Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35437 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rabiatul Adawiah; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Bambang Wispriyono, Zakianis, Yulia Fitria Ningrum, Aria Kusuma
Abstrak:

Penyakit diare menjadi salah satu gangguan gastrointestinal yang sering terjadi pada anak usia balita dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Provinsi Papua Pegunungan memiliki capaian sanitasi rendah dan prevalensi diare balita tertinggi di Indonesia pada tahun 2023. Faktor lingkungan dan faktor ibu merupakan faktor yang saling berkaitan dengan kejadian diare pada anak balita. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor risiko kejadian diare pada anak balita di Provinsi Papua Pegunungan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan sumber data diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan jumlah sampel yang dianalisis sebesar 266 anak usia 0-59 bulan di Provinsi Papua Pegunungan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square dan multivariat menggunakan regresi logistik model determinan. Hasil menunjukkan ada hubungan antara sumber air minum, akses sanitasi, jenis lantai dan pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita. Pendidikan ibu rendah merupakan faktor paling dominan berpengaruh terhadap kejadian diare. Anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan rendah akan berisiko 2,832 kali lebih besar untuk mengalami diare dibandingkan anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan tinggi. Diperlukan kerjasama dari pemerintah dan masyarakat dalam peningkatan akses pendidikan yang merata disetiap wilayah serta kolaborasi penyelenggara kesehatan untuk meningkatkan pendidikan kesehatan melalui promosi kesehatan terpadu terkait perilaku hidup bersih dan sehat dalam lingkungan rumah tangga.


Diarrhea is one of the most common gastrointestinal disorders in children under five years of age and is a major cause of morbidity and mortality. Papua Pegunungan Province has the lowest sanitation achievement and the highest prevalence of under five years of diarrhea in Indonesia by 2023. Environmental factors and maternal factors are interrelated with the incidence of diarrhea in children under five years. The purpose of this study was to analyze the risk factors for the incidence of diarrhea in children under five years in Papua Pegunungan Province. This study used a cross sectional design and the data source from the Indonesian Health Survey in 2023 with a total sample of  266 children aged 0-59 months in Papua Pegunungan Province. Data were analyzed univariate, bivariate with Chi- Square test and multivariate with logistic regression of determinant models. Results showed an association between drinking water source, sanitation access, floor type and mother's education with the incidence of diarrhea in children under five. Low maternal education is the most dominant factor affecting the incidence of diarrhea. Children under five who come from mothers with low education will be at risk 2,832 times greater to experience diarrhea than children under five who come from mothers with high education. Cooperation is needed from the government and the community to increasing access to education that is evenly distributed in each region and collaboration of health providers to improve health education through integrated health promotion related to clean and healthy living behaviors in the household environment.

 

Read More
T-7240
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Farras Qurota A'yun Darmawan; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Fitri Kurniasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Diare didefinisikan sebagai kondisi buang air besar sebanyak tiga kali atau lebih dalam sehari dengan tinja encer atau cair. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diare pada balita di Provinsi Banten berada di atas prevalensi nasional (4,9%) yaitu sebesar 5,6%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian diare pada balita usia 0-59 bulan di Provinsi Banten berdasarkan data SKI 2023 yang mencakup tiga kelompok faktor risiko, yaitu karakteristik balita (status imunisasi dasar, status gizi balita, dan suplemen vitamin A), karakteristik ibu (pendidikan ibu, pengolahan air minum, kebiasaan CTPS), dan karakteristik lingkungan (sumber air minum, kondisi jamban, pengelolaan air limbah, dan pengelolaan sampah). Jumlah responden yang dianalisis dalam penelitian ini sebanyak 1.256 balita yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kejadian diare pada balita dengan pengolahan air minum (POR=0,43; 95% CI: 0,25–0,73) dan kondisi jamban (POR=0,56; 95% CI: 0,31–0,98). Faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian diare pada balita adalah pengolahan air minum (POR=0,41; 95% CI: 0,23–0,70).

Diarrhea is defined as having three or more bowel movements per day with loose or watery stools. According to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of diarrhea among toddlers in Banten Province was higher than the national prevalence (4.9%), at 5.6%. This study aims to analyze the determinants of diarrhea incidence among children aged 0–59 months in Banten Province based on 2023 SKI data, covering three groups of risk factors: child characteristics (basic immunization status, child nutritional status, and vitamin A supplementation), maternal characteristics (maternal education, drinking water treatment, CTPS habits), and environmental characteristics (drinking water source, latrine conditions, wastewater management, and waste management). The number of respondents analyzed in this study was 1,256 infants who met the inclusion and exclusion criteria. The study employed a cross-sectional design with multivariate analysis using multiple logistic regression. The results of the analysis showed a significant association between the incidence of diarrhea in toddlers and drinking water treatment (POR=0.43; 95% CI: 0.25–0.73) and latrine conditions (POR=0.56; 95% CI: 0.31–0.98). The factor most strongly associated with the incidence of diarrhea in infants was drinking water treatment (POR=0.41; 95% CI: 0.23–0.70).   
Read More
S-12241
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imtinan Nabilah; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Bambang Wispriyono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian diare pada balita di Provinsi Maluku berdasarkan data SDKI tahun 2017. Dengan menggunakan desain studi cross sectional dan jumlah sampel sebanyak 238. Bentuk analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini adalah analisis univariat dan bivariat (chi square dan uji OR). Variabel yang digunakan pada penelitian ini adalah usia, jenis kelamin, konsumsi vitamin A, tingkat pendidikan ibu, sumber air minum, tipe kakus, tempat pembuangan tinja balita serta pola tempat tinggal dan hasil penelitian menunjukan bahwa tidak ada variabel yang signifikan terhadap kejadian diare pada balita.
Read More
S-10616
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Airadiba Hadad; Pembimbing: Ririn Arminsih; Penguji: Budi Hartono, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proporsi diare pada balita di DKI Jakarta dan mengetahui hubungan sumber air minum, pengolahan air minum, fasilitas sanitasi, fasilitas cuci tangan, suplementasi vitamin A, dan pendidikan ibu sebagai faktor risiko terhadap kejadian diare pada balita. Desain penelitian menggunakan desain studi potong lintang dengan menggunakan data sekunder dari SDKI 2017. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh balita usia 0-59 bulan yang tercatat dalam data Provinsi DKI Jakarta sebagai bagian dari sampel SDKI 2017. Dari 695 sampel balita hidup, didapatkan 370 sampel yang memenuhi kriteria. Analisis yang dilakukan adalah analisis univariat dan bivariat.
Read More
S-10584
Depok : FKM UI, 2021
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citta Zahra Primalia; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah, Okky Assetya Pratiwi
Abstrak:
Filariasis merupakan Neglected Tropical Diseases (NTDs) yang menyebabkan limfedema dan hidrokel. Meski jarang menyebabkan kematian, filariasis bersifat kronis dan dapat menyebabkan kecacatan seumur hidup. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Provinsi Papua Tengah menjadi wilayah dengan prevalensi filariasis tertinggi, sebesar 4,8%. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian filariasis di Provinsi Papua Tengah. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 dan jumlah sampel sebanyak 5.408 responden. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tempat tinggal dan penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian filariasis. Penggunaan obat anti nyamuk merupakan variabel yang paling dominan terhadap kejadian filariasis di Provinsi Papua Tengah.


Filariasis is a Neglected Tropical Diseases (NTDs) that causes lymphedema and hydrocele. Although rarely fatal, filariasis is chronic illness and can cause a lifelong disability. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), Central Papua is the region with the highest prevalence of filariasis, at 4,8%. The purpose of this study was to analyze factors related to the incidence of filariasis in Central Papua. This study used a cross-sectional design with data from the 2023 Indonesian Health Survey and a sample size of 5,408 respondents. Data analysis used in this research are the chi-square test and logistic regression. The results showed a relationship between residence and the use of mosquito repellent with the incidence of filariasis. The use of mosquito repellent is the most dominant variable in the incidence of filariasis in Central Papua.

Read More
T-7378
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nia Junia Puteri; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Budi Hartono, Syafran Arrazy, Amrina Rosyada
Abstrak:
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia dan produktivitas di masa depan. Berdasarkan data SKI 2023, Provinsi Papua Tengah menjadi provinsi yang memiliki prevalensi tertinggi stunting pada baduta. Stunting bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti faktor anak, rumah tangga, dan komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor anak (jenis kelamin, IMD, ASI eksklusif, dan diare), rumah tangga (sumber air minum, akses sanitasi, pengelolaan limbah, dan pengelolaan sampah), dan komunitas (tempat tinggal) terhadap kejadian stunting pada baduta (6-23 bulan) di Provinsi Papua Tengah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan besar sampel yang dianalisis sebesar 175 anak yang bersumber dari data SKI 2023. Analisis pada penelitian ini menggunakan analisis complex sample terdiri dari univariat, bivariat (uji chi square), dan multivariat (uji regresi logistik model prediksi). Hasil univariat menunjukkan bahwa prevalensi baduta (6-23 bulan) yang mengalami stunting di Provinsi Papua Tengah sebesar 36,8%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin yang memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting pada baduta (6-23 bulan) di Provinsi Papua Tengah (p-value = 0,025; OR = 2,210; 95% CI = 1,103 – 4,430). Sementara, analisis multivariat menunjukkan bahwa tempat tinggal menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting pada baduta (6-23 bulan) di Provinsi Papua Tengah (p-value = 0,044; OR = 2,509; 95% CI = 1,024 – 6,145). Diharapkan kepada pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah dapat meningkatkan program intervensi stunting berbasis wilayah, terutama di daerah perdesaan, dengan fokus pada kesehatan ibu dan anak, serta kesehatan lingkungan (seperti sanitasi, sampah dan limbah), melalui kolaborasi dengan berbagai pihak terkait.

Stunting is a health issue that can disrupt children's growth and development, affecting the quality of human resources and future productivity. According to the 2023 SKI data, Central Papua Province has the highest prevalence of stunting among children aged 6-23 months. Stunting can be caused by various factors, including child, household, and community-related factors. This study aims to analyze the relationship between child-related factors (gender, early initiation of breastfeeding, exclusive breastfeeding, and diarrhea), household factors (source of drinking water, sanitation access, waste management, and garbage disposal), and community factors (place of residence) with the incidence of stunting among toddlers (aged 6–23 months) in Central Papua Province. The study uses a cross-sectional design with a sample size of 175 children sourced from the 2023 SKI data. The analysis includes complex sample analysis, comprising univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate (logistic regression prediction model) analyses. The univariate results show that the prevalence of stunting in children aged 6-23 months in Central Papua Province is 36.8%. The bivariate analysis reveals that gender is significantly associated with stunting incidence (p-value = 0,025; OR = 2,210; 95% CI = 1,103 – 4,430). Meanwhile, the multivariate analysis indicates that residence type is the most influential factor on stunting incidence (p-value = 0,044; OR = 2,509; 95% CI = 1,024 – 6,145). It is expected that the local government, through the Health Office of Central Papua Province, can improve region-based stunting intervention programs, particularly in rural areas, focusing on maternal and child health, and environmental health (such as sanitation, waste and sewage management), through collaboration with various related stakeholders.
Read More
T-7248
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Septia Rini Rizki; Pembimbing: Ema Hermawati; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Budi Hartono, Didik Supriyono, Yulia Fitri Ningrum
Abstrak:
Kota Depok merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Barat yang tercatat memiliki kasus diare tertinggi, dimana salah satu kecamatan dengan kasus diare terbanyak adalah Kecamatan Tapos dengan jumlah 1.274 kasus. Beberapa faktor risiko penyakit diare adalah mengkonsumsi air atau makanan yang terkontaminasi tinja, serta perilaku higiene ibu dan sanitasi rumah tangga yang buruk. Kontaminasi tinja dalam makanan atau air minum dapat dilihat dari jumlah kandungan bakteri Escherichia coli. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara keberadaan Escherichia coli dalam air minum, perilaku higiene ibu dan sanitasi rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Tapos. Penelitian merupakan studi cross sectional dengan total 100 responden yang terbagi di 7 kelurahan (Tapos, Cilangkap, Cimpaeun, Sukamaju Baru, Jatijajar, Sukatani, dan Leuwinanggung) dan diambil dengan metode simple random sampling. Sampel air minum rumah tangga diuji dengan metode MPN (Most Probable Number) di Laboratorium FKM UI. Sementara data perilaku higiene ibu dan sanitasi rumah tangga didapatkan dengan metode wawancara dan observasi langsung ke rumah responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 29% balita mengalami diare dan 93% air minum tidak memenuhi syarat. Hasil uji statistik didapatkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu mengenai diare (p = 0,045; OR = 3; CI: 1,13- 7,95) dan kebiasaan cuci tangan (p = 0,017; OR = 3,7; CI: 1,36-10,18) dengan kejadian diare pada balita di Kecamatan Tapos. Sementara pengetahuan ibu mengenai higiene (p = 0,072; OR = 8,07; CI: 0,8-81,16), kebiasaan gunting kuku (p = 0,781; OR = 1,3; CI: 0,48-3,51), kebiasaan menutup hidangan makanan (p = 0,626; OR = 1,6; CI: 0,26-10,61), dan kebiasaan memasak dan menyimpan air minum (p = 0,548; OR = 1,5; CI: 0,51-4,87) tidak memiliki hubungan dengan kejadian diare pada balita. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kebiasaan cuci tangan merupakan faktor risiko dan menjadi faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi kejadian diare pada balita di Kecamatan Tapos

Depok is one of the cities that has the highest diarrhea cases, where is the districts with the most diarrhea cases is Tapos District with 1,274 cases. Some risk factors for diarrheal disease are consuming water contaminated with feces, maternal hygiene behavior, and poor household sanitation. Fecal contamination in drinking water can be seen from the amount of Escherichia coli bacteria. The purpose of this study was to determine the relationship between Escherichia coli in drinking water, maternal hygiene behavior, and household sanitation with the incidence of diarrhea in infants in Tapos District. The study was a cross sectional with a total of 100 respondents divided into 7 villages (Tapos, Cilangkap, Cimpaeun, Sukamaju Baru, Jatijajar, Sukatani, and Leuwinanggung). Household drinking water samples were tested by the MPN (Most Probable Number) method at the Laboratory of Public Health Faculty University of Indonesia. While data on maternal hygiene behavior and household sanitation  were obtained by interview and direct observation to the respondent's house. The results showed that 29% of children under five experienced diarrhea and 93% of drinking water did not meet the requirements. Statistical test results found that there is a relationship between maternal knowledge about diarrhea (p = 0,045; OR = 3 CI: 1,13-7,95) and hand washing habits (p = 0,017; OR = 3,7 CI: 1,36-10,18) with the incidence of diarrhea in infants in Tapos District. While there was no relationship between maternal knowledge about hygiene, the habit of nail clip, the habit of closing food, and the habit of cooking and storing drinking water with the incidence of diarrhea in toddlers in Tapos District.

Read More
T-5898
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tony Wibowo Harianto; Pembimbing: Rachmadhi Purwana, Budi Haryanto
T-1875
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuni Andrianningsih; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan pada balita yang prevalensinya mengalami peningkatan. Kondisi ini diperparah oleh tingginya kepadatan penduduk, rendahnya persentase rumah layak huni, serta paparan polutan udara perkotaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data sekunder SKI. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik balita (usia, jenis kelamin, riwayat BBLR, dan status imunisasi dasar), karakteristik keluarga (pendidikan ibu dan perilaku merokok anggota keluarga), serta kondisi lingkungan rumah (jenis atap, dinding, dan lantai). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara seluruh variabel yang diteliti dengan kejadian ISPA (p > 0,05). Berdasarkan pemodelan multivariat, jenis atap rumah merupakan faktor yang paling dominan terhadap kejadian ISPA pada balita. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya penelitian lebih lanjut dengan melibatkan variabel-variabel lain di luar cakupan studi ini guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pengendalian ISPA pada balita tetap perlu dilakukan dengan pendekatan multisektoral, seperti mengadakan program intervensi rumah layak huni, meningkatkan kegiatan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai faktor risiko ISPA, dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.

Acute Respiratory Tract Infection (ARI) is a health problem in toddlers whose  prevalence is increasing. This condition is exacerbated by high population density,  low percentage of habitable houses, and exposure to urban air pollutants. This study  aims to analyze the determinants of the incidence of ARI in toddlers in DKI Jakarta  Province using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). This study used  a cross-sectional design with secondary SKI data. The variables studied included  toddler characteristics (age, gender, history of low birth weight, and basic  immunization status), family characteristics (maternal education and smoking  behavior of family members), and home environmental conditions (type of roof,  walls, and floors). The results of the analysis showed no statistically significant  relationship between all studied variables and the incidence of ARI (p > 0.05).  However, based on multivariate modeling, the type of roof is the most dominant  factor in the incidence of ARI in toddlers. These results indicate the need for further  research involving other variables beyond the scope of this study to obtain a more  comprehensive picture. Therefore, efforts to prevent and control ARI in toddlers  still require a multisectoral approach, such as implementing a habitable housing  intervention program, increasing community education on various ARI risk factors,  and promoting clean and healthy living habits.
Read More
S-12224
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Balqis Ramandha Dewi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Fitri Kurniasari, Yulia Fitria Ningrum
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab utama morbiditas pada balita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi ISPA pada balita di Provinsi Jawa Barat sebesar 4,9%, mendekati prevalensi nasional sebesar 5,8%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita usia 0–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data SKI 2023, yang mencakup karakteristik balita, karakteristik keluarga, dan kondisi lingkungan rumah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sampel sebanyak 2.969 balita yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis data yang dilakukan meliputi analisis univariat, analisis bivariat dengan uji chi-square, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik berganda. Hasil analisis menunjukkan adanya hubungan signifikan antara kejadian ISPA pada balita dengan status imunisasi dasar (p=0,02; OR=0,55; 95% CI=0,33–0,93) dan pendidikan terakhir ibu (p=0,04; OR=0,62; 95% CI=0,39–0,98). Sementara variabel usia balita, jenis kelamin, riwayat BBLR, pemberian vitamin A, perilaku merokok anggota keluarga, jenis atap, jenis dinding, dan jenis lantai tidak memiliki hubungan signifikan terhadap kejadian ISPA. Faktor dominan yang paling mempengaruhi kejadian ISPA pada balita adalah status imunisasi dasar.

Acute Respiratory Infection (ARI) remains a major public health concern and a leading cause of morbidity among children under five in Indonesia. According to the 2023 Indonesian Health Survey (IHS), the prevalence of ARI among children under five in West Java Province was 4,9%, approaching the national prevalence of 5,8%. This study aimed to analyze the determinants of ARI incidence in children aged 0–59 months in West Java Province using 2023 SKI data, focusing on child characteristics, family characteristics, and household environmental conditions. A cross-sectional design was employed involving 2,969 children who met the inclusion criteria. Data analysis included univariate analysis, bivariate analysis using chi-square tests, and multivariate analysis through multiple logistic regression. Results revealed significant relationships between ARI incidence and basic immunization status (p=0.02; OR=0.55; 95% CI=0.33–0.93) and maternal education level (p=0.04; OR=0.62; 95% CI=0.39–0.98). Meanwhile, child’s age, gender, history of low birth weight, vitamin A supplementation, household smoking behavior, roof type, wall type, and floor type did not show significant associations with ARI incidence. Basic immunization status was identified as the most dominant determinant of ARI incidence in under-five children.
Read More
S-11947
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive