between the existence of temporary landfills, drinking water sources, slums, riverbank settlements and population density with the occurrence of diarrhea outbreaks. The conclusion from this research is that sanitation conditions in DKI Jakarta have better conditions than the national rate, but the population density in DKI Jakarta exceeds the national density level. Areas with high levels of vulnerability occur outbreaks of diarrhea that are high in 5 districts. To prevent the increasing number of cases of diarrhea outbreaks associated with environmental sanitation should be cooperation across the sector to meet the scope of drinking water, family latrines, disposal wastewater, settlement relocation, and population distribution. Keywords: diarrhea outbreak, sanitation, slums, population density
Read More
S-10499
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nanda Pratiwi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
S-7133
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riska Yuanda Silviana; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Umar Fahmi Achmadi, Didik Supriyono
Abstrak: Tuberkulosis paru salah satu masalah kesehatan yang masih dihadapi di dunia termasuk di wilayah Indonesia, dan masalah kesehatan ini memiliki kaitan dengan lingkungan disekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari hubungan antara cakupan rumah sehat, cakupan rumah tangga ber-PHBS, fasilitas kesehatan dan kepadatan penduduk terhadap kasus tuberkulosis paru di Kabupaten Bogor pada tahun 2018-2020. Penelitian dilakukan dengan desain studi ekologi pada populasi kecamatan di Kabupaten Bogor sebanyak 40 kecamatan. Hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan signifikan dengan tuberkulosis paru yaitu fasilitas kesehatan, dengan keeratan hubungan yang kuat dan berpola positif (r = 0.564). Variabel kepadatan penduduk juga berhubungan signifikan dengan tuberkulosis paru, dengan keeratan hubungan yang sedang dan berpola positif (r = 0.393). Sedangkan variabel cakupan rumah sehat dan cakupan rumah tangga ber-PHBS tidak berhubungan signifikan dengan tuberkulosis paru. Oleh sebab itu, perlu mengoptimalkan program pencegahan dan pengendalian tuberkulosis paru terutama wilayah kecamatan dengan jumlah kasus yang tinggi.
Pulmonary Tuberculosis is one of the health problems in the world, including in Indonesia and it is related to the environment. This study aims to study the relationship between healthy home coverage, household PHBS coverage, health facilities, and population density in cases of pulmonary tuberculosis in Bogor Regency in 2018-2020. The research was conducted with an ecological study design on a population of as many as 40 sub - districts in Bogor District. The result of this research is the variable of a significant relation with pulmonary tuberculosis was health facilities, with strong relation and positive pattern correlation (r = 0.564). The population density variable was also significantly associated with pulmonary tuberculosis, with medium relation and positive pattern correlation (r = 0.393). Meanwhile the variables of healthy home coverage and PHBS household coverage do not have a significant correlation with pulmonary tuberculosis. Therefore, it is necessary to optimize the pulmonary tuberculosis prevention and control program, especially in sub-districts with a high number of cases
Read More
S-10947
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive