Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 32107 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Qurrotul A'yuni; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan diameter dan daya listrik turbine fan yang dilengkapi dengan filter HEPA buatan berbahan meltblown nonwoven polypropylene terhadap efektivitas penurunan konsentrasi partikel PM2.5. Penelitian ini penting mengingat polusi udara, khususnya PM2.5, menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Metodologi penelitian yang digunakan adalah eksperimen laboratorium yang dilakukan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Data dikumpulkan melalui pemantauan real-time menggunakan Particle Counter CEM DT-9881M, serta pengukuran kecepatan angin, kecepatan putar baling-baling, dan tingkat kebisingan menggunakan Digital Vane Anemometer Lutron AM-4222, Digital Laser Photo Tachometer LCD 2.5-99999 RPM, dan 3M SoundPro Class 1 Sound Level Meter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem dengan kipas turbin berdiameter 10” dan daya listrik 50 watt menghasilkan efektivitas penurunan PM2.5 sebesar 95.28% dan CADR sebesar 107.35 cfm (ACH = 4.8), sedangkan sistem dengan kipas turbin 6” dan daya 32 watt hanya mencapai efektivitas 82.66% dan CADR 49.91 cfm (ACH = 2.3). Uji statistik menunjukkan perbedaan signifikan (p < 0.05) antara kedua konfigurasi, tetapi korelasi kecepatan angin dan RPM terhadap efektivitas tidak signifikan. Temuan ini menegaskan pentingnya mempertimbangkan spesifikasi kipas dan desain sistem secara keseluruhan untuk mengoptimalkan performa pemurnian udara

This study aims to analyze the influence of different diameters and electrical power of turbine fans with homemade HEPA filters (meltblown nonwoven polypropylene) on the effectiveness of reducing PM2.5 concentration. This research is important considering that air pollution, especially PM2.5, is a serious threat to human health. The research methodology used is a laboratory experiment conducted at the Faculty of Public Health, University of Indonesia. Data was collected through real-time monitoring using the Particle Counter CEM DT-9881M, as well as measurements of wind speed, propeller rotation speed, and noise level using the Lutron AM-4222 Digital Vane Anemometer, the 2.5-99999 RPM LCD Digital Laser Photo Tachometer, and the 3M SoundPro Class 1 Sound Level Meter. The results showed that the system with a 10" diameter turbine fan and 50 watts of electrical power produced a PM2.5 reduction effectiveness of 95.28% and a CADR of 107.35 cfm (ACH = 4.8), while a system with a 6" turbine fan and a power of 32 watts achieved only 82.66% effectiveness and a CADR of 49.91 cfm (ACH = 2.3). Statistical tests showed a significant difference (p < 0.05) between the two configurations, but the correlation of wind speed and RPM to effectiveness was not significant. These findings confirm the importance of considering fan specifications and overall system design to optimize air purification performance.
Read More
S-11879
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Khairani Fatmah; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Tubagus Dwika Yuantoko, Laksita Ri Hastiti
Abstrak:
Paparan partikel halus (PM2.5) di dalam ruangan dapat berdampak buruk bagi kesehatan, sehingga diperlukan solusi yang efektif dan terjangkau. Penelitian ini bertujuan menguji efektivitas penggunaan air purifier sederhana dengan filter HEPA berbahan meltblown nonwoven polypropylene dalam menurunkan konsentrasi PM2.5 di ruang tertutup. Eksperimen dilakukan di Laboratorium K3 FKM UI pada Januari–April 2025, dengan dua skenario utama: satu dan dua unit air purifier. Pengukuran dilakukan secara real-time menggunakan air particle counter CEM DT-9883M, serta didukung data suhu, kelembaban, kecepatan aliran udara, dan putaran kipas. Hasil menunjukkan bahwa dua air purifier lebih efektif dibanding satu unit, terutama jika ditempatkan di posisi depan dan belakang ruangan, dengan rata-rata penurunan konsentrasi PM2.5 mencapai 98,8%. Efektivitas konfigurasi ini sekitar 5% lebih tinggi dibandingkan penggunaan satu alat. Selain itu, penggantian turbin pada air purifier tunggal juga memberikan hasil lebih baik, menurunkan konsentrasi dari 56,67 µg/m³ menjadi 46 µg/m³. Hasil ini menegaskan bahwa peningkatan jumlah dan penataan posisi air purifier dapat menjadi strategi sederhana namun signifikan dalam memperbaiki kualitas udara dalam ruangan.

Indoor fine particle exposure (PM2.5) can have a negative impact on health, so an effective and affordable solution is needed. This study aims to prove the effectiveness of using a simple air purifier with a HEPA filter made of Meltblown Nonwoven Polypropylene in reducing PM2.5 concentrations in closed spaces. The experiment was conducted at the FKM UI K3 Laboratory in January–April 2025, with two main scenarios: one and two air purifier units. Measurements were carried out in real time using a CEM DT-9883M air particle counter, and supported by data on temperature, humidity, air flow speed, and fan rotation. The results showed that two air purifiers were more effective than one unit, especially when placed at the front and back of the room, with an average reduction in PM2.5 concentration reaching 98.8%. The effectiveness of this configuration is about 5% higher than using one device. In addition, the placement of the turbine on a single air purifier also gave better results, reducing the concentration from 56.67 µg/m³ to 46 µg/m³. These results confirm that increasing the number and positioning of air purifiers can be a simple yet significant strategy in improving indoor air quality.
Read More
S-11881
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Aditya Kamallah; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan/; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Tubagus Dwika Yuantoko
Abstrak:

Polutan udara dalam ruangan, khususnya PM2.5 memberikan dampak buruk bagi kesehatan penghuni ruangan. Salah satu pengendalian untuk menurunkan konsentrasi PM2.5 adalah dengan menggunakan filter HEPA. Filter HEPA memiliki desain bahan filter yang dilipat-lipat untuk memperbesar luas permukaan filter. Penelitian ini dilakukan untuk meneliti pengaruh jumlah lipatan pada filter HEPA berbahan meltblown nonwoven polypropylene terhadap efektivitas filter dalam menurunkan konsentrasi PM2.5 di dalam ruangan. Penelitian dilakukan dalam bentuk eksperimen yang dilakukan di laboratorium Keselamatan dan Kesehatan Kerja Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia. Larutan KCl 5% disebarkan dalam bentuk partikulat ke dalam ruang uji dan digunakan berbagai variasi filter HEPA dengan jumlah lipatan berbeda untuk dilihat efektivitasnya menurunkan konsentrasi PM2.5. Variasi jumlah lipatan pada filter HEPA yang dilakukan pengujian adalah kepadatan lipatan 1 lipatan/cm, 2 lipatan/cm, dan 3 lipatan/cm. Data PM2.5 dikumpulkan secara langsung dengan CEM Air Particle Counter DT-9881. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara tiga kelompok pengujian, tidak terdapat pengaruh signifikan terhadap efektivitas filter HEPA jika dilakukan uji statistik terhadap rata-rata efektivitas filter. Sementara secara praktis, filter 2 lipatan/cm memiliki rata-rata efektivitas paling baik antara ketiga variasi jumlah lipatan, yaitu sebesar 95,28% dan memasuki kategori filter E11.


Indoor air pollution, especially PM2.5, adversely affects its occupants. One of the solutions to reduce PM2.5 concentration is using HEPA Filters. HEPA Filters are designed with pleats to broaden the filter’s surface area. This study aims to research the influence of different pleat count on melt-blown nonwoven polypropylene HEPA Filter on the effectiveness of reducing PM2.5. This research was an experimental study in the occupational and health laboratory, faculty of public health, Universitas Indonesia. A mixture of potassium chloride was dispersed in the form of particulate to the experimentation room and various HEPA filters with different pleat counts were used to see their effectivity in reducing PM2.5 concentration. Variations of pleat count that were used in these experiments were HEPA filters with pleat density of 1 pleat/cm, 2 pleats/cm, and 3 pleats/cm. Data of PM2.5 are directly read and stored with CEM Air Particle Counter DT-9881. Research finds between three variations of pleat count; there were no statistical significance between the average effectiveness percentage of each pleat count variants. Although not statistically significant, filter with pleat density of 2 pleats/cm has the highest effectiveness average between three variations, which is 95,28%, where it’s classified as E11 filter category.

Read More
S-11880
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Cindy Patricia Yosika; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Edy Sufa’at
Abstrak:
Pencemaran udara memberikan dampak yang berbahaya pada daerah yang mempunyai tingkat pencemaran udara yang tinggi akibat paparan PM2.5. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas filter antara HEPA Filter dan N95 Mask Filter dalam menurunkan PM2.5 dengan kipas angin. Penelitian ini dapat memberikan saran pengurangan partikulat yang lebih hemat dibandingkan menggunakan alat pembersih udara. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan penelitian eksperimen dengan melakukan pengujian filter sebanyak lima kali. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan alat penghitung partikulat CEM DT-9881M di kantor pengujian kendaraan bermotor. Sampel dianalisis untuk mencari hasil pengurangan konsentrasi partikulat. Hasilnya menunjukkan bahwa filter HEPA dan filter masker N95 mampu mereduksi partikulat pada kisaran 66,96% dan 59,04%. Secara keseluruhan, penelitian ini merekomendasikan penggunaan alat pembersih udara dengan filter HEPA dibandingkan filter masker N95 dengan beberapa pertimbangan.

Air pollution has a dangerous impact in areas that have high levels of air pollution due to exposure of PM2.5. This research aims to find out the effectiveness of the filter between the HEPA Filter and the N95 Mask Filter in reducing PM2.5 with a fan. This research can provide suggestions for reducing particulates that are more economical compared to using an air purifier. This research was carried out using an experimental study by testing the filter five times. The sample was taken using a CEM DT-9881M particulate counter in the motor vehicle testing office. Samples were analyzed with looking result of reducing particulate concentration. The results show that Hepa Filter and N95 Mask Filter can reduce particulates in the range of 66,96% and 59,04%. Overall, this study recommends using fan with HEPA filters to reducing PM2.5.
Read More
S-11734
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shella Rachma Dianty; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Rudy Saptari Sulesuryana
Abstrak: Diesel Particulate Matter (DPM) adalah zat yang dianggap menjadi salah satu faktor risiko dari perkembangan penyakit degeneratif seperti kanker (IARC, 2012), kardiovaskular, dan penurunan fungsi paru melalui mekanisme stress oksidatif.Stress oksidatif dianggap sebagai mekanisme perantara dari pajanan partikulat menuju dampak kesehatan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat hubungan konsentrasi biomarker stress oksidatif yaitu malondialdehyde (MDA) dan penurunan fungsi paru dengan pajanan DPM 2.5 pada kelompok terpajan (penguji mekanis di UP PKB) dan kelompok pembanding. Pengukuran DPM 2.5 dilakukan menggunakan sioutas cascade impactordan filter berjenis quartz. Analisis MDA dilakukan dengan metode Wills (1996) melalui sampel urin responden, sedangkan penurunan fungsi paru dideteksi melalui tes spirometri. Hasil menunjukkan pajanan DPM 2.5 secara signifikan berhubungan dengan peningkatan konsentrasi MDA dan penurunan fungsi paru-paru, dengan derajat keeratan sedang hingga kuat (r= 0,438; r=-0,629; p<0,05). Pajanan DPM 2.5 secara kronis dapat menyebabkan peningkatan konsentrasi MDA dalam urin dan menurunkan fungsi paru, sehingga tindakan korektif dan preventif perlu dilakukan pada kelompok yang terpajan dengan DPM 2.5 untuk mencegah efek kesehatan kronis di kemudian hari. Kata Kunci: Partikulat Diesel 2.5, Malondialdehyde, FungsiParu Diesel Particulate Matter (DPM) 2.5 µm is considered to be one of the risk factors for degenerative diseases such as cancer (IARC, 2012), cardiovascular, and declined lung function through oxidative stress mechanism. Oxidative stress is considered as an intermediary mechanism from particulate exposure to health effects. This study was conducted to see the correlation of oxidative stress biomarker which is malondialdehyde (MDA) and decline of lung function with DPM 2.5 exposure in exposed group and non-exposed group. Sampling DPM 2.5 was performed using sioutas cascade impactor and quartz type filter. MDA analysis was done by Wills (1996) method through respondent's urine sample, whereas pulmonary function decline was detected through spirometry test. The results show that DPM 2.5 exposure was significantly associated with elevated MDA concentrations and declined lung function, with moderate to stronger degree (r = 0.438; r = -0.629; p<0,05). Chronic DPM 2.5 exposure may lead to increased MDA concentrations in the urine and declined lung function, so corrective and preventive action should be taken groups exposed to DPM 2.5 to prevent chronic health effects in the future. Keyword: Diesel Particulate Matter 2.5, Malondialdehyde, Lung Function
Read More
S-9690
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alda Fuji Yahmi; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Edy Sufa'at
Abstrak:
Pencemaran udara, khususnya oleh partikulat PM2.5, telah menjadi masalah kesehatan global yang signifikan, baik di dalam maupun di luar ruangan. Studi ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas penggunaan kipas angin turbin dengan filter sebagai penjernih udara do-it-yourself di Unit Pelayanan Pengujian Kendaraan Bermotor (UP PKB) Pulogadung. Unit Pelayanan Pengujian Kendaraan Bermotor Pulogadung, sebagai sumber aktif PM2.5 dari aktivitas pengujian kendaraan, memiliki rata-rata konsentrasi PM2.5 yang tinggi, yang dapat berdampak pada kesehatan pekerja. Melalui eksperimen, penelitian ini bertujuan untuk mengukur kemampuan alat dalam mengurangi konsentrasi PM2.5 di dalam ruangan serta potensi penggunaannya sebagai alternatif penjernih udara untuk menurunkan konsentrasi PM2.5 dalam hal menjaga kualitas udara dalam ruangan di tempat kerja tetap baik. Hasil studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap upaya-upaya pengendalian kualitas udara dalam ruangan di lingkungan industri, terutama dalam konteks pengujian kendaraan bermotor di negara berkembang seperti Indonesia.

Air pollution, particularly by PM2.5 particulate matter, has become a significant global health issue, both indoors and outdoors. This study aims to explore the effectiveness of using a DIY turbine fan with a filter as an air purifier at the Motor Vehicle Testing Unit (UP PKB) Pulogadung. Unit Pelayanan Pengujian Kendaraan Bermotor Pulogadung, as an active source of PM2.5 from vehicle testing activities, exhibits high average PM2.5 concentrations, which can impact the health of workers there. Through experimentation, this research aims to measure the device's ability to reduce indoor PM2.5 concentrations and its potential use as a mitigation strategy to maintain indoor air quality in workplace settings. The findings of this study are expected to contribute to efforts in controlling indoor air quality in industrial environments, particularly in the context of motor vehicle testing in developing countries like Indonesia.
Read More
S-11708
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Puti Afifah Sholeha; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Mufti Wirawan, Zulkifli Djunaidi, Ahmad Afif Mauludi, Putri Pujianti
Abstrak:
Industri pertambangan memiliki risiko kecelakaan kerja yang tinggi. PT X mengimplementasikan Mobile Apps pelaporan K3, namun efektivitasnya belum dievaluasi secara komprehensif. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi efektivitas aplikasi tersebut melalui kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (UTAUT2), dampaknya terhadap Safety Behavior pekerja, serta analisis leading dan lagging indicators keselamatan. Metode penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif-eksplanatori dengan pendekatan cross-sectional (Maret–Mei 2026) di PT X, Kabupaten Tapin. Sampel terdiri dari 10 pakar manajemen (TELOS) dan 243 pekerja (UTAUT2 dan Safety Behavior). Analisis data menggunakan statistik deskriptif dan PLS-SEM dengan SmartPLS. Hasil TELOS berkategori Baik (grand mean 4,10) dan seluruh variabel UTAUT2 berada pada kategori Setuju. Uji PLS-SEM menunjukkan Hedonic Motivation dan Habit berpengaruh signifikan terhadap Behavioral Intention (R² = 0,776), sedangkan Habit, Behavioral Intention, dan Facilitating Conditions berpengaruh signifikan terhadap Use Behavior (R² = 0,731). Use Behavior berdampak positif-signifikan terhadap Safety Compliance dan Safety Participation, menempatkan Safety Behavior pada level sangat baik. Analisis leading indicator menunjukkan Rate Pemenuhan QSAP menurun dari 104,46% pada tahun 2024 menjadi 101,08% pada tahun 2025, atau turun 3,38 poin persentase, meskipun kedua capaian tetap melampaui target 100%. Analisis lagging indicators menunjukkan Frequency Rate (FR) Nearmiss meningkat dari 1,86 menjadi 3,13 dan Property Damage dari 1,46 menjadi 4,00; FR Fire Case menurun dari 0,53 menjadi 0,17, sedangkan MTI, LTI, dan Fatality tetap 0,00. Kesimpulannya, Mobile Apps PT X terbukti efektif pada tingkat kelaikan sistem (TELOS), penerimaan pengguna (Behavioral Intention), dan perilaku keselamatan individu (Safety Compliance dan Safety Participation), namun belum sepenuhnya efektif pada tingkat kinerja keselamatan organisasi, sebagaimana ditunjukkan oleh penurunan leading indicator dan kenaikan FR pada Nearmiss serta Property Damage. Temuan ini menegaskan bahwa efektivitas sistem informasi keselamatan perlu dinilai secara berjenjang, dari kelaikan teknologi hingga dampak nyata pada kinerja organisasi, dan bahwa penguatan pada dimensi organisasi (mekanisme tindak lanjut, konsistensi reward-punishment, dan kepemimpinan) menjadi kunci untuk menutup kesenjangan tersebut.

The mining industry is a high-risk sector for occupational accidents. PT X implemented Mobile Apps for OHS reporting, but its effectiveness has not been comprehensively evaluated. This study aims to evaluate the application's effectiveness across system feasibility (TELOS), user acceptance (UTAUT2), its impact on workers' Safety Behavior, and safety leading and lagging indicators. A quantitative descriptive-explanatory design with a cross-sectional approach was conducted from March to May 2026 at PT X, Tapin Regency. The sample included 10 managerial experts (TELOS) and 243 workers (UTAUT2 and Safety Behavior). Data were analyzed using descriptive statistics and PLS-SEM via SmartPLS. TELOS results showed a Good category (grand mean 4.10) and all UTAUT2 variables were in the Agree category. PLS-SEM results showed that Hedonic Motivation and Habit significantly influenced Behavioral Intention (R² = 0.776), while Habit, Behavioral Intention, and Facilitating Conditions significantly influenced Use Behavior (R² = 0.731). Use Behavior had a positive and significant effect on Safety Compliance and Safety Participation, placing Safety Behavior at a very good level. Leading-indicator analysis showed that the QSAP Fulfillment Rate declined from 104.46% in 2024 to 101.08% in 2025, a decrease of 3.38 percentage points, although both values remained above the 100% target. Lagging-indicator analysis showed that the Frequency Rate (FR) for Nearmisses increased from 1.86 to 3.13 and Property Damage from 1.46 to 4.00; the FR for Fire Cases declined from 0.53 to 0.17, while MTI, LTI, and Fatality remained at 0.00. In conclusion, Mobile Apps at PT X proved effective at the system feasibility, user acceptance, and individual safety behavior levels (Safety Compliance and Safety Participation), but was not yet fully effective at the organizational safety performance level, as indicated by the decline in the leading indicator and the increased FR for Nearmisses and Property Damage. This finding indicates that the effectiveness of a safety information system must be assessed in a tiered manner, and that strengthening organizational-level factors (corrective follow-up mechanisms, reward-punishment consistency, and leadership) is key to closing this gap.
Read More
T-7641
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfha Aulia Nasution; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Dadan Erwandi, Christoffel Maranto
Abstrak: Kelelahan merupakan hal yang sering terjadi di berbagai industri, termasuk industri transportasi dalam hal ini khususnya pada masinis KRL. Aktivitas yang dilakukan oleh masinis KRL memiliki potensi menimbulkan terjadinya kelelahan kerja dikarenakan karakteristik pekerjaan dari masinis yang berisiko terpapar oleh faktor fisik (postur janggal), psikososial (usaha, peghargaan, overcommitment, pekerjaan monoton, dukungan social dari rekan kerja, atsan dan keluarga, stres kerja dan shift), dan faktor individu (umur, indeks massa tubuh, status merokok).Penelitian ini dilakukan pada masinis KRL UPT Crew Depok PT. KCI. Desain penelitian yang dilakukan pada penelitian ini bersifat kuantitatif observasional dangan pendekatan cross sectional. Penelitian sebelumnya terkait kejadian kelelahan kerja meneliti faktor risiko psikososial sedangkan masih sedikit penelitian yang meneliti faktor risiko fisik. Selain itu penelitian terkait kelelahan kerja pada umumnya menggunakan instrumen kuesioner sedangkan dalam penelitian ini selain menggunakan instrumen kuesioner juga melakukan pengukuran secara objektif melalui pengukran Salivary Alpha Amilase (SAA) menggunakan cocorometer sebagai salah satu indikator untuk mengukur tingkat stres dan menggunakan aplikasi sleep-2-peak untuk mengukur kelelahan kerja. Hal tersebut yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian terkait gambaran kelelahan kerja serta mengalisis hubungan faktor fisik, psikososial, dan faktor individu terhadap kelelahan kerja pada masinis KRL PT. KCI tahun 2018.
Kata kunci: ix Universitas Indonesia Kelelahan, faktor risiko fisik, faktor risiko psikososial, masinis

Fatigue is a common occurrence in many industries, including the transportation industry in this case particularly in electric train drivers. Activities performed by commuter train drivers have the potential to cause fatigue due to job characteristics of train drivers are at risk of exposure to physical factor (awkward posture), psychosocial factores (effort, reward, overcommitment, monotonous work, social support from co-workers, supervisor and family, work related stress and shift), and individual factors (age, body mass index, smoking status). This research was carried out on the train drivers of UPT Crew Depok PT. KCI. The design of this research is quantitative observational with cross sectional approach. Previous studies have linked the incidence of work fatigue to psychosocial risk factors while only few studies have examined physical risk factors. In addition, the study related to work fatigue in general used questionnaire instrument while in this study in addition to using the questionnaire instrument also made an objective measurement through Salivary Alpha Amylase (SAA) using cocorometer as one of the indicators to measure stress levels and using sleep-2-peak applications to measure work related fatigue.This is the the background to conduct research related to the overview of work related fatigue as well as to analyze the relationship of physical factors, psychosocial, and individual factors to work related fatigue in train drivers of PT. KCI 2018.
Key word: Fatigue, physical risk factors, psychosocial risk factors, train drivers
Read More
S-9825
Depok : FKM UI, 2018
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Tahta Kurniawan; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Mila Tejamaya, Rudy Saptari Sulesuryana
S-9210
Depok : FKM-UI, 2016
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Larona Gurning; Pembimbing: L. Meily Kurniawidjaja
S-3651
Depok : FKM UI, 2004
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive