Ditemukan 34493 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Kayla Zahra Azalea; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Evi Martha, Widasari Sri Gitarja
Abstrak:
Read More
Universitas Indonesia memiliki organisasi paguyuban daerah untuk memfasilitasi mahasiswa rantau dalam menghadapi kehidupan kampus. Namun masih ada kasus mahasiswa rantau yang meninggal karena sakit dan kurang mendapat layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku mencari layanan kesehatan pada mahasiswa rantau Universitas Indonesia tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional. Data dikumpulkan menggunakan self-administered questionnare oleh mahasiswa S1 Reguler Universitas Indonesia yang terdaftar sebagai anggota di paguyuban daerah hingga Mei 2024 yang berjumlah 299 mahasiswa. Data dianalisis menggunakan uji chi-square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 217 (76,2%) responden pernah mencari layanan kesehatan di kampus selama berkuliah di Universitas Indonesia. Penelitian ini juga menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik antara asuransi kesehatan (p<0,001; OR=6,32; 95% CI=3,59–11,13), literasi kesehatan (p=0,004; OR=2,12; 95% CI=1,26–3,56), dan dukungan sosial (p=0,011; OR=0,51;95% CI=0,30–0,86) dengan perilaku mencari layanan kesehatan. Saran yang dapat diberikan berdasarkan penelitian ini adalah meningkatkan sosialisasi layanan kesehatan di lingkungan kampus oleh kakak asuh dari masing-masing paguyuban, terutama saat masa Orientasi Kehidupan Kampus sebagai bentuk peningkatan promosi kesehatan di lingkungan Universitas Indonesia.
The University of Indonesia has regional community organizations to facilitate overseas students in facing campus life. However, there are still cases of overseas students who have died due to illness and lack of healthcare services. This study aims to determine the determinants of health service-seeking behavior among overseas students at the University of Indonesia in 2024. This study uses a cross-sectional design. Data were collected using a self-administered questionnaire by undergraduate students of the University of Indonesia who were registered as members of regional communities until May 2024, totaling 299 students. Data were analyzed using the chi-square test to determine the relationship between independent variables and the dependent variable. The results showed that 217 (76.2%) respondents had sought health services on campus while studying at the University of Indonesia. This study also showed a statistically significant relationship between health insurance (p<0.001; OR=6.32; 95% CI=3.59–11.13), health literacy (p=0.004; OR=2.12; 95% CI=1.26–3.56), and social support (p=0.011; OR=0.51; 95% CI=0.30–0.86) with health service-seeking behavior. Therefore, the recommendations based on this study are to enhance the socialization of health services within the campus environment by senior mentors from each regional community, especially during the Campus Life Orientation period, as a form of health promotion improvement at the University of Indonesia.
S-11732
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nia Istianah; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Martya Rahmaniati Makful, Yulinda Fetri Tura dan Nur Fatayani
Abstrak:
Read More
Faktor terpenting pengendalian diabetes adalah perilaku perawatan diri. Dalam melakukan perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus tidak terlepas dari kemampuan mereka dalam mengakses, memahami, dan menilai informasi kesehatan untuk membuat keputusan tentang perawatan kesehatannya sehingga dapat menerapkan dalam kehidupan sehari-hari atau dikenal dengan literasi kesehatan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peran literasi kesehatan terhadap perilaku perawatan diri pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Umum Daerah H. Abdul Manap Kota Jambi Tahun 2024. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Penelitian ini dilakukan di ruangan/klinik rawat jalan Penyakit Dalam RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi. Sampel penelitian yaitu pasien yang didiagnosa dengan penyakit diabetes melitus. Responden terpilih yang berada di lokasi penelitian sesuai kriteria responden dalam waktu tertentu sampai jumlah sampel terpenuhi (convenience sampling). Penelitian dilakukan pada bulan Juni 2024. Hasil penelitian diperoleh bahwa responden dengan literasi kesehatan yang rendah berisiko 6,13 kali untuk memiliki perilaku perawatan diri diabetes yang kurang baik dibandingkan pasien dengan literasi kesehatan yang tinggi setelah dikontrol oleh variabel efikasi diri. Diharapkan adanya inovasi layanan Promosi Kesehatan Rumah Sakit dengan memaksimalkan media yang ada agar pasien diabetes dapat mengakses informasi kesehatan dengan mudah setiap saat.
The essential factor in managing the diabetes is the Self-Care Behavior. In this case, the diabetes mellitus patients can't be separated from their ability to access, understand, and assess the health information to make decisions about their health care so they could adjust in their daily life called the Health Literacy. The study aims to analyze the role of health literacy in the self-care behavior of diabetes mellitus patients at the Regional Public Hospital H. Abdul Manap, Jambi City in 2024. The study's method is quantitative with a cross-sectional study design, and it is conducted in the Internal Medicine outpatient clinic of the hospital using convenience sampling. The research was conducted in June 2024. The study found that respondents with low health literacy are 6.13 times more likely to have poor self-care behavior than those with high health literacy after being controlled by the self-efficacy variable. It is expected that there will be innovation in Hospital Health Promotion services by maximizing existing media so that diabetes patients can access health information easily at any time.
T-7050
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tantri Juliyanti; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Dian Ayubi, Yunita Sitorus
S-9624
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Hilda Amalia; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Dian Ayubi, Yuliani
Abstrak:
Tujuan dari penelitian adalah mendeskripsikan gambaran pengetahuan, sikap, dan perilaku pencegahan COVID-19 pada penderita hipertensi di Kota Depok Tahun 2021. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional pada penderita hipertensi di Kota Depok, Jawa Barat bulan Agustus-September 2021. Pengumpulan data secara online menggunakan google form. Hasil penelitian ini didapatkan bahwa dalam skala 100, rata-rata skor untuk tiap variabel adalah pengetahuan sebesar 85,2, sikap sebesar 77,7, dan perilaku pencegahan COVID-19 sebesar 82,4.
Read More
S-10854
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Erika; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Zakiah
Abstrak:
Read More
Anemia merupakan masalah kesehatan yang sering dialami oleh remaja putri. Data Riskesdas menunjukkan peningkatan kasus anemia pada remaja putri dari 26,40% pada 2013, menjadi 32% pada tahun 2018. Meskipun Kementerian Kesehatan telah mengupayakan penurunan angka anemia pada remaja putri dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD), tetapi Riskesdas 2018 menunjukkan hanya 2,13% remaja putri yang rutin konsumsi TTD. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mendalam mengenai persepsi remaja putri di SMA X dan SMA Y terhadap perilaku konsumsi TTD melalui pendekatan kualitatif. Pengumpulan data dilakukan pada siswi kelas 10, kepala sekolah, kesiswaan, orang tua siswi, serta penanggung jawab program pemberian TTD di Puskesmas Sukmajaya. Hasil penelitian menunjukkan kepatuhan siswi di SMA X dan SMA Y dalam konsumsi TTD masih rendah. Sebagian besar siswi di SMA X memiliki persepsi kerentanan rendah dan persepsi keseriusan tinggi, sementara di SMA Y sebaliknya. Seluruh siswi merasa TTD bermanfaat untuk menambah zat besi pada tubuh, namun sebagian besar belum pernah merasakan manfaatnya secara langsung. Persepsi hambatan yang dialami siswi cukup bervariasi, tetapi tidak semuanya menghalangi intensi konsumsi TTD. Ditemukan cues to action eksternal seperti dukungan orang tua, guru, dan teman, serta cues to action yang banyak akan cenderung lebih mempengaruhi perilaku konsumsi TTD. Direkomendasikan bagi pihak sekolah untuk mengimplementasikan atau memperkuat kegiatan konsumsi TTD bersama, serta meningkatkan edukasi internal terkait anemia. Puskesmas juga diharapkan dapat mendorong sekolah untuk mengadakan atau memperkuat kegiatan konsumsi TTD serta rutin memantau pelaksanaannya.
Anemia is a common health issue among adolescent girls. Data from Riskesdas shows an increase in anemia cases among adolescent girls from 26.40% in 2013 to 32% in 2018. Despite efforts by the Ministry of Health to reduce anemia rates among adolescent girls through the provision of iron supplement tablets, Riskesdas 2018 indicates that only 2.13% of adolescent girls consistently consume iron supplement tablets. This study aims to provide an in-depth understanding of the perceptions of adolescent girls at SMA X dan SMA Y regarding iron supplement tablets consumption through a qualitative approach. Data collection was conducted with 10th-grade students, school principals, student affairs staff, parents, and the person in charge of the iron supplement tablets program at the Sukmajaya Health Center. The results show that adherence to iron supplement tablets consumption among students at SMA X and SMA Y is still low. Most students at SMA X have a low perceived susceptibility and a high perceived seriousness, while at SMA Y, it is the opposite. All students understand the benefits of iron supplement tablets for increasing iron levels in the body, but most have not experienced these benefits directly. The perceived barriers to iron supplement tablets consumption vary, but not all of them hinder the intention to consume iron supplement tablets . External cues to action, such as support from parents, teachers, and friends, as well as a higher number of cues, tend to have a greater influence on iron supplement tablets consumption. It is recommended that schools implement or strengthen collective iron supplement tablets consumption activities and improve internal education on anemia. Sukmajaya Health Centers are also expected to encourage schools to conduct or reinforce collective iron supplement tablets consumption programs and regularly monitor their implementation.
S-11584
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Radyan Rifka Pramanik; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Tiara Amelia, Inggrid Pudyaningrum T
Abstrak:
Read More
Majelis Kesehatan Dunia ke-49 menyatakan kekerasan sebagai masalah utama bagi kesehatan masyarakat di dunia. Sekolah menjadi salah satu tempat terjadinya kekerasan. kekerasan yang paling umum terjadi di sekolah adalah Bullying. Bullying merupakan perilaku agresif yang melibatkan tindakan negatif, tidak diinginkan yang dilakukan secara berulang dan tidak adanya kekuatan yang seimbang antara pelaku dan korban. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku bullying pada remaja di SMP Negeri 3 Kota Bogor tahun 2023. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain studi cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini adalah 213 sampel.Hasil penelitian didapatkan sebanyak 51,8% siswa memiliki perilaku bullying. Uji statistik didapatkan bahwa jenis kelamin (p-value 0,02), lingkungan keluarga (p-value 0,017), lingkungan teman (p-value 0,001) dan penggunaan sosial media (p-value 0,000) memiliki hubungan dengan perilaku bullying. Sedangkan, usia (p-value 0,227) tidak memiliki hubungan dengan perilaku bullying. Maka dari itu, disarankan untuk melakukan edukasi dan komunikasi pada siswa dan keluarga tentang bullying dengan bekerja sama antara sekolah, keluarga dan tenaga kesehatan untuk membentuk lingkungan yang aman dan nyaman, Meningkatkan fungsi UKS (Unit Kesehatan Siswa) dengan bekerja sama bersama tenaga kesehatan, Menjalankan Program Roots sebaik mungkin, dengan membentuk agen perubahan ke arah positif, Membuat hotline pelaporan kasus bullying untuk masyarakat sekolah.
The 49th World Health Assembly declared violence as a major issue for the health of the world’s public. Schools are one of the places of violence. The most common violence in schools is bullying. Bullying is an aggressive behavior involving negative, unwanted actions that are repeatedly performed and the absence of a balanced force between the perpetrator and the victim. The purpose of this study is to find out factors related to bullying behavior in adolescents at Bogor City 3 State Junior High School in 2023. The research uses quantitative methods with cross-sectional study design. The sample in this study was 213 samples. The results of the study found that 51.8% of students had bullying behavior. Statistical tests found that gender (p-value 0.02), family environment (p-value 0.017), friend environment (p-value 0.001) and social media use (p-value 0.000) have a relationship with bullying behavior. Age (p-value 0.227) has no connection with bullying behavior. Therefore, it is advisable to conduct education and communication in students and families about bullying by working together between schools, families and health workers to form a safe and comfortable environment, Improve the function of UKS (Student Health Unit) by working with health workers, Running Roots Programs as best as possible, by forming change agents towards positive, Create a hotline reporting case bullying for school communities.
S-11488
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuthia Deni; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Helda, Hendri Putra, Regina Tiolina Sidjabat
Abstrak:
Read More
Kusta dapat menyebabkan kecacatan permanen dan mempengaruhi aspek sosial serta ekonomi penderita. Di Kota Pariaman, persentase penderita kusta yang menyelesaikan pengobatan menurun dalam beberapa tahun terakhir. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bentuk dukungan sosial yang diterima penderita kusta selama pengobatan berdasarkan Social Support Theory for Health, menggunakan metode kualitatif dengan desain studi kasus. Informan penelitian terdiri dari delapan penderita kusta, tujuh petugas Puskesmas, seorang pemegang program kusta di Dinas Kesehatan, dan delapan anggota keluarga penderita. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan Focus Group Discussion pada bulan Maret-April 2024 dan dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan semua penderita kusta menjalani pengobatan selama 12 bulan. Mayoritas penderita konsisten dalam pengobatan meskipun menghadapi efek samping dan motivasi yang rendah. Semua penderita menerima dukungan sosial berupa dukungan emosional, instrumental, informasi, penghargaan, dan jaringan sosial, baik dari keluarga, petugas Puskesmas dan pengelola program kusta Dinas Kesehatan Kota Pariaman. Dukungan emosional meningkatkan motivasi penderita, sementara dukungan instrumental dari keluarga seperti bantuan finansial berperan dalam memfasilitasi proses pengobatan. Puskesmas dan Dinas Kesehatan memberikan dukungan melalui penyuluhan tentang kusta dan deteksi dini ketika melakukan kunjungan rumah dan pengantaran obat. Dinas Kesehatan juga berkoordinasi dengan Dinas Sosial untuk memberikan bantuan materi kepada penderita. Penelitian ini juga menemukan bahwa penderita tetap aktif dalam kegiatan sosial meskipun cenderung menyembunyikan kondisinya. Untuk itu, Kota Pariaman dapat membentuk komunitas khusus bagi penderita kusta sebagai upaya membangun jaringan dukungan yang lebih terstruktur dan menjadi forum pertukaran informasi dan sumber dukungan bagi penderita.
Leprosy can cause permanent disabilities and affect the social and economic aspects of the patients' lives. In the city of Pariaman, the percentage of leprosy patients completing their treatment has decreased in recent years. This study aims to analyze the forms of social support received by leprosy patients during treatment based on the Social Support Theory for Health, using a qualitative method with a case study design. The research informants consisted of eight leprosy patients, seven public health center officers, one leprosy program officer at the Health Office, and eight family members of the patients. Data were collected through in-depth interviews and Focus Group Discussions conducted in March-April 2024 and analyzed thematically. The results of the study showed that all leprosy patients underwent treatment for 12 months. The majority of patients remained consistent in their treatment despite facing side effects and low motivation. All patients received social support in the form of emotional, instrumental, informational, appraisal, and social network support from family, Puskesmas staff, and the leprosy program managers at the Pariaman Health Office. Emotional support helped increase the patients' motivation, while instrumental support from family, such as financial assistance, facilitated the treatment process. The Puskesmas and Health Office provided support through leprosy education and early detection during home visits and medication deliveries. The Health Office also coordinated with the Social Service to provide material assistance to the patients. The study also found that patients remained active in social activities, although they tended to hide their condition. Therefore, it is recommended that the city of Pariaman establish a special community for leprosy patients as an effort to build a more structured support network and become a forum for information exchange and support for the patients.
T-6986
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dhea Synthia; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Syahrizal Syarif, Trisari Anggondowati, Hidayat Nuh Ghazali Djadjuli
Abstrak:
Read More
Kepatuhan minum obat antihipertensi menjadi prioritas teratas dalam efektifitas pengobatan penderita hipertensi. Ketidakpatuhan dalam pengobatan berisiko membuat tekanan darah tidak terkontrol. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kepatuhan minum obat antihipertensi pada penderita hipertensi di Kota Depok. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan populasi penderita hipertensi di Kota Depok dan jumlah sampel sebanyak 185 orang yang diambil menggunakan teknik cluster sampling. Data dikumpulkan dengan cara pengisian kuesioner oleh responden dan dianalisis secara univariat, bivariat, dan multivariat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 54,1% penderita hipertensi di Kota Depok terkategori tidak patuh minum obat antihipertensi. Persepsi individu dan faktor predisposisi yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi diantaranya persepsi kerentanan, keseriusan, manfaat, hambatan, efikasi diri, isyarat untuk bertindak, usia, pengetahuan dan sikap tentang hipertensi dan kepatuhan minum obat antihipertensi. Efikasi diri menjadi faktor paling dominan berhubungan dengan perilaku kepatuhan minum obat antihipertensi (OR:2,63; 95%CI:1,055-6,563) dengan hasil penderita hipertensi yang memiliki efikasi diri rendah berisiko 2,6 kali untuk berperilaku tidak patuh minum obat antihipertensi. Oleh karena itu, perlu adanya pengembangan pelatihan guna meningkatkan efikasi diri penderita hipertensi seperti keterampilan mengelola kesehatan, manajemen stress, dan adanya kelompok pendukung.
Adherence to taking antihypertensive medication is the top priority in the effective treatment of hypertension patients. Non-adherence risks causing uncontrolled blood pressure. This study aims to determine the determinants of adherence to taking antihypertensive medication in patients with hypertension in Depok City. It used a cross-sectional design with a population of hypertensive patients in Depok City and a sample size of 185 people taken using cluster sampling. Data were collected through questionnaires filled out by respondents and analyzed univariately, bivariately, and multivariately. The results showed that 54,1% of hypertensive patients in Depok City were categorized as non-adherent to taking antihypertensive drugs. Individual perceptions and predisposing factors associated with adherence include perceived susceptibility, severity, benefits, barriers, self-efficacy, cues to action, age, knowledge, and attitudes about hypertension. Self-efficacy is the most dominant factor associated with antihypertensive medication adherence behavior (OR: 2,63; 95% CI: 1,055–6,563), with hypertensive patients with low self-efficacy being 2,6 times more likely to exhibit non-adherent behavior. Therefore, it is necessary to develop training to increase self-efficacy in hypertensive patients, such as health management skills, stress management, and support groups.
T-7227
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sabbina Maharani; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tiara Amelia, Dhina Elfarina
Abstrak:
Read More
Di Puskesmas Kecamatan Cilodong, hipertensi termasuk ke dalam 10 besar penyakit terbanyak pada pasien rawat jalan tahun 2022. Kasus hipertensi di wilayah kerja Puskesmas juga terus mengalami peningkatan dari tahun 2020 hingga tahun 2022. Namun, masih ditemukan pasien yang tidak patuh minum obat akibat kurangnya kesadaran, lupa, dan tempat tinggal yang jauh dari Puskesmas untuk mendapatkan obat. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui determinan perilaku kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi berdasarkan Theory of Planned Behavior (TPB) di Puskesmas Kecamatan Cilodong tahun 2024. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross-sectional. Dalam penelitian ini, terdapat 99 responden yang dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling serta merupakan pasien hipertensi yang terdaftar di Puskesmas Kecamatan Cilodong, berusia ≥ 18 tahun, dan tidak sedang hamil. Pengambilan data dilakukan pada bulan Februari-Maret tahun 2024 melalui wawancara secara langsung kepada responden dengan menggunakan kuesioner. Data dianalisis dengan menggunakan Uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor kepatuhan minum obat responden sebesar 58,75 dari skala 100. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa terdapat hubungan pengetahuan (p value = 0,001), sikap (p value = 0,001), norma subjektif (p value = 0,005), persepsi kontrol perilaku (p value = 0,001), dan niat (p value = 0,001) dengan perilaku kepatuhan minum obat pasien hipertensi. Akan tetapi, usia, tingkat pendidikan, lama menderita hipertensi, dan riwayat stroke tidak berhubungan signifikan (p value > 0,05) dengan perilaku kepatuhan minum obat pasien hipertensi. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk mendukung kepatuhan minum obat pasien hipertensi, seperti konseling secara menyeluruh, pembuatan sistem pelaporan khusus terkait hipertensi dari kader kepada tenaga kesehatan, dan inovasi agar pasien ingat minum obat.
At Puskesmas Kecamatan Cilodong, hypertension is included in the top 10 most common diseases among outpatients in 2022. Hypertension cases in the work area of Puskesmas also continue to increase from 2020 to 2022. However, there are still hypertensive patients who do not adhere to taking their medication due to lack of awareness, forgetting, and living far from Puskesmas to get medicine. This study aims to determine the determinants of medication adherence behavior in hypertensive patients based on the Theory of Planned Behavior (TPB) at the Puskesmas Kecamatan Cilodong in 2024. This research is a quantitative study with a cross-sectional study design. In this study, there were 99 respondents who were selected using a purposive sampling method and were hypertensive patients registered at Puskesmas Kecamatan Cilodong, aged ≥ 18 years old, and not pregnant. Data collection was carried out in February-March 2024 through direct interviews with respondents using a questionnaire. The data was analyzed using the Chi-Square Test. The results of the study showed that the average respondent's medication adherence score is 58.75 on a scale of 100. The results of the study also showed that there is a relationship between knowledge (p value = 0.001), attitude (p value = 0.001), subjective norm (p value = 0.005), perceived of behavioral control (p value = 0.001), and intention (p value = 0.001) with medication adherence behavior in hypertensive patients. However, age, education level, duration of suffering from hypertension, and history of stroke are not significantly associated (p value > 0.05) with medication adherence behavior in hypertensive patients. Several efforts need to be taken to support hypertensive patients' medication adherence, such as comprehensive counseling, creating a specific reporting system about hypertension from cadres to health workers, and innovation so that patients remember to take their medication.
S-11557
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ihyani Nurdiena Marliamara; Pembimbing: Tri Krianto; Penguji: Bambang Wispriyono, Dien Anshari, Risky Kusuma Hartono, Faika Rachmawati
Abstrak:
Read More
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan sopir angkutan umum terhadap peraturan Kawasan Tanpa Rokok (KTR) di Terminal Kota Depok tahun 2024. Penelitian menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan desain cross-sectional. Responden penelitian adalah 94 sopir angkutan umum yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner yang mencakup karakteristik individu serta sikap dan perilaku merokok. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar sopir angkutan umum (79.8 %) tidak patuh terhadap peraturan KTR, sementara sisanya (20.2%) patuh. Faktor predisposisi memiliki hubungan signifikan dengan kepatuhan para sopir angkutan umum (p- value < 0,05). Begitu pula dengan faktor pemungkin. Faktor Penguat yaitu harga rokok tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan kepatuhan.
This study aims to analyze the factors associated with the compliance of public transport drivers with the Smoke-Free Area (SFA) regulations at the Depok City Terminal in 2024. The research employs a descriptive method with a quantitative approach and a cross-sectional design. The respondents of the study consist of 94 public transport drivers selected through purposive sampling. Data were collected using a questionnaire that covered individual characteristics as well as smoking attitudes and behaviors. Data analysis was conducted using the Chi-Square test. The results showed that the majority of public transport drivers (79.8%) did not comply with the SFA regulations, while the remaining 20.2% were compliant. Predisposing factors were found to have a significant relationship with the compliance of public transport drivers (p-value < 0.05). Similarly, enabling factors were also significantly related. However, reinforcing factors, such as the price of cigarettes, did not have a significant relationship with compliance.
T-7197
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
