Ditemukan 37416 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Aliani Safitri; PembimbingL Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Fajar Nugraha
Abstrak:
Read More
Kampung Muka, terletak di Kelurahan Ancol, Jakarta Utara, menjadi lokasi penelitian karena adanya dugaan risiko kesehatan akibat pajanan PM2,5, seperti yang juga ditemukan di wilayah lain di DKI Jakarta. Studi sebelumnya di Kepulauan Seribu, Jalan Daan Mogot, dan Terminal Kampung Rambutan menunjukkan nilai RQ>1, menandakan potensi bahaya kesehatan akibat polusi udara. Penelitian ini bertujuan mengestimasi risiko kesehatan pada balita yang tinggal di Kampung Muka akibat pajanan PM2,5. Penelitian dilakukan menggunakan desain Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan dengan pengukuran di empat titik sampling dan melibatkan 81 responden. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa konsentrasi PM2,5 di Kampung Muka, setelah dikonversi menjadi pajanan 24 jam dengan metode Canter, masih di bawah baku mutu yang merujuk pada PP No. 22 Tahun 2021 (≤55 µg/m³), dengan nilai tertinggi sebesar 44,4 µg/m³. Karakterisasi risiko rata-rata realtime dan lifetime menunjukkan RQ1 pada penghitungan pajanan realtime individu, berkisar antara 1,010 hingga 2,257 di beberapa titik. Hasil ini mengindikasikan adanya potensi risiko kesehatan pada kelompok balita meskipun rata-rata konsentrasi PM2,5masih memenuhi standar, sehingga diperlukan pemantauan lanjutan.
Kampung Muka, located in Ancol Sub-district, North Jakarta, was chosen as the study site due to suspected health risks from PM2.5 exposure, similar to findings in other areas of DKI Jakarta. Previous studies conducted in Kepulauan Seribu, Daan Mogot Road, and Kampung Rambutan Terminal reported RQ values greater than 1, indicating potential health hazards from air pollution. This study aimed to estimate health risks among toddlers living in Kampung Muka due to PM2.5 exposure. The research used an Environmental Health Risk Assessment design, with PM2.5 measurements taken at four sampling points and involving 81 respondents. The results showed that PM2.5 concentrations in Kampung Muka, after conversion to 24-hour exposure using the Canter method, remained below the quality standard set by Government Regulation No. 22 of 2021 (≤55 µg/m³), with the highest value recorded at 44.4 µg/m³. Risk characterization for average realtime and lifetime exposure indicated RQ values below 1. However, eight toddlers were found to have individual realtime RQ values greater than 1, ranging from 1.010 to 2.257 at various points. These findings suggest potential health risks among toddlers, even though the average PM2.5 concentration still meets regulatory standards, highlighting the need for continued monitoring.
Kampung Muka, located in Ancol Sub-district, North Jakarta, was chosen as the study site due to suspected health risks from PM2.5 exposure, similar to findings in other areas of DKI Jakarta. Previous studies conducted in Kepulauan Seribu, Daan Mogot Road, and Kampung Rambutan Terminal reported RQ values greater than 1, indicating potential health hazards from air pollution. This study aimed to estimate health risks among toddlers living in Kampung Muka due to PM2.5 exposure. The research used an Environmental Health Risk Assessment design, with PM2.5 measurements taken at four sampling points and involving 81 respondents. The results showed that PM2.5 concentrations in Kampung Muka, after conversion to 24-hour exposure using the Canter method, remained below the quality standard set by Government Regulation No. 22 of 2021 (≤55 µg/m³), with the highest value recorded at 44.4 µg/m³. Risk characterization for average realtime and lifetime exposure indicated RQ values below 1. However, eight toddlers were found to have individual realtime RQ values greater than 1, ranging from 1.010 to 2.257 at various points. These findings suggest potential health risks among toddlers, even though the average PM2.5 concentration still meets regulatory standards, highlighting the need for continued monitoring.
S-12018
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Zakia Davina Riadi; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Budi Haryanto, Rizal Maulana
Abstrak:
PM2,5 adalah partikel halus berukuran kurang dari 2,5 mikron yang dapat terhirup hingga ke alveolus paru-paru hingga masuk ke aliran darah. Pada tahun 2023, Kota Bogor merupakan kota dengan rata-rata konsentrasi PM2,5 tertinggi di Indonesia. SMA X Kota Bogor adalah SMA yang terletak di pusat Kota Bogor. Di depan sekolah, terdapat jalan utama yang merupakan jalur lalu lintas padat yang sering dilalui kendaraan pribadi maupun umum, sehingga berpotensi menjadi sumber emisi PM2,5 dari kendaraan bermotor. Tingginya kepadatan lalu lintas di kawasan tersebut menimbulkan dugaan bahwa partikel PM2,5 dari udara ambien dapat masuk ke dalam ruang kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung. Pajanan PM2,5 di ruang kelas dapat berdampak negatif pada fungsi kognitif dan kesehatan pernapasan siswa karena ukurannya yang kecil dan dapat terhirup hingga alveolus. Penelitian dilakukan untuk mengetahui estimasi risiko kesehatan akibat pajanan PM2,5 pada para murid di SMA X Kota Bogor tahun 2025 menggunakan studi Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan. Penelitian ini mencakup pengukuran konsentrasi PM2,5 di ruang kelas menggunakan perangkat SORA (Sensor Observasi Udara), serta pengumpulan data antropometri dan pola aktivitas 94 siswa di sekolah. Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni 2025. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di SMA X Kota Bogor masih berada di bawah baku mutu sesuai Permenkes No. 2 Tahun 2023 yaitu di bawah 25 µg/m3 dengan nilai rata-rata 24,79 µg/m3. Perhitungan RQ pada seluruh titik sampel maupun tiap individu diperoleh RQ ≤ 1 sehingga dianggap tidak berisiko pada kesehatan siswa.
Read More
PM2.5 are fine particulate matters smaller than 2.5 micrometres that can be inhaled deep into the lungs’ alveoli and enter the bloodstream. In 2023, Bogor City recorded the highest average PM2.5 concentration in Indonesia. SMA X Kota Bogor is a high school located in the center of Bogor City, adjacent to a major road with high traffic volume, making it potentially exposed to PM2.5 emissions from motor vehicles. Given the heavy traffic, there is concern that ambient PM2.5 particles may infiltrate classrooms during teaching activities. PM2.5 exposure poses risks to students' cognitive function and respiratory health due to its ability to penetrate deep into the lungs. This study aims to estimate the health risks associated with PM2.5 exposure among students at SMA X Kota Bogor in 2025 using an Environmental Health Risk Assessment approach. PM2.5 concentrations were measured in classrooms using the SORA (Sensor Observasi Udara) device, and anthropometric and activity data were collected from 94 students. Conducted in April-June 2025, the study found that the average PM2.5 concentration (24.79 µg/m3) was below the threshold set by Permenkes No. 2 Tahun 2023 (25 µg/m3). Risk Quotient (RQ) calculations showed RQ ≤ 1 for all samples and individuals, indicating no significant health risk.
S-12007
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rizkya Fitriani; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Zakianis, Muhammad Rudi AR
Abstrak:
Read More
Pulau tidung merupakan salah satu destinasi wisata yang berada di Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu. Di Pulau Tidung, berbagai aktivitas pariwisata maupun penduduk khususnya pada transportasi dapat menjadi sumber pencemaran yang berpotensi membahayakan kesehatan manusia. PM2,5 memiliki potensi untuk menyebabkan gangguan kesehatan karena kemampuannya untuk masuk ke sistem pernapasan yang dapat memicu berbagai penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi risiko kesehatan masyarakat akibat pajanan PM2,5 di udara ambien. Penelitian ini menggunakan desain studi Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan dengan melakukan pengukuran sampel udara di 4 titik dengan jumlah 96 responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi PM2,5 di Pulau Tidung masih berada dibawah baku mutu sesuai PP No. 22 Tahun 2021, yaitu dibawah 55 µg/m3 dengan nilai maksimum 44,7 µg/m3. Perhitungan nilai RQ dilakukan pada kondisi konsentrasi minimum, rata-rata, dan maksimum. Hanya terdapat 1 titik dengan nilai RQ>1, yaitu pada kondisi konsentrasi maksimum di titik 1. Dengan mempertimbangkan konsentrasi PM2,5, waktu pajanan, frekuensi pajanan, durasi pajanan, berat badan, dan periode waktu rata-rata, tingkat risiko pajanan PM2,5 di udara ambien pada masyarakat Pulau Tidung dengan konsentrasi sebesar 44,7 µg/m3, tidak aman bagi masyarakat dengan berat badan 64 kg, waktu pajanan 24 jam, frekuensi pajanan 363 hari/tahun selama 35,5 tahun dan saat ini masyarakat mungkin berisiko mengalami gangguan kesehatan.
Pulau Tidung is one of the tourist destinations located in the Administrative Regency of the Kepulauan Seribu. Tourism activities and the population can become sources of pollution that may endanger health. PM2.5 has the potential to cause health problems due to its ability to enter the respiratory system and trigger various diseases. This study aims to estimate the health risks to the community from exposure to PM2.5 in ambient air. The research used an Environmental Health Risk Analysis study design by measuring air samples at 4 points with a total of 96 respondents. The results showed that the concentration of PM2.5 on Tidung Island was still below the quality standard according to Government Regulation No. 22 of 2021, which is below 55 µg/m3 with a maximum value of 44.7 µg/m3. In the risk characterization stage, only 1 point had an RQ value >1, which was at the maximum concentration condition at point 1. Considering the concentration of PM2.5, anthropometric characteristics, and community activity patterns, the level of risk of PM2.5 exposure in ambient air on Tidung Island at a concentration of 44.7 µg/m3 is unsafe for the community with a body weight of 64 kg, exposure time of 24 hours, exposure frequency of 363 days/year for 35.5 years, and currently, the community may be at risk of experiencing health problems
S-11741
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sulthan Alvin Faiz Bara Mentari; Pembimbing: Budi Hartono; Penguji: Laila Fitria, Ririn Arminsih Wulandari, Herwin Meifendy, Debbie Valonda S
Abstrak:
Read More
Jalan Raya Daan Mogot-Pesing Kota Jakarta Barat merupakan jalan raya yang memiliki fungsi vital karena dikelilingi perumahan, industri, pasar, menghubungkan dua kota besar (Jakarta Barat dan Tanggerang), serta merupakan jalan raya yang memiliki titik konsentrasi PM2.5 tertinggi dengan 298 µg/m3 berdasarkan data IQair. Oleh karena itu, diperlukan sebuah penelitian yang dapat menganalisis risiko kesehatan terhadap masyarakat yang tinggal disekitarnya akibat pajanan PM2.5. Penelitian ini menggunakan metode ARKL dengan sampel udara pada 4 titik pengukuran dan sampel subjek sebanyak 96 responden. Pengambilan sampel udara menggunakan alat Dusttrak sedangkan pengambilan data sampel subjek dilakukan dengan wawancara. Berdasarkan hasil pengukuran PM2.5 pada 4 titik pengukuran, terdapat 3 titik yang konsentrasinya telah berada diatas baku mutu PP No.22 tahun 2021 pada titik 2 dengan 73,8 µg/m3, titik 3 dengan 57,2 µg/m3, dan titik 4 dengan 155,4 µg/m3. Berdasarkan hasil wawancara, didapatkan data rerata berat badan responden 59,5 kg, umur 44,5 tahun, waktu pajanan 24 jam/hari, frekuensi pajanan 350 hari/tahun, dan durasi pajanan 20 tahun. Intake realtime dan lifetime tertinggi berada pada titik 4 pengukuran dengan konsentrasi maksimum 0,03 mg/kg/hari dan 0,05 mg/kg/hari. RQ realtime dan lifetime tertinggi berada pada titik 4 dengan nilai maksimum 1,74 dan 2,61. Dibutuhkan manajemen risiko yang dapat menanggulangi titik dengan kategori berisiko diantaranya edukasi penggunaan masker, menanam tanaman penyaring debu dalam rumah, peningkatan gizi, serta penghijauan jalan raya.
Daan Mogot-Pesing road of West Jakarta is a highway that has a vital function because it is surrounded by housing, industry, markets, connects two big cities (West Jakarta and Tangerang), and is a highway that has the highest PM2.5 concentration point with 298 µg /m3 based on IQair data. Therefore, a study is needed that can analyze the health risks to the people who live around them due to PM2.5 exposure. This study used the EHRA method with air samples at 4 measurement points and a sample of 96 respondents. Air samples were taken using the Dusttrak tool while the subject sample data was collected by interview. Based on the results of PM2.5 measurements at 4 measurement points, there are 3 points whose concentrations are above the PP No. 22 of 2021 quality standards at point 2 with 73.8 µg/m3, point 3 with 57.2 µg/m3, and point 4 with 155.4 µg/m3. Based on the interview results, the average respondent's body weight was 59.5 kg, age 44.5 years, exposure time 24 hours/day, exposure frequency 350 days/year, and exposure duration 20 years. The highest realtime and lifetime intakes were at point 4 of measurement with a maximum concentration of 0.03 mg/kg/day and 0.05 mg/kg/day. The highest realtime and lifetime RQ is at point 4 with a maximum value of 1.74 and 2.61. Risk management is needed that can address points with risk categories including education on using masks, planting dust filter plants in the house, improving nutrition, and planting plants around the road.
T-6615
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Dilivia Nur Baiduri; Pembimbing: Bambang Wispriyono; Penguji: Dewi Susanna, Chandra Rudi Parulian Situmorang
Abstrak:
Read More
Akses terhadap air seharusnya dijamin bagi setiap individu, namun penyediaan akses air minum layak yang mencakup semua lapisan masyarakat merupakan salah satu isu yang paling kompleks untuk diselesaikan. Kebutuhan akan air minum di DKI Jakarta yang terus meningkat dikarenakan pertumbuhan penduduk tetapi tidak diimbangi dengan ketersediaan sumber daya air perpipaan yang memadai sebagai akses air minum layak sehingga menyebabkan terbatasnya akses air minum layak di Kampung Muka, Jakarta Utara. Desain studi penelitian adalah deskriptif dan cross-sectional dengan jumlah responden sebanyak 91 penduduk yang mewakili populasi penduduk Kampung Muka. Hasil analisis univariat akses air minum pada penduduk Kampung Muka sebagian besar masih tidak layak (72,5%), berbeda dengan capaian akses air minum layak di DKI Jakarta secara umum menurut Badan Pusat Statistik tahun 2024 (99,96%). Rata-rata kebutuhan air penduduk Kampung Muka telah memenuhi standar, yaitu sebesar 208 liter/orang/hari. Analisis bivariat menunjukkan bahwa usia (p=0,004) dan pengeluaran (p=0,000) memiliki hubungan signifikan terhadap akses air minum. Hasil analisis multivariat menunjukkan bahwa variabel usia (p=0,022; 95% CI: 0,097–0,834) dan pengeluaran (p=0,001; 95% CI: 0,049–0,472) berpengaruh secara simultan terhadap akses air minum pada penduduk Kampung Muka Jakarta Utara tahun 2025.
Access to water should be guaranteed for every individual; however, providing safe drinking water access that reaches all levels of society remains one of the most complex issues to address. In DKI Jakarta, the increasing demand for drinking water due to population growth is not matched by the availability of adequate piped water resources as a source of safe drinking water, leading to limited access to safe drinking water in Kampung Muka, DKI Jakarta. This study employed a descriptive cross-sectional design with 91 respondents representing the residents of Kampung Muka. Univariate analysis showed that most residents in Kampung Muka still lack access to safe drinking water (72.5%), which contrasts with the overall safe drinking water access coverage in DKI Jakarta reported by BPS in 2024 (99.96%). Meanwhile, the average water consumption for domestic purposes met the standard, reaching 208 liters per person per day. Bivariate analysis indicated that age (p=0.004; OR=0.237; 95% CI: 0.087–0.648) and expenditure (p=0.000; OR=0.134; 95% CI: 0.044–0.403) were significantly associated with drinking water access. Multivariate analysis confirmed that age (p=0.022; 95% CI: 0.097–0.834) and expenditure (p=0.001; 95% CI: 0.049–0.472) simultaneously influenced access to drinking water among the residents of Kampung Muka, North Jakarta, in 2025.
Access to water should be guaranteed for every individual; however, providing safe drinking water access that reaches all levels of society remains one of the most complex issues to address. In DKI Jakarta, the increasing demand for drinking water due to population growth is not matched by the availability of adequate piped water resources as a source of safe drinking water, leading to limited access to safe drinking water in Kampung Muka, DKI Jakarta. This study employed a descriptive cross-sectional design with 91 respondents representing the residents of Kampung Muka. Univariate analysis showed that most residents in Kampung Muka still lack access to safe drinking water (72.5%), which contrasts with the overall safe drinking water access coverage in DKI Jakarta reported by BPS in 2024 (99.96%). Meanwhile, the average water consumption for domestic purposes met the standard, reaching 208 liters per person per day. Bivariate analysis indicated that age (p=0.004; OR=0.237; 95% CI: 0.087–0.648) and expenditure (p=0.000; OR=0.134; 95% CI: 0.044–0.403) were significantly associated with drinking water access. Multivariate analysis confirmed that age (p=0.022; 95% CI: 0.097–0.834) and expenditure (p=0.001; 95% CI: 0.049–0.472) simultaneously influenced access to drinking water among the residents of Kampung Muka, North Jakarta, in 2025.
S-12119
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Tiara Dhesi Anggraeni; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Budi Hartono, Abdur Rahman
Abstrak:
Permukiman Nelayan Kali Adem Muara Angke berlokasi di tepian Perairan Teluk Jakarta yang telahtercemar Kadmium. Masyarakat disana terbiasa mengonsumsi ikan yang berasal dari Pasar Ikan GrosirMuara Angke, dimana pasokan ikan yang dijual berasal dari Perairan Teluk Jakarta dan sebagian dari PantaiUtara Pulau Jawa. Pengonsumsian ikan dari perairan yang tercemar berisiko menimbulkan gangguankesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat risiko pajanan Kadmium daripengonsumsikan ketiga jenis ikan yaitu ikan kembung, ikan tongkol dan ikan bandeng, pada masyarakat diPermukiman Nelayan Kali Adem melalui pendekatan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).Hasil penelitian menunjukkan bahwa asupan (Chronic Daily Intake) Kadmium melalui ikan yaitu sebesar9 x 10-5 mg/kg/hari, dengan laju asupan (R) sebesar 153,3 gram/hari, frekuensi pajanan (fE) selama 312hari/tahun, durasi pajanan (Dt) selama 26 tahun dan rata-rata berat badan (Wb) sebesar 59 kg. Hasilperhitungan tingkat risiko (RQ) pada pajanan real time untuk jenis ikan kembung, ikan tongkol dan ikanbandeng berturut-turut sebesar 0,070; 0,012; 0,006. Pada estimasi pajanan 10 tahun sebesar 0,097; 0,017;0,008. Pada estimasi pajanan 20 tahun sebesar 0,124; 0,022; 0,011. Dan untuk estimasi pajanan 30 tahunsebesar 0,152; 0,027; 0,013. Hasil tersebut menunjukkan bahwa masyarakat di Permukiman Nelayan KaliAdem Muara Angke secara populasi belum memiliki risiko dan masih aman dari timbulnya gangguankesehatan nonkarsinogenik akibat pajanan Kadmium dari pengonsumsian ikan untuk pajanan saat inihingga estimasi 30 tahun mendatang, dengan asumsi bahwa sumber pajanan hanya berasal dari ikan dantidak memperhitungkan pajanan Kadmium dari sumber lain.kata kunci : analisis risiko kesehatan lingkungan; ikan; kadmium; muara angke; pencemaran air laut
Kali Adem Muara Angke Fisherman Community located on the shores of Jakarta Bay which have beenpolluted by Cadmium. The community always eats fish from Pasar Ikan Grosir Muara Angke, where thesupplies of fish are from Jakarta Bay and partly from North Coast of Java Island. The consumptions ofcontaminated fish would pose a risk of health problems. This study aimed to determine the level of riskexposure to Cadmium at Kali Adem Muara Angke Fisherman Community through Environmental HealthRisk Analysis (EHRA) approach. The results showed that the intake (Chronic Daily Intake) of Cadmiumin fish at 9 x 10-5 mg/kg/hari, with the fish intake rate of 153,3 gram/day, frequency of exposure at 312days/year, duration of exposure for 26 years and the average body weight of 59 kg. The results of riskquotient (RQ) analysis for real time exposure in kembung fish, tongkol fish and bandeng fish are 0,070;0,012; 0,006. For 10 years exposure estimation, the results of risk quotient (RQ) are 0,097; 0,017; 0,008.For 20 years exposure estimation are 0,124; 0,022; 0,011. And for the 30 years exposure estimation are0,152; 0,027; 0,013. The results showed that the fisherman community, do not have risks and still safe fromthe noncarcinogenic health risk at this time to 30 years ahead, based on the assumption that Cadmiumexposure comes from fish only and do not take into the Cadmium exposure from the other sources.keywords : cadmium; environmental health risk assessment; fish; muara angke; sea water contamination.
Read More
Kali Adem Muara Angke Fisherman Community located on the shores of Jakarta Bay which have beenpolluted by Cadmium. The community always eats fish from Pasar Ikan Grosir Muara Angke, where thesupplies of fish are from Jakarta Bay and partly from North Coast of Java Island. The consumptions ofcontaminated fish would pose a risk of health problems. This study aimed to determine the level of riskexposure to Cadmium at Kali Adem Muara Angke Fisherman Community through Environmental HealthRisk Analysis (EHRA) approach. The results showed that the intake (Chronic Daily Intake) of Cadmiumin fish at 9 x 10-5 mg/kg/hari, with the fish intake rate of 153,3 gram/day, frequency of exposure at 312days/year, duration of exposure for 26 years and the average body weight of 59 kg. The results of riskquotient (RQ) analysis for real time exposure in kembung fish, tongkol fish and bandeng fish are 0,070;0,012; 0,006. For 10 years exposure estimation, the results of risk quotient (RQ) are 0,097; 0,017; 0,008.For 20 years exposure estimation are 0,124; 0,022; 0,011. And for the 30 years exposure estimation are0,152; 0,027; 0,013. The results showed that the fisherman community, do not have risks and still safe fromthe noncarcinogenic health risk at this time to 30 years ahead, based on the assumption that Cadmiumexposure comes from fish only and do not take into the Cadmium exposure from the other sources.keywords : cadmium; environmental health risk assessment; fish; muara angke; sea water contamination.
S-10498
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Avatari Khumaira Hadi; Pembimbing: Al Asyary; Penguji: Ema Hermawati, Resyana Yunita
Abstrak:
Read More
Pencemaran udara, khususnya PM2.5, menjadi masalah serius karena partikel halus ini mampu masuk hingga alveoli paru dan peredaran darah. Wilayah Jalan Margonda Raya merupakan salah satu kawasan di Kota Depok dengan lalu lintas padat dan aktivitas ekonomi yang tinggi, sehingga berpotensi menghasilkan emisi PM2.5 dalam jumlah besar. Penelitian ini bertujuan untuk menilai tingkat risiko pajanan PM2.5 terhadap pekerja luar ruangan di sepanjang Jalan Margonda Raya, Kota Depok. Desain studi yang digunakan adalah analisis risiko kesehatan lingkungan (ARKL) terhadap 100 responden pekerja luar ruangan. Pengukuran konsentrasi PM2.5 dilakukan selama satu jam pada lima titik berbeda dan diperoleh rata-rata sebesar 166,8 µg/m³, sedangkan estimasi konsentrasi 24 jam menunjukkan nilai rata-rata sebesar 88,3 µg/m³ yang telah melebihi baku mutu udara ambien. Karakteristik antropometri responden menunjukkan nilai median berat badan sebesar 59,6 kg. Pola aktivitas pekerja menunjukkan nilai median waktu pajanan adalah 8 jam/hari, frekuensi pajanan 310 hari/tahun, dan durasi pajanan 6 tahun. Nilai asupan PM2.5 yang dihitung menghasilkan rata-rata 0,0038 mg/kg/hari untuk skenario realtime dan 0,0158 mg/kg/hari untuk skenario lifetime. Nilai RQ (Risk Quotient) masing-masing adalah 1,078 (realtime) dan 4,382 (lifetime), yang menunjukkan bahwa tingkat risiko berada pada kategori tidak aman (RQ > 1). Oleh karena itu, diperlukan manajemen risiko seperti penurunan konsentrasi paparan PM2.5 menjadi 0,038 mg/m³, pengurangan durasi pajanan menjadi 7,6 jam/hari, serta pengurangan frekuensi kerja menjadi 294 hari/tahun.
Air pollution, particularly PM2.5, is a serious issue because these fine particles can penetrate deep into the lung alveoli and enter the bloodstream. Jalan Margonda Raya is one of the areas in Depok City with dense traffic and high economic activity, so it has the potential to produce large amounts of PM2.5 emissions. This study aims to assess the level of risk of PM2.5 exposure to outdoor workers along Jalan Margonda Raya, Depok City. This research was conducted using the Environmental Health Risk Assessment (EHRA) method among 100 outdoor worker respondents. PM2.5 concentrations were measured over one-hour intervals at five different locations, resulting in an average of 166.8 µg/m³, while the 24-hour concentration estimate showed an average value of 88.3 µg/m³ which exceeded the ambient air quality standard. The anthropometric characteristics of the respondents showed a median body weight of 59.6 kg. Worker activity patterns show a median exposure time of 8 hours/day, exposure frequency of 310 days/year, and exposure duration of 6 years. The calculated PM2.5 intake values yield an average of 0.0038 mg/kg/day for the realtime scenario and 0.0158 mg/kg/day for the lifetime scenario. The RQ (Risk Quotient) values are 1.078 (realtime) and 4.382 (lifetime), respectively, indicating that the risk level is in the unsafe category (RQ > 1). Therefore, risk management is needed such as reducing the concentration of PM2.5 exposure to 0.038 mg/m³, reducing the duration of work to 7.6 hours/day, and reducing the frequency of work to 294 days/year.
Air pollution, particularly PM2.5, is a serious issue because these fine particles can penetrate deep into the lung alveoli and enter the bloodstream. Jalan Margonda Raya is one of the areas in Depok City with dense traffic and high economic activity, so it has the potential to produce large amounts of PM2.5 emissions. This study aims to assess the level of risk of PM2.5 exposure to outdoor workers along Jalan Margonda Raya, Depok City. This research was conducted using the Environmental Health Risk Assessment (EHRA) method among 100 outdoor worker respondents. PM2.5 concentrations were measured over one-hour intervals at five different locations, resulting in an average of 166.8 µg/m³, while the 24-hour concentration estimate showed an average value of 88.3 µg/m³ which exceeded the ambient air quality standard. The anthropometric characteristics of the respondents showed a median body weight of 59.6 kg. Worker activity patterns show a median exposure time of 8 hours/day, exposure frequency of 310 days/year, and exposure duration of 6 years. The calculated PM2.5 intake values yield an average of 0.0038 mg/kg/day for the realtime scenario and 0.0158 mg/kg/day for the lifetime scenario. The RQ (Risk Quotient) values are 1.078 (realtime) and 4.382 (lifetime), respectively, indicating that the risk level is in the unsafe category (RQ > 1). Therefore, risk management is needed such as reducing the concentration of PM2.5 exposure to 0.038 mg/m³, reducing the duration of work to 7.6 hours/day, and reducing the frequency of work to 294 days/year.
S-12031
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Fauzia Rachmidiani; Pembimbing: Suyud Warno Utomo; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Esti Tusminarti
Abstrak:
Bahan bakar minyak dapat mengemisikan logam berat timbal ke udara dan akan jatuh mengikuti gaya gravitasi dan terakumulasi di tanah atau air. Tanah memiliki kemampuan untuk mempertahankan sebagian besar unsur berbahaya yang dikandungnya dalam waktu lama. Penanaman kangkung di pinggir jalan raya yang padat dilalui kendaraan bermotor akan berpengaruh terhadap kadar timbal di tanaman kangkung akibat penyerapan logam berat timbal dari lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi tingkat risiko kesehatan petani kangkung akibat pajanan timbal secara ingesti di kangkung yang ditanam di Kelurahan Sukapura, Jakarta Utara. Metode penelitian ini adalah Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan terhadap pola konsumsi kangkung pada 25 orang petani. Rata-rata konsentrasi timbal dalam kangkung adalah 1,54 mg/kg. Nilai ini telah melebihi standar Kepala BPOM No 23/2017 yaitu 0,2 mg/kg. Hasil nilai asupan (intake) realtime adalah sebesar 0,00026 mg/kg/hari dengan rata-rata laju asupan kangkung 102,42 gram, durasi pajanan selama 21,08 tahun, berat badan 60 kg, dan frekuensi pajanan 52 hari/tahun. Nilai RQ sebesar 0,07 (RQ <1) menunjukkan kangkung masih aman untuk dikonsumsi. Kata Kunci: Timbal; Kangkung; Petani; Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan
Read More
S-10118
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Damai Arum Pratiwi; Pembimbing: Budi Haryanto; Penguji: Agustin Kusumayati, Laila Fitria, Miko Hananto, Didi Purnama
Abstrak:
Sopir angkutan kota (angkot) di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, menghabiskan waktu berjam-jam di jalan sehingga terpajan particulate matter (PM2,5) dalam konsentrasi yang tinggi sehingga dapat menyebabkan masalah kesehatan bahkan kematian dini melalui mekanisme stres oksidatif. Malondialdehyde (MDA) adalah salah satu produk sampingan dari stres oksidatif yang menjadi biomarker peroksidasi lipid. Dalam tesis ini, peneliti mengukur PM2,5 pada 130 driver saat mereka mengendarai angkot selama satu kali pulang pergi. Kadar MDA diperiksa dari sampel urin, indeks massa tubuh (IMT) diukur dengan berat dan tinggi badan, dan data variabel lainnya (masa kerja, durasi kerja, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, konsumsi vitamin, konsumsi minuman energi, kebiasaan olahraga, dan trayek angkutan) dikumpulkan dengan kuesioner dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pajanan PM2,5 dan IMT secara signifikan berhubungan dengan kadar MDA (p <0,05). Secara keseluruhan, tesis ini menyarankan pengemudi untuk mengontrol berat badannya agar kadar MDA dalam tubuh tidak meningkat serta agar sopir melindungi kesehatan dirinya
Read More
T-5773
Depok : FKM UI, 2019
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sukadi; Pembimbing: Abdur Rahman; Penguji: Budi Hartono, Abdur Rochman
Abstrak:
Indek standar pencemaran udara DKI Jakarta, parameter kritis terbanyak diKelapa Gading. Untuk mengestimasi risiko kesehatan dilakukan analisis risikokesehatan PM10 dan SO2 di Kelapa Gading. Konsentrasi risk agent diperolehstasiun pemantau udara BPLHD DKI Jakarta selama 365 hari. Berat badan, waktupajanan diukur dari 80 responden. Estimasi risiko kesehatan dinyatakan dalamRQ, dihitung dari intake risk agent dan dosis referensinya. Risiko kesehatandianggap berisiko bila RQ>1. Hasil penelitian menunjukkan RQ PM10 dan SO2pajanan realtime tidak berisiko. Pajanan lifespan konsentrasi maksimum PM10berisiko terhadap kesehatan populasi. Konsentrasi PM10 diturunkan hingga 118µg/m3,merupakan batas aman untuk semua pupolasi. Kata Kunci : Kelapa Gading, analisis risiko, PM10, SO2
Air pollution standard index of Jakarta, the most critical parameters in KelapaGading. To estimate the health risk health risk analysis of PM10 and SO2 inKelapa Gading. Concentration risk agent obtained air monitoring station BPLHDfor 365 days. Weight, measured exposure time of 80 respondents. Health riskestimates are expressed in RQ, calculated from intake and risk agent referencedose. The health risks are considered at risk if RQ>1. The results showed RQPM10 and SO2 exposure risk is not realtime. Lifespan exposure to the maximumconcentration of PM10 risk for population health. Concentration of 118 μg/m3 ofPM10 is reduced to, a safe limit for all pupolasi.Keywords: Kelapa Gading, risk analysis, PM10, SO2
Read More
Air pollution standard index of Jakarta, the most critical parameters in KelapaGading. To estimate the health risk health risk analysis of PM10 and SO2 inKelapa Gading. Concentration risk agent obtained air monitoring station BPLHDfor 365 days. Weight, measured exposure time of 80 respondents. Health riskestimates are expressed in RQ, calculated from intake and risk agent referencedose. The health risks are considered at risk if RQ>1. The results showed RQPM10 and SO2 exposure risk is not realtime. Lifespan exposure to the maximumconcentration of PM10 risk for population health. Concentration of 118 μg/m3 ofPM10 is reduced to, a safe limit for all pupolasi.Keywords: Kelapa Gading, risk analysis, PM10, SO2
S-8163
Depok : FKM-UI, 2014
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
