Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30137 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Benedict Sulaiman; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Ede Surya Darmawan, Purnawan Junadi, Abdul Firman, Relia Sari
Abstrak:

Transformasi digital dalam sektor kesehatan semakin mengubah cara rumah sakit untuk memberikan dan mengelola pelayanan kesehatan. Penelitian ini menganalisis dampak transformasi sistem informasi digital yang diterapkan di RS Premier, dengan berfokuskan pada efektivitas inovasi yang dikembangkan dalam meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya kebutuhan transformasi digital di rumah sakit dalam mencapai keunggulan kompetitif dan memenuhi ekspektasi pasien di era digital. Tujuan utama penelitian ini adalah mengevaluasi dampak inovasi terhadap alur kerja operasional, kepuasan pasien, dan kinerja keseluruhan rumah sakit. Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif, dengan metode wawancara terhadap informan kunci, telaah dokumen, dan analisis komparatif data sebelum dan sesudah implementasi untuk inovasi seperti Sistem Patient Journey, Discharge Management Process dan Manajemen Insiden Real-Time (RootBin).

Hasil utama menunjukkan bahwa inovasi seperti Sistem Patient Journey secara signifikan mengurangi waktu tunggu dan memperbaiki alur layanan pada instalasi rawat jalan. Integrasi sistem manajemen discharge menghasilkan pengurangan waktu pemulangan pasien rawat inap, sementara inovasi digital rekam medis mempermudah dan mempercepat akses data untuk pasien dan juga menjaga kepatuhan terhadap regulasi kesehatan. Sistem RootBin bertujuan untuk mempercepat pelaporan dan pelacakan insiden secara real-time, mendorong budaya keselamatan dan perbaikan kualitas berkelanjutan. Meskipun telah menunjukkan keberhasilan, beberapa tantangan masih terus dihadapi, termasuk resistensi terhadap perubahan di kalangan staf, kesenjangan literasi teknologi, dan kebutuhan untuk optimalisasi sistem secara berkelanjutan. Pengembangan di masa depan perlu difokuskan pada peningkatan pelatihan pengguna, memperluas interoperabilitas sistem, dan mengeksplorasi analitik prediktif untuk secara proaktif menangani potensi ketidakefisienan. Hasil dari penelitian ini menyajikan wawasan tentang implikasi praktis dari transformasi digital di sektor kesehatan. Penelitian ini juga menyoroti pentingnya investasi berkelanjutan dalam teknologi kesehatan digital untuk mencapai manfaat jangka Panjang bagi rumah sakit dan juga pasiennya.


Digital transformation in the healthcare sector is revolutionizing how hospitals deliver and manage services. This study analyzes the impact of digital information system innovations implemented at RS Premier, focusing on the effectiveness of innovation developed in enhancing operational efficiency and service quality. The study is motivated by the critical role of hospital digital transformation in achieving competitive advantages and meeting patient expectations in the digital era. The primary objective of this research is to evaluate the impact of these innovations on operational workflows, patient satisfaction, and overall hospital performance. A qualitative case study approach was employed, incorporating interviews with key informants, document reviews, and comparative data analysis before and after the implementation of innovations such as the Patient Journey System, Discharge Management System and Real-Time Incident Management (RootBin). Key findings indicate that innovations like the Patient Journey System significantly reduced waiting times and improved service flow in outpatient settings. The integration of discharge management systems led to shorter inpatient discharge times, while the digital innovstion developed for medical records facilitated patient data accessibility and maintained compliance with healthcare regulations. The RootBin system expedited real-time reporting and incidents tracking, fostering a culture of safety and continuous quality improvement. Despite these successes, challenges remain, including challenges and resistance to change among staff, gaps in technological literacy, and the need for ongoing system optimization. Future developments should focus on enhancing user training, expanding system interoperability, and exploring predictive analytics to proactively address potential inefficiencies. The results of this study provide valuable insights into the practical implications of digital transformation in the healthcare sector. It also underscores the importance of sustained investment in digital health technologies to achieve long-term benefits for hospitals and their patients.  

Read More
B-2495
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Richard Bun; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Tris Eryando, Iwan Dakota, Amal Chalik Sjaaf
Abstrak:
Latar Belakang: Registri klinis merupakan instrumen krusial untuk pemantauan mutu layanan gagal jantung, namun efektivitasnya bergantung pada kelengkapan data dalam Rekam Medis Elektronik (RME). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kelengkapan elemen data inti dan mengidentifikasi hambatan dokumentasi pada pasien Gagal Jantung Dekompensasi Akut (ADHF) di pusat jantung nasional. Metode: Penelitian mixed-methods dengan model sequential explanatory. Tahap I melibatkan audit kuantitatif retrospektif terhadap 305 rekam medis pasien ADHF periode Januari 2024 – Januari 2025 menggunakan 81 variabel inti. Tahap II melibatkan wawancara mendalam terhadap tujuh informan kunci (DPJP, residen, perawat, dan staf rekam medis) untuk mengeksplorasi akar penyebab kesenjangan dokumentasi. Hasil: Kelengkapan data agregat mencapai 77,2% (Kategori Tinggi), namun terdapat disparitas tajam antar domain. Domain terapi rawat inap memiliki kelengkapan tertinggi (99,5%), sementara domain riwayat medis dan faktor risiko terendah (40,4%). Variabel kritis registri seperti Kelas Fungsional NYHA, berat badan pulang, dan Nomor Induk Kependudukan (NIK) menunjukkan angka kelengkapan terstruktur sebesar 0%. Analisis kualitatif mengungkap hambatan berupa dokumentasi berorientasi syarat klaim (BPJS-mindset), ketidaksesuaian terminologi (narasi vs data terstruktur), bug teknis RME (interconnectedness), dan ketiadaan fitur auto-populate data antar profesi. Kesimpulan: Angka kelengkapan agregat yang tinggi menyamarkan ketiadaan data klinis strategis dalam format terstruktur. Implementasi registri gagal jantung memerlukan redesain arsitektur RME dari format narasi ke data terstruktur serta otomasi integrasi data interprofesional.

Background: Clinical registries are vital for monitoring heart failure care quality, yet their effectiveness depends on the completeness of data within Electronic Medical Records (EMR). This study aims to analyze the completeness level of core data elements and identify documentation barriers for Acute Decompensated Heart Failure (ADHF) patients at a national cardiovascular center. Methods: This research employed a mixed-methods sequential explanatory design. Phase I involved a retrospective quantitative audit of 305 EMR records of ADHF patients from January 2024 to January 2025 across 81 core variables. Phase II consisted of in-depth interviews with seven key informants (attending physicians, residents, nurses, and medical records staff) to explore the root causes of documentation gaps. Results: Aggregate data completeness reached 77.2% (High Category), but a sharp disparity was observed between domains. Inpatient therapy documentation was the highest (99.5%), while medical history was the lowest (40.4%). Critical registry variables, such as NYHA Functional Class, discharge weight, and National Identity Number (NIK), showed 0% structured completeness. Qualitative analysis revealed that these gaps were driven by a reimbursement-oriented documentation culture (BPJS-mindset), terminology mismatches (narrative vs. structured data), technical EMR barriers (interconnectedness bug), and the lack of interprofessional auto-populate features. Conclusion: High aggregate completeness scores mask the absence of strategic structured clinical data. Implementing a functional heart failure registry requires a redesign of EMR architecture from narrative-heavy formats to structured data entry and automated data synchronization between professions.
Read More
B-2571
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pratiwi; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Ede Surya Darmawan, R. Sutiawan, Muhammad Riendra, Asral Hasan
Abstrak:
Pandemi COVID ? 19 menjadi tantangan dalam kapasitas sistem kesehatan dimana sistem kesehatan yang ada harus memastikan pasien COVID ? 19 dapat mengakses layanan kesehatan sekaligus menangani pandemi di masyarakat. Rekomendasi yang dikeluarkan WHO dalam menghadapi tantangan kapasitas sistem kesehatan diantaranya menambah jumlah rumah sakit rujukan dan mengupayakan sistem rujukan yang memadai terhadap lonjakan kasus COVID ? 19. Di Indonesia, pemerintah menggunakan Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi (SISRUTE) dalam rujukan kasus COVID ? 19, meski dalam praktiknya masih bervariasi di berbagai daerah. Penggunaan SISRUTE sebelum COVID ? 19 dinilai masih belum optimal, sementara saat pandemi sangat sedikit pasien COVID ? 19 yang diterima melalui SISRUTE. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran terkait efektivitas penggunaan SISRUTE dalam kasus COVID ? 19 di Semen Padang Hospital sebagai rumah sakit swasta pertama di Kota Padang yang menjadi rumah sakit rujuikan COVID ? 19 selama periode April 2020 hingga Oktober 2021. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan proses pengumpulan data dilakukan dengan analisis data sekunder, wawancara mendalam kepada tujuh orang informan yang dipilih secara purposive sampling dan telaah dokumen. Dari penelitian ditemukan bahwa SISRUTE digunakan oleh dokter umum di UGD dan isolasi COVID ? 19 dan terdapat penggunaan SISRUTE berulang pada pasien yang sama karena penolakan dan rujukan yang tidak direspon. Respon time rujukan via SISRUTE sangat lama disebabkan tidak adanya dokter yang khusus bertugas mengecek SISRUTE dan panjangnya alur konsultasi penerimaan rujukan. Banyaknya penolakan rujukan via SISRUTE disebakan oleh penuhnya ruangan, tidak tersedianya fasilitas seperti kamar operasi dan persalinan khusus COVID, ventilator mekanik dan alat hemodialisa. Kendala dari kualitas SISRUTE yang tidak menampilkan kapasitas dan fasilitas yang tersedia, aplikasi berbasis web sulit dibuka di handphone, perlunya penambahan beberapa fitur serta belum tersedianya pencarian otomatis menyulitkan dalam melakukan rujukan. Penggunaan SISRUTE dalam kasus COVID ? 19 tidak efektif karena kemungkinan pasien diterima lewat SISRUTE jauh lebih kecil dibandingkan dengan pasien datang sendiri ke UGD, respon time yang lama, banyaknya rujukan yang ditolak dan dikaitkan dengan kapasitas yang tidak mampu menghadapi lonjakan kasus COVID-19.

COVID ? 19 pandemic is a challenge in the capacity of the health system where the existing health system must ensure that COVID ? 19 patients can access health services as well as handle the pandemic in the community. Recommendations issued by WHO in facing health system capacity challenges include increasing the number of referral hospitals and seeking an adequate referral system for spikes in COVID-19 cases. In Indonesia, the government uses the Integrated Referral Information System (SISRUTE) in referring cases of COVID-19, even though in practice still varies in different regions. The use of SISRUTE before COVID-19 was considered not optimal, while during the pandemic very few COVID-19 patients were accepted through SISRUTE. Therefore, this study aims to obtain an overview regarding the effectiveness of using SISRUTE in cases of COVID-19 at Semen Padang Hospital as the first private hospital in Padang City to become a referral hospital for COVID-19 during the period April 2020 to October 2021. This research is a qualitative, data collection process was carried out by secondary data analysis, in-depth interviews with seven informants selected by purposive sampling and document review. From the study it was found that SISRUTE was used by general practitioners in the ER and COVID-19 isolation and there was repeated use of SISRUTE in the same patient due to rejection and referrals that did not respond. The response time for referrals via SISRUTE was very long due to the absence of a doctor who was specifically tasked with checking SISRUTE and the length of the consultation flow for receiving referrals. Many rejections of referrals via SISRUTE are caused by full rooms, unavailability of facilities such as special COVID operating and delivery rooms, mechanical ventilators and hemodialysis equipment. Constraints from the quality of SISRUTE which does not display available capacities and facilities, web-based applications are difficult to open on mobile phones, the need to add several features and the unavailability of automatic search makes it difficult to make referrals. The use of SISRUTE in cases of COVID-19 is not effective because the possibility of patients being accepted via SISRUTE is much smaller than patients coming alone to the ER, the response time is long, the number of referrals rejected and is associated with the capacity to be unable to deal with the surge in COVID-19 cases.
Read More
B-2327
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andini Tri Wijayati; Pembimbing: Anhari Achadi; Penguji: Tris Eryando; R. Sutiawan, Fushen; Tuan Juniar Situmorang
Abstrak: Dalam memberikan pelayanan kesehatan yang optimal, meningkatkan efisiensi, efektivitas, dan kinerja, RS UKRIDA melakukan implementasi Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS). Penerimaan atau penolakan sistem oleh pengguna adalah penentu keberhasilan atau kegagalan adopsi sistem. Technology Acceptance Model (TAM) merupakan salah satu metode untuk melakukan penilaian penerimaan teknologi yang paling banyak digunakan. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan analisis penerimaan penggunaan SIMRS oleh karyawan RS UKRIDA dengan menggunakan TAM. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan studi cross sectional terhadap 104 karyawan RS UKRIDA. Analisis dilakukan dengan uji univariat dan analisis jalur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi kemudahan berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap persepsi manfaat. Persepsi kegunaan dan persepsi manfaat berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap sikap terhadap penggunaan. Sikap terhadap penggunaan berpengaruh secara langsung dan signifikan terhadap intensi/niat perilaku. Persepsi manfaat berpengaruh secara langsung namun tidak signifikan terhadap intensi/niat perilaku. Pada pengaruh tidak langsung, persepsi manfaat berpengaruh positif dan signifikan terhadap intensi/niat perilaku melalui sikap penggunaan. Dan pengaruh tidak langsung persepsi kemudahan terhadap intensi/niat perilaku bernilai positif dan signifikan. Sikap terhadap penggunaan merupakan prediktor terpenting dari intensi/niat perilaku karyawan RS UKRIDA terhadap penggunaan SIMRS
Read More
B-2293
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vicky Danis Ilmansyah; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Popy Yuniar, Savitri Handayana, Verry Adrian
Abstrak:
Sejak diberlakukannya sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) pada tahun 2014, pasien peserta JKN yang mencari layanan kesehatan harus mengikuti sistem rujukan berjenjang. Untuk mengakomodir rujukan pasien gawat darurat, Kementerian Kesehatan RI menerapkan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu (SPGDT) dan mengembangkan Sistem Rujukan Terintegrasi (SISRUTE). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 mengamanahkan layanan kesehatan rujukan berbasis kompetensi sehingga Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta mengembangkan sistem informasi rujukan berbasis kompetensi JakConnected. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerimaan penggunaan sistem informasi rujukan berbasis kompetensi JakConnected di RS Daerah Provinsi DKI Jakarta. Desain penelitian menggunakan studi kualitatif dengan analisis deskriptif. Metode pengumpulan data dengan observasi, wawancara mendalam kepada dua puluh enam narasumber, dan telaah dokumen. Hasil Penelitian menunjukkan penerimaan penggunaan sistem informasi JakConnected lebih baik dibandingkan SISRUTE namun tren penggunaanya semakin menurun. Tidak ada kendala pendanaan, tata kelola, kelengkapan sarana dan prasarana pendukung, maupun dukungan manajemen. Persepsi kebermanfaatan dan kemudahan sistem baik namun niat perilaku pengguna perlu ditingkatkan. Perlu perbaikan manajemen SDM dan penguatan regulasi untuk meningkatkan penggunaan sehingga dapat memberikan user experience terhadap sistem yang lebih baik.


Since the implementation of the National Health Insurance (JKN) system in 2014, JKN participants seeking health services must follow a tiered referral system. To accommodate emergency referrals, the Indonesian Ministry of Health has implemented the Integrated Emergency Response System (SPGDT) and developed the Integrated Referral System (SISRUTE). Law No. 17 of 2023 mandates competency-based referral healthcare services, prompting the Jakarta Provincial Health Office to develop the competency-based referral information system JakConnected. This study aims to assess the acceptance of the JakConnected competency-based referral information system at regional hospitals in the Jakarta Provincial Government. The research design employs a qualitative study with descriptive analysis. Data collection methods included observation, in-depth interviews with twenty-six informants, and document review. The research findings indicate that the acceptance of the JakConnected system is better than SISRUTE, but its usage trend is declining. There are no funding, governance, infrastructure, or management support issues. Perceptions of the system's usefulness and ease of use are positive, but users' behavioural intentions need to be improved. Improvements in human resource management and strengthened regulations are needed to increase usage, thereby enhancing the user experience with the system.
Read More
B-2554
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bahar Dyan Syah; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Masyitoh, Prastuti Soewondo, Iip Patimah, Amila Megraini
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kondisi keuangan rumah sakit pemerintah tipe A melalui pendekatan rasio keuangan, analisis vertikal, dan analisis horizontal sebagai dasar dalam penyusunan sistem informasi keuangan online sebagai alat bantu evaluasi. Penelitian ini menggunakan data laporan keuangan non-audit rumah sakit periode tahun 2023 dan 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara nominal rumah sakit memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, tercermin dari nilai current ratio yang sangat besar, namun kondisi likuiditas kas riil berada dalam tekanan sebagaimana ditunjukkan oleh nilai quick ratio yang rendah dan cenderung menurun. Dari sisi pengelolaan modal kerja, rumah sakit relatif efisien dengan perbaikan pada perputaran persediaan dan kemampuan penagihan piutang. Analisis profitabilitas mengindikasikan tekanan operasional yang berkelanjutan, ditandai oleh nilai Return on Assets, Return on Equity, Net Profit Margin, dan EBIT margin yang berada pada kondisi negatif selama dua tahun berturut-turut. Tekanan ini dipengaruhi oleh ketidakseimbangan antara pertumbuhan pendapatan pelayanan dan peningkatan beban operasional. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun terdapat progres menuju kemandirian pendapatan, rumah sakit masih menghadapi tekanan finansial yang memerlukan penguatan pengendalian biaya, perbaikan struktur aset, optimalisasi pengelolaan arus kas, serta penguatan tata kelola keuangan guna menjaga keberlanjutan pelayanan kesehatan.

This study aims to analyze the financial condition of a type A government hospital using financial ratios, vertical analysis, and horizontal analysis as the basis for developing an online financial information system as an evaluation tool. This study uses data from the unaudited hospital financial statements for the 2023 and 2024 periods. The analysis shows that the hospital has a high level of liquidity, which is reflected in a very high current ratio. However, its real cash liquidity is under pressure, as indicated by a low and declining quick ratio. In terms of working capital management, the hospital is relatively efficient, with improvements in inventory turnover and receivables collection capabilities. Profitability analysis indicates ongoing operational pressure, characterized by negative Return on Assets, Return on Equity, Net Profit Margin, and EBIT margin for two consecutive years. This pressure is influenced by the imbalance between service revenue growth and increasing operating expenses. This study concludes that despite progress towards revenue independence, the hospital still faces financial pressures that require strengthening cost control, improving asset structure, optimizing cash flow management, and strengthening financial governance to maintain sustainable healthcare services.
Read More
B-2565
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pita Aprilia; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Purnawan Junadi, Susan Oktiwidya Ananda, Dian Trisnawati
Abstrak:
Persediaan farmasi harus dikelola dengan baik untuk kelancaran operasional dan keuangan rumah sakit. Sistem informasi dibutuhkan untuk mengelola persediaan farmasi agar memudahkan pengambilan keputusan dengan data yang akurat pada waktu yang tepat. RS Premier Jatinegara mengembangkan sistem persediaan baru yaitu RSDI yang menggabungkan informasi data perencanaan hasil analisis metode ABC-VEN dan MMSL, serta informasi terkini status tahap pemesanan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur output dari penggunaan sistem RSDI yang ditinjau dari indikator efektivitas dan efisiensi. Penelitian dilakukan dengan operational research terhadap sampel obat hasil analisis ABC-VEN dan MMSL di Instalasi Farmasi RS Premier Jatinegara setelah dilakukan intervensi. Hasil analisis ABC diperoleh obat kategori A mewakili 70% dari total investasi. Jumlah non esensial mencapai 53% dari total obat secara keseluruhan. Obat kategori EA dan NA memiliki nilai investasi tertinggi yaitu 63%. Apabila obat kategori EA dan NA dikelola dengan baik maka sekitar 63% biaya investasi dapat dikendalikan. Hasil penelitian menunjukan angka kejadian kekosongan obat turun 57%. Kekosongan masih ada karena kondisi stok yang kosong di distributor yang tidak dapat dihindari oleh karena itu integrasi B2B dengan distributor perlu ditingkatkan. Namun nilai ITOR juga turun dari 7 kali menjadi 6 kali. Penyesuaian periode pengadaan, pengurangan lead time distributor dan pengurangan jumlah stok obat non esensial perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. Informan menyampaikan sistem RSDI membantu memprioritaskan pengadaan ketika obat vital, esensial atau kategori A kosong, mempercepat pengambilan keputusan, menghilangkan permintaan berulang, dan meningkatkan komunikasi antara Instalasi Farmasi-Gudang-Pengadaan. Penelitian diharapkan dapat dilanjutkan agar pencapaian efektivitas dan efisiensi persediaan semakin baik.

Pharmaceutical supplies must be managed well for smooth hospital operations and finances. Information systems are needed to manage pharmaceutical supplies to facilitate decision making with accurate data at the right time. Premier Jatinegara Hospital developed a new inventory system, namely RSDI. This research aims to measure the output from using the RSDI system in terms of indicators of effectiveness and efficiency. The research was carried out using operational research on drug samples resulting from ABC-VEN and MMSL analysis at the Pharmacy Department after the intervention. The results showed that total investment category A drugs is 70%. The number of non-essential drugs reaches 53%. EA and NA category drugs have the highest investment value 63%, if EA and NA category are managed well then around 63% of investment costs can be controlled. The research results showed that the incidence of stock out decreased by 57%. Stock out still exist due to unavailable stock at distributors which cannot be avoided, therefore B2B integration with distributors needs to be improved. However, the ITOR value also fell from 7 times to 6 times. Adjusting the procurement period, reducing distributor lead time, and reducing the amount of non-essential drug needs to be done to increase efficiency. Informants said that the RSDI system helps prioritize procurement when vital or category A drugs are out of stock, speeding up decision making, eliminating repetitive requests, and improving communication between the Pharmacy-Warehouse-Procurement. This research should be continued to achieve better inventory effectiveness and efficiency.
Read More
B-2424
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Willy; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Popy Yuniar, Antonius Yudianto, Benedict Sulaiman
Abstrak:
ABSTRAK Latar Belakang: Implementasi sistem antrean digital merupakan strategi transformasi digital kesehatan untuk meningkatkan efisiensi pelayanan rawat jalan. Charitas Hospital Palembang telah mengimplementasikan sistem antrean multi-kanal sejak 2024, namun pencapaian Standar Pelayanan Minimal (SPM) waktu tunggu ≤60 menit masih belum konsisten, dengan rata-rata kepatuhan 78,64% pada periode Oktober 2025–Januari 2026. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi implementasi sistem antrean digital di instalasi rawat jalan Charitas hospital Palembang Metode: Penelitian kualitatif dilaksanakan di Instalasi Rawat Jalan Charitas Hospital Palembang pada periode April–Mei 2026. Pengumpulan data menggunakan observasi partisipatif, Focus Group Discussion, dan wawancara mendalam (n=20) dengan informan dari pasien, petugas front office, perawat, dan manajemen. Teori yang digunakan mengintegrasikan Model Donabedian (input, proses, output) dan Technology Acceptance Model (TAM) untuk menggali persepsi subjektif, pengalaman nyata, serta dinamika operasional pengguna sistem. Analisis data dilakukan secara tematik dengan triangulasi data untuk memastikan validitas temuan. Hasil: Penelitian mengidentifikasi empat komponen utama: (1) Komponen Input menunjukkan infrastruktur teknologi memadai namun ada kesenjangan integrasi dengan SIMRS dan BPJS; (2) Komponen Proses mengungkapkan sistem mengurangi waktu transaksi loket namun terjadi bottleneck shift dan variabilitas durasi konsultasi; (3) Persepsi Pengguna (TAM) menunjukkan Perceived Ease of Use moderat-mudah dengan variasi antar kelompok pengguna, sementara Perceived Usefulness dipengaruhi pengalaman aktual dengan sistem; (4) Output menunjukkan performa fluktuatif, menunjukkan potensi besar sistem dalam meningkatkan efisiensi pelayanan dan kepuasan pasien melalui pengurangan kepadatan fisik di lokasi pendaftaran. Kesimpulan: Keberhasilan sistem antrean digital bergantung pada interaksi kompleks antara penerimaan pengguna, kesiapan infrastruktur, dan optimalisasi proses operasional. Diperlukan strategi komprehensif mencakup peningkatan literasi digital pasien, optimalisasi integrasi sistem, pelatihan petugas, dan manajemen sumber daya manusia yang lebih efektif. Kata Kunci: Sistem Antrean Digital; Penerimaan Pengguna; Efisiensi Pelayanan; Technology Acceptance Model; Rawat Jalan; Evaluasi Kualitatif.

Background: The implementation of digital queuing systems is a health digital transformation strategy to improve outpatient service efficiency. Charitas Hospital Palembang has implemented a multi-channel queuing system since 2024; however, the achievement of the Minimum Service Standard (SPM) for waiting time of ≤60 minutes remains inconsistent, with average compliance of 78.64% during October 2025–January 2026. Objective: This study aims to evaluate the implementation of the digital queuing system in the outpatient installation of Charitas Hospital Palembang. Methods: A qualitative study was conducted in the Outpatient Installation of Charitas Hospital Palembang during April–May 2026. Data collection employed participatory observation, Focus Group Discussions, and in-depth interviews (n=20) with informants from patients, front office staff, nurses, and management. The theoretical framework integrated the Donabedian Model (input, process, output) and Technology Acceptance Model (TAM) to explore subjective perceptions, actual experiences, and operational dynamics of system users. Data analysis was performed thematically with data triangulation to ensure the validity of findings. Results: The study identified four main components: (1) Input Component shows adequate technological infrastructure but gaps in integration with Hospital Management Information System (SIMRS) and BPJS Health; (2) Process Component reveals the system reduces registration counter transaction time but experiences bottleneck shift and consultation duration variability; (3) User Perception (TAM) shows moderate-easy Perceived Ease of Use with variation across user groups, while Perceived Usefulness is influenced by actual system experience; (4) Output shows fluctuating performance, demonstrating the system's significant potential in improving service efficiency and patient satisfaction through reducing physical congestion at the registration location. Conclusion: The success of the digital queuing system depends on complex interactions between user acceptance, infrastructure readiness, and operational process optimization. A comprehensive strategy is needed including improving patient digital literacy, optimizing system integration, staff training, and more effective human resource management.  Keywords: Digital Queuing System; User Acceptance; Service Efficiency; Technology Acceptance Model; Outpatient; Qualitative Evaluation.
Read More
B-2606
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadya Aviliyanti Taufik; Pembimbing : Wachyu Sulistiadi; Penguji: Anhari Achadi, Adang Bachtiar, Alinur, Wirda Saleh
Abstrak: Pemasaran di era sekarang berupa promosi produk atau merek yang dilakukan melalui media elektronik. Pemasaran rumah sakit bertujuan memperkenalkan rumah sakit pada masyarakat luas, menginformasikan fasilitas dan kemampuan pelayanan kepada masyarakat, membentuk dan membina citra rumah sakit melalui kepercayaan dan penghargaan masyarakat terhadap kemampuan rumah sakit, pemanfaatan sumber daya rumah sakit secara optimal dan juga mengharapkan terjadinya peningkatan penghasilan. Pemasaran digital yang sudah berjalan di rumah sakit perlu dilakukan pembaharuan agar terlihat up to date. Desain penelitian yang digunakan adalah cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Penyebaran kuesioner dilakukan dengan menggunakan google form yang disebar melalui aplikasi whats app. Hasil analisis terdapat satu variabel yaitu jejaring media sosial yang tidak memiliki hubungan yang signifikan terhadap minat masyarakat untuk datang berobat ke rumah sakit Kartika Husada Jati Asih (p>0,05). Dari analisis regresi logistik didapatkan dua variabel yang memiliki hubungan yang paling signifikan terhadap minat masyarakat, yaitu variabel customization dan navigasi (p<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah rumah sakit Kartika Husada Jati Asih sudah melakukan pemasaran digital tetapi masih perlu dimodifikasi tampilan situs web dan media sosialnya. Disarankan memperbarui konten marketing dan lebih interaktif di situs web ataupun media sosial.
Read More
B-2076
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Go Ester; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Purnawan Junadi, Budi Hidayat, Indra Setiadi
B-1319
Depok : FKM-UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive