Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 22834 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Mirna Raafiana; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, A. Heri Iswanto, Endang Adriyani
Abstrak:
Pengelolaan logistik farmasi merupakan tulang punggung yang menunjang keberhasilan dan kelancaran suatu tindakan operasi. Operasi Sectio caesarea (SC) merupakan tindakan operasi yang terbanyak di RS Prikasih dan merupakan prosedur operasi yang sangat penting dan beresiko tinggi karena menyangkut keselamatan 2 (dua) nyawa yaitu nyawa ibu dan bayinya sehingga perlu dipastikan semua faktor pendukung harus optimal dan dalam kondisi prima. Disamping itu, pengelolaan logistik kamar operasi juga sangat berpengaruh pada kondisi kestabilan keuangan rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui, memperbaiki dan meringkas alur logistik farmasi pada operasi SC agar lebih efektif dan efisien dengan penerapan konsep lean hospital. Penelitian ini menggunakan metode operational research dengan menggabungkan pendekatan kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan pada November-Desember 2024 di RS Prikasih dengan melakukan observasi langsung (time motion study) pada seluruh tahapan proses resep operasi SC. Data yang didambil adalah sebanyak 38 tindakan operasi SC (sebelum implementasi) dan 29 tindakan operasi (setelah implementasi intervensi). Pada penelitian ini juga dilakukan wawancara mendalam serta telaah dokumen. Pada kondisi current state didapatkan lead time waktu pelayanan resep operasi SC adalah 121,5 menit dengan rata-rata VAT 41,8 menit dan NVAT 79,7 menit dengan aktivitas NVAT terlama adalah pada tahapan penyerahan obat ke ruangan rawat inap sebesar 53,2 menit (66,7% dari total NVAT). Jenis waste yang memberikan kontribusi besar adalah waiting dan transportation yang sebagian besar terjadi pada proses persiapan obat mulai dari depo farmasi rawat inap hingga proses serah terima ke ruangan rawat inap sebelum digunakan untuk tindakan operasi. Dalam diagram fishbone didapatkan banyak faktor penyebab masalah yang saling berkaitan dimana yang terbanyak pada faktor “methods”. Pada Analisa Five whys didapatkan akar masalah yang multiple yaitu tidak terdapatnya resep operasi standar, alur peresepan yang tidak ringkas, kurangnya ketelitian petugas serta kendala pada proses persiapan/perencanaan obat. Intervensi yang dilakukan yaitu membuat standarisasi paket resep operasi SC, merubah alur persiapan paket operasi, merubah alur pergerakan obat operasi SC langsung ke kamar bedah, meningkatkan komunikasi dan koordinasi antar unit untuk resep operasi melalui group WA serta penerapan metode 5S logistic kamar bedah. Pada kondisi future state condition didapatkan penurunan lead time sebesar 64,7% dengan rata-rata VAT 30 menit dan NVAT 12,9 menit. Hal ini dikarenakan terjadi perubahan alur obat operasi dengan meringkas 2 tahapan kegiatan yaitu tahapan penyerahan obat ke rawat inap dan tahapan pengembalian obat ke ruangan rawat inap. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan penerapan metode lean hospital dapat memperbaiki dan meringkas alur logistic farmasi operasi SC menjadi lebih efektif dan efisien.

Pharmaceutical logistics management is a critical component in the success of surgical procedures, particularly Caesarean Section (SC), the most frequent and high-risk operation at Prikasih Hospital. This study aims to evaluate and streamline the SC pharmaceutical logistics process using the Lean Hospital approach to improve efficiency and effectiveness. This research applied an operational research design with both quantitative and qualitative methods. Data were collected through direct observation (time motion study) involving 38 SC operations before and 29 operations after the intervention. In-depth interviews and document reviews were also conducted. In the initial condition, the average prescription lead time was 121.5 minutes, consisting of 41.8 minutes of Value-Added Time (VAT) and 79.7 minutes of Non-Value-Added Time (NVAT). The dominant types of waste identified were waiting and transportation, especially during drug transfer to inpatient wards. Interventions included standardizing prescription packages, redirecting drug flow directly to the operating room, enhancing communication among units via WhatsApp, and implementing the 5S method. As a result, the total prescription lead time was reduced by 64.7% to 42.9 minutes, with average VAT of 30 minutes and NVAT of 12.9 minutes. The study concludes that Lean Hospital implementation significantly improves and simplifies the SC pharmaceutical logistics flow, leading to greater operational efficiency.

Read More
B-2524
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rendra Fariadi; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Purnawan Junadi, Nine Mei, IIng Ichsan Hanafi
Abstrak: Persediaan farmasi harus dikelola dengan baik untuk kelancaran pelayanan dan keuangan rumah sakit. Pengelolaan sedian farmasi rumah sakit dimulai dari alur perencanaan dan pengadaan obat-obatan di rumah sakit. Sistem perencaanaan yang tepat dibutuhkan untuk pengelolaan perencaan dan persediaan di rumah sakit agar efisiensi dalam proses pengadaan obat dapat tercapai. RS Hermina Medan melakukan perubahan dalam sistem perencaan obat-obatan dari awalnya menggunakan sistem min-max menjadi sistem pareto. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan tingkat efisiensi terhadap kedua sistem tersebut. Penelitian ini dilakukan dengan riset operasional terhadap sampel obat hasil analisis ABC dan menggabungkan metode kualitatif. Hasil analisis ABC berdasarkan nilai pemakaian selama Agustus dan September 2023 diperoleh obat kategori A mewakili 80% dari total nilai persedian obat JKN di Instalasi Farmasi. Hasil penelitian menunjukan dengan membandingkan perhitungan untuk perencanaan pengadaan obat kategori A dengan sistem pareto dan min-max didapatkan total inventory cost lebih rendah dengan menggunakan sistem min-max. Namun, rencana pengadaan dengan sistem min-max dapat lebih baik apabila perhitungan pemakaian obat di kontrol secara rutin dan proses perencanaan pengadaan dibantu oleh sistem informasi yang lebih baik. Penelitian diharapkan dapat dilanjutkan dengan waktu yang lebih panjang agar penilaian inventory cost dapat lebih akurat.
Pharmaceutical supplies must be managed well for the smooth running of hospital services and finances. Management of hospital pharmaceutical supplies starts from the flow of planning and procurement of medicines in the hospital. An appropriate planning system is needed for managing planning and supplies in hospitals so that efficiency in the drug procurement process can be achieved. Hermina Medan Hospital made changes to its medicine planning system from initially using a min-max system to a Pareto system. This research aims to compare the level of efficiency of the two systems. This research was conducted using operational research on drug samples resulting from ABC analysis and combining qualitative methods. The results of ABC analysis based on usage values during August and September 2023 showed that category A drugs represent 80% of the total value of UHC drug supplies in pharmacy installations. The research results show that by comparing calculations for planning the procurement of category A drugs using the Pareto and min-max systems, the total inventory cost is lower using the min-max system. Procurement planning using a min-max system can be better if the calculation of drug use is routinely controlled and the procurement planning process is assisted by a better information system. It is hoped that the research can be continued for a longer period so that inventory cost assessments can be more accurate.
Read More
B-2489
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Kristanti Diliasari; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Pujiyanto, Purnawan Junadi, Yuliana dan Martha ML Siahaan
Abstrak:
Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan Lean Six Sigma sebagai strategi untuk mengurangi waktu tunggu di klinik anak Rumah Sakit X, yang merupakan aspek kritis dalam memengaruhi kepuasan pasien dan mutu layanan rawat jalan. Waktu tunggu yang berkepanjangan telah menjadi isu utama yang perlu diperbaiki, terutama di klinik anak yang memiliki kunjungan tertinggi namun belum mencapai target Indikator Nasional Mutu (INM). Penelitian ini menggunakan pendekatan action research selama satu minggu dengan mengamati 60 pasien yang memiliki janji temu di klinik tersebut. Perbaikan seperti peningkatan waktu pemeriksaan dokter, pengaturan ulang ruang pengkajian dan pengurangan pemborosan telah signifikan dalam mengurangi waktu tunggu dari 55.94 menit menjadi 29.60 menit. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa implementasi Lean Six Sigma berhasil meningkatkan efisiensi dan kualitas layanan di Klinik Anak Rumah Sakit X. Langkah-langkah ini diharapkan dapat terus meningkatkan efisiensi operasional dan kualitas pelayanan di lingkungan Klinik Anak Rumah Sakit X serta menunjukkan potensi Lean Six Sigma dalam konteks pelayanan kesehatan.

This study aims to evaluate the implementation of Lean Six Sigma as a strategy to reduce waiting times at the pediatric clinic at X Hospital, which is a critical aspect in influencing patient satisfaction and the quality of outpatient services. Prolonged waiting times have become a major issue that needs to be improved, especially in pediatric's clinic which have the highest number of visits but have not yet reached the National Quality Indicator (INM) target. This study used an action research approach for one week by observing 60 patients who had appointments at the clinic. Improvements such as increasing doctor examination times, reorganizing assesment rooms, and reducing waste have been significant in reducing waiting times from 55.94 minutes to 29.60 minutes, The results of this research show that the implementation of Lean Six Sigma has succeeded in increasing the efficiency and quality of services at the pediatric's clinic at X Hospital. It is hoped that these steps will continue to improve operational efficiency and service quality in the pediatric clinic environment at X Hospital and demonstrate the potential of Lean Six Sigma in the context of heath services
Read More
B-2466
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Osi Ramadia; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Pujiyanto, Wachyu Sulistiadi, Indro Chayadi Saleh dan Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Proses pemulangan pasien rawat inap adalah pelayanan rumah sakit untuk yang melibatkan DPJP, keperawatan, farmasi, administrasi dan pasien. Proses ini berimplikasi pada kepuasan pasien, penumpukan pasien IGD hingga efisiensi pelayanan. Metode lean merupakan metode yang dapat meningkatkan kualitas dan efisiensi pelayanan proses ini. Penelitian riset operasional dengan metode lean ini bertujuan untuk menganalisa proses pemulangan pasien rawat inap di RS Restu Kasih. Hasil penelitian: lead time pasien jaminan BPJS yaitu 5 jam 30 menit, jaminan asuransi 5 jam 10 menit dan non-jaminan 4 jam 1 menit. Persentase kegiatan NVA DPJP: 11% jaminan asuransi, 25% jaminan BPJS; keperawatan: 52% non-jaminan, 64% jaminan asuransi, 53% jaminan BPJS; farmasi: 16% non-jaminan, 22% jaminan asuransi, 23% jaminan BPJS; administrasi: 11% non-jaminan, 57% jaminan asuransi, 14% jaminan BPJS; pasien: 51% non-jaminan, 75% jaminan asuransi, 85% jaminan BPJS. Waste pada pasien non-jaminan yaitu 89% motion, 11% waiting; jaminan asuransi yaitu 42% waiting, 32% motion, 16% deffects, 11% inventory; jaminan BPJS yaitu 50% motion, 43% waiting, 7% inventory. Implementasi visual management dan berkoordinasi dengan unit terkait penugasan pada pasien jaminan BPJS menghasilkan penurunan lead time 45% menjadi 3 jam 3 menit dan penurunan kegiatan NVA sebesar 48% dari 2 jam 5 menit menjadi 1 jam 5 menit.

Process of discharging inpatients is hospital service that involves doctors, nurses, pharmacy, administration and patient. This process have implications for patient satisfaction, stagnancy of ER patients and efficiency of services. Lean method could improve quality and efficiency of this process. This operational research study using a lean method approach aims to analyze the discharge process of inpatients at Restu Kasih Hospital. The results show, lead time for BPJS coverage is 5 hours 30 minutes, insurance coverage 5 hours 10 minutes and non-insurance 4 hours 1 minute. The percentage of non-value added activities of doctors: 11% insurance coverage, 25% BPJS coverage; nurses: 52% non-insurance, 64% insurance coverage, 53% BPJS coverage; pharmacy: 16% non-insurance, 22% insurance coverage, 23% BPJS coverage; administration: 11% non-insurance, 57% insurance coverage, 14% BPJS coverage; patient: 51% non-insurance, 75% insurance coverage, 85% BPJS coverage. Waste for non-insurance: 89% motion, 11% waiting; insurance coverage: 42% waiting, 32% motion, 16% defects, 11% inventory; BPJS coverage: 50% motion, 43% waiting,7% inventory. Visual management and coordinating with each unit implementation for BPJS coverage resulting on reducing lead time by 45% to 3 hours 3 minutes and reducing non-value added activity by 48% from 2 hours 5 minutes to 1 hour 5 minutes
Read More
T-6990
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aurelianne; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Masyitoh, Novita D. Istanti, Suriadi
Abstrak:
Standar Pelayanan Minimal di rumah sakit menjadi acuan dalam mencapai mutu yang baik di sebuah institusi ataupun rumah sakit. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 129 tahun 2008 telah mengatur SPM waktu tunggu yang diperlukan oleh pasien sejak mendaftar hingga mendapatkan pelayanan dokter yaitu tidak lebih dari 60 menit. Dalam pelayanannya Tzu Chi Hospital tentu tidak terlepas dari beberapa kendala yang terjadi selama pelayanan baik kendala yang disebabkan oleh sarana dan prasarana, administratif maupun yang berasal dari SDM. Data waktu kedatangan dokter spesialis anak, waktu keterlambatan mencapai 1 jam 15 menit dan telah melebihi aturan SPM waktu tunggu pelayanan < 60 menit. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi penyebab lamanya waktu tunggu rawat jalan serta mengembangkan usulan perbaikan waktu tunggu poliklinik rawat jalan spesialis anak Tzu Chi Hospital. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data yang didapatkan melalui pengamatan dan pencatatan waktu tunggu rawat jalan spesialis anak, serta menggali informasi secara mendalam dan rinci kepada infroman baik informan dalam maupun pasien penerima layanan rawat jalan spesialis anak di Tzu Chi Hospital dan melakukan telaah dokumen. Dilakukan observasi dan wawancara mendalam terhadap 33 pasien di shift yang berbeda setiap harinya sehingga didapatkan value perspektif customer sesuai dengan prinsip metode Lean Six Sigma. Data yang diperoleh kemudian dianalisis untuk mendapat faktor penyebab adanya keterlambatan pelayanan menggunakan fishbone diagram yang dikelompokkan ke dalam kategori Man, Machine, Method, Money dan Environment sehingga penyebab masalah teridentifikasi dan dapat dirumuskan prioritas usulan perbaikan yang perlu dilakukan. Hasil penelitian yang dilakukan di bulan Oktober-November 2023 didapatkan rata – rata total waktu yang dibutuhkan untuk satu pasien melakukan pemeriksaan rawat jalan di poliklinik spesialis anak yaitu dari proses pendaftaran hingga pasien mengambil obat di instalasi farmasi adalah sebanyak 161,25menit atau sebanyak 2 jam 41 menit 15 detik. Beberapa faktor yang menjadi penyebab adanya non value added dan waste yang terjadi adalah keterlambatan dokter spesialis yang masih melakukan memeriksa pasien rawat inap atau menangani pasien di fasilitas kesehatan lain. Selain itu kemampuan dan kurangnya petugas di pelayanan rawat jalan spesialis anak juga menyebabkan adanya waste yang terjadi, dan ketersediaan alat, BHP dan fasilitas pendukung kegiatan yang terbatas turut mendukung adanya waste dan mengakibatkan banyaknya non value added yang teridentifikasi tentunya menyebabkan pasien menunggu. Kedepannya peneliti mengharapkan strategi perbaikan yang telah diberikan dapat terus diterapkan untuk memperbaiki dan mengeliminasi kegiatan non value added yang terjadi yaitu dengan menambah SDM yang mendukung dan membuat platform yang dapat dimanfaatkan untuk menyimpan data saat SIMRS mengalami gangguan.

Minimum Service Standards in hospitals are a reference in achieving good quality in an institution or hospital. Minister of Health Decree Number 129 of 2008 has regulated the SPM for the waiting time required by patients from registering to receiving doctor's services, namely no more than 60 minutes. In its services, Tzu Chi Hospital certainly cannot be separated from several obstacles that occur during the service, both obstacles caused by facilities and infrastructure, administrative and those originating from human resources. From the data on the arrival time of pediatricians, the delay time reached 1 hour 15 minutes and this specialist doctor's delay certainly exceeded the SPM rule for waiting time for service < 60 minutes. Therefore, this study aims to identify the causes of long waiting times for outpatient care and develop proposals for improving the waiting time for Tzu Chi Hospital's pediatric specialist outpatient clinic. This research is a qualitative research with data collection methods obtained through observing and recording waiting times for pediatric specialist outpatient care, as well as digging in-depth and detailed information from informants at Tzu Chi Hospital and reviewing documents. Observations and in-depth interviews were carried out on 33 patients in different shifts every day to obtain customer perspective values in accordance with the principles of the Lean Six Sigma method. Data is analyzed to determine the factors causing service delays using a fishbone diagram which is grouped into the categories Man, Machine, Method, Money and Environment so that the causes of the problems identified can prioritize recommendations for improvements that are suitable and need to be formulated. The results of research conducted in October-November 2023 showed that the average total time required for one patient to undergo an outpatient examination at a pediatric specialist polyclinic, namely from the registration process until the patient picks up the medicine at the pharmacy installation, was 161.25 minutes or as much as 2 hours 41 minutes 15 seconds. Several factors that cause non-value added and waste that occur are delays in specialist doctors who are still examining inpatients or treating patients in other health facilities, the capacity and lack of staff in specialist pediatric outpatient services also causes waste to occur, and the limited availability of equipment, BHP and activity support facilities also supports the existence of waste and results in a large number of non-value added being identified in which causes patients to wait. In the future, researcher hope that the improvement strategies that have been provided can continue to be implemented to improve and eliminate non-value added activities that occur, namely by adding supporting human resources and creating a platform that can be used to store data when SIMRS experiences problems.
Read More
B-2484
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ingrid Amadea Sucipto; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Mohammad Budiman, Teuku Teuku Nebrisa Zagladin
Abstrak:

Manajemen farmasi yang efektif berperan krusial bagi operasional rumah sakit, serta memengaruhi statusnya sebagai cost center atau revenue center. Rumah Sakit Utama merupakan rumah sakit di wilayah kepulauan yang sering menghadapi tantangan dalam variabilitas waktu pengiriman obat, sehingga IFRS Utama memerlukan sistem logistik farmasi yang baik untuk menjamin ketersediaan obat secara efisien. Penelitian ini menganalisis sistem perencanaan dan pengendalian obat di RS Utama saat ini, sekaligus mengevaluasi potensi peningkatannya dengan mensimulasikan penerapan metode ABC Indeks Kritis (yang mengklasifikasikan obat menjadi kategori A, B, C berdasarkan data penggunaan periode Oktober 2024 – Maret 2025) yang dikombinasikan dengan perhitungan safety stock, reorder point, dan economic order quantity secara spesifik untuk obat Kategori A. Model perencanaan dan pengendalian perbekalan farmasi usulan ini kemudian disimulasikan dan kinerjanya dibandingkan dengan metode yang saat ini digunakan oleh rumah sakit, dengan evaluasi terfokus pada dampaknya terhadap nilai persediaan dan Inventory Turnover Ratio (ITOR) obat kategori A Indeks Kritis. Hasil simulasi menunjukkan bahwa metode yang diusulkan, berpotensi menghasilkan penurunan substansial pada rata-rata nilai persediaan serta peningkatan ITOR . Penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi empiris dan landasan strategis bagi RS Utama dalam upaya optimalisasi sistem manajemen logistik farmasi, guna meningkatkan efisiensi operasional dan menjamin ketersediaan obat secara lebih efektif.

Kata kunci : ABC Indeks Kritis, safety stock, reorder point, economic order quantity, nilai persediaan, inventory turn over.


 

Effective pharmaceutical management is vital, determining whether the pharmacy as a cost or revenue center. For Utama Hospital, operating in an archipelagic region with variable drug delivery times, a highly efficient pharmaceutical logistics system at its Pharmacy Installation is essential for ensuring consistent and efficient drug availability. This study, therefore, analyzes Utama Hospital's current drug planning and control system, exploring potential improvements by simulating a new model that integrates an ABC-Criticality Index classification with calculations for safety stock, reorder point, and economic order quantity (EOQ). To achieve this, the research methodology involved analyzing drug usage data (October 2024 – March 2025), classifying drugs into categories A, B, and C using an ABC-Criticality Index approach, and then calculating key inventory parameters—safety stock, reorder point, and EOQ—specifically for Category A drugs. The proposed pharmaceutical supply planning and control model, incorporating these parameters, was subsequently simulated. Its performance was then benchmarked against the hospital's current methods, with a focused evaluation on changes to inventory value and the Inventory Turnover Ratio (ITOR) for these critical Category A drugs. The simulation revealed that the proposed method holds strong potential for substantially decreasing average inventory value while significantly boosting the ITOR. This research aims to offer an empirical contribution and strategic framework, enabling Utama Hospital to optimize its pharmaceutical logistics for enhanced operational efficiency and more effective, timely drug availability.  Keywords: ABC-Criticality Index, safety stock, reorder point, economic order quantity, inventory value, inventory turnover

 

Read More
B-2543
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmat Yurdiansyah; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Yahya Ulumuddin, Endang Adriyani
Abstrak:
Manajemen pengelolaan obat sering kali menjadi masalah utama dalam pelayanan farmasi di rumah sakit, terutama dalam proses perencanan dan pengadaan. Masalah tersebut tentunya berdampak pada persediaan obat yang ada dirumah sakit. Penelitian ini ingin menganalisis perencaan obat yang ada di Instalasi Farmasi RS H.L. Manambai Abdulkadir serta melakukan pengendalian persediaan dengan metode minimum maksimum stok level dengan melihat angka safety stock, stok minimum dan stok maksimum persediaan obat di Instalaasi Farmasi . Setelah melakukan pengendalian persediaan dengan metode tersebut dilakukan penilaian terhadap keberhasilan pengendalian dengan menggunakan indikator pengendalian seperti ketepatan perencanaan, perhitungan nilai stock out, perhitungan nilai backorder, perhitungan nilai over stock obat, ITOR dan Fill rate. Hasil penelitian menunjukan Nilai stock out, backorder cost, ITOR dan Fillrate di Instalasi Farmasi diukur pada bulan Januari – April 2024. Dengan hasil rata rata berturut-turut adalah 496 stock out dengan nilai backorder cost sebesar Rp. 45.102.095. Rasio ITOR dengan kisaran 0,88 - 1,12 serta nilai filrate dengan rata-rata 97,35%. Hasil impelentasi analisis metode MMSL pada bulan mei 2024 memberikan dampak positif terhadap penurunan angka stock out, backorder cost, dan fillrate. Namun tidak berdampak signifikan terhadap nilai ITOR, hal ini disebabkan sebelum implementasi dilakukan instalasi farmasi memiliki nilai persediaan obat yang sangat tinggi terutama untuk obat-obatan slow moving atau kategori C ABC Volume. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengendalian persediaan obat di Instalasi farmasi RS H.L Manambai Abdulkadir efektif terhadap nilai stock out, backorder cost dan fillrate, tetapi belum efektif dalam nilai ITOR karena masih tingginya nilai persediaan obat.

Medication management often presents a major challenge in hospital pharmacy services, particularly in the planning and procurement processes. These issues significantly impact the inventory of medications available in hospitals. This study aims to analyze the medication planning at the Pharmacy Installation of H.L. Manambai Abdulkadir Hospital and to implement inventory control using the minimum-maximum stock level method by examining the safety stock, minimum stock, and maximum stock levels of medications. After implementing inventory control with this method, the success of the control was evaluated using control indicators such as planning accuracy, stock out value calculation, backorder value calculation, overs tock value calculation, ITOR (Inventory Turnover Ratio), and fill rate. The results of the study showed that the values of stock out, backorder cost, ITOR, and fill rate at the Pharmacy Installation were measured from January to April 2024. The average results were 496 stock outs with a backorder cost of IDR 45,102,095, an ITOR ratio ranging from 0.88 to 1.12, and an average fill rate of 97.35%. The implementation of the MMSL method analysis in May 2024 had a positive impact on reducing stock out numbers, backorder costs, and fill rate. However, it did not significantly affect the ITOR value, as the pharmacy installation had a very high inventory value prior to implementation, especially for slow-moving drugs or category C ABC Volume. Therefore, it can be concluded that the inventory control of medications at the Pharmacy Installation of H.L. Manambai Abdulkadir Hospital is effective in terms of stock out value, backorder cost, and fill rate, but not yet effective in ITOR value due to the still high inventory value of medications.
Read More
B-2458
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ati Budiluhur; Pembimbing: H.M. Hafizurrachman
B-785
Depok : FKM-UI, 2004
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yesti Mulia Eryani; Pembimbing: Pujiyanti; Penguji:
Abstrak:
Latar belakang: Perkembangan teknologi informasi di bidang kesehatan telah mendorong rumah sakit untuk menyelenggarakan Rekam Medis Elektronik (RME) guna meningkatkan mutu pelayanan, efisiensi kerja, dan keselamatan pasien. Kerangka PIECES merupakan kerangka kerja yang mengklasifikasikan masalah, peluang, dan arahan menjadi 6 kategori yang dapat memberikan panduan yang komprehensif dan seluruh faktor penting diperhatikan dalam melakukan evaluasi sehingga dapat diidentifikasi area-area yang membutuhkan perbaikan dan dapat mengukur dampak terhadap organisasi secara menyeluruh dalam evaluasi sistem RME. Penerapan RME di RS Andhika berjalan sejak 2022 namun sampai saat ini belum berjalan maksimal dan masih ditemukan kendala dalam pelaksanaannya seperti formulir yang tidak lengkap, hak akses staf tidak aktif masih ada, adanya dobel rekam medis dan capaian pengisian rekam medis di RS Andhika baru mencapai 93% dengan standar 100%. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan RME di RSU Andhika Jakarta Selatan menggunakan metode PIECES yang mencakup enam aspek terdiri dari Performance, Information and Data, Economics, Control and Security, Efficiency, dan Service. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam serta telaah dokumen. Hasil: Hasil menunjukkan bahwa pada aspek Performance, sistem RME telah memberikan informasi yang cukup tetapi masih ditemukan kendala teknis dan kelengkapan data. Information and Data dinilai cukup informatif namun fleksibilitas dan kesesuaian data dengan kebutuhan masih perlu ditingkatkan. Pada aspek Economics, ditemukan tantangan terkait keterbatasan integrasi dan tingginya biaya operasional. Control and Security sudah mengatur hak akses, namun masih ditemukan kelemahan dalam autentikasi pengguna. Efficiency menunjukkan sistem cukup mudah dipelajari namun tidak memberi notifikasi kesalahan. Aspek Service menunjukkan akurasi cukup baik, namun masih terdapat ketidakkonsistenan data di beberapa jenis data. Kesimpulan: Penerapan RME di RS Andhika saat ini belum optimal yang masih diperlukan perbaikan dalam setiap aspek yang mempengaruhi dilihat dari segi Performance, Information and Data, Economic, Control and Security, Efficiency, dan Service dengan melakukan perencanaan, evaluasi, dan monitoring dalam penerapan rekam medis elektronik serta berupaya untuk selalu melakukan perbaikan.

Background: The development of information technology in the health sector has encouraged hospitals to organize Electronic Medical Records (EMR) to improve reciprocal services, work efficiency, and patient safety. The PIECES framework is a framework that classifies problems, opportunities, and directions into 6 categories that can provide comprehensive guidance and all important factors are considered in conducting evaluations so that areas that need improvement can be identified and the impact on the organization as a whole can be measured in the EMR evaluation system. The implementation of EMR at Andhika Hospital has been running since 2022, but until now it has not been running optimally and there are still obstacles in its implementation such as incomplete forms, inactive staff access rights still exist, there are double medical records and the achievement of filling in medical records at Andhika Hospital has only reached 93% with a standard of 100%. Purpose: This study aims to analyze the implementation of EMR at Andhika Hospital, South Jakarta using the PIECES method which includes six aspects consisting of Performance, Information and Data, Economics, Control and Security, Efficiency, and Service. Method: This study is a qualitative study with data collection techniques carried out through observation, in-depth interviews and document review. Results: The results show that in the Performance aspect, the RME system has provided sufficient information but there are still technical constraints and data completeness. Information and Data are considered quite informative but anxiety and alignment of data with needs still need to be improved. In the Economic aspect, challenges were found related to limited integration and high operational costs. Control and Security have regulated access rights, but there are still weaknesses in user authentication. Efficiency shows that the system is quite easy to learn but does not provide error notifications. The Service aspect shows fairly good accuracy, but there is still data inconsistency in several types of data. Conclusion: The implementation of RME at Andhika Hospital is currently not optimal and still needs improvement in every aspect that affects it in terms of Performance, Information and Data, Economic, Control and Security, Efficiency, and Service by planning, evaluating, and monitoring in the implementation of electronic medical records and trying to always make improvements.

Read More
B-2534
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Evi Basyaruddin; Pembimbing: Amal Chalik Sjaaf; Penguji: Suprijanto Rijadi, Amal Chalik Sjaaf, Amila Megraini, Iman Hidayat, Supriyantoro
Abstrak:

Biaya pelayanan kesehatan setiap tahun selalu meningkat, dengan porsi pembiayaan obat yang cukup tinggi. Efisiensi dalam bidang pelayanan obat diharapkan dapat mengurangi peningkatan biaya pelayanan kesehatan secara keseluruhan. Didalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan bagi peserta asuransi kesehatan, obat menyerap dana lebih kurang 49% dan berdasarkan data tiga tahun terakhir biaya obat cenderung meningkat setiap tahun. Khusus untuk obat rawat inap di rumah sakit efisiensi biaya obat. mungkin dapat dilaksanakan dengan penerapan sistem unit dose dispensing Rumah Sakit Umum Prof. Dr. M.A. Hanafiah S.M. Batusangkar sudah melaksanakan sistem distribusi obat rawat inap dengan sistem unit dose dispensing. Untuk mengetahui apakah sistem distribusi obat rawat inap dengan sistem unit dose dispensing dapat menghemat biaya obat, maka dilakukan studi evaluasi terhadap penerapan sistem unit dose dispensing di rumah sakit tersebut. Data penelitian ini diperoleh dart pengamatan biaya obat pasien rawat inap sebelum dan sesudah dilaksanakannya sistem unit dose dispensing. Dan basil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan sistem distribusi unit dose (unit dose dispensing) dapat menghemat biaya obat rawat inap dan disarankan bahwa sistem distribusi obat dosis unit layak untuk diteruskan dan untuk mendapatkan basil yang optimal perlu disertai adanya pengomatan yang rasional. Daftar bacaan : 18 (1989 - 200p )


 

Implementing a Unit Dose Dispensing System to Inpatient with Health Insurance in Prof. Dr. M.A. Hanafiah S .M. Hospital, Batusangkar. Health services cost with a high proportion of drug cost increases every years. An efficiency in drug services may reduce the totality health services cost raising. Drug inpatient cost with health insurance is about 49 % and according to the last three years data, drug cost inclined increasing each years. Efficiency in drug cost can be done by implementing the unit dose dispensing system especially for inpatient drugs in hospital. Prof. Dr.M.A. Hanafiah S.M. Hospital in Batusangkar has implemented the unit dose dispensing system for distribution inpatient drug system. An evaluation study has been conducted to find out whether distribution inpatient drugs system with unit dose dispensing can thrifty the drug cost, in that hospital. The data was collected from observing the inpatient drug cost before and after the unit dose dispensing system was implement. The conclusion of this study is that implementing unit dose dispensing can thrifty inpatient drug cost and it is suggested to continue this system. More ever, rational drug use has to be followed to get the optimum result. Bibliography : 18 (1989 - 2000)

Read More
B-541
Depok : FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive