Ditemukan 41607 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Penyakit diare menjadi salah satu gangguan gastrointestinal yang sering terjadi pada anak usia balita dan menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas. Provinsi Papua Pegunungan memiliki capaian sanitasi rendah dan prevalensi diare balita tertinggi di Indonesia pada tahun 2023. Faktor lingkungan dan faktor ibu merupakan faktor yang saling berkaitan dengan kejadian diare pada anak balita. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor risiko kejadian diare pada anak balita di Provinsi Papua Pegunungan. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan sumber data diperoleh dari Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan jumlah sampel yang dianalisis sebesar 266 anak usia 0-59 bulan di Provinsi Papua Pegunungan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square dan multivariat menggunakan regresi logistik model determinan. Hasil menunjukkan ada hubungan antara sumber air minum, akses sanitasi, jenis lantai dan pendidikan ibu dengan kejadian diare pada anak balita. Pendidikan ibu rendah merupakan faktor paling dominan berpengaruh terhadap kejadian diare. Anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan rendah akan berisiko 2,832 kali lebih besar untuk mengalami diare dibandingkan anak balita yang berasal dari ibu dengan pendidikan tinggi. Diperlukan kerjasama dari pemerintah dan masyarakat dalam peningkatan akses pendidikan yang merata disetiap wilayah serta kolaborasi penyelenggara kesehatan untuk meningkatkan pendidikan kesehatan melalui promosi kesehatan terpadu terkait perilaku hidup bersih dan sehat dalam lingkungan rumah tangga.
Diarrhea is one of the most common gastrointestinal disorders in children under five years of age and is a major cause of morbidity and mortality. Papua Pegunungan Province has the lowest sanitation achievement and the highest prevalence of under five years of diarrhea in Indonesia by 2023. Environmental factors and maternal factors are interrelated with the incidence of diarrhea in children under five years. The purpose of this study was to analyze the risk factors for the incidence of diarrhea in children under five years in Papua Pegunungan Province. This study used a cross sectional design and the data source from the Indonesian Health Survey in 2023 with a total sample of 266 children aged 0-59 months in Papua Pegunungan Province. Data were analyzed univariate, bivariate with Chi- Square test and multivariate with logistic regression of determinant models. Results showed an association between drinking water source, sanitation access, floor type and mother's education with the incidence of diarrhea in children under five. Low maternal education is the most dominant factor affecting the incidence of diarrhea. Children under five who come from mothers with low education will be at risk 2,832 times greater to experience diarrhea than children under five who come from mothers with high education. Cooperation is needed from the government and the community to increasing access to education that is evenly distributed in each region and collaboration of health providers to improve health education through integrated health promotion related to clean and healthy living behaviors in the household environment.
Filariasis is a Neglected Tropical Diseases (NTDs) that causes lymphedema and hydrocele. Although rarely fatal, filariasis is chronic illness and can cause a lifelong disability. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), Central Papua is the region with the highest prevalence of filariasis, at 4,8%. The purpose of this study was to analyze factors related to the incidence of filariasis in Central Papua. This study used a cross-sectional design with data from the 2023 Indonesian Health Survey and a sample size of 5,408 respondents. Data analysis used in this research are the chi-square test and logistic regression. The results showed a relationship between residence and the use of mosquito repellent with the incidence of filariasis. The use of mosquito repellent is the most dominant variable in the incidence of filariasis in Central Papua.
Stunting masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat pada balita di Indonesia. Paparan Environmental Tobacco Smoke (ETS) atau asap rokok lingkungan merupakan salah satu faktor lingkungan yang diduga berkontribusi terhadap gangguan pertumbuhan anak melalui proses inflamasi, gangguan sistem imun, serta gangguan absorpsi zat gizi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan paparan asap rokok lingkungan dengan kejadian stunting pada balita di Provinsi Jawa Barat tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan memanfaatkan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023. Sampel penelitian terdiri atas 2.960 balita di Provinsi Jawa Barat. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah kejadian stunting, sedangkan variabel independen utama adalah paparan asap rokok lingkungan yang diukur berdasarkan status merokok, lokasi merokok, dan jumlah rokok per hari. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Prevalensi stunting pada balita sebesar 26,0%. Sebagian besar ayah balita merupakan perokok (76,8%) dan sebanyak 44,8% merokok di dalam rumah. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa paparan asap rokok ayah di dalam rumah berhubungan signifikan dengan kejadian stunting pada balita (POR=1,438; 95%CI: 1,041–1,985). Variabel lain yang berhubungan signifikan dengan kejadian stunting yaitu usia balita (POR=1,451; 95%CI: 1,029–2,046), riwayat BBLR (POR=2,865; 95%CI: 1,493–5,499), riwayat infeksi pencernaan (POR=1,735; 95%CI: 1,021–2,949), dan tingkat pendidikan ibu (POR=1,437; 95%CI: 1,041–1,984). Paparan asap rokok ayah di dalam rumah berhubungan dengan peningkatan risiko kejadian stunting pada balita. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk mengurangi paparan asap rokok pada anak di lingkungan rumah tangga sebagai bagian dari strategi pencegahan stunting.
Stunting remains a major public health problem among children under five in Indonesia. Exposure to Environmental Tobacco Smoke (ETS) is considered one of the environmental factors that may contribute to impaired child growth through inflammatory processes, immune dysfunction, and disruption of nutrient absorption. This study aimed to analyze the association between ETS exposure and stunting among children under five in West Java Province in 2023. This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey. The study sample consisted of 2,960 children under five in West Java Province. The dependent variable was stunting, while the main independent variable is exposure to environmental cigarette smoke which is measured based on smoking status, smoking location, and number of cigarettes per day. Data were analyzed using univariate, bivariate, and multivariate logistic regression analyses. The prevalence of stunting among children under five was 26.0%. Most fathers were smokers (76.8%), and 44.8% of them smoked inside the house. Multivariate analysis showed that paternal smoking exposure inside the house was significantly associated with stunting among children under five (AOR=1.438; 95%CI: 1.041–1.985). Other variables significantly associated with stunting were child age (AOR=1.451; 95%CI: 1.029–2.046), low birth weight history (AOR=2.865; 95%CI: 1.493–5.499), history of gastrointestinal infection (AOR=1.735; 95%CI: 1.021–2.949), and maternal education level (AOR=1.437; 95%CI: 1.041–1.984). Exposure to paternal cigarette smoke inside the house was associated with an increased risk of stunting among children under five. Efforts to reduce children’s exposure to cigarette smoke in the household environment are needed as part of stunting prevention strategies.
