Ditemukan 40346 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Rara Adril; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Helen Andriani, Masyitoh, Herlina Nasution, Darmayenti
Abstrak:
Read More
Triase dilakukan untuk menentukan prioritas penanganan pasien secara tepat berdasarkan tindakan perawatan yang tersedia. Namun, meningkatnya jumlah kunjungan pasien ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) secara global maupun di Indonesia menyebabkan kepadatan layanan dan memperpanjang waktu tunggu pasien untuk mendapatkan penanganan. Hal ini menuntut tanggung jawab dokter dan perawat dalam pengambilan keputusan triase yang cepat dan akurat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan triase oleh dokter dan perawat di IGD RSUD Prof. H. Muhammad Yamin, SH dan RSUD Padang Pariaman. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Data dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara faktor pengetahuan terhadap pengambilan keputusan triase. Tidak ditemukan hubungan signifikan antara faktor pengalaman kerja, pelatihan, keterampilan, kerjasama tim, ketersediaan instrumen, usia, jenis kelamin, status pernikahan, latar belakang pendidikan, dan status kepegawaian terhadap pengambilan keputusan triase. Pengetahuan merupakan faktor dominan setelah dikontrol oleh variabel lain. Oleh karena itu, pelatihan triase yang terjadwal, berbasis bukti, dan didukung evaluasi berkelanjutan serta anggaran khusus penting untuk meningkatkan kepercayaan diri tenaga medis dalam pengambilan keputusan triase di IGD.
Triage is carried out to determine the appropriate prioritization of patient management based on the available treatment options. However, the increasing number of patient visits to Emergency Departments both globally and in Indonesia has resulted in overcrowding and longer patient waiting times. This situation demands greater responsibility from doctors and nurses to make accurate and timely triage decisions. This study aims to identify the factors related to doctors and nurses in triage decision making at the Emergency Departments of Prof. H. Muhammad Yamin SH Regional General Hospital and Padang Pariaman Regional General Hospital. The research used a quantitative method with a cross sectional approach. Data were analyzed using the chi square test and multiple logistic regression. The results showed a significant relationship between knowledge and triage decision making. No significant relationship was found for work experience, training, skills, teamwork, availability of instruments, age, gender, marital status, educational background, and employment status. Knowledge was identified as the dominant factor after controlling for other variables. Therefore, scheduled and evidence based triage training supported by continuous evaluation and dedicated budget allocation is essential to improve the confidence and competence of medical personnel in making triage decisions in the Emergency Department.
T-7274
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Amril; Pembimbing: Adi Sasongko; Penguji: Besral, Sudarti Kresno, Saidah Simanjuntak, I Gusti Ayu Nyoman S.
Abstrak:
Read More
Perilaku adalah semua kegiatan atau aktivitas manusia, baik yang dapat diamati langsung, maupun yang tidak diamati secara langsung, oleh pihak luar. Asuhan keperawatan adalah proses atau rangkaian kegiatan praktik keperawatan yang diberikan secara Iangsung kepada klien/pasien di berbagai tatanan pelayanan kesehatan. Dilaksanakan berdasarkan kaidah-kaidah keperawatan, bersifat humanistik pada kebutuhan objektif klien untuk mengatasi masalah yang dihadapi. Asuhan keperawatan dilaksanakan berdasarkan proses perawatan, dengan tahapan yang terdiri atas pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan tindakan keperawatan, evaluasi dan pendokumenfasian keperawatan. Perilaku perawat dalam melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan bila tidak dilaksanakan sesuai standar prosedur akan menimbulkan keluhan bagi pasien, yang berakibat tidak puasnya klien yang dilayani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku perawat dalam melakukan pendokumentasian asuhan keperawatan di instalasi rawat inap RSUD Pariaman tahun 2004. Desain yang digunakan adalah cross sectional. Populasi penelitian adalah semua perawat pelaksana yang bertugas di instalasi rawat inap yaitu ruangan kebidanan, bedah, IKA, penyakit dalam, Neurologi, paviliun Gandofnah, pavilitm Nan Tongga RSUD Pariaman. Sampel penelitian, semua populasi dijadikan sampel (total sampling) yang berjumlah 70 orang responden. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner, dan checklist. Pengolahan data dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat dengan bantuan komputer. Hasil penelitian ditemukan perilaku perawat dalam melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan yang baik sebesar 62,9%. Hasil analisis bivariat, yang menunjukkan ada hubungan yang signifikan dengan perilaku perawat dalam melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan adalah pengetahuan, beban kerja, SOP keperawatan. Hasil analisis multivariate regresi logistik, variabel pengetahuan merupakan variabel yang secara statistik paling sigifikan berhubungan dengan perilaku perawat dalam melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan di instalasi rawat inap RSUD Pariaman tahun 2004, dengan Odds Ratio 4,96 (95% CI: 1,55-15,86), artinya perawat yang pengetahuannya baik mempunyai peluang untuk berperilaku baik dalam melaksanakan pendokumentasian asuhan kepemwatan sebesar 4,96 kali dibanding perawat yang mempunyai pengetahuan kurang setelah dikontrol variabel beban kerja. Unluk merubah perilaku perawat dalam melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan di instalasi rawat inap RSUD Pariaman ke arah yang Iebih baik sesuai standar, disarankan agar pihak rnanajemen rumah sakit melakukan peningkatan pengetahuan melalui pendidikan tenaga keperawatan dari SPK, PPB ke jenjang yang lebih tinggi minimal D Ill Keperawatan, dan melaksanakun pelatihan on the job training, maupun pelatihan formal di bidang pelayanan keperawatan yang dihaksanakan oleh institusi terkait, dan disediakan dana untuk pendidjkan dan pelatihan tersebut. Agar beban kerja tenaga keperawatan dibuatkan standar operasional prosedurnya (SOP), diatur sedemikian rupa sehingga semua perawat mendapatkan pembagian tugas yang merata dan seimbang, peraturan tentang standar operasional prosedur keperawatan dilakukan kaji ulang untuk perbaikan dan revisi sesuai kondisi rumah sakit. Agar perawat meningkatkan perilakunya dalam melaksanakan pendokumentasian asuhan keperawatan, mulai dari pengkajian keperawatan, penegakkan diagnosa keperawatan, perencanaan keperawatan, pelaksanaan keperawatan, dan terutama evaluasi keperawatan dan pendokumentasian asuhan keperawatan, supaya pelanggan merasa lebih puas dan nyaman setelah mendapat pelayanan keperawatan di rumah sakit umum daerah Pariaman.
T-1840
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Djusnaini; Pembimbing: Ratu Ayu Dewi Sartika
T-938
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Isnani Adani; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Pujiyanto, Vetty Yulianti Permatasari, Budiman Widjaja, Astrid Saraswaty
Abstrak:
ABSTRAK Beban kerja merupakan salah satu komponen dalam menghitung kebutuhan tenaga. Artinya jumlah tenaga yang dibutuhkan disesuaikan dengan beban kerja yang ada. Metode Workload Indicators of Staffing Need ( WISN) adalah metode untuk menghitung kebutuhan tenaga kesehatan beerdasarkan beban kerja nyata yang dilaksanakan oleh tenaga kerja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya beban kerja yang ada di Instalasi gawat Darurat RSUD Kota Kendari dengan teknik Work Sampling dan selanjutnya digunakan untuk menghitung kebutuhan tenaga dengan metode WISN. Penelitian dilakukan di Instalasi Gawat Darurat RSUD Kota Kendari pada bulan Oktober sampai dengan November 2018. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan melakukan observasi, wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian didapatkan kegiatan produktif di Instalasi Gawat Darurat yaitu (34,2%%) dan kegiatan produktif tidak langsung (55,3%). Proporsi waktu yang diperoleh dari komponen beban kerja kegiatan produktif dan kegiatan produktif tidak langsung sudah mencapai batas maksimal yaitu (89,5%). Perhitungan kebutuhan tenaga perawat berdasarkan beban kerja diperoleh 28,7 tenaga perawat dengan ratio WISN 0,8. Hasil penelitian menyarankan bagi manajemen RSUD Kota Kendari untuk melakukan pengelolaan tenaga keperawatan secara optimal untuk mencapai pelayanan keperawatan yang berkualitas, mempertimbangkan beban kerja perawat sebagai acuan dalam penentuan kebutuhan tenaga perawat, serta menambah tenaga non medis (porter). Kata Kunci : Beban Kerja, Work Sampling, Kebutuhan Tenaga Perawat, WISN ABSTRACT Workload is one of component in calculating needs power. This means that the amount of energy needed is adjusted to the existing workload. A method of Workload Indicators of Staffing Need (WISN) is the method for calculating the needs of health workers based on the actual workload carried out by the workforce. This study aims to determine the amount of workload in the Emergency Installation at Kendari City General Hospital with Work Sampling techniques and then used to calculate the power requirements with the WISN method. The research was conducted at the Emergency Room Installation at Kendari City General Hospital in October to November 2018. This research is a qualitative research by conducting observations, in-depth interviews and document review. The results showed that productive activities in the Emergency Room were (34.2 %%) and indirect productive activities (55.3%). The proportion of time obtained from the component of the workload of productive activities and indirect productive activities has reached the maximum limit, namely (89.5%). Calculation of nurses' needs based on workload obtained 28.7 nurses with a WISN 0.8 ratio. The results of the research suggested for the management of Kendari City General Hospital to carry out the management of nursing staff optimally to achieve quality nursing services, considering the workload of nurses as a reference in determining the needs of nurses, as well as adding non-medical personnel (porters). Key words: Workload, Work Sampling, Nurse needs power, WISN
Read More
T-5483
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syahrul; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Engkus Kusdinar Achmad
T-1867
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Syahrul; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas, Engkus Kusdinar Achmad; Penguji: Soetanto, Kartini Rustandi, Hasan Anwar
T-2119
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Inggit Meliana Anggarini; Pembimbing: Ronnie Rivany
S-3617
Depok : FKM-UI, 2004
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rona Firmana Putri; Pembimbing: Jaslis Ilyas; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Purnawan Junadi, Nurrahmiati, Andi Alfian Zainuddin
Abstrak:
Read More
Indonesia masih mengalami kesulitan terkait akses masyarakat terhadap layanan kesehatan serta kurangnya tenaga kesehatan, terutama di wilayah perdesaan dan terpencil. Berdasarkan data Sistem Informasi Sumber Daya Manusia Kesehatan (SISDMK), terdapat kekurangan tenaga kesehatan, khususnya dokter, yang ditandai dengan masih banyaknya jumlah Puskesmas tanpa dokter. Provinsi Maluku adalah salah satu Provinsi yang memiliki persentase Puskesmas tanpa dokter tertinggi yaitu 17,6% dan Puskesmas tersebut mayoritas terletak di wilayah perdesaan dan terpencil yang ditetapkan oleh pemerintah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi dokter untuk bekerja di daerah perdesaan dan terpencil di Provinsi Maluku. Desain penelitian ini adalah cross-sectional menggunakan kuesioner online yang disebarkan kepada 344 dokter yang bekerja di Provinsi Maluku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 192 (56%) dokter yang mengisi kuesioner, faktor pengalaman di perdesaan dan terpencil (p=0,032), peluang karir (p=0,000), peluang pengembangan pendidikan dan profesional (p=0,010) dan kondisi kehidupan (p=0,016) merupakan faktor-faktor yang berhubungan dengan motivasi dokter untuk bekerja di daerah perdesaan dan terpencil di Provinsi Maluku. Sementara faktor yang paling dominan berhubungan adalah peluang karir (AOR=4,32 95% CI 1,43-11,76 95% CI) dan pengalaman di perdesaan dan terpencil 1-5 tahun (AOR=4,30 95% CI 1,24-14,70 95% CI). Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam membuat kebijakan untuk mengatasi kekurangan dokter di daerah perdesaan dan terpencil khususnya di Provinsi Maluku, pemerintah harus memberikan perhatian khusus terhadap peluang pengembangan pendidikan dan profesional, kondisi kehidupan, dan terutama kebijakan terkait peluang kemajuan karir dokter serta kebijakan yang menunjang dokter agar memiliki pengalaman praktik di perdesaan dan terpencil.
Indonesia is still experiencing difficulties related to community access to health services and the need for more health workers, especially in rural and remote areas. Based on data from the Health Human Resources Information System (SISDMK), there is a shortage of health workers, especially doctors, as indicated by the large number of Public Health Centers that are without doctors. Maluku Province is one of the provinces with the highest percentage of Public Health Centers without doctors, at 17.6%, and most of these are located in rural and remote areas designated by the government. This study aims to determine the factors that associated with doctors' motivation to work in rural and remote areas in Maluku Province. The design of this study was cross-sectional, using an online questionnaire distributed to 344 doctors working in Maluku Province. The results showed that of 192 (56%) partisipants who filled out the questionnaire, the factors of experience in rural and remote areas (p=0.032), career opportunities (p=0.000), educational and professional development opportunities (p=0.010), and living conditions (p=0.016) were factors associated with doctors' motivation to work in rural and remote areas in Maluku Province. While the most dominant factors associated are career opportunities (AOR = 4.32 95% CI 1.43-11.76 95% CI) and experience in rural and remote areas 1-5 years (AOR=4,30 95% CI 1,24-14,70 95% CI). This study suggests that in making policies to overcome the shortage of doctors in rural and remote areas, especially in Maluku Province, the government should consider the following factors such as educational and professional development opportunities, living conditions, and primarily policies related to opportunities for career advancement of doctors and policies that support doctors to have practice experience in rural and remote areas.
T-7039
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Usfahtul Khasanah; Pembimbing: Purnawan Junadi; Penguji: Atik Nurwahyuni, Kurnia Sari, Azis Fahruji, Any Maryani
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Pertumbuhan industri jasa kesehatan di Indonesia terus meningkat, jumlah rumah sakit di Indoensia juga terus meningkat. Pertumbuhan ekonomi di Provinsi DKI Jakarta bertumbuh positif. Jumlah rumah sakit di Provinsi DKI Jakarta juga meningkat dari tahun 2019 – 2022. Hal ini mendorong persaingan dalam industri jasa kesehatan terutama rumah sakit di Provinsi DKI Jakarta. Rumah sakit berusaha melakukan upaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan agar tercapai kepuasan pasien. IGD sebagai pintu masuk utama pasien baik rawat jalan maupun rawat inap perlu memperhatikan kepuasan pasiennya. Banyaknya komplain pasien terhadap layanan kesehatan di IGD mengindikasikan adanya kekurangpuasan pasien terhadap layanan di ruang tersebut.Tujuan Penelitian: untuk melihat hubungan Kualitats Layanan (Service Quality) terhadap kepuasaan pasien di IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa. Metode Penelitian: menggunakan metode penelitian kuantitatif analitik dengan pendekatan cross sectional. Populasi dari penelitian ini adalah semua pasien yang berkunjung ke IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa pada bulan Mei 2024. Sampel penelitian berjumlah 180 pasien. Analisis data menggunakan uji analisa univariat, bivariat chi square, dan regresi logistik ganda. Hasil Penelitian: kepuasan pasien di IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa secara keseluruhan adalah baik yang terlihat dari nilai indeks Ikj yang menunjukkan nilai positif yang mengindikasikan bahwa persepsi pasien terhadap layanan kesehatan di IGD melebihi ekspektasinya. Sehingga timbul kepuasan pasien yang ideal menurut pasien. Namun ketika ditanyakan kembali menggunakan kuesioner ada 56,7% menyatakan ketidakpuasannya. Dari hasil uji chi square terlihat adanya hubungan yang signifikan terhadap kepuasan pasien pada semua dimensi kualitas layanan tangible, reliability, responsiveness, assurance dan empathy, dengan p-value 0,000 (<0,050). Kemudian dari hasil uji multivariat menyatakan bahwa responsiveness merupakan faktor yang paling dominan terhadap kepuasan pasien. Saran: Hendaknya IGD RSAU dr. Esnawan Antariksa dapat meningkatkan kualitas layanan kesehatan sehingga dapat meningkatkan kepuasan pasiennya terutama pada dimensi responsiveness.
Background: The growth of the health services industry in Indonesia continues to increase, the number of hospitals in Indonesia also continues to increase. Economic growth in DKI Jakarta Province is growing positively. The number of hospitals in DKI Jakarta Province will also increase from 2019 - 2022. This encourages competition in the health services industry, especially hospitals in DKI Jakarta Province. Hospitals try to make efforts to improve the quality of health services in order to achieve patient satisfaction. The Emergency Room as the main entrance for patients, both outpatient and inpatient, needs to pay attention to patient satisfaction. The large number of patient complaints about health services in the Emergency Room indicates that there is a lack of patient satisfaction with the services in that room. Research Objective: to see the relationship between Service Quality and patient satisfaction in the ER at RSAU dr. Esnawan Antariksa. Research Method: using quantitative analytical research methods with a cross sectional approach. The population of this study were all patients who visited the emergency room at RSAU dr. Esnawan Antariksa in May 2024. The research sample consisted of 180 patients. Data analysis used univariate analysis, bivariate chi square and multiple logistic regression tests. Research Results: patient satisfaction in the ER RSAU dr. Esnawan Antariksa as a whole is good as seen from the Ikj index value which shows a positive value indicating that the patient's perception of health services in the ER exceeds their expectations. So that ideal patient satisfaction arises according to the patient. However, when asked again using a questionnaire, 56.7% expressed dissatisfaction. From the results of the chi square test, it can be seen that there is a significant relationship with patient satisfaction in all dimensions of tangible service quality, reliability, responsiveness, assurance and empathy, with a p-value of 0.000 (<0.050). Then, the results of the multivariate test stated that responsiveness was the most dominant factor in patient satisfaction. Suggestion: It is hoped that the Emergency Room of RSAU dr. Esnawan Antariksa can improve the quality of health services so that it can increase patient satisfaction, especially in the dimension of responsiveness.
T-7020
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Surendra; Pembimbing: Mieke Savitri, Pujiyanto
T-1861
Depok : FKM UI, 2004
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
