Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 22950 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fathiya Nissa Mulyaningrum; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Putri Bungsu, Septyana Choirunisa
Abstrak:
Keluarga berencana dinilai sebagai upaya pasangan dan individu dalam merencanakan jumlah dan jarak kelahiran yang diinginkan. Kebutuhan yang tidak terpenuhi dalam penggunaan kontrasepsi, memunculkan masalah unmet need kontrasepsi khususnya jika terjadi kelahiran pada usia ibu yang berisiko. Usia ibu yang sudah berada pada fase biologis terakhir(pre-menopause) jika mengalami kehamilan akan merugikan janin dan kesehatan ibu ketika persalinan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan unmet need pada wanita usia 35-49 tahun di berbagai regional di Indonesia. Metode yang digunakan berupa analisis bivariat dan stratifikasi data sekunder berdasarkan regional wilayah survei demografi dan kesehatan Indonesia. Melalui analisis data SDKI 2017, UMN di Indonesia wanita rentang usia ≥35 tahun mencapai 11.7% dengan jumlah limiting paling banyak(79.8%) yaitu 1226 kasus. Yogyakarta memiliki prevalensi kebutuhan kontrasepsi yang terpenuhi tertinggi sebesar 95.8%. Papua Barat mencatat prevalensi unmet need tertinggi secara nasional sebesar 27.4%. Hasilnya faktor yang mempengaruhi adalah faktor pekerjaan dan tingkat ekonomi rumah tangga, jumlah paritas, durasi tinggal bersama, dukungan suami, dan sumber informasi metode kontrasepsi melalui petugas kesehatan.

Family planning is regarded as an essential effort by couples and individuals to manage the desired number and spacing of births. The unmet need for contraceptive use poses a significant concern, particularly when pregnancies occur at an advanced maternal age, which carries inherent health risks. Pregnancies in women approaching the final biological phase (pre-menopause) can adversely affect both fetal and maternal health during childbirth. This study aims to analyze the factors associated with unmet contraceptive need among women aged 35-49 years across various regions in Indonesia. The research employs bivariate analysis and data stratification based on regional data from the Indonesian Demographic and Health Survey (IDHS). Analysis of the 2017 IDHS data reveals that the unmet need for contraception among Indonesian women aged ≥35 years stands at 11.7%, with the majority of unmet need cases (79.8%) being for limiting births, amounting to 1226 cases. Yogyakarta exhibits the highest prevalence of met contraceptive needs at 95.8%, while West Papua reports the highest national prevalence of unmet need at 27.4%. The study identifies several influencing factors, including employment and household economic status, parity, duration of cohabitation, husband’s support, and the source of contraceptive method information provided by health workers.
Read More
S-11796
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meyrisca Fatmarani; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Yovsyah, Rahmadewi
S-8859
Depok : FKM UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ghina Rana Hanifah; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Trisari Anggondowati, Maria Gayatri
Abstrak:
Penggunaan kontrasepsi di Indonesia masih cukup rendah, terutama pada remaja wanita usia 15-24 tahun akibat adanya miskonsepsi, stigmatisasi, kurangnya otonomi, tekanan dari komunitas, hingga sulitnya akses ke pelayanan KB. Jika tidak ditangani, maka dapat meningkatkan risiko terjadinya kehamilan tidak diinginkan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat faktor-faktor yang mempengaruhi niat penggunaan kontrasepsi pada wanita usia 15-24 tahun. Penelitian dengan desain studi cross-sectional ini berfokus pada wanita yang tidak sedang menggunakan kontrasepsi dan memiliki data luaran yang lengkap di SDKI 2017. Kemudian, data dianalisis secara univariat, bivariat dengan chi-square, dan stratifikasi. Dari 11.121 responden, 89,3% memiliki niat penggunaan kontrasepsi. Faktor yang berhubungan dengan niat penggunaan kontrasepsi adalah status pernikahan, tingkat pendidikan, riwayat penggunaan kontrasepsi, jumlah anak hidup, sumber informasi KB, keterpaparan informasi KB dari media, diskusi KB, dan pengetahuan metode kontrasepsi. Namun, semua hubungan bersifat lemah atau hampir tidak ada perbedaan. Indonesia perlu menyediakan pendidikan seksual yang komprehensif dan terintegrasi dengan pelayanan KB yang lebih ramah remaja agar tumbuh motivasi sejak dini dan penggunaan kontrasepsi di masa mendatang meningkat. Penelitian mengenai kontrasepsi pada remaja juga tetap perlu dikembangkan dengan metode yang lebih baik.

Contraceptive use in Indonesia is still quite low, especially among young women aged 15-24, due to misconceptions, stigmatization, lack of autonomy, pressure from society, and difficulty accessing family planning services. If left untreated, it can increase the risk of unwanted pregnancy. This study aims to examine the factors that influence the intention to use contraceptives in women aged 15-24 years. This research with a cross-sectional study design focused on women who were not currently using contraception and had complete outcome data in the 2017 IDHS. Then, the data were analyzed univariately, bivariate with chi-square, and stratified. Of the 11,121 respondents, 89.3% had the intention to use contraception. Factors related to the intention to use contraception were marital status, education level, history of contraception use, number of living children, sources of family planning information, exposure to family planning information from the media, family planning discussions, and knowledge of contraceptive methods. However, all relationships are weak or almost no difference. Indonesia needs to provide comprehensive sexual education and integrated with family planning services that are more youth-friendly so the motivation grows from an early age and future use of contraception increases. Research on contraception in adolescents also still needs to be developed with better methods
Read More
S-11266
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ratu Laras Ati Alya; Pembimbing: Syahrizal; Penguji: Yovsyah, Suparmi
Abstrak:

Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) terjadi setidaknya sebanyak 121 juta kasus secara global dari tahun 2015-2019. Tingginya angka prevalens ini menunjukkan bahwa KTD merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat yang dapat membawa banyak dampak negatif baik dalam bidang kesehatan, sosial dan finansial. Dari seluruh KTD yang terjadi secara global, setengahnya berakhir dengan aborsi. Kematian Ibu yang mengalami KTD juga berhubungan dengan karena kurangnya perawatan antenatal yang dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan akibat ketidaktahuannya tentang kehamilannya. Kunci untuk mencegah KTD adalah menggunakan kontrasepsi dengan begitu WUS dan PUS dapat merencanakan atau menunda kehamilan. Untuk memahami KTD lebih baik dapat dilakukan dengan mengenali faktor apa saja yang berhubungan dengan KTD. Bertujuan untuk mengetahui faktor apa saja yang berhubungan dengan Kehamilan Tidak Diinginkan. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional menggunakan data sekunder SDKI 2017. Sampel penelitian adalah Wanita Usia Subur yang sedang hamil saat survei dilakukan. Prevalensi kehamilan tidak diinginkan adalah sebesar 7,5% dengan 6,8% merupakan kehamilan yang tidak tepat waktu dan 0,7% kehamilan tidak diinginkan sama sekali. Faktor Intrapersonal, yakni; Usia, [PR 0,59 CI 95%: 0,37-0,97 p-value 0,036], Status Perkawinan [PR 6,03 CI 95% 3,7-9,9 p-value 0,000] dan Paritas [PR 0,42 CI 95% 0,26-0,67 p-value 0,000) dan Faktor Struktural, yaitu; Wilayah Tempat Tinggal [PR 1,625 CI 95% 1,06-2,57 , nilai p = 0,024] memiliki hubungan yang signifikan dengan Kejadian Kehamilan Tidak Diinginkan di Indonesia tahun 2017. Diperlukan lebih banyak edukasi kesehatan reproduksi yang tak hanya mencakup aspek biologis namun juga akibat dari sosial, mental dan finansial dari KTD. Pemerintah juga perlu menetapkan UU yang lebih ketat terhadap usia minimal perkawinan dan memastikan WUS mendapatkan akses yang baik terhadap kontrasepsi. Selain itu juga surveilans bagi akseptor KB perlu lebih diperhatikan agar perencanaan kehamilan dapat lebih efektif untuk menghindari KTD.


 

There are approximately 121 million unintended pregnancies globally from 2015 to 2019. Those high numbers show that unplanned pregnancy is still a significant public health problem, especially when half of all unintended pregnancies ended up in abortion. Unwanted pregnancy also brings other negative effects aside from the health aspect, such as social and financial problems. Women who are experiencing unintended pregnancy tend to neglect their, and the fetus’ health such as missing antenatal care, which risks higher pregnancy complications that can lead to maternal death. Maternal and Neonatal Death Rate is one of the indicators for the 3rd SDGs. Contraception is the key to preventing unplanned or unintended pregnancy. It is important to find out what are the factors contributing to Unintended Pregnancies so that we have the correct information that would be considered for making an effective preventative public health policy and health laws. This study aims to recognize the factors related to unintended pregnancy, in hopes that by knowing the risk factors, unintended pregnancy can be prevented. This study was conducted using cross-sectional studies and uses Indonesian DHS 2017 Secondary Data, the sample for this study is women of childbearing age who were currently pregnant during the survey. The prevalence of unintended pregnancy in Indonesia is 7,5%, which consist of 6,8% of mistimed pregnancy and 0,7% of unwanted pregnancy. Intrapersonal Factors such as Age [PR 0,59 CI 95%: 0,37-0,97 p-value 0,036], Marriage Status [PR 6,03 CI 95% 3,7-9,9 p-value 0,001] and Parity [PR 0,42 CI 95% 0,26-0,67 p-value 0,001) and Structural Factor such as Place of Residence [PR 1,625 CI 95% 1,06-2,57 , p value = 0,024] has statistically significant association (p-value <0,05) with the cases of Unintended Pregnancy in Indonesia 2017. More reproductive health education is needed which does not only cover biological aspects but also the social, mental and financial consequences of unwanted pregnancy. The government also needs to enact stricter laws regarding the minimum age for marriage and ensure that women of childbearing age can have good access to contraception. In addition, surveillance for family planning acceptors needs to be paid more attention so that pregnancy planning can be more effective in preventing unwanted pregnancies. Keywords: Unintended Pregnancy, Unwanted Pregnancy, Women of Childbearing Age, Factors related to unintended pregnancy

Read More
S-11305
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Reihana Ramadlani Ibna; Pembimbing: Helda; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Erita Agustin Hardiyanti, Rivani Noor
Abstrak:
Diare merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih menjadi penyebab kematian paling umum yang cukup tinggi di Indonesia. Menurut data SDKI tahun 2017, prevalensi diare yang paling umum terjadi pada anak umur 6-23 bulan yaitu 19-20%. Sebagai perbandingan, pada tahun 2014, Kamboja masih menjadi salah satu negara dengan tingkat prevalensi diare tertinggi pada anak di bawah usia lima tahun di antara negara-negara di Asia Tenggara, yaitu sebesar 12,8%. Oleh sebab itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui analisis studi komparatif faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita usia 0-59 bulan di Indonesia dan Kamboja. Data penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data dari SDKI 2017 dan CDHS 2014. Hasi penelitian dari Indonesia, pendidikan ibu merupakan faktor paling berpengaruh terhadap kejadian diare yang ditunjukkan dengan nilai OR terbesar yakni 1.305, artinya ibu dengan pendidikan rendah memiliki odds 1.305 kali lebih besar untuk memiliki anak yang mengalami diare dibandingkan ibu dengan pendidikan tinggi setelah dikontrol oleh variabel lainnya. Sementara di Kamboja, sarana sanitasi merupakan faktor yang berpengaruh terhadap kejadian diare yang ditunjukkan dengan nilai OR terbesar yakni 1.115, artinya balita yang berada pada keluarga dengan sumber air minum yang tidak layak memiliki odds 1.115 kali lebih besar untuk mengalami diare dibandingkan balita yang berada pada keluarga dengan sumber air minum yang layak setelah dikontrol oleh variabel lainnya. Kesimpulan menunjukkan bahwa adanya hubungan signifikan antara diare dengan pendidikan ibu, Menyusui ASI 3 Hari Pertama Post Partum, suplementasi vitamin A, sarana sanitasi, dan sumber air minum di Negara Indonesia. Sementara di Negara Kamboja, menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian diare dengan usia balita, jenis kelamin balita, Menyusui ASI 3 Hari Pertama Post Partum, status ekonomi, dan sumber air minum.

Diarrhea is a public health problem which is still the most common cause of death in Indonesia. According to 2017 IDHS data, the most common prevalence of diarrhea occurs in children aged 6-23 months, namely 19-20%. For comparison, in 2014, Cambodia was still one of the countries with the highest prevalence rate of diarrhea in children under the age of five among countries in Southeast Asia, namely 12.8%. Therefore, the aim of this research is to determine a comparative study analysis of factors related to the incidence of diarrhea in toddlers aged 0-59 months in Indonesia and Cambodia. This research data uses a cross sectional design with data from the 2017 SDKI and 2014 CDHS. Research results from Indonesia show that maternal education is the most influential factor in the incidence of diarrhea as indicated by the largest OR value of 1.305, meaning that mothers with low education have odds that are 1.305 times greater. to have children who experience diarrhea compared to mothers with higher education after controlling for other variables. Meanwhile in Cambodia, sanitation facilities are a factor that influences the incidence of diarrhea as shown by the largest OR value of 1.115, meaning that toddlers who live in families with inadequate sources of drinking water have 1.115 times greater odds of experiencing diarrhea than toddlers who live in families with inadequate drinking water sources. with a suitable drinking water source after being controlled by other variables. The conclusion shows that there is a significant relationship between diarrhea and maternal education, Breastfeed for the first 3 days post partum, vitamin A supplementation, sanitation facilities and sources of drinking water in Indonesia. Meanwhile in Cambodia, it shows that there is a significant relationship between the incidence of diarrhea and the age of the toddler, the gender of the toddler, history of exclusive breastfeeding, economic status, and source of drinking water.
Read More
T-7110
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sri Ulfa Alriani; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Eti Rohati
Abstrak: Nama : Sri Ulfa Alriani Program Studi : Kesehatan Masyarakat Judul : Faktor-faktor yang berhubungan dengan persalinan sectio caesarea darurat di Indonesia tahun 2012-2017 (analisis data SDKI 2017) Pembimbing : Prof. Dr. dr. Ratna Djuwita, M.Ph. Skripsi ini membahas mengenai Faktor-faktor yang berhubungan dengan persalinan sectio caesarea berdasarkan analisis data SDKI 2017. Sampel 18.164 wanita usia subur 15-49 tahun yang melahirkan anak dalam periode 5 tahun terakhir sebelum survei dilaksanakan. Hasil akhir analisis multivariat dengan menggunakan cox regression didapatkan variabel-variabel yang berhubungan dengan persalinan sectio caesarea darurat yaitu umur ibu, pendidikan ibu, wilayah tempat tinggal, status ekonomi, kehamilan kembar, jarak kelahiran, ukuran bayi, paritas, kepemilikan JKN, komplikasi kehamilan (perdarahan, muntah dan baal di bagian wajah, ketuban pecah sebelum waktunya, hipertensi dan hipotensi pada masa kehamilan), dan komplikasi persalinan (ketuban pecah 6 jam sebelum bayi lahir, dan tidak kuat mengejan). Faktor yang paling dominan berhubungan dengan persalinan SC darurat di Indonesia pada tahun 2012-2017 adalah hipertensi atau hipotensi pada masa kehamilan dengan p value 0,000 dan PR=2,76. Kata kunci: Hipertensi, persalinan sectio caesarea darurat Determinants Related to Emergency Caesarean Delivery in Indonesia 2012-2017 (Analysis of 2017 IDHS Data) Abstract This study aims to determine the factors associated with caesarean sectio delivery based on analysis of the 2017 IDHS data. Sample 18,164 women of childbearing age 15-49 years who gave birth to children in the last 5 years before the survey was conducted. The final results of multivariate analysis using cox regression found variables related to emergency caesarean delivery are maternal age, maternal education, area of residence, economic status, multiple pregnancies, birth interval, baby size, parity, JKN ownership, pregnancy complications ( bleeding, vomiting and numbness in the face, premature rupture of membranes, hypertension and hypotension during pregnancy), and complications of labor (water broke early 6 hours before the baby is born, and not pushing strongly). The most dominant factor related to emergency caesarean delivery in Indonesia in 2012-2017 was hypertension or hypotension during pregnancy with a p value of 0,000 and PR = 2.76. Keyword : emergency caesarean; hypertenstion during pregnancy Determinants Related to Emergency Caesarean Delivery in Indonesia 2012-2017 (Analysis of 2017 IDHS Data) Abstract This study aims to determine the factors associated with caesarean sectio delivery based on analysis of the 2017 IDHS data. Sample 18,164 women of childbearing age 15-49 years who gave birth to children in the last 5 years before the survey was conducted. The final results of multivariate analysis using cox regression found variables related to emergency caesarean delivery are maternal age, maternal education, area of residence, economic status, multiple pregnancies, birth interval, baby size, parity, JKN ownership, pregnancy complications ( bleeding, vomiting and numbness in the face, premature rupture of membranes, hypertension and hypotension during pregnancy), and complications of labor (water broke early 6 hours before the baby is born, and not pushing strongly). The most dominant factor related to emergency caesarean delivery in Indonesia in 2012-2017 was hypertension or hypotension during pregnancy with a p value of 0,000 and PR = 2.76. Keyword : emergency caesarean; hypertenstion during pregnancy Determinants Related to Emergency Caesarean Delivery in Indonesia 2012-2017 (Analysis of 2017 IDHS Data) Abstract This study aims to determine the factors associated with caesarean sectio delivery based on analysis of the 2017 IDHS data. Sample 18,164 women of childbearing age 15-49 years who gave birth to children in the last 5 years before the survey was conducted. The final results of multivariate analysis using cox regression found variables related to emergency caesarean delivery are maternal age, maternal education, area of residence, economic status, multiple pregnancies, birth interval, baby size, parity, JKN ownership, pregnancy complications ( bleeding, vomiting and numbness in the face, premature rupture of membranes, hypertension and hypotension during pregnancy), and complications of labor (water broke early 6 hours before the baby is born, and not pushing strongly). The most dominant factor related to emergency caesarean delivery in Indonesia in 2012-2017 was hypertension or hypotension during pregnancy with a p value of 0,000 and PR = 2.76. Keyword : emergency caesarean; hypertenstion during pregnancy
Read More
S-10243
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahmah Aulia Zahra; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Zakiah
Abstrak: Perdarahan pasca persalinan merupakan salah satu penyebab terbesar terjadinya kematian pada ibu. Pada tahun 2017 terdapat sekitar 295.000 wanita meninggal selama kehamilan dan persalinan, dimana 75% penyebab kematian ibu diantaranya adalah perdarahan pasca persalinan, infeksi, preeklamsia/eklamsia, dan komplikasi lainnya dari persalinan. Di Indonesia dari 20 penyebab kematian ibu, perdarahan pasca persalinan merupakan penyebab nomor satu kemarian ibu. Angka Kematian Ibu di Indonesia masih jauh dari target MDGs yang telah ditetapkan bahkan tiga kali lipat lebih tinggi dari target yang seharusnya. Hal ini merupakan suatu permasalahan yang serius dan perlu diprioritaskan. Maka dari itu penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian perdarahan pasca persalinan di Indonesia pada tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan data sekunder Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia Tahun 2017 (SDKI 2017). Populasi dari penelitian ini merupakan seluruh wanita usia subur yang berusia 15-49 tahun yang pernah melahirkan selama 5 tahun terakhir sebelum survei dilakukan. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa umur (PR= 1,1), tingkat pendidikan (PR= 1,39), tempat tinggal (PR= 1,11), paritas (PR= 1,13), riwayat komplikasi kehamilan (PR= 0,91), kelengkapan pemeriksaan ANC (PR= 1,35), penolong persalinan (PR= 1,59), tempat persalinan (PR= 1,38), dan kepatuhan konsumsi tablet tambah darah (PR= 1,14) memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian perdarahan pasca persalinan (p= <0,05). Perlunya komitmen pemerintah dalam mengoptimalisasi upaya perencanaan program yang strategis dan sistematis meliputi pencegahan dan manajemen yang tepat sejak ibu berada dalam periode kehamilan hingga masa nifas serta pemberdayaan dan pemberian edukasi pada perempuan, keluarga, dan masyarakat, khususnya pada kelompok-kelompok rentan
Read More
S-10898
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Apande; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Helda, Nia Reviani
Abstrak:
Berdasarkan cakupan Indeks Ketimpangan Gender, Provinsi Banten dan Bengkulu memiliki cakupan IKG yang sama. Namun capaian penggunaan MKJP berdasarkan SDKI berbeda di Provinsi Banten memiliki capaian penggunaan yang konsisten rendah dan Provinsi Bengkulu memiliki capaian penggunaan konsisten tinggi. Sehingga terdapat faktor yang mempengaruhi penggunaan MKJP di kedua wilayah ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengaruh faktor yang mempengaruhi penggunaan MKJP pada WUS yang tidak menginginkan anak lagi antara Provinsi Banten dan Bengkulu. Sampel yang dianalisis dalam penelitian ini sebanyak 319 di Provinsi Banten dan 254 di Provinsi Bengkulu. Hasil studi ini menunjukkan bahwa proporsi penggunaan MKJP pada WUS yang tidak menginginkan anak lagi sebesar 20,5% di Provinsi Banten dan 31% di Provinsi Bengkulu. Faktor yang paling dominan mempengaruhi penggunaan MKJP di Provinsi Banten adalah sumber pelayanan KB, wanita yang pelayanan KB-nya dilakukan di sektor pemerintah memiliki risiko 7 kali lebih tinggi untuk menggunakan MKJP (PR 7,05 95% CI 4,60-10,8). Faktor yang dominan mempengaruhi penggunaan MKJP di Provinsi Bengkulu adalah tempat tinggal, wanita yang tinggal di perkotaan memiliki risiko 1,8 kali untuk menggunakan MKJP dibandingkan wanita yang tinggal di pedesaan (PR 1,88 95% CI 1,34-2,64).

Based on the coverage of the Gender Inequality Index, Banten and Bengkulu provinces have the same coverage. However, the achievement of LACM utilization based on the IDHS is different in Banten Province has a consistently low utilization rate and Bengkulu Province has high consistent usage achievements. Therefore, there are factors that influence the use of LACM in these two regions. This study aims to determine the differences in the influence of factors affecting the use of LACM in women who do not want more children between Banten and Bengkulu Provinces. The samples analyzed in this study were 319 in Banten Province and 254 in Bengkulu Province. The results of this study showed that the proportion of LACM use among women who did not want more children was 20.5% in Banten Province and 31% in Bengkulu Province. The most dominant factor influencing the use of LACM in Banten Province was the source of family planning services, women whose family planning services were conducted in the government sector had a 7 times higher risk of using LACM (PR 7.05 95% CI 4.60-10.8). The dominant factor affecting the use of LACM in Bengkulu Province is place of residence, women who live in urban areas have a 1.8 times risk of using LACM compared to women who live in rural areas (PR 1.88 95% CI 1.34-2.64).
Read More
T-7024
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Fikriyah; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Rahmadewi
Abstrak: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran faktorfaktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Provinsi Jawa Barat tahun 2017. Penelitian ini menggunakan desain studi Cross Sectional. Data yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2017. Sampel yang digunakan adalah balita berusia 0-59 bulan di Provinsi Jawa Barat yang terdata di SDKI 2017, dan yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi adalah sebanyak 1.554 balita. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi kejadian diare pada balita di Provinsi Jawa Barat tahun 2017 adalah sebesar 15,6% (242 balita). Hasil uji bivariat menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kejadian diare adalah balita usia ≤ 1 tahun (OR 1,62; 95% CI 1,23-2,13; p=0,001), sarana sanitasi (OR 1,52; 95% CI 1,14-2,03; p=0,005), dan sumber air minum (OR 1,34; 95% CI 1,01-1,79; p=0,047). Salah satu cara untuk mencegah terjadinya diare pada balita adalah dengan menjaga kebersihan lingkungan serta menerapkan pola hidup bersih dan sehat.
Read More
S-10771
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sasa Syarifatul Qulbi; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Ahmad Hasanuddin
Abstrak: Angka kematian bayi di Indonesia masih cukup tinggi dengan posisi tertinggi kelima diantara negara Asia Tenggara lainnya. 75% kematian bayi di bawah lima tahun terjadipada fase bayi berusia 0 sampai sebelum 12 bulan (BKKBN et al., 2018). Penelitian inimenggunakan desain studi kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Tujuan daripenelitian adalah adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengankematian bayi di Indonesia menggunakan data sekunder SDKI tahun 2017 yangdikumpulkan oleh DHS (Demographic Health System). Sampel berjumlah 11.861 yangterdiri dari wanita berusia 15 sampai 49 tahun yang sudah melahirkan bayi lahir hidupminimal berusia 1 tahun dalam periode 5 tahun terakhir sebelum Wawancara untuk surveidilakukan. Analisis data dilakukan dengan model chi-square bivariat. Hasil akhir analisisbivariat menunjukkan variabel-variabel yang berhubungan dengan kejadian kematianbayi antara lain status ekonomi, usia ibu saat melahirkan, paritas, jarak kelahiran, beratbayi lahir, jenis kelamin bayi, tempat persalinan, penolong persalinan, dan kunjunganANC. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian kematian bayi diIndonesia tahun 2012-2017 adalah berat bayi lahir dengan nilai PR sebesar 5,49. Olehkarena itu, perlu dilakukan peningkatan pelayanan kesehatan serta kerjasama denganpihak-pihak terkait, seperti bidan desa sebagai tenaga kesehatan terdekat dan parajiataupun kader desa untuk melakukan tindakan-tindakan non-medis--khususnya upayapencegahan--terkait dengan faktor-faktor risiko kematian bayi.Kata kunci:Faktor risiko, kematian bayi, SDKI 2017.
Read More
S-10302
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive