Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39122 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Yopa Frisdiana; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Misti
Abstrak:

Latar belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang menjadi prioritas global, penyebab utama kematian dan kecacatan. Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia dengan 73,7% kasus DM yang tidak terdiagnosis. Prevalensi DM di Indonesia terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Obesitas sentral dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes melitus. Beberapa penelitian telah menunjukkan adanya hubungan antara obesitas sentral dengan kejadian diabetes melitus. Namun, penentuan diagnosis DM hanya didasarkan pada pemeriksaan glukosa darah sewaktu, tanpa disertai informasi mengenai gejala dan Riwayat DM sebelumnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus yang baru didiagnosis berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah atau HbA1c pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia.
Metode: Penelitian ini menggunakan data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Jumlah sampel yang dianalisis sebanyak 25.494. Analisis multivariat menggunakan cox regression untuk mengetahui hubungan antara obesitas sentral dengan kejadian diabetes melitus yang baru didiagnosis berdasarkan pemeriksaan kadar glukosa darah atau HbA1c pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia setelah dikontrol oleh variabel kovariat.
Hasil: Prevalensi diabetes melitus yang baru didiagnosis sebesar 16,0%. Obesitas sentral meningkatkan risiko diabetes melitus sebesar 1,6 kali (PR: 1,6; 95% CI: 1,53–1,76) setelah dikontrol usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, hipertensi, dan dislipidemia.
Kesimpulan: Penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia dengan obesitas sentral memiliki risiko 1,6 kali lebih besar untuk menderita diabetes melitus dibandingkan penduduk usia ≥15 tahun tanpa obesitas sentral setelah dikontrol oleh usia, jenis kelamin, aktivitas fisik, hipertensi dan dislipidemia. Temuan ini menekankan pentingnya modifikasi gaya hidup melalui pola makan sehat, aktivitas fisik rutin, serta deteksi dini sebagai upaya pencegahan dan pengendalian DM.

Background: Diabetes mellitus is a non-communicable disease that is a global health priority and a leading cause of death and disability. Indonesia ranks third in the world with 73.7% of DM cases undiagnosed. The prevalence of DM in Indonesia continues to increase every year. Central obesity is associated with an increased risk of diabetes mellitus. Several studies have shown an association between central obesity and the occurrence of diabetes mellitus. However, the diagnosis of diabetes mellitus is currently based solely on fasting blood glucose levels, without considering symptoms or a history of diabetes mellitus. This study aims to investigate the association between central obesity and newly diagnosed diabetes mellitus based on blood glucose levels or HbA1c in individuals aged ≥15 years in Indonesia. Methods: This study utilized secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (IHS). The sample size analyzed was 25,494. Multivariate analysis using multiple Cox regression was conducted to determine the association between central obesity and the occurrence of newly diagnosed diabetes mellitus based on blood glucose levels or HbA1c in individuals aged ≥15 years in Indonesia, after controlling for covariate variables.  Results: The prevalence of newly diagnosed diabetes mellitus was 16,0%. Central obesity increases the risk of diabetes mellitus by 1.6 times (PR: 1.6; 95% CI: 1.53–1.76) after adjusting for age, gender, physical activity, hypertension, and dyslipidemia.  Conclusion: Individuals aged ≥15 years in Indonesia with central obesity have a 1.6 times higher risk of developing diabetes mellitus compared to those aged ≥15 years without central obesity after adjusting for age, sex, physical activity, hypertension, and dyslipidemia. These findings emphasize the importance of lifestyle modifications through healthy eating patterns, regular physical activity, and early detection as preventive and control measures for diabetes mellitus.

 

Read More
T-7320
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ba'da Febriani; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Misti
Abstrak:

Diabetes melitus (DM) masih menjadi tantangan bagi negara berkembang termasuk Indonesia. International Diabetes Federation (IDF) memproyeksikan angka DM di Indonesia akan meningkat 150%, menjadi 28,6 juta jiwa pada tahun 2045. WHO merekomendasikan kelompok berisiko untuk melakukan kombinasi dari konsumsi buah dan sayur ≥5 porsi/hari serta melakukan aktivitas fisik cukup untuk hasil optimal dalam menurunkan risiko DM. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan antara efek gabungan konsumsi buah-sayur dan aktivitas fisik dengan DM pada penduduk dewasa usia 18-64 tahun di Indonesia tahun 2023. Desain studi cross sectional dari data sekunder Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 dengan total sampel 23.821 orang dewasa berusia 18-64 tahun di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa prevalensi DM pada orang dewasa sebesar 15,2%. Analisis multivariat dengan uji logistic regression menunjukkan asosiasi yang tidak signifikan antara konsumsi buah-sayur <3 porsi/hari dan aktivitas fisik kurang dibandingkan dengan penduduk dewasa yang mengonsumsi buah-sayur ≥5 porsi/hari dan aktivitas fisik cukup (RRCorrected 1,2; 95%CI 1,08-1,52 p value 0,607), artinya penduduk dewasa yang mengonsumsi buah-sayur <3 porsi/hari dan memiliki aktivitas fisik rendah memiliki tren peningkatan risiko DM sebesar 1,2 kali lebih tinggi dibandingkan orang dewasa yang mengonsumsi buah-sayur ≥5 porsi/hari dan aktivitas fisik cukup setelah dikontrol variabel usia, jenis kelamin, hipertensi dan obesitas sentral, meskipun tidak signifikan secara statistik. Optimalisasi upaya pencegahan DM dengan meningkatkan intake buah-sayur agar memenuhi rekomendasi ≥5 porsi/hari dapat dilakukan penduduk dewasa usia 18-64 tahun yang disertai dengan meningkatkan kegiatan aktivitas fisik baik sedang maupun berat serta meningkatkan kegiatan olah raga bersama baik di sekolah, kampus, kantor maupun di rumah. 


Diabetes mellitus (DM) remains a significant challenge for developing countries, including Indonesia. The International Diabetes Federation (IDF) projects that the number of DM cases in Indonesia will increase by 150%, reaching 28,6 million by 2045. The World Health Organization (WHO) recommends that high-risk groups adopt a combination of consuming ≥5 servings of fruits and vegetables per day and engaging in sufficient physical activity for optimal results in reducing DM risk. This study aims to examine the association between the combined effects of fruit and vegetable consumption and physical activity on DM among adults aged 18–64 years in Indonesia in 2023. The study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), involving a total sample of 23,821 adults aged 18–64 in Indonesia. The findings revealed that the prevalence of DM among adults was 15,2%. Multivariate analysis using logistic regression showed a non-significant association between consuming <3 servings of fruits and vegetables per day with insufficient physical activity compared to adults who consumed ≥5 servings per day and engaged in adequate physical activity (RRcorrected 1,2; 95% CI 1,08–1,52, p-value 0,607). This suggests that adults with low fruit and vegetable intake (<3 servings/day) and low physical activity had a trend of a 1,2 times higher risk of DM compared to those who met the recommended intake (≥5 servings/day) and had sufficient physical activity, after controlling for age, sex, hypertension, and central obesity—though the result was not statistically significant. To optimize DM prevention efforts, adults aged 18–64 should increase their fruit and vegetable intake to meet the recommended ≥5 servings per day, alongside increasing moderate to vigorous physical activity and promoting group exercise activities in schools, universities, workplaces, and at home.

Read More
T-7322
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mazaya Shafa Ainan Dini; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Yovsyah; Rindu Rachmiaty
Abstrak: Latar Belakang: Hipertensi merupakan penyebab utama dari penyakit kardiovaskular dan kematian dini di dunia yang kini kian meningkat tiap tahunnya, serta secara signifikan dapat meningkatkan risiko penyakit hati, otak, ginjal, dan penyakit serius lainnya. Terdapat banyak faktor risiko yang menyebabkan hipertensi, salah satunya obesitas. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa pengukuran lingkar perut merupakan prediktor yang lebih baik daripada indeks massa tubuh (IMT) untuk mengetahui risiko kesehatan terkait obesitas terutama hipertensi baik pada laki-laki maupun perempuan. Prevalensi obesitas sentral kini meningkat secara global Tujuan: Mengetahui hubungan obesitas sentral dengan kejadian hipertensi pada penduduk usia ≥ 18 tahun di Indonesia. Metode: Penelitian dilakukan dengan metode kuantitatif dan menggunakan desain studi cross-sectional analitik. Sumber data yang digunakan adalah data sekunder dari Riskesdas 2018. Terdapat sebanyak 366.351 sampel yang sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi. Berdasarkan analisis stratifikasi, diperoleh bahwa variabel yang menjadi efek modifikasi yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, perilaku merokok, konsumsi alkohol, aktivitas fisik, konsumsi makanan berlemak, IMT, dan gangguan mental emosional, sedangkan variabel yang memiliki potensi bias confounding yaitu IMT. Kesimpulan: Obesitas sentral merupakan faktor risiko yang penting untuk diperhatikan dalam upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi di Indonesia.
Read More
S-11002
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nurnaili Hulya; Pembimbing: Helda; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, Mahmudah
Abstrak: Hipertensi menjadi salah satu penyebab utama mortalitas dan morbiditas penduduk di Indonesia. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui proporsi hipertensi dan faktor-faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian hipertensi di Kota Depok pada 2021. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sumber data sekunder berupa data rekapitulasi laporan deteksi dini penyakit tidak menular dalam aplikasi sistem informasi penyakit tidak menular (SIPTM) di Kota Depok Tahun 2021. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa proporsi hipertensi di Kota Depok tahun 2021 sebesar 43%.
Read More
S-10916
Depok : FKMUI, 2022
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Masitah Sari Dewi; Pembimbing: Ratna Djuwita, Putri Bungsu; Penguji: Helda Khusnun, Yoan Hotnida Naomi
Abstrak: Diabetes melitus merupakan penyakit tidak menular yang cendrung mengalamipeningkatan. Data IDF Atlas 2015 menyebutkan, Prevalensi DM di Indonesiamenduduki urutan ke 7 didunia. Di Indonesia data Riskesdas menunjukkan peningkatanprevalensi diabetes melitus dari 5,7% (2007) meningkat menjadi 6,9% (2013). Obesitassentral adalah prediktor yang kuat untuk terjadinya diabetes melitus tipe 2.Prevalensi obesitas sentral berdasarkan data Riskesdas 2007 sebesar 18,8% meningkatmenjadi 26,6% (Riskesdas, 2013) Tujuan penelitian untuk mengetahui hubunganobesitas sentral terhadap diabetes melitus tipe 2 pada penduduk usia ≥ 18 tahun diwilayah peluncuran GERMAS tahun 2016. Desain penelitian studi cross sectional,Analisis menggunakan uji Regresi Logistic. Hasil analisis diperoleh proporsi diabetesmelitus tipe 2 sebesar 6,1 % dan obesitas sentral sebesar 68,9%. Selain itu hasilmultivariat menunjukkan hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2didapatkan nilai POR 3,296 (95% CI 2,344-4,636) artinya penduduk dengan obesitassentral memiliki peluang sebesar 3,296 kali (95% CI 2,344-4,636) mengalami diabetesmelitus tipe 2 dibandingkan dengan penduduk yang tidak obesitas sentral setelahdikendalikan oleh aktifitas fisik dan hipertensi. Kesimpulan dan saran agar masyarakatrutin tiap bulan melakukan pemeriksaan kesehatan di POSBINDU PTM, untukmelakukan deteksi dini obesitas sentral dan pemeriksaan kadar glukosa darah gunamenjaring kasus diabetes melitus tipe 2 sedini mungkin.Kata kunci:Diabetes melitus Tipe 2, Obesitas sentral, GERMAS
Diabetes mellitus is a non-communicable disease that tends to increase. IDFAtlas 2015 data says, DM prevalence in Indonesia ranked 7th in the world. In Indonesia,Riskesdas data showed an increased prevalence of diabetes mellitus from 5.7% (2007)increased to 6.9% (2013). Central obesity is a strong predictor for the occurrence of type2 diabetes mellitus. The prevalence of central obesity based on Riskesdas 2007 data of18.8% increased to 26.6% (Riskesdas, 2013) The objective of the study was toinvestigate the relationship of central obesity to type 2 diabetes mellitus in thepopulation age ≥ 18 years in GERMAS launching area in 2016. Study design cross-sectional study, Analysis using logistic regression test. The analysis results obtainedproportion of type 2 diabetes mellitus by 6.1% and central obesity of 68.9%. In addition,multivariate results showed that the association of central obesity with diabetes mellitustype 2 was found to be POR 3,296 (95% CI 2,344-4,636) meaning that people withcentral obesity had a chance of 3,296 times (95% CI 2,344-4,636) had diabetes mellitustype 2 compared with non-obese residents after being controlled by physical activityand hipertension. Conclusions and suggestions for routine public health checks inPOSBINDU PTM, to perform early detection of central obesity and blood glucoseexamination to capture cases of type 2 diabetes mellitus as early as possible.Keywords:Diabetes mellitus Type 2, central obesity, GERMAS.
Read More
T-5465
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahpien Yuswani; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko Wahyono, Woro Riyadina
T-4240
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahpien Yuswani; Pembimbing: Bambang Sutrisna; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko Wahyono, Woro Riyadina
T-4240
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Diraya Adani Kiasatina; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Helda, Misti, Kamaluddin Latief
Abstrak:
Sebanyak 26%-50% orang dengan prediabetes berkembang menjadi diabetes melitus (DM) tipe 2 dalam waktu 5 tahun, namun kondisinya reversibel sehingga dianggap golden period untuk melakukan intervensi agar tidak berkembang menjadi DM tipe 2. Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko signifikan dari prediabetes. Sebesar 81,1% penderita hipertensi memiliki tekanan darah tidak terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara status kendali hipertensi dengan kejadian prediabetes pada penduduk usia ≥ 18 tahun di Indonesia dengan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Kriteria inklusi dalam penelitian ini adalah hipertensi berdasarkan diagnosis dokter dan memiliki data yang lengkap untuk minimal dua kali pengukuran tekanan darah, glukosa darah puasa (GDP), dan glukosa darah 2 jam setelah pembebanan/postprandial (G2PP). Sedangkan kriteria eksklusinya adalah diabetes berdasarkan diagnosis dokter dan pemeriksaan kadar gula darah (GDP dan G2PP) serta sedang hamil. Sampel sebanyak 1.384 responden dianalisis dalam penelitian ini. Prevalensi prediabetes pada penduduk usia ≥ 18 tahun yang hipertensi di Indonesia sebesar 67,3% dan proporsi hipertensi tidak terkendali sebesar 80,8%. Analisis menggunakan Poisson regression menunjukkan prevalence ratio (PR) = 1,16 (95% CI: 1,04−1,29) setelah mengontrol usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pengobatan hipertensi, dan obesitas sentral. Sebesar 14% kasus prediabetes terjadi karena tekanan darah yang tidak terkendali dan 11,5% kasus prediabetes dapat dicegah apabila tekanan darah sepenuhnya dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengendalian tekanan darah pada penderita hipertensi untuk mencegah prediabetes atau perkembangan prediabetes menjadi DM tipe 2.

Between 26% and 50% of people with prediabetes develop type 2 diabetes mellitus (T2DM) within 5 years, but the condition is reversible, making it a golden period for intervention to prevent progression to T2DM. Hypertension is a significant risk factor for prediabetes. As many as 81.1% of hypertensive patients have uncontrolled blood pressure. This study aims to analyze the relationship between hypertension control status and the incidence of prediabetes among individuals aged ≥18 years in Indonesia using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI 2023). The inclusion criteria for this study were hypertension based on a doctor's diagnosis and having complete data for at least two blood pressure measurements, fasting blood glucose (FBG), and 2-hour postprandial blood glucose (2hPPG). Exclusion criteria included diabetes diagnosed by a doctor and blood glucose level tests (FBG and 2hPPG), as well as being pregnant. A sample of 1,384 respondents was analyzed in this study. The prevalence of prediabetes among hypertensive individuals aged ≥ 18 years in Indonesia was 67.3%, and the proportion of uncontrolled hypertension was 80.8%. Analysis using Poisson regression showed a prevalence ratio (PR) = 1.16 (95% CI: 1.04–1.29) after controlling for age, gender, education level, hypertension treatment, and central obesity. Approximately 14% of prediabetes cases occur due to uncontrolled blood pressure, and 11.5% of prediabetes cases could be prevented if blood pressure were fully controlled. Therefore, efforts to control blood pressure in hypertensive patients are necessary to prevent prediabetes or the progression of prediabetes to T2DM.
Read More
T-7453
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tubianto Anang Zulfikar; Pembimbing: Mondastri Korib Sudaryo; Penguji: Tri Yunis Miko Wahyono, I Nyoman Kandun
T-3297
Depok : FKM UI, 2011
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jessica Veronica Silalahi; Pembimbing: Sudarto Ronoatmodjo; Penguji: Ratna Djuwita, Tri Yunis Miko Wahyono, Soewarta Kosen, Woro Riyadina
Abstrak:
Stroke merupakan penyebab disabilitas dan kematian akibat penyakit tidak menular yang tinggi secara global. Prevalensi stroke di Indonesia meningkat dari 7% menjadi 10,9% pada 2018. Obesitas sentral memiliki kaitan yang erat dengan kardiovaskular termasuk stroke. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan obesitas sentral dengan kejadian stroke pada penduduk usia ≥15 tahun di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain studi cross sectional dan menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia Tahun 2023. Kriteria inklusi yaitu responden yang didiagnosis stroke oleh dokter selama satu tahun terakhir, dilakukan pengukuran tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut lengkap serta melakukan pengukuran tekanan darah dalam pengukuran data SKI 2023. Sedangkan kriteria eksklusi yaitu responden hamil saat pengambilan data SKI 2023. Sebanyak 528.957 responden memenuhi kriteria inklusi dan seluruhnya diambil sebagai sampel penelitian. Analisis data dilakukan menggunakan uji logistic regression untuk mendapatkan asosiasi Prevalence Odds Ratio (POR) dengan interval kepercayaan 95%. Penelitian ini menemukan proporsi stroke pada penduduk usia ≥ 15 tahun di Indonesia sebesar 0.17%. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa ada hubungan antara obesitas sentral dengan stroke POR 1.622 (95% CI 1.424 – 1.846). Analisis multivariat menunjukkan bahwa obesitas sentral berhubungan signifikan secara statistik dengan kejadian stroke dengan nilai POR 2.166 (95% CI 1.685 – 2.785) setelah dikontrol oleh jenis kelamin dan hipertensi dan berinteraksi dengan hipertensi. Diperlukan upaya penurunan obesitas sentral khususnya pada laki-laki yang menderita hipertensi dengan menerapkan pola makan sehat dan rutin melakukan aktivitas fisik untuk mencegah terjadinya penumpukan lemak sebagai awal meningkatnya kejadian stroke.

Stroke is a leading cause of disability and death from non-communicable diseases globally. Stroke prevalence in Indonesia increased from 7% to 10.9% in 2018. Central obesity has a close association with cardiovascular including stroke. This study aims to analyze the association of central obesity with stroke incidence in the population aged ≥15 years in Indonesia. This study used a cross-sectional study design and used data from the 2023 Indonesian Health Survey. The inclusion criteria were respondents diagnosed with stroke by a doctor during the past year, measuring height, weight, and complete abdominal circumference and measuring blood pressure in the 2023 SKI data measurement. Meanwhile, the exclusion criteria were pregnant respondents when collecting SKI 2023 data. A total of 528,957 respondents met the inclusion criteria and all were taken as research samples. Data were analyzed using logistic regression test to obtain Prevalence Odds Ratio (POR) association with 95% confidence interval. This study found the proportion of stroke in the population aged ≥ 15 years in Indonesia was 0.17%. The results of bivariate analysis showed that there was an association between central obesity and stroke POR 1.622 (95% CI 1.424 - 1.846). Multivariate analysis showed that central obesity was statistically significantly associated with the incidence of stroke with a POR value of 2.166 (95% CI 1.685 - 2.785) after being controlled by gender and hypertension and interacting with hypertension. Efforts are needed to reduce central obesity, especially in men who suffer from hypertension by implementing a healthy diet and routine physical activity to prevent the accumulation of fat as the beginning of an increase in the incidence of stroke.
Read More
T-7190
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive