Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30618 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Rafiah Maharani; Promotor: Tri Yunis Miko Wahyono; Kopromotor: Helda, Noorwati Sutandyo; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Pujiyanto, Sudarto Ronoatmodjo, Misnaniarti, Yati Afiyanti, Denni Joko Purwanto
Abstrak:

Kanker payudara merupakan kanker yang paling banyak diderita oleh wanita di dunia, khususnya di Indonesia. Pengobatan yang lama dan berat memiliki dampak psikologis yang berpengaruh terhadap kualitas hidup pasien. Dukungan sosial penting untuk kualitas hidup pasien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup pasien kanker payudara di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi longitudinal dan kualitatif dengan case study. Sampel penelitian ini adalah pasien kanker payudara yang berobat dan tercatat pada di RS Kanker Dharmais periode bulan Agustus-Desember 2023 yang memenuhi syarat kriteria inklusi dan eksklusi penelitian sebanyak 190 pasien. Pengukuran kualitas hidup dengan kuesioner EORTC QLQ 30 dan BR-23 Pengukuran dukungan sosial dengan kuesioner Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Pengumpulan data kualitatif dengan kelompok focus group discussion (FGD) dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan analisis regresi logistik untuk pengukuran data berulang pada data kategorik dengan General Estimation of Equotion (GEE). Dukungan sosial mempengaruhi kualitas hidup pasien kanker payudara sebesar 3,9 kali (OR=3,9; 95% CI: 3,3-4,6) setelah dikontrol faktor umur dan stadium kanker payudara. Sumber dukungan yang paling berpengaruh yaitu dukungan keluarga (OR=5,2 CI 95% 2,8-7,6) dan tenaga kesehatan (OR=2,0 CI 95% 1,3-3,1). Bentuk dukungan sosial yang paling berpengaruh yaitu dukungan emosional (OR=5,3 CI 95% 3,0-9,0), nyata (OR=3,6 CI 95% 2,5-5,2), dan informasi (OR=2,4 CI 95% 1,4-4,3). Pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup berdasarkan waktu terdapat penurunan seiring berjalannya waktu. Diharapkan untuk peningkatan dukungan sosial dari keluarga, tanaga Kesehatan dalam bentuk dukungan emosianal, nyata dan informasi. Rumah Sakit Kanker Dharmais juga diharapkan untuk mengoptimalkan program paliatif dan NAPAK sebagai bentuk dukungan sosial terhadap pasien kanker payudara. Kata Kunci : Kualitas Hidup, Dukungan Sosial, Pasien Kanker Payudara


 

Breast cancer is the most common type of cancer affecting women worldwide, particularly in Indonesia. The lengthy and intensive treatment process often has psychological impacts that affect patients' quality of life. Social support plays a crucial role in improving the quality of life of breast cancer patients. This study aims to analyze the effect of social support on the quality of life of breast cancer patients at Dharmais Cancer Hospital. A mixed-methods design was used, combining a quantitative longitudinal approach with a qualitative case study. The sample consisted of 190 breast cancer patients who were treated and registered at Dharmais Cancer Hospital between August and December 2023, and who met the study's inclusion and exclusion criteria. Quality of life was measured using the EORTC QLQ-C30 and BR-23 questionnaires, while social support was assessed using the Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS). Qualitative data were collected through focus group discussions (FGDs) and in-depth interviews. Data were analyzed using logistic regression for repeated measurements, employing the Generalized Estimating Equation (GEE) method for categorical data. The results showed that social support significantly influenced the quality of life of breast cancer patients, increasing the odds by 3.9 times (OR = 3.9; 95% CI: 3.3–4.6) after controlling for age and cancer stage. The most influential sources of support were family (OR = 5.2; 95% CI: 2.8–7.6) and healthcare workers (OR = 2.0; 95% CI: 1.3–3.1). The most impactful forms of support were emotional (OR = 5.3; 95% CI: 3.0–9.0), tangible (OR = 3.6; 95% CI: 2.5–5.2), and informational support (OR = 2.4; 95% CI: 1.4–4.3). However, the effect of social support on quality of life was found to decrease over time. It is therefore recommended to enhance social supports particularly from family and healthcare professionals through emotional, tangible, and informational forms. Dharmais Cancer Hospital is also expected to optimize its palliative care and NAPAK programs as a structured form of social support for breast cancer patients. Keywords: Quality of Life, Social Support, Breast Cancer Patients

Read More
D-576
Depok : FKM-UI, 2025
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lita Kusmalasari; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Ratna Djuwita, Aldrin Neilwan Pancaputra, Rizka Andalusia
T-4055
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Safarudin; Pembimbing: Nurhayati Adnan Prihartono; Penguji: Asri C. Adisasmita, Yovsyah, Walta Gautama
T-4309
Depok : FKM-UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Astuti; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Bantas, Krisnawati; Rachmawati
S-6293
Depok : FKM-UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Andree Kurniawan; Promotor: Ratna Djuwita; Ko Promotor: Asri C. Adisasmita, Sonar Soni Panigoro; Penguji: Noorwati Sutandyo, Fiastuti Witjaksono, Tirza Z. Tamin, Rachmat Sumantri, Dwi Savitri Rivami
Abstrak:
Latar Belakang: Masih terbatas data hubungan sarkopenia dengan toksisitas kemoterapi dan kualitas hidup. Tujuan studi adalah untuk mengetahui peran sarkopenia terhadap toksisitas kemoterapi dan perubahan skor kualitas hidup setelah pasien kanker payudara Metode: Studi kohort prospektif pada pasien kanker payudara perempuan berusia 18-59 tahun yang menjalani kemoterapi pertama dilakukan evaluasi sarkopenia dengan analisa Bio-impedans dan dinamometer JAMAR. Evaluasi toksisitas kemoterapi dan kualitas hidup dengan kuesioner National cancer Institute common toxicity criteria dan kuesioner European Organization for Research and Treatment of Cancer Core Quality of life 30 dan BRE-23. Hasil: Sebanyak 128 subyek kanker payudara dengan median usia 47(25-59) tahun, 39,1% dengan status gizi gemuk, 56,3% dengan stadium 2, 51,6% belum menopause, dan 51,6% mendapat kemoterapi berbasis Taxan. Sarkopenia sebelum kemoterapi berisiko dengan toksisistas pasca kemoterapi pertama dengan adjusted rasio odds (OR) 1,74(0,62-4,86), pasca kemoterapi kedua adjusted OR 40,34 (2,54-641,19), dan pasca kemoterapi ketiga adjusted OR 3,98 (0,14-114,01). Sarkopenia berisiko terhadap perubahan skor kualitas hidup pasca tiga siklus kemoterapi untuk domain kehilangan nafsu makan dengan adjusted OR 2,23(0,27-18,63), domain konstipasi dengan adjusted OR 3,42(0,75-15,50), dan domain kesulitan finansial dengan adjusted OR 5,50(1,41-121,42). Simpulan: Sarkopenia sebelum kemoterapi berhubungan dengan toksisitas kemoterapi dan penurunan skor kualitas hidup untuk beberapa domain skala gejala

Background: There was still limited data whether sarcopenia related to chemotherapy toxicity and impacted to quality of life. The aim is to know the role of sarcopenia on chemotherapy toxicity and changed of quality of life after breast cancer patients. Methods: This prospective cohort study was conducted in breast cancer women patients with age 18 to 59-year old who underwent chemotherapy, will be evaluated sarcopenia with Bio-Impedans analysis and JAMAR dynamometer. Evaluation of chemotherapy toxicity and quality of life with National cancer institute common toxicity criteria and European Organization for research and treatment of cancer care quality of life 30 and BRE-23. Results: A total of 128 breast cancer subjects with median age 47(25-59) year old, 39.1% with obese, 56.3% with stage 2 disease. Sarcopenia before chemotherapy associated with toxicities after first, second, and third cycles of chemotherapy with adjusted OR 1.73(0.62-4.86); 40.34(2.54-641.19); and 3.98(0.14-114.01), respectively. Sarcopenia associated with changed of quality of life scores of loss of appetite, constipation, and financial loss domains with adjusted OR 2.23(0.27-18.63), 3.42(0.75-15.50), and 5.50(1.41-21.42) respectively after underwent three cycles of chemotherapy. Conclusion: Sarcopenia before chemotherapy associated with chemotherapy toxicity and decreased quality of life score for several domain of symptom scales
Read More
D-445
Depok : FKM-UI, 2021
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nikson Sitorus; pembimbing: Helda, Ajoedi Soemardi; penguji: Yovsyah, Sastriwati
T-3057
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Nur Anisah; Promotor: Ratna Djuwita; Kopromotor: Purwantyastuti, Siti Dharmayati B. Utoyo; Penguji: Mondastri Korib Sudaryo, Besral, Evi Martha, Menaldi Rasmin, Fidiansjah, Soewarta Kosen
Abstrak: Penelitian ini membahas pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup Pasien Tuberkulosis (TBC) di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat, dengan pendekatan kuantitatif dan kualitatif menggunakan desain studi longitudinal (pengukuran berulang) dan Rapid Assessment Procedure (RAP). Pengumpulan data kuantitatif dengan wawancara kepada responden menggunakan kuesioner WHOQOL-BREF untuk data kualitas hidup dan Multidimensional Scale of Perceived Social Support (MSPSS) untuk data dukungan sosial. Pengumpulan data kualitatif dengan kelompok diskusi terarah (DKT) dan wawancara mendalam. Analisis data menggunakan analisis regresi logistik untuk pengukuran data berulang yaitu General Estimation of Equotion (GEE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial mempunyai pengaruh kuat terhadap kualitas hidup Pasien TB; pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup Pasien TBC terus meningkat mulai bulan ke-2 sampai akhir bulan ke-6; sumber dukungan sosial yang berpengaruh untuk meningkatkan kualitas hidup Pasien TBC adalah keluarga, teman dan orang terdekat lainnya; bentuk dukungan sosial yang berpengaruh untuk meningkatkan kualitas hidup Pasien TBC adalah dukungan emosional, informasi dan persahabatan. Kesimpulan: dukungan sosial kepada Pasien TBC yang diberikan selama masa pengobatan sampai pasien sembuh memberikan dampak terhadap kualitas hidupnya. Studi ini merekomendasikan untuk peningkatan dukungan sosial dari keluarga, teman dan orang terdekat lainnya dalam bentuk dukungan emosional, informasi dan persahabatan agar kualitas hidup Pasien Tuberkulosis lebih baik.
Read More
D-405
Depok : FKM-UI, 2019
S3 - Disertasi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Indah Irianti; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Indang Trihandini, Aries Hamzah, Punto Dewo
Abstrak: Berdasarkan data GLOBOCAN tahun 2012, insidensi kanker yang tertinggi di Indonesia adalah kanker payudara. Saat ini masih banyak kematian yang disebabkan oleh kanker payudara. Kesintasan hidup penderita kanker payudara tergantung beberapa faktor yang sangat penting untuk diketahui, termasuk stadium kanker. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh stadium kanker, umur, pendidikan, pekerjaan, pernikahan, status jaminan kesehatan, riwayat keluarga, jenis terapi dan jarak tempat tinggal terhadap kesintasan hidup penderita kanker payudara. Rancangan penelitian menggunakan metode kohort retrospektif. Sampel pada penelitian ini adalah 135 penderita kanker payudara yang pertama kali didiagnosis kanker payudara dari bulan Januari 2007 sampai dengan Juni 2012 di RS Cipto Mangunkusumo. Analisis data menggunakan program SPSS dan metode Kaplan Meier serta faktor yang berhubungan dianalisis dengan Cox regression. Hasil analisis bivariabel menunjukkan bahwa stadium kanker memiliki hubungan yang signifikan terhadap kesintasan hidup kanker payudara (p value=0,000 ; HR 19,227 (95%CI 1,395-265,101)). Sedangkan pada analisis mutivariabel hubungan stadium terhadap kesintasan hidup tidak signifikan (p value=0,102) setelah dikontrol oleh variabel pendidikan, pekerjaan, jenis terapi dan interaksi stadium kanker dengan pendidikan penderita. Kesintasan hidup penderita kanker payudara pada penderita kanker payudara dengan stadium dini lebih tinggi (94,1%) dibandingkan penderita stadium lanjut (70,1%). Penderita dengan stadium lanjut berisiko 11 kali lebih tinggi dibandingkan stadium dini (HR=10,923 ; 95%CI 0,623-191,417). Maka diperlukan kesadaran dan upaya deteksi dini kanker payudara untuk lebih meningkatkan kesintasan hidup penderita kanker payudara.
Kata Kunci: Kanker payudara, kesintasan hidup, stadium kanker, RSCM

Based on GLOBOCAN data of 2012, the highest incidence of cancer in Indonesia is breast cancer. Currently there are still many deaths caused by breast cancer. The survival of breast cancer survivors depends on several factors that are very important to know, including the stage of cancer. This study aims to determine the effect of stage of cancer, age, education, occupation, marriage, health insurance status, family history, type of therapy and distance of residence to survival of breast cancer survivors. The study design used a retrospective cohort method. Samples in this study were 135 breast cancer patients who were first diagnosed with breast cancer from January 2007 to June 2012 at RS Cipto Mangunkusumo. Data analysis using SPSS program and Kaplan Meier method and related factors were analyzed with Cox regression. The results of bivariable analysis showed that the stage of cancer had a significant relationship to survival of breast cancer (p value = 0,000; HR 19,227 (95% CI 1,395-265,101)). While in the analysis of mutivariabel the relationship of stage to life survival is not significant (p value = 0,102) after controlled by education variable, work, therapy type and interaction of cancer stage with education of patient. The survival of breast cancer survivors in early stage of breast cancer was higher (94.1%) than those in advanced stage (70.1%). Patients with advanced stage 11 times higher risk than the early stage (HR = 10,923; 95% CI 0.623-191,417). So needed awareness and efforts to early detection of breast cancer to further improve survival of breast cancer patients.
Keywords: Breast cancer, life survival, cancer stage, RSCM
Read More
T-5084
Depok : FKM UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Adhitya Bayu Perdana; Pembimbing: Asri C Adisasmita; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Denni Joko Purwanto
Abstrak: Limfedema merupakan komplikasi kronis yang umumnya terjadi setelah diseksi kelenjar getah bening (KGB) aksila pada pasien kanker payudara. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui angka kejadian, faktor risiko, dan model prediksi limfedema pasca diseksi KGB aksila pada pasien kanker payudara stadium lanjut. Penelitian ini merupakan desain kohort retrospektif pada 174 pasien di Rumah Sakit Kanker Dharmais. Regresi Cox digunakan untuk mengidentifikasi faktor risiko signifikan terhadap limfedema. Keakuratan model prediksi dinilai dengan menghitung area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). Hasil penelitian menunjukkan limfedema teridentifikasi pada 88/174 (50,6%) pasien dan sebagian besar mengalami limfedema pada 12 hingga 36 bulan pertama setelah diseksi KGB aksila. Faktor risiko yang terkait dengan limfedema di antaranya adalah usia, obesitas, diabetes, kemoterapi neoadjuvan, dan kemoterapi adjuvan. Model prediksi menunjukkan sensitivitas yang baik (80,2%) pada populasi penelitian dengan nilai AUC 0,706 (95% CI 0,629-0,783; p-value < 0,05). Dapat disimpulkan bahwa model prediksi yang dikembangkan dalam penelitian ini cukup baik untuk diterapkan oleh para klinisi dalam mengestimasikan risiko limfedema, khususnya untuk pasien kanker payudara dengan stadium lanjut.
Lymphedema is a chronic complication that commonly occurs after axillary lymph node dissection (ALND) in breast cancer patients. This study aimed to determine the incidence, risk factors, and prediction model for lymphedema after ALND in advanced-stage breast cancer patients. This was a retrospective cohort design on 174 patients at Dharmais Cancer Hospital. Cox regression was used to identify significant risk factors for lymphedema. The prediction accuracy of the model was assessed by calculating the area under the receiver operating characteristic curve (AUROC). The results showed that lymphedema was identified in 88/174 (50.6%) patients and most of them experienced lymphedema in the first 12 to 36 months after ALND. Risk factors associated with lymphedema include age, obesity, diabetes, neoadjuvant chemotherapy, and adjuvant chemotherapy. The prediction model showed good sensitivity (80.2%) in the study population with an AUC value of 0.706 (95% CI 0.629-0.783; p-value < 0.05). It can be concluded that the prediction model developed in this study is good enough to be implemented by clinicians in estimating the risk of lymphedema, especially for advanced-stage breast cancer patients in our hospital.
Read More
T-6902
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mutia Eka Nuriani; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Putri Bungsu, Eka Widya Khorinal
Abstrak:

Latar belakang. Demam neutropenia merupakan salah satu adverse event yang sering terjadi pasien kanker payudara. Demam neutropenia yang tidak dapat dicegah dan ditangani dengan baik mengakibatkan komplikasi, kematian dan mempengaruhi efektivitas pengobatan. Olehkarena itu perlu diketahui faktor-faktor dominan apa saja yang dapat mempengaruhi terjadinya demam neutropenia agar kejadian demam neutropenia dapat dicegah. Tujuan. Untuk mengetahui hubungan variabel bebas usia, status performa, penyakit penyerta, jenis kanker payudara, stadium kanker payudara, pemberian kemoterapi sitotoksik, albumin, hemoglobin dengan kejadian demam neutropenia pada pasien kanker payudara di RS Kanker Dharmais Jakarta. Metode. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan desain potong lintang. Hasil. Proporsi demam neutropenia adalah 13,67%. Faktor risiko dominan penyebab demam neutropenia adalah variabel status performa pasien PR Crude 3,64 (95% CI 2,07-6,39, p-value 0,001), PR Adjusted 2,16 (95% CI 1,09-4,30, p-value 0,027); diabetes PR Crude 2,30 (95% CI 1,21-4,53; p-value 0,012), PR Adjusted 2,17 (95%CI 1,07-4,41; p-value 0,030); stadium tiga PR Crude 2,28 (95% CI 1,2-5,07; p-value 0,001) PR Adjusted 2,49 (95% CI 1,11-5,60; p-value 0,001), dan stadium empat PR Crude 3,93 (95% CI 1,72-8,97; p-value 0,001) PR Adjusted 3,6 (95% CI 1,45-8,93; p-value 0,001). Kesimpulan. Kejadian demam neutropenia pada pasien kanker payudara menunjukkan hasil yang signifikan. Upaya pencegahan menggunakan profilaksis G-CSF diperlukan untuk pasien dengan risiko tinggi mengalami demam neutropenia. Penelitian lanjutan terkait konsekuensi demam neutropenia perlu dilakukan. Kata kunci. Demam neutropenia, faktor risiko, kanker payudara, kemoterapi sitotoksis


 

Background. Febrile neutropenia is one of the adverse events that often occur in breast cancer patients. If it cannot be prevented and treated properly, it increases complications and mortality and decreases the effectiveness of treatment. Therefore, knowing the dominant factors that can affect febrile neutropenia is necessary, and febrile neutropenia can be prevented.  Objective. To determine the relationship between independent variables of age, performance status, comorbidities, type of breast cancer, stage of breast cancer, regiment of cytotoxic chemotherapy, albumin, and hemoglobin with the incidence of febrile neutropenia in breast cancer patients at Dharmais Cancer Hospital, Jakarta. Method. Observational study with cross-sectional design. Results. The proportion of febrile neutropenia was 13.67%. The dominant risk factors causing febrile neutropenia are patient performance status PR Crude 3,64 (95% CI  2,07-6,39, p-value 0,001), PR Adjusted 2,16 (95% CI  1,09-4,30, p-value 0,027); diabetes PR Crude 2,30 (95% CI 1,21-4,53; p-value 0,012), PR Adjusted 2,17 (95%CI 1,07-4,41; p-value 0,030); stages three of breast cancer PR Crude 2,28 (95% CI 1,2-5,07; p-value 0,001) PR Adjusted 2,49 (95% CI 1,11-5,60; p-value 0,001); stage four of breast cancer PR Crude 3,93 (95% CI 1,72-8,97; p-value 0,001) PR Adjusted 3,6 (95% CI 1,45-8,93; p-value 0,001). Conclusion. The incidence of febrile neutropenia in breast cancer patients showed significant results. Prophylaxis G-CSF is needed for patients at high risk of developing febrile neutropenia. Further research related to the consequences of febrile neutropenia is required. Keywords. Breast cancer, cytotoxic chemotherapy, febrile neutropenia, risk factors

Read More
T-7174
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive