Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39693 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Karl Dalton Tjia; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Renti Mahkota, Meilina Farikhah
Abstrak:
Tuberkulosis Resisten Obat (TBC-RO) merupakan ancaman kesehatan masyarakat. Indonesia menduduki peringkat keempat dalam insiden kasus resistensi TB secara global dan enrollment rate pengobatan MDR/RR-TB masih dibawah target nasional sehingga dapat mendorong beban resistensi pre-extensively drug resistant TB (pre-XDR-TB) dan extensively drug resistant TB (XDR-TB). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian resistensi pre-XDR-TB dan XDR-TB di DKI Jakarta tahun 2021-2022. Desain studi penelitian adalah cross sectional dengan sumber data dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Total sampel yang digunakan adalah 1164 yang kemudian diolah dengan analisis univariat, bivariat, dan stratifikasi. Jumlah resistensi pre-XDR-TB dan XDR-TB di DKI Jakarta mencapai 9,7% dari total kasus TBC-RO DKI Jakarta. Karakteristik pasien TBC-RO di DKI Jakarta mayoritas merupakan laki-laki (57,5%), usia 45-54 tahun (22,9%), status sosioekonomi tidak bekerja (28,1%), pasien TBC-RO dengan DM tipe 2 (23,2%), pasien HIV-TBC-RO (3,3%) riwayat pengobatan baru (44,8%) dan penyebab resistensi merupakan acquired resistance (47,8%). Dari analisis bivariat didapatkan, laki-laki (POR = 0,675; 95% CI: 0,458-0,996) merupakan faktor protektif dan status sosioekonomi tidak bekerja (POR = 1,65; 95% CI: 1,021-2,649) merupakan faktor risiko terhadap resistensi pre-XDR-TB dan XDR-TB. Direkomendasikan untuk pemerintahan memberi dukungan ekonomi kepada pasien TBC-RO yang sedang menjalani pengobatan TB.

Drug resistant TB (DR-TB) has become a public health threat. Globally, Indonesia ranked the fourth place in the incidence cases of DR-TB and the enrollment rate for MDR/RR-TB was still below the national target which consequentially can push the burden of pre-extensively drug resistant TB (pre-XDR-TB) and extensively drug resistant TB (XDR-TB) in Indonesia. The objective of this research is to identify the risk factors that is associated with the occurrence of pre-XDR-TB and XDR-TB in DKI Jakarta in 2021-2022. This study uses a cross sectional design and the data is obtained from the national TB information system (SITB). The total sample used for this study is 1164 which then analysed by univariate, bivariate and stratification analysis. The number of pre-XDR-TB and XDR-TB cases in DKI Jakarta reaches 9.7% from the total cases of DR-TB in DKI Jakarta. The characteristics of the majority of DR-TB patients in DKI Jakarta are male (57,5%), age 45-54 (22,9%), unemployed socioeconomic status (28,1%), DR-TB with DM type 2 (23,2%), DR-TB with HIV (3,3%), have no history of previous treatment (44,8%) and cause of resistance is acquired resistance (47,8%). From bivariate analysis it is obtained, being male (POR = 0,68) is a protective factor and socioeconomic status of not working (POR = 1,65) is a risk factor for pre-XDR-TB and XDR-TB resistance. It is recommended for the government to provide economic support for DR-TB patients that are undergoing TB treatment.
Read More
S-11638
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ririn Ayudiasari; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal, Meilina Farikha
Abstrak:
Tren angka putus berobat pada pasien TBC RO cenderung fluktuatif. Angka putus berobat TBC RO pada tahun 2020 sebesar 19%, angka ini menurun dibandingkan tahun 2019 sebesar 22% dan 2018 sebesar 27%. Angka putus berobat ini memberikan dampak yang besar bagi indikator program tuberkulosis nasional yang secara tidak langsung memengaruhi keberhasilan pengobatan TBC RO yang belum mencapai target 80%. Penelitian terdahulu menyebutkan kejadian putus berobat ini dipengaruhi oleh faktor karakteristik individu, faktor perilaku, dan faktor lingkungan. Akan tetapi, penyebab pasti dari kejadian putus berobat pasien TBC RO di Indonesia belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia Tahun 2022-2023. Sampel penelitian ini adalah semua kasus pasien TBC RO di Indonesia yang memulai pengobatan pada tahun 2022-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan dinyatakan sembuh, pengobatan lengkap, dan putus berobat pada Mei 2024. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan antara faktor umur, jenis kelamin, status HIV, status DM, jenis resistansi, kategori panduan OAT, dan jenis fasyankes terhadap kejadian putus berobat pada pasien TBC RO. Sedangkan faktor riwayat pengobatan dan wilayah fasyankes tidak menunjukan adanya hubungan yang signifikan dengan kejadian putus berobat. Perluasan fasyankes pelaksana layanan TBC RO dan kolaborasi antara fasyankes dan komunitas TB dalam melakukan pendampingan dan memberikan dukungan psikososial dapat membantu mencegah terjadinya kejadian putus berobat pada pasien TBC RO di Indonesia.

The trend of treatment loss to follow up (LTFU) rates in DR-TB patients tends to fluctuate. The DR-TB treatment LTFU 2020 was 19%, this number decreased compared to 2019 of 22% and 2018 of 27%. LTFU have a major impact on national TB programme indicators, which indirectly affect the success of DR-TB treatment, which has not yet reached the 80% target. Previous studies have found that LTFU is influenced by individual characteristics, behavioural factors, and environmental factors. However, the exact causes of LTFU among DR-TB patients in Indonesia are still unknown. This study aims to find out what factors are associated with the incidence of LTFU in patients with DR-TB in Indonesia in 2022-2023. The sample of this study was all DR-TB patients in Indonesia who started treatment in 2022-2023 and had the final results of treatment declared cured, complete treatment, and LTFU in May 2024. The results showed that there was an association between age, gender, HIV status, DM status, type of resistance, OAT guideline category, and type of health facility with LTFU in patients with DR-TB. Meanwhile, the treatment history and health facility region did not show a significant association with LTFU. Expansion of health facilities providing DR-TB treatment and collaboration between health facilities and TB communities in assisting and providing psychosocial support can help prevent LTFU among patients with DR-TB in Indonesia.
Read More
S-11668
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohamad Rizaldi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Alvin Kosasih, Tavip Triyono
Abstrak: Kabupaten Bogor merupakan daerah prioritas utama penanggulangan TB di Indonesia dengan jumlah kasus TB ditemukan tahun 2020-2021 sebanyak 22.189 kasus dengan 728 kasus (3,3%) terkonfirmasi sebagai TB-RO. Angka kesembuhan TB-RO semakin menurun sedangkan angka kematiannya meningkat. Tujuan penelitian ini untuk menghitung mortality rate dan perbedaan probabilitas survival antara kelompok terpapar dan tidak terpapar faktor risiko serta mengetahui hubungan antara co-infeksi HIV, DM dan pola resistensi dengan ketahanan hidup TB-RO. Studi cohort retrospektive dan analisis survival dilakukan dengan memanfaatkan data TB.03 dan TB.01 SITB Kab. Bogor, SITB RSUD Cibinong dan SITB RSPG Cisarua. Hasil penelitian didapatkan mortality rate kumulatif sebesar 31,9/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 62,3%. Mortality rate pada kelompok HIV positif:131/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 37,5% (log-rank test 0,004). Pada kelompok DM:53,3/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 40,4%. (log-rank test 0,002). Pada pola Pre-XDR/XDR sebesar 42,4/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 55,4%. Sedangkan pola poliresisten/MDR:34,8/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 56,2% (log-rank test 0,023). HIV (HR:7,32;95%CI:2,7019,81;p-value:0,001), DM T*≥ 2 bulan (HR:2,03;95%CI: 1,05-3,92;p-value:0,31). Pola Pre-XDR/XDR (HR:3,98;95%CI:1,59-9,9;p-value:0,003) serta pola poliresisten/MDR (HR:2,84;95%CI:1,23-6,58;p-value:0,014) berhubungan dengan ketahanan hidup penderita TB-RO. Diharapkan RS rujukan TB-RO memaksimalkan tatalaksana, jejaring internal, sinkronisasi data SITB.. Bagi Dinkes Kab. Bogor dapat memaksimalkan kegiatan MICA dan meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan TB-RO
Read More
T-6385
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elizabeth Simamora; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Yunis Tri Miko Wahyono, M. Arifin Nawas
S-6798
Depok : FKM UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Yuri Karlinda; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Helda, Sulistyo
Abstrak:
Angka keberhasilan pengobatan TBC RO di Indonesia masih rendah, yaitu 45–68% pada tahun 2011-2023, dengan angka putus berobat sekitar 10–30%, dan angka kematian sekitar 11–20%. Sejak Agustus 2020, Indonesia mulai mengimplementasikan paduan jangka pendek oral 9 bulan untuk pengobatan TBC RO. Namun, data nasional menunjukkan efektivitasnya belum lebih baik dibandingkan dengan paduan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi determinan keberhasilan pengobatan pasien TBC RO dengan paduan jangka pendek oral 9 bulan di Indonesia tahun 2021–2023. Desain penelitian adalah kohort retrospektif menggunakan data sekunder dari Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB). Subjek penelitian adalah seluruh pasien TBC RO yang memulai pengobatan pada 2021–2023 dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi (total sampling, n=6.727). Analisis multivariat dilakukan dengan cox regression. Sebanyak 3.342 pasien (49,68%) berhasil menyelesaikan pengobatan. Pola resistensi, kepatuhan terhadap pengobatan, dan konversi sputum dalam ≤4 bulan merupakan determinan keberhasilan pengobatan TBC RO dengan paduan jangka pendek oral 9 bulan. Selain itu, penelitian ini juga mengembangkan model prediksi keberhasilan pengobatan berbasis fungsi cox regression. Model menunjukkan kemampuan diskriminatif yang sangat baik, dengan nilai AUC sebesar 0,941 (95% CI: 0,935–0,946). Model ini berpotensi digunakan sebagai alat bantu identifikasi pasien berisiko rendah atau tinggi dalam pengobatan TBC RO. Diperlukan pemantauan pengobatan secara ketat, pendampingan pasien oleh faskes dan komunitas, serta pemanfaatan teknologi digital dalam monitoring pengobatan untuk meningkatkan keberhasilan pengobatan.

Treatment success for drug-resistant tuberculosis (DR-TB) in Indonesia is still low, with rates between 45% and 68% from 2011 to 2023. Loss to follow-up ranged from 10% to 30%, and death rates were around 11% to 20%. Since August 2020, Indonesia has started using a 9-month all-oral shorter treatment regimen. However, national data show that this regimen does not perform better than the longer one. This study aimed to find the factors that influence treatment success among DR-TB patients who received the 9-month all-oral regimen in Indonesia from 2021 to 2023. This study used a retrospective cohort study using secondary data from the national Tuberculosis Information System (SITB). The study included all DR-TB patients who started treatment between 2021 and 2023 and met the inclusion and exclusion criteria (total sample: 6,727 patients). Multivariate analysis was conducted using cox regression. A total of 3,342 patients (49.68%) successfully completed treatment. Drug resistance patterns, treatment adherence, and sputum conversion within ≤4 months were identified as key determinants of treatment success under the 9-month all-oral regimen. In addition, this study developed a predictive model for treatment success using Cox regression. The model demonstrated excellent discriminatory performance, with an AUC of 0.941 (95% CI: 0.935–0.946). This predictive tool has the potential to identify high- and low-risk patients of unsuccessful treatment outcomes in drug-resistant TB (DR-TB) management. Strengthened treatment monitoring, patient support by healthcare facilities and communities, and the use of digital technologies for treatment monitoring are needed to improve treatment outcomes.

Read More
T-7307
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlya Niken Pradipta; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Irene, Bai Kusnadi
Abstrak:
Penyakit Influenza adalah salah satu penyakit ISPA yang mendapat perhatian karena dapat menimbulkan wabah. Di Indonesia positivity rate influenza mencapai 40,3%, dimana virus yang teridentifikasi adalah virus A (subtype H1N1Pdm09 dan AH3) dan virus B (subtype Victoria). Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian Influenza A dan B di DKI Jakarta tahun 2021-2022. Studi cross sectional dan analisis cox regression yang mengestimasi nilai Prevalence Ratio (PR) dilakukan dengan memanfaatkan data sekunder surveilans Influenza Like Illness di DKI Jakarta tahun 2021-2022. Hasil penelitian didapatkan prevalensi Influenza positif sebesar 27,8%. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko yang berhubungan dengan influenza A dan B adalah usia 5 – 64 tahun memiliki PR 0,51 kali (p-value=0,006; 95% CI=0,31 – 0,82), kontak orang sakit memiliki PR 2,27 kali (p-value=<0,001; 95% CI=1,45 – 3,56), dan musim hujan memiliki PR 3,26 kali (p-value=<0,001; 95% CI=1,68 – 6,33) mengalami influenza A dan B. Musim hujan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi Kejadian influenza A dan B di DKI Jakarta Tahun 2021-2022.

Influenza is one of the ARI diseases that receives attention because it can cause outbreaks. In Indonesia, influenza positivity rate reached 40.3%, where the identified viruses are virus A (subtype H1N1Pdm09 and AH3) and virus B (subtype Victoria). The purpose of this study is to determine the factors that influence the incidence of Influenza A and B in DKI Jakarta in 2021-2022. Cross sectional study and cox regression analysis estimating the Prevalence Ratio (PR) value were conducted by utilizing secondary data of Influenza Like Illness surveillance in DKI Jakarta in 2021-2022. The results showed that the prevalence of positive Influenza was 27.8%. The results of multivariate analysis showed that the risk factors associated with influenza A and B were age>5-64 years had a PR of 0.51 times (p-value = 0.006; 95% CI = 0.31 - 0.82), contact with sick people had a PR of 2.27 times (p-value = <0.001; 95% CI = 1.45 - 3.56), and the rainy season had a PR of 3.26 times (p-value = <0.001; 95% CI = 1.68 - 6.33) of influenza A and B infection. The rainy season is the dominant factor influencing the incidence of influenza A and B in DKI Jakarta in 2021-2022.

Read More
T-6592
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Elizabeth Wulandari; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Woro Riyadina
Abstrak:

Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu dari 4 Provinsi di Indonesia yang menjadi tempat implementasi awal dari penerapan penggunaan paduan BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid) untuk pengobatan TB RO dalam tatanan penelitian operasional. Tujuan penelitian ini adalah membandingkan keberhasilan pengobatan pasien TB RO pada penggunaan Bedaquiline dalam paduan pengobatan dengan keberhasilan pengobatan pasien TB RO tanpa Bedaquiline dalam paduan pengobatan. Penelitian menggunakan rancangan kohort retrospektif dan analisis datanya dengan analisis survival dari data Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Provinsi DKI Jakarta tahun 2020 – 2023. Hasil penelitian: Pada pola resistansi Monoresistan, Rifampisin Resistan, Poliresistan dan Multidrugs Resistant keberhasilan paduan pengobatan yang menggunakan Bedaquiline tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan keberhasilan pengobatan menggunakan paduan tanpa Bedaquiline setelah dikontrol oleh variabel jenis paduan pengobatan (HR 1,01; 95% CI 0,79 -1,29; p-value= 0,939). Pada pola resistansi pre-Extensively Drug Resistant dan Extensively Drug Resistant, keberhasilan paduan pengobatan menggunakan Bedaquiline juga tidak berbeda bermakna bila dibandingkan keberhasilan paduan pengobatan tanpa Bedaquiline dengan mempertimbangkan jenis paduan pengobatan (HR 1,14; 95% CI 0,34 – 3,82; p-value= 0,835). Diharapkan tenaga kesehatan tetap memberikan edukasi pentingnya kepatuhan regimen pengobatan dan dukungan sosial serta psikologis kepada pasien untuk menbantu pasien tetap konsisten menjalani pengobatan.


DKI Jakarta Province is one of 4 Provinces in Indonesia for the initial implementation site of the BPaL (Bedaquiline, Pretomanid, Linezolid) combination for treating DR-TB (Drug Resistant Tuberculosis) in an operational research order. The study aimed to compare the success of treatment of TB RO patients with the use of Bedaquiline in the treatment combination with the success of treatment of TB RO patients without Bedaquiline in the treatment combination. The study used a retrospective cohort design and data analysis with survival analysis from the Tuberculosis Information System (SITB) data of DKI Jakarta Province in 2020 – 2023. Results of the study shows that in Monoresistant, Rifampicin Resistant, Polyresistant and Multidrugs Resistant resistance patterns, the success of treatment combination using Bedaquiline did not show a significant difference with the success of treatment combination without using Bedaquiline after being controlled by treatment combination type variable (HR 1.01; 95% CI 0.79 -1.29; p-value = 0.939). In pre-Extensively Drug Resistant and Extensively Drug Resistant resistance patterns, the success of treatment combination using Bedaquiline was also not significantly different when compared to the success of the treatment combination without Bedaquiline after being controlled by treatment combination type variable (HR 1.14; 95% CI 0.34 – 3.82; p-value = 0.835). Health workers are expected to continue providing education on the importance of compliance with treatment regimens and giving social and psychological support to patients in order to maintain patient’s consistency in undergoing treatment.

Read More
T-6981
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggie Hardiyanti; Pembimbing: Helda; Penguji: Trisari Anggondowati, Sulistyo, Budi Setiawan
Abstrak:
Loss to follow up (LTFU) menjadi kontributor utama ketidakberhasilan pengobatan tuberkulosis sensitif obat (TB SO) di Provinsi DKI Jakarta, dengan proporsi 14,2–14,4% pada periode 2023–2025, jauh di atas rata-rata nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis waktu kejadian LTFU, mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan, dan membangun model prediksi risiko LTFU pada pasien TB SO di DKI Jakarta. Desain yang digunakan adalah kohort retrospektif berbasis data sekunder Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB) Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta periode 1 Januari 2023–31 Desember 2025. Sampel akhir terdiri dari 110.493 pasien. Analisis waktu kejadian dilakukan menggunakan metode Kaplan-Meier, regresi Cox Proportional Hazards, dan Extended Cox Regression. Dari total sampel, 18.928 pasien (17,13%) mengalami LTFU, dengan median waktu kejadian LTFU pada hari ke-64 (IQR: 30–113). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor yang secara signifikan meningkatkan risiko LTFU adalah jenis kelamin laki-laki (aHR=1,403; 95%CI=1,359–1,449), riwayat pengobatan TB sebelumnya (aHR=1,301; 95%CI=1,232–1,374), status diabetes melitus (aHR=1,232; 95%CI=1,170–1,297), diagnosis klinis (aHR=1,093; 95%CI=1,058–1,128), regimen tidak sesuai standar (aHR=1,151; 95%CI=1,070–1,239), dan usia ≥45 tahun (aHR=1,056; 95%CI=1,024–1,088). Sebaliknya, status bekerja (aHR=0,833), pelajar (aHR=0,712), dan rujukan dari fasilitas lain (aHR=0,905) bersifat protektif. Pengobatan di puskesmas menunjukkan risiko LTFU lebih rendah dibandingkan rumah sakit pada 120 hari pertama (aHR=0,316). Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa LTFU dipengaruhi oleh interaksi faktor sosiodemografi, klinis, dan layanan kesehatan. Periode 64–120 hari pertama merupakan waktu kritis yang memerlukan penguatan pemantauan dan intervensi berbasis risiko.

Loss to follow up (LTFU) remains the primary contributor to treatment failure in drug-susceptible tuberculosis (DS-TB) in DKI Jakarta, with a proportion of 14.2–14.4% during 2023–2025, substantially exceeding the national average. This study aimed to analyze the time-to-event of LTFU, identify associated risk factors, and develop an LTFU risk prediction model among DS-TB patients in DKI Jakarta. A retrospective cohort design was employed using secondary data from the Tuberculosis Information System (SITB) of the DKI Jakarta Provincial Health Office, covering January 1, 2023 to December 31, 2025. The final sample consisted of 110,493 patients. Time-to-event analyses were conducted using the Kaplan-Meier method, Cox Proportional Hazards regression, and Extended Cox Regression. Of the total sample, 18,928 patients (17.13%) experienced LTFU, with a median time-to-LTFU of day 64 (IQR: 30–113). Multivariate analysis identified the following significant predictors of LTFU: male sex (aHR=1.403; 95%CI=1.359–1.449), prior TB treatment history (aHR=1.301; 95%CI=1.232–1.374), diabetes mellitus comorbidity (aHR=1.232; 95%CI=1.170–1.297), clinical diagnosis (aHR=1.093; 95%CI=1.058–1.128), non-standard treatment regimen (aHR=1.151; 95%CI=1.070–1.239), and age ≥45 years (aHR=1.056; 95%CI=1.024–1.088). Conversely, employment (aHR=0.833), student status (aHR=0.712), and referral from another facility (aHR=0.905) were protective factors. Patients treated at primary health centers (puskesmas) had significantly lower LTFU risk compared to hospitals during the first 120 days (aHR=0.316). These findings confirm that LTFU is determined by the interaction of sociodemographic, clinical, and healthcare service factors. The first 64–120 days of treatment represent a critical window requiring intensified monitoring and risk-stratified intervention.
Read More
T-7669
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arsyalia Witri Adinda; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Evi Martha, Esti Widiastuti Mangunadikusumo
Abstrak:
Depresi merupakan gangguan mental yang keberadaannya berkaitan erat dengan penyakit kronis. Salah satu penyakit kronis yang penderitanya paling banyak mengalami depresi adalah diabetes melitus. DKI Jakarta merupakan provinsi di Indonesia dengan prevalensi depresi dan diabetes melitus yang terus meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian depresi pada penderita diabetes melitus di DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi potong lintang. Sumber data yang digunakan, yaitu data Riset Dasar Kesehatan (Riskesdas) 2018. Sampel terdiri dari 421 penderita diabetes melitus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah uji regresi logistik ganda. Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 421 subjek penelitian, sebanyak 13,8% mengalami depresi. Hasil analisis pada penelitian ini menunjukkan hasil yang signifikan antara faktor biologis, yaitu jenis kelamin (POR = 7,97 (95% CI = 3,23-19,62), p = <0,001) dan lama menderita diabetes melitus (POR = 2,72 (95% CI = 1,48-5,01), p = 0,001), faktor psikologis, yaitu status merokok (POR = 5,45 (95% CI = 2,43-12,24), p = <0,001), konsumsi alkohol (POR = 5,76 (95% CI = 1,32-25,04), p = 0,020), dan tingkat aktivitas fisik (POR = 2,38 (95% CI = 1,28-4,43), p = 0,006), serta faktor sosial, yaitu tingkat pendidikan, (POR = 2,79 (95% CI = 1,43-5,46), p = 0,003).

Depression is a mental disorder whose existence is closely related to chronic diseases. One of the chronic diseases that suffer from the most depression is diabetes mellitus. DKI Jakarta is a province in Indonesia with an increasing prevalence of depression and diabetes mellitus. This study aims to determine the determinants of the incidence of depression in patients with diabetes mellitus in DKI Jakarta. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. The data source used, namely the 2018 Basic Health Research (Riskesdas) data. The sample consisted of 421 people with diabetes mellitus who met the inclusion and exclusion criteria. The analysis used in this study was multiple logistic regression test. The results of the analysis showed that of the 421 research subjects, 13.8% experienced depression. The results of the analysis in this study showed significant results between biological factors, namely gender (POR = 7.97 (95% CI = 3.23-19.62), p = <0.001) and duration of diabetes mellitus (POR = 2.72 (95% CI = 1.48-5.01), p = 0.001), psychological factors, namely smoking status (POR = 5, 45 (95% CI = 2.43-12.24), p = <0.001), alcohol consumption (POR = 5.76 (95% CI = 1.32-25.04), p = 0.020), and physical activity level (POR = 2.38 (95% CI = 1.28-4.43), p = 0.006), and social factors, namely education level, (POR = 2.79 (95% CI = 1.43-5.46), p = 0.003).
Read More
S-11589
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Musfardi Rustam; Pembimbing: Ratna Djuwita, Sudarto Ronoatmodjo; Erlina Burhan; Penguji: Sudijanto Kamso, Meutia Farida Hatta Swasono, Evi Martha, Tri Yunis Miko, Soewarta Kosen, Hariadi Wibisono
Abstrak:
Peningkatan insidensi kasus Tuberkulosis Resistensi Obat (TB-RO) merupakan masalah besar dalam kesehatan masyarakat di Indonesia. Salah satu faktor risiko timbulnya kasus TB-RO adalah tingginya prevalensi DM tipe 2. Prevalensi DM tipe 2 pada pasien TB-RO sangat tinggi yakni berkisar antara 18,8% sampai 23,3%. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara diabetes mellitus tipe 2 dengan kejadian TB-RO pada Masyarakat Melayu di Provinsi Riau Tahun 2014-2018. Desain penelitian kuantitatif adalah kasus kontrol pada 251 kasus (TB- RO) dan 502 kontrol (Tuberkulosis Sensitif Obat/TB-SO). Data kuantitatif diperoleh dari data sekunder TB-RO yaitu form 01.TB-RO, Form 03.TB-RO, rekam medis dan e-TB manager. Sedangkan data sekunder TB-SO diperoleh dari form.01 TB-SO, Form.03 TB-SO, rekam medis dan Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT). Variabel independen adalah DM Tipe 2, variabel kovariat adalah usia, jenis kelamin, Pendidikan, pekerjaan, kategori tempat tinggal, status pernikahan, status HIV dan riwayat pengobatan TB sebelumnya. Dalam mendukung penelitian kuantitatif, maka dilakukan penelitian kualitatif pendekatan sejarah hidup (Life History) dengan metode diskusi kelompok kecil (DKK) dan wawancara mendalam (WM). Data kuantitatif dianalisis dengan uji regresi logistik. Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa pada orang yang DM tipe 2 memiliki risiko 2,27 kali (95% CI: 1,58-3,27) untuk mengalami kejadian TB-RO jika dibandingkan dengan pasien yang tidak DM tipe 2 setelah dikontrol variabel pekerjaan, tempat tinggal, status pernikahan dan riwayat pengobatan TB sebelumnya. Hasil penelitian kualitatif untuk memperoleh riwayat kejadian penyakit DM tipe 2 terjadi lebih dahulu dari pada kejadian TB-RO serta melihat faktor resiko sosial budaya yang berpengaruh terhadap terjadinya TB-RO pada masyarakat Melayu di Provinsi Riau. Faktor risiko sosial budaya yang memungkinkan berhubungan dengan TB-RO adalah kebiasaan minum manis, kepatuhan menelan obat TB-RO, Kepatuhan minum obat DM dan masyarakat Melayu Daratan

Increased incidence of drug-resistant tuberculosis (DRTB) is a major public health problem in Indonesia. One of risk factors for the emergence of DRTB case is a high prevalence of type-2 diabetes mellitus (DM). The prevalence of type-2 DM in patients with DRTB is very high, ranging from 18.8% to 23.3%. This study aimed to determine relationship between type-2 DM and the incidence of DRTB in Malay community, Riau Province, in 2014-2018. The quantitative study design was case control in 251 cases (DRTB) and 502 controls (drug-sensitive tuberculosis / DSTB). Quantitative data were obtained from DRTB secondary data, namely Form 01.DRTB, Form 03.DRTB, medical records and electronic TB manager (e-TB manager); while, DSTB secondary data were obtained from DSTB Form.01, DSTB Form.03, medical records and Integrated Tuberculosis Information System. The independent variable was type-2 DM, and the covariate variables were age, sex, education, occupation, residence category, marital status, HIV status and previous TB treatment record. In supporting the quantitative study, qualitative study was conducted with life history approach using a small group discussion method and in-depth interview. Quantitative data were analysed with logistic regression. Quantitative study results showed that peoples with type-2 DM had a 2.27 times risk (95% CI: 1.58-3.27) to experience the incidence of DRTB if compared to peoples without type-2 DM after controlling for occupation, residence, marital status and previous TB treatment record. The results of qualitative study were to obtain a record of the incidence of type-2 DM that occurred earlier than the incidence of DRTB and to examine socio-cultural risk factors affecting the occurrence of DRTB in the Malay community, Riau Province. Possible socio-cultural risk factors associated with DRTB were habits of drinking sweet drinks, adherence to taking DRTB medicine, adherence to taking DM medicine, and the community of Mainland Malay
Read More
D-414
Depok : FKM-UI, 2020
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive