Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 36857 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nabila Jihan Fairuzia; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Abdul Kadir, Endang Jojor Agustina Tinambunan
Abstrak:
Proses peleburan merupakan proses pencairan dan pematangan logam di dalam tungku dengan suhu mencapai lebih dari 1600oC untuk menghasilkan logam cair yang akan dicetak menjadi sebuah komponen penyusun alat berat. Skripsi ini bertujuan untuk menilai risiko kesehatan kerja pada proses peleburan di pabrik pengecoran perusahaan alat berat. Penelitian menggunakan desain sequential explanatory dengan menggabungkan metode kuantittaif untuk melakukan penilaian risiko berdasarkan metode penilaian semi-kuantitatif W.T. Fine dan metode kualitatif untuk menginterpretasikan penilaian risiko. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, wawancara informan, dan telaah data perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan adanya 87 risiko dari 7 tahapan proses kerja. Risiko prediktif pada kategori substantial, priority II, dan acceptable masing-masing sebanyak 45, 24, dan 18 risiko. Bahaya dengan tingkat risiko prediktif kategori substantial adalah bising, asap logam, dan debu logam, sehingga masih dibutuhkan perhatian lebih. Penyebab tingginya tingkat risiko pada bahaya kebisingan, asap, dan debu dianalisis pada penelitian ini.

Melting process of metals in the furnace is carried out at temperature exceeding 1600oC to produce molten metal that will be molded into components for heavy equipment. This thesis aims to assess occupational health risks in the melting process at heavy equipment manufacturer’s foundry plant. The research uses a sequential explanatory design, combining quantitative methods to conduct risk assessments based on the W.T. Fine semi-quantitative assessment method, and qualitative methods to interpret the risk assessments. Data collection was conducted through observation, informant interviews, and company data review. The research findings indicate the presence of 87 risks from 7 stages of the work process. The predictive risks fall into the substantial, priority II, and acceptable categories, with 45, 24, and 18 risks respectively. Hazards with substantial predictive risk levels include noise, metal fumes, and metal dust, requiring further attention. The causes of the high level of risk in noise, metal fume, and metal dust hazards were analyzed in this study.
Read More
S-11735
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risqi Septiana; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Abdul Kadir, Bambang Widanarko
Abstrak:
Penilaian risiko kesehatan di bengkel alat berat adalah langkah penting untuk mengidentifikasi, mengevaluasi, dan mengendalikan bahaya yang dapat mempengaruhi kesehatan pekerja. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis risiko kesehatan yang timbul dari berbagai faktor lingkungan kerja, termasuk kebisingan, getaran, radiasi pengelasan, paparan panas, dan ergonomi. Penelitian ini menggunakan sequential explanatory mix-method research design yang dilakukan dengan menilai risiko secara kuantitatif dan menginterpretasi data secara kualitatif. Penelitian ini mengacu pada pedoman manajemen risiko dari AS/NZS 4360:2004 dan menggunakan metode semi kuantitatif dari W.T. Fine. Pengumpulan data primer menggunakan walk-through survey, observasi, dan wawancara, sedangkan data sekunder diperoleh dari penelusuran pada dokumen perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 64 penilaian risiko dari hasil identifikasi bahaya di bengkel alat berat PT X. Pada penilaian basic risk terdapat 14 risiko kategori high (22%), kemudian turun menjadi kategori priority 2 pada penilaian existing risk setelah diketahui pengendalian yang telah dilakukan. Tiga bahaya yang memiliki risiko tertinggi yaitu kebisingan, asap pengelasan, dan bahaya angkat angkut (manual handling). Dalam penelitian ini diberikan rekomendasi pengendalian hingga bahaya dapat diperkirakan turun menjadi kategori acceptable pada penilaian predictive risk.

Occupational health risk assessment at a heavy equipment workshop is a crucial step in identifying, evaluating, and controlling hazards that can impact workers' health. This study aims to analyze the health risks arising from various workplace environmental factors, including noise, vibration, welding fumes, heat exposure, and ergonomics. The research employs a sequential explanatory mixed-method research design, which involves quantitative risk assessment and qualitative data interpretation. The study follows the risk management guidelines of AS/NZS 4360:2004 and utilizes the semi-quantitative method of W.T. Fine. Primary data were collected through walk-through surveys, observations, and interviews, while secondary data were obtained from company documents.The results indicate that 64 risk assessments were conducted following hazard identification at the heavy equipment workshop of PT X. The basic risk assessment revealed 14 high-category risks (22%), which were subsequently reduced to priority 2 category in the existing risk assessment after accounting for current control measures. The three highest risks identified were noise, welding fumes, and manual handling. This study provides control recommendations to reduce these hazards to an acceptable category in the predictive risk assessment.
Read More
S-11662
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Calista; Pembimbing: Hendra; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Harry Joharsyah
Abstrak:
Kegiatan penambangan yang dilakukan oleh perusahaan akan menghasilkan limbah sisa pengolahan batu-batuan yang mengandung kontaminan logam berat yang selanjutnya disebut sebagai tailing. Pemerintah mengeluarkan kebijakan bahwa perusahaan wajib melakukan pemanfaatan tailing guna mengurangi volume tailing di lingkungan. Proses pemanfaatan tailing merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari proses bisnis pertambangan dan memiliki sejumlah potensi bahaya dan risiko yang perlu dikelola. Sehingga, penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi dan menilai risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada proses pemanfaatan tailing di industri pertambangan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif dengan penilaian kualitatif berdasarkan Standar AS/NZS 4360:2004. Penilaian risiko dilakukan melalui analisis tahapan proses kerja, bahaya, unexpected event, dan risiko untuk mengevaluasi probabilitas, konsekuensi, dan tingkat risiko. Hasil penelitian mengidentifikasi sejumlah 86 unexpected events dari total 47 jenis bahaya dalam proses pemanfaatan tailing, yang terbagi menjadi 29 bahaya fisik, 10 bahaya kimia, dan 8 bahaya ergonomi. Penilaian risiko menunjukkan bahwa pada risiko dasar (basic risk) terdapat 8 bahaya rendah, 25 bahaya sedang, 10 bahaya tinggi, dan 4 bahaya ekstrem, sedangkan pada risiko sisa (residual risk) terdapat 32 bahaya rendah, 10 bahaya sedang, 4 bahaya tinggi, dan 1 bahaya ekstrem. Berdasarkan hasil penilaian yang diperoleh, terdapat bahaya yang memerlukan pengendalian tambahan untuk mengurangi risiko, serta prioritas bahaya yang membutuhkan tindakan segera dan perhatian utama dari manajemen.

Mining activities conducted by the company produce waste from the processing of ore containing heavy metal contaminants, referred to as tailings. The government issued a policy that requires companies to utilize tailings to reduce the volume of tailings in the environment. The tailings utilization process is an inseparable part of the mining business process and has a number of potential hazards and risks that need to be managed. Therefore, this research was conducted with the aim of identifying and assessing occupational safety and health risks in the tailings utilization process in the mining industry. This research uses a descriptive design with qualitative assessments based on Standard AS/NZS 4360:2004. Risk assessment was carried out by analyzing the stages of the work process, hazards, unexpected events, and risks to evaluate probability, consequences, and risk levels. The research identified a total of 86 unexpected events from 47 types of hazards in the tailings utilization process, which were divided into 29 physical hazards, 10 chemical hazards and 8 ergonomic hazards. The risk assessment shows that in the basic risk (basic risk) there are 8 low hazards, 25 moderate hazards, 10 high hazards and 4 extreme hazards, while in the residual risk (residual risks) there are 32 low hazards, 10 moderate hazards, 4 high hazards, and 1 extreme danger. Based on the assessment results, certain hazards require additional controls to reduce risks, as well as prioritized hazards that need immediate action and primary attention from management.
Read More
S-11674
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Minerva Nurwahyu Al Imani; Pembimbing: Sjahrul Meizar Nasri; Penguji: Hendra, Andi Irwansyah
Abstrak:
Ketersedian dan kualitas air bersih memainkan peran penting dalam kehidupan dan kualitas hidup manusia. PT YZ membangun Water treatment Plant (WTP) untuk memenuhi kebutuhan air bersih di kawasan perindustrian di Kabupaten Bintan. Penilaian risiko pada proses penjernihan air di WTP PT YZ masih terintegrasi dengan beberapa plant lain di dalam satu departemen yang sama dengan WTP yaitu departemen estate. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bahaya dan menilai risiko keselamatan dan kesehatan kerja pada proses penjernihan air di area WTP PT YZ secara komprehensif. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif observasional dengan metode analisis semi-kuantitatif. Hasil penelitian ditemukan terdapat 34 bahaya dengan 63 risiko pada proses penjernihan air di WTP. Tingkat risiko didapatkan 2 risiko sangat tinggi, 11 risiko tinggi, dan 50 risiko sedang. Pengendalian risiko dilibatkan dalam penilaian risiko sehingga nilai risiko dapat diturunkan berdasarkan pengendalian K3 yang dilakukan oleh perusahaan dan rekomendasi pengendalian K3 tambahan yang diberikan peneliti.

The availability and quality of clean water play a crucial role in human life and quality of life. PT YZ built a Water Treatment Plant (WTP) to meet the clean water needs in the industrial area of Bintan Regency. The risk assessment of the water purification process in PT YZ's WTP is still integrated with several other plants within the same department as the WTP, namely the estate department. This study aims to comprehensively identify hazard and assess occupational health and safety risks in the water purification process at PT YZ's WTP. This study uses a descriptive observational study design with a semi-quantitative analysis method. The research findings identified 34 hazards with 63 risks in the water purification process at the WTP. The risk levels were found to be 2 very high risks, 11 high risks, and 50 medium risks. Risk control is involved in the risk assessment so that risk values can be reduced based on the occupational health and safety controls implemented by the company and additional control recommendations provided by the researchers.
Read More
S-11611
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Liza Maulidya ; Pembimbing: L. Meily; Penguji: Abdul Kadir, Indri Hapsari Susilowati, Lidwina Margaretha Laka, Tan Malaka
Abstrak:
Keluhan pada tulang belakang (Musculoskeletal Disorder) sering dijumpai pada pekerja perkantoran, salah satunya adalah keluhan nyeri tengkuk. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan keluhan nyeri tengkuk pada pekerja kantor pusat salah satu perusahaan penyewaan alat berat di Jakarta Tahun 2024. Desain penelitian ini adalah cross-sectional. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi akut keluhan nyeri tengkuk sebesar 59,7% dan prevalensi keluhan kronis sebesar 61,2%. Didapatkan jenis kelamin, jenis pekerjaan, penggunaan telefon genggam (paling dominan) dan masalah tidur berhubungan signifikan dengan kejadian keluhan nyeri tengkuk pekerja kantor pusat. Sedangkan usia, IMT, tingkat pendidikan, literasi kesehatan, merokok, olahraga, peregangan, perilaku perebah, lama bekerja di depan device, jumlah waktu istirahat, depresi, kecemasan, stres, posisi dan penggunaan layar monitor, posisi dan penggunaan keybaord, posisi dan penggunaan sandaran lengan, desain kursi kerja, desain meja kerja, suhu, pencahayaan dan postur kerja, tidak berhubungan dengan keluhan nyeri tengkuk pada pekerja kantor pusat perusahaan penyewaan alat berat di Jakarta tahun 2024.

Office employees are likely to suffer the discomfort on the spine (Musculoskeletal Disorder), one of the them are discomfort of the neck (neck pain). This study was conducted to determine the risk factors related to neck pain discomfort among office employees. The methodology of this research is cross-sectional. The results of the study showed that the acute prevalence of neck pain discomfort among office employees was 59.7% and chronic prevalence of neck pain was 61,2%. There was a significant relationship between gender, the type of administrative work, mobile phone overuse (most significant), sleep problem and neck pain discomfort. There was no relationship between age, BMI, education level, health literacy, smoking, exercise, stretching, reclining behavior, duration of device use, rest time, depression, anxiety, stress, position and use of additional monitors, position and use of keyboards, position and use of armrests, chair design, desk design, temperature, lighting, and working posture with neck pain complaints. In multivariate analysis, the final model for risk factors related to neck pain complaints includes the variables gender, occupation, mobile phone use, and sleep problems.
Read More
T-7140
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syamsudin; Pembimbing: Sjahrul M. Nasri
M-624
[s.l.] : [s.n.] : s.a.]
D3 - Laporan Magang   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anggraini Pangestu Widiasih; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Megan Roos Febransyah
Abstrak: Penelitian ini membahas tentang penilaiain risiko keselamatan dan kesehatankerja pada proses kerja casting di PT. X, Cikupa Tangerang tahun 2016.Penilaian risiko dilakukan untuk mendapatkan nilai risiko yang terdapat padaproses kerja casting di PT.X, Cikupa Tangerang. Identifikasi bahaya danrisiko dilakukan menggunakan Job Safety Analysis (JSA). Analisis tingkatrisiko menggunakan ukuran standard kualitatif yang dimodifikasi dariAS/NZS 4360:2004. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectionaldengan pendekatan observasi dan wawancara. Nilai risiko dihasilkan dariperkalian antara probabilitas dan konsekuensi yang mungkin ditimbulkan.Hasil penelitian menyatakan terdapat 94 risiko pada proses casting di PT.X,Cikupa Tangerang.
Kata Kunci : Kajian Risiko, Proses Kerja Casting
This research discusses about occupational health and safety risk assessment oncasting process in PT. X, Cikupa Tangerang on 2016. Risk assessment carried outto obtain the value of the risk inherent in the casting process in PT.X, CikupaTangerang. Hazard and risk identification are conducted using the Job SafetyAnalysis (JSA). This analysis using the qualitative standard that modified fromthe AS/NZS 4360:2004. This research using cross sectional study design with indepth interviews and observational approach. Risk value resulting fromcombination between likelihood and consequences. The result showed that thereare 94 risks in casting process in PT. X, Cikupa Tangerang.
Keywords : Risk assement, Casting process.
Read More
S-9283
Depok : FKM UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febriana Maizura; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Abdul Kadir, Hendra, Elsye As Safira, Lutfi Muzaqi
Abstrak:

Industri pembuatan alat music memiliki risiko kesehatan akibat penggunaan bahan kimia seperti pelarut (solvent) dan perekat (adhesive). Pelarut digunakan dalam proses pengecatan kayu, sedangkan perekat digunakan untuk penyambungan part kayu agar menjadi sebuah alat musik. Pelarut yang digunakan yaitu 1,2,4-trimethylbenzene, 2-butoxyethanol, 2-ethoxyethyl acetate, 4-methylpentan-2-one, acetone, cumene, cyclohexanone, ethyl acetate, ethyl benzene, mesitylene, naphthalene, solvent naphtha (petroleum), n-butyl acetate, toluene, dan xylene. Penilaian risiko kesehatan bahan kimia mengacu pada Chemical Health Risk Assessment (CHRA) DOSH Malaysia tahun 2018 dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Pengumpulan data dimulai dari identifikasi bahan kimia, pengamatan dan interview, pengukuran, penilaian risiko kesehatan, menilai kecukupan pengendalian dan penentuan action priority. Hasil penelitian di PT XYZ menunjukkan nilai risk rating untuk pajanan inhalasi berkisar antara 6 (moderate) hingga 25 (high), dan pajanan dermal berada pada kategori moderate 1, moderate 2 dan high 1. Seluruh proses dinyatakan belum memiliki pengendalian yang cukup. Action priority 1 untuk pajanan inhalasi pada proses sanding, washcoat, wipping, pemasangan logo dan pewarnaan dengan cat pada bahan kimia cumene dan untuk pajanan dermal pada proses sanding, washcoat, wipping, pemasangan logo dan pewarnaan dengan cat pada bahan kimia 2-ethoxyethyl acetate, cumene, dan solvent naphtha (petroleum). Action priority 1 berarti tindakan pengendalian diperlukan segera.

The musical instrument manufacturing industry carries health risks due to the use of chemicals such as solvents and adhesives. Solvents are used in the wood painting process, while adhesives are applied to join wooden parts into a complete instrument. The solvents used include 1,2,4-trimethylbenzene, 2-butoxyethanol, 2-ethoxyethyl acetate, 4-methylpentan-2-one, acetone, cumene, cyclohexanone, ethyl acetate, ethyl benzene, mesitylene, naphthalene, solvent naphtha (petroleum), n-butyl acetate, toluene, and xylene. The chemical health risk assessment refers to the 2018 DOSH Malaysia Chemical Health Risk Assessment (CHRA) guidelines and uses both qualitative and quantitative approaches. Data collection includes chemical identification, observation, interviews, measurement, health risk assessment, evaluation of control adequacy, and determination of action priorities. The results of the study at PT XYZ showed that the risk rating for inhalation exposure ranged from 6 (moderate) to 25 (high), while dermal exposure was categorized as moderate 1, moderate 2, and high 1. All processes were found to have insufficient control measures. Action priority 1 was identified for inhalation exposure during sanding, washcoat, wipping, logo installation, and coloring processes involving cumene. The same priority was also identified for dermal exposure to 2-ethoxyethyl acetate, cumene, and solvent naphtha (petroleum) in those same processes. Action priority 1 indicates that immediate control measures are required.

 

Read More
T-7281
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Anggarawati Putri; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Prihono Sapto Atmodjo
S-9741
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nelvi Arvina; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Dadan Erwandi, Ramadansyah Siregar
S-7670
Depok : FKM UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive