Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 37616 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Tyas Natasya Citrawati; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Ascobat Gani, Puput Oktamianti, Ari Setyaningrum dan Sigit Wibowo
Abstrak:
Ketidakhadiran ASN yang cukup tinggi dapat berdampak kepada produktivitas dari ASN itu sendiri. Hal tersebut justru bertolak belakang dengan tujuan dari implementasi GERMAS yang dicanangkan oleh pemerintah. Melihat dari data tingkat kebugaran kardiorespirasi dan tingkat ketidakhadiran ASN, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai hubungan antara tingkat kebugaran jasmani terutama kardiorespirasi dan faktor confounding dengan cuti sakit di Kementerian Kesehatan. Penelitian ini menggunakan metode case control yang dilakukan pada bulan Januari, Februari, dan Maret 2024. Penelitian dilakukan melalui pengambilan data jenis kelamin, usia, jabatan dan cuti sakit dari data kepegawaian pada E-office. Status gizi dan tingkat kebugaran dari aplikasi Sistem Informasi Kebugaran (SIPGAR). Sedangkan data jarak rumah ke tempat kerja, transportasi, penyakit penyerta, aktivitas fisik dan merokok diambil melalui kuesioner. Pada penelitian ini didapatkan kesimpulan bahwa terdapat hubungan antara kebugaran kardiorespirasi dengan cuti sakit. Variabel jenis kelamin, jabatan, status gizi, aktivitas fisik, usia dan penyakit penyerta merupakan confounding hubungan kebugaran kardiorespirasi dengan cuti sakit. Berdasarkan aOR=7,83 dengan menggunakan pemodelan akhir didapat bahwa pegawai yang tidak bugar berisiko 7,83 kali untuk tidak hadir karena sakit dibandingkan pegawai yang bugar setelah dikontrol oleh variabel jenis kelamin, jabatan, status gizi, aktivitas fisik, usia dan penyakit penyerta. Penelitian ini menyarankan untuk pembuatan kebijakan untuk pengukuran kebugaran rutin serta merekomendasikan program intervensi kebugaran dan kesehatan di tempat kerja berdasarkan masing-masing kondisi kesehatan perorangan yang hasilnya dapat disebarluaskan untuk mengedukasi masyarakat betapa pentingnya manfaat kebugaran kardiorespirasi selain untuk meningkatkan produktivitas pekerja tetapi seluruh lapisan masyarakat seperti anak sekolah dan lansia. Penelitian dengan ukuran sampel yang lebih besar diperlukan untuk mendukung atau menyangkal hasil tersebut.

High absenteeism among civil servants (ASN) can significantly impact their productivity, which contrasts with the objectives of the GERMAS (Healthy Living Community Movement) initiative promoted by the government. Analyzing data on cardiorespiratory fitness and absenteeism rates among civil servants, this study aims to investigate the relationship between physical fitness, particularly cardiorespiratory fitness, and confounding factors with sick leave at the Ministry of Health. This research employs a case-control method conducted in January, February, and March 2024. Data collection included gender, age, job position, and sick leave information from employee records in the E-office. Nutritional status and fitness levels were sourced from the Fitness Information System (SIPGAR) application. Additional data on the distance from home to work, transportation, comorbidities, physical activity, and smoking were gathered through questionnaires. The study concludes that there is a significant relationship between cardiorespiratory fitness and sick leave. Variables such as gender, job position, nutritional status, physical activity, age, and comorbidities act as confounders in the relationship between cardiorespiratory fitness and sick leave. Based on an adjusted odds ratio (aOR) of 7.83 from the final model, it was found that employees with poor cardiorespiratory fitness are 7.83 times more likely to take sick leave compared to those with good fitness, after controlling for gender, job position, nutritional status, physical activity, age, and comorbidities. The study recommends policies for regular fitness assessments and workplace fitness and health intervention programs tailored to individual health conditions. The findings should be disseminated to educate the public on the importance of cardiorespiratory fitness, not only to enhance worker productivity but also for all community segments, including school children and the elderly. Further studies with larger sample sizes are needed to support or refute these findings.
Read More
T-6992
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syifa Aulia Muthmainnah; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Ede Surya Darmawan, Ekonugroho Budhi Prasetyo, Bonnie Medana Pahlavie
T-7337
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raphita Sinambela; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Purnawan Junadi, Prastuti Soewondo, Baequni, Donna Pandiangan
Abstrak: Dinas Kesehatan sebagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang bertanggung jawab di bidang kesehatan untuk mencapai indikator standar Pelayanan Minimal (SPM) setiap tahun. Untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat yang semakin meningkat saat ini, Dinas Kesehatan dapat terus berbenah dalam peningkatan kinerjanya baik dari sumber daya manusianya dan faktor organisasi. Perilaku pegawai merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan organisasi baik dilihat dari pengetahuan dan sikap pegawai untuk pencapaian SPM. Kesiapan organisasi salah satu tools yang dapat digunakan Malcolm Baldrige Assessment mencakup: kepemimpinan; perencanaan strategi; fokus pada pelanggan; penilaian, analisis, dan manajemen pengetahuan; fokus pada pekerja; manajemen proses; dan hasil. Penelitian dilakukan untuk melihat gambaran hubungan antara Perilaku Pegawai dan faktor-faktor organisasi dengan Kinerja Capaian Standar Pelayanan Minimal. Metode penelitian kuantitatif, desain crossectional, melalui pengisian kuesioner dengan google form oleh 232 responden (pegawai). Hasil penelitian seluruh variabel independen memiliki hubungan yang signifikan dengan kinerja capaian SPM. Variabel Pengukuran, Analisis, Pengetahuan Manajemen secara bivariat (p = 0,0001; OR = 46,12; 95% CI = 21,29 – 99,91) dan multivariat (p = 0,0001; OR = 8,288; 95% CI) merupakan varibel dominan berhubungan dengan kinerja Dinkes Kota Sibolga. Total skor kriteria Malcolm Baldrige pada hasil kinerja Dinas Kesehatan Sibolga memperoleh hasil di level Excellent pada posisi Benchamark Leader.
The Health Service as a Regional Apparatus Organization (RAO) is responsible for the health sector to achieve Minimum Service Standard (SPM) indicators every year. To meet the current increasing need for public health services, the Health Service can continue to improve its performance both in terms of human resources and organizational factors. Employee behavior is one of the factors that supports organizational success, both seen from employee knowledge and attitudes towards achieving SPM. Organizational readiness is one tool that Malcolm Baldrige can use Assessments include: leadership; planning strategy; customer focused; assessment, analysis, and knowledge management; focus on workers; management process; and result. The research was conducted to see a picture of the relationship between employee behavior and organizational factors and the performance of achieving minimum service standards. Quantitative research method, cross-sectional design, by filling out a questionnaire using Google Form by 232 respondents (employees). The research results show that all independent variables have a significant relationship with SPM performance. Measurement variables, Analysis, Management Knowledge bivariate (p = 0.0001; OR = 46.12; 95% CI = 21.29 – 99.91) and multivariate (p = 0.0001; OR = 8.288; 95% CI ) is the dominant variable related to the performance of the Sibolga City Health Office. Malcolm Baldrige's total criteria score on the performance results of the Sibolga Health Service obtained results at the Excellent level in the Benchamark Leader position.
Read More
T-6906
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosikin; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Srinagar M. Ardjo, Utami Noor Sya`baniyah
Abstrak: Latar belakang: Glaukoma merupakan penyebab kebutaan nomor dua terbesar di dunia setelah katarak. Diperkirakan akan ada 79,4 juta pasien glaukoma pada tahun 2020 di seluruh dunia, prevalensi glaukoma di Indonesia adalah 0,5%. Gejala glaukoma sering tidak disadari karena menyerupai gejala penyakit lain sehingga diagnosis glaukoma terlambat yang mengakibatkan terjadinya kebutaan total. Dari hasil penelitian seminat glaukoma tahun 2013-2014 di Poliklinik Mata RSCM didapatkan 64 pasien dengan glaukoma sudut terbuka 51,4% kondisi lanjut, 13,5% sudah buta total, 76 pasien dengan glaukoma sudut tertutup 41,4% kondisi lanjut, 26,4% buta total.
Tujuan: Penelitian bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang berhubungan dengan kepatuhan kontrol pasien glaukoma di Poliklinik Mata RSUP. Dr. Cipto Mangunkusumo tahun 2017.
Metode: Penelitian menggunakan rancangan crossectional. Populasi adalah pasien glaukoma yang berkunjung di Poliklinik Mata RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo bulan Juli-September 2017. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner dengan skala sikap.
Hasil: Kepatuhan kontrol pasien glaukoma di Poliklinik Mata RSUP Dr. Cipto Mangunkusumo bulan Juli-September 2017 adalah 74%. Berdasarkan analisis bivariat didapatkan variabel yang berhubungan dengan kepatuhan kontrol pasien glaukoma adalah lama menderita (0,000), tingkat pengetahuan (0,000), motivasi berobat (0,000), dukungan keluarga (0,000) dan peran tenaga kesehatan (0,000). Berdasarkan analisis multivariat, motivasi berobat mempunyai pengruh terbesar dalam kepatuhan kontrol pasien glaukoma (OR =12.015).
Kesimpulan: Perlunya peran serta keluarga, tenaga kesehatan dalam memberikan dukungan terhadap pasien glaukoma supaya timbul motivasi untuk disiplin dalam program pengobatan dan patuh untuk kontrol sesuai jadwal.
Kata kunci: Kepatuhan kontrol, glaukoma, rumah sakit

Background: Glaucoma is the second largest cause of blindness in the world after cataracts. It is estimated that there will be 79.4 million glaucoma patients by 2020 worldwide, the prevalence of glaucoma in Indonesia is 0.5%. Symptoms of glaucoma are often unrecognized because they resemble other symptoms of the disease so that the late glaucoma diagnosis results in total blindness. From the research of glaucoma seminar in 2013-2014 in RSCM, 64 patients with open-angle glaucoma were 51,4% advanced condition, 13,5% were totally blind, 76 patients with closed angle glaucoma 41,4% advanced condition, 26, 4% total blindness.
Objective: The objective of this research is to know what factors are related to compliance control of glaucoma patients in Poliklinik Mata RSUP. Dr. Cipto Mangunkusumo in 2017.
Methods: The study used crossectional design. The population is glaucoma patients who visit the Eye Poliklinik Mata RSUP. Dr. Cipto Mangunkusumo from July- September 2017. The instrument used is questionnaire with attitude scale.
Results: Compliance of control of glaucoma patients at Eye Polyclinic of Dr. Cipto Mangunkusumo from July to September 2017 is 74%. Based on the bivariate analysis, the variables related to the control compliance of glaucoma patients were long suffering (0,000), knowledge level (0,000), treatment motivation (0,000), family support (0,000) and the role of health workers (0.000). Based on multivariate analysis, motivation of medication has the biggest influence in compliance control of glaucoma patients (OR = 12.015).
Conclusion: The need for family participation, health personnel in providing support to glaucoma patients to generate motivation for discipline in treatment programs and adherence to controls on schedule.
Keywords: Compliance control, glaucoma, hospital
Read More
T-5116
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wati Mekarsari; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Pujiyanto, Puput Oktamianti, Amila Megraini, Amy Rahmadanti
Abstrak: Kementerian Kesehatan Indonesia pada masa pandemi Covid 19 mengeluarkan instrument tentang Daftar Tilik Rumah Sakit Pada Masa Pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).Tujuan penelitian adalah mengetahui gambaran komponen-komponen Hospital Readiness Rumah Sakit Vertikal Kementerian Kesehatan pada masa pandemi covid 19 dengan instrumen Rapid Hospital Readiness Checklist WHO di tahun 2021-2022.Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan menggunakan data sekunder yang diambil dari aplikasi mutufasyankes.kemkes.go.id dengan menarik data dari 34 Rumah Sakit Vertikal Kementerian Kesehatan di tahun 2021 dan data 20 RS Vertikal Kementerian Kesehatan di Tahun 2022. Pengukuran ini menggunakan Instrument WHO Rapid Hospital Readiness Checklist yang terdiri dari 12 komponen yang diukur dan hasil penilaian berupa score dan persentasi penilaian yang secara sistematis hasil dari 12 komponen .Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase terendah hasil penilaian Hospital Readiness Checklist Rumah Sakit Vertikal Kementerian Kesehatan tahun 2021 dan 2022 adalah komponen ke-10 yaitu kesehatan kerja, kesehatan mental, dan dukungan psikososial dimana tahun 2021 sebesar 77% sedangkan ditahun 2022 sebesar 91%. Sedangkan persentase tertinggi didapatkan bahwa sebesar 95% ditahun 2021 yaitu komponen ke-12 terkait pencegahan dan pengendalian infeksi, pada tahun 2022 persentase tertinggi yakni komponen ke-5 terkait administrasi, keuangan, dan kelangsungan bisnis. Penelitian ini memunculkan saran agar dapat membuat program di rumah sakit vertikal untuk peningkatan mutu pelayanan terkait kesehatan kerja, kesehatan mental dan dukungan psikososial dengan melibatkan stakeholder terkait sehingga mutu pelayanan dan keselamatan pasien di rumah sakit terwujud. Kata Kunci : Hospital readiness, UPT Rumah Sakit Vertikal, Covid 19
The Indonesian Ministry of Health in order to prepare hospitals during the Covid 19 pandemic issued an instrument regarding Hospital Readiness During the 2019 Corona Virus Disease (Covid-19). This studi for know about componens Hospital Readiness in Vertical Hospitals as UPT of the Ministry of Health in 2021 and 2022. This study uses a quantitative method using secondary data taken from the Mutufasyankes.kemkes.go.id application by pulling data from 34 Vertical Hospitals of the Ministry of Health in 2021 and data from 20 Vertical Hospitals of the Ministry of Health in 2022. This measurement uses the WHO Rapid Instrument. Hospital Readiness Checklist which consists of 12 components that are measured and the results of the assessment are in the form of scores and percentages of assessments which systematically the results of the 12 components form a spider web. The research results show that The results of the analysis found that the lowest percentage of the results of an overview of the readiness of the vertical ministry of health in 2021 and 2022 was the 10th component, namely occupational health, mental health, and psychosocial support where in 2021 it was 77% while in 2022 it was 91%. While the highest percentage is found to be 95% in 2021, namely the 12th component related to infection prevention and control, in 2022 the highest percentage is the 5th component related to administration, finance, and business continuity.This research raises suggestions for making policies on the quality of services related to occupational health, mental health and psychosocial support by involving relevant stakeholders so that the quality of service and patient safety in hospitals is realized. Keywords: Hospital readiness,UPT Vertical Hospital, Covid 19
Read More
T-6833
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jumiaty; Pembimbing: Hafizurachman; Penguji: Purnawan Junadi, Dumilah Ayuningtyas, Kodrat Pramudho
T-3222
Depok : FKM UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratna Utami Wijayanti; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Anhari Achadi, Pujiyanto, Childa Maisni, Euis Saadah
Abstrak: Latar belakang (background): Saat ini, banyak sekali permasalahan kesehatan yangterjadi pada remaja, termasuk juga pada remaja yang berada di sekolah. Di Indonesia,terdapat sebuah program promosi kesehatan yang dilakukan pada tataran sekolah yaituUsaha Kesehatan Sekolah (UKS). Anak sekolah merupakan kelompok terorganisir yangberpotensi untuk mampu berdaya dalam hal kesehatan. Tujuan (Objective): Memberikangambaran mengenai pelaksanaan program UKS pada Sekolah Lanjutan Tingkat Atas(SLTA)di Provinsi DKI Jakarta dengan menggunakan pendekatan Balanced Scorecard.Metode (Method): Informasi yang didapatkan berasal dari studi kualitatif yang dilakukanpada sekolah dan Puskesmas di Provinsi DKI Jakarta. Studi ini dilakukan pada bulan Juli-Oktober 2014. Informasi yang dianalisis dalam studi ini bersumber dari 17 wawancaramendalam yang dilakukan pada sekolah dan Puskesmas, melibatkan 4 (empat) wakilkepala sekolah, 4 (empat) guru Pembina UKS, 4 (empat) perwakilan siswa, 4 (empat)perwakilan Puskesmas, dan seorang perwakilan staf Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.Hasil (result): Berdasarkan metode evaluasi Balanced Scorecard, pada keempat sekolahyang menjadi studi penelitian ini lebih banyak menjalankan ruang lingkup kuratif saja.Pada keempat Puskesmas diketahui lebih banyak menjalankan fungsi pelayanan kesehatandibandingkan dengan fungsi pendidikan kesehatan dan pembinaan lingkungan sehat.Beberapa faktor yang mendorong belum optimalnya pelaksanaan UKS di SLTAdiantaranya adalah masih kurangnya pelatihan dan forum belajar bagi guru, belummaksimalnya pelibatan siswa baik di sekolah maupun di Puskesmas, dan belummaksimalnya kerjasama yang dilakukan oleh Puskesmas. Kesimpulan (conclusion):Diperlukan sebuah upaya yang komprehensif untuk mengatasi permasalahan tersebuttermasuk peninjauan kembali kebijakan dan pedoman yang berkaitan dengan pelaksanaanUKS di sekolah, peningkatan keterampilan bagi para guru dan petugas kesehatan melaluipelatihan dan mengaktifkan forum komunikasi sebagai sarana belajar untukmengembangkan wawasan, melibatkan para orangtua siswa, dan pelibatan siswa dalammenjalankan proses perencanaan hingga evaluasi program UKS di sekolah.Kata kunci: sekolah, siswa, pelaksanaan, program UKS, Puskesmas, Balanced Scorecard
Background: Nowadays, many health problems happened in adolescent, includingadolescent in school. In Indonesia, there is a program that conducted in school, namedUKS (Usaha Kesehatan Sekolah). In school, adolescent is the organized group that has tobe capable to empower in health. Objective: Explain about implementation of UKSprogram in Senior High School and equal in Province of DKI Jakarta with BalancedScorecard approaches. Method: information obtained from qualitative study conducted inSchool and health care center in Province of DKI Jakarta. Analyzed information in thisstudy sourced from 17 in-depth interviews, consist of 4 (four) vice school principle, 4(four) teachers, 4 (four) students, 4 (four) health care center staff, and representatives fromProvince Health Office. Result: Based on Balanced Scorecard method, in four schoolswhich become the subject of the research stated that are not yet implementedcomprehensive UKS program. Most of them implement only in curative and rehabilitativeefforts. Besides senior high school, the implement program is health care center. In fourhealth care center, most of them implement the program only in health services functioncompared with health education function. Inhibit factors which causes ineffective are lackof training and forum for teacher for encouraging their knowledge and skill that relatedwith UKS, lack of involving the student in school and health care center, and lack ofpartnership between health care center with other sectors like public sector, private sectors,or non-government organization. Conclusion: Required a comprehensive effort to solvethe problems. The governments have to review the policy and guidance related to UKSimplementation di school. Besides that, it is required to improve the organizing skill fromprogram officer (teacher and health care officer) so that they are capable to implementcomprehensive UKS program through training and communication forum as the learning,involve the parent of the student, and involve the students in planning until evaluationprocess in UKS program.Key word: school, student, implementation, UKS, health care center, Balanced Scorecard.
Read More
T-4291
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amilia Wulandhani; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Atik Nurwahyuni, Pujiyanto, Lina Marlina, Donni Hendrawan
Abstrak:
Ageing population merupakan permasalahan bagi sistem kesehatan di berbagai negara. Lansia merupakan kelompok rentan yang berisiko tinggi menderita penyakit tidak menular kronis, multimorbiditas, serta disabilitas. FKTP menjadi akses pelayanan kesehatan terdekat lansia berkaitan dengan sistem berjenjang dalam skema JKN. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan rawat jalan tingkat pertama pada lansia peserta JKN tahun 2022. Penelitian dilakukan dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2023. Pemanfaatan pelayanan RJTP pada lansia peserta JKN tahun 2022 adalah 43,35%. Terdapat hubungan signifikan antara kelompok usia, jenis kelamin, hubungan keluarga, segmen peserta, wilayah tempat tinggal, riwayat penyakit kronis, jenis FKTP, dan kepemilikan FKTP dengan pemanfaatan pelayanan RJTP pada lansia. Faktor yang paling dominan berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan RJTP pada lansia adalah riwayat penyakit kronis dimana lansia dengan riwayat penyakit kronis berpeluang lebih besar (AOR 41,84; 95% CI 37,35-46,87; p value 0,000) memanfaatkan pelayanan RJTP dibandingkan lansia tanpa riwayat penyakit kronis. Diperlukan kerja sama antara Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, dan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan program pelayanan kesehatan lansia seperti ILP, Prolanis, serta mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan pemanfaatan pelayanan RJTP pada lansia.

The ageing population is a problem for the health system across countries. The elderly are a vulnerable population with higher risk of chronic diseases, multimorbidity, and disability. Primary care facilities (FKTP) are the closest access to health services for elderly related to the tiered system in JKN scheme. This study aims to determine factors associated with the utilization of primary outpatient services (RJTP) among elderly JKN participants in 2022. This is a cross-sectional study using BPJS Kesehatan sample data in 2023. This study found RJTP utilization among elderly JKN participants in 2022 was 43,35%. There is a significant relationship between age group, gender, family relationship, participant segment, area of residence, chronic condition, type of FKTP, and ownership of FKTP with the utilization of RJTP. The most dominant factor related to the utilization of RJTP is chronic conditions, where elderly with a chronic disease have a greater chance (AOR 41,84; 95% CI 37,35–46,87; p value 0.000) of utilizing RJTP compared to elderly without a chronic disease. Collaboration is needed between Kementerian Kesehatan, BPJS Kesehatan, and local government to optimize elderly health service programs such as ILP, Prolanis, and educate people to increase RJTP utilization for the elderly.
Read More
T-7056
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fitriyanti Kasim Djou; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Anhari Achadi, Punto Dewo, Emi Nurjasmi
T-5333
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iskandar; Pembimbing: Anwar Hasan, Sutanto Priyo Hastono
T-1575
Depok : FKM UI, 2003
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive