Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36403 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rafi Sufianto; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Edy Sufa'at
Abstrak:
Pengujian Kendaraan Bermotor (PKB) Unit Pulo Gadung merupakan serangkaian kegiatan menguji dan/atau mengecek komponen kendaraan bermotor untuk memastikan pemenuhan persyaratan teknis dan kelaikan jalan. Oleh karena itu, pekerja di UP PKB Pulo Gadung berisiko mengalami kejadian tekenanan panas yang berpotensi keluhan kesehatan subjektif akibat panas. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kejadian tekanan panas melalui pengukuran real time monitoring heat index dengan keluhan kesehatan subjektif. Faktor – faktor risiko yang diteliti meliputi faktor kondisi lingkungan, faktor karakteristik pekerja dan faktor aktivitas pekerjaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain metode cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan alat hasil pengembangan real time monitoring heat index. Jumlah sampel pada penelitian ini adalah 40 pekerja. Hasil penelitian terdapat hubungan antara kejadian tekanan panas dengan keluhan kesehatan subjektif (OR = 5,571) yang menunjukkan bahwa 20 pekerja outdoor seluruhnya mengalami kejadian tekanan panas, dengan 7 (35%) pekerja mempunyai keluhan ringan dan 13 (65%) pekerja lainnya mempunyai keluhan berat. Di sisi lain, seluruh pekerja indoor yang berjumlah 20 pekerja tidak mengalami kejadian tekanan panas, dengan 15 (75%) pekerja mempunyai keluhan ringan dan 5 (15%) pekerja lainnya mempunyai keluhan berat.

Vehicle Testing (PKB) Pulo Gadung Unit is a series of activities to test and/or check motor vehicle components to ensure the fulfillment of technical requirements and roadworthiness. Therefore, workers at UP PKB Pulo Gadung are at risk of experiencing heat stress events that have the potential for subjective health complaints due to heat. This study aims to see the relationship between the incidence of heat stress through the measurement of real time monitoring heat index with subjective health complaints. The risk factors studied include environmental condition factors, worker characteristics factors and work activity factors. This study is a quantitative study with a cross-sectional method design. Data collection was carried out using questionnaires, observations, and environmental measurements using a tool developed from the real time monitoring heat index. The number of samples in this study was 40 workers. The results showed that there was a relationship between the incidence of heat stress and subjective health complaints (OR = 5.571) which showed that 20 outdoor workers all experienced heat stress, with 7 (35%) workers having mild complaints and 13 (65%) other workers having severe complaints. On the other hand, all 20 indoor workers did not experience heat stress, with 15 (75%) workers having mild complaints and 5 (15%) workers having severe complaints.
Read More
S-11647
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zuly Prima Rizky; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya; Fatchuri
S-8897
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Armando Wijaya Tampubolon; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Edy Sufaat
Abstrak:
Emisi kendaraan termasuk emisi lalu lintas dan transportasi telah menjadi sumber partikulat terbesar di banyak kota di berbagai negara. Masalah kesehatan akibat partikulat dari kendaraan bermotor tidak hanya dapat terjadi di sekitar jalan raya, tetapi juga dapat terjadi di industri yang bersinggungan dengan kendaraan bermotor. Dengan kondisi tersebut, peneliti ingin melakukan penelitian di UP PKB Pulo Gadung untuk melihat hubungan antara konsentrasi PM2,5 dengan keluhan gangguan pernapasan. Sampel penelitian berjumlah 38 orang, yang terdiri dari penguji mekanis dan civitas FKM UI sebagai sampel pembanding. Hasil rata-rata pengukuran yang dilakukan di jalur uji mekanis adalah sebesar 100,53 μg/m3. Sedangkan hasil pengukuran di lingkungan FKM UI sebagai pembanding rata-rata sebesar 56,72 μg/m3. Sebanyak 33 dari 38 sampel mengalami gejala gangguan pernapasan, dengan gejala yang paling banyak dialami adalah bersin (76,31%). Dari hasil uji chi-square antara konsentrasi PM2,5 dan keluhan gangguan pernapasan didapatkan p-value = 0,05, yang artinya ada hubungan signifikan antara konsentrasi PM2,5 dengan keluhan gangguan pernapasan.

Vehicle emissions including traffic and transportation emissions have become the largest source of particulates in many cities in various countries. Health problems due to particulates from motor vehicles can not only occur around the highway, but can also occur in industries that are in contact with motor vehicles. Under these conditions, researchers wanted to conduct a study at UP PKB Pulo Gadung to see the relationship between PM2.5 concentrations and complaints of respiratory problems. The study sample totaled 38 people, consisting of mechanical testers and FKM UI community members as a comparison sample. The average result of measurements taken in the mechanical test track was 100.53 μg/m3. While the measurement results in the FKM UI environment as a comparison averaged 56.72 μg/m3. A total of 33 out of 38 samples experienced respiratory symptoms, with the most experienced symptom being sneezing (76.31%). From the results of the chi-square test between PM2.5 concentrations and respiratory complaints, the p-value = 0.05 was obtained, which means that there is a significant relationship between PM2.5 concentrations and respiratory complaints.
Read More
S-11697
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adinda Kusumawardhani; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Fatchuri
S-9012
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aisyah Indriani; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Rudy Saptari Sulesuryana
S-9014
Depok : FKM UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Brian Orchidias Seik; Pembimbing: Doni Hikmat Ramadhan; Penguji: Mila Tejamaya, Ali Syahrul Chairuman
Abstrak: Diesel Engine Exhaust adalah campuran kompleks dari substansi pada fase akhir gas danpartikulat pada saat pembakaran bahan bakar diesel. Fase partikulat DEE disebut dengan DieselExhaust Particles (DEP) dimana pada fase ini, terdapat beberapa elemen seperti ElementalCarbon (EC) dan komponen organik lainnya. Saat ini, EC digunakan sebagai parameterturunan bagi penilaian pajanan terhadap Diesel Particulate Matter (DPM) karena keakuratanpengukuran pada konsentrasi partikulat yang rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahuiapakah parameter EC dapat digunakan sebagai penanda DPM dengan menggunakan fraksipartikulat yang lebih kecil yaitu PM 0.25 dengan menggunakan desain penelitian observasionaldengan pendekatan penelitian kuantitatif. Penelitian ini mengambil 46 sampel filter yangdiambil di UP PKB Cilincing, Ujung Menteng dan Kelompok Kontrol pada bulan April-Mei2018. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa kelompok pengukuran dengan hasil analisis ECterhadap PM 0.25 bekorelasi positif dan linear signifikan adalah kelompok uji UP PKBCilincing, Kelompok Terpajan (Cilincing-Ujung Menteng), dan seluruh kelompok uji(Cilincing, Ujung Menteng, dan Kelompok Kontrol) (Sig<0.05) dengan derajat keeratansedang berkisar antara r=0,437 hingga r=0,526 serta koefisien determinasi berkisar antaraR2 =0,191 hingga R2 =0,277 (p<0.05) yang berarti parameter konsentrasi PM 0.25 memilikihubungan yang linear dan signifikan terhadap parameter EC. Korelasi paling erat ditunjukkandi UP PKB Cilincing (r=0,526, p=<0.025) sedangkan hasil uji analisis menyimpulkan bahwatidak terdapat korelasi positif antara variabel EC terhadap PM 0.25 di UP PKB Ujung Menteng(Sig>0.05, r=0,250; R 2 =0,063).Kata Kunci: Analisis Konsentrasi; Diesel Particulate Matter; Elemental Carbon; KonsentrasiParticulate Matter; Particulate Matter 2.5; Particulate Matter 0.25.
Read More
S-10285
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maheswara Ardhani Nararya; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Ade Kurdiman
Abstrak:
Tekanan panas merupakan salah satu faktor bahaya fisik di lingkungan kerja yang dapat menyebabkan berbagai gangguan kesehatan akibat panas. Oleh karena itu, diperlukan penilaian tekanan panas yang umumnya menggunakan indeks Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT). Namun, penggunaan alat ukur WBGT standar masih memiliki beberapa keterbatasan. Sebagai alternatif, telah dikembangkan alat real-time monitoring tekanan panas berbasis low-cost sensor yang terintegrasi dengan sistem Internet of Things (IoT). Namun, validitas hasil pengukuran alat tersebut masih belum diketahui secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis validitas alat real-time monitoring tekanan panas berbasis low-cost sensor terhadap alat ukur WBGT standar pada area indoor dan outdoor. Penelitian menggunakan desain studi komparasi (method comparison study) dengan pendekatan kuantitatif. Analisis validitas dilakukan melalui perbandingan hasil pengukuran alat real-time monitoring berbasis low-cost sensor dan alat ukur WBGT standar berdasarkan kriteria presisi, bias, linearitas, dan error pada parameter suhu kering, suhu basah alami, suhu radian, kelembapan relatif, dan nilai WBGT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa suhu kering memiliki validitas yang baik pada pengukuran indoor dan outdoor. Suhu basah alami dan suhu radian menunjukkan validitas yang baik pada pengukuran indoor, namun mengalami penurunan validitas pada pengukuran outdoor. Kelembapan relatif menunjukkan presisi dan linearitas yang baik, namun validitasnya belum optimal karena nilai bias dan error yang relatif tinggi. Nilai WBGT menunjukkan validitas yang sangat baik pada pengukuran indoor, namun masih memerlukan peningkatan akurasi pada pengukuran outdoor. Secara kesuluruhan, validitas alat real-time monitoring tekanan panas berbasis low-cost sensor lebih baik pada pengukuran indoor dibandingkan outdoor. Alat yang dikembangkan ini berpotensi digunakan sebagai sistem pemantauan tekanan panas secara real-time, terutama pada lingkungan indoor, dengan tetap memerlukan penyempurnaan alat untuk meningkatkan validitas pengukuran outdoor.

Heat stress is one of the physical hazards in the workplace that may cause various heat-related health effects. Therefore, heat stress assessment is required, which commonly assessed using Wet-Bulb Globe Temperature (WBGT) index. However, the use of standard WBGT instruments still has several limitations. As an alternative, a low-cost sensor-based real-time heat stress monitoring device integrated with an Internet of Things (IoT) system has been developed. However, the validity of its measurement results has not yet comprehensively known. This study aimed to determine and analyze the validity of a low-cost sensor-based real-time heat stress monitoring device against a standard WBGT instrument in indoor and outdoor environments. This study employed a quantitative method comparison design. Validity analysis was assessed by comparing measurements obtained from the low-cost sensor-based real-time monitoring device and the standard WBGT instrument based on precision, bias, linearity, and error for dry-bulb temperature, natural wet-bulb temperature, globe temperature, relative humidity, and the WBGT value. The results showed that dry-bulb temperature demonstrated good validity in both indoor and outdoor measurements. Natural wet-bulb temperature and globe temperature showed good validity in indoor measurements but experienced a decrease in validity during outdoor measurements. Relative humidity demonstrated good precision and linearity, but its validity was not optimal due to relatively high bias and error values. The WBGT value showed excellent validity in indoor measurements, but still required improved accuracy in outdoor environments. Overall, the validity of the low-cost sensor-based real-time heat stress monitoring device was better in indoor than outdoor environments. The developed device has the potential to be used as a real-time heat stress monitoring system, particularly in indoor settings, although further improvements are needed to enhance the validity of outdoor measurements.
Read More
S-12291
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mochammad Faried Karesya; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdham; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Abdul Kadir, Marina Kartikawati, Hairuddin Bangun Prasetyo
Abstrak:
Tingginya dampak fisiologis akibat tekanan panas telah terjadi pada pekerja Proyek Jabodebek LRT Depo Jatimulya salah satunya adalah gangguan pada fungsi organ tertentu dalam tubuh (heat related illness) dimana pekerja mengeluhkan cuaca panas jika di siang hari yang menyebabkan 7 (tujuh) pekerja diantaranya pusing dan 3 (tiga) pekerja lainnya mengeluhkan cepat haus. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tekanan panas dan keluhan subjektif pada pekerja proyek LRT Jabodebek Depo Jatimulya, baik outdoor (area lintasan) maupun indoor (OCC Building) sebanyak 185 responden. Penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan desain studi cross sectional dan menggunakan data sekunder yang dikumpulkan selama periode Agustus-Desember 2021. Hasil penelitian didapatkan bahwa mayoritas responden bekerja dengan nilai WBGT lebih dari NAB (67,0%) dan mengalami keluhan subyektif berat (73,5%). Dimana variabel temperatur udara (p-value = 0,000), kelembaban udara (p-value = 0,000), beban kerja (p-value = 0,001), pakaian kerja (p-value = 0,001), dan indeks tekanan panas (p-value = 0,000), memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan subyektif. Sedangkan kecepatan aliran udara (p-value = 0,240) tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan keluhan subyektif. Didukung dengan hasil pemodelan akhir, bahwa variabel indeks tekanan panas merupakan faktor yang paling dominan berhubungan dengan keluhan subyektif (OR 4,191). Diharapkan kedepannya perusahaan melakukan pengendalian teknik, pengendalian administratif, dan pengendalian personal, untuk meminimalisir risiko kejadian keluhan subyektif kepada para pekerja.

Heat stress has had a large physiological impact on workers in Jabodebek Depo Jatimulya Light Rail Transit (LRT) Construction Project, one of which is a disruption in the function of certain organs in the body, where workers complain of hot weather during the day, which leads 7 (seven) workers had dizziness and 3 (three) other workers complain of thirst. The purpose of this study is to examine the association between workers' subjective complaints due to heat exposure among 185 workers, both outdoors and indoors. This study is quantitative research using a cross-sectional study design, secondary data gathered between August and December 2021. The results showed that the majority of respondents worked with WBGT values of more than threshold values (67.0%) and experienced severe subjective complaints (73.5%). The air temperature (p-value = 0,000), air humidity (p-value = 0,000), workload (p-value = 0.001), workwear (p-value = 0.001), and heat pressure index (p-value = 0,000) have a significant relationship with subjective complaints, while the velocity of air flow (p-value = 0.240) does not. It is supported by the results of the final modeling that the heat pressure index variable is the most dominant factor related to subjective complaints (OR 4,191). It is hoped that in the future, the corporation will implement technical, administrative, and personal controls to reduce the likelihood of subjective complaints from employees
Read More
T-6571
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yogi Ardyansih; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Hendra, Doni Hikmat Ramdhan, Wahyono Budianto, Bagus Joko Susanto
Abstrak: Tesis ini membahas Hubungan Tekanan panas dan Keluhan Kesehatan SubjektifPekerja di Casting Plant. Penggunaan suhu tinggi pada proses produksiberpengaruh terhadap peningkatan suhu lingkungan kerja. Tekanan panasmerupakan salah satu bahaya fisik yang dapat dirasakan oleh pekerjadilingkungan kerja panas. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross sectional.Dari data yang telah diperoleh pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwapada area AHPC faktor umur berhubungan signifikan pada keluhan heat rash (P0,023). Namun faktor umur pada area ALPC tidak ada hubungan dengan heatrash, heat cramps, heat syncope, dehydration, heat exhaustion, dan heat stroke.Sedangkan faktor masa kerja, IMT, dan asupan air minum pada area AHPC danALPC tidak ada hubungan dengan heat rash, heat cramps, heat syncope,dehydration, heat exhaustion, dan heat stroke.Kata kunci : Tekanan panas, keluhan kesehatan
The use of high temperature in production process affect the improvement ofworking environment temperatures. Heat stress is one of physical hazards that canfelt by workers in the hot work environment. This study used cross sectionalapproach. The conclusion of this study that age factor in AHPC area significantlyassociated with heat rash symptoms. But in ALPC area age factor is not related tohealth complaints. Working period, dimensions of the body, and intake of water inAHPC and ALPC area no relationship with subjective health complaints.Keywords: heat stress, health complaints, age, working period, dimension of thebody, intake of water
Read More
T-4458
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wawan Sasongko; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Rahmi, Auliah
Abstrak: Pembangunan Depo Light Rail Transit (LRT) Jabodebek memiliki luas sekitar 12 ha yang mana 80% areanya merupakan area terbuka (terpajan panas). Mekanisme terjadinya heat stress terjadi karena kombinasi dari faktor lingkungan, faktor pekerjaan, dan karakteristik pekerjaan. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain studi cross-sectional yang telah dilakukan pada bulan Agustus 2021 dengan 185 responden (126 pekerja outdoor dan 59 pekerja indoor). Hasil penelitian menunjukan indeks WBGT outdoor berada pada kisaran 25,9º C - 33,1º C dengan rata-rata 29,4º C dan WBGT indoor yaitu berada diantara 25,9º C - 35,3º C dengan rata-rata 30,4º C. Setelah dilakukan observasi dan perhitungan antara beban kerja, pola kerja dan faktor koreksi pakaian yang merujuk dari Peraturan Menteri Kesehatan nomor 70 Tahun 2016, diketahui bahwasannya 100% responden penelitian mengalami kejadian tekanan panas. Pada pekerja outdoor terdapat 56,35% merasakan keluhan ringan dan 43,65% merasakan keluhan berat. Persentase keluhan/gangguan kesehatan tertinggi yang dirasakan yaitu jarang buang air kecil (98,41%), lemas (88,89%), dan banyak keringat (85,71%). Sedangkan untuk pekerja indoor terdapat 67,80% merasakan keluhan ringan dan 32,20% merasakan keluhan berat. Persentase keluhan/gangguan kesehatan tertinggi yang dirasakan yaitu kurang konsentrasi (62,71%), kram otot tungkai bawah (57,63%) dan kram otot lengan (55,93%). Berdasarkan hal tersebut, perlu dilakukan berbagai upaya pengendalian terhadap pajanan panas yang terdapat di proyek pembangunan depo LRT Jabodebek agar dapat meminimalisir dampak keluhan/gangguan kesehatan pada pekerja sehingga pekerja tidak menderita Heat Related Symptoms
The construction of the Jabodebek Light Rail Transit (LRT) Depo has an area of about 12 ha of which 80% of the area is an open area (exposed to heat). The mechanism of heat stress occurs due to a combination of environmental factors, job factors, and job characteristics. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design that was conducted in August 2021 with 185 respondents (126 outdoor workers and 59 indoor workers). The results showed that the outdoor WBGT index was in the range of 25.9º C - 33.1º C with an average of 29.4º C and indoor WBGT was between 25.9º C - 35.3º C with an average of 30.4º C. After observing and calculating the workload, work patterns and clothing correction factors referring to the Regulation of the Minister of Health number 70 of 2016, it is known that 100% of research respondents experienced heat stress events. In outdoor workers, 56.35% felt mild complaints and 43.65% felt severe complaints. The highest percentage of perceived health complaints/disorders were infrequent urination (98.41%), weakness (88.89%), and a lot of sweating (85.71%). Meanwhile, for indoor workers, 67.80% felt mild complaints and 32.20% felt severe complaints. The highest percentage of perceived health complaints/disorders were lack of concentration (62.71%), lower leg muscle cramps (57.63%) and arm muscle cramps (55.93%). Based on this, it is necessary to carry out various efforts to control heat exposure in the Jabodebek LRT depot development project in order to minimize the impact of complaints/health problems on workers so that workers do not suffer from Heat Related Symptoms.
Read More
S-10918
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive