Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 41267 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ika Fitri Alfiani; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Sutanto Priyo Hastono, Vivi Voronika
Abstrak:
Imunisasi dasar lengkap (IDL) merupakan intervensi krusial untuk melindungi anak usia bawah dua tahun (baduta) dari penyakit menular. Namun, cakupan IDL baduta di Indonesia pada tahun 2023 hanya mencapai 34%, jauh dari target nasional 2023 sebesar 75%. Temuan ini menandakan adanya kesenjangan besar dalam perlindungan imunisasi, yang erat kaitannya dengan kondisi sosial ekonomi dan akses layanan kesehatan ibu dan anak. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara determinan sosial kesehatan (DSK) dan status IDL baduta di Indonesia, menggunakan desain potong lintang dan pendekatan model PRECEDE terhadap 12.955 anak usia 12–23 bulan. Hasil analisis multivariat menunjukkan tiga DSK yang berhubungan signifikan dengan status IDL: pendidikan ibu, pemeriksaan antenatal (ANC), dan tempat persalinan. Peluang baduta memperoleh IDL meningkat sebesar 1,43 kali pada ibu berpendidikan tinggi, 1,25 kali pada ibu berpendidikan menengah, 1,73 kali pada ibu dengan ANC lengkap, dan 2,17 kali pada ibu yang melahirkan di fasilitas kesehatan. Dari ketiga DSK tersebut, tempat persalinan merupakan faktor yang paling berkontribusi terhadap kesenjangan cakupan imunisasi. Ketimpangan ini mencerminkan ketidaksetaraan sistemik dalam akses awal terhadap layanan kesehatan esensial. Oleh karena itu, pemenuhan target cakupan IDL nasional tidak dapat dilepaskan dari upaya mengatasi disparitas sosial dan geografis. Intervensi peningkatan cakupan imunisasi harus dirancang berbasis DSK, dengan menempatkan akses layanan persalinan, kualitas ANC, dan pendidikan ibu sebagai fondasi utama dalam strategi promosi kesehatan yang berkeadilan.

Complete basic immunization (CBI) is a crucial intervention to protect children under two years old from vaccine-preventable infectious diseases. However, in 2023, the national coverage of CBI among children under two in Indonesia was only 34%, far below the 2023 national target of 75%. This gap reflects substantial disparities in immunization protection, which are closely linked to socioeconomic conditions and access to maternal and child health services. This study aimed to analyze the relationship between social determinants of health (SDH) and CBI status among children under two in Indonesia, using a cross-sectional design and the PRECEDE model approach. A total of 12,955 children aged 12–23 months were included in the analysis. Multivariate results revealed three SDH significantly associated with CBI status: maternal education, antenatal care (ANC), and place of delivery. The likelihood of receiving CBI was 1.43 times higher among children of mothers with higher education, 1.25 times higher for those with mothers of medium education, 1.73 times higher for those whose mothers completed ANC, and 2.17 times higher for those born in health facilities. Among these determinants, place of delivery was the most influential factor contributing to disparities in immunization coverage. This inequality indicates systemic gaps in early access to essential health services. Therefore, achieving national CBI coverage targets must be accompanied by efforts to reduce social and geographic disparities. Immunization improvement strategies should be designed based on SDH, with strengthened access to facility-based deliveries, high-quality ANC, and maternal education serving as key pillars for equitable health promotion.

Read More
T-7331
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Shinta Restyana Widya; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Wahyu Septiono, Elvieda Sariwati, Umniyati Kowi
T-7237
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maulani Pratiwi; Pembimbing: Sabarinah; Penguji: Popy Yuniar, Nuke Aliyya Tama
Abstrak: Salah satu penyebab kematian bayi di Indonesia adalah infeksi. Imunisasi merupakan salah satu cara yang efektif untuk memberikan kekebalan tambahan pada bayi agar terlindungi dari infeksi. Rendahnya cakupan imunisasi dapat berpotensi menyebabkan terjadinya KLB PD3I. Untuk itu perlu adanya strategi dalam mengejar ketertinggalan, pemulihan dan penguatan sistem yang berkelanjutan sehingga terjadi peningkatan cakupan imunisasi dasar. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor yang berhubungan dengan status imunisasi dasar lengkap pada anak di Indonesia. Desain penelitian yang digunakan adalah Cross Sectional, menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Analisis statistik menggunakan uji chi square. Hasil penelitian ini menemukan proporsi cakupan imunisasi dasar lengkap di Indonesia hanya sebesar 32,4%. Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa umur ibu (PR: 1,958; 95% CI: 1,15-3,33), tingkat pendidikan ibu (PR: 1,30; 95% CI: 1,18-1,44), kepemilikan jaminan kesehatan (PR: 1,25; 95% CI: 1,41-1,38), tempat bersalin ibu (PR: 2,25; 95% CI: 1,77-2,86), frekuensi kunjungan ANC (PR: 1,61; 95% CI: 1,47-1,77), lokasi tempat tinggal (PR: 1,52; 95% CI: 1,38-1,67) dan tingkat pendidikan ayah (PR: 1,20; 95% CI: 1,09-1,32) berhubungan dengan status imunisasi dasar lengkap di Indonesia
One of the causes of infant mortality in Indonesia is infection. Immunization is an effective way to provide additional immunity to infants, protecting them from infections. Low immunization coverage can potentially lead to outbreaks of vaccine-preventable diseases (VPD). Therefore, strategies are needed to catch up, recover, and strengthen the system sustainably, thereby increasing basic immunization coverage. The objective of this study was to identify factors associated with the status of complete basic immunization among children in Indonesia. The study design used was cross-sectional, utilizing data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). Statistical analysis was performed using the chi-square test. The study results found that the proportion of complete basic immunization coverage in Indonesia was only 32.4%. Statistical analysis showed that mother’s age (PR: 1,958; 95% CI: 1,15-3,33), maternal education level (PR: 1.30; 95% CI: 1.18–1.44), ownership of health insurance (PR: 1.25; 95% CI: 1.41–1.38), place of delivery (PR: 2.25; 95% CI: 1.77–2.86), frequency of ANC visits (PR: 1.61; 95% CI: 1.47–1.77), residence location (PR: 1.52; 95% CI: 1.38–1.67), and paternal education level (PR: 1.20; 95% CI: 1.09–1.32) were associated with the status of complete basic immunization in Indonesia.
Read More
S-11821
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eka Noviana Nasriyanto; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Ahmad Syafiq, Artha Prabawa; Bayu Aji
Abstrak:
ABSTRAK Literasi kesehatan (health literacy) didefinisikan sebagai keterampilan kognitif dan sosial yang menentukan motivasi dan kemampuan individu untuk mendapatkan akses untuk memahami dan menggunakan informasi dengan cara mempromosikan dan memelihara kesehatan yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat literasi kesehatan beserta determinan sosialnya pada mahasiswa tingkat pertama program sarjana reguler Universitas Indonesia tahun angkatan 2017/2018. Penelitian dengan desain potong lintang (cross-sectional) ini menggunakan instrumen Health Literacy Scale versi 16 item (HLS-EU- Q16) dan mendapatkan data dari 373 mahasiswa yang tersebar pada tiga rumpun keilmuan di Universitas Indonesia (Rumpun Sains dan Teknologi, Rumpun Sosial dan Humaniora, dan Rumpun Ilmu Kesehatan). Data dianalisis secara univariat, bivariat (dengan menggunakan uji T independen dan uji Anova), dan multivariat (dengan menggunakan regresi linier multivariabel). Hasil penelitian menunjukkan tingkat literasi kesehatan secara keseluruhan cukup baik (M=2,91, SD=0,78) dengan nilai tertinggi pada domain fungsional (M=3,21, SD=0,69), disusul oleh domain interaktif (M=2,90, SD=0,76), lalu domain kritikal (M=2,67, SD=0,87). Hasil analisis bivariat menunjukkan hanya rumpun keilmuan yang yang memiliki perbedaan signifikan dengan mahasiswa Rumpun Ilmu Kesehatan yang memiliki tingkat literasi kesehatan lebih tinggi daripada kedua rumpun lainnya. Sementara hasil analisis regresi menunjukkan hanya variabel rumpun keilmuan dan penguasaan bahasa asing yang mempunyai pengaruh signifikan terhadap tingkat literasi kesehatan mahasiswa tingkat pertama program sarjana reguler Universitas Indonesia tahun angkatan 2017/2018. Penelitian tentang literasi kesehatan pada populasi lain, baik pada mahasiswa di universitas lain, maupun pada kelompok demografi lainnya (orang dewasa, ibu hamil, dan lain-lain) akan menambah masukan bagi pengembangan program-program edukasi kesehatan di Indonesia dan memberikan kontribusi bagi ilmu pengetahuan.

ABSTRACT Health literacy is defined as the cognitive and social skills that determine the individual's motivation and ability to gain access to understanding and using information by promoting and maintaining good health. This study aimed to determine the level of health literacy and its social determinants among first-year undergraduate students at the Universitas Indonesia (class of 2017/2018). Using cross-sectional design, this study adapted the short version of Health Literacy Scale instrument (HLS-EU-Q16). Data were collected from 373 college students from three clusters of disciplines (i.e., Science and Technology, Social and Humanity, and Health Sciences). Univariate analyzes showed that in general, the mean of health literacy was rather good (M=2,91, SD=0,78) with the functional domain led as the highest (M=3,21, SD=0,69), followed by the interactive domain (M=2,90, SD=0,76), and then the critial domain (M=2,67, SD=0,87). Bivariate analyzes using independent T test and one-way Anova showed that only the cluster variable has significant differences. While multiple regression showed only the cluster and the number of languages variables that have significant effects toward health literacy. Future studies assessing health literacy among college students in different universities or among other population groups may provide more contribution to the development of health education programs.
Read More
T-5323
Depok : FKM UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Robbiyani ilma; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Tri Krianto, Melyana,Dadun
Abstrak:
Survei Literasi Kesehatan Kementerian Kesehatan Tahun 2024–2025 menunjukkan bahwa pada penduduk dewasa di Pulau Jawa, wilayah yang dihuni 55,58% penduduk Indonesia, proporsi yang tidak pernah mencari konseling kesehatan mencapai 71%, tidak mengikuti edukasi kesehatan 52%, dan tidak melakukan pemeriksaan kesehatan mandiri 44%, mengindikasikan rendahnya tanggung jawab kesehatan. Kondisi ini terjadi meskipun literasi persepsi tergolong memadai (37,5%), sedangkan literasi fungsional masih terbatas (1,6% mencukupi), menunjukkan kesenjangan pemahaman dan penerapan informasi kesehatan. Belum adanya penelitian yang menganalisis keterkaitan determinan sosial,literasi kesehatan dan tanggung jawab kesehatan pada populasi dewasa di Pulau Jawa. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan determinan sosial dan literasi kesehatan dengan tanggung jawab kesehatan pada penduduk dewasa di Pulau Jawa, menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder Survei Literasi Kesehatan Kemenkes 2024–2025. Sampel terdiri atas 1.419 penduduk dewasa usia 17–65 tahun atau telah menikah di enam provinsi Pulau Jawa. Variabel dependen adalah tanggung jawab kesehatan (subskala HPLP-II, skor 1–4); variabel independen meliputi literasi kesehatan (HLS-EU-Q16, skor 0–4) dan determinan sosial. Analisis menggunakan uji Independent Samples t-Test, korelasi Pearson, dan regresi linear berganda berbobot. Rerata skor tanggung jawab kesehatan 1,83 (SD = 0,53), kategori sedang-rendah; rerata literasi kesehatan 3,01 (SD = 0,44), kategori mencukupi. Literasi kesehatan memiliki hubungan positif terbesar dengan tanggung jawab kesehatan (B = 0,327; 95% CI: 0,264–0,390; p < 0,001). Usia ≥45 tahun (B = 0,140), pendidikan SMA–perguruan tinggi (B = 0,150), dan status menikah (B = 0,088) berhubungan positif; jenis kelamin laki-laki (B = −0,139) dan status bekerja (B = −0,088) berhubungan negatif (semua p < 0,05). Pendapatan tidak signifikan (B = −0,036; p = 0,220) dan bukan confounder. Penguatan literasi kesehatan perlu menjadi prioritas promosi kesehatan, terutama pada laki-laki, usia muda, dan pendidikan rendah di Pulau Jawa. Kata kunci: Determinan sosial, literasi kesehatan, tanggung jawab kesehatan, HPLP-II, HLS-EU-Q16, Pulau Jawa

The 2024–2025 Ministry of Health Health Literacy Survey showed that among adults in Java, home to 55.58% of Indonesia’s population, 71% had never sought health counselling, 52% had never participated in health education programmes, and 44% had never undertaken self-health examinations, indicating low levels of health responsibility. This occurred despite perception-based health literacy being relatively adequate (37.5%), while functional health literacy remained limited (only 1.6% achieved an adequate level), suggesting a gap between understanding and the application of health information. To date, no study has examined the relationship between social determinants, health literacy, and health responsibility among the adult population in Java. This study aimed to analyse the association between social determinants, health literacy, and health responsibility among adults in Java using a cross-sectional design and secondary data from the 2024–2025 Ministry of Health Health Literacy Survey. The sample comprised 1,419 adults aged 17–65 years or those who were married, drawn from six provinces in Java. The dependent variable was health responsibility (Health-Promoting Lifestyle Profile II [HPLP-II] subscale, score range 1–4), while the independent variables included health literacy (HLS-EU-Q16, score range 0–4) and social determinants. Data were analysed using independent-samples t-tests, Pearson’s correlation, and weighted multiple linear regression. The mean health responsibility score was 1.83 (SD = 0.53), indicating a moderate-to-low level, whereas the mean health literacy score was 3.01 (SD = 0.44), indicating an adequate level. Health literacy showed the strongest positive association with health responsibility (B = 0.327; 95% CI: 0.264–0.390; p < 0.001). Age ≥45 years (B = 0.140), upper secondary to tertiary education (B = 0.150), and being married (B = 0.088) were positively associated with health responsibility, whereas being male (B = −0.139) and being employed (B = −0.088) were negatively associated (all p < 0.05). Income was not significantly associated with health responsibility (B = −0.036; p = 0.220) and was not identified as a confounding variable. Strengthening health literacy should therefore be prioritised in health promotion initiatives, particularly among men, younger adults, and individuals with lower educational attainment in Java. Keywords: social determinants, health literacy, health responsibility, HPLP-II, HLS-EU-Q16, Java Island
Read More
T-7664
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ardian Adam Nur Fajari; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Tri Krianto, Retno Palupi
Abstrak:
Imunisasi PCV sebagai pencegahan pneumonia merupakan salah satu imunisasi dasar di Indonesia yang dicanangkan pada September 2022. Cakupan imunisasi PCV pada saat pelaksanaan uji coba mencapai angka 80%. Pada Desember 2022 di Kelurahan Mekarjaya Kota Depok cakupan imunisasi PCV1 baru mencapai angka 3,69%. Hal ini menunjukkan cakupan imunisasi PCV di Kelurahan Mekarjaya Kota Depok masih sangat rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian imunisasi PCV di Kelurahan Mekarjaya Kota Depok Tahun 2023. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data primer yang dikumpulkan dari 102 responden ibu yang memiliki anak baduta. Pada penelitian ini ditemukan bahwa 62,7% ibu sudah melakukan pemberian imunisasi PCV pada anaknya yang baduta. Faktor-faktor yang berhubungan dengan pemberian imunisasi PCV adalah pendidkan ayah, sikap ibu, pengetahuan ibu, kemudahan akses informasi, serta dukungan kader dan petugas kesehatan. Oleh karena itu perlu dilakukan pemberian informasi tentang imunisasi PCV dengan cakupan wilayah dan sasaran yang lebih luas. Informasi juga bisa disebarkan menggunakan media lain selain melalui kegiatan penyuluhan.

PCV immunization as a prevention of pneumonia is one of the basic immunizations in Indonesia which was launched in September 2022. PCV immunization coverage at the time of the trial reached 80%. In December 2022, in Mekarjaya Village Depok City, PCV1 immunization coverage had only reached 3.69%. This shows that the coverage of PCV immunization in Mekarjaya Village Depok City is still very low. This study aims to determine the factors associated with the behavior of giving PCV immunization in the Mekarjaya Village Depok City in 2023. The method used in this research is a quantitative method with a cross-sectional approach using primary data collected from 102 mother respondents who have an infant under two years old. In this study it was found that 62.7% of mothers had given PCV immunization to their children under two years old. Factors related to giving PCV immunization were father's education, mother's attitude, mother's knowledge, ease of access to information, and support from cadres and health workers. Therefore it is necessary to provide information about PCV immunization with a wider coverage area and targets. Information can also be disseminated using media other than through outreach activities.
Read More
S-11383
Depok : FKM-UI, 2023
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Riski Agussalim Siregar; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Tiara Amelia, Theresia Rhabina Noviandari, Deksa Presiana
Abstrak:

Literasi gizi fungsional menjadi keterampilan dasar dan penting yang dibutuhkan seseorang dan promosi kesehatan di era penyakit akibat masalah gizi semakin meningkat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran determinan sosial dan literasi gizi serta hubungan keduanya pada mahasiswa sarjana Universitas Indonesia tahun angkatan 2018/2019. Desain penelitian menggunakan desain cross sectional, penelitian ini mengambil data dari Studi Literasi Kesehatan 2019 di Universitas Indonesia (n=373). Pengukuran literasi gizi dilakukan menggunakan instrumen The Newest Vital Sign (NVS) berisi 6 pertanyaan mengenai label gizi yang telah diadaptasi. Analisis menggunakan regresi linier berganda dengan literasi gizi fungsional sebagai variabel dependen dan determinan sosial seperti usia, jenis kelamin, suku, uang saku, rumpun keilmuan dan tempat tinggal sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan ada hubungan antara rumpun keilmuan (p=0,041) dan tempat tinggal (p =0,033) dengan tingkat literasi gizi fungsional mahasiswa Universitas Indonesia, sedangkan usia (p= 0,321), jenis kelamin (p=0,968), suku (p=0,606) dan uang saku (p=0,805) tidak berhubungan dengan tingkat literasi gizi fungsional mahasiswa Universitas Indonesia. Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan hubungan signifikan antara literasi gizi fungsional dengan determinan sosial tempat tinggal (p=0,010) dan Rumpun Ilmu (p-0,038). Hasil ini mengindikasikan hubungan yang lemah antara determinan sosial dan literasi gizi fungsional pada mahasiswa. Dan diperlukan upaya pengembangan edukasi terkait label gizi guna membantu mahasiswa dalam meningkatkan literasi gizi fungsional.


 

Functional nutrition literacy is a basic and important skill needed by a person and health promotion in an era of increasing diseases due to nutritional problems. This study aims to determine the description of social determinants and nutritional literacy and the relationship between the two in undergraduate students at the University of Indonesia class of 2018/2019. The research design used a cross sectional design, this study took data from the 2019 Health Literacy Study at the University of Indonesia (n = 373). Measurement of nutritional literacy was carried out using The Newest Vital Sign (NVS) instrument containing 6 questions regarding adapted nutrition labels. Analysis used multiple linear regression with functional nutrition literacy as the dependent variable and social determinants such as age, gender, ethnicity, pocket money, scientific clump and place of residence as independent variables. The results showed that there was an association between scientific group (p=0.012) and residence (p=0.041) with the level of functional nutrition literacy of Universitas Indonesia students, while age (p=0.321), gender (p=0.968), ethnicity (p=0.606) and pocket money (p=0.805) were not associated with the level of functional nutrition literacy of Universitas Indonesia students. The results of multiple linear regression analysis showed a significant relationship between functional nutrition literacy and social determinants of residence (p=0.010) and Science Group (p-0.038). These results indicate a weak relationship between social determinants and functional nutrition literacy in university students. Efforts are needed to develop education related to nutrition labeling to help students improve functional nutrition literacy.

Read More
T-7203
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Midyawati Ahmad; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Dian Ayubi, Mareta Maulidiyanti, Nur Fatayani, Ali Mukodas
Abstrak:
Gaya hidup sehat merujuk pada kebiasaan individu yang dapat membantu mencegah penyakit kronis dan mendorong praktik perilaku yang mendukung kesehatan. Munculnya internet telah secara dramatis mengubah lanskap informasi kesehatan, karena itu penting untuk memeriksa bagaimana literasi kesehatan digital mempengaruhi perilaku hidup sehat dikalangan remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran determinan sosial siswa SMAN, literasi kesehatan digital dan gaya hidup sehat siswa SMAN di Jakarta tahun 2024. Studi ini menggunakan data primer dengan desain potong lintang. Data dikumpulkan melalui teknik acak klaster (cluster random sampling), menggunakan instrumen HPLP II (tiga puluh pertanyaan) tentang gaya hidup sehat dan eHEALS (delapan pertanyaan) tentang literasi kesehatan digital pada studi ini. Analisis menggunakan regresi linear berganda dengan gaya hidup sehat sebagai variabel dependen dan literasi kesehatan digital dan determinan sosial usia, jenis kelamin, suku, jurusan, dan uang saku sebagai variabel independen. Hasil penelitian menunjukkan gaya hidup sehat pada siswa SMA Negeri dalam kategori cukup (Me=75; SD=10,51). Hasil analisis regresi linear berganda menunjukkan variabel literasi kesehatan digital berhubungan secara signifikan dengan gaya hidup sehat setelah dikontrol oleh variabel uang saku (aOR=2.120 95%CI 1.232-3.648). Oleh karena itu, diperlukan penguatan literasi kesehatan digital dan monitoringnya dengan berbagai pihak terkait termasuk dinas Pendidikan dan tim Pembina UKS, Dinas Komunikasi dan Informatika dalam mendukung gaya hidup sehat di Sekolah

A healthy lifestyle refers to individual habits that can help prevent chronic diseases and promote behaviors that support health. The emergence of the internet has dramatically changed the landscape of health information, making it essential to examine how digital health literacy influences healthy living behaviors among adolescents. This study aims to describe the social determinants of public high school students, their digital health literacy, and their healthy lifestyle in Jakarta in 2024. The study uses primary data with a cross-sectional design. Data were collected through cluster random sampling using the HPLP II instrument (thirty questions) about healthy lifestyle and eHEALS (eight questions) about digital health literacy. The analysis was conducted using multiple linear regression with a healthy lifestyle as the dependent variable and digital health literacy and social determinants such as age, gender, ethnicity, study major, and allowance as independent variables. The results showed that the healthy lifestyle of public high school students was in the moderate category (Me=75; SD=10.51). Multiple linear regression analysis showed that digital health literacy was significantly associated with a healthy lifestyle after being controlled for the allowance variable (aOR=2.120 95% CI 1.232-3.648). Therefore, it is necessary to strengthen digital health literacy and its monitoring with various relevant parties, including the Education Department, the School Health Unit (UKS) team, and the Department of Communication and Informatics to support a healthy lifestyle in schools.
Read More
T-6924
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Angela Karenina Sastroamidjoyo; Pembimbing: Dien Anshari; Penguji: Evi Martha, Rita Damayanti, Christiana R. Titaley dan Dina Agoes Soelistijani
Abstrak:
Kesehatan mental adalah komponen integral dari kesejahteraan yang mempengaruhi kemampuan individu dalam pengambilan keputusan, membangun hubungan, dan membentuk dunia sekitar mereka. Gangguan kesehatan mental mencakup disabilitas psikososial dan kondisi lain yang terkait dengan stres serta risiko melukai diri sendiri. Salah satu faktor yang mempengaruhi perilaku tersebut adalah literasi kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan mengetahui asosiasi determinan sosial kesehatan dengan literasi kesehatan mental pada mahasiswa program sarjana angkatan 2018 Universitas Pattimura dan mengevaluasi karakteristik individu dan determinan yang mempengaruhi literasi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan gambaran literasi kesehatan mental pada mahasiswa universitas Pattimura adalah 55,meskipun hubungan karakteristik individu seperti usia dan jenis kelamin dengan literasi kesehatan mental tidak signifikan secara statistik, ditemukan bahwa usia ≥ 19 tahun dan perempuan cenderung memiliki literasi yang lebih tinggi. Analisis determinan sosial kesehatan juga menunjukkan bahwa ada asosiasi signifikan antara suku kedua orang tua dengan literasi kesehatan mental. Hasil multivariabel menunjukkan bahwa suku kedua orang tua merupakan faktor dominan yang mempengaruhi skor literasi kesehatan mental, sedangkan status pasangan/pacar merupakan faktor confounding. Penelitian ini menekankan pentingnya peningkatan literasi kesehatan mental melalui pendidikan dan intervensi yang tepat untuk meningkatkan perilaku mencari bantuan pada mahasiswa.

Mental health is an integral component of well-being that influences an individual's ability to make decisions, build relationships, and shape the world around them. Mental health disorders include psychosocial disabilities and other conditions related to stress and risk of self-harm. One factor that influences this behavior is mental health literacy. This research aims to determine the association of social determinants of health with mental health literacy in undergraduate students class of 2018 at Pattimura University and evaluate individual characteristics and determinants that influence this literacy. The results showed that although the relationship between individual characteristics such as age and gender and mental health literacy was not statistically significant, it was found that those aged ≥ 19 years and women tended to have higher literacy. Analysis of social determinants of health also shows that there is a significant association between the ethnicity of both parents and mental health literacy. Multivariable results show that the ethnicity of both parents is the dominant factor influencing mental health literacy scores, while partner/boyfriend status is a confounding factor. This research emphasizes the importance of increasing mental health literacy through appropriate education and intervention to increase help-seeking behavior in college students.
Read More
T-6959
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Jihan Fadilah Faiz; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Putri Bungsu, Renti Mahkota, Sulistyo, Henry Diatmo
Abstrak:
Tuberkulosis (TB) paru anak menyumbang 12% kasus TB global. Di Indonesia, prevalensinya terus meningkat, mencapai 0,42% (usia 1–4 tahun) dan 0,18% (usia 5–14 tahun) pada 2023. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor risiko TB anak berdasarkan model triad epidemiologi: karakteristik anak, ekonomi, dan sosial. Penelitian ini merupakan analisis lanjut data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang menggunakan disain cross-sectional, dilakukan di 514 Kab/Kota  2023, mencakup 161.661 anak usia 0–14 tahun. Data dianalisis dengan regresi logistik ganda. Prevalensi TB pada anak usia 0–59 bulan sebesar 0,3%, usia 5–14 tahun sebesar 0,1%, dan usia 0–14 tahun sebesar 0,2%. Faktor risiko TB pada usia 0–59 bulan: status ekonomi rendah, ibu tidak bekerja, kontak erat TB. Faktor risiko TB anak usia 5–14 tahun: laki-laki, ibu tidak bekerja, kontak erat TB, sedangkan pada anak usia 0–14 tahun mencakup: usia 0–59 bulan, laki-laki, ekonomi rendah, ibu tidak bekerja, kontak erat TB. Kontak erat TB menjadi faktor risiko paling dominan kejadian TB anak, sehingga diperlukan edukasi, pelacakan kontak, dan deteksi dini aktif.

Pulmonary tuberculosis (TB) in children accounts for 12% of global tuberculosis cases. In Indonesia, its prevalence has increased annually, reaching 0.42% among children aged 1–4 years and 0.18% among those aged 5–14 years in 2023. This study aimed to identify risk factors for TB in children using the epidemiological triad model, which includes child characteristics, economic environment, and social environment. This quantitative study employed a cross-sectional design using secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), involving 161,661 children aged 0–14 years. Multiple regression logistic analysis was conducted.  The overall prevalence of TB in 0-59 month was 0.3%, in 5-14 years was 0.1%, and children in 0-14 years was 0.2%. Among children aged 0–59 months, significant risk factors included low economic status, having an unemployed mother, and close contact with TB patients. For children aged 5–14 years, significant factors were male sex, having an unemployed mother, and TB contact. In the combined 0–14 age group, risk factors included being aged 0–59 months, male, low economic status, having an unemployed mother, and TB contact. Close contact with TB patients was the most dominant factor. Strengthening education, contact tracing, and active early detection is essential to prevent TB in children.

Read More
T-7287
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive