Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41390 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Andi Kayla Ardani; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Laksmi Damaryanti
Abstrak:

Latar belakang: Penyakit menular, khususnya Tuberkulosis (TB), masih menjadi tantangan besar di Indonesia, dengan prevalensi yang tinggi dan dampak signifikan terhadap sistem kesehatan. Komorbiditas seperti Diabetes Mellitus (DM) dan koinfeksi HIV memperburuk pengobatan TB, memperpanjang durasi terapi, serta meningkatkan beban biaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perbandingan biaya rawat inap pada pasien TB dengan komorbid DM dan koinfeksi HIV di fasilitas kesehatan Indonesia, khususnya yang terdaftar dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Tujuan: Mengetahui perbandingan biaya rawat inap pada layanan FKRTL peserta JKN penderita TB/DM dan TB/HIV di Indonesia selama satu tahun. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan studi cross-sectional menggunakan data sampel BPJS Kesehatan tahun 2023. Sampel penelitian ini adalah peserta dengan diagnosis primer TB yang memiliki diagnosis sekunder DM dan HIV pada pelayanan FKRTL. Hasil: Terdapat sebanyak 4.753 peserta RITL JKN tahun 2022. Dari total kunjungan, sebanyak 4.531 merupakan peserta komorbid TB/DM dan 232 peserta koinfeksi TB/HIV. Pada tahun 2022, BPJS Kesehatan membayarkan sebesar Rp28,8 miliar untuk peserta RITL komorbid TB/DM dan Rp3,1 miliar untuk peserta RITL koinfeksi TB/HIV. Kesimpulan: Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya komorbid TB/DM pada kunjungan RITL peserta JKN 2022 adalah umur, hak kelas rawat, segmen kepesertaan, dan rujukan FKTP. Sedangkan, faktor-faktor yang beruhubungan dengan biaya koinfeksi pada kunjungan RITL pada kunjungan peserta JKN 2022 adalah jenis kelamin, umur, hak kelas rawat, dan segmen kepesertaan.


Background: Infectious diseases, particularly Tuberculosis (TB), remain a major challenge in Indonesia, with high prevalence and significant impact on the healthcare system. Comorbidities such as Diabetes Mellitus (DM) and HIV coinfection worsen TB treatment, prolong therapy duration, and increase healthcare costs. This study aims to analyze the comparison of inpatient costs for TB patients with comorbid DM and HIV coinfection in Indonesian healthcare facilities, specifically those enrolled in the National Health Insurance (JKN) program. Objective: To determine the comparison of inpatient costs for JKN FKRTL services for TB/DM and TB/HIV patients in Indonesia over the course of one year. Method: This study employs a quantitative approach with a cross-sectional design using BPJS Health sample data from 2023. The research sample includes participants with a primary TB diagnosis and secondary diagnoses of DM and HIV in FKRTL services. Results: There were 4,753 JKN inpatient participants in 2022. Of these, 4,531 were TB/DM comorbid patients, and 232 were TB/HIV coinfected patients. In 2022, BPJS Health paid Rp28.8 billion for TB/DM comorbid patients and Rp3.1 billion for TB/HIV coinfected patients. Conclusion: Factors related to the cost of TB/DM comorbidity for JKN inpatient visits in 2022 include age, inpatient class entitlement, membership segment, and FKTP referral. Meanwhile, factors related to the cost of coinfection for JKN inpatient visits in 2022 include gender, age, inpatient class entitlement, and membership segment.

Read More
S-11835
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dapot Pangihutan Silalahi; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Mardiati Nadjib, Amila Megraini
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan tujuan umum dari penelitian ini adalah untuk mengetahui determinan kejadian tuberkulosis pada pasien HIV/AIDS peserta JKN di Indonesia tahun 2021. Serta Mengetahui hubungan karakteristik peserta (umur, jenis kelamin, status perkawinan, hubungan keluarga, hak kelas rawat, dan segmentasi kepesertaan) dengan kejadian tuberkulosis pada pasien HIV/AIDS peserta JKN di Indonesia tahun 2021. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kuantitatif dengan desain studi cross sectional, dimana waktu pengumpulan data variabel bebas (independen) dan variabel terikat (dependen) hanya satu kali pada satu saat (Nursalam, 2017). Penelitian ini menggunakan data sekunder Data Sampel BPJS Kesehatan Reguler tahun 2021. Penelitian cross sectional adalah suatu penelitian untuk mempelajari dinamika korelasi antara faktor-faktor risiko dengan efek, dengan cara pendekatan, observasional, atau pengumpulan data. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh peserta JKN pada pelayanan FKRTL dengan diagnosis primer HIV/AIDS tahun 2021. Sedangkan Sampel pada penelitian ini adalah seluruh peserta JKN dengan diagnosis HIV/AIDS di Indonesia tahun 2021. Adapun hasil penelitian Berdasarkan data sampel BPJS Kesehatan 2021, terdapat 207 peserta JKN dengan HIV/AIDS, mewakili 12.649 peserta. Koinfeksi HIV-TB sebesar 4,02% (508 peserta). Hubungan signifikan dengan koinfeksi hanya ditemukan pada hubungan keluarga dan segmen kepesertaan. Peserta dengan koinfeksi cenderung dewasa (4,20%), laki-laki (4,92%), belum kawin (5,52%), anak (14,84%), rawat kelas I (8,44%), dan segmen PBI APBD (18,11%). Layanan kesehatan terkait koinfeksi terkait dengan jenis FKTP, tipe FKRTL, dan status kepemilikan FKRTL. Koinfeksi lebih banyak pada FKTP dokter umum (17,48%), FKRTL RS Kelas B (6,67%), FKRTL pemerintah (5,05%), tingkat pelayanan FKRTL RJTL (9,8%), dan wilayah regional FKRTL regional 1 (5,96%).

This research aims to investigate the determinants of tuberculosis occurrence in HIV/AIDS patients covered by the National Health Insurance Program (JKN) in Indonesia in 2021. It also aims to explore the relationship between participant characteristics (age, gender, marital status, family relationship, care class, and membership segmentation) and the occurrence of tuberculosis in HIV/AIDS patients under JKN in Indonesia in 2021. The study adopts a quantitative research approach with a cross-sectional study design, where data collection for independent and dependent variables occurs only once at a single point in time (Nursalam, 2017). Secondary data from the Regular Health Insurance BPJS Sample for the year 2021 is utilized in this research. A cross-sectional study is employed to examine the dynamic correlation between risk factors and effects through observational or data collection approaches. The population consists of all JKN participants receiving services from Primary Health Care Facilities (FKRTL) with a primary diagnosis of HIV/AIDS in 2021. The sample includes all JKN participants diagnosed with HIV/AIDS in Indonesia in 2021. Based on the 2021 BPJS Health Sample data, there were 207 JKN participants with HIV/AIDS, representing 12,649 participants. The HIV-TB coinfection rate was 4.02% (508 participants). Significant relationships with coinfection were found only in family relationships and membership segmentation. Participants with coinfection tended to be adults (4.20%), males (4.92%), unmarried (5.52%), children (14.84%), receiving Class I care (8.44%), and in the Regional Budgetary Insurance (PBI) APBD segment (18.11%). Health services related to coinfection were associated with the type of Primary Health Care Facility (FKTP), FKRTL type, and FKRTL ownership status. Coinfection was more prevalent in general practitioner FKTP (17.48%), FKRTL Class B Hospitals (6.67%), government-owned FKRTL (5.05%), RJTL FKRTL service level (9.8%), and Regional FKRTL regional 1 (5.96%).
Read More
S-11546
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Baiq Riadatul Haerani; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Ede Surya Darmawan, Wan Aisyah Baros
Abstrak: Latar Belakang: Tuberkulosis dan diabetes melitus masih menjadi permasalahan utama kesehatan di Indonesia. Korelasi antara kedua penyakit ini menyebabkan peningkatan risiko kegagalan pengobatan, kekambuhan, yang berpengaruh pada lamanya durasi pengobatan dan beban pembiayaan yang tinggi. Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dan biaya perawatan tuberkulosis dan diabetes mellitus pada peserta JKN tahun 2019. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekan kuantitatif dengan studi cross sectional menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2019. Sampel penelitian ini adalah pasien dengan diagnosis tuberkulosis dan diabetes mellitus pada pelayanan FKRTL. Hasil: Pasien dengan komobiditas TBDM di Indonesia adalah sebanyak 21.105 peserta. BPJS Kesehatan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 120.563.754.830,00 untuk biaya pengobatan pasien dengan komobiditas TBDM selama satu tahun. Faktor-faktor yang berhubungan dengan komorbiditas dan pembiayaan perawatan TBDM adalah jenis kelamin, umur, hak kelas rawat, segmen kepesertaan, jenis FKTP, kepadatan penduduk, persentase merokok, dan kualitas lingkungan hidup (p-value <0,05). Kesimpulan: Variabel tingkat keparahan kasus dan tingkat kunjungan FKTP tidak memiliki pengaruh terhadap tingginya biaya perawatan pasien dengan komorbid TBDM.
Background: Tuberculosis and diabetes mellitus are major health problems in Indonesia. The correlation between these two diseases leads to an increased risk of treatment failure, relapse, which affects the duration of treatment and high financial burden. Objective: To identify factors associated with the incidence and cost of treating tuberculosis and diabetes mellitus among JKN participants in 2019. Methods: This study used a quantitative approach with a cross-sectional study using BPJS Health Sample Data in 2019. The samples of this study were patients with a diagnosis of tuberculosis and diabetes mellitus at FKRTL services in 2019. Results: Patients with TBDM comorbidities in Indonesia were 21,105 participants. BPJS Kesehatan spent a budget of Rp. 120,563,754,830.00 for the treatment of patients with TBDM comorbidities for one year. Factors associated with TBDM comorbidities and treatment costs were gender, age, entitlement to treatment class, membership segment, type of primary care provider, population density, smoking percentage, and environmental quality (p-value <0.05). Conclusion: The variables of case severity and primary care visit rate did not influence the high cost of care for patients with TBDM comorbidities
Read More
S-11437
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Yuliarty; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Prastuti Soewondo, Elshe Theresia
Abstrak:
Latar Belakang: Pada tahun 2021, kasus TB di Indonesia diperkirakan sebanyak 969.000 kasus, dengan notifikasi kasus TB pada tahun 2022 mencapai 724.309 kasus (75%). Penemuan kasus TB pada tahun 2022 ini merupakan penemuan kasus tertinggi sejak 1 dekade terakhir. Situasi ini dapat berkontribusi pada peningkatan biaya pelayanan peserta JKN dengan penyakit TB. Tujuan: Mengetahui biaya pelayanan kesehatan peserta JKN dengan penyakit Tuberkulosis (TB) di Wilayah Provinsi DKI Jakarta dalam satu tahun. Metode: Desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Sampel penelitan yaitu peserta JKN dengan penyakit Tuberkulosis (TB) berdasarkan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2023. Hasil: Hasil analisis didapatkan bahwa BPJS Kesehatan menghabiskan anggaran sebesar Rp14.244.980.234 (14 Milyar) untuk membayar klaim 3.492 peserta JKN di Wilayah Provinsi DKI Jakarta dengan penyakit Tuberkulosis (TB) pada Tahun 2022. Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya Tuberkulosis (TB) peserta JKN di Wilayah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022 yaitu umur, jenis kelamin, penyakit penyerta (komorbiditas), segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, kunjungan RJTL, kunjungan RITL, lama hari rawat inap dan Wilayah tempat tinggal. Kesimpulan: Penelitian ini menggambarkan besarnya biaya pelayanan peserta JKN dengan penyakit Tuberkulosis (TB) sehingga program deteksi dini sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya dalam menghemat biaya.

Background: In 2021, TB cases in Indonesia are estimated to be 969,000 cases, with TB case notifications in 2022 reaching 724,309 cases (75%). The discovery of TB cases in 2022 is the highest case discovery since the last decade. This situation can contribute to increasing service costs for JKN participants with TB disease. Objective: To find out the cost of health services for JKN participants with Tuberculosis (TB) in the DKI Jakarta Province Region in one year. Method: Cross-sectional research design with univariate and bivariate analysis. The research sample is JKN participants with Tuberculosis (TB) based on BPJS Health sample data for 2023. Results: The results of the analysis showed that BPJS Health spent a budget of IDR 14,244,980,234 (14 billion) to pay claims for 3.492 JKN participants in the Province. DKI Jakarta with Tuberculosis (TB) in 2022. Factors related to the cost of Tuberculosis (TB) for JKN participants in the DKI Jakarta Province Region in 2022, namely age, gender, comorbidity, membership segmentation, treatment class rights, RJTL visits, RITL visits , length of stay and region of residence. Conclusion: This research illustrates the high costs of JKN service participants with Tuberculosis (TB), so that an early detection program is very important to carry out as an effort to save costs.
Read More
S-11570
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tjut Keumala Syahlynna Rachmatsyah Hamzah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Ede Surya Darmawan, Chandra Nurcahyo
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit prioritas dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang memerlukan pembiayaan pelayanan kesehatan berkelanjutan. Pada pelayanan rawat jalan tingkat lanjutan (RJTL), total biaya pelayanan yang dibayarkan oleh BPJS Kesehatan dapat bervariasi antar peserta maupun antar fasilitas kesehatan. Penelitian ini bertujuan menganalisis total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis peserta JKN berdasarkan karakteristik peserta dan karakteristik fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjutan (FKRTL) tahun 2024. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Sampel penelitian terdiri atas 25.886 peserta JKN penderita tuberkulosis yang memperoleh pelayanan rawat jalan di FKRTL dan memenuhi kriteria penelitian. Variabel independen meliputi kelompok umur, jenis kelamin, status perkawinan, segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, kepemilikan FKRTL, dan tipe FKRTL. Variabel dependen adalah total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis per pasien selama tahun 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Mann–Whitney dan Kruskal–Wallis. Hasil penelitian menunjukkan median total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis sebesar Rp598.250 per pasien per tahun. Terdapat perbedaan total biaya klaim yang bermakna secara statistik berdasarkan kelompok umur (H(2)=783,60; p<0,001; ε²=0,030), jenis kelamin (Z=3,64; p<0,001; r=0,023), status perkawinan (H(2)=436,99; p<0,001; ε²=0,017), segmentasi kepesertaan (H(4)=912,08; p<0,001; ε²=0,035), hak kelas rawat (H(2)=68,47; p<0,001; ε²=0,003), kepemilikan FKRTL (H(4)=381,99; p<0,001; ε²=0,015), dan tipe FKRTL (H(3)=675,39; p<0,001; ε²=0,026). Variabel segmentasi kepesertaan menunjukkan ukuran efek terbesar, sedangkan hak kelas rawat menunjukkan ukuran efek terkecil. Meskipun seluruh variabel menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik, sebagian besar ukuran efek berada pada kategori kecil. Penelitian ini menyimpulkan bahwa total biaya klaim pelayanan rawat jalan tuberkulosis peserta JKN tahun 2024 bervariasi menurut karakteristik peserta dan karakteristik FKRTL. Temuan ini dapat menjadi masukan bagi BPJS Kesehatan dalam monitoring dan evaluasi pembiayaan pelayanan tuberkulosis pada program JKN.

Tuberculosis (TB) remains one of the priority diseases within Indonesia’s National Health Insurance (JKN) program and requires substantial healthcare financing. In advanced outpatient care settings, total healthcare expenditures reimbursed by BPJS Kesehatan may vary across participants and healthcare facilities. This study aimed to analyze outpatient tuberculosis claim costs among JKN participants based on participant characteristics and advanced referral healthcare facility (FKRTL) characteristics in 2024. This study employed a quantitative cross-sectional design using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample dataset. The study population consisted of 25,886 JKN participants diagnosed with tuberculosis who received outpatient services at FKRTL and met the study criteria. Independent variables included age group, sex, marital status, membership segment, entitlement class, FKRTL ownership, and FKRTL type. The dependent variable was the total outpatient tuberculosis claim cost per patient during 2024. Data were analyzed using descriptive statistics and bivariate analysis with Mann–Whitney and Kruskal–Wallis tests. The results showed that the median outpatient tuberculosis claim cost was IDR 598,250 per patient per year. Statistically significant differences in total claim costs were observed according to age group (H(2)=783.60; p<0.001; ε²=0.030), sex (Z=3.64; p<0.001; r=0.023), marital status (H(2)=436.99; p<0.001; ε²=0.017), membership segment (H(4)=912.08; p<0.001; ε²=0.035), entitlement class (H(2)=68.47; p<0.001; ε²=0.003), FKRTL ownership (H(4)=381.99; p<0.001; ε²=0.015), and FKRTL type (H(3)=675.39; p<0.001; ε²=0.026). Membership segment demonstrated the largest effect size, while entitlement class showed the smallest. Although all variables were statistically significant, most effect sizes were small. This study concludes that outpatient tuberculosis claim costs among JKN participants in 2024 varied according to participant and healthcare facility characteristics. These findings may provide useful evidence for BPJS Kesehatan in monitoring and evaluating tuberculosis financing within the JKN program.
Read More
S-12464
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aurelia Aisya Nathania Putri; Pembimbing; Pujiyanto; penguji: Rico Kurniawan, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Hipertensi merupakan penyakit dengan prevalensi tinggi yang menyebabkan masalah kesehatan serius dan beban pembiayaan cukup tinggi. Hipertensi terkendali masih cukup rendah dengan peningkatan berbagai faktor risiko sehingga pemanfaatan layanan rawat jalan dan rawat inap di FKRTL masih menjadi isu kesehatan cukup krusial, terutama pada peserta JKN dengan hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran utilisasi pelayanan rawat jalan dan rawat inap pada peserta JKN dengan hipertensi di FKRTL Tahun 2024. Menggunakan metodologi penelitian kuantitatif deskriptif dengan desain cross-sectional, data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025 dengan teknik total sampling yang disesuaikan dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang ditetapkan. Analisis yang dilakukan univariat dan secara deskriptif menggunakan crosstab. Hasil penelitian menunjukkan jumlah kunjungan yang paling banyak dilakukan peserta JKN dengan hipertensi sebanyak 1 kali (88,0%), dimana sebagian besar diakses oleh peserta kelompok usia 55-64 tahun (30,9%), perempuan (60,1%), dengan hak kelas rawat III (58,5%), kelompok PBI APBN (29,2%), terdaftar di Puskesmas (67,0%), dengan diagnosis hipertensi I10 (58,4%), pada layanan RJTL (52,0%), dan tingkat keparahan penyakit rawat jalan (52,0%). Selain itu, pelayanan RJTL didominasi oleh usia 31-44 tahun (67,0%) dan laki-laki (57,3%) serta pelayanan RITL didominasi oleh usia 55-64 tahun (52,7%) dan perempuan (51,6%). Pada tingkat keparahan penyakit rawat jalan didominasi hipertensi I15 (84,5%), serta tingkat sedang (level 2) didominasi hipertensi I13 (45,1%). Selain itu, seluruh kelompok usia memiliki proporsi hak kelas rawat III lebih besar dengan dominasi usia 55-64 tahun (64,3%). Dengan demikian, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan untuk meningkatkan efektivitas pelayanan kesehatan dan pengendalian hipertensi.

Hypertension is disease with highly prevalent that causes serious health issues and imposes a significant financial burden. Hypertension is still relatively low under controlled conditions with increasing various risk factors so that utilization of outpatient and inpatient services at Advanced Referral Healthcare Facilities (FKRTL) remains a crucial health issue, especially for JKN participants with hypertension. This study aims to describe the utilizationof outpatient and inpatient services among JKN participants with hypertension at FKRTL in 2024. A descriptive quantitative cross-sectional design was employed, sample data BPJS Kesehatan in 2025 with total sampling technique adjusted to the established inclusion and exclusion criteria. Analysis was conducted using univariate methods and descriptive cross-tabulation. The results indicate that the most frequent number or visits by JKN participants with hypertension was a single visit (88,0%). These vsits were predominantly made by participants aged 55-64 years (30,9%), women (60,1%), those entitled to Class III care (58,5%), the PBI APBN group (29,2%), those registered at Puskesmas (67,0%), and those diagnosed with hypertension code I10 (58,4%). Utilization was highest in outpatient services (RJTL) (52,0%) and at the outpatient disease severity level (52,0%). Futhermore, outpatient service utilization was dominated by the 31-44 age group (67,0%) and men (57,3%), while inpatient service utilization was dominated by the 55-64 age group (52,75) and women (51,6%). Regarding outpatient disease severity, hypertension code I15 predominated (84,5%), while hypertension code I13 predominated in the moderate severity category (level 2) (45,1%). Additionally, all age groups showed a higher proportion of entitlement to class III care with the 55-64 age group showing the highest prevalence (64,3%). Thus, these findings are expected to serve as a basis for improving the effectiveness of healthcare services and hypertension control.
Read More
S-12437
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Entin Awalurrokhmah; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Kurnia Sari, Dedy Revelino Siregar
Abstrak:
Latar Belakang: Pada Tahun 2019, penyakit jantung menduduki biaya katastropik pertama yaitu 49% pembiayaan kesehatan katastropik dengan 13 juta kasus penyakit jantung yang klaim biayanya mencapai Rp. 10,2 Triliun. Tujuan: Mengetahui biaya dan faktor-faktor yang berhubungan dengan penyakit jantung iskemik di FKRTL dalam satu tahun. Metode: Desain studi cross-sectional dengan analisis univariat, bivariat, dan multivariat. Sampel penelitan yaitu peserta JKN dengan penyakit jantung iskemik berdasarkan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2019. Hasil: BPJS Kesehatan menghabiskan anggaran sebesar Rp. 2.881.282.021.336 (2,8 Triliun) untuk membayar klaim 324.964 peserta JKN dengan penyakit jantung iskemik pada Tahun 2019. Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya jantung iskemik peserta JKN Tahun 2019 yaitu Usia, Jenis kelamin, Segmen kepesertaan, Kelas perawatan, Wilayah Kepesertaan, Tingkat keparahan kasus, Kunjungan FKTP, Kunjungan rawat jalan tingkat lanjut (RJTL), Kunjungan rawat inap tingkat lanjut (RITL), Jenis fasilitas tingkat pertama, Tipe fasilitas tingkat lanjut, Status kepemilikan fasilitas kesehatan, dan Wilayah FKRTL. Kesimpulan: Tingkat keparahan merupakan predictor yang dominan dalam biaya penyakit jantung iskemik.

Background: In 2019, heart disease occupies the first catastrophic cost, namely 49% of catastrophic health financing with 13 million cases of heart disease whose claim costs reach Rp. 10,2 Trillion. Objective: To find out the costs and factors associated with ischemic heart disease in FKRTL in one year. Methods: Cross-sectional study design with univariate, bivariate, and multivariate analysis. The research sample is JKN participants with ischemic heart disease based on the 2019 BPJS Health sample data. Results: BPJS Health spends a budget of Rp. 2,881,282,021,336 (2,8 Trillion) to pay claims for 324,964 JKN participants with ischemic heart disease in 2019. Factors related to ischemic heart costs for JKN participants in 2019 are age, gender, membership segment, treatment class, Participation Area, Case severity, Primary health care visits, Advanced outpatient visits, Advanced inpatient visits, Types of first level facilities, Types of advanced facilities, Health facility ownership status, and FKRTL Regions. Conclusion: Severity is the dominant predictor of ischemic heart disease cost.
Read More
S-11368
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vany Tri Heidyanti; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Pujiyanto, Herman Dinata Mihardja
Abstrak:
Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) menempatkan fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan melalui sistem rujukan berjenjang. Namun, dalam implementasinya, masih ditemukan tingginya angka rujukan dari FKTP ke fasilitas kesehatan rujukan tingkat lanjut (FKRTL). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan karakteristik rujukan peserta JKN pada dua Puskesmas di Jakarta Selatan, yaitu Puskesmas dengan angka rujukan tertinggi (Jagakarsa) dan terendah (Setiabudi) sepanjang tahun 2024. Penelitian ini dilakukan dengan wawancara mendalam, observasi, dan telaah dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan angka rujukan dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti jumlah dan rate ketersediaan dokter, kecukupan fasilitas penunjang, ketersediaan laboratorium klinik, serta ketersediaan obat-obatan. Meskipun kedua Puskesmas telah memiliki fasilitas penunjang yang sesuai dengan Permenkes No. 43 Tahun 2019, keterbatasan SDM, beban kerja, dan diagnosa medis pasien turut mendorong terjadinya rujukan yang sebenarnya dapat dihindari. Penelitian ini menyarankan perlunya evaluasi berkala terhadap rate dokter dan manajemen fasilitas, serta penguatan tata kelola layanan dan distribusi tenaga kesehatan agar sistem rujukan berjalan lebih efisien dan tepat sasaran.

The National Health Insurance (JKN) program places primary healthcare facilities (FKTP) at the forefront of health services through a tiered referral system. However, in its implementation, there is still a high rate of referrals from FKTP to advanced referral health facilities (FKRTL). This study aims to compare the referral characteristics of JKN participants at two Puskesmas in South Jakarta, namely Puskesmas with the highest (Jagakarsa) and lowest (Setiabudi) referral rates throughout 2024. This research was conducted using in-depth interviews, observation, and document review. The results showed that the difference in referral rates was influenced by several factors such as the number and ratio of doctor availability, adequacy of supporting facilities, availability of clinical laboratories, and availability of medicines. Although both Puskesmas have supporting facilities in accordance with Permenkes No. 43 of 2019, limited human resources, workload, and patient medical diagnoses also encourage referrals that can actually be avoided. This study suggests the need for periodic evaluation of doctor ratios and facility management, as well as strengthening service governance and health worker distribution to make the referral system run more efficiently and on target.
Read More
S-11943
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rangga Maher Alfajar; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Prevalensi gangguan depresi dan kecemasan (anxiety) terus mengalami peningkatan setiap tahunnya dan berkontribusi terhadap beban penyakit. Tingkat utilisasi pasien penderita depresi masih cukup rendah yang mana akan berdampak pada relaps di Indonesia (kambuh) dan penurunan kualitas hidup secara signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran serta faktor – faktor yang berhubungan dengan utilisasi pelayanan kesehatan RJTL peserta JKN usia dewasa (18 – 59 tahun) penderita depresi dengan komorbid anxiety tahun 2024. Desain penelitian potong lintang dengan menggunakan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2025. Peserta JKN penderita depresi dengan komorbid anxiety melakukan utilisasi tidak rutin (≤ 4 kali) sebesar 73,4%. Analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan yang signifikan (p value < 0,05) pada variabel usia, jenis kelamin, hubungan keluarga, status perkawinan, segementasi peserta, regional FKRTL serta tipe dan kepemilikan FKRTL. Faktor utama yang berhubungan adalah tipe FKRTL RS Kelas B (OR = 3,449; 95% CI = 2,293 – 5,188) dan kategori usia dewasa pra lansia ( OR = 1,957; 95% CI = 1,793 – 2,136). Utilisasi layanan RJTL oleh penderita depresi dengan komorbid anxiety di Indonesia masih belum optimal secara nasional meskipun akses layanan melalui skema JKN telah tersedia yang menunjukkan bahwa banyak pasien tidak mendapatkan pemantauan secara konsisten. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko relaps (kambuh) dan penurunan kualitas hidup pasien secara signifikan.

The prevalence of depression and anxiety disorders continues to increase every year and contributes to the burden of disease. The level of healthcare utilization among patients with depression is still relatively low, which may lead to relapse and a significant decline in quality of life in Indonesia. This study aimed to describe and identify the factors associated with the utilization of referral outpatient healthcare services among adult JKN participants (18–59 years old) with depression and comorbid anxiety in 2024. This study used a cross-sectional design with the 2025 BPJS Kesehatan Sample Data. Among JKN participants with depression and comorbid anxiety, 73.4% utilized healthcare services irregularly (≤ 4 visits). Bivariate analysis showed significant relationships (p-value < 0.05) between healthcare utilization and the variables of age, gender, family relationship, marital status, participant segmentation, FKRTL regional classification, as well as the type and ownership of FKRTL. The main associated factors were Class B hospitals (OR = 3.449; 95% CI = 2.293–5.188) and pre-elderly adult age group (OR = 1.957; 95% CI = 1.793–2.136). The utilization of referral outpatient healthcare services by patients with depression and comorbid anxiety in Indonesia is still not optimal at the national level. Although access to healthcare services through the JKN scheme is already available, the level of adherence to routine visits remains low, indicating that many patients do not receive consistent monitoring. This condition may increase the risk of relapse and significantly reduce patients’ quality of life.
Read More
S-12227
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amanda Solparka; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Putri Bungsu, Amila Megraini
Abstrak:
Diabetes melitus (DM) merupakan salah satu penyakit tidak menular yang menjadi beban pembiayaan signifikan dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dengan klaim biaya yang terus meningkat dari tahun ke tahun, sementara utilisasi rawat jalan yang seharusnya berperan dalam mencegah komplikasi belum diketahui secara pasti hubungannya dengan utilisasi rawat inap tingkat lanjut (RITL). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara utilisasi rawat jalan dengan utilisasi rawat inap tingkat lanjut (RITL) pada peserta JKN penderita DM di Indonesia tahun 2023−2024, beserta karakteristik peserta yang berhubungan dengan RITL. Penelitian ini menggunakan desain observasional dengan pendekatan potong lintang (cross-sectional) terhadap Data Sampel BPJS Kesehatan Kontekstual Diabetes Melitus, dengan jumlah sampel sebanyak 792.874 peserta (bobot). Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji regresi logistik tunggal, dan multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa 13,4% peserta memanfaatkan layanan RITL, sedangkan hanya 17,3% peserta yang tergolong rutin memanfaatkan rawat jalan (≥12 kali per tahun). Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa utilisasi rawat jalan berhubungan secara bermakna dengan RITL (p=0,000), di mana peserta yang tidak rutin justru memiliki peluang RITL 0,911 kali (AOR=0,911; 95% CI: 0,895-0,927) dibandingkan peserta yang rutin. Temuan ini dapat dijelaskan melalui konsep kebutuhan pelayanan rawat kesehatan (need-based utilization) dalam Model Andersen. Selain itu, delapan dari sembilan variabel karakteristik peserta terbukti berhubungan secara bermakna dengan RITL, yaitu umur (AOR kelompok anak-anak tertinggi), jenis kelamin (AOR kelompok perempuan tertinggi), penyakit penyerta sebagai indikator terkuat (AOR=4,258), segmentasi kepesertaan (AOR PBI yang memiliki peluang tertinggi), hak kelas rawat (kelas II dan III lebih berisiko), wilayah tempat tinggal berdasarkan kepulauan (Maluku dan Papua tertinggi), dan kabupaten/kota (Kabupaten AOR=1,431), serta jenis fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) terdaftar (Puskesmas tertinggi); sementara status perkawinan tidak terbukti berhubungan secara bermakna setelah dikontrol variabel lain. Nilai R-Square model sebesar 0,112 menunjukkan bahwa masih terdapat faktor lain di luar penelitian ini yang turut memengaruhi utilisasi RITL. Penelitian ini menyimpulkan bahwa frekuensi kunjungan rawat jalan semata tidak cukup digunakan sebagai indikator keberhasilan dalam pengelolaan DM, sehingga diperlukan penguatan kualitas pelayanan di FKTP, optimalisasi Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis), serta perhatian khusus pada kelompok rentan seperti peserta PBI dan wilayah dengan akses pelayanan kesehatan terbatas, guna menurunkan kejadian RITL dan mengendalikan pembiayaan JKN bagi penderita DM.

Diabetes mellitus (DM) is one of the non-communicable diseases that imposes a significant financial burden on Indonesia's National Health Insurance (JKN) program, with claim costs continuously increasing each year, while the role of outpatient care utilization in preventing complications has not been clearly established in relation to advanced inpatient care utilization (RITL). This study aims to analyze the association between outpatient care utilization and RITL among JKN participants with DM in Indonesia in 2023−2024, along with participant characteristics associated with RITL. This study employed an observational design with a cross-sectional approach using the BPJS Kesehatan Diabetes Mellitus Contextual Sample Data, with a total sample of 792,874 participants (weighted). Data were analyzed univariately, bivariately using simple logistic regression, and multivariately using multiple logistic regression. The results showed that 13,4% of participants utilized RITL services, while only 17,3% of participants were classified as routine outpatient visitors (≥12 visits per year). Multivariate analysis showed that outpatient care utilization was significantly associated with RITL (p=0,000), where non-routine participants had a 0,911 times lower odds of RITL (AOR=0,911; 95% CI: 0,895−0,927) compared to routine participants. This finding can be explained through the concept of need-based utilization within Andersen's Model. Furthermore, eight of nine participant characteristic variables were significantly associated with AICU, namely age (children group had the highest AOR), gender (women group had the highest AOR), comorbidities as the strongest indicator (AOR=4,258), membership segmentation (PBI had the highest odds), inpatient class rights (classes II and III were at higher risk), region of residence based on island groups (Maluku and Papua had the highest odds) and regency/city status (regency, AOR=1,431), as well as the type of registered primary healthcare facility (Puskesmas had the highest odds); meanwhile, marital status was not significantly associated after controlling for other variables. The model's R-Square value of 0,112 indicates that other factors beyond this study still contribute to AICU utilization. This study concludes that outpatient visit frequency alone is insufficient as an indicator of successful DM management; therefore, strengthening service quality at primary healthcare facilities, optimizing the Chronic Disease Management Program (Prolanis), and giving special attention to vulnerable groups such as PBI participants and regions with limited healthcare access are needed to reduce RITL occurrence and control JKN financing for DM patients
Read More
S-12364
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive