Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32213 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Shania Nursiah Hasri; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Anhari Achadi, Evi Martha, Nana Mulyana, Duta Liana
Abstrak:
Tesis ini membahas tentang mutu program Posyandu Lansia dan Posbindu PTM Terintegrasi di Kota Depok. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain deskriptif dan kemudian dilanjutkan dengan penelitian kualitatif melalui telaah dokumen dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menemukan sumber pendanaan, kompentensi kader dan petugas keseahtan, dan sistem insetif kader memengaruhi aspek proses dalam pemenhuan ketersediaan materi edukasi ataupun buku monitoring FR PTM dan buku kesehatan lansia. Pelaksanaan yang dilakukan di hari kerja juga menjadi alasan belum optimalnya cakupan peserta dengan usia produktif. Oleh sebab itu, peningkatan kompetensi kader, upaya penyusunan sistem insentif kader kesehatan yang layak, dan alternatif media edukasi yang lebih terjangkau menjadi saran dalam penelitian ini sehingga besar harapan dapat meningkatkan mutu layanan Program Posyandu Lansia dan Posbindu PTM.

This thesis examines the effectiveness of the Integrated Elderly Posyandu and PTM Posbindu programs in Depok City. The study employs a quantitative approach with a descriptive design, followed by qualitative research involving document review and in-depth interviews. The findings indicate that funding sources, cadre and health officer competencies, as well as cadre incentive systems impact various aspects of the process related to the availability of educational materials such as FR PTM monitoring books and elderly health books. Additionally, conducting the implementation on weekdays has resulted in suboptimal participation from individuals of productive age. As a result, enhancing cadre competency, establishing an appropriate health cadre incentive system, and exploring more cost-effective alternative educational resources are recommended to potentially enhance service quality for both the Posyandu Elderly Program and Posbindu PTM.
Read More
T-6970
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Arifah Alfiyyah; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Adang Bachtiar, Evi Martha, Alexander K Ginting S. , Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Penelitian ini menganalisis pengendalian mutu infeksi TB pada petugas di Rumah Sakit “X” Daerah Depok Jawa Barat, yang jarang dilakukan karena fokus pada pasien. Berdasarkan teori Donabedian (structure, process dan outcome) dan teori Van Meter dan Van Horn, penelitian ini mengidentifikasi standar pengendalian TB, kebijakan, SDM, sarana, dan anggaran sebagai bagian dari struktur; komunikasi dan manajemen risiko sebagai proses; serta deteksi TB/ILTB dan pengobatan sebagai hasil. Metode penelitian menggunakan analisis deskriptif kualitatif dengan triangulasi sumber melalui wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen dengan 13 informan. Hasil menunjukkan bahwa standar pengendalian TB mengikuti aturan nasional, kebijakan khusus TB sedang diproses, dan perlindungan airborne disease diterapkan. Kesadaran individu dan unit terkait bertanggung jawab atas pemantauan dan evaluasi kebijakan perlindungan. Sarana dan prasarana TB RO belum memenuhi standar, namun anggaran sudah mendukung perlindungan melalui BPJS dan dana hibah. Proses komunikasi dilakukan antar unit dan personal melalui digitalisasi dan nota dinas, serta manajemen risiko infeksi TB memenuhi 5 level hirarki pengendalian. Data outcome menunjukkan 49% petugas ILTB tahun 2023 dengan 2 petugas hasil x-ray tidak normal, namun pemantauan pengobatan belum optimal. Secara keseluruhan, perlindungan petugas terhadap infeksi TB berjalan meski kebijakan khusus TB belum ditetapkan. Perlindungan petugas terhadap infeksi TB dengan melihat structure, process dan outcome dapat melindungi petugas dari penyebaran TB dan meningkatkan mutu rumah sakit.

This study analyzes TB infection control among healthcare workers at hospital “X” Depok West Java, which is often overlooked due to patient-focused efforts. Using Donabedian’s framework (structure, process, outcome) and Van Meter and Van Horn's theory, the study examines TB control standards, policies, human resources, facilities, and budget (structure); communication and risk management (process); and TB/LTBI detection and treatment (outcome). Qualitative descriptive methods, including interviews, observations, and document reviews with 13 informants, reveal adherence to national TB control standards, ongoing policy development, and airborne disease protection. Despite some infrastructural shortcomings, budget support through national universal health coverage called BPJS Kesehatan and grants is noted. Communication is maintained digitally and formally, with risk management aligning with the hierarchy of controls. Outcomes indicate 49% LTBI detection in 2023, though treatment monitoring is insufficient. Overall, TB protection for staff is in place, yet specific TB policies are pending. Improved MDR-TB (Multidrug-Resistant Tuberculosis) facilities and policy optimization could enhance hospital quality.
Read More
T-6921
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Afiyah; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Adang Bachtiar, Vetty Yulianty Permanasari, Imam Budi hartono, Ira Irianti
Abstrak:
Tata Kelola Mutu Puskesmas merupakan pengelolaan terhadap tingkat layanan kesehatan untuk individu dan masyarakat yang dapat meningkatkan luaran kesehatan yang optimal. Penjaminan terhadap mutu puskesmas dilakukan akreditasi setiap 5 tahun sekali. Penerapan tata kelola mutu melalui tiga komponen yaitu struktur/input, proses dan output. Input terdiri dari sumber daya manusia, sarana dan prasarana, ketersediaan anggaran, komitmen pimpinan dan staf, serta pengorganisasian. Pada Proses menggunakan USEPDSA (Understanding Quality Improvement Needs, State the quality Problem, Evaluate the root cause, plan the solution, Do or Implement the solution, Study the solution and Action), dan output melihat keberhasilan peningkatan capaian Indikator Nasional Mutu yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan design studi kasus, menggunakan metode wawancara mendalam, observasi dan telaah dokumen. Wawancara mendalam dilakukan pada informan kunci pada Dinas Kesehatan Kota Depok dan kementerian Kesehatan, informan utama pada kepala puskesmas dan penanggung jawab mutu di enam puskesmas kota Depok, dan informan pendukung pada pasien puskesmas tersebut. Enam puskesmas terdiri dari tiga puskesmas yang sudah terakreditasi dan tiga puskesmas yang belum terakreditasi. Hasil penelitian pada faktor input sudah berjalan namun beberapa faktor tidak sesuai standar, faktor SDM secara kuantitas dan kualitas tidak sesuai, kurangnya anggaran, kurangnya komitmen staf dan pengorganisasian tim mutu khususnya bagi tiga puskesmas yang belum terakreditasi. Pada faktor proses USEPDSA belum berjalan yaitu pada proses Do/pelaksanaan pengukuran INM belum sesuai, pada Study/ evaluasi pembelajaran belum dilakukan monitoring evaluasi secara berkala dan kaji banding, Pada proses Act / standarisasi belum dilakukan. Pada faktor Output, capaian prioritas INM tahun 2022 dan 2023 tidak terjadi peningkatan. Kesimpulan tata kelola mutu dalam pencapaian Indikator Nasional Mutu (INM) belum diimplementasikan secara optimal. Pemenuhan faktor input dan optimalisasi proses perlu diupayakan dengan dukungan dari Dinas Kesehatan.

Puskesmas Quality Management is the management of the level of health services for individuals and communities that can improve optimal health outcomes. Assurance of the quality of the puskesmas is accredited every 5 years. Implementation of quality governance through three components, namely structure/input, process and output. Input consists of human resources, facilities and infrastructure, budget availability, leadership and staff commitment, and organization. The process uses USEPDSA (Understanding Quality Improvement Needs, State the quality Problem, Evaluate the root cause, plan the solution, Do or Implement the solution, Study the solution and Action), and the output shows the success in increasing the achievement of the National Quality Indicators which are indicators from the Ministry of Health. This study used a qualitative approach with a case study design, using in-depth interviews, observation and document review. In-depth interviews were conducted with key informants at the Depok City Health Office and the Ministry of Health, key informants at the heads of puskesmas and those in charge of quality at six puskesmas in Depok, and supporting informants at the puskesmas patients. The six puskesmas consist of three accredited puskesmas and three that have not been accredited. The results of research on input factors have been running but not optimal, human resources in quantity and quality are not optimal, lack of budget, lack of staff commitment and quality team organization, especially for three health centers that have not been accredited. The USEPDSA process factor has not been running, namely the Do/Implementation process of INM measurement is not appropriate, the Study/learning evaluation has not been carried out periodic monitoring and comparative studies, and the Act/standardization process has not been carried out. In the Output factor, INM's priority achievements in 2022 and 2023 have not increased. The conclusion of quality governance in achieving National Quality Indicators (INM) has not been implemented optimally. Compliance with input factors and process optimization needs to be pursued with support from the Health Office.
Read More
T-6653
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lailatul Husna; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Helen Andriani, Puput Oktamianti, Adang Bachtiar, Ida Lahenawati
Abstrak:
Beban masalah kesehatan jiwa di Indonesia terus meningkat, namun treatment gap tetap lebar, terutama pada layanan berbasis komunitas yang bersifat promotif dan preventif. Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Harmoni Kota Depok hadir sebagai layanan konseling kesehatan jiwa non-klinis berbasis keluarga di bawah naungan Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB), namun analisis mutu layanannya secara sistematis belum pernah dilakukan. Penelitian ini bertujuan menganalisis mutu layanan konseling kesehatan jiwa non-klinis di PUSPAGA Harmoni Kota Depok secara komprehensif dari perspektif pengguna dan penyedia layanan, serta merumuskan rekomendasi perbaikan dan Commitment to Change (CTC) sebagai jembatan knowledge to practice. Desain penelitian menggunakan explanatory sequential mixed methods, dengan pengumpulan data kuantitatif melalui kuesioner SERVQUAL pada 62 responden pengguna layanan konseling, dilanjutkan data kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap 5 informan penyedia layanan dan wawancara singkat/pertanyaan terbuka kepada pengguna. Data kualitatif dianalisis menggunakan kerangka Donabedian (struktur–proses–outcome), dan seluruh temuan diintegrasikan melalui pendekatan joint display serta diprioritaskan melalui metode USG bersama tim PUSPAGA. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mutu layanan secara keseluruhan berada pada kategori "cukup baik" (grand mean gap –0,218). Kekuatan utama layanan terletak pada dimensi Empathy (gap –0,167) dan Assurance (gap –0,190), yang mencerminkan kualitas hubungan terapeutik dan keamanan psikologis yang dirasakan pengguna. Kelemahan terbesar terdapat pada dimensi Tangibles (gap –0,311), terutama pada aksesibilitas lokasi (gap –0,855). Analisis Donabedian mengungkap tiga celah sistemik: ketidakseimbangan kapasitas struktural terhadap pertumbuhan permintaan layanan, penyelenggaraan proses yang bertumpu pada kapabilitas individu, dan sistem pengukuran outcome yang belum komprehensif. Integrasi temuan mengidentifikasi “paradoks kepuasan”, gap negatif di seluruh dimensi berdampingan dengan loyalitas pengguna yang sangat tinggi (93,5% bersedia merekomendasikan dan kunjungi kembali) yang dapat dijelaskan melalui teori zone of tolerance, zero price effect dan kualitas hubungan terapeutik yang dominan. Analisis prioritas masalah menetapkan tersendatnya program edukasi komunitas sebagai masalah termendesak (skor USG 15/15). CTC disusun dalam tiga level: internal, koordinasi lintas sektor, dan advokasi kebijakan, sebagai rencana aksi prioritas perbaikan mutu yang realistis. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan model evaluasi mutu layanan kesehatan jiwa komunitas di Indonesia dan mendukung penguatan layanan promotif-preventif berbasis keluarga yang evidence-based.

The burden of mental health problems in Indonesia continues to grow, yet the treatment gap remains wide, particularly in community-based services of a promotive and preventive nature. The Family Learning Center (Pusat Pembelajaran Keluarga/PUSPAGA) Harmoni in Depok City operates as a non-clinical, family-based mental health counseling service under the auspices of the Office for Women's Empowerment and Child Protection (DP3AP2KB); however, a systematic quality analysis of its services has never been conducted. This study aims to comprehensively analyze the quality of non-clinical mental health counseling services at PUSPAGA Harmoni, Depok City, from both user and provider perspectives, and to formulate improvement recommendations along with a Commitment to Change (CTC) framework as a bridge from knowledge to practice. The study employed an explanatory sequential mixed-methods design. Quantitative data were collected through SERVQUAL questionnaires administered to 62 service users, followed by qualitative data gathered via in-depth interviews with 5 service provider informants and brief interviews/open-ended questions directed at service users. Qualitative data were analyzed using the Donabedian framework (structure–process–outcome), and all findings were integrated through a joint display approach and prioritized using the Urgency, Seriousness, Growth (USG) method together with the PUSPAGA team. The results indicate that overall service quality falls in the "moderately good" category (grand mean gap: –0.218). The primary strengths lie in the Empathy (gap –0.167) and Assurance (gap –0.190) dimensions, reflecting the quality of the therapeutic relationship and psychological safety experienced by users. The greatest weakness is found in the Tangibles dimension (gap –0.311), particularly regarding location accessibility (gap –0.855). Donabedian analysis reveals three systemic gaps: a structural capacity imbalance relative to growing service demand, service processes heavily reliant on individual capabilities, and an insufficiently comprehensive outcome measurement system. Integration of findings identifies a "satisfaction paradox", negative gaps across all dimensions coexisting with very high user loyalty (93.5% willingness to recommend and return) , explained through zone of tolerance theory, zero price effect, and the dominant quality of the therapeutic relationship. Priority problem analysis identifies the stagnation of community education programs as the most urgent issue (USG score 15/15). The CTC is organized across three levels: internal, cross-sector coordination, and policy advocacy, as a realistic prioritized action plan for service quality improvement. This study contributes to the development of a community mental health service quality evaluation model in Indonesia and supports the strengthening of evidence-based, family-centered promotive and preventive services.
Read More
T-7674
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Deslina; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dian Ayubi, Dumilah Ayuningtyas; Suhardini, Ananda
Abstrak:

Prevalensi hipertensi di Indonesia masih tinggi, sementara proporsi pasien dengan tekanan darah terkendali tetap rendah. Rencana Strategis Kementerian Kesehatan 2022–2024 menetapkan target 90% pasien hipertensi terkendali di puskesmas, namun Jakarta Pusat pada tahun 2024 hanya mencapai 16,74%. Penelitian ini dilakukan di dua puskesmas dengan capaian berbeda: Puskesmas X (46,12%) dan Puskesmas Y (2,34%). Penelitian ini bertujuan menganalisis mutu program pengendalian hipertensi berdasarkan komponen input, proses, dan output dengan menggunakan pendekatan sistem terbuka.
Penelitian menggunakan desain kualitatif studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terfokus, observasi, dan telaah dokumen pada Maret–Mei 2025, melibatkan 30 informan yang terdiri atas petugas puskesmas, dinas kesehatan, suku dinas kesehatan, kader, dan pasien. Analisis dilakukan secara tematik.
Hasil menunjukkan mutu program di Puskesmas X relatif lebih baik. Puskesmas X menerapkan perencanaan proaktif, penyediaan obat yang lebih cepat, inovasi edukasi berkala, monitoring bersama jejaring, dan pelatihan rutin. Puskesmas Y melaksanakan perencanaan reguler, pengadaan obat mengikuti siklus tahunan, pemanfaatan dashboard hipertensi berjalan meskipun belum optimal, serta koordinasi internal rutin. Meskipun jumlah SDM sesuai standar, keterlibatan fungsional belum merata di kedua puskesmas. Penelitian ini menunjukkan bahwa keberhasilan pelaksanaan program hipertensi tidak hanya ditentukan oleh kelengkapan sumber daya, tetapi juga bergantung pada kualitas proses, termasuk perencanaan yang responsif, pengorganisasian terstruktur, pelaksanaan inovatif, dan monitoring berbasis data.
Penelitian merekomendasikan penguatan kapasitas tenaga kesehatan, penyelarasan definisi indikator antarinstansi, optimalisasi media edukasi digital dan sistem informasi terpadu, serta penetapan petugas administrasi dan teknologi informasi dalam struktur tim program untuk mendukung mutu layanan hipertensi.

The prevalence of hypertension in Indonesia remains high, while the proportion of patients with controlled blood pressure is still low. The Ministry of Health’s Strategic Plan 2022–2024 sets a target of 90% of hypertension patients achieving controlled blood pressure in primary health care facilities, yet in Central Jakarta, the achievement in 2024 was only 16.74%. This study was conducted in two community health centers with contrasting results: Puskesmas X (46.12%) and Puskesmas Y (2.34%). This study aimed to analyze the quality of hypertension control programs based on input, process, and output components using an open systems approach. The study employed a qualitative case study design. Data were collected through in-depth interviews, focus group discussions, observations, and document reviews between March and May 2025, involving 30 informants comprising health center staff, provincial and municipal health office representatives, community health volunteers, and patients. Thematic analysis was applied. The results showed that program quality at Puskesmas X was relatively better. Puskesmas X implemented proactive planning, faster provision of medications, regular educational innovations, joint monitoring with network partners, and routine training. Puskesmas Y carried out standard planning, medication procurement according to the annual cycle, regular internal coordination, and partial utilization of the hypertension dashboard. Although the number of human resources met the minimum standards, functional involvement was not evenly distributed in both health centers. The study indicated that the success of hypertension program implementation was not only determined by resource adequacy but also relied heavily on process quality, including responsive planning, structured organization, innovative implementation, and data-driven monitoring. The study recommends strengthening health worker capacity, harmonizing indicator definitions across institutions, optimizing digital educational media and integrated information systems, and formally designating administrative and information technology staff within program teams to improve hypertension service quality.

 

Read More
T-7300
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Hendaryo; Pembimbing: Suprijanto Rijadi, Dumilah Ayuningtyas; Penguji:
Abstrak:

Jumlah penderita TBC paru dari tahun ke tahun di Indonesia terus meningkat. Beberapa keadaan diduga merupakan faktor yang memegang peranan penting dalam meningkatnya infeksi TBC pada saat ini, antara memburuknya kondisi sosial ekonorni, belum optimalnya fasilitas pelayanan kesehatan masyarakat, meningkatnya jumlah penduduk yang tidak mempunyai tempat tinggal, meningkatnya infeksi HIV, daya tahan tubuh yang lemah/menurun, virulensi dan jumlah kuman yang meningkat. (Kardiana, 2007). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran mutu pelayanan program TB di Puskesmas terhadap tingkat keberhasilan program TB di Kabupaten Ciamis tahun 2007. Desain penelitian adalah kualitatif dengan melakukan wawancara mendalam terhadap petugas yang berkaitan langsung dengan program, diskusi kelompok terarah dengan masyarakat pengguna pelayanan dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukan pada kelompok Puskesmas yang berhasil dalam peneapaian program penanggulangan TB, pelak.sanaan kegiatan melibatkan seluruh petugas dan sumber daya yang ada di Puskesmas. Sedangkan pada kelompok Puskesmas yang belurn berhasil dalam pencapaian program penangguIangan TB, belum terjalin kerja sama baik lintas program .dan lintas sektor serta belum adanya kepedulian dari seluruh staf Puskesmas terhadap program. Saran yang diajukan dalam penelitian ini adalah adanya kepedulian petugas dan karyawan Puskesmas terhadap program, peran aktif dokter terhadap program, peningkatan frekuensi penyuluhan dan sosialisasi program di lintas sektor, pemberian pelayanan yang bermutu sesuai standar dengan mengutamakan kepuasaxi pasien sebagai pelanggan ekstemal dalam pelayanan kesehatan, adanya pembinaan dan pertemuan rutin dari Dinas Kesehatan pengahargaan terhadap prestasi kerja.


Amount of TBC paru patient from year to year in Indonesia increasing. Some situation anticipated to represent factor playing a part important in the increasing of TBC infection at the moment, for example: deteriorating it condition of social economic, not yet is optimal of service facility of health society, the increasing of amount of resident which don't have residence, the increasing of HIV infection, weak body endurance/ downhill, germ amount and virulence which mounting. (Kardiana, 2007). This research aim to to know picture quality of TB program service in Puskesmas to level efficacy of TB program in Sub-Province Ciamis year 2007. Research Design is qualitative by conducting interview to direct interconnected officer with program, directional group discussion with service consumer society and document study. Research place conducted by in four Self-Supporting Puskesmas Executor (PPM) in TB program with selection of research place in two a success Puskesrnas in attainment of Puskesmas and program which not yet succeeded in attainment of program. Result of research show of a success Puskesmas group in attainment of TB overcome program, activity execution entangle entire resource and officer exist in Puskesmas, existence the same of activity pass by quickly program and pass by quickly good sector. While at Puskesmas group which not yet succeeded in attainment of TB overcome program not yet intertwined the same of activity the goodness pass by quickly program and pass by quickly sector. Recommendation in this research the existence of officer caring and Puskesmas employees to program, active the role of doctor on the program, the improving make-up of counseling frequency pass by quickly sector socialization, giving of certifiable service according to standard by majoring satisfaction of patient as the external client in health service, existence of routine meeting and construction from Public Health Service appreciation and reward to the achievement activity.

Read More
T-2637
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Naila Falichatul Muannisa; Pembimbing: Wachyu Sulistiadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Evi Martha, Andri Mursita, Eti Rohati
Abstrak:
Penelitian ini membahas capaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) layanan usia produktif sebelum dan sesudah penerapan kebijakan Integrasi Layanan Primer (ILP) di Kota Depok. Tujuan penelitian adalah menganalisis kontribusi komponen pendekatan Primary Health Care (pelayanan terintegrasi, pemberdayaan masyarakat, kolaborasi lintas sektor) serta komponen penggerak (kerangka kebijakan, sumber daya manusia, pendanaan, tata kelola, dan pemantauan–evaluasi) terhadap capaian SPM. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus pada enam Puskesmas, didukung analisis deskriptif capaian SPM tahun 2023–2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi ILP mendorong perubahan struktur layanan, peran kader yang lebih aktif, serta perluasan jejaring lintas sektor. Namun, capaian SPM menunjukkan variasi antar Puskesmas: beberapa wilayah mengalami peningkatan stabil, sementara lainnya menghadapi fluktuasi atau stagnasi. Faktor internal berupa kesiapan tata kelola, SDM, dan adaptasi digital, serta faktor eksternal berupa dukungan lintas sektor dan regulasi, terbukti sangat menentukan keberhasilan ILP. Dengan demikian, keberhasilan transformasi ILP memerlukan penguatan kebijakan operasional, pemerataan kapasitas SDM, serta kolaborasi multipihak agar peningkatan mutu layanan usia produktif dapat berkelanjutan.

This study examines the achievement of Minimum Service Standards (MSS) for productive-age health services before and after the implementation of the Integrated Primary Care (ILP) policy in Depok City. The research aims to analyze the contribution of selected Primary Health Care components—integrated services, community empowerment, and cross-sector collaboration—as well as enabling factors including policy frameworks, human resources, financing, governance, and monitoring–evaluation. A qualitative approach with an intrinsic case study design was employed across six Puskesmas, supported by descriptive analysis of MSS data from 2023–2025. The findings indicate that ILP implementation encouraged service restructuring, more active roles of health cadres, and the expansion of cross-sectoral partnerships. Nevertheless, MSS achievements varied: some areas recorded stable improvements, while others faced fluctuations or stagnation. Internal factors such as governance readiness, human resource capacity, and digital adaptation, along with external factors such as cross-sectoral support and regulatory alignment, were critical to ILP success. Therefore, the sustainability of ILP transformation requires strengthened operational policies, equitable human resource capacity building, and multi-stakeholder collaboration to ensure continuous improvement of productive-age health services.
Read More
T-7439
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annisa Putri S; Pembimbing: Agustin Kusumayati; Penguji: Adang Bachtiar, Sutopo
Abstrak:
Tesis ini membahas kepuasan pasien berdasarkan mutu pelayanan rawat inap di RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi yang diukur melalui 5 dimensi mutu pelayanan kesehatan, terdiri dari tangibles, reliability, responsiveness, assurance, dan emphaty. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji dan menganalisis kepuasan pasien berdasarkan mutu pelayanan rawat inap di RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi tahun 2023. Penelitian ini adalah penelitian dengan metode campuran (mix methode) dengan melakukan pengambilan data kuantitatif terlebih dahulu, kemudian dilanjutkan dengan data kualitatif kepada stakeholder melalui Focus Group Discussion (FGD). Berdasarkan analisis deskriptif statistik diketahui bahwa 36 item sudah mendapatkan nilai kesesuaian diatas 90%, artinya pasien sudah puas dengan dimensi mutu pelayanan rawat inap secara keseluruhan. Ada hubungan antara dimensi mutu pelayanan kesehatan tangibles (p-value 0.002), assurance (p-value 0.040) dan emphaty (p-value 0.014) dengan kepuasan pasien rawat inap di RSUD H. Abdul Manap Kota Jambi. Dari hasil analisis diagram kartesius didapatkan 5 item pada kuadran I yang menjadi prioritas untuk dilakukan perbaikan, 13 item pada kuadran II, 8 item pada Kuadran III dan 12 item pada kuadran IV. Hasil studi kualitatif menunjukkan bahwa manajemen rumah sakit juga telah melakukan inovasi dan improvement secara berkelanjutan dalam pemberian layanan kesehatan kepada pasien. Untuk meningkatkan kualitas layanan, rumah sakit dapat terus melakukan impelentasi manajemen mutu terpadu yang berfokus pada penjenjangan prioritas secara simultan sehingga dapat disusun upaya mempertahankan prestasi dimensi yang sudah baik dan meninjau efektivitas upaya-upaya perbaikan yang dilakukan dapat memenuhi harapan pasien.

This thesis explores patient satisfaction based on the quality of inpatient services at H. Abdul Manap General Hospital Jambi City. The study measures patient satisfaction using the five dimensions of healthcare service quality: tangibles, reliability, responsiveness, assurance, and emphaty. The research aims to assess and analyze patient satisfaction based on the quality of inpatient services at H. Abdul Manap General Hospital, Jambi City in 2023. The study employs a mixed-methods approach, collecting quantitative data followed by qualitative data through Focus Group Discussions (FGD). Descriptive statistical analysis reveals that 36 items have achieved a satisfaction score above 90%, indicating overall patient satisfaction with the dimensions of inpatient service quality. The study further establishes a significant relationship between the tangibles (p-value 0.002), assurance (p-value 0.040), and emphaty (p-value 0.014) dimensions of healthcare service quality and patient satisfaction with inpatient services at H. Abdul Manap General Hospital Jambi City. Cartesian diagram analysis identifies 5 items in quadrant I that require priority improvement, 13 items in quadrant II, 8 items in quadrant III, and 12 items in quadrant IV. The qualitative study findings indicate that the hospital management has implemented continuous innovation and improvement in providing healthcare services to patients. To enhance service quality, the hospital can continue implementing integrated quality management focusing on simultaneous prioritization. This approach will facilitate the development of strategies to maintain the performance of well-rated dimensions and review the effectiveness of improvement efforts to meet patient expectations.
Read More
T-7102
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Novie Setianingsih; Pembimbing: Sudarto; Penguji: Dian Ayubi, Wahyu Sulistiadi, Ratu Nuraini S., Marwati
Abstrak: Pada tahun 2019 Puskesmas di Kota Cilegon tidak di lakukan penilaian kinerja individu dalam pelayanan antenatal berdasarkan standard based management and recognition (SBMR). Rujukan pada ibu hamil dapat dilakukan jika pelayanan antenatal sudah sesuai standar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kinerja bidan kelurahan dalam memberikan pelayanan antenatal berdasarkan SBMR melalui peranan faktor individu (pengalaman), faktor psikologis (sikap dan motivasi) dan faktor organisasi (sumberdaya dan supervisi) di posyandu, di Kota Cilegon tahun 2021. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, yang betujuan untuk mengetahui kinerja dan mendapatkan informasi dari beberapa informan mengenai suatu proses dan aktivitas pada program pelayanan antenatal care. Agar lebih spesifik pengumpulan data menggunakan metode WM, FGD dan observasi, dilakukan di Puskesmas Citangkil 2 dan Puskesmas Cilegon pada bulan April-mei 2021. Informan utama dalam penelitian ini adalah bidan kelurahan, informan kunci adalah bidan koordinator, kepala puskesmas, dan Kasie Kesga Dinas Kesehatan Kota Cilegon. Hasil penelitian didapatkan kinerja bidan kelurahan tidak sesuai standar. Mayoritas bidan kelurahan sudah mendapatkan pelatihan, mayoritas bidan kelurahan tidak menyetujui penilaian kinerja menggunakan SBMR, motivasi bidan kelurahan masih rendah karena posyandu dilakukan sendiri, tidak ada kesesuaian gaji dengan pekerjaannya, tidak adanya transport posyandu tidak adanya reward, masih ditemukannya sumberdaya yang kurang lengkap di posyandu, dan beberapa informan mengatakan tidak adanya supervisi dalam kinerja bidan, hal tersebut yang menyebabkan kinerja bidan tidak sesuai standar. Kesimpulan kinerja bidan dalam pelayanan antenatal tidak sesuai dengan standar disebabkan karena telah lamanya pelatihan, adanya bidan yang belum mendapatkan pelatihan, motivasi yang rendah, sumberdaya yang tidak memadai dan tidak adanya supervisi.
Read More
T-6223
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Haspeni Simanjuntak; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Ede Surya Darmawan, Nana Mulyana, Novrizal Lubis
Abstrak:
Tesis ini membahas mengenai mutu pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada tiga jenis pelayanan kesehatan primer di Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara. Penelitian ini adalah penelitian mixed method dengan desain sequential dimana penelitian kuantitatif dilakukan terlebih dahulu lalu diperdalam dengan penelitian kualitatif. Hasil penelitian menemukan ada perbedaan mutu pelayanan kesehatan gigi dan mulut pada tigas jenis pelayanan kesehatan primer di Kabupaten Serdang Bedagai dan menyarankan Puskesmas untuk meningkatkan kepuasan pasien (khususnya pada kelengkapan alat, ruangan yang nyaman dan bersih, kemudahan akses, kecepatan dan keramahan dalam memberikan pelayanan), Klinik Pratama untuk meningkatkan kepuasan pasien (khususnya pada ketanggapan petugas dalam memberikan pelayanan dan kesigapan petugas dalam menangani keluhan), Praktik Mandiri Dokter Gigi melengkapi dokumen akreditasi dan meningkatkan kepuasan pasien (khususnya pada ketanggapan petugas dalam memberikan layanan, ketepatan waktu kedatangan dokter gigi dan kejelasan informasi mengenai alur layanan) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Serdang Bedagai agar berkomitmen untuk penyetaraan mutu dengan melibatkan ketiga jenis pelayanan kesehatan primer dalam setiap kegiatan peningkatan mutu pelayanan Kesehatan di Kabupaten Serdang Bedagai Provinsi Sumatera Utara.

The focus of this study is the quality of dental and oral healthcare in three types of primary healthcare in Serdang Bedagai Regency, North Sumatra Province. This research is a mixed method research with a sequential design where quantitative research is carried out first and then deepened with qualitative research. The results of the research found that there were differences in the quality of dental and oral health services in three types of primary health services in Serdang Bedagai Regency and suggested that the Public Health Center increase patient satisfaction (especially equipment completeness, comfortable and clean rooms, ease of access, speed and friendliness in providing services), Pratama Clinics to increase patient satisfaction (especially the responsiveness of officers in providing services and the alertness of officers in handling complaints), Private Dentist Practices to complete the practice requirements documents and increase patient satisfaction (especially the responsiveness of officers in providing services, punctuality of the dentist's arrival and clarity of service flow ) and the Serdang Bedagai District Health Service to commit to equalizing quality by involving the three types of primary health services in every activity to improve the quality of Healthcare in Serdang Bedagai District, North Sumatra Province.
Read More
T-6975
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive