Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 34752 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ahmad Tahta Kurniawan; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Fransiscus Fendy Novento, Rd. Gautama M. Iman Santosa
Abstrak:
Kejadian kecelakaan di perusahaan tambang menimbulkan kerusakan properti, cedera ringan, berat, hingga kematian. Demikian pula PT X, yang merupakan perusahaan pertambangan, masih mengalami cedera akibat kecelakaan dengan nilai Total Recordable Injury Rate (TRIR) sebesar 0,168 di Tahun 2020 dan kemudian naik menjadi 0,176 pada Tahun 2021. Salah satu temuan penyebab kejadian kecelakaan ini adalah adanya kegagalan manajemen melakukan kontrol risiko. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor manajemen terhadap kejadian fatalitas di PT X. Quinlan Pathway (2014) yang digunakan dalam analisis kejadian fatal menemukan bahwa ada 3 Quinlan Pathway yang berkontribusi terhadap aspek manajemen yaitu Pathway-4 failures in safety management systems and hazard plan, Pathway-5 failures in auditing, dan Pathway-9 poor management – worker communication and trust. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan tinjauan dokumen kejadian kecelakaan dan audit Tahun 2023, kemudian dilanjutkan dengan survei kuisioner terhadap 396 responden dan wawancara dengan 29 orang yang terbagi ke dalam 11 Divisi di PT X. Hasil tinjauan dokumen kejadian kecelakaan dan audit Tahun 2023 menunjukkan bahwa Pathway 4 failures in safety management systems and hazard plan memiliki temuan paling tinggi. Selain itu, hasil triangulasi survei dan wawancara menunjukkan bahwa nilai Pathway-4 failures in safety management systems and hazard plan memiliki nilai yaitu 7,52 diikuti Pathway-5 failures in auditing memiliki nilai yaitu 7,55, dan nilai Pathway-9 poor management – worker communication and trust memiliki nilai yaitu 7,75. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat peluang kegagalan manajemen berkontribusi terhadap kejadian fatalitas. Oleh karena itu, hasil penelitaian ini menitikberatkan rekomendasi terhadap manajemen PT X untuk melakukan risk management yang terintegrasi, melaksanakan investigasi secara memadai, memastikan tim auditor internal memiliki kompetensi yang memadai, serta membangun komunikasi manajemen dan karyawan untuk meningkatkan kepercayaan.

Accidents at mining companies cause property damage, minor and serious injuries and even death. This happened in PT X, which is a mining company, is still experiencing injuries due to accidents with a Total Recordable Injury Rate (TRIR) of 0.168 in 2020 and then increase to 0.176 in 2021. One of the findings that caused this accident was management's failure to control risks. Therefore, the objective in this research was analyze management factors regarding fatality incidents in PT X. The Quinlan pathway (2014) was used in the analysis and found 3 pathway contributing factor i.e. Pathway-4 failures in safety management systems and hazard plans, Pathway-5 failures in auditing, and Pathway-9 poor management – worker communication and trust. This research was carried out by reviewing accident document and audit documents in 2023, then continue with questionnaire survey of 396 respondents, and interviewing 29 people from 11 divisions in PT X. The results of a review of accident documents and audits document in 2023 showed that Pathway-4 failures in safety management systems and hazard plans have the highest findings. Apart from that, the results of survey and interview triangulation show that the Pathway-4 failures in safety management systems and hazard planning has a value of 7.52, followed by Pathway-5 failures in auditing has a value of 7.55, and Pathway-9 poor management – worker communication and trust has a value of 7. 75. These values show that there is a chance that management failure will contribute to fatalities. Therefore, the research outlines the recommendation to PT X management to carry out integrated risk management, to carry out adequate investigations, to ensure internal auditor team has adequate competence, and to build communication that creates trust between management and employee.
Read More
T-7084
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alfred Yunandro Markus; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Fransiskus Novento, Eben Ezer Sirait
Abstrak:
Industri Pertambangan merupakan sebagian atau semua tahapan kegiatan dalam hal penelitian, pengelolaan dan pengkaryaan mineral atau batubara meliputi penyelidikan umum, eksplorasi, studi kelayakan, pembangunan, penambangan, pengolahan dan pemurnian, pengangkutan dan penjualan, serta kegiatan pascatambang. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis yang komprehensif terutama untuk faktor desain/rekayasa serta teknis perawatan dalam Industri Pertambangan yang diaplikasikan pada program pencegahan fatalitas sebagai bentuk upaya yang sistematis dan komprehensif dalam upaya mencegah terjadinya kecelakaan yang menimbulkan fatalitas. Dalam upaya untuk mencegah kejadian fatalitas di area kerja PT X kedepannya perlu dilakukan analisis secara komperensif seperti yang sudah dilakukan di seluruh perusahaan pertambangan di Australia melalui penyebaran kuesioner, tinjauan dokumen, wawancara serta analisis data kecelakaan fatal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor desain/rekayasa dan teknis perawatan yang ada di PT X terhadap upaya implementasi program pencegahan fatalitas. Penelitian ini akan menggunakan metode penelitian deskriptif dan analitik. Selain itu, penelitian ini akan menggunakan data kualitatif yang digunakan untuk memberikan gambaran hasil dari penelitian kuantitatif. Hasil penelitian menjelaskan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor desain/rekayasa serta teknis perawatan di PT X terhadap Program Pencegahan Fatalitas di PT.X. Perlu ada peran serta Manajemen, Tim Engineer, Tim Planner serta Tim Field Supervisor dan pihak terkait lainnya untuk dapat menciptakan program terintegrasi terkait keselamatan karyawan di PT X.

The Mining Industry encompasses some or all stages of activities in terms of research, management, and utilization of minerals or coal, including general investigation, exploration, feasibility studies, development, mining, processing and refining, transportation and sales, as well as post-mining activities. Therefore, a comprehensive analysis is necessary, particularly regarding design/engineering and maintenance technical factors in the Mining Industry, which are applied to the fatality prevention program as a systematic and comprehensive effort to prevent accidents causing fatalities. To prevent fatalities in the work area of PT X in the future, a comprehensive analysis needs to be conducted as has been done in all mining companies in Australia through the distribution of questionnaires, document reviews, interviews, and fatal accident data analysis. This study aims to analyze the design/engineering and maintenance technical factors present at PT X in the effort to implement the fatality prevention program. This research will use descriptive and analytical research methods. In addition, this study will use qualitative data to provide an overview of the results of quantitative research. The results of the study explain that there is a significant relationship between design/engineering and maintenance technical factors at PT X and the Fatality Prevention Program at PT X. The participation of Management, the Engineering Team, the Planning Team, the Field Supervisor Team, and other related parties is necessary to create an integrated program related to employee safety at PT X.
Read More
T-6926
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diah Kusumawati; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Fatma Lestari, Ridwan Zahdi Syaaf, Fajar Seno Jati, Doni Agus Sumitro
Abstrak:
Pendahuluan: Di dalam industri hulu migas, cedera tangan dan jari merupakan tantangan besar. Setidaknya 50% dari kasus cedera di dalam industri migas merupakan cedera tangan dan jari. Di beberapa perusahaan, proporsi tersebut dapat menjadi lebih besar. Dalam analisis yang pernah dilakukan terhadap kecelakaan di perusahaan anggota IOGP, lebih dari delapan puluh persen diakibatkan karena factor manusia, baik yang disebabkan oleh faktor pribadi ataupun faktor organisasi. Studi ini dilakukan untuk menganalisis factor manusia di dalam kasus cedera tangan dan jari yang teradi di PT. X sepanjang tahun 2014 hingga 2020 dengan menggunakan kerangka HFACS. Metode: Penelitian dengan metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan data sekunder berupa data kasus cedera tangan dan jari di PT. X dari tahun 2014 hingga 2020. Hasil: Cedera tangan dan jari paling banyak disebabkan oleh skill-based errors dan routine violations. Kasus cedera yang diakibatkan skilled-based errors juga diperparah oleh pelanggaran aturan yang dilakukan bersama secara terus menerus (routine violations). Kondisi yang menjadi prekondisi dari tindakan tidak aman yang berkontribusi dalam cedera tangan dan jari paling banyak terkait crew/ resource management. berbagai faktor yang termasuk ke dalam kategori ini di antara lain komunikasi, koordinasi, perencanaan dan kerja tim yang mempengaruhi kinerja. Pengawasan yang tidak aman yang paling banyak terjadi adalah failed to correct known problems dan inadequate supervision. Inadequate supervision terkait dengan pengelolaan personil dan sumber daya termasuk pelatihan, panduan professional dan kepemimpinan operasional. Sedangkan failed to correct known problems terkait dengan kekurangan pada individu, peralatan, pelatihan atau area keselamatan lain “diketahui” oleh supervisor, namun dibiarkan tidak dikoreksi. Di level 4, pengaruh organisasi yang terbesar adalah Organisational Process. Organisational process adalah proses formal di mana visi sebuah organisasi dijalankan termasuk operasi, prosedur, dan kesalahan di antaranya. Kesimpulan: Gambaran HFACS pada kasus cedera tangan dan jari di PT. X sejalan dengan gambaran umum HFACS yang ada dalam industri hulu migas, kecuali di level 2 yakni preconditions for unsafe acts. Sistem pembelajaran kejadian di PT. X masih dipengaruhi oleh teori domino dan belum mengintegrasikan konsep faktor manusia secara menyeluruh. Kerangka HFACS dapat membantu PT. X dalam menelaah lebih dalam defisiensi di dalam faktor manusia untuk dapat menetapkan tindakan perbaikan yang lebih tepat.
Introduction: Hand and finger injuries have always been major challenges in upstream oil and gas industry. At least 50% of injuries in upstream oil and gas impacting hand and fingers. In some companies, the proportion could be larger. More than 80% of incidents in IOGP members were caused by human factors, both personal and organizational factors. This study aims to analyze human factors in hand and finger injuries at PT. X by using HFACS framework. Methodology: The study was conducted by applying qualitative descriptive analysis by using secondary data, investigation report of hand and finger injures from 2014 to 2020. Results: Skill-based errors and routine violations contributed in most of hand and finger injuries in PT.X. Routine violations were found as aggravating factors in skill-based errors injuries/ crew resource management were dominating level 2, preconditions for unsafe acts, it consists of coordination, communication, planning and team work that impacting performance. Unsafe supervision that occurred the most are inadequate supervision and failed to correct known problems. Inadequate supervision related to personnel and resources management including trainings, professional guidance and operational leadership. Failed to correct known problems related to deficiencies in individual, equipment, training or the safety area “known” to supervisor but left uncorrected. In level 4, Organizational process was the weak chain of organizational influences. Organizational process is a formal process where organization’s vision is implemented on Site, including operations, procedures. Conclusion: HFACS of hand and finger injuries in PT. X is in line with general HFACS description in upstream oil and gas industry, except for level 2, pre-conditions for unsafe acts. Learning from incident system in PT. X was still highly influenced by domino theory and has not yet integrated human factors. HFACS framework can help PT. X to dig deeper in human factors deficiencies in organization so PT. X can define more effective mitigation & preventive measures.
 
Read More
T-6942
Depok : FKM UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hendar Sunandar; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Dadan Erwandi, Ahmad Jais, Enos Parubak
Abstrak: COVID-19 merupakan penyakit yang mudah menular disebabkan oleh SARS-CoV-2, ditetapkan sebagai pandemi oleh WHO pada 11 Maret 2021 dengan kasus pertama di Indonesia pada 3 Maret 2021. Diperlukan protokol kesehatan untuk menekan laju penyebaran COVID-19 di tempat kerja dengan menjalankan protokol 5M (memakai masker, rajin mencuci tangan, menjaga jarak, menghindari kerumuman, dan membatasi mobilisasi). Ketidakpatuhan pekerja terhadap protokol kesehatan diduga menjadi salah satu penyebab terjadinya lonjakan kasus COVID-19 di PT. X. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi perilaku kepatuhan pekerja pada protokol kesehatan pencegahan COVID-19 di PT. X. Desain penelitian ini adalah potong lintang dengan pendekaan deskriptif kuantitatif dan teknik PLS-SEM. Pengambilan sampel melalui non-probability sampling pada pekerja waktu tidak tertentu (PWTT) dan Mitra Kerja. Hasil penelitian menunjukan bahwa pekerja sudah mempunyai pengetahuan yang baik mengenai COVID-19. Norma subyektif, sikap, niat, perilaku adaptasi, perilaku nyata dan persepsi perilaku kepatuan responden sudah bagu, sementara persepsi kontrol perilaku, persepsi kerentanan, persepsi bahaya/ancaman/keparahan adalah cukup. Tidak ada capaian responden yang menunjukan negatif atau tidak baik. Analisis multivariat melalui PLS-SEM menunjukan pengetahuan berpengaruh langsung terhadap persepsi kerentanan dan persepsi bahaya/ancaman/keparahan. Niat sebagai prediktor utama dalam berperilaku dipengaruhi langsung oleh norma subyektif, persepsi bahaya/ancaman/keparahan, dan sikap. Niat berpengaruh langsung terhadap perilaku adaptif dan perilaku nyata pekerja sebagai gambaran kepatuhan terhadap setiap protokol kesehatan pencegahan COVID-19 di tempat kerja. Perilaku adaptif dan perilaku nyata kemudian berpengaruh langsung terhadap bagaimana pekerja mempersepsikan perilaku kepatuhan rekan kerjanya. Perusahaan disarankan untuk mempertahankan dan meningkatkan komunikasi, infomasi dan edukasi (KIE) pencegahan COVID-19, melakukan kampanye hidup sehat (healthy lifestyle), mengajak para pengawas pekerja dan manajemen menjadi role model, dan melibatkan pekerja serta serikat pekerja dalam pengawasan berkesinambungan pelaksanakan protokol kesehatan.
Read More
T-6253
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Argihta Marettia; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja; Penguji: Zulkifli Djunaedi, Rinaldo Delta Digita
S-6758
Depok : FKM-UI, 2011
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yosep Dodi N.; Pembimbing: Lestari Fatma; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Fajar Hadisantoso
S-5961
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fahzrin Perwitasari; Pembimbing: Mila Tejamaya; Penguji: Dadan Erwandi, Indri Hapsari Susilowati, Hairuddin B. Prasetyo, Marina Kartikawati
Abstrak: Kasus COVID 19 di Indonesia hingga April 2021 mencapai 1.668.368 dengan angka kematian mencapai 45.334. Meningkatnya kasus kematian akibat COVID 19 di seluruh dunia dan adanya 14 karyawan yang terpapar COVID 19 di wilayah kerja proyek ini secara khusus menjadi latar belakang dilakukannya penelitian ini. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan faktor individu terhadap persepsi risiko pada karyawan proyek LRT PT X terhadap COVID 19 selama April Mei 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan faktor individunya, komposisi responden terdiri atas responden pria (83,3%), 56,7% responden berusia 20 30 tahun, berpendidikan Sarjana (58,3%), belum pernah terjangkit COVID 19 (88,3%), dan tidak memiliki penyakit kronis (100%). Secara keseluruhan, mayoritas tingkat persepsi risiko responden adalah tinggi (51,7%; n=62), dan sebanyak 48,3% (n=58) memiliki tingkat persepsi risiko rendah. Hasil analisis persepsi risiko menunjukkan bahwa faktor usia memiliki hubungan signifikan terhadap tingkat persepsi risiko, tingkat pengetahuan, potensi dampak, kesiapan dan efikasi diri, ketakutan, keparahan, dan kesukarelaan risiko. Faktor jenis kelamin berhubungan secara signifikan dengan kesiapan dan efikasi diri, kebaruan, dan keparahan. Faktor tingkat pendidikan diketahui memiliki hubungan signifikan dengan semua variabel persepsi risiko. Berbeda dengan faktor riwayat COVID-19 yang berhubungan signifikan dengan variabel tingkat pengetahuan, control over risk, dan kebaruan
To April 2021, COVID 19 cases in Indonesia reaches 1.668.368 with the death cases are 45.334. The increasing death cases due to COVID 19 worldwide and the presence of 14 employess exposed to COVID 19 in the project area specifically encouraged this study. This study aims to observe the relationship between individual factors and the risk perception againts COVID-19 among the employess in LRT Project PT X during April May 2021. The results revealed that based on the individual factors, the composition of the respondents are 83,3% of male, aged 20 30 years old (56,7%), hold a bachelor degree (58,3%), have not infected with COVID 19 (88,3%), and do not have a chronic disease (100%). Overall, the risk perception of the respondents is relatively high (51,7%; n=62), and as much as 48,3% (n=58) of respondents have low risk perception against COVID 19. The result of the risk perception analysis showed that the factor of age has a significant relationship with the level of risk perception, level of knowledge, potential impact, readiness and self-efficacy, fear, severity, and voluntary of risk. The factor of gender is significantly related to readiness and self-efficacy, novelty, and severity. The education level is known to have a significant relationship with the entire variabels of risk perception. However, the factor of COVID 19 infected history is significantly related to the knowledge level, control over risk, and novelty
Read More
T-7257
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andini Aisyah Putri; Pembimbing: Mufti Wirawan; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Imam Pratama Azi
Abstrak:
Kasus kecelakaan kerja di industri semen, khususnya area packer merupakan masalah serius yang dapat berdampak pada banyak hal termasuk produktivitas, keselamatan, dan kesejahteraan pekerja. Data menunjukkan bahwa kecelakaan kerja di area Packer Industri Semen PT X Tahun 2024 mengalami peningkatan dibandingkan tahun 2023 dan menjadi lokasi dengan frekuensi kecelakaan tertinggi selama 2024. Investigasi kecelakaan kerja dan tindakan perbaikan telah dilakukan oleh PT X, tetapi kecelakaan terus berulang. Hal tersebut mungkin saja karena terlewatnya analisis faktor manusia dalam proses investigasi kecelakaan. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gambaran kontribusi faktor manusia berupa kondisi laten dan kegagalan aktif terhadap kecelakaan kerja yang terjadi di area packer PT X selama 2023-2024. Penelitian ini dilakukan dengan metode deskriptif analitik menggunakan metode Human Factor Analysis Classification System (HFACS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi laten lebih banyak berkontribusi terhadap kecelakaan kerja di area packer PT X dibandingkan kegagalan aktif. Faktor kondisi laten yang paling berkontribusi terhadap kecelakaan kerja diantaranya organizational climate, organizational process, resource management, dan inadequate supervision. Sementara, faktor kegagalan aktif yang paling banyak berkontribusi adalah decision error. PT X perlu melakukan perbaikan kondisi laten dari level organisasi dan pengendalian kegagalan aktif atas faktor-faktor yang ditemukan berkontribusi terhadap kecelakaan kerja di area packer.


Occupational accident cases in the cement industry, especially the packer area, are a serious problem that can have an impact on many things including productivity, safety, and worker welfare. Data shows that occupational accidents in the Packer area of the PT X Cement Industry in 2024 have increased compared to 2023, making it the area with the highest accident frequency in 2024. Occupational accident investigations and corrective actions have been conducted, but accidents continue to recur. This may be due to the absence of human factor analysis during the investigation process. Therefore, this study was conducted to determine contribution of human factors specifically latent conditions and active failures to occupational accidents that occurred in the PT X packer area during 2023-2024. This study was conducted using a descriptive analytical method using the Human Factor Analysis Classification System (HFACS) method. The results of the study showed that latent conditions contributed more to occupational accidents than active failures. The latent condition factors that contributed the most to occupational accidents included organizational climate, organizational process, resource management, and inadequate supervision. Meanwhile, the active failure factor that contributed the most was decision error. PT X needs to improve latent conditions at the organizational level and implement control to mitigate active failures in the packer area.
Read More
S-12103
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Raditya Yudha Arjasa; Pembimbing: Ridwan Zahdi Sjaaf; Penguji: Doni Hikmat Ramdhan, Dawaman Muhamad, Devie Fitri Oktaviani
T-4432
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Soffiudin; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji; Ridwan Z. Sjaaf, Anwar Hasan, Mayarni
Abstrak:

Prevalensi Penyakit Jantung Koroner (PJK) di seluruh dunia dari tahun ke tahun terus meningkat. PJK telah menjadi penyebab kematian di beberapa negara di dunia dan diprediksi akan menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia. Di kalangan Kontraktor Production Sharing (KPS) penyebab kematian diantara para pekerja KPS adalah penyakit kardiovaskuler. Tujuan penelitian ini adatah untuk mengetahui faktor risiko PJK yang kemudian dihubungkan dengan program Promosi Kesehatan Pekerja di PT X dari tahun 2005 - 2007, Penelitian ini menggunakan subjek pekerja pada PT X. Penelitian ini dilakukan di Pulau Kalimantan pada bulan Oktober 2008. Desain penelitian yang dilakukan adalah cross sectional dengan pendekatan secara kuantitatif dan kualitatif Tehnik sampling yang digunakan yaitu purposive sampling. Medical Department PT X bertanggung jawab untuk masalah kesehatan karyawan secara komprehensif meliputi pelayanan yang bersifat promotive, preventive, curative dan rehabilitative. Budget perusahaan terbesar diberikan ke Medical Department untuk pelayanan yang bersifat curative dan rehabilitative. Prevalensi hipertensi pada tahun 2005 diketahui 11,4%, tahun 2006 meningkat menjadi 16,5% dan tahun 2007 terjadi peningkatan sebesar 17,36%. Prevalensi DM pada tahun 2005 diketahui 8,97%, tahun 2006 meningkat menjadi 9,72% dan tahun 2007 terjadi peningkatan sebesar 12,13%. Prevalensi dislipidemia pada tahun 2005 diketahui 5,34%, tahun 2006 meningkat menjadi 6,67% dan tahun 2007 terjadi peningkatan sebesar 8,09%. Prevalensi hipertensi dari tahun 2005-2007 terus mengalami peningkatan, prevalensi diabetes melitus dari tahun 2005-2007 terus mengalami peningkatan, prevalensi dislipidemia dari tahun 2005-2007 terus mengalami peningkatan. Promosi Kesehatan Pekerja yang dikembangkan PT X dikembangkan berdasarkan model dari Ottawa Charter 1986. Kebijakan perusahaan berkaitan dengan masalah kesehatan karyawan sudah ada walaupun dalam pelaksanaannya masih kurang baik. Budget terbesar perusahaan saat ini adalah untuk penanganan kasus-kasus yang bersifat curative dan rehabilitative untuk para karyawan dan keluarganya (dependent). Promotion & prevention harus menjadi prioritas utama seperti; Kebijakan hari Rabu sebagai hari olahraga hams dilaksanakan sehingga tidak boleh ada kegiatan lain setelah pulcuI 16.00 selain kegiatan olahraga dengan melakukan sosialisasi ulang, prornosi kesehatan rneIalui media intranet (health desk) hams lebih disosialisasikan, perlu adanya seorang murisionist di camp service sehingga kadar gizi para karyawan dapat terkontrol, dalam merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan promosi kesehatan harus melibatkan seluruh karyawan sehingga program-rogram yang dilaksanakan dapat lebih efektif dan efisien.


Hearth Disease (CHD) in the world from year to year has been increased. CHD has been dead caused at several countries in the world and get predicted will be the first dead caused in the world. At Kontraktor Production Sharing (KPS) dock dead caused among KPS worker is cardiovascular diasease. Research was performed to find risk factor arD and then related with Work Health Promotion program at PT X year 2005 - 2007. The research subject was worker at PT X. The research was held on October 2008 at Kalimantan island. the research design of this study is cross sectional with kuantitative and kualitative approach. Sampling technique that used was purposive sampling. Medical Department get responsible for employees health problem in komprehensif including promotive, preventive, curative and rehabilitative services. The biggest budget only for curative and rehabilitative. The study defined that the prevalence of hypertension year 2005 is 11,4%, year 2006 increase to 16,5% and year 2007 increase to 17,36%. Prevalence of Diabetes Mellitus (DM) year 2005 is 8,97%, year 2006 increase to 9,72% and year 2007 increase to 12,13%. Prevalence of dislipidemia year 2005 is 5,34%, year 2006 increase to 6,67% and year 2007 increase to 8,09%. Prevalence of hypertension year 2005 -2007 has been increased, prevalence of DM year 2005 - 2007 has been increased, prevalence of dislipidemia year 2005 - 2007 has been increased. Work Health Promotion at PT X was developed based on Ottawa Charter 1986. The company policies about work health is good enough although shortage in implementation. The biggest budget only for curative and rehabilitative for employees and their dependents. Promotion and prevention have to become a priority such as; the policy that decided Wednesday as a sport day must be realized so no more activity after 4 pm except sport. Health promotion by intranet media has to socialized. There's need a nutisionist at camp service to control worker nutrition status. In ascertain policy be related with health promotion must involved worker so the policy can be more effective.

Read More
T-3025
Depok : FKM UI, 2008
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive