Ditemukan 36794 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Obesitas merupakan masalah kesehatan global dengan prevalensi yang terus meningkat, termasuk di Indonesia. Pada anak dan remaja, obesitas dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, pola makan, dan status sosial ekonomi. Namun, penelitian yang secara khusus mengkaji obesitas pada kelompok usia ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prevalensi dan determinan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Desain penelitian ini adalah potong lintang, dengan sampel terdiri dari 115.053 anggota rumah tangga berusia 5–19 tahun yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil menunjukkan prevalensi obesitas sebesar 7,9% (95% CI 7,6–8,1). Faktor-faktor yang secara signifikan berhubungan dengan peningkatan risiko obesitas meliputi: jenis kelamin laki-laki [AOR 1,56; 95% CI 1,451–1,678], pendidikan ibu tinggi [AOR 1,197; 95% CI 1,106–1,296], ibu bekerja [AOR 1,14; 95% CI 1,063–1,223], tinggal di perkotaan [AOR 1,27; 95% CI 1,176–1,370], status ekonomi teratas [AOR 1,791; 95% CI 1,548–2,032], aktivitas fisik rendah [AOR 1,534; 95% CI 1,230–1,913], konsumsi makanan olahan lebih dari satu kali sehari [AOR 1,27; 95% CI 1,009–1,242], serta konsumsi buah dan sayur minimal satu porsi per hari [AOR 1,142; 95% CI 1,060–1,227]. Temuan ini menunjukkan bahwa intervensi promosi kesehatan yang menargetkan faktor-faktor tersebut penting untuk mencegah dan mengendalikan obesitas pada anak dan remaja di Indonesia.
Latar Belakang: Prevalensi HIV pada waria di Indonesia meningkat signifikan (28,9% pada 2023). Penelitian ini menganalisis perbedaan determinan penggunaan kondom secara konsisten antara waria yang membeli dan menjual seks. Metode: Analisis sekunder data Survei Terpadu Biologis dan Perilaku (STBP) 2023 dengan desain cross-sectional pada 2.103 responden waria menggunakan regresi logistik. Hasil: Penggunaan kondom secara konsisten lebih tinggi pada waria penjual seks (38,3%) dibanding pembeli seks (12,3%). Pada pembeli seks, determinan utama adalah usia <42 tahun dan kemudahan akses kondom (AOR=6,65). Pada penjual seks, faktor yang berpengaruh adalah pendidikan, tinggal dengan pasangan seks, paparan informasi HIV, riwayat IMS, tidak konsumsi alkohol sebelum seks, dan keikutsertaan program HIV. Kesimpulan: Terdapat perbedaan determinan perilaku antara kedua kelompok. Intervensi harus fokus pada perluasan akses kondom fisik bagi pembeli seks dan penguatan program edukasi serta komunitas bagi penjual seks.
Background: HIV prevalence among transgender women (Waria) in Indonesia has risen sharply to 28.9% in 2023. This study analyzes the differing determinants of consistent condom use between those who buy and sell sex. Methods: A secondary analysis of the 2023 Integrated Biological and Behavioral Survey (IBBS) was conducted using a cross-sectional design and logistic regression on 2,103 respondents. Results: Consistent condom use was higher among sellers (38.3%) than buyers (12.3%). For sex buyers, key determinants were age <42 years and ease of condom access (AOR=6.65). For sex sellers, significant factors included education, living with a partner, HIV information exposure, STI history, avoiding alcohol before sex, and HIV program participation. Conclusion: Behavior determinants differ between the two groups. Interventions should prioritize expanding physical condom access for buyers and strengthening educational and community-based programs for sellers.
