Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40425 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Luthfiyanisa; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi; Penguji: Budi Haryanto, Tri Lusmantoro
Abstrak: Air menjadi kebutuhan esensial untuk masyarakat untuk memenuhi kebutuhan domestik. Namun, sulit untuk mengakses air bersih yang terjamin kualitasnya. Apalagi bagi masyarakat yang tinggal di kepulauan. Salah satu sumber air bersih yang dimanfaatkan adalah air hujan. Studi deskriptif kuantitatif ini dilakukan untuk menggambarkan kualitas air hujan yang dimanfaatkan sebagai air minum dan kondisi kesehatan masyarakat studi kasus di Pulau X, Kepulauan Seribu Tahun 2024. Variabel yang diteliti adalah untuk kualitas air hujan yang diambil di tiga titik sampel per RW, yaitu parameter bau, parameter biologi (E. coli), parameter kimia Selenium (Se), Mangan (Mn), Fluorida (F), dan Sulfat (SO4). Pengumpulan data parameter pendukung perawatan PAH, kondisi dan kualitas PAH menggunakan kuesioner dengan jumlah responden sebanyak 90. Kemudian, data sekunder terkait kondisi kesehatan masyarakat dengan indikator diare dan kaitannya dengan kejadian stunting akibat kerusakan vili usus dan menyebabkan malabsorbsi nutrisi akan diakses dari Puskesmas Pulau X. Setelah dilakukan uji laboratorium dan analisis univariat, kualitas air hujan di Pulau X belum memenuhi standar untuk konsumsi sehari-hari karena mengandung bakteri E. coli terdeteksi dalam sumber air hujan dan konsentrasi mineral esensial terdeteksi dalam jumlah yang sangat sedikit selenium, mangan, fluorida, dan sulfat yang diperlukan oleh tubuh sehingga dapat berkaitan dengan kejadian stunting akibat kekurangan mineral dan kejadian diare persisten.
Water is an essential to meet domestic needs. However, it is difficult to access drinking-water that is as safe as practicable. Especially for people who live on the small islands. One source of clean water that can be used is rainwater. This quantitative descriptive study was to describe the quality of rainwater used as drinking water and the health conditions of the community at X Island, Kepulauan Seribu. Biological parameters (E. coli), chemical parameters Selenium (Se), Manganese (Mn), Fluoride (F), and Sulfate (SO4). Data collection on supporting parameters for treatment, condition and quality of rainwater harvesting used a questionnaire with a total of 90 respondents. Then, secondary data related to public health conditions with indicators of diarrhea and its relation to the incidence of stunting due to damage to intestinal villi and causing malabsorption of nutrients will be accessed from the Island X Community Health Center. After laboratory tests and univariate analysis, the quality of rainwater on X Island contains E. coli were detected and essential mineral concentrations were detected in very small amounts so it can be related to stunting due to mineral deficiencies and persistent diarrhea.
Read More
S-11700
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Atmatuzahra ; Pembimbing: Zakianis; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:

Kualitas air minum menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan derajat kesehatan masyarakat terutama di wilayah yang padat penduduk. Penyakit yang ditularkan melalui air merupakan masalah kesehatan global yang diperkirakan berkontribusi terhadap lebih dari 2,2 juta kematian setiap tahunnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi sebaran kualitas air minum berdasarkan wilayah, mengukur tingkat kualitas air minum, dan mengevaluasi pengaruhnya terhadap kesehatan masyarakat di Kota Depok, Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional. Data diperoleh dari survei lapangan yang telah dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Depok dengan wawancara terstruktur dan uji laboratorium sampel air. Data kualitas air dari 570 rumah tangga dianalisis dengan menggunakan analisis korelasi dan spasial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekitar 97,5% sampel air rumah tangga di Depok tidak memenuhi standar kualitas air minum selama periode penelitian. Terdapat 94,1% sampel air yang digunakan untuk kegiatan minum dapat menyebabkan penyakit yang ditularkan melalui air. Faktor yang berhubungan signifikan dengan penyakit yang ditularkan melalui air adalah jenis pekerjaan (p-value = 0.003). Pemerintah daerah Kota Depok perlu melakukan pengawasan kualitas air secara berkala dan meningkatkan edukasi terkait kesadaran masyarakat mengenai pengelolaan air minum yang aman untuk mendukung derajat kesehatan masyarakat di Kota Depok.


The quality of drinking water is a critical determinant of public health, particularly in  densely populated urban areas. Waterborne diseases remain a major global health  concern and are estimated to contribute to over 2.2 million deaths annually. This study  aims to identify the distribution of drinking water quality by region, assess the level of  drinking water quality, and evaluate its impact on public health in Depok City, West Java.  The research was conducted using a quantitative approach with a cross-sectional design.  Data were obtained from field surveys previously carried out by the Depok City Health  Office through structured interviews and laboratory testing of water samples. Drinking  water quality data from 570 households were analyzed using correlation and spatial  analysis. The results showed that approximately 97.5% of household water samples in  Depok did not meet drinking water quality standards during the study period. About  94.1% of the water samples used for drinking had the potential to cause waterborne  diseases. The factor significantly associated with waterborne diseases was types of  occupation (p-value = 0.003). These results highlight the need for the local government  of Depok City to implement routine water quality monitoring and enhance public  awareness campaigns regarding safe drinking water management practices, as part of  broader efforts to improve community health outcomes.

Read More
S-11999
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Ariati Mukharomah; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Bambang Wispriyono, Budi Hartono, Medita Ervianti, Ikha Purwandari
Abstrak:
Diare adalah penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada balita, terutama di daerah dengan keterbatasan akses air bersih seperti kepulauan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kualitas lingkungan dengan status kesehatan balita dalam hal ini kejadian diare di Pulau Kelapa. Desain penelitian yang digunakan adalah studi kasus-kontrol dengan melibatkan responden dari kelompok kasus (balita diare) dan kelompok kontrol (balita tidak diare). Pengambilan data melalui wawancara dan uji laboratorium terhadap kualitas air bersih dan feses balita untuk mendeteksi keberadaan diarrheagenic E.coli. Periode penelitian selama tiga bulan dengan sampel kasus sebesar 20 sampel dan sampel kontrol sebesar 74 sampel. Analisis bivariat menunjukkan bahwa perilaku cuci tangan pakai sabun dan sumber air minum berhubungan signifikan dengan kejadian diare pada balita (OR = 3.789; OR = 5,914). Analisis multivariat menunjukkan bahwa sumber air minum adalah faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare balita (OR = 5,393). Temuan ini menunjukkan pentingnya intervensi pada perilaku higienis dan penyediaan air minum yang aman untuk mencegah diare pada balita khususnya di wilayah kepulauan.

Diarrhea is a major cause of morbidity and mortality in toddlers, especially in areas with limited access to clean water such as islands. This study aims to analyze the relationship between environmental quality and the health status of toddlers in this case the incidence of diarrhea on Kelapa Island. The research design used was a case-control study involving respondents from the case group (toddlers with diarrhea) and the control group (toddlers without diarrhea). Data collection through interviews and laboratory tests on the quality of clean water and toddler feces to detect the presence of diarrheagenic E. coli. The study period was three months with a case sample of 20 samples and a control sample of 74 samples. Bivariate analysis showed that handwashing behavior with soap and drinking water sources were significantly associated with the incidence of diarrhea in toddlers (OR = 3.789; OR = 5.914). Multivariate analysis showed that drinking water sources were the most influential factor in the incidence of diarrhea in toddlers (OR = 5.393). These findings indicate the importance of interventions on hygienic behavior and the provision of safe drinking water to prevent diarrhea in toddlers, especially in island areas.
Read More
T-7235
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohammad Ihsan; Pembimbing: Haryoto Kusno Putranto; Penguji: Al Asyary, Widya Utami
Abstrak:
Higiene dan sanitasi dasar yang tidak memadai dapat menjadi salah satu faktor risiko penyakit menular lingkungan seperti diare. Penyakit diare merupakan salah satu penyakit yang paling banyak ditemui di daerah pesisir seperti di Kelurahan Pulau Harapan. Selain higiene dan sanitasi, lantai yang merupakan bagian dari bangunan rumah, dapat menjadi faktor risiko lain dari penularan penyakit diare. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kondisi higiene dan sanitasi dasar serta kondisi lantai rumah dengan kejadian diare di Kelurahan Pulau Harapan, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu, Provinsi DKI Jakarta Desain studi yang digunakan adalah pada penelitian ini adalah cross-sectional, dengan metode pengambilan data berupa wawancara menggunakan instrumen kuesioner dan observasi langsung pada kondisi higiene dan sanitasi dasar serta kondisi lantai rumah rumah tangga penduduk. Dari total 96 responden pada penelitian ini, ditemukan kasus kejadian diare dalam sebulan terakhir, sebanyak 25 orang dan yang tidak mengalami kasus kejadian diare sebanyak 71 orang. Dengan kelompok anak-anak (dibawah 17 tahun) menjadi yang terbanyak yaitu berjumlah 13 kasus. Hasil analisis uji chi square menyatakan bahwa, terdapat hubungan yang signifikan pada variabel: jamban sehat (p-value 0,005), kualitas air (fisik) (p-value 0,005), dan fasilitas tempat sampah (p-value 0,019). Penentuan variabel yang paling dominan terhadap kejadian diare menggunakan uji regresi logistik didasarkan dari nilai Exp (B) atau Odds Ratio pada pemodelan multivariat akhir, yang terbesar adalah 6,389 pada variabel kondisi jamban (p-value 0,002), sehingga variabel kondisi jamban memiliki kecenderungan paling dominan yang berhubungan dengan penyakit diare. Dari penelitian ini, diharapkan pemerintah dan masyarakat dapat berkolaborasi untuk saling memperhatikan kebersihan lingkungan untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Kemudian, untuk penelitian selanjutnya dapat menggali lebih dalam terkait variabel lain yang mungkin berhubungan dengan kejadian diare di pulau lainnya dalam wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara.

Inadequate basic hygiene and sanitation can be a risk factor for environmental infectious diseases such as diarrhea. Diarrhea is one of the diseases most commonly found in coastal areas such as Pulau Harapan Village. Apart from hygiene and sanitation, the floor which is part of the house building, can be another risk factor for transmitting diarrheal diseases. This study aims to determine the relationship between basic hygiene and sanitation conditions and the condition of house floors with the incidence of diarrhea in Harapan Island Village, North Seribu Islands District, Seribu Islands Administrative Regency, DKI Jakarta Province. The study design used in this research is cross-sectional, with data collection methods in the form of interviews using questionnaire instruments and direct observation of basic hygiene and sanitation conditions as well as the condition of the floors of residents' households. The number of total respondent in this research (96), 25 people found cases of diarrhea in the last month and 71 people did not experience cases of diarrhea. Children (under 17 years) are the most group by age (13 cases) found cases of diarrhea. The research analysis with chi square test stated that there was a significant relationship with the variables: healthy latrines (p-value 0.005), water quality (physical) (p-value 0.005), and waste bin facilities (p-value 0.019). Determining the most dominant variable in the incidence of diarrhea using the logistic regression test was based on the Exp (B) or Odds Ratio score in the final multivariate modeling, the biggest score was 6.389 in the latrine condition variable (p-value 0.002), that conclude the latrine condition variable is the most dominant to the relationship of diarrhea case. From this research, hopefully the government and the people can collaborate to pay attention to environmental cleanliness to improve the level of public health in Kelurahan Pulau Harapan. Then, for further research, hopefully other researcher can dig deeper into other variables that may be related to the incidence of diarrhea on other islands in North Seribu Islands District.
Read More
S-11580
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Talitha Shaka Maritza; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Hartono, Fakhry Muhammad
Abstrak:
Kualitas air minum rumah tangga merupakan salah satu indikator penting untuk menentukan kesehatan masyarakat dalam mencapai target Sustainable Development Goals (SDGs) 6.1.1 terkait akses air minum aman. Kota Bogor merupakan wilayah perkotaan dengan kepadatan penduduk dan penggunaan sumber air minum beragam yang berpotensi memiliki resiko pencemaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas air minum rumah tangga dan menganalisis hubungan patameter mikrobiologi, fisik, kimia, jenis sumber air minum, pengolahan, dan wadah penyimpanan air minum terhadap kualitas air minum rumah tangga di Kota Bogor. Desain studi penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross-sectional yang menggunakan data sekunder SKAM-RT 2024 dengan besar sampel 259 rumah tangga. Hasil analisis univariat menunjukkan sebagian besar rumah tangga memiliki kualitas air minum yang tidak aman (94,2%), dengan parameter kimia yang tidak memenuhi syarat (92,7%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa parameter mikrobiologi (p=0,008), parameter fisik (p=0,013), dan parameter kimia (p=0,000) memiliki hubungan yang signifikan dengan kualitas air minum rumah tangga. Sementara itu, jenis sumber air minum, pengolahan air minum, dan wadah penyimpanan air minum tidak terdapat hubungan yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan peningkatan pengawasan kualitas air minum rumah tangga serta edukasi masyarakat terkait pengelolaan air minum dan higiene sanitasi untuk mencegah kontaminasi air minum di tingkat rumah tangga. 

Household drinking water quality is an important indicator for determining public  health in achieving Sustainable Development Goal (SDG) 6.1.1 regarding access to  safely managed drinking water. Bogor City is an urban area with high population  density and diverse drinking water sources that may increase the risk of water  contamination. This study aimed to describe the quality of household drinking  water and analyze the relationship between microbiological, physical, and chemical  parameters, types of drinking water sources, water treatment methods, and drinking  water storage containers with household drinking water quality in Bogor City. This  research employed a quantitative descriptive study with a cross-sectional design  using secondary data from SKAM-RT 2024, involving 259 households as samples.  The univariate analysis showed that most households had unsafe drinking water  quality (94.2%), with chemical parameters failing to meet the required standards  (92.7%). The bivariate analysis indicated that microbiological parameters  (p=0.008), physical parameters (p=0.013), and chemical parameters (p=0.000) were  significantly associated with household drinking water quality. Meanwhile, the type  of drinking water source, drinking water treatment, and drinking water storage  containers were not significantly associated with household drinking water quality.  Therefore, improved monitoring of household drinking water quality and public  education regarding drinking water management and sanitation hygiene are needed  to prevent drinking water contamination at the household level. 
Read More
S-12243
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfian Fauzi Firdaus; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: R. Budi Haryanto, Lucky Aris Suryono
Abstrak:
Diare wisatawan (Traveler's Diarrhea) adalah buang air besar lebih dari tiga kali dalam 24 jam dengan konsistensi encer, umum terjadi di negara berkembang seperti Indonesia. Sekitar 60% kasus TD disebabkan oleh Escherichia coli, Shigella, Campylobacter, Salmonella, dan Aeromonas. Indonesia mencatat angka kejadian TD tertinggi di Asia Tenggara, mencapai 19%. Penelitian bertujuan untuk menganalisis faktor penyebab TD pada wisatawan nusantara di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, dengan fokus pada sumber konsumsi air minum dan karakteristik individu (usia, perilaku cuci tangan pakai sabun (CTPS), lama menginap, dan tempat menginap). Desain studi penelitian adalah cross-sectional dengan 173 responden, dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik biner. Hasil penelitian menunjukkan kejadian TD di Pulau Tidung (11%), lebih rendah dibandingkan angka kejadian TD di Indonesia (19%) maupun Asia (20-60%). Faktor yang menunjukkan hubungan signifikan dengan kejadian TD di Pulau Tidung adalah sumber konsumsi air minum (p=0,000, OR=23,750), perilaku CTPS (p=0,012, OR=3,786), dan tempat menginap (p=0,053, OR=3,380). Analisis multivariat mengidentifikasi sumber konsumsi air minum (p=0,000, OR=24,986) dan tempat menginap (p=0,042, OR=3,797) sebagai faktor risiko dominan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kejadian diare wisatawan (TD) di Pulau Tidung lebih rendah dibandingkan Indonesia dan Asia. Faktor risiko dominan TD adalah sumber konsumsi air minum dan tempat menginap. Oleh karena itu, Penting untuk meningkatkan pengawasan sanitasi air minum dan kebersihan tempat menginap. Otoritas kesehatan, seperti puskesmas, disarankan memperkuat pemantauan sanitasi di tempat-tempat umum yang sering dikunjungi wisatawan.

Traveler's Diarrhea (TD) is characterized by passing loose stools more than three times within 24 hours and is common in developing countries like Indonesia. Approximately 60% of TD cases are caused by pathogens such as Escherichia coli, Shigella, Campylobacter, Salmonella, and Aeromonas. Indonesia has the highest TD incidence in Southeast Asia, reaching 19%. This study aims to analyze the factors causing TD among domestic tourists in Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, focusing on water consumption sources and individual characteristics (age, handwashing behavior with soap (CTPS), length of stay, and accommodation). The study used a cross-sectional design with 173 respondents, analyzed using chi-square tests and binary logistic regression. Results showed that the TD incidence in Pulau Tidung was 11%, lower than in Indonesia (19%) and Asia (20-60%). Significant factors associated with TD in Pulau Tidung were water consumption source (p=0,000, OR=23,750), CTPS behavior (p=0,012, OR=3,786), and accommodation (p=0,053, OR=3,380). Multivariate analysis identified water consumption source (p=0,000, OR=24,986) and accommodation (p=0,042, OR=3,797) as dominant risk factors.The study concludes that TD incidence in Pulau Tidung is lower compared to Indonesia and Asia. Dominant risk factors for TD are water consumption sources and accommodation. Therefore, it is crucial to improve sanitation monitoring of drinking water and accommodation hygiene. Health authorities, such as local health centers, should enhance sanitation monitoring programs in public areas frequently visited by tourists.
Read More
S-11619
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rizkya Fitriani; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Zakianis, Muhammad Rudi AR
Abstrak:
Pulau tidung merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Di Pulau Tidung, berbagai aktivitas pariwisata maupun penduduk khususnya pada transportasi dapat menjadi sumber pencemaran yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. PM2,5 memiliki potensi untuk menyebabkan gangguan kesehatan karena kemampuannya untuk masuk ke sistem pernapasan yang dapat memicu berbagai penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi risiko kesehatan masyarakat akibat pajanan PM2,5 di udara ambien. Penelitian ini menggunakan desain studi Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan dengan melakukan pengukuran sampel udara di 4 titik dengan jumlah 96 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di Pulau Tidung masih berada dibawah baku mutu sesuai PP No. 22 Tahun 2021, yaitu dibawah 55 µg/m3 dengan nilai maksimum 44,7 µg/m3. Perhitungan nilai RQ dilakukan pada kondisi konsentrasi minimum, rata-rata, dan maksimum. Hanya terdapat 1 titik dengan nilai RQ>1, yaitu pada kondisi konsentrasi maksimum di titik 1. Dengan mempertimbangkan konsentrasi PM2,5, waktu pajanan, frekuensi pajanan, durasi pajanan, berat badan, dan periode waktu rata-rata, tingkat risiko pajanan PM2,5 di udara ambien pada masyarakat Pulau Tidung dengan konsentrasi sebesar 44,7 µg/m3, tidak aman bagi masyarakat dengan berat badan 64 kg, waktu pajanan 24 jam, frekuensi pajanan 363 hari/tahun selama 35,5 tahun dan saat ini masyarakat mungkin berisiko mengalami gangguan kesehatan.

Pulau Tidung is one of the tourist destinations located in the Administrative Regency of the Kepulauan Seribu. Tourism activities and the population can become sources of pollution that may endanger health. PM2.5 has the potential to cause health problems due to its ability to enter the respiratory system and trigger various diseases. This study aims to estimate the health risks to the community from exposure to PM2.5 in ambient air. The research used an Environmental Health Risk Analysis study design by measuring air samples at 4 points with a total of 96 respondents. The results showed that the concentration of PM2.5 on Tidung Island was still below the quality standard according to Government Regulation No. 22 of 2021, which is below 55 µg/m3 with a maximum value of 44.7 µg/m3. In the risk characterization stage, only 1 point had an RQ value >1, which was at the maximum concentration condition at point 1. Considering the concentration of PM2.5, anthropometric characteristics, and community activity patterns, the level of risk of PM2.5 exposure in ambient air on Tidung Island at a concentration of 44.7 µg/m3 is unsafe for the community with a body weight of 64 kg, exposure time of 24 hours, exposure frequency of 363 days/year for 35.5 years, and currently, the community may be at risk of experiencing health problems
Read More
S-11741
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adelia Suryani; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Budi Hartono, Umar Fahmi Achmadi, Harnita
Abstrak:
Air minum merupakan kebutuhan esensial yang harus dipenuhi setiap harinya. Air minum yang terkontaminasi oleh bakteri patogen akan memberikan gangguan kesehatan bagi individu yang meminumnya. Kota Jambi merupakan wilayah dengan jumlah penduduk terbanyak di Provinsi Jambi. Sumber air minum terbanyak yang digunakan adalah air minum isi ulang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui kualitas bakteriologis air minum isi ulang, gambaran proses produksinya dilihat dari upaya pengamanan, penyehatan dan higiene sanitasi serta melihat hubungan dan faktor dominan yang mempengaruhi kualitas bakteriologis air minum isi ulang di Kota Jambi. Desain yang digunakan adalah potonng lintang dan dilakukan di Kota Jambi pada Januari – Februari 2023. Hasil menunjukkan 9,4% sampel belum memenuhi kualitas bakteriologis dan beberapa aspek yang belum terpenuhi pada upaya pengamanan adalah pemeriksaan air baku (56,3%), frekuensi penggantian sikat pencuci (50%) dan durasi pembilasan (66,7%). Pada upaya penyehatan ialah masa pakai media tabung filter (53,1%), tidak ada sistem pengurutan mikrofilter (52,1%) dan masa pakai lampu UV (58,3%). Sedangkan pada upaya higiene sanitasi ialah penggunaan pakaian khsus kerja (58,3%), tidak memiliki tempat sampah tertutup (83,3%) dan tidak memiliki tempat mencuci tangan disertai dengan sabun (55,2%). Variabel yang berhubungan dengan kualitas bakteriologis ialah upaya penyehatan (OR = 11,72; 95% CI; 2,25 – 60,98) dan higiene sanitasi air minum (OR = 10,34; 95% CI; 1,99 – 53,53). Variabel dominan berurutan ialah upaya penyehatan air minum (OR = 8,11; 95% CI: 0,76 – 86,02), higiene sanitasi (OR = 5,74; 95% CI: 0,99 – 33,31), dan upaya pengamanan (OR = 2,67; 95% CI: 0,53 – 13,33).

Drinking water is an essential need that must be fulfilled every day. Drinking contaminated water with pathogenic bacteria will cause health problems for individuals who drink it. Jambi City is the area with the largest population in Jambi Province. The most used source of drinking water is refilled drinking water.This research was conducted to give an overview of bacteriology quality of refilled drinking water, an overview of the treatment process in terms of security, health and sanitation efforts and to look at the relationship and dominant factors that influence the bacteriology quality of refilled drinking water in Jambi City. The design used is cross-sectional and carried out in Jambi City from January to February 2023. The results show that 9.4% of the samples did not meet bacteriology quality and several aspects that have not been fulfilled in the security efforts are the frequency of raw water inspection (56.3%), the replacement frequency of washing brush (50%) and rinsing duration ( 66.7%). The health efforts are the expired date of the filter tube media (53.1%), no microfilter sorting system (52.1%) and the expired date of the UV lamp (58.3%). Whereas in sanitation and hygiene efforts are the use working uniform (58.3%), not having closed trash bins (83.3%) and not having a place to wash hands properly accompanied with soap (55.2%). Variables related to bacteriology quality were sanitation efforts (OR = 11.72; 95% CI; 2.25 – 60.98) and sanitation hygiene efforts (OR = 10.34; 95% CI; 1.99 – 53, 53). The dominant variable respectively are health efforts (OR = 8.11; 95% CI: 0.76 – 86.02), sanitation and hygiene effort (OR = 5,74; 95% CI: 0,99 – 33,31) and security effort (OR = 2,67; 95% CI: 0,53 – 13,33).
Read More
T-6633
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Akhmad Riyadi; ;Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Zakianis, Fitri Kurniasari, Ikha Purwandari, Juri Hendrajadi
Abstrak:
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang berkaitan erat dengan faktor lingkungan, terutama kualitas dan pengelolaan air minum rumah tangga. Di Provinsi Kalimantan Timur, prevalensi diare berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 sebesar 4,2%. Peningkatan akses terhadap sumber air minum layak belum sepenuhnya menjamin keamanan air pada titik konsumsi. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan kualitas air minum rumah tangga yang meliputi parameter mikrobiologi, fisik, dan kimia dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur berdasarkan data Surveilans Kualitas Air Minum Rumah Tangga (SKAMRT) 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan unit analisisnya adalah rumah tangga. Teknik pengambilan sampel mengikuti metode yang digunakan dalam SKAMRT 2024 yang melibatkan 2.051 rumah tangga. Analisis dilakukan secara deskriptif, uji Chi-square, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 4,5% rumah tangga memiliki anggota rumah tangga yang mengalami diare. Parameter kualitas air minum yang menunjukkan proporsi tidak memenuhi syarat cukup tinggi adalah E. coli (31,3%), kekeruhan (19,0%), pH (15,0%), krom valensi 6 (46,5%), dan sisa klor pada rumah tangga dengan sumber air minum perpipaan (86,3%). Sebagian besar rumah tangga menggunakan sumber air minum layak (98,0%), memiliki akses air minum kontinu (96,5%), melakukan pengolahan air minum (56,9%), dan memiliki penyimpanan air minum tidak berisiko (95,1%). Parameter kekeruhan, pH, dan krom valensi 6 berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Pada model akhir, hubungan E. coli, kekeruhan, dan pH dengan diare berbeda menurut kontinuitas air minum, sedangkan pada parameter sisa klor tidak berhubungan signifikan dengan diare setelah dikontrol kontinuitas air minum dan penyimpanan air minum. Kualitas air minum rumah tangga pada titik konsumsi, khususnya parameter fisik kekeruhan dan parameter kimia pH, berhubungan erat dengan kejadian diare di Provinsi Kalimantan Timur. Hubungan ini sangat dipengaruhi oleh keandalan kontinuitas air minum yang berperan sebagai variabel pemodifikasi efek (effect modifier).

Diarrhea remains a public health issue closely linked to environmental factors, particularly the quality and management of household drinking water. In East Kalimantan Province, the prevalence of diarrhea, according to the 2023 Indonesian Health Survey, was 4.2%. Increased access to improved drinking water sources does not fully guarantee water safety at the point of consumption. This study aims to analyze the association between household drinking water quality—comprising microbiological, physical, and chemical parameters—and the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province, using data from the 2024 Household Drinking Water Quality Surveillance (SKAMRT). This study employed a cross-sectional design, with households as the unit of analysis. The sampling procedure followed the methodology of the 2024 SKAMRT, involving 2,051 households. Data were analyzed using descriptive statistics, Chi-square tests, and multivariable logistic regression. The results indicated that 4.5% of households had at least one member who experienced diarrhea. The results showed that 92 households (4.5%) had at least one member who experienced diarrhea. Drinking water quality parameters with a high proportion of non-compliance included E. coli (31.3%), turbidity (19.0%), pH (15.0%), hexavalent chromium (46.5%), and residual chlorine in households utilizing piped water sources (86.3%). Most households used improved drinking water sources (98.0%), had access to a continuous drinking water supply (96.5%), practiced drinking water treatment (56.9%), and utilized low-risk drinking water storage (95.1%). Turbidity, pH, and hexavalent chromium were significantly associated with the incidence of diarrhea. In the final model, E. coli, turbidity, and pH showed significant interactions with water supply continuity on the risk of diarrhea, whereas residual chlorine was not significantly associated with diarrhea after controlling for water supply continuity and water storage practices. Household drinking water quality at the point of consumption, particularly the physical parameter of turbidity and the chemical parameter of pH, is significantly associated with the incidence of diarrhea in East Kalimantan Province. This association is highly influenced by the reliability of water supply continuity, which acts as an effect modifier.
Read More
T-7546
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azalia Putri Hanasri; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Haryoto Kusno Putranto, Muhammad Rudi AR
Abstrak:
Perairan Kepulauan Seribu diketahui telah tercemar oleh kadmium (Cd), hal ini turut menyebabkan terjadinya akumulasi kadmium (Cd) dalam tubuh ikan yang hidup di dalamnya. Nantinya ikan yang terkontaminasi kadmium (Cd) dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada manusia yang rutin mengonsumsinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat risiko kesehatan akibat pajanan kadmium (Cd) dalam ikan pada masyarakat Pulau Tidung. Desain penelitian yang digunakan adalah analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) menggunakan data primer dengan jumlah responden sebanyak 97 penduduk. Hasil pengujian menunjukkan konsentrasi kadmium (Cd) dalam ikan sebanyak 0,001 mg/kg (tongkol), 0,055 mg/kg (selar), dan 0,001 mg/kg (kembung). Konsentrasi tersebut masih berada di bawah baku mutu yang berlaku. Perhitungan nilai RQ untuk populasi dan nilai RQ untuk seluruh individu menghasilkan nilai RQ ≤1, Sehingga dapat diambil kesimpulan tingkat risiko yang ditimbulkan masih bersifat aman untuk populasi dan tiap individu penduduk, namun perlu dipertahankan agar risiko yang ada tetap bersifat aman. Pencegahan risiko dapat dilakukan pada sumber pencemaran dengan melakukan pengawasan terhadap limbah buangan yang dikeluarkan ke badan air dan pemanfaatan alga sebagai bioabsorben, seperti Chaetocerus sp., Euchema sp., Cladophora glomerata, Euchema isiforme, dan Sargassum sp. untuk mengurangi cemaran kadmium (Cd) di perairan.

The waters of the Seribu Islands are known to be polluted by cadmium (Cd), this has contributed to the accumulation of cadmium (Cd) in the bodies of the fish that live there. In the future, fish contaminated with cadmium (Cd) can cause health problems in humans who regularly consume it. This study aims to estimate the level of health risk due to exposure to cadmium (Cd) in fish in the Tidung Island community. The research design used was environmental health risk analysis (EHRA) using primary data with a total of 97 respondents. The test results showed that the concentration of cadmium (Cd) in fish was 0.001 mg/kg (tongkol), 0.055 mg/kg (selar), and 0.001 mg/kg (kembung). This concentration is still below the applicable quality standards. Calculation of the RQ value for the population and the RQ value for all individuals produces an RQ value of ≤1. It can be concluded that the level of risk posed is still safe for the population and each individual resident, but needs to be maintained so that the existing risks remain safe. Risk prevention can be carried out at pollution sources by monitoring waste released into water bodies and using algae as bioabsorbents, such as Chaetocerus sp., Euchema sp., Cladophora glomerata, Euchema isiforme, and Sargassum sp. to reduce cadmium (Cd) concentration in waters.
Read More
S-11769
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive