Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 40528 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yofen Dhamigus; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Pujiyanto, Taufik Santoso, Melanie Husna
Abstrak:
Penelitian ini mengkaji analisis capaian casemix dan casemix index rawat inap di Rumah Sakit Kelas B Grup Primaya Hospital. Data dikumpulkan dari lima rumah sakit (PH1-PH5) dalam kelompok Primaya Hospital. Penelitian mengevaluasi sumber daya manusia, anggaran, material, metode, dan proses terkait capaian casemix dan casemix index. Hasil penelitian menunjukkan bahwa implementasi clinical pathways (PPK-CP) di PH1, PH2, PH3, dan PH5 efektif dalam meningkatkan standar klinis dan efisiensi operasional. Kelengkapan rekam medis di PH1 tertinggi (93.3%) dibandingkan dengan PH lainnya. Meskipun demikian, tingkat klaim tertunda masih menjadi tantangan, terutama di PH4. Ketepatan koding di PH5 terbaik dengan hanya 14.6% data klaim yang tertunda. Verifikasi klaim di PH1 mencapai 98.2%, menunjukkan kualitas pengajuan klaim yang baik. Hasil penelitian ini memberikan wawasan tentang hubungan antara input, proses, dan output dalam manajemen capaian casemix dan casemix index di rumah sakit tersebut. Implikasi dari temuan ini berpotensi untuk merumuskan strategi korporasi yang efektif dalam meningkatkan kualitas layanan dan efisiensi operasional di rumah sakit kelompok Primaya Hospital.

This research examines the analysis of casemix achievement and casemix index inpatient care at Primaya Hospital Class B. Data were collected from five hospitals (PH1-PH5) within the Primaya Hospital group. The study evaluates human resources, budgets, materials, methods, and processes related to casemix achievement and casemix index. The results show that the implementation of clinical pathways (PPK-CP) in PH1, PH2, PH3, and PH5 is effective in improving clinical standards and operational efficiency. The completeness of medical records in PH1 is the highest (93.3%) compared to other hospitals. However, the level of delayed claims remains a challenge, especially in PH4. Coding accuracy in PH5 is the best with only 14.6% of delayed claim data. Claim verification in PH1 reaches 98.2%, indicating good quality of claim submission. The findings provide insights into the relationship between inputs, processes, and outputs in managing casemix achievement and casemix index at these hospitals. The implications of these findings have the potential to formulate effective corporate strategies to improve service quality and operational efficiency in Primaya Hospital group.
Read More
B-2483
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tomy Oeky Prasiska; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Mardiati Nadjib, Atik Nurwahyuni, Sholihul Absor, Benjamin Saut
Abstrak:
Casemix, casemix index dan hospital baserate merupakan indikator penting untuk melihat kinerja rumah sakit dengan pembayaran DRG. Indikator tersebut merupakan penyusun besaran tarif INA-CBGs, instrumen penilaian kinerja rumah sakit mitra BPJS Kesehatan dan instrumen penyusun pembayaran klaim mixed method INA-CBGs dan global budget yang mulai diujicobakan. Cakupan pelayanan rawat inap dan rawat jalan rumah sakit Muhammadiyah Jawa Timur didominasi pasien JKN, rumah sakit harus mempunyai keunggulan kompetitif dan dapat berkembang di era JKN. Penelitian bertujuan menganalisis capaian casemix, casemix index dan hospital baserate Rumah Sakit Muhammadiyah Jawa Timur tahun 2017-2020. Studi observasional dengan pengamatan selama empat tahun dilakukan pada 27 rumah sakit. Penelitian menggunakan data sekunder yang didapatkan dari elektronik klaim (E-klaim) Kementerian Kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan klasifikasi rumah sakit, jenis rumah sakit, kelas perawatan, dan lama hari rawat inap mempengaruhi capaian casemix, casemix index dan hospital baserate. Casemix, casemix index dan hospital baserate rumah sakit kelas B lebih besar dibandingkan rumah sakit kelas C dan kelas D, capaian indikator rumah sakit umum kelas C lebih besar dibandingkan rumah sakit khusus kelas C. Capaian indikator antar rumah sakit pada kelas yang sama dapat berbeda signifikan tergantung variasi dan derajat keparahan kasus. Rumah sakit yang menangani kasus derajat berat mempunyai nilai casemix, casemix index dan hospital baserate lebih besar. Hasil uji statistik menunjukkan lama rawat inap berpengaruh signifikan terhadap kenaikan hospital baserate rawat inap, semakin lama hari perawatan maka peluang peningkatan hospital baserate semakin besar (p<0,05). Rumah sakit yang menangani kasus hemodialisis dan operasi katarak mempunyai casemix, casemix index dan hospital baserate rawat jalan lebih besar. Pandemi COVID-19 pada tahun 2020 berdampak pada capaian casemix, casemix index dan hospital baserate rumah sakit. Sebanyak 19 rumah sakit (70,4%) mengalami penurunan capaian casemix rawat inap dan 20 rumah sakit (74,1%) mengalami penurunan casemix rawat jalan. Sebanyak 21 rumah sakit (77,4%) mengalami peningkatan hospital baserate rawat inap dan 23 rumah sakit (85,2%) mengalami peningkatan hospital baserate rawat jalan pada tahun 2020. Kesimpulan: capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate dipengaruhi oleh klasifikasi, jenis rumah sakit, jumlah kasus, variasi dan derajat keparahan kasus serta lama rawat inap. Pandemi COVID-19 berdampak pada penurunan nilai casemix dan peningkatan hospital baserate rawat inap dan rawat jalan. Rumah sakit harus meningkatkan cakupan pelayanan, mengendalikan biaya pelayanan dan menjamin kualitas pengkodean diagnosis dan prosedur secara optimal. Rumah sakit harus memonitor capaian casemix, casemix index dan hospital baserate rawat inap dan rawat jalan secara berkala dan membandingkan dengan rumah sakit lain yang mempunyai kelas dan kapasitas yang sama

Casemix, casemix index and hospital baserate are important indicators to see the hospital performance with DRG payments. These indicators are the compilers of the INA-CBGs tariff rate, the performance assessment instrument for Healthcare and Social Security Agency partner hospitals and the instrument for compiling claims for the mixed method INA-CBGs and global budget which are being piloted. The coverage of inpatient and outpatient services at Muhammadiyah Hospitals in East Java is dominated by the National Health Insurance patients, therefore the hospitals must have a competitive advantages and be able to develop well in the JKN era. This study aims to analyze the achievement of casemix, casemix index and hospital baserate at Muhammadiyah Hospitals in East Java in year 2017-2020. An observational study within four years of observation was conducted in 27 hospitals. The study used secondary data obtained from the Ministry of Health's electronic claims (E-claims). The results showed that hospital classification, type of hospital, treatment class, and length of stay affected the achievement of casemix, casemix index and hospital base-rate. The casemix, casemix index and hospital base-rate of class B hospitals are higher than those of class C and class D hospitals, the indicator achievement of class C general hospitals is greater than those of special class C hospitals. The achievement of indicators between similar class hospitals can differ significantly. depending on the variety and severity level. Hospitals that handle severe cases have higher casemix, casemix index and hospital baserate values. The results of statistical tests showed that the length of stay had a significant effect on the increase of inpatient hospital baserate, the longer the days of stay, the greater the chance of increasing the hospital baserate (p <0.05). Hospitals that handle cases of hemodialysis and cataract surgery have a higher casemix, casemix index and outpatient hospital base-rate. The COVID-19 pandemic in 2020 had an impact on the achievement of casemix, casemix index and hospital base-rates. A total of 19 hospitals (70.4%) experienced a decrease in inpatient casemix achievement and 20 hospitals (74.1%) experienced a decrease in outpatient casemix. A total of 21 hospitals (77.4%) experienced an increase in inpatient hospital baserate and 23 hospitals (85.2%) experienced an outpatient hospital baserate increase in 2020. Conclusion: the achievement of the casemix, casemix index and hospital baserate indicators are influenced by classification, type of hospital, number of cases, variation and severity level and length of stay. The COVID-19 pandemic has resulted a decrease in casemix values and an increase in inpatient and outpatient hospital baserates. Hospitals must increase healthcare coverage, control costs and ensure optimal quality of diagnostic coding and procedures. Hospitals must monitor the achievement of casemix, casemix index and hospital baserates of inpatient and outpatient regularly and compare to other hospitals of the same class and capacity. Keyword : casemix, casemix index, hospital baserate, the National Health Insurance, outpatient, inpatient
Read More
B-2255
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ida Bagus Yudistira Nugraha Yustama; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Masyitoh, Prastuti Soewondo, Kalsum Komaryani, Ni Putu Ayu Prima Dewi
Abstrak:

Pemanfaatan ketiga indikator (casemix, CMI, dan HBR) secara berkala untuk mempertahankan mutu sembari menjaga efisiensi pelayanan RS di era JKN. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan strategi peningkatan capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate RSU Bali Royal tahun 2019 - 2024.
Penelitian dilakukan di RSU Bali Royal selama bulan Mei - Juni 2025, menggunakan data primer wawancara mendalam dan focus group discussion dan sekunder yang didapatkan dari rekapitulasi elektronik klaim (e-klaim) Kemenkes, laporan keuangan, dan laporan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan studi observasional pendekatan kualitatif untuk menganalisis capaian indikator Casemix, CMI dan HBR rawat inap dan rawat jalan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat unsur struktur (sumber daya manusia, material, mesin, anggaran, dan metode) dan unsur proses (manajemen pasien, manajemen koding, dan manajemen klaim) membuahkan unsur output (indikator casemix, casemix index, dan hospital baserate) Dinamika penambahan unsur struktur berdampak pada proses pelayanan pasien, efisiensi koding hingga 50%, dan keberhasilan klaim. Casemix rawat jalan tahun 2019 – 2024 diperoleh 11.393; 16.037; 32.763; 59.520; 111.193; dan 129.423. Casemix rawat inap kelas 1 tahun 2019 – 2024 diperoleh 907; 1.321; 2.657; 3.165; 3.829; dan 4.014. Casemix rawat inap kelas 2 tahun 2019-2024 diperoleh 818; 1.013; 1.800; 2.511; 3.052; dan 3.309. Casemix rawat inap keas 3 tahun 2019 – 2024 diperoleh 205; 539; 1.557; 2.023; 2.646; dan 3.038. Nilai CMI rawat jalan tahun 2019 – 2024 diperoleh 0,98; 1,11;1,16; 1,21; 1,35;dan 1,24. CMI rawat inap kelas 1 tahun 2019 – 2024 diperoleh 1,32; 1,60; 1,84; 1,57; 1,45; dan 1,37. CMI rawat inap kelas 2 tahun 2019 – 2024 diperoleh 1,17; 1,36; 1,58; 1,41; 1,33; dam 1,33. CMI rawat inap kelas 3 tahun 2019 – 2024 diperoleh 1,46; 1,82; 1,67; 1,54; 1,53; dan 1,45. HBR rawat jalan tahun 2019 – 2024 diperoleh 354.393; 333.231; 257.536; 243.675; 226.650; dan 238.494. HBR rawat inap kelas 1 tahun 2019 – 2024 diperoleh 5.257.416; 6.028.120; 5.477.120; 5.970.918; 6.542.667; dan 7.082.825. HBR rawat inap kelas 2 tahun 2019 – 2024 diperoleh 4.449.693; 5.628.665; 4.817.066; 4.993.043; 5.156.750; dan 5.563.012. HBR rawat inap kelas 3 tahun 2019 – 2024 diperoleh 3.616.138; 4.594.204; 3.746.071; 4.325.317; 4.584.260; dan 4.789.356. Nilai casemix dan casemix index mengalami peningkatan setiap tahunnya dengan capaian CMI di atas standar rumah sakit swasta kelas C regional 2. HBR rawat jalan pada tahun 2021-2024 dibawah HBR nasional, namun HBR rawat inap kelas 1, 2, dan 3 selalu berada di atas HBR nasional. Strategi yang dapat ditempuh untuk peningkatan casemix, casemix index, dan penurunan HBR adalah optimalisasi unsur struktur dengan perbaikan sumber daya manusia dan pengkajian metode, efisiensi mesin, material, dan anggaran, dan evaluasi pada unsur proses (manajemen pasien, koding, dan klaim).


 

The periodic utilization of three key indicators—casemix, Casemix Index (CMI), and Hospital Base Rate (HBR)—is crucial for maintaining service quality while ensuring operational efficiency in hospitals, particularly within Indonesia's National Health Insurance (JKN) system. This study aimed to analyze factors influencing, and develop strategies for enhancing the performance of, casemix indicators, the Casemix Index, and the Hospital Base Rate at Bali Royal General Hospital over the period 2019–2024. The research was conducted at Bali Royal General Hospital from May to June 2025. Primary data were collected through in-depth interviews and focus group discussions, while secondary data were obtained from the Ministry of Health's electronic claim (e-claim) database, hospital financial reports, and institutional records. This study employed an observational design with a qualitative approach to analyze the performance of casemix indicators, CMI, and HBR for both inpatient and outpatient services. The findings revealed that structural elements (i.e., human resources, materials, machinery, budget, and methods) and process elements (i.e., patient management, coding management, and claims management) collectively determine output elements, identified as casemix indicators, the Casemix Index, and the Hospital Base Rate. Strategic enhancements to these structural elements were found to positively impact patient service processes, improve coding efficiency by up to 50%, and increase claim success rates. Results for the 2019–2024 period were as follows: Outpatient casemix counts were 11,393; 16,037; 32,763; 59,520; 111,193; and 129,423 for the years 2019 to 2024, respectively. Inpatient casemix counts for the years 2019 to 2024 were, respectively: Class 1: 907; 1,321; 2,657; 3,165; 3,829; and 4,014. Class 2: 818; 1,013; 1,800; 2,511; 3,052; and 3,309. Class 3: 205; 539; 1,557; 2,023; 2,646; and 3,038. Casemix Index (CMI) values for the years 2019 to 2024 were, respectively: Outpatient CMI: 0.98, 1.11, 1.16, 1.21, 1.35, and 1.24. Inpatient CMI: Class 1: 1.32, 1.60, 1.84, 1.57, 1.45, and 1.37. Class 2: 1.17, 1.36, 1.58, 1.41, 1.33, and 1.33. Class 3: 1.46, 1.82, 1.67, 1.54, 1.53, and 1.45. Hospital Base Rate (HBR) values for the years 2019 to 2024 were, respectively (currency unit not specified in the original text): Outpatient HBR: 354,393; 333,231; 257,536; 243,675; 226,650; and 238,494. Inpatient HBR: Class 1: 5,257,416; 6,028,120; 5,477,120; 5,970,918; 6,542,667; and 7,082,825. Class 2: 4,449,693; 5,628,665; 4,817,066; 4,993,043; 5,156,750; and 5,563,012. Class 3: 3,616,138; 4,594,204; 3,746,071; 4,325,317; 4,584,260; and 4,789,356. Overall, casemix counts and the Casemix Index exhibited an upward trend annually, with CMI performance exceeding the established standard for Class C private hospitals in Regional Area 2. While the outpatient HBR from 2021 to 2024 fell below the national HBR, the inpatient HBR for Classes 1, 2, and 3 consistently surpassed the national benchmark. Recommended strategies to enhance casemix performance, improve the Casemix Index, and reduce the Hospital Base Rate center on optimizing structural elements. This includes improving human resource competencies, refining methodologies, and increasing the efficiency of machinery, materials, and budget allocation. Furthermore, a rigorous evaluation of process elements—such as patient management, clinical coding accuracy, and claims management procedures—is deemed essential.

 

Read More
T-7325
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Malahayati; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Atik Nurwahyuni, Vetty Yulianty Permanasari, Muhamad Nur Ihwan, Purwa Kurnia Sucahya
Abstrak:
Casemix, casemix index dan hospital baserate merupakan indikator penting untuk melihat kinerja rumah sakit di bawah sistem pembayaran INA-CBGs. Indikator tersebut merupakan penyusun besaran tarif INA-CBGs, instrumen penilaian kinerja rumah sakit mitra BPJS Kesehatan dan instrumen penyusun pembayaran klaim mixed method INA-CBGs dan global budget yang mulai diujicobakan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis capaian dan determinan indikator casemix, casemix index dan hospital baserate RSPG Cisarua Bogor selama tahun 2017 – 2022. Penelitian akan dilakukan selama bulan Mei – Juni 2023 oleh peneliti langsung di RSPG Cisarua Bogor. Analisis capaian indikator casemix, casemix index dan hospital baserate rumah sakit menggunakan data sekunder yang didapatkan dari rekapitulasi data pada elektronik klaim (e-klaim) Kementerian Kesehatan. Determinan yang berpengaruh terhadap ketiga indikator yang dihitung dalam penelitian ini akan dianalisis secara crossectional melalui pendekatan analitik kuantitatif dari data sekunder berupa e-klaim dan laporan rumah sakit. Uji statistik berupa uji korelasi dan regresi linier sederhana digunakan untuk melihat determinan yang berkaitan dengan indikator casemix, casemix index dan hospital baserate. Hasil penelitian menunjukkan tren casemix rawat jalan dan rawat inap tahunan RSPG mengalami penurunan dari 2017 hingga 2021 seiring dengan penurunan jumlah kasus. Penurunan pada tahun 2020 dan 2021 diakibatkan adanya penurunan jumlah kasus yang signifikan selama pandemi Covid-19. Nilai casemix di tahun 2022 kembali naik seiring membaiknya kondisi pandemi di Indonesia. Capaian casemix index rawat jalan dan rawat inap RSPG Cisarua lebih rendah bila dibandingkan dengan rata-rata capaian casemix index RS Pemerintah Kelas A di regional I. Terjadi kenaikan casemix index saat pandemi Covid-19 dikarenakan masyarakat berobat dalam keadaan lebih parah di saat pandemi. Hospital baserate rawat jalan RSPG tahun 2017 dan 2021 masih berada di bawah tarif nasional, sedangkan tahun 2018, 2019, 2020, dan 2022 hospital baserate lebih tinggi dibandingkan tarif nasional. Hospital baserate rawat inap RSPG secara konasisten lebih tinggi dibandingkan tarif nasional. Artinya biaya yang dikeluarkan rumah sakit lebih tinggi dibandingkan tarif yang dibayarkan oleh BPJS dalam menangani kasus dengan nilai cost weight=1. Terdapat 5 variabel yang bernilai signifikan dengan p<0,05 terhadap casemix rawat jalan, yakni jumlah kasus, jumlah klinik rawat jalan, jumlah dokter spesialis, proporsi beban pegawai, dan proporsi beban penyusutan. Variabel yang berkorelasi secara statistik terhadap casemix rawat inap adalah jumlah kasus, severity level II dan III, lama hari perawatan, jumlah dokter spesialis, proporsi beban pegawai, dan proporsi beban penyusutan. Jumlah klinik rawat jalan dan proporsi beban pegawai memiliki hubungan dengan capaian casemix index rawat jalan. Jumlah kasus, severity level I dan III, lama hari perawatan, serta jumlah dokter spesialis yang praktek di rumah sakit secara statistik berpengaruh terhadap capaian casemix index rawat inap. Hospital baserate di rumah sakit dihitung dengan membagi total biaya dengan casemix. Jumlah klinik rawat jalan, jumlah dokter spesialis, dan proporsi beban pegawai memiliki hubungan (p<0,05) terhadap hospital baserate rawat jalan. Jumlah kasus, severity level I dan III, lama hari perawatan, dan proporsi beban pegawai merupakan determinan yang teridentifikasi terhadap hospital baserate rawat inap.

Casemix, casemix index and hospital baserate are important indicators to evaluate hospital performance under the INA-CBGs payment system. These indicators are the basis for the INA-CBGs tariff rates, the instrument for assessing the performance of BPJS Kesehatan partner hospitals and the constructing instrument of mixed method global budget claim payments for INA-CBGs which has begun to be trialled. This research was conducted to analyze the achievements and determinants of casemix, casemix index and hospital baserate RSPG Cisarua Bogor from 2017 to 2022. The research conducted on May - June 2023 at RSPG Cisarua Bogor. Analysis of the achievement indicators for casemix, casemix index and hospital base rate uses secondary data obtained from Ministry of Health's electronic claims (e-claims). The determinants that affect the indicators will be analyzed cross-sectionally through a quantitative analytical approach from secondary data form e-claims and hospital reports. Correlation and simple linear regression were used to see whether the determinants related to the casemix, casemix index and hospital baserate indicators. The results showed that the casemix trend for outpatient and inpatient at RSPG had decreased from 2017 to 2021 along with the number of visits. The decline in 2020 and 2021 was due to a significant decrease in the number of visits during the Covid-19 pandemic. The casemix in 2022 increased as the pandemic conditions improved in Indonesia. The casemix index for outpatient and inpatient care at RSPG Cisarua were lower than the average casemix index for Class A Government Hospitals in regional I. RSPG outpatient hospital baserate in 2017 and 2021 is still below the national rate, while the other years are higher. RSPG's hospital base rate of inpatient care is consistently higher than the national rate. This means that the costs incurred by the hospital are higher than the rates paid by BPJS in handling cases with cost weight = 1. There are 5 variables that have significant value with p
Read More
B-2348
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dhini Sari Sembiluh; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Ede Surya Darmawan, Khafifah Any, Sholihul Absor
Abstrak: Tesis ini membahas analisis kesiapan implementasi Kelas Rawat Inap Standar (KRIS) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di RS Aisyiyah Bojonegoro. Kebijakan implementasi KRIS JKN ini akan berdampak pada tata kelola rumah sakit perlunya penyesuaian kebutuhan pada sumber daya rumah sakit dan manajemen rumah sakit sesuai dengan Permenkes Nomor 14 Tahun 2021 & Kepdirjenyankes Nomor HK.02.02/I/1811.2022. RS Aisyiyah Bojonegoro berada di Kabupaten Bojonegoro dengan cakupan UHC 98.76 %, merupakan RS swasta terbesar di Bojonegoro, tahun 2021 jumlah pasien rawat inap sebesar 50% jaminan JKN dan BOR 67.79%. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran kesiapan sumber daya, proses manajemen dan rencana tindak lanjut RS Aisyiyah Bojonegoro untuk implementasi KRIS JKN Perkembangan program JKN dengan adanya peningkatan jumlah peserta JKN dan jumlah fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS (RS swasta 63.8%). Peningkatan pemanfaatan JKN dengan proporsi pembiayaan rawat inap yang terbesar. Dewan Jaminan Sosial Nasional (DJSN) menjalankan implementasi kebijakan KRIS JKN mulai 1 Januari 2023 secara bertahap, untuk mewujudkan kesinambungan program JKN dan menjalankan amanah undang-undang SJSN dalam pemenuhan prinsip ekuitas
Read More
B-2287
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Ganesha Asturini; Pembimnbing: Kurnia Sari; Penguji: Atik Nurwahyuni, Rahmi Handayani
Abstrak:

ABSTRAK Keberhasilan universal health coverage di Indonesia sangat ditentukan oleh utilisasi sumber daya yang efisien di rumah sakit. Variasi biaya yang tinggi untuk perawatan tertentu menunjukkan indikasi bahwa rumah sakit belum cukup efisien dalam memanfaatkan sumber dayanya untuk menyediakan pelayanan. Length of stay (LOS) adalah salah satu faktor penting penentu biaya yang banyak digunakan sebagai indikator efisiensi rumah sakit dalam penggunaan sumber daya. LOS dan biaya perawatan dipengaruhi oleh banyak faktor, baik yang merupakan karakteristik pasien maupun faktor terkait manajemen di rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi seberapa besar hubungan antara karakteristik pasien dengan variasi LOS dan biaya perawatan,dan mengetahui gambaran penerapan clinical pathway sebagai upaya kendali mutu dan biaya pada pasien JKN rawat inap di RSUP Fatmawati dari tahun 2015 – September 2017. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi usia, jumlah diagnosis, jumlah prosedur dan kelas rawat hanya dapat menjelaskan sedikit variasi LOS dan biaya perawatan (R 2 <34%). Sementara itu clinical pathway sebagai salah satu pendekatan manajemen untuk kendali mutu dan biaya belum diterapkan secara optimal. Berbagai upaya kreatif perlu dilakukan manajemen antara lain implementasi care plan, difungsikannya kembali case manager, pengisian CP secara elektronik dan identifikasi inefisiensi dalam pelayanan menggunakan data unit cost rumah sakit. Kata kunci: Length of stay (LOS), biaya (costs), efisiensi, clinical pathway, CMG


ABSTRACT Efficient use of resources in hospitals will contribute to successful implementation of universal health coverage in Indonesia. Substantial variation in hospital costs for certain diagnosis or procedure is an indication of resource use inefficiency. Length of stay is a well-accepted measure of resource utilization and a key driver to hospital costs. Variation in LOS and costs can be influenced by patient demographic and clinical factors that are outside a hospital’s control, in the meanwhile there are also factors within the control of a hospital. This research focuses on five Casemix Main Groups and aims to identify how patient characteristic factors contribute to variation in LOS and costs, and to investigate qualitatively the implementation of Clinical Pathway as a management approach to control LOS as well as hospital costs for JKN patients at RSUP Fatmawati, a class-A teaching hospital in Jakarta, from 2015 to September 2017. The result indicates that the variance in LOS and cost is not significantly correlated to patient’s age, number of diagnoses, number of procedures and room types as independent variables. The hospital has numerous clinical pathways that have not been optimally implemented yet for LOS and cost control. This research provides information for hospital management team to improve LOS performance by implementing care planning, intensive case management and to use cost data for identification of inefficiency of certain types of care. Keywords: Length of stay (LOS), costs, efficiency, clinical pathway, CMG

Read More
B-1945
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sadewa Yudha Sukawati; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Atik Nurwahyuni, Masyitoh, Hariyadi Wibowo, Putri Nadia
Abstrak:
Rumah Sakit Umum (RSU) Aisyiyah Muntilan memiliki tingkat ketergantungan pendapatan yang sangat tinggi terhadap Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) untuk pasien rawat inap, di mana proporsinya konsisten berada di atas 80% hingga mendekati 90%. Namun, terdapat kesenjangan antara urgensi manajemen untuk mempercepat proses penagihan guna menjaga stabilitas arus kas (cashflow) dengan realitas operasional di lapangan yang sering terhambat oleh masalah kelengkapan rekam medis, kesiapan sistem informasi, dan tingginya berkas yang ditunda (pending). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi pengelolaan berkas klaim pasien rawat inap JKN dari hulu ke hilir di RSU Aisyiyah Muntilan menggunakan kerangka Teori Donabedian (Struktur, Proses, Dampak), serta menganalisis tata kelola pada berkas klaim yang berstatus layak bayar maupun pending. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan riset operasional. Pengumpulan data primer dan sekunder dilakukan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), observasi, serta telaah dokumen terhadap para informan yang dipilih melalui teknik purposive sampling dari berbagai unit terkait. valuasi implementasi pengelolaan klaim menunjukkan kendala struktural berupa ketiadaan SPO terintegrasi, lambatnya perangkat keras SIRS, ketiadaan integrasi (full bridging) ke portal e-Claim, serta pelimpahan tugas pengisian resume medis dari DPJP ke perawat. Pada evaluasi tata kelola, berkas berstatus layak didominasi oleh kasus Severity Level I (79%) yang mempercepat penagihan namun memunculkan risiko kerugian finansial akibat undercoding. Sementara itu, berkas berstatus pending dikembalikan oleh BPJS akibat masalah Standar Pelayanan (46%), Kaidah Koding (31%), dan Kelengkapan Dokumen (23%), yang dipicu oleh ketiadaan kriteria objektif di rekam medis, perbedaan terminologi klinis, lamanya rujukan patologi anatomi eksternal, dan dokumen tercecer akibat penggunaan sistem cetak-pindai. Pengelolaan klaim di RSU Aisyiyah Muntilan masih menghadapi hambatan struktural dan teknis dari hulu hingga hilir. Rumah sakit disarankan untuk mengimplementasikan integrasi penuh (full bridging) antara SIRS dan e-Claim, menerapkan fitur isian wajib (mandatory field), memaksimalkan fungsi peringatan otomatis (alert system), serta menyusun "Kamus Jembatan Terminologi" untuk menyelaraskan istilah klinis DPJP dengan kaidah koding ICD-10.

Aisyiyah Muntilan General Hospital (RSU) has a very high revenue dependence on the National Health Insurance (JKN) program for inpatients, with proportions reaching 80% to 90%. The hospital targets the acceleration of claim billing to maintain cash flow stability, but the reality in the field is still hampered by fragmentation and process inefficiencies from upstream to downstream. This study aims to evaluate the implementation of JKN inpatient claim management, analyze the governance of eligible claims, and analyze the governance of pending claims at RSU Aisyiyah Muntilan. This is a qualitative study using an operational research approach. Data were collected through in-depth interviews, Focus Group Discussions (FGD), observations, and document reviews with informants selected via purposive sampling from various related units. The analysis was conducted using the Donabedian Theory framework (Structure, Process, Outcome). he evaluation of claim management implementation indicates structural constraints in the form of the absence of integrated Standard Operating Procedures (SOP), slow Hospital Information System (SIRS) hardware, lack of full bridging to the e-Claim portal, and the delegation of medical resume filling tasks from attending physicians (DPJP) to nurses. In the governance evaluation, eligible claims are dominated by Severity Level I cases (79%), which accelerates billing but raises the financial risk of undercoding. Meanwhile, pending claims were returned by BPJS due to issues with Service Standards (46%), Coding Rules (31%), and Document Completeness (23%), which were triggered by the lack of objective criteria in medical records, clinical terminology differences, long waiting times for external anatomical pathology referrals, and scattered documents due to the use of a print-scan system. Claim management at RSU Aisyiyah Muntilan still faces structural and technical barriers from upstream to downstream. The hospital is advised to implement full bridging between SIRS and e-Claim, apply mandatory field features, maximize the function of automatic alert systems, and compile a "Terminology Bridge Dictionary" to align DPJP's clinical terms with ICD-10 coding rules.
Read More
B-2628
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Masyithah Wulandari S; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Prastuti Soewondo, Pujiyanto, Anhari Achadi, Eka Rahmayuli
Abstrak:
Program JKN telah memberikan manfaat yang besar kepada masyarakat Indonesia, pemerintah melalui BPJS Kesehatan terus berupaya untuk meningkatkan kualitas yang diberikan. Hadirnya Kelas Rawat Inap Standar Jaminan Kesehatan Nasional (KRIS JKN) menjawab hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat kesiapan RSUD Teuku Umar dalam implementasi KRIS JKN dalam berbagai aspek seperti kesiapan sarana dan prasarana, SDM, pendanaan, tata kelola, proses manajemen serta  rencana tindak lanjutnya dalam menimplementasikan KRIS JKN yang ditargetkan pada 30 Juni 2025. Adapun metode penelitian ini yaitu penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Penelitian ini akan dilakukan pada bulan November-Desember 2024. Berdasarkan hasil observasi, telaah dokumen, dan wawancara mendalam terkait implementasi KRIS JKN, didapatkan bahwa kesiapan sarana dan prasarana di RSUD Teuku Umar sebesar 56,5% serta ditemukan bahwa RSUD Teuku Umar telah memiliki komitmen yang kuat terhadap implementasi KRIS JKN, namun masih terdapat sejumlah kendala, terutama dalam kesiapan pendanaan dan pengetahuan staf pelayanan dan tidak adanya tim percepatan KRIS JKN. Rekomendasi untuk proses pemenuhan implementasi KRIS JKN yaitu RSUD Teuku Umar akan membentuk tim percepatan KRIS, melakukan sosialisasi tentang KRIS JKN kepada seluruh staff rumah sakit, melakukan advokasi anggaran, serta menentukan skala prioritas dalam bentuk kegiatan beserta rancangan anggaran untuk  proses pemenuhan implemetasi KRIS JKN

The National Health Insurance (JKN) program has provided significant benefits to Indonesian people. The government, through the Health Insurance Agency (BPJS Kesehatan), continues to strive to improve the quality of services provided. The introduction of the Standard Inpatient Class for National Health Insurance (KRIS JKN) addresses this. This study aims to assess the readiness of RSUD Teuku Umar in implementing KRIS JKN in various aspects such as the readiness of facilities and infrastructure, human resources, funding, governance, management processes, and its follow-up plan in implementing KRIS JKN, which is targeted for completion by June 30, 2025. This research employs a qualitative method with a case study approach. The research will be conducted in November-December 2024. Based on observations, document reviews, and in-depth interviews related to the implementation of KRIS JKN, it was found that the readiness of facilities and infrastructure at RSUD Teuku Umar is 56.5% and that RSUD Teuku Umar has a strong commitment to implementing KRIS JKN, but there are still several challenges, especially in terms of funding readiness and the knowledge of service staff, as well as the absence of a KRIS JKN acceleration team. Recommendations for the completion of the KRIS JKN implementation process are that RSUD Teuku Umar should form a KRIS acceleration team, conduct socialization about KRIS JKN to all hospital staff, advocate for funding, and determine priorities in the form of activities along with a budget plan for the completion of the KRIS JKN implementation process.
Read More
B-2501
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ditia Gilang Shah Putra Rahim; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Adang Bachtiar, Ascobat Gani, Torang M. Napitupulu, Budi Hartono
Abstrak:
Latar belakang: Kejadian klaim pending rawat inap JKN di RS Pelni pada tahun 2022 dari 29.100 berkas yang diajukan pada pengajuan klaim tahap pertama sebanyak 949 berkas (3,26%). Hal ini dapat menghambat operasional, pengembangan pelayanan dan mengganggu arus kas, sehingga perlu dilakukan identifikasi dan analisis terhadap penyebab klaim pending. Tujuan: Diidentifikasi variabel penyebab klaim pending sehingga dapat memperbaiki sistem pengajuan klaim JKN di RS Pelni. Metode penelitian: Desain penelitian deskriptif melalui wawancara mendalam terhadap 8 informan dan telaah terhadap 459 berkas untuk diidentifikasi penyebab masalah berdasarkan teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn. Hasil penelitian: Alasan berkas klaim yang pending adalah konfirmasi coding diagnosis dan prosedur sebanyak 38,7%, kesalahan pengisian resume medis sebanyak 23,8%, ketidaklengkapan berkas penunjang sebanyak 13,6%, konfirmasi pembayaran oleh Jasa Raharja sebanyak 5,1%, kesalahan grouping sebanyak 0,4%. Walaupun persentase klaim pending relatif rendah (3.26%), tetapi pembiaran akan mengakibatkan kesehatan arus kas operasional serta potensi keterlambatan arus kas masuk senilai minimal 2% dari total pendapatan per bulan. Kesimpulan: Alasan klaim pending berhubungan dengan tenaga coder baru, clinical pathway belum dijalankan dengan baik, kurangnya supervisi DPJP dalam membuat resume medis. Dibutuhkan pelatihan dan supervisi terhadap SDM, membangun komunikasi efektif antar stakeholder dan melakukan monitoring dan evaluasi terkait pengelolaan klaim. Kata kunci: RS Pelni, klaim pending, teori implementasi kebijakan Van Meter dan Van Horn.

Background: The incidence of JKN inpatient pending claims at Pelni Hospital in 2022 out of 29,100 files submitted in the first stage of claim submission was 949 files (3.26%). This can hinder operations, service development and disrupt cash flow, so it is necessary to identify and analyze the causes of pending claims. Objective: To identify the variables that cause pending claims so that they can improve the system for submitting JKN claims at Pelni Hospital. Research method: Descriptive research design through in-depth interviews with 8 informants and analysis of 459 files to identify the causes of problems based on the theory of policy implementation by Van Meter and Van Horn. The results of the study: The reasons for pending claim files were confirmation of diagnosis coding and procedures as much as 38.7%, medical resume filling errors as much as 23.8%, incomplete supporting documents as much as 13.6%, payment confirmation by Jasa Raharja as much as 5.1%, grouping error of 0.4%. Even though the percentage of pending claims is relatively low (3.26%), neglecting it will result in a healthy operational cash flow and potential delays in cash inflows of at least 2% of total income per month. Conclusion: The reasons for pending claims are related to new coder staff, clinical pathways that have not been implemented properly, lack of DPJP supervision in making medical resumes. HR training and supervision is needed, building effective communication between stakeholders and monitoring and evaluating related to claim management.
Read More
B-2392
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Risa De Apna; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Adang Bachtiar, Pujiyanto, Arum Gunarsih, Rakhmad Hidayat
Abstrak:
Pengelolan klaim pasien Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) harus dilakukan dengan optimal agar keberlangsungan bisnis rumah sakit berjalan lancar. Besarnya klaim yang tertahan karena alasan satu dan lain hal akan berpengaruh pada arus kas bisnis rumah sakit. RSU Kota Tangerang Selatan mengalami klaim pending rata-rata 27,96% per bulan selama tahun 2022. Tujuan penelitian adalah identifikasi penyebab terjadinya klaim pending di RSU Kota Tangerang Selatan sehingga dapat memberikan rekomendasi perbaikan dalam pengelolaan klaim JKN. Penelitian ini adalah studi kasus yang menggunakan metode kualitatif dengan wawancara mendalam pada 10 informan terpilih. Telaah dokumen dan observasi juga dilakukan untuk mendukung analisis. Hasil penelitian menunjukkan penyebab klaim pending disebabkan oleh ketidaksesuaian pengisian resume medis (33,97%), konfirmasi koding diagnosa dan prosedur (30,01%), ketidaksesuaian administrasi klaim sebanyak 24,90%, konfirmasi karena ketidaklengkapan berkas penunjang klaim (9,83%) dan konfirmasi grouping (1,02%). Komponen sumber daya, komunikasi antar unit, karakteristik organisasi dalam fungsi pengawasan, sikap pelaksana dan faktor eksternal (sosial, ekonomi dan politik) mempengaruhi kejadian klaim pending RS. Rekomendasi dari penelitian ini adalah merevisi dan melakukan sosialisasi atas SOP dalam proses pengajuan klaim dan SOP penyelesaian klaim pending. Catatan penting lain adalah memberikan umpan balik kepada DPJP dan dokter di unit rawat inap tentang penyebab klaim pending. Pertemuan rutin antara tim casemix rumah sakit dengan BPJS Kesehatan juga menjadi pertimbangan dalam rekomendasi sebagai upaya mengaktifkan Tim Kendali Mutu Kendali Biaya (TKMKB) dan Tim Fraud.

Effective management of Jaminan Kesehatan National (JKN) patient claims is crucial to ensure efficient operations of the hospital's business operations, a backlog of pending claims can significantly impact hospital’s cash flow. RSU Kota Tangerang Selatan experienced an average pending claims rate of 27.96% per month throughout 2022. The studi aims to identify the causes of these pending claims at RSU Kota Tangerang Selatan and subsequently offer recommendations to enhance JKN claim management. Employing a qualitative method, utilizing a case study approach through in-depth interviews with ten informants, document review and observational data. The finding highlighted several root causes of pending claims, including inconsistencies in completing medical records (33.97%), inaccurate coding of diagnoses and procedures (30.01%), incompatibility of claim administration (24.90%), incomplete supporting claim documents (9.83%) and confirmation issues tied to grouping (1.02%). A combination of factors including resource allocation, inter-departmental communication, organizational dynamics in oversight functions, staff attitudes, and external influences (social, economic, and political) collectively contribute to the occurrence of pending claims. One of the crucial recommendations that emerge from this study is the need to review and disseminate Standard Operating Procedures (SOPs) related to claims submission and the resolution of pending claims. Establishing a feedback loop with attending physicians and inpatient doctors to address the causes of pending claims is also of paramount importance. Furthermore, routine meetings between the hospital's casemix team and BPJS Health is necessary as a strategic measure to activate both the Quality Control Cost Control Team (TKMKB) and the Fraud Team, aiming to mitigate future claim discrepancies.
Read More
B-2394
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive