Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41607 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nia Junia Puteri; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Budi Hartono, Syafran Arrazy, Amrina Rosyada
Abstrak:
Stunting merupakan salah satu masalah kesehatan yang dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak, yang berdampak pada kualitas sumber daya manusia dan produktivitas di masa depan. Berdasarkan data SKI 2023, Provinsi Papua Tengah menjadi provinsi yang memiliki prevalensi tertinggi stunting pada baduta. Stunting bisa disebabkan oleh banyak faktor, seperti faktor anak, rumah tangga, dan komunitas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor anak (jenis kelamin, IMD, ASI eksklusif, dan diare), rumah tangga (sumber air minum, akses sanitasi, pengelolaan limbah, dan pengelolaan sampah), dan komunitas (tempat tinggal) terhadap kejadian stunting pada baduta (6-23 bulan) di Provinsi Papua Tengah. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dengan besar sampel yang dianalisis sebesar 175 anak yang bersumber dari data SKI 2023. Analisis pada penelitian ini menggunakan analisis complex sample terdiri dari univariat, bivariat (uji chi square), dan multivariat (uji regresi logistik model prediksi). Hasil univariat menunjukkan bahwa prevalensi baduta (6-23 bulan) yang mengalami stunting di Provinsi Papua Tengah sebesar 36,8%. Analisis bivariat menunjukkan bahwa jenis kelamin yang memiliki hubungan yang bermakna dengan kejadian stunting pada baduta (6-23 bulan) di Provinsi Papua Tengah (p-value = 0,025; OR = 2,210; 95% CI = 1,103 – 4,430). Sementara, analisis multivariat menunjukkan bahwa tempat tinggal menjadi faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian stunting pada baduta (6-23 bulan) di Provinsi Papua Tengah (p-value = 0,044; OR = 2,509; 95% CI = 1,024 – 6,145). Diharapkan kepada pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan Provinsi Papua Tengah dapat meningkatkan program intervensi stunting berbasis wilayah, terutama di daerah perdesaan, dengan fokus pada kesehatan ibu dan anak, serta kesehatan lingkungan (seperti sanitasi, sampah dan limbah), melalui kolaborasi dengan berbagai pihak terkait.

Stunting is a health issue that can disrupt children's growth and development, affecting the quality of human resources and future productivity. According to the 2023 SKI data, Central Papua Province has the highest prevalence of stunting among children aged 6-23 months. Stunting can be caused by various factors, including child, household, and community-related factors. This study aims to analyze the relationship between child-related factors (gender, early initiation of breastfeeding, exclusive breastfeeding, and diarrhea), household factors (source of drinking water, sanitation access, waste management, and garbage disposal), and community factors (place of residence) with the incidence of stunting among toddlers (aged 6–23 months) in Central Papua Province. The study uses a cross-sectional design with a sample size of 175 children sourced from the 2023 SKI data. The analysis includes complex sample analysis, comprising univariate, bivariate (chi-square test), and multivariate (logistic regression prediction model) analyses. The univariate results show that the prevalence of stunting in children aged 6-23 months in Central Papua Province is 36.8%. The bivariate analysis reveals that gender is significantly associated with stunting incidence (p-value = 0,025; OR = 2,210; 95% CI = 1,103 – 4,430). Meanwhile, the multivariate analysis indicates that residence type is the most influential factor on stunting incidence (p-value = 0,044; OR = 2,509; 95% CI = 1,024 – 6,145). It is expected that the local government, through the Health Office of Central Papua Province, can improve region-based stunting intervention programs, particularly in rural areas, focusing on maternal and child health, and environmental health (such as sanitation, waste and sewage management), through collaboration with various related stakeholders.
Read More
T-7248
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nadilla Hasan; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Haryanto, Aulia Salmaddiina
Abstrak:
Diare termasuk salah satu permasalahan kesehatan utama yang membutuhkan perhatian serius, terutama pada kelompok rentan seperti balita. Provinsi Kalimantan Selatan menjadi salah satu provinsi yang turut memberikan kontribusi terhadap angka kejadian diare nasional pada balita dengan prevalensi sebesar 5,9%. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan pengelolaan air rumah tangga dengan kejadian diare pada balita di wilayah perkotaan dan perdesaan Provinsi Kalimantan Selatan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan besar sampel 1.141 balita. Analisis data yang digunakan adalah distribusi frekuensi, uji chi-square, dan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sumber air minum memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian diare pada balita di wilayah perkotaan (p=0,049; OR=4,543). Sementara itu, sumber air bersih, pengolahan air minum, dan wadah penyimpanan air minum, status gizi, dan status imunisasi tidak menunjukkan hubungan yang signifikan, baik di wilayah perkotaan maupun perdesaan. Setelah dikontrol oleh status gizi dan status imunisasi, hasil menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengelolaan air rumah tangga dengan kejadian diare pada balita. Variabel sumber air minum merupakan variabel yang paling mendekati signifikan, tetapi pada tahap pemodelan akhir tetap tidak bermakna secara statistik. Oleh karena itu, penting untuk tetap memperkuat upaya promotif dan preventif melalui peningkatan akses air minum aman, edukasi pengelolaan air rumah tangga, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta pemantauan kesehatan balita secara berkelanjutan.

Diarrhea is one of the major health problems that requires serious attention, especially among vulnerable groups such as toddlers. South Kalimantan Province is one of the provinces contributing to the national burden of diarrhea among toddlers, with a prevalence of 5.9%. This study aimed to analyze the association between household water management and diarrhea incidence among toddlers in urban and rural areas of South Kalimantan Province using data from the 2023 Indonesian Health Survey. This study used a cross-sectional design with a sample of 1.141 toddlers. Data were analyzed using frequency distribution, chi-square tests, and multiple logistic regression. The results showed that drinking water source was significantly associated with diarrhea incidence among toddlers in urban areas (p = 0,049; OR = 4,543). Meanwhile, clean water source, drinking water treatment, drinking water storage container, nutritional status, and immunization status were not significantly associated with diarrhea incidence in either urban or rural areas. After controlling for nutritional status and immunization status, there was no significant association between household water management and diarrhea incidence among toddlers. Drinking water source was the variable closest to statistical significance; however, it remained statistically insignificant in the final model. In conclusion, this study stated that there was no significant association between household water management and diarrhea incidence in toddlers. Therefore, promotive and preventive efforts should continue to be strengthened through improved access to safe drinking water, household water management education, promotion of clean and healthy living behaviors, and continuous monitoring of child health.
Read More
S-12223
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rabiatul Adawiah; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Bambang Wispriyono, Zakianis, Yulia Fitria Ningrum, Aria Kusuma
Abstrak:

Penyakit diare menjadi salah satu gangguan gastrointestinal yang sering terjadi pada anak usia balita dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Provinsi Papua Pegunungan memiliki capaian sanitasi rendah dan prevalensi diare balita tertinggi di Indonesia pada tahun 2023. Faktor lingkungan dan faktor ibu merupakan faktor yang saling berkaitan dengan kejadian diare pada anak balita. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor risiko kejadian diare pada anak balita di Provinsi Papua Pegunungan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan sumber data diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan jumlah sampel yang dianalisis sebesar 266 anak usia 0-59 bulan di Provinsi Papua Pegunungan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square dan multivariat menggunakan regresi logistik model determinan. Hasil menunjukkan ada hubungan antara sumber air minum, akses sanitasi, jenis lantai dan pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita. Pendidikan ibu rendah merupakan faktor paling dominan berpengaruh terhadap kejadian diare. Anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan rendah akan berisiko 2,832 kali lebih besar untuk mengalami diare dibandingkan anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan tinggi. Diperlukan kerjasama dari pemerintah dan masyarakat dalam peningkatan akses pendidikan yang merata disetiap wilayah serta kolaborasi penyelenggara kesehatan untuk meningkatkan pendidikan kesehatan melalui promosi kesehatan terpadu terkait perilaku hidup bersih dan sehat dalam lingkungan rumah tangga.


Diarrhea is one of the most common gastrointestinal disorders in children under five years of age and is a major cause of morbidity and mortality. Papua Pegunungan Province has the lowest sanitation achievement and the highest prevalence of under five years of diarrhea in Indonesia by 2023. Environmental factors and maternal factors are interrelated with the incidence of diarrhea in children under five years. The purpose of this study was to analyze the risk factors for the incidence of diarrhea in children under five years in Papua Pegunungan Province. This study used a cross sectional design and the data source from the Indonesian Health Survey in 2023 with a total sample of  266 children aged 0-59 months in Papua Pegunungan Province. Data were analyzed univariate, bivariate with Chi- Square test and multivariate with logistic regression of determinant models. Results showed an association between drinking water source, sanitation access, floor type and mother's education with the incidence of diarrhea in children under five. Low maternal education is the most dominant factor affecting the incidence of diarrhea. Children under five who come from mothers with low education will be at risk 2,832 times greater to experience diarrhea than children under five who come from mothers with high education. Cooperation is needed from the government and the community to increasing access to education that is evenly distributed in each region and collaboration of health providers to improve health education through integrated health promotion related to clean and healthy living behaviors in the household environment.

 

Read More
T-7240
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Citta Zahra Primalia; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah, Okky Assetya Pratiwi
Abstrak:
Filariasis merupakan Neglected Tropical Diseases (NTDs) yang menyebabkan limfedema dan hidrokel. Meski jarang menyebabkan kematian, filariasis bersifat kronis dan dapat menyebabkan kecacatan seumur hidup. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Provinsi Papua Tengah menjadi wilayah dengan prevalensi filariasis tertinggi, sebesar 4,8%. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian filariasis di Provinsi Papua Tengah. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan data dari Survei Kesehatan Indonesia 2023 dan jumlah sampel sebanyak 5.408 responden. Analisis data menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan antara tempat tinggal dan penggunaan obat anti nyamuk dengan kejadian filariasis. Penggunaan obat anti nyamuk merupakan variabel yang paling dominan terhadap kejadian filariasis di Provinsi Papua Tengah.


Filariasis is a Neglected Tropical Diseases (NTDs) that causes lymphedema and hydrocele. Although rarely fatal, filariasis is chronic illness and can cause a lifelong disability. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), Central Papua is the region with the highest prevalence of filariasis, at 4,8%. The purpose of this study was to analyze factors related to the incidence of filariasis in Central Papua. This study used a cross-sectional design with data from the 2023 Indonesian Health Survey and a sample size of 5,408 respondents. Data analysis used in this research are the chi-square test and logistic regression. The results showed a relationship between residence and the use of mosquito repellent with the incidence of filariasis. The use of mosquito repellent is the most dominant variable in the incidence of filariasis in Central Papua.

Read More
T-7378
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Meutia Nur Fitriani; Pembimbing: Ririn Arminsih WUlandari; Penguji: Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum
S-10489
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Azkia Afiatun Najah Wahyudi ; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Didik Supriyono
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) masih menjadi infeksi menular yang termasuk dalam 10 penyakit penyebab utama kematian balita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menemukan bahwa balita (0-59 bulan) menjadi individu paling rentan untuk terinfeksi penyakit ini. Penyebab utama penyakit ini adalah mikroorganisme, namun faktor lainnya dapat berkontribusi dalam meningkatkan risiko penyakit. Jawa Barat menjadi wilayah besar yang memiliki polusi udara tinggi karena memiliki banyak kawasan industri, namun masih sedikit penelitian yang meneliti terkait ISPA di dalamnya. Penelitian ini menggunakan SKI 2023 yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu (imunisasi dan BBLR), karakteristik rumah tangga (kepadatan hunian dan tipe wilayah), dan jenis bahan bangunan (lantai, dinding, atap, plafon) terhadap kejadian ISPA pada Balita di Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan studi cross-sectional melalui analisis univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik biner). Hasil penelitian menunjukkan dari total 5.138 balita, 5% (259) nya mengalami kejadian ISPA. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan pada variabel tipe wilayah, jenis atap, dan plafon karena memiliki nilai p<0,05, sementara yang lainnya tidak menunjukkan adanya hubungan signifikan. Pada variabel jenis atap didapati nilai POR=1,607 (CI:1,204–2,146) yang artinya memiliki kecenderungan faktor risiko untuk kejadian ISPA. Sedangkan, pada variabel tipe wilayah dan plafon memiliki nilai POR
Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) masih menjadi infeksi menular yang termasuk dalam 10 penyakit penyebab utama kematian balita di Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menemukan bahwa balita (0-59 bulan) menjadi individu paling rentan untuk terinfeksi penyakit ini. Penyebab utama penyakit ini adalah mikroorganisme, namun faktor lainnya dapat berkontribusi dalam meningkatkan risiko penyakit. Jawa Barat menjadi wilayah besar yang memiliki polusi udara tinggi karena memiliki banyak kawasan industri, namun masih sedikit penelitian yang meneliti terkait ISPA di dalamnya. Penelitian ini menggunakan SKI 2023 yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara karakteristik individu (imunisasi dan BBLR), karakteristik rumah tangga (kepadatan hunian dan tipe wilayah), dan jenis bahan bangunan (lantai, dinding, atap, plafon) terhadap kejadian ISPA pada Balita di Jawa Barat. Penelitian dilakukan dengan studi cross-sectional melalui analisis univariat, bivariat (chi-square), dan multivariat (regresi logistik biner). Hasil penelitian menunjukkan dari total 5.138 balita, 5% (259) nya mengalami kejadian ISPA. Hasil analisis bivariat menunjukkan adanya hubungan signifikan pada variabel tipe wilayah, jenis atap, dan plafon karena memiliki nilai p<0,05, sementara yang lainnya tidak menunjukkan adanya hubungan signifikan. Pada variabel jenis atap didapati nilai POR=1,607 (CI:1,204–2,146) yang artinya memiliki kecenderungan faktor risiko untuk kejadian ISPA. Sedangkan, pada variabel tipe wilayah dan plafon memiliki nilai POR
Read More
S-12267
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulinda Lubis; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Fitri Kurniasari, Indra Chahaya, Ali Imron
Abstrak:
Diare merupakan salah satu penyakit menular berbasis lingkungan yang hingga saat ini masih menjadi permasalahan kesehatan masyarakat di tingkat global. Penyakit ini dapat terjadi pada semua kelompok umur serta berpotensi menimbulkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan kematian. Penelitian ini bertujuan menganalisis determinan kejadian diare pada balita usia 6–59 bulan di Provinsi Jawa Barat berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesi (SSGI) 2024 serta mengidentifikasi determinan yang paling dominan. Penelitian menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data Survei Status Gizi Indonesia tahun 2024 dengan sampel sebesar 16.395 orang. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik model determinan prediksi. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi diare pada balita usia 6–59 bulan di Provinsi Jawa Barat sebanyak 1.417 balita (8,6%). Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia balita (OR=1,710; 95%CI=1,489–1,964), status gizi (OR=1,832; 95%CI=1,536–2,185), jenis kelamin (OR=1,279; 95%CI=1,113–1,470), dan pendidikan ibu (OR=1,361; 95%CI=1,165–1,590) berhubungan signifikan dengan kejadian diare (p<0,05). Status gizi merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan kejadian diare, dimana balita dengan status gizi kurang memiliki risiko 1,825 kali lebih tinggi mengalami diare dibandingkan balita dengan status gizi baik (AOR=1,825; 95% CI: 1,530–2,176). Oleh karena itu perlu memperkuat integrasi program pencegahan diare dengan intervensi perbaikan gizi pada balita usia 6–23 bulan melalui pemantauan pertumbuhan, deteksi dini masalah gizi, serta edukasi gizi dan higiene. Kata Kunci : Diare, status gizi, usia balita, jenis kelamin, pendidikan ibu

Diarrhea is one of the major environmentally related infectious diseases that remains a significant global public health problem. It affects all age groups and has the potential to cause outbreaks and mortality. This study aimed to analyze the determinants of diarrhea among children aged 6–59 months in West Java Province using data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) and to identify the most dominant determinant. This study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2024 Indonesian Nutritional Status Survey, involving 16,395 children aged 6–59 months. Data were analyzed using the chi-square test and multivariable logistic regression with a determinant prediction model. The results showed that the prevalence of diarrhea among children aged 6–59 months in West Java was 8.6% (1,417 children). Bivariate analysis indicated that child age (OR=1.710; 95% CI: 1.489–1.964), nutritional status (OR=1.832; 95% CI: 1.536–2.185), sex (OR=1.279; 95% CI: 1.113–1.470), and maternal education (OR=1.361; 95% CI: 1.165–1.590) were significantly associated with diarrhea (p<0.05). Nutritional status was identified as the most dominant determinant, with undernourished children having a 1.825-fold higher risk of developing diarrhea than well-nourished children (AOR=1.825; 95% CI: 1.530–2.176). Therefore, strengthening the integration of diarrhea prevention programs with nutrition improvement interventions for children aged 6–23 months is recommended through growth monitoring, early detection of nutritional problems, and nutrition and hygiene education.  Keywords: Diarrhea, nutritional status, child age, sex, maternal education.
Read More
T-7533
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dahlia Kristina Silalahi; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Laila Fitria, Yulia Fitria Ningrum, Didik Supriyono
Abstrak:
Penyakit menular berbasis lingkungan yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat secara global yaitu diare. Diare berpotensi menyebabkan Kejadian Luar Biasa dan kematian yang terjadi pada semua umur. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023, prevalensi kejadian diare pada semua umur berdasarkan diagnosa/gejala adalah 4,3%, dengan provinsi yang paling tinggi yaitu Provinsi Papua Tengah (16,1%). Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis faktor (karakteristik individu dan lingkungan) yang berhubungan dengan kejadian diare di Provinsi Papua Tengah. Penelitian menggunakan desain penelitian cross sectional dengan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023 dan jumlah sampel yaitu 5.408 responden. Analisis data menggunakan uji chi square dan regresi logistik model prediksi. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan tempat tinggal (5,36; 3,01-9,54), perilaku cuci tangan (2,84; 1,49-5,42), sumber air minum (3,43; 1,13-10,37), kualitas fisik air minum (3,26; 1,17-9,07), pengelolaan sampah (3,41; 1,21-9,59), fasilitas sanitasi (15,43; 4,25-56,03), pembuangan limbah (2,98; 1,42-6,19), dan fasilitas cuci tangan (6,97; 3,94-12,33) dengan kejadian diare. Kualitas fisik air minum (3,26; 1,14-9,28) merupakan variabel yang paling dominan terhadap kejadian diare di Provinsi Papua Tengah.

An environmentally-based infectious disease that remains a global public health problem is diarrhea. Diarrhea has the potential to cause extraordinary events and deaths that occur at all ages. Based on data from the Indonesian Health Survey in 2023, the prevalence of diarrhea incidence at all ages based on diagnoses/symptoms was 4.3%, with the highest province being Central Papua Province (16.1%). The purpose of this study was to analyze factors (individual and environmental characteristics) associated with the incidence of diarrhea in Central Papua Province. The study used a cross sectional research design using the Indonesian Health Survey data in 2023 and the sample size was 5,408 respondents. Data analysis used chi square test and predictive model logistic regression. The results showed that there was a relationship between residence (5,36; 3,01-9,54), hand washing behavior (2,84; 1,49-5,42), drinking water source (3,43; 1,13-10,37), physical quality of drinking water (3,26; 1,17-9,07), waste management (3,41; 1,21-9,59), sanitation facilities (15,43; 4,25-56,03), waste disposal (2,98; 1,42-6,19), and hand washing facilities (6,97; 3,94-12,33) with the incidence of diarrhea. Physical quality of drinking water (3,26; 1,14-9,28) is the most dominant variable for the incidence of diarrhea in Central Papua Province.
Read More
T-7234
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zakiah Dianah; Pembimbing: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Ema Hermawati, Sonny P. Warrouw, Didi Purnama
Abstrak: Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak yang berdampak pada fungsi kognitif jangka panjang dan dapat menyebabkan 20% kematian anak balita. Sanitasi menjadi salah satu faktor yang berhubungan dengan stunting. Provinsi Kalimantan Barat mempunyai capaian yang buruk untuk akses sanitasi dasar yaitu 55,55%. Tujuan penelitian: menganalisis faktor yang berkontribusi terhadap stunting pada baduta di wilayah PKGBM (Proyek Kesehatan dan Gizi Berbasis Masyarakat) Provinsi Kalimantan Barat. Desain penelitian: cross sectional menggunakan data sekunder dengan jumlah sampel 375 baduta dan dianalisis dengan regresi logistik multivariat. Hasil penelitian didapatkan hubungan signifikan antara kasus stunting dengan akses sanitasi dasar (2,24; 1,39-3,59) dan berat lahir anak (4,88; 2,51-9,51). Faktor lain yang berhubungan yaitu Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) (1,66; 0,90-3,06), infeksi cacing (1,38; 0,74-2,58), diare (1,32; 0,83-2,10), ISPA (1,44; 0,86-2,43), dan kunjungan ke Posyandu (1,40; 0,75-2,59). Model akhir dari penelitian ini adalah akses sanitasi dasar, berat lahir anak, dan CTPS berkontribusi terhadap stunting.
Read More
T-5245
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Berlianida Shobrina; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Al Asyary, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:

Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat pada balita di Indonesia. Paparan Environmental Tobacco Smoke (ETS) atau asap rokok lingkungan merupakan salah satu faktor lingkungan yang diduga berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan anak melalui proses inflamasi, gangguan sistem imun, serta gangguan absorpsi zat gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan paparan asap rokok lingkungan dengan kejadian stunting pada balita di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian terdiri atas 2.960 balita di Provinsi Jawa Barat. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian stunting, sedangkan variabel independen utama adalah paparan asap rokok lingkungan yang diukur berdasarkan status merokok, lokasi merokok, dan jumlah rokok per hari. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Prevalensi stunting pada balita sebesar 26,0%. Sebagian besar ayah balita merupakan perokok (76,8%) dan sebanyak 44,8% merokok di dalam rumah. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa paparan asap rokok ayah di dalam rumah berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita (POR=1,438; 95%CI: 1,041–1,985). Variabel lain yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting yaitu usia balita (POR=1,451; 95%CI: 1,029–2,046), riwayat BBLR (POR=2,865; 95%CI: 1,493–5,499), riwayat infeksi pencernaan (POR=1,735; 95%CI: 1,021–2,949), dan tingkat pendidikan ibu (POR=1,437; 95%CI: 1,041–1,984). Paparan asap rokok ayah di dalam rumah berhubungan dengan peningkatan risiko kejadian stunting pada balita. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi paparan asap rokok pada anak di lingkungan rumah tangga sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting.


Stunting remains a major public health problem among children under five in Indonesia. Exposure to Environmental Tobacco Smoke (ETS) is considered one of the environmental factors that may contribute to impaired child growth through inflammatory processes, immune dysfunction, and disruption of nutrient absorption. This study aimed to analyze the association between ETS exposure and stunting among children under five in West Java Province in 2023. This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study sample consisted of 2,960 children under five in West Java Province. The dependent variable was stunting, while the main independent variable is exposure to environmental cigarette smoke which is measured based on smoking status, smoking location, and number of cigarettes per day.  Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression analyses. The prevalence of stunting among children under five was 26.0%. Most fathers were smokers (76.8%), and 44.8% of them smoked inside the house. Multivariate analysis showed that paternal smoking exposure inside the house was significantly associated with stunting among children under five (AOR=1.438; 95%CI: 1.041–1.985). Other variables significantly associated with stunting were child age (AOR=1.451; 95%CI: 1.029–2.046), low birth weight history (AOR=2.865; 95%CI: 1.493–5.499), history of gastrointestinal infection (AOR=1.735; 95%CI: 1.021–2.949), and maternal education level (AOR=1.437; 95%CI: 1.041–1.984). Exposure to paternal cigarette smoke inside the house was associated with an increased risk of stunting among children under five. Efforts to reduce children’s exposure to cigarette smoke in the household environment are needed as part of stunting prevention strategies.

Read More
S-12263
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive