Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 31558 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Said Mardani; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, Tri Yunis Miko Wahyono, Emita Ajis, Sulistyo
Abstrak:
Kematian TBC di Indonesia merupakan cerminan dinamika kompleks upaya penanggulangan TBC di tingkat regional, termasuk di Kabupaten Indragiri Hulu Provinsi Riau. Pada tahun 2022 kematian penderita TBC di Kabupaten Indragiri Hulu sebesar 7,1% dari total penderita TBC yang dilaporkan dan diobati, menjadikan Indragiri Hulu menempati peringkat kedua kematian TBC terbanyak di Provinsi Riau. Selain itu, kematian penderita TBC di Indragiri Hulu juga menunjukkan tren meningkat dari 0,8% (2020), menjadi 6,3% (2021), dan meningkat lagi menjadi 7,1% (2022). Tujuan utama penelitian ini adalah mengetahui faktor risiko semua kematian penderita TBC di Kabupaten Indragiri Hulu. Desain penelitian ini adalah kohort restrospektif. Penelitian ini menggunakan data sekunder dari aplikasi SITB Kabupaten Indragiri Hulu tahun 2020-2023. Populasi penelitian adalah seluruh penderita TBC di Kabupaten Indragiri Hulu tahun 2020-2023 berjumlah 2.073 orang. Sampel penelitian berjumlah 1.908 yang dipilih menggunakan teknik total sampling berdasarkan kriteria inklusi dan ekskluasi. Analisis data meliputi analisis univariat berupa tabel distribusi frekuensi dan deskriptif probababilitas survival kumulatif, analisis bivariat menggunakan metode Kaplan-Meier dan uji logrank, dan analisis multivariat menggunakan uji cox regression. Hasil penelitian menunjukkan kematian penderita TBC sebesar 6,6% dari total kasus TBC dengan insiden kematian 40 per 100.000 orang-hari dan probabilitas survival kumulatif akhir (hari ke-640) sebesar 31,12%. Model akhir analisis multivariat menunjukkan bahwa faktor risiko semua kematian penderita TBC di Kabupaten Indragiri Hulu adalah umur ≥50 tahun (HR=4,241, 95%CI: 2,902-6,197), status HIV (HR=8,104, 95%CI: 2,553-25,722), riwayat pengobatan sebelumnya (HR=1,848, 95%CI:1,076-3,174), dan resistensi obat (baseline HR=5,739, 95%CI: 1,482-22,225). Status HIV menjadi faktor risiko kematian penderita TBC yang paling dominan.

TBC deaths in Indonesia are a reflection of the complex dynamics of TBC control efforts at the regional level, including in Indragiri Hulu Regency, Riau Province. In 2022, TBC deaths in Indragiri Hulu Regency will be 7,1% of the total TBC cases reported and treated, making Indragiri Hulu the second highest TBC death rate in Riau Province. Apart from that, TBC deaths in Indragiri Hulu also show an increasing trend from 0.8% (2020), to 6.3% (2021), and increasing again to 7.1% (2022). The main objective of this research is to determine the risk factors for all deaths of TB patients in Indragiri Hulu Regency. The design of this study was a retrospective cohort. This research uses secondary data from the Indragiri Hulu Regency SITB application for 2020-2023. The research population is all TBC patients in Indragiri Hulu Regency in 2020-2023 totaling 2,073 people. The sample consisted of 1,908 subjects selected using total sampling techniques based on inclusion and exclusion criteria. Data analysis included univariate analysis using frequency distribution tables and descriptive cumulative survival probabilities, bivariate analysis using the Kaplan-Meier method and logrank test, and multivariate analysis using the cox regression test. The results of the study showed that TBC death was 6.6% of the total TB cases with an incidence of death of 40 per 100,000 person-days and a cumulative survival probability at the end of observation (day 640) of 31.12%. The final model of the multivariate analysis showed that the risk factors for all TBC deaths in Indragiri Hulu Regency were age ≥50 years (HR=4,241, 95%CI: 2,902-6,197), HIV status (HR=8,104, 95%CI: 2,553-25,722), treatment history (HR=1,848, 95%CI:1,076-3,174), and drug resistance (HR=5,739, 95%CI: 1,482-22,225). HIV status is the most dominant risk factor for TBC death.
Read More
T-7019
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maria Regina Loprang; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Tri Yunis Miko Wahyono, RR Diah Handayani, Sulistyo
Abstrak:
Tuberkulosis resisten obat (TBC RO) tetap menjadi hambatan utama dalam eliminasi tuberkulosis, dengan Indonesia menempati peringkat ketiga dalam beban TBC RO secara global. Dari perkiraan 30.000 kasus baru setiap tahun, hanya 39% yang terdiagnosis dan dilaporkan, dengan tingkat keberhasilan pengobatan yang rendah sebesar 57%. Penelitian ini menganalisis faktor risiko kematian pada pasien TBC RO yang menggunakan paduan pengobatan jangka pendek (STR) di Indonesia selama 2020–2022 dengan desain kohort retrospektif dan analisis survival menggunakan data SITB. Temuan utama mengidentifikasi usia lanjut (≥65 tahun), koinfeksi HIV tanpa ART, riwayat pengobatan ulang, keterlambatan memulai pengobatan (>3 bulan), dan rejimen berbasis suntikan STR sebagai faktor risiko kematian yang signifikan. Tingkat kelangsungan hidup tertinggi (87,37%) ditemukan pada pasien yang memulai pengobatan dalam 2–4 minggu setelah diagnosis dan terendah (77,36%) pada mereka yang menunda pengobatan lebih dari tiga bulan. Koinfeksi HIV tanpa ART menjadi faktor risiko terkuat, meningkatkan risiko kematian hingga sepuluh kali lipat, sementara usia lanjut meningkatkan risiko 3,67 kali dibandingkan kelompok usia yang lebih muda. Temuan ini menegaskan pentingnya diagnosis dan pengobatan tepat waktu, khususnya bagi kelompok berisiko tinggi.

Drug-resistant tuberculosis (DR-TB) remains a critical barrier to tuberculosis elimination, with Indonesia ranking third globally in DR-TB burden. Despite an estimated 30,000 new cases annually, only 39% are diagnosed and reported, with a low treatment success rate of 57%. This study analyzed mortality risk factors among DR-TB patients treated with shorter treatment regimens (STR) in Indonesia from 2020 to 2022 using retrospective cohort and survival analyses of SITB data. Key findings identified older age (≥65 years), HIV co-infection without ART, re-treatment history, delayed treatment initiation (>3 months), and STR injection-based regimens as significant mortality risk factors. Survival was highest (87.37%) among patients starting treatment within 2–4 weeks of diagnosis and lowest (77.36%) for those delaying beyond three months. HIV co-infection without ART posed the strongest risk, increasing mortality tenfold, while advanced age raised the risk 3.67 times compared to younger cohorts. These findings underscore the need for timely diagnosis and treatment, particularly for high-risk groups
Read More
T-7436
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Made Nujita Mahartati; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Putri Bungsu, I Wayan Gede Artawan Eka Putra
Abstrak:
Angka kematian penderita TBC selama menjalani pengobatan di Kabupaten Badung selalu melewati target maksimal tingkat kematian TBC di Indonesia. Pada tahun 2023 angka kematian TBC di Kabupaten Badung meningkat menjadi 6,6%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor – faktor yang mempengaruhi kematian orang dengan TBC Paru di Kabupaten Badung. Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan menggunakan data kasus TBC Paru yang memulai pengobatan tahun 2021-2023 dan telah memiliki hasil akhir pengobatan hingga Mei 2024 dan tercatat pada Sistem Informasi Tuberkulosis. Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis deskriptif, survival dengan menggunakan Kaplan Meier, dan multivariat dengan menggunakan cox regression proportional Hazzard. Dari 1.246 orang dengan yang eligible pada penelitian ini terdapat 1.149 orang dengan yang menjadi sampel penelitian. Hasil penelitian ini menunjukkan sebanyak 6,7% orang dengan meninggal dengan laju kejadian keseluruhan adalah 11 per 1000 orang bulan dan probabilitas survival sebesar 92,54%. Analisis multivariat menunjukkan faktor – faktor yang mempengaruhi kematian orang dengan TB RO selama masa pengobatan di Indonesia adalah kelompok umur 45-65 (aHR 3,616; 95% CI 2,110-6,195) tahun dan > 65 (aHR 10,892; 95% CI 5,630-21,071), Komorbid HIV (aHR 7,293; 95% CI 4,203-12,655), tidak konversi (HR 17,132; 95% CI 4,674-62,787), TBC RO ( aHR 10,921; 95%CI 1,458-81,774), waktu inisiasi pengobatan >7 hari (aHR 1,944; 95% CI 1,148-3,291) dan kepatuhan pengobatan (HR 3,546; 95% CI 1,895-6,634). Diperlukan peningkatan tatalaksana pengobatan TBC Paru dan skrining kesehatan pada kelompok lansia dan pasien yang memiliki komorbid HIV dan orang dengan TBC Resisten Obat serta media informasi yang meningkatkan kewaspadaan masyarakat yang terinfeksi TBC Paru tidak terlambat melakukan pengobatan.

The mortality rate for TB sufferers while undergoing treatment in Badung Regency always exceeds the maximum target for TB death rates in Indonesia. TB death rate in Badung Regency increased again to 6.6%. The aim of this research is to determine the influence of factors that influence the death of pulmonary TB patients in Badung Regency. The design of this study is a retrospective cohort using data on pulmonary TB cases who started treatment in 2021-2023 and had final treatment results until May 2024 and were recorded in the Tuberculosis Information System. The analysis used in this research is descriptive analysis, survival using Kaplan Meier, and multivariate using Cox proportional Hazard regression. Of the 1,246 eligible patients in this study, 1,149 patients were included in the research sample. The results of this study showed that 6.7% of patients died with an overall incidence rate of 11 per 1000 person months and a cumulative probability of survival of 92.54%. Multivariate analysis shows that the factors that influence the death of RO TB patients during the treatment period in Indonesia are the age group 45-65 (aHR 3.616; 95% CI 2.110-6.195) years and > 65 (aHR 10.892; 95% CI 5.630-21.071), Comorbid HIV (aHR 7.293; 95% CI 4.203-12.655), not converted (HR 17.132; 95% CI 4.674-62.787), TB RO (aHR 10.921; 95%CI 1.458-81.774), treatment initiation time >7 days (aHR 1.944; 95% CI 1.148-3.291) and treatment adherence (HR 3.546; 95% CI 1.895-6.634). It is necessary to improve the management of pulmonary TB treatment and health screening in the elderly group and patients who have comorbid HIV and people with drug-resistant TB as well as information media that increase the awareness of people infected with pulmonary TB so that it is not too late to undergo treatment.
Read More
T-7107
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zarnuzi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Suhardini
Abstrak: Keterlambatan diagnosis dapat memperparah penyakit, meningkatkan risiko kematian dan kemungkinan penularan tuberkulosis di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapakah proporsi dan lama waktu keterlambatan diagnosis dan faktor risiko apa saja yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis TB paru di Kabupaten Tebo. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional yang dilakukan pada penderita tuberkulosis yang berobat di rumah sakit dan puskesmas dalam Kabupaten Tebo tahun 2018. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 366 responden. Anaisis multivariat menggunakan cox regression. Hasil penelitian proporsi keterlambatan diagnosis (>28 hari) sebesar 63,93%. Faktor predisposisi (umur ≥ 45 tahun), faktor pendukung (jenis UPK Non-DOTS dikunjungi pertama kali, stigma tinggi dan jarak tempuh ke UPK ≥ 30 menit) dan faktor kebutuhan (persepsi penyakit tidak serius) merupakan faktor risiko yang berhubungan dengan keterlambatan diagnosis. Perlu dilakukan peningkatan kualitas program pengendalian tuberkulosis, penyuluhan tuberkulosis agar masyarakat mempunyai persepsi yang benar terhadap tuberkulosis dan untuk mengurangi stigma negatif terhadap penyakit tuberkulosis, meningkatkan akses ke unit pelayanan kesehatan DOTS serta penemuan secara aktif untuk mengurangi keterlambtan diagnosis
Delay in diagnosis can lead to increased severity of the disease, increased the risk of death and the possibility of transmission of tuberculosis in the community. The objective of this study was to determine proportion and the length of delay in diagnosis and factors associated with the delay in diagnosis among pulmonary tuberculosis patient in Tebo Distric. This study design using cross sectional conducted in patients with tuberculosis who was treated at hospitals and health centers at Tebo District in 2018. The sample in this study amounted to 366 respondents. Multivariat analysis using a multivariate cox regression. The results showed that the proportion of diagnosis delay (> 28 days) was 63.93 %. Predisposing factors (age ≥ 45 years), enabling factors (first consulting Non- DOTS health care unit, high stigma and distance to the health care unit DOTS ≥ 30 minutes) and need factors (perception of the disease is not serious) are risk factors associated with the diagnostic delay. Necessary improving the quality of tuberculosis control programs, counseling tuberculosis so that people have the correct perception against tuberculosis and to reduce the negative stigma against tuberculosis, improving access to health care units DOTS and active case finding are vital to reduce diagnostic delay
Read More
T-5596
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marlinggom Silitonga; Pembimbing: Bambang Sutrisna
T-863
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rodooti Khasanah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Renti Mahkota, Norma Syahria,
Abstrak:
Tuberkulosis adalah penyakit yang disebabkan oleh Mycobacterium Tuberkulosis. TB menjadi penyebab kematian terbesar ke-13 dan pembunuh menular nomor dua di dunia. Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara penyumbang kasus TB terbesar di seluruh dunia. Depok menjadi salah satu kota di Indonesia yang mengalami peningkatan jumlah kasus dari tahun 2020-2022. Tujuan penelitian ini adalah untuk melihat gambaran kejadian tuberkulosis di Puskesmas Tugu yang terletak di Depok dari tahun 2020-2023. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain studi case series. Sampel dalam penelitian ini diambil menggunakan teknik total sampling. Hasil penelitian menunjukkan adanya tren peningkatan jumlah kasus tuberkulosis di Puskesmas Tugu tahun 2020-2023. Proporsi kejadian tuberkulosis tertinggi ditemukan pada pasien dengan jenis kelamin laki-laki (53,4%), kelompok umur 35-54 tahun (42,6%), IRT (18,7%), ststus HIV negatif 57,4%), dan riwayat DM tidak diketahui (64,9%). Berdasarkan klasifikasinya proporsi terbesar terdapat pada pasien tuberkulosis paru (96,8%), kasus baru (96,4%), terkonfirmasi bakteriologis (71,7%), OAT kategori 1 (89,2%), dan hasil pengobatan sembuh (48,6%). Puskesmas Tugu beserta bidang terkait agar memberikan edukasi kepada masyarakat terkait upaya pencegahan, pengendalian, dan pengobatan TB, terutama pada kelompok dengan karakteristik yang memiliki proporsi lebih besar pada kasus TB yang telah terjadi.

Tuberculosis is a disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. Tuberculosis became the 13th largest cause of death and the second most infectious killer in the world. Indonesia ranks second as the country that contributes the largest number of TB cases worldwide. Depok, one of the cities in Indonesia has experienced an increase in the number of cases from 2020-2022. The aim of this research is to see an overview of the tuberculosis incidence at Tugu Primary Healthcare located in Depok from 2020-2023. This was a decriptive research with case series study design. Sample in this research was taken using a total sampling technique. The research results show that there is a trend of increasing the number of tuberculosis cases at the Tugu Primary Healthcare in 2020-2023. The highest proportion of tuberculosis incidents was found in patients with male gender (53,4%), age group 35-54 years (42,6%), housewife (18,7%), HIV status negative 57,4%), and history of DM unknown (64,9%). Based on the classification, the largest proportion was found in patients with pulmonary tuberculosis (96,8%), new cases (96,4%), bacteriologically confirmed (71,7%), OAT category 1 (89,2%), and treatment results cured (48,6%). Tugu Primary Healthcare and related fields need to provide education to the public about how to prevent, control, and treat TB, especially in groups with characteristics that have a greater proportion of TB cases that have occurred.
Read More
S-11783
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Qonita Nur Salamah; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Nining Mularsih, Wahyu Manggala Putra
Abstrak:

Tuberkulosis sensitif obat (TB SO) salah satu penyakit infeksius penyebab kematian utama dunia. Terjadi peningkatan kematian pasien TB SO di Provinsi DKI Jakarta. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor usia, jenis kelamin, status bekerja, klasifikasi lokasi anatomi, klasifikasi riwayat pengobatan, komorbid DM, dan status HIV dengan kematian pasien TB SO selama masa pengobatan di Provinsi DKI Jakarta. Metode : Desain studi penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan metode analisis survival Kaplan meier. Hasil : Hasil menunjukkan proporsi kematian pasien sebesar 4,5% dengan probabilitas kesintasan mencapai 90,1%. Faktor yang terbukti berpengaruh terhadap kematian pasien adalah usia >40 tahun (Hazard Ratio (HR) 2,3; 95% Confidence Interval (95% CI) 1,925-2,629), jenis kelamin laki-laki (HR 1,2; 95% CI 1,047-1,396), pasien kambuh dan lainnya (HR 2,8; 95% CI 2,351-3,339), memiliki komorbid DM (HR 1,4; 95% CI 1,159-1,598), dan status positif HIV (HR 4,7; 95% CI 3,879-5,623). Kesimpulan : Faktor usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan, komorbid DM, dan status HIV merupakan faktor kematian pasien TB SO di Provinsi DKI Jakarta. Saran berupa dilakukan audit penyebab kematian dan peningkatan standar prosedur layanan oleh pihak Dinas Kesehatan Provinsi direkomendasikan.


Drug-sensitive tuberculosis (TB SO) is one of the world's leading causes of death. There has been an increase in the deaths of TB SO patients in DKI Jakarta Province. Objective: This study aimed to determine the influence of age, gender, work status, anatomical location classification, treatment history classification, DM comorbidities, and HIV status on the death of TB SO patients during the treatment period in DKI Jakarta Province. Methods: The study design of this research was a retrospective cohort with the Kaplan-Meier survival analysis method. Results: The results showed that the proportion of patient deaths was 4.5% with survival probability was 90.1%. Factors of death were age >40 years (Hazard Ratio (HR) 2.3; 95% Confidence Interval (95% CI) 1.925-2.629), male gender (HR 1.2; 95% CI 1.047-1.396), patient relapse and others ( HR 2.8; 95% CI 2.351-3.339), having comorbid DM (HR 1.4; 95% CI 1.159-1.598), and HIV positive (HR 4.7; 95% CI 3.879-5.623). Conclusion: Age, gender, treatment history, comorbid DM, and HIV status are death factors of TB SO patients in DKI Jakarta Province. Suggestions in the form of an audit of the causes of death and improving standard service procedures by the Provincial Health Service are recommended.

Read More
T-6946
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zulfa Ayuningsih; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Nikson Sitorus, Dina Bisara Lolong
Abstrak: Tuberkulosis masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia. Hasil akhir pengobatan TB pada pasien berupa kematian saat melakukan pengobatan merupakan permasalahan terkini yang perlu diselesaikan. Penyebab pasti terjadinya kematian pada pasien yang sedang menjalani pengobatan TB masih belum banyak di ketahui. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan faktor-faktor yang berhubungan dengan kematian pasien tuberkulosis pada penderita TB MDR dan TB Sensitif Obat di Indonesia tahun 2015-2017. Penelitian dilakukan dengan menggunakan data sekunder dari aplikasi eTB manager dan SITT di Subdit Tuberkulosis, Direktorat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung (P2PML) - Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Kementerian Kesehatan RI
Read More
T-5778
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nenden Hikmah Laila; Pembimnbing: Renti Mahkota; Penguji: Tri Krianto, Krisnawati Bantas, Lilin Darmiyanti, Armelia Rahmi Kartika Dini
Abstrak: Skizofrenia adalah gangguan jiwa berat yang mempengaruhi lebih dari 21 juta orang di seluruh dunia. Keluarga-keluarga di Indonesia melakukan tindakan sosial yang represif terhadap anggota keluarga dengan gangguan jiwa. Proporsi rumah tangga yang pernah memasung anggota rumah tangga (ART) gangguan jiwa berat sebesar 14,3 persen dan terbanyak pada rumah tangga di perdesaan. Di Jawa Barat prevalensi gangguan jiwa berat sebesar 1,6 per mil. Di Kabupaten Bogor pada tahun 2012-2016 pemasungan terlapor sebanyak 4%. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor risiko perilaku memasung pada keluarga penderita skizofrenia di Kabupaten Bogor Provinsi Jawa Barat Tahun 2017. Penelitian ini menggunakan Mixed Method dengan desain studi unmatched case control dan pendekatan Exploratory. Penelitian dilakukan di Kabupaten Bogor pada bulan Mei-Juni Tahun 2017. Definisi kasus pada penelitian ini adalah penderita Skizofrenia yang sedang/pernah pasung. Sedangkan kontrol yaitu penderita Skizofrenia yang tidak pernah pasung. Sampel kasus untuk penelitian kuantitatif adalah 114 orang, sedangkan kontrol yaitu 136. Metode pemilihan sampel menggunakan multistage sampling. Penelitian kualitatif melibatkan 12 key informant. Analisis data dilakukan dengan analisis bivariate dengan uji chisquare dan analisis multivariate dengan uji regresi logistic. Ada hubungan antara perilaku agresif destruktif penderita (OR 4,49; 95% CI 2,52 8,00), keluarga yang tidak bekerja (OR 2,74; 95% CI 1,09 - 6,90) dan keluarga yang bekerja di sektor informal (OR 2,54; 95% CI 1,10 5,84) dan sikap negatif keluarga (OR 2,52; 95% CI 1,43 4,43) dengan perilaku memasung. Persepsi pasung menurut keluarga dan masyarakat adalah sebagai jalan keluar terbaik dan merupakan alternative satu-satunya. Upaya pencegahan bisa dilakukan dengan terapi secara rutin, program pemberdayaan eks penderita dan mendorong keluarga untuk merawat penderita dengan penuh kasih sayang. Kata kunci: Skizofrenia, pasung, agresif destruktif, diskursus Schizophrenia is a severe mental disorder that affects more than 21 million people worldwide. Families in Indonesia take repressive social measures against the madness of their family members. The proportion of households who have had mental disorders was 14.3 percent and most were from rural households. In West Java, severe mental disorders prevalence is 1.6 per 1000 population. Pasung prevalence in Bogor District in 2012-2016 is 4 percentage. This study aims to determine risk factor of family members of schizophrenia patient for pasung in Bogor District West Java Province In 2017. This research used unmatched case control design and exploratory approach. The study was conducted in Bogor District from May to June 2017. Cases were Schizophrenia patients who are in pasung, controls were Schizophrenia patients without pasung. There were 114 cases and 136 controls for the unmatched case control study. Qualitative research involved 12 key informants. Data analysis was done by bivariate analysis using chi-square and multivariate analysis with logistic regression. Aggressive destructive behavior (OR 4.49, 95% CI 2.52 - 8.00), Family unemployment (OR 2.74, 95% CI 1.09 - 6.90) and family with informal employment (OR 2.54, 95% CI 1.10 - 5.84), and family attitude (OR 2.52, 95% CI 1.43 - 4.43) toward schizophrenia patient were associated with pasung. Pasung perception by family and society is the best way out and there is the only alternative. Prevention efforts can be done by getting medical treatment routinely, empowerment program for ex patient to return to work, and encourage families to caring patients with affection. Keywords: Schizophrenia, pasung, aggressive destructive, discourse
Read More
T-5079
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Hanifah; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Sulistyo
Abstrak:

Tuberkulosis (TBC) masih menjadi ancaman kesehatan masyarakat di Indonesia
yang merupakan negara dengan kasus TBC tertinggi kedua di dunia. Tahun 2023 di DKI Jakarta terjadi peningkatan insiden TBC sebesar 31,75% dibandingkan tahun sebelumnya dan bahkan melebihi target insiden 2023 yang ditetapkan (>54.175 kasus). Penelitian ini merupakan studi cross-sectional yang memanfaatkan data Sistem Informasi Tuberkulosis Komunitas (SITK), dengan tujuan untuk mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian TBC paru di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022-2023. Sampel penelitian adalah seluruh kontak terduga TBC di Provinsi DKI Jakarta tahun 2022-2023 yang memiliki hasil pemeriksaan TBC. Hasil penelitian menunjukkan lansia (PR = 1,56; 95% CI: 1,473–1,653), laki-laki (PR = 1,37; 95% CI: 1,314–1,441), perokok (PR = 1,28; 95% CI: 1,206–1,367), penderita DM (PR = 1,85; 95% CI: 1,585–2,171), dan pengobatan TBC tidak tuntas (PR = 2,24; 95% CI: 2,121–2,365) merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap kejadian TBC paru. Sementara itu kontak serumah (PR = 0,6; 95% CI: 0,538–0,678) memiliki hubungan signifikan yang bersifat protektif terhadap kejadian TBC paru. Sosialisasi upaya berhenti/mengurangi rokok, penyuluhan pencegahan TBC kepada lansia dan penderita DM serta pendampingan pengobatan pasien TBC merupakan upaya yang dapat mencegah terjadinya insiden TBC paru di DKI Jakarta.


Tuberculosis is a major public health threat in Indonesia, which is the second-highest TB burdened country in the world. In 2023, the incidence of TB in Jakarta increased by  31.75% compared to the previous year and even exceeded the 2023 incidence target  (>54,175 cases). This study is a cross-sectional study utilizing data from the Community  Tuberculosis Information System (SITK), aimed at identifying risk factors associated  with pulmonary TB cases in Jakarta Province from 2022 to 2023. The study sample  consisted of all suspected TB contacts in Jakarta Province from 2022 to 2023 who had  undergone TB testing. The study results showed that older adults (PR = 1.56; 95% CI:  1.473–1.653), males (PR = 1.37; 95% CI: 1.314–1.441), smokers (PR = 1,28; 95% CI:  1,206–1,367), DM patients (PR = 1.85; 95% CI: 1.585–2.171), and incomplete TB  treatment (PR = 2.24; 95% CI: 2.121–2.365) were significant risk factors for pulmonary  TB incidence. Meanwhile, household contacts (PR = 0.6; 95% CI: 0.538–0.678) have a  significant protective association with the occurrence of pulmonary TB. Efforts to  promote smoking cessation/reduction, TB prevention education for the elderly and DM  patients, and patient accompaniment during TB treatment are measures that can prevent  the occurrence of pulmonary TB in Jakarta. 

Read More
S-11960
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive