Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33746 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Nabila Nindy Sabara; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Evi Martha, Junaidah
Abstrak:
Stunting merupakan permasalahan gizi kronis yang berdampak serius terhadap tumbuh kembang anak. Kabupaten Bogor, sebagai salah satu wilayah dengan prevalensi stunting yang tinggi di Jawa Barat, telah mengimplementasikan program Orang Tua Asuh Anak Stunting sebagai bentuk intervensi gizi sensitif. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pelaksanaan program tersebut oleh Jimmy Hantu Foundation melalui pendekatan teori sistem model Input-Process-Output (IPO). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus, serta teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada informan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari aspek input, program didukung oleh keterlibatan sumber daya manusia yang cukup, pendanaan dari donatur, dan sarana prasarana yang memadai. Pada aspek process, kegiatan dirancang melalui tahapan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengawasan yang cukup terstruktur meskipun masih ditemukan tantangan koordinasi lintas sektor. Sementara dari aspek output, program memberikan dampak positif terhadap perubahan status gizi anak dan peningkatan kesadaran orang tua, meskipun cakupan penanganan masih dapat ditingkatkan. Penelitian ini merekomendasikan penguatan koordinasi antar stakeholder serta peningkatan monitoring dan evaluasi program secara berkelanjutan guna menekan prevalensi stunting di Kabupaten Bogor.

Stunting is a chronic nutritional issue that has serious consequences for a child's growth and development. Bogor Regency, one of the regions with a high stunting prevalence in West Java, has implemented the Foster Parent Program for Stunting Children as a form of nutrition sensitive intervention. This study aims to describe the implementation of the program by Jimmy Hantu Foundation using the Input-Process-Output (IPO) systems theory approach. A qualitative case study method was used, with data collected through in-depth interviews with key informants. The findings indicate that in terms of input, the program is supported by sufficient human resources, funding from donors, and adequate facilities and infrastructure. In the process aspect, activities are structured through planning, organizing, implementation, and supervision stages, although some cross sector coordination challenges remain. In the output aspect, the program has had a positive impact on improving children's nutritional status and increasing parental awareness, although coverage can still be improved. This study recommends strengthening coordination among stakeholders as well as enhancing continuous monitoring and evaluation to reduce stunting prevalence in Bogor Regency.
Read More
S-11897
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Annesya Yusvita Iskandar; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Yusef Gunawan
Abstrak:
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa prevalensi konsumsi minuman manis ≥1 kali per hari tertinggi terdapat pada anak usia 5–9 tahun (53%), usia 3–4 tahun (51,4%), dan 10–14 tahun (50,7%). Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua terhadap konsumsi minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada anak. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktik orang tua dalam membatasi konsumsi MBDK pada anak sekolah dasar di SDN X Kabupaten Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan observasi tertutup pada informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan orang tua memiliki pengetahuan dasar mengenai definisi, jenis, dan dampak MBDK, tetapi pengetahuan mereka terkait label nilai gizi masih kurang. Orang tua juga memiliki sikap tidak mendukung terhadap konsumsi MBDK. Terdapat ragam praktik pencegahan yang dilakukan oleh orang tua seperti nasihat, peringatan tegas, substitusi minuman sehat, hingga pembatasan uang jajan pada anak. Di sisi lain, seluruh informan tidak menerima informasi mengenai MBDK dari sekolah. Oleh karena itu disarankan kepada sekolah untuk menyelenggarakan edukasi rutin kepada orang tua siswa untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap mereka sebagai salah satu upaya pencegahan konsumsi MBDK berlebih pada siswa sekolah dasar.

The 2023 Indonesian Health Survey (SKI 2023) shows that daily consumption of sweetened beverages (≥1 time/day) is highest among children aged 5–9 years (53%), followed by those aged 3–4 years (51.4%) and 10–14 years (50.7%). Previous studies have indicated a link between parental knowledge, attitudes, and practices and children's consumption of sugar-sweetened packaged beverages. This qualitative study aimed to explore parental knowledge, attitudes, and practices in limiting SSBs consumption among elementary students at SDN X Bogor Regency. Data were collected through in-depth interviews and non-participant observation with purposively selected informants. Findings revealed that parents had basic knowledge about the definition, types, and health impacts of SSBs, but limited understanding of nutrition labels. Most parents showed unsupportive attitudes toward SSBs consumption. Preventive practices included giving advice, firm warnings, providing healthier alternatives, and limiting pocket money. However, none of the parents had received SSB-related information from the school. This study suggests that school should implement regular educational programs for parents to improve their knowledge and attitudes, as a preventive strategy against excessive SSB consumption among elementary school children.
Read More
S-11896
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Febri Handayani; Pembimbing: Hadi Pratomo; Penguji: Evi Martha, Euis Eka Kurniati
Abstrak: Stunting merupakan permasalahan serius yang dapat memberikan dampak jangka panjang kepada balita. Stunting pada anak adalah salah satu hambatan paling signifikan bagi perkembangan manusia, secara global mempengaruhi sekitar 162 juta anak di bawah usia 5 tahun. Saat ini provinsi Jawa Barat berada dalam kategori tinggi dalam permasalahan stunting. Berdasarkan Riskesdas tahun 2018, prevalensi bayi stunting di Kota Depok sebesar 23.8%. Di wilayah Puskesmas Depok Jaya masih terdapat bayi stunting dan gizi buruk. Berdasarkan data Bulan Penimbangan Balita (BPB) pada Februari 2022, ada sebanyak 34 balita stunting di Kelurahan Depok Jaya. Data ini menunjukkan angka yang lumayan tinggi untuk kasus stunting tingkat kelurahan. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan evaluasi mengenai pelaksanaan strategi promosi kesehatan dalam penanganan stunting pada masa pandemi berdasarkan sudut pandang penerima program yakni ibu balita stunting. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan wawancara mendalam kepada 3 ibu balita stunting sebagai informan utama, 3 kader sebagai informan pendukung, dan 1 ahli gizi selaku penanggung jawab program sebagai informan kunci. Kerangka konsep yang digunakan ialah Logic Model untuk melihat berbagai aspek, mulai dari sumber daya yang digunakan, proses keberlangsungannya, hasil, sampai dampak jangka panjang dari program. Hasil yang didapatkan dari sisi input, pengelola program sudah diterima dengan baik oleh ibu balita stunting, serta kebijakan pemerintah belum dipahami. Dari sisi aktivitas, program sudah tersampaikan dengan baik melalui kader dan WhatsApp, dukungan sosial juga sudah diberikan dengan baik, tetapi intervensi dan pemberdayaan belum berjalan maksimal. Dari sisi output, seluruh balita yang terdata stunting sudah mendapatkan penanganan serta ibu balita stunting sudah mendapatkan dukungan sosial yang baik, tetapi intervensi belum berjalan maksimal. Dari sisi outcome, terdapat peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku positif ibu balita stunting terkait penanganan stunting pada anaknya, tetapi masih ada ibu balita stunting yang merasa tidak penting akan hal tersebut. Perlu adanya rencana rutin untuk pengadaan intervensi dan pemberdayaan, serta keberlanjutan dari program Ocan Bananas.
Stunting is a serious problem that can have a long-term impact on under five years children. Child stunting is one of the most significant barriers to human development, affecting an estimated 162 million children under five years. Currently, West Java province is in the high category of stunting problems. Based on Riskesdas 2018, the prevalence of stunting in Depok City was 23.8%. In the Depok Jaya Health Center area, there are still stunted and malnourished babies. Based on data from the Under five years children Weighing Month (BPB) in February 2022, there were 34 stunting under-five years children in Depok Jaya Village. This data shows a high number of stunting cases at the sub-district level. This study aims to obtain an evaluation of the implementation of health promotion strategies in handling stunting during the pandemic based on the perspective of the program recipients, namely mothers of under five years of stunting children. This study used a descriptive qualitative method with in-depth interviews with three mothers of stunting in under five years of children as the primary informants, three cadres as supporting informants, and one nutritionist as the person in charge of the program as key informants. The conceptual framework used was the Logic Model to see various aspects, ranging from the resources used, the process of sustainability, and results, to the long-term impact of the program. The results obtained in terms of input, program managers had been well-received by mothers of under five years stunting children, and government policies had not been understood. In terms of activities, the program had been delivered well through cadres and WhatsApp, and social support had also been provided well, but intervention and empowerment had not run optimally. In terms of output, all under five years children who are recorded as stunting received treatment, and mothers of under five years stunting children had received good social support, but the intervention had not run optimally. In terms of outcomes, there was an increase in knowledge, attitudes, and positive behaviors about mothers of under five years stunting children related to handling stunting in their children. However, there were mothers of under five years stunting children who feel unimportant about this. There needs to be a regular plan for the implementation, both interventions and empowerment, as well as the sustainability of the Ocan Bananas program.
Read More
S-11142
Depok : FKM-UI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ade Fadly H Masse; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Triyanti, Idris Galla, Andi Muhammad RPN
Abstrak:

Abstrak
Stunting di Kabupaten Bantaeng masih menjadi tantangan dengan prevalensi 15,8%. Keberhasilan dalam menekan angka ini menjadi dasar untuk menelaah peran strategis KPM sebagai garda terdepan dalam program konvergensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menelaah implementasi peran KPM dalam upaya pencegahan stunting serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat efektivitasnya di Kabupaten Bantaeng. Penelitian ini menggunakan desain kualitatif fenomenologi dengan total 24 informan yang terdiri dari 7 KPM, 3 kepala desa, 5 tenaga kesehatan, 3 kader posyandu, dan 6 perwakilan masyarakat sasaran. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen , yang kemudian dianalisis secara tematik. Hasil penelitian menunjukkan peran KPM sangat efektif dalam memfasilitasi akses terhadap layanan KIA, sanitasi, dan jaminan kesehatan, berkat kolaborasi lintas sektor dan dukungan penuh pemerintah desa. Namun, masih kurang optimal dalam intervensi yang bersifat edukatif untuk mengubah perilaku, seperti pada aspek konseling gizi dan partisipasi PAUD. Faktor penghambat utamanya adalah norma sosial yang kuat di masyarakat dan keterbatasan sumber daya untuk program edukasi yang terstruktur. Penelitian ini menyimpulkan implementasi peran KPM efektif pada intervensi yang didukung program pemerintah yang konkret dan terukur, namun lemah dalam mengubah pengetahuan dan norma sosial. Lebih lanjut, ditemukan pula kesenjangan antara kualifikasi pendidikan formal KPM dengan kompleksitas tugas edukasi dan konseling gizi yang harus diemban secara efektif. Disarankan agar Pemerintah Daerah mengembangkan kampanye sosialisasi untuk mengubah norma sosial dan mengalokasikan dana untuk program edukasi terstruktur. Selain itu, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) perlu mengevaluasi kembali standar rekrutmen KPM dan merancang pelatihan terstandar dan berkelanjutan untuk meningkatkan kapasitas KPM.


 

Stunting remains a challenge in Bantaeng Regency, with a prevalence of 15.8%. This study explores the strategic role of Human Development Cadres (KPM) in the stunting prevention program and identifies supporting and hindering factors affecting their effectiveness. Using a qualitative phenomenological approach, the study involved 24 informants: 7 KPM, 3 village heads, 5 health workers, 3 Posyandu cadres, and 6 community representatives. Data collection was done through in-depth interviews and document reviews, followed by thematic analysis. Findings show that KPM are effective in improving access to maternal and child health services, sanitation, and health insurance due to strong cross-sector collaboration and village government support. However, their role is less optimal in educational interventions, particularly in nutrition counseling and increasing participation in early childhood education (PAUD). Key challenges include persistent social norms and limited resources for structured educational programs. There is also a gap between KPM’s formal education levels and the complex tasks of health education and counseling. The study concludes that KPM play an effective role in interventions backed by clear government programs but face difficulties in changing behaviors and social norms. It recommends that local governments strengthen social norm change campaigns and allocate funding for structured education. Furthermore, the Community and Village Empowerment Office (DPMD) should review recruitment standards and provide ongoing, standardized training to enhance KPM capacity.

 

Read More
T-7295
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Serena Ade Sonya Pakpahan; Pembimbing: Rita Damayanti; Penguji: Dien Anshari, Mona Lisa
Abstrak: Penelitian bertujuan untuk menganalisis hubungan antara self-esteem dan pola asuh orang tua terhadap depresi pada siswa SMA di Jakarta Selatan tahun 2023. Penelitian menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional berdasarkan data sekunder dari Survei Perilaku Remaja tahun 2023. Sampel terdiri dari 866 siswa kelas 10 dan 11 dari SMAN 38 dan SMAN 90 Jakarta Selatan yang diambil secara total sampling. Hasil analisis menunjukkan bahwa self-esteem rendah (p < 0.001; OR = 7.35, CI 95%: 5.07–10.64) dan pola asuh negatif (p < 0.001; OR = 2.91, CI 95%: 2.16–3.91) memiliki hubungan signifikan dengan tingkat depresi siswa. Analisis stratifikasi berdasarkan jenis kelamin mengungkapkan bahwa self-esteem rendah memiliki hubungan yang lebih kuat terhadap depresi pada siswa laki-laki (OR = 9.71, CI 95%: 5.90–16.00, p < 0.001) dibandingkan siswa perempuan (OR = 5.81, CI 95%: 3.81–8.84, p < 0.001). Pola asuh negatif juga ditemukan memiliki dampak yang konsisten pada kedua jenis kelamin, meskipun variasinya lebih kecil. Penelitian ini merekomendasikan sekolah untuk menyediakan pelatihan bagi guru dan konselor dalam mendeteksi tanda awal depresi pada siswa, serta mengadakan layanan konseling yang mendukung siswa dengan self-esteem rendah dan pengalaman pola asuh negatif. Penting untuk mengadakan seminar terkait kesehatan mental dan pola asuh positif bagi orang tua, serta mendorong penelitian lanjutan dengan pendekatan longitudinal dan eksplorasi variabel lain yang relevan.
This study aims to analyze the relationship between self-esteem, parenting styles, and socioeconomic status on depression among high school students in South Jakarta in 2023. The study employed a quantitative design with a cross-sectional approach using secondary data from the 2023 Adolescent Behavior Survey. The sample consisted of 866 10th- and 11th-grade students from SMAN 38 and SMAN 90 Jakarta, selected through total sampling. The analysis showed that low self-esteem (p < 0.001; OR = 7.35, CI 95%: 5.07–10.64) and negative parenting styles (p < 0.001; OR = 2.91, CI 95%: 2.16–3.91) were significantly associated with depression levels. Stratified analysis by gender revealed that low self-esteem had a stronger association with depression among male students (OR = 9.71, CI 95%: 5.90–16.00, p < 0.001) compared to female students (OR = 5.81, CI 95%: 3.81–8.84, p < 0.001). Negative parenting styles were consistently associated with depression in both genders, though the variation was smaller. This study recommends that schools provide training for teachers and counselors to detect early signs of depression in students and establish counseling services to support students with low self-esteem and negative parenting experiences. Additionally, it is essential to organize seminars on mental health and positive parenting for parents and to encourage further research using longitudinal approaches and exploration of other relevant variables
Read More
S-11856
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rinka Citra Awinda; Pembimbing: Dian Ayubi;/ Penguji: Caroline Endah Wuryaningsih, Resty Vidiawati
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran perilaku pencegahan COVID-19 pada anak berkebutuhan khusus di Al-Fatih Center Jakarta Timur tahun 2021. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan rancangan penelitian studi kasus. Penelitian ini menggunakan metode wawancara mendalam kepada informan kunci, yaitu Ketua Yayasan, terapis yang bekerja fulltimer dan home visit serta informan utama yaitu beberapa orang tua anak di Al-Fatih Center dengan pemilihan informan menggunakan cara purposive sampling. Teori yang digunakan adalah teori domain perilaku menurut B.Bloom yang membagi perilaku menjadi pengetahuan, sikap, dan praktik/tindakan.
Read More
S-10884
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amalia Ayu Ramadhani; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Putri Bungsu, Dharma Ningsih Dwi Putri
Abstrak:
Di Indonesia prevalensi kasus Diabetes Melitus (DM) pada anak meningkat 70 kali lipat pada tahun 2023. Jumlah kasus tersebut dibandingkan pada tahun 2010 yaitu 0,028 per 100 ribu jiwa, angkanya naik menjadi 2 per 100 ribu jiwa pada tahun 2023. Kasus penyakit DM pada anak di Kota Depok dilaporkan oleh Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Depok mencapai 109 kasus sepanjang tahun 2022. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perilaku orang tua dalam melakukan pencegahan penyakit DM pada anak di Kota Depok Tahun 2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif, desain cross-sectional dilakukan pada 170 responden yang diambil secara quota sampling pada orang tua di Kota Depok. Data dikumpulkan secara online menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya serta dianalisis dengan uji Chi Square untuk melihat hubungan 11 variabel independen dengan perilaku orang tua dalam pencegahan penyakit diabetes pada anak. Hasil penelitian menunjukkan, responden memiliki perilaku pencegahan DM pada anak yang baik yaitu sebanyak 43,5%. Pendapatan (p=0,001), persepsi kerentanan (p=0,020), persepsi keparahan (p=0,030), persepsi manfaat (p=0,018), dan persepsi hambatan (p=0,046) menunjukkan hubungan dengan perilaku orang tua dalam pencegahan penyakit DM pada anak, sedangkan usia (p=0,085), jenis kelamin (p=0,378), pendidikan (p=0,530), pekerjaan (p=0,419), pengetahuan (p=0,425), dan self-efficacy (p=0,429) tidak berhubungan dengan perilaku orang tua dalam pencegahan penyakit DM pada anak. Perlu meningkatkan edukasi dan sosialisasi terkait bahaya DM pada anak dan risiko yang terjadi jika anak terkena DM untuk meningkatkan kesadaran akan kerentanan dan keparahan terhadap penyakit DM pada anak.

In Indonesia, the prevalence of Diabetes Melitus (DM) cases in children will increase 70 times by 2023. Compared to 2010, where the number of cases was 0.028 per 100.000 population, this figure will increase to 2 per 100.000 population by 2023. Cases of DM disease in children in Depok City were reported by the Depok City Health Center to reach 109 cases throughout 2022. The aim of study is to determine the behavior of parents in preventing DM disease in children in Depok City in 2023. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design conducted on 170 respondents taken by quota sampling among parents in Depok City. Data were collected online using a questionnaire that had been tested for validity and reliability, and analyzed using the Chi Square test to see the relationship between 11 independent variables and parental behavior in preventing diabetes in children. The results showed that 43.5% of respondents had good diabetes prevention behavior. Income (p = 0.001), perceived vulnerability (p = 0.020), perceived severity (p = 0.030), perceived benefits (p = 0.018), and perceived barriers (p = 0.046) were relation with parental behavior in preventing diabetes in children, while age (p = 0.085), gender (p = 0.378), education (p = 0.530), occupation (p = 0.419), knowledge (p = 0.425), and self-efficacy (p = 0.429) were not relation with parental behavior in preventing DM in children. Increase education and socialization related to the dangers of DM in children and the risks that occur if children develop DM to increase awareness of the vulnerability and severity of DM disease in children.
Read More
S-11491
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kartika Ekasari; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Tiara Amelia, R. Arso Budiriyadi
Abstrak:
Konsumsi minuman berpemanis pada remaja terus meningkat, sehngga berpotensi meningkatkan risiko penyakit tidak menular. Penelitian ini bertujuan menggambarkan pengetahuan, sikap, dan praktik remaja SMA X Kota Bogor dalam mengonsumsi minuman berpemanis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan utama adalah siswa-siswi berusia 16-17 tahun, didukung oleh orang tua, guru, kepala sekolah, penjual minuman berpemanis, serta informan kunci seperti ahli gizi dan Balai POM. Data diperoleh melalui FGD, wawancara mendalam, dan observasi, lalu dianalisis secara tematik. Hasil menunjukkan bahwa pengetahuan remaja mengenai konsep minuman berpemanis dan dampak kesehatan jangka panjang tergolong baik, tetapi pemahaman mengenai dampak kesehatan jangka pendek masih terbatas. Sikap remaja terhadap minuman berpemanis terbentuk dari pemahaman yang cukup baik, respons emosional yang kurang konsisten, dan niat mengurangi konsumsi yang sering kali terhambat faktor lingkungan. Remaja laki-laki cenderung lebih sering mengonsumsi minuman berpemanis ketimbang remaja perempuan, dengan dipengaruhi oleh media sosial, situasi sosial, dan preferensi pribadi. Sebagian remaja mulai berupaya mengurangi konsumsi, sementara sebagian lainnya belum memiliki motivasi yang kuat. Diperlukan intervensi edukatif yang melibatkan berbagai pihak untuk meningkatkan kesadaran dan perilaku konsumsi yang sehat.
The consumption of sugar-sweetened beverages in adolescents continues to increase, potentially increasing the risk of non-communicable diseases. This study aims to describe the knowledge, attitudes, and practices of SMA X adolescents in Bogor City in consuming sugar-sweetened beverages. This study used a qualitative approach with phenomenological methods. The main informants were students aged 16-17 years, supported by parents, teachers, school principals, sugar-sweetened beverage sellers, as well as key informants such as nutritionists and the Food and Drug Administration. Data were obtained through FGDs, in-depth interviews, and observations, then analyzed thematically. The results show that adolescents' knowledge of the concept of sugar-sweetened beverages and long-term health impacts is good, but understanding of short-term health impacts is still limited. Adolescents' attitudes towards sugar-sweetened beverages are formed from a fairly good understanding, less consistent emotional responses, and intentions to reduce consumption which are often hampered by environmental factors. Male adolescents tend to consume sugar-sweetened beverages more often than female adolescents, influenced by social media, social situations, and personal preferences. Some adolescents are starting to make efforts to reduce consumption, while others do not have strong motivation. Educational interventions involving various parties are needed to increase awareness and healthy consumption behavior.
Read More
S-12009
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Butsainah Putri Rahmah; Pembimbing: Evi Martha; Penguji: Dien Anshari, Lina Purnamaasih
Abstrak:
Saat ini, terdapat peningkatan prevalensi perokok elektronik yang pesat di Indonesia. Berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, prevalensi perokok di Indonesia meningkat 10 kali lipat dari 0.3% pada tahun 2011 menjadi 3% pada tahun 2021. Hasil SKI 2023 menunjukkan bahwa salah satu wilayah dengan prevalensi perokok elektronik tertinggi adalah DKI Jakarta dengan kelompok umur 10-14 memiliki prevalensi tertinggi yaitu 29.72%. Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara pengetahuan serta sikap orang tua terhadap perilaku merokok elektronik pada remaja. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan, sikap, dan praktik pencegahan orang tua terhadap perilaku merokok elektronik pada remaja di SMP X Jakarta. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam pada informan yang dipilih secara purposive. Hasil penelitian menunjukkan orang tua memiliki pengetahuan dasar mengenai rokok elektronik yaitu berfungsi seperti rokok dengan menggunakan alat dan cairan tetapi pengetahuan mereka terhadap kandungan dan dampak kesehatan kurang. Orang tua juga memiliki sikap yang tidak setuju terhadap rokok elektronik atau sikap yang mendukung anak untuk tidak menggunakan rokok elektronik. Terdapat ragam praktik pencegahan yang dilakukan oleh orang tua seperti komunikasi terbuka, mengajarkan agama, menjaga lingkungan pertemanan anak, mendukung anak lelaki untuk berteman dengan perempuan karena melihat perempuan cenderung tidak merokok, serta memberi hukuman fisik dan non fisik. Disisi lain, seluruh informan tidak menerima informan mengenai rokok elektronik dari sekolah. Oleh karena itu, disarankan kepada sekolah untuk memberikan informasi terkait rokok elektronik kepada orang tua dan siswa untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap mereka sebagai salah satu upaya pencegahan perilaku merokok elektronik pada remaja.

Currently, there is a rapid increase in the prevalence of e-cigarette smoking in Indonesia. According to the Global Adult Tobacco Survey (GATS) 2021, the prevalence of smokers in Indonesia increased 10 times higher from 0.3% in 2011 to 3% in 2021. The 2023 GATS results show that one of the regions with the highest prevalence of e-cigarette smokers is DKI Jakarta with the age group 10-14 having the highest prevalence of 29.72%. Several studies have shown a relationship between parental knowledge and attitudes towards adolescent e-cigarette smoking behavior. This study was conducted to determine the knowledge, attitudes, and preventive practices of parents towards e-cigarette smoking behavior in adolescents at SMP X Jakarta. This study was conducted using a qualitative approach with data collection through in-depth interviews with purposively selected informants. The results showed that parents have basic knowledge about e-cigarettes, which function like cigarettes by using tools and liquids, but their knowledge of the content and health effects is lacking. Parents also have a disapproving attitude towards e-cigarettes or an attitude that supports children not to use e-cigarettes. There are various prevention practices carried out by parents such as open communication, teaching religion, maintaining children's friendship environment, supporting boys to be friends with girls because they see women tend not to smoke, and giving physical and non-physical punishment. On the other hand, all informants did not receive informants about e-cigarettes from schools. Therefore, it is recommended for schools to provide information related to e-cigarettes to parents and students to improve their knowledge and attitudes as an effort to prevent e-cigarette smoking behavior in adolescents.
Read More
S-11693
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lia Rahmawati Susila; Pembimbing: Tri Krianto; Peguji: Diah Mulyawati Utari, Nur Fabriani Wardi
Abstrak: Status gizi adalah cerminan ukuran terpenuhinya kebutuhan gizi yang di dapatkan dari asupan dan penggunaan zat gizi oleh tubuh Penelitian ini bertujuan utuk melihat gambaran mengenai pelaksanaan program promosi kesehatan dalam rangka peningkatan status gizi anak di PAUD X Desa Bojonggede tahun 2015 Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan desain Rapid Asessment Procedures RAP Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah wawancara mendalam Hasil penelitian menunjukkan bahwa program promosi kesehatan yang sudah berjalan cukup baik adalah sudah ada pemeriksaan kesehatan bagi anak secara berkala dan program pemberian makanan tambahan dari Yayasan Balita Sehat selain itu kader dan petugas dari Yayasan Balita Sehat sudah mendapatkan pelatihan tumbuh kembang refreshing kader dan pelatihan tatalaksana gizi anak untuk mendukung berjalannya program peningkatan status gizi anak Program promosi kesehatan yang masih kurang dan perlu ditingkatkan adalah sosialisasi terhadap gerakan penanggulangan gizi buruk yaitu operasi timbang sosialisasi dan penerapan kebijakan penanganan gizi buruk serta upaya promotif dari fasilitas kesehatan sekitar wilayah Desa Bojonggede Guna meningkatkan upaya promosi kesehatan perlu dilakukan kerjasama antara Dinas Kabupaten Bogor Puskesmas Bojonggede aparat Desa Bojonggede Yayasan Balita Sehat dan fasilitas kesehatan di wilayah Desa Bojonggede
 

Nutritional status is a reflection of the size of the unmet needs in getting the nutritional intake and the use of nutrients by the body This study aims to see an overview of the implementation of health promotion programs in order to improve the nutritional status of children in PAUD X Bojonggede village 2015 This study is a qualitative research design Rapid assessment Procedures RAP The method used in data collection is in depth interview The results showed that the health promotion program that has been running quite well is the existing health examination for children on a regular basis and supplementary feeding program from Yayasan Balita Sehat besides cadres and officers of Yayasan Balita Sehat already received training growth and development and training of refreshing cadres management of child nutrition improvement program to support the passage of the nutritional status of children Health promotion programs are still lacking and needs to be improved is the socialization of malnutrition prevention movement that weight operation dissemination and implementation of policies to deal with malnutrition as well as promotive of health facilities around the Village area Bojonggede In order to improve health promotion efforts need to be undertaken in collaboration between the Bogor district health offices PHC Bojonggede officials Bojonggede village Yayasan Balita Sehat and health facilities in the area Bojonggede village
Read More
S-8889
Depok : FKM-UI, 2015
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive