Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34393 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Qonita Nur Salamah; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Nining Mularsih, Wahyu Manggala Putra
Abstrak:

Tuberkulosis sensitif obat (TB SO) salah satu penyakit infeksius penyebab kematian utama dunia. Terjadi peningkatan kematian pasien TB SO di Provinsi DKI Jakarta. Tujuan : Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor usia, jenis kelamin, status bekerja, klasifikasi lokasi anatomi, klasifikasi riwayat pengobatan, komorbid DM, dan status HIV dengan kematian pasien TB SO selama masa pengobatan di Provinsi DKI Jakarta. Metode : Desain studi penelitian ini adalah kohort retrospektif dengan metode analisis survival Kaplan meier. Hasil : Hasil menunjukkan proporsi kematian pasien sebesar 4,5% dengan probabilitas kesintasan mencapai 90,1%. Faktor yang terbukti berpengaruh terhadap kematian pasien adalah usia >40 tahun (Hazard Ratio (HR) 2,3; 95% Confidence Interval (95% CI) 1,925-2,629), jenis kelamin laki-laki (HR 1,2; 95% CI 1,047-1,396), pasien kambuh dan lainnya (HR 2,8; 95% CI 2,351-3,339), memiliki komorbid DM (HR 1,4; 95% CI 1,159-1,598), dan status positif HIV (HR 4,7; 95% CI 3,879-5,623). Kesimpulan : Faktor usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan, komorbid DM, dan status HIV merupakan faktor kematian pasien TB SO di Provinsi DKI Jakarta. Saran berupa dilakukan audit penyebab kematian dan peningkatan standar prosedur layanan oleh pihak Dinas Kesehatan Provinsi direkomendasikan.


Drug-sensitive tuberculosis (TB SO) is one of the world's leading causes of death. There has been an increase in the deaths of TB SO patients in DKI Jakarta Province. Objective: This study aimed to determine the influence of age, gender, work status, anatomical location classification, treatment history classification, DM comorbidities, and HIV status on the death of TB SO patients during the treatment period in DKI Jakarta Province. Methods: The study design of this research was a retrospective cohort with the Kaplan-Meier survival analysis method. Results: The results showed that the proportion of patient deaths was 4.5% with survival probability was 90.1%. Factors of death were age >40 years (Hazard Ratio (HR) 2.3; 95% Confidence Interval (95% CI) 1.925-2.629), male gender (HR 1.2; 95% CI 1.047-1.396), patient relapse and others ( HR 2.8; 95% CI 2.351-3.339), having comorbid DM (HR 1.4; 95% CI 1.159-1.598), and HIV positive (HR 4.7; 95% CI 3.879-5.623). Conclusion: Age, gender, treatment history, comorbid DM, and HIV status are death factors of TB SO patients in DKI Jakarta Province. Suggestions in the form of an audit of the causes of death and improving standard service procedures by the Provincial Health Service are recommended.

Read More
T-6946
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rani Iftika Ningrum; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Renti Mahkota, Hario Baskoro
Abstrak:
World Health Organization (WHO) mendeklarasikan corona virus disease 19 (COVID19) sebagai pandemic. Bukti yang terakumulasi dari waktu ke waktu menunjukkan bahwa, meskipun infeksi SARS-CoV 2 menyebabkan penyakit pernapasan dengan manifestasi klinis yang sangat bervariasi, organ lain juga dapat rusak oleh virus tersebut, ginjal menjadi salah satu tempat utama komplikasi. Penyakit Ginjal kronis (PGK) muncul sebagai faktor risiko paling umum COVID-19 dengan manifestasi klinis yang parah dan mengkhawatirkan. Penyakit Ginjal kronis (PGK) dikaitkan dengan peningkatan tingkat rawat inap pasien dengan COVID-19, dan tingkat kematian tampaknya 14 - 16 kali lebih tinggi daripada populasi umum. RS UI merupakan rumah sakit rujukan COVID-19 di Kota Depok. Studi kasus kontrol dilakukan dengan memanfaatkan data rekam medis pasien COVID-19 terkonfirmasi yang dirawat inap di RS UI periode September 2020 ? Agustus 2022 dengan jumlah sampel pada kelompok kasus 121 responden dan kelompok kontrol 242 responden. Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan dan bermakna secara statistik antara Penyakit Ginjal Kronis dengan kematian pasien COVID-19 (OR 6,67; 95% CI 3,48?12,77; pvalue <0,001). Demikian, secara statistik hubungan antara Penyakit Ginjal Kronis dengan kematian pasien COVID-19 setelah dikontrol variabel kovariat yaitu : hipertensi, ARDS, ruang perawatan, obesitas dan umur. Jadi, pasien COVID-19 dengan Penyakit Ginjal Kronis memiliki resiko 3,65 kali lebih besar secara bermakna untuk meninggal dibanding pasien COVID-19 tanpa Penyakit Ginjal kronis

The World Health Organization (WHO) declared the corona virus disease 19 (COVID19) a pandemic. Evidence has accumulated over time indicating that, although SARSCoV 2 infection causes respiratory disease with a wide variety of clinical manifestations, other organs can be damaged by the virus, with the kidney being one of the main sites of complications. Chronic Kidney Disease (CKD) is emerging as the most common risk factor for COVID-19 with severe clinical manifestations and deficiencies. Chronic Kidney Disease (CKD) is associated with increased hospitalization rates of patients with COVID-19, and death rates are roughly 14 ? 16 times higher than the general population. UI Hospital is a COVID-19 referral hospital in Depok City. A case-control study was carried out by utilizing the medical record data of confirmed COVID-19 patients who were hospitalized at UI Hospital for the period September 2020 ? August 2022 with a sample size of 121 respondents in the case group and 242 respondents in the control group. The results of this study showed that there was a statistically significant relationship between Chronic Kidney Disease and the death of COVID-19 patients (OR 6.67; 95% CI 3.48?12.77; pvalue <0.001). Thus, statistically the relationship between Chronic Kidney Disease and the death of COVID-19 patients after controlling for covariate variables, namely: hypertension, ARDS, treatment room, obesity and age. So, COVID-19 patients with Chronic Kidney Disease have a significantly greater risk of dying 3.65 times than COVID-19 patients without Chronic Kidney Disease.
Read More
T-6514
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ayu Anita Dianara Arini; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Putri Bungsu, Victor Apryanto
Abstrak:
Latar belakang : Indonesia merupakan satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berada di 10 negara dengan jumlah penderita diabetes melitus tertinggi di dunia. Prevalensi diabetes melitus di DKI Jakarta berada pada rentang 2,38 – 3,42 %. Wilayah dengan prevalensi diabetes melitus tertinggi di provinsi DKI Jakarta pada tahun 2021 adalah kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu yaitu sebesar 3,42%. Tingginya prevalensi diabetes melitus di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu menjadikan peneliti tertarik untuk melakukan penelitian terkait faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu tahun 2022. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional menggunakan data sekunder skrining faktor risiko PTM pada penduduk berusia ≥15 tahun di Suku Dinas Kesehatan Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Hasil: Prevalensi diabetes melitus di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Tahun 2022 sebesar 2,6%. Faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian diabetes melitus (p value <0,005) diantaranya umur (POR 3,5;95% CI 2,8 – 4,4), jenis kelamin (POR 2.0;95% CI 1,6 – 2,4), riwayat keluarga (POR 1,6; 95% CI 1,19 – 2,2), merokok (POR 0,6;95% CI 0,5 – 0,9), variabel konsumsi gula berlebih (POR 1,5; 95% CI 1,1 – 2,2), garam berlebih (POR 2,5; 95% CI 1,5 – 3,9) lemak berlebih (POR 0,5; 95% CI 0,3 – 0,8), dan pendidikan (POR. 2,1; 95% CI 1,7 – 2,6). faktor risiko yang tidak berhubungan yaitu kurang aktivitas fisik (p value 0,343; POR 0,8; 95% CI 0,5 – 1,2) dan kurang konsumsi buah dan sayur (p value 0,720; POR 0,9; 95% CI 0,7 – 1,2). Kesimpulan dan Saran: Terdapat hubungan faktor risiko yang tidak dapat diubah (umur, jenis kelamin, riwayat keluarga) dan faktor yang dapat diubah (obesitas, obesitas sentral, hipertensi,merokok, konsumsi gula garam lemak, dan pendidikan) terhadap kejadian diabetes melitus. Tidak terdapat hubungan pada faktor yang tidak dapat diubah (aktivitas fisik dan konsumsi buah sayur). Masyarakat yang memiliki risiko DM perlu menjaga pola makan, melakukan aktivtias fisik, serta rutin melakukan skrining PTM di Posbindu. Perlu memperdetail pertanyaan kuesioner pada variabel konsumsi buah sayur, konsumsi gula garam lemak berlebih, dan melakukan aktivitas fisik. Penelitian dengan analisis lebih lanjut diperlukan dalam penelitian ini.

Background: Indonesia is the only country in Southeast Asia with the highest number of people with diabetes mellitus in the world. The prevalence of diabetes mellitus in DKI Jakarta is in the range of 2.38–3.42%. The region with the highest prevalence of diabetes mellitus in DKI Jakarta province in 2021 is Kepulauan Seribu Regency, which is 3.42%. The high prevalence of diabetes mellitus in the Seribu Islands Administrative Regency makes researchers interested in conducting research related to factors associated with the incidence of diabetes mellitus in the Seribu Islands Administrative Regency in 2022. Methods: This study uses a cross-sectional design using secondary data on screening for NCD risk factors in the population ≥ 15 years at Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Health Service. Results: The prevalence of diabetes mellitus in the Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu in 2022 was 2.6%. Risk factors associated with the incidence of diabetes mellitus (p-value < 0.005) include age (POR 3.5; 95% CI 2.8 – 4.4), sex (POR 2.0; 95% CI 1.6 – 2.4), family history (POR 1.6; 95% CI 1.1 – 2.2), smoking habit (POR 0.6; 95% CI 0.5 – 0.9), variable consumption of excess sugar (POR 1.5; 95% CI 1.1 – 2.2), excess salt (POR 2.5; 95% CI 1.5 – 3.9) excess fat (POR 0.5; 95% CI 0.3 – 0.8), and education (POR. 2.1; 95% CI 1.7 -2.6). Unrelated risk factors were lack of physical activity (p-value 0.343; POR 0.8; 95% CI 0.5 – 1.2) and lack of fruit and vegetable consumption (p-value 0.720; POR 0.9; 95% CI 0.7 – 1.2). Conclusions and Recommendations: There is an association between unchangeable (age, gender, family history) and changeable (obesity, central obesity, hypertension, smoking, excessive sugar, salt, fat consumption, and education) to the incidence of diabetes mellitus. People at risk of developing DM need to maintain their diet, physical activity, and routinely do early detection for NCD at Posbindu. It is necessary to detail the questionnaire on the variables of fruit and vegetable consumption, excessive sugar, salt, fat consumption, and physical activity. Research with further analysis is needed in this research.
Read More
S-11496
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mohamad Rizaldi; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Helda, Alvin Kosasih, Tavip Triyono
Abstrak: Kabupaten Bogor merupakan daerah prioritas utama penanggulangan TB di Indonesia dengan jumlah kasus TB ditemukan tahun 2020-2021 sebanyak 22.189 kasus dengan 728 kasus (3,3%) terkonfirmasi sebagai TB-RO. Angka kesembuhan TB-RO semakin menurun sedangkan angka kematiannya meningkat. Tujuan penelitian ini untuk menghitung mortality rate dan perbedaan probabilitas survival antara kelompok terpapar dan tidak terpapar faktor risiko serta mengetahui hubungan antara co-infeksi HIV, DM dan pola resistensi dengan ketahanan hidup TB-RO. Studi cohort retrospektive dan analisis survival dilakukan dengan memanfaatkan data TB.03 dan TB.01 SITB Kab. Bogor, SITB RSUD Cibinong dan SITB RSPG Cisarua. Hasil penelitian didapatkan mortality rate kumulatif sebesar 31,9/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 62,3%. Mortality rate pada kelompok HIV positif:131/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 37,5% (log-rank test 0,004). Pada kelompok DM:53,3/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 40,4%. (log-rank test 0,002). Pada pola Pre-XDR/XDR sebesar 42,4/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 55,4%. Sedangkan pola poliresisten/MDR:34,8/1000 orang-bulan dengan probabilitas survival 56,2% (log-rank test 0,023). HIV (HR:7,32;95%CI:2,7019,81;p-value:0,001), DM T*≥ 2 bulan (HR:2,03;95%CI: 1,05-3,92;p-value:0,31). Pola Pre-XDR/XDR (HR:3,98;95%CI:1,59-9,9;p-value:0,003) serta pola poliresisten/MDR (HR:2,84;95%CI:1,23-6,58;p-value:0,014) berhubungan dengan ketahanan hidup penderita TB-RO. Diharapkan RS rujukan TB-RO memaksimalkan tatalaksana, jejaring internal, sinkronisasi data SITB.. Bagi Dinkes Kab. Bogor dapat memaksimalkan kegiatan MICA dan meningkatkan pengetahuan masyarakat terkait pencegahan TB-RO
Read More
T-6385
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wagiran; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Ratna Djuwita, M. Sugeng Hidayat, Punto Dewo
T-4855
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Widuri Wulandari; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Helda, Ngabila Salama, Muhammad Ikhsan Mokoagow
Abstrak: Pendahuluan: Komorbid Diabetes Melitus (DM) merupakan salah satu faktor risiko kematian pada kasus konfirmasi Coronavirus Diseases (COVID-19). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan komorbid DM dengan kematian pada kasus konfirmasi COVID-19 di DKI Jakarta, periode Maret-Agustus 2020 setelah dikontrol dengan variabel perancu. Metode: Desain penelitian ini adalah kohort retrospektif. Kriteria inklusi adalah kasus yang terkonfirmasi COVID-19 dengan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) yang dilaporkan kepada Dinas Kesehatan (Dinkes) provinsi DKI Jakarta, dengan variabel yang lengkap. Kriteria eksklusi adalah wanita hamil. Dari total 41.008 kasus dalam laporan COVID-19 dinkes provinsi DKI Jakarta, terdapat 30.641 kasus yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. 1.480 sampel dalam penelitian ini diambil dari semua (740) kasus COVID-19 dengan komorbid DM dan 740 kasus COVID-19 tanpa komorbid DM yang diambil melalui simple random sampling dari 29.901 kasus COVID-19 tanpa komorbid DM. Data analisis menggunakan regresi cox proporsional hazard. Hasil penelitian menunjukkan besar hubungan kasar komorbid DM dengan kejadian kematian pada kasus COVID-19 Crude Hazard Ratio (CHR) 7,4 (95% CI 4,5-12,3, nilai p < 0,001). Besar hubungan komorbid DM dengan kejadian kematian pada kasus COVID-19 setelah dikontrol oleh kovariat (komorbid hipertensi dan kelompok usia (> 50 tahun dan < 50 tahun) adalah Adjusted Hazard Rasio 3,9 (95% CI 2,2-6,8 nilai p <0,001), yang berarti kasus COVID-19 dengan komorbid DM berisiko 3,9 kali untuk mengalami kejadian kematian. Diskusi: Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian lainnya yang menunjukkan komorbid DM meningkatkan risiko kematian COVID-19. Untuk menurunkan kejadian kematian pada kasus COVID-19 dengan komorbid DM, diperlukan strategi pencegahan dan tatalaksana COVID-19 dengan triase dan perhatian khusus untuk tatalaksana cepat dan tepat serta monitoring untuk kasus COVID-19 dengan komorbid DM.
Introduction: Comorbid Diabetes Mellitus (DM) is one of the risk factors for Coronavirus Diseases (COVID-19) mortality. Aim of this study is to determine the association of comorbid diabetes mellitus and COVID-19 mortality among COVID-19 confirmed cases in DKI Jakarta for period March-August 2020, after being controlled with confounding variables. Methode: The study design is a retrospective cohort. The inclusion criteria are confirmed cases of COVID-19 with Polymerase Chain Reaction (PCR) reported to the DKI Jakarta provincial health office, with complete variables. Exclusion criteria is pregnant women. Of the total 41,008 cases in the Jakarta provincial health office's COVID-19 report, there are 30,641 cases that met the inclusion and exclusion criteria. 1,480 samples in this study are taken from all (740) COVID-19 cases with comorbid DM and 740 COVID-19 cases without comorbid DM which are taken through simple random sampling of 29,901 COVID-19 cases without comorbid DM. The data were analyzed using cox proportional hazard regression. The study result indicates that the crude association between DM and mortality among COVID-19 confirmed cases is Crude Hazard Ratio (CHR) 7,4 (95% CI 4,5-12,3, pValue < 0,001). While association between DM and mortality among COVID-19 confirmed cases after being controlled by covariates (hypertensive comorbidities and age groups (> 50 years and < 50 years) is 3.9 (95% CI 2.2- 6.8, p Value <0.001), which means that COVID-19 cases with comorbid DM have a 3.9 times risk of death. Discussion: The results of this study are in line with other studies that indicate DM co- morbidities increase the risk of death from COVID-19. To reduce the incidence of death in COVID-19 cases with comorbid DM, a strategy for preventing and treating COVID- 19 with triage and special attention is needed for rapid and prompt management and monitoring for COVID-19 cases with comorbid DM.
Read More
T-6249
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Salma Dhiya Rachmadani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Yovsyah, Yahya
Abstrak: Studi ini meneliti hubungan DMT2 dan faktor risiko lainnya dengan mortalitas pasien positif Covid-19 di Rumah Sakit Bhayangkara Tk. I. R. Said Sukanto Jakarta Timur. Desain studi penelitian ini adalah cross-sectional dan menggunakan data rekam medis. Terdapat 12,7% dari 510 pasien positif Covid-19 meninggal dunia. Analisis bivariat menunjukkan bahwa pada keseluruhan pasien, pasien yang menderita DMT2, dan pasien yang tidak menderita DMT2, variabel DMT2, komorbid hipertensi, gejala sesak napas, serta lama rawat inap pasien berasosiasi dengan mortalitas pasien Covid-19. Dengan menggalakkan protokol kesehatan dan pola hidup sehat, diharapkan kasus Covid-19 dapat menurun dan keparahannya juga berkurang sehingga rumah sakit tidak kewalahan merawat pasien Covid-19.
Read More
S-10736
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Oka Septriani; Pembimbing: Modastri Korib Sudaryo; Penguji: Syahrizal Syarif, Renti Mahkota, Citra, Agus Salim
Abstrak: Latar Belakang. Tingginya prevalensi diabetes di populasi menyebabkan diabetes menjadi salah satu penyakit penyerta yang banyak diderita oleh pasien COVID-19. Orang dengan diabetes menghadapi kemungkinan lebih tinggi untuk mengalami komplikasi serius dari COVID-19 hingga kematian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan probabilitas kesintasan pasien COVID-19 dengan diabetes melitus tipe 2 dan mengetahui hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kematian COVID-19 di RSUD Al Ihsan Provinsi Jawa Barat.
Metode. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif. Populasi dalam penelitian ini yaitu pasien COVID-19 yang dirawat di RSUD Al Ihsan pada periode Maret 2020 sampai dengan 31 Desember 2021 dengan kriteria inklusi merupakan pasien konfirmasi COVID-19 melalui pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR) berusia lebih dari sama dengan 18 tahun. Perbedaan probabilitas kesintasan didapatkan dari analisis kesintasan dengan kaplan meier. Analisis Cox Proporsional Hazard digunakan untuk mengetahui hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kematian COVID-19.
Hasil. Sebanyak 308 pasien konfirmasi COVID-19 terlibat dalam penelitian ini. Selama 21 hari pengamatan, probabilitas kesintasan pasien COVID-19 dengan diabetes melitus tipe 2 lebih rendah dibandingkan dengan tanpa diabetes melitus tipe 2 (71,24% vs 84,13%). Sampai akhir pengamatan selama 49 hari, probabilitas kesintasan pasien COVID-19 dengan diabetes melitus tipe 2 menurun dan berbeda dengan pasien COVID-19 tanpa diabetes melitus tipe 2 yang mana probabilitas kesintasannya 48,98% vs 84,13% dengan nilai p 0,0056. Terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara diabetes melitus tipe 2 dengan kematian COVID-19 setelah dikontrol dengan variabel confounder yaitu umur, gejala batuk, ARDS, vaksinasi, gagal ginjal kronis, penggunaan ventilator, terapi antivirus dan persentase BOR Isolasi COVID-19 saat admisi. Hazard ratio adjusted hubungan diabetes melitus tipe 2 dengan kematian COVID-19 pada model akhir analisis multivariat sebesar 2,676 (95% IK 1,24-5,73).
Kesimpulan. Probabilitas kesintasan pasien COVID-19 dengan diabetes melitus tipe 2 lebih rendah dibandingkan dengan pasien COVID-19 tanpa diabetes melitus tipe 2.
Diabetes melitus tipe 2 meningkatkan resiko kematian pada pasien COVID-19.
Introduction. The high prevalence of diabetes in the population causes diabetes to become one of the comorbidities that many COVID-19 patients suffer from. Patients with diabetes have a higher risk of experiencing serious complications from COVID-19 and even death. This study aims to determine the difference in survival probability of COVID-19 patients with type 2 diabetes mellitus and to determine the relationship between type 2 diabetes mellitus and COVID-19 mortality at Al Ihsan Hospital, West Java Province.
Methods. This study used a retrospective cohort study design. The population of study were COVID-19 patients who were treated at Al Ihsan Hospital in the period March 2020 to December 31, 2021 with inclusion criteria being confirmed as COVID-19 patients through Polymerase Chain Reaction (PCR) examination and aged ≥ 18 years. Differences in survival probability were obtained from survival analysis with Kaplan-Meier. Cox Proportional Hazard analysis was used to determine the relationship between type 2 diabetes mellitus and COVID-19 mortality.
Results. Results indicated that a total of 308 confirmed positive COVID-19 patients were involved in this study. During the 21 days of observation, survival probability of COVID-19 patients with type 2 diabetes mellitus was lower than those without type 2 diabetes mellitus (71.24% vs. 84.13%). Until the end of the 49-day observation, survival probability of COVID-19 patients with type 2 diabetes mellitus decreased and differed from that of COVID-19 patients without type 2 diabetes mellitus which the survival probability was 48.98% vs. 84.13% (p = 0.0056). There was a statistically significant relationship between type 2 diabetes mellitus and COVID-19 mortality after controlling for confounder variables, age, cough symptoms, ARDS, vaccination, chronic kidney disease, ventilator use, antiviral therapy and the percentage of Bed Occupation Rate COVID-19 isolation at admission. The hazard ratio adjusted relationship between type 2 diabetes mellitus and COVID-19 mortality in the final model of multivariate analysis was 2,676 (95% CI 1,24-5,73).
Conclusion. It appears that survival probability of COVID-19 patients with type 2 diabetes mellitus is lower than those without type 2 diabetes mellitus. Type 2 diabetes mellitus increases the risk of death in COVID-19 patients.
Read More
T-6461
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kemal Al Fajar; Pembimbing: Krisnawati Bantas; Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Naomi, Yoan Hotnida; Fenny Rosnisa Rosalina
T-5155
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Crysti Mei Manik; Pembimbing: Soedarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Pradana Soewondo, Mondastri Korib Sudaryo, Ajeng Tias Endarti
Abstrak: Prevalensi obesitas di dunia tinggi. Data 2016 menunjukkan bahwa prevalensi obesitas meningkat 3 kali lipat yakni lebih dari 650 juta orang. Pada populasi obesitas ditemukan banyak penderita DM dan hipertensi. Hal ini kemungkinan menunjukkan bahwa ada hubungan antara DM dengan hipertensi pada populasi obesitas. Penelitian yang menjelaskan tentang Hubungan DM dengan Hipertensi Pada Populasi Obesitas di Indonesia masih jarang. Penelitian ini bertujuan melihat Hubungan DM dengan Hipertensi Pada Populasi Obesitas di Indonesia dengan menggunakan data The Indonesian Family Life Survey kelima (IFLS-5) Tahun 2014. Desain penelitian ini adalah cross sectional. Sumber data penelitian adalah berasal dari data IFLS-5. Jumlah populasi obesitas adalah 5991 orang. Jumlah sampel penelitian yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah 712 orang. Analisis data menggunakan cox regression dengan 95% Confident Interval. Kriteria inklusi penelitian ini adalah penduduk obesitas di Indonesia yang menjadi responden pada kegiatan IFLS- 5 tahun 2014 dan memiliki data tekanan darah yang diukur sebanyak 3 kali. Kriteria eksklusi adalah responden yang tidak memiliki data lengkap pada seluruh variable. Pada penelitian ini, dari 712 orang yang obesitas, 86 orang (12.1%) menderita DM dan 626 orang (87.9%) tidak menderita DM. Pada kelompok obesitas yang DM terdapat 73 orang (84.9%) yang hipertensi. Pada kelompok obesitas yang tidak DM terdapat 386 orang (61.7%) yang hipertensi. Hasil analisis diperoleh nilai PR sebesar 1.302 kali (95% CI; 1.007-1.684), artinya pada populasi obesitas dengan DM beresiko untuk terjadi hipertensi sebesar 1.302 kali dibandingkan dengan populasi obesitas tanpa DM setelah di kontrol oleh variabel umur dan jenis kelamin
Read More
T-5721
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive