Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 39561 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Savira Zain Laeli; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Gagal Ginjal Kronik merupakan penyakit katastropik yang progresif dan irreversible dengan beban biaya tinggi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran biaya serta faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pelayanan kesehatan penyakit GGK di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi non-eksperimental kuantitatif yang dengan data sekunder dari data sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat non-parametrik menggunakan uji Spearman, Mann-Whitney, dan Kruskal wallis dengan total sampel sebanyak 22.619 peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total beban biaya pelayanan GGK di DKI Jakarta tahun 2023 sebesar Rp555.265.832.525 dengan biaya per peserta sebesar Rp3.250.400. Variabel jenis kelamin laki-laki, usia 15-59 tahun, status perkawinan belum kawin, segmentasi kepesertaan PBI APBN, hak kelas rawat II, frekuensi RJTL, frekuensi RITL, dan lama hari rawat memiliki hubungan atau perbedaan median yang signifikan terhadap biaya pelayanan kesehatan (p-value<0,001). Kesimpulannya, seluruh variabel yang diteliti menunjukkan hubungan atau perbedaan median yang signifikan terhadap biaya pelayanan kesehatan penyakit GGK pada peserta JKN di Provinsi DKI Jakarta tahun 2023.


Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive and irreversible catastrophic illness with a high financial burden in the National Health Insurance (JKN) program. This study aims to describe the cost and identify factors affecting healthcare costs for CKD services among JKN participants in DKI Jakarta Province in 2023. This research employed a non-experimental quantitative design using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample dataset. Data were analyzed using univariate and non-parametric bivariate tests, including Spearman, Mann-Whitney, and Kruskal-Wallis tests, with a total sample of 22,619 participants. The results showed that the total healthcare expenditure for CKD in DKI Jakarta in 2023 was IDR 555,265,832,525, with an average cost per participant of IDR 3,250,400. The variables of male gender, age 15–59 years, unmarried status, PBI APBN membership segment, class II inpatient rights, frequency of outpatient and inpatient visits, and length of stay were significantly associated with differences in healthcare costs (p-value < 0.001). In conclusion, all studied variables showed a statistically significant relationship or difference in median costs for CKD healthcare services among JKN participants in DKI Jakarta in 2023.
Read More
S-12034
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Savira Zain Laeli; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Gagal Ginjal Kronik merupakan penyakit katastropik yang progresif dan irreversible dengan beban biaya tinggi dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Penelitian ini bertujuan untuk melihat gambaran biaya serta faktor-faktor yang mempengaruhi biaya pelayanan kesehatan penyakit GGK di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi non-eksperimental kuantitatif yang dengan data sekunder dari data sampel BPJS Kesehatan tahun 2024. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat non-parametrik menggunakan uji Spearman, Mann-Whitney, dan Kruskal wallis dengan total sampel sebanyak 22.619 peserta. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total beban biaya pelayanan GGK di DKI Jakarta tahun 2023 sebesar Rp555.265.832.525 dengan biaya per peserta sebesar Rp3.250.400. Variabel jenis kelamin laki-laki, usia 15-59 tahun, status perkawinan belum kawin, segmentasi kepesertaan PBI APBN, hak kelas rawat II, frekuensi RJTL, frekuensi RITL, dan lama hari rawat memiliki hubungan atau perbedaan median yang signifikan terhadap biaya pelayanan kesehatan (p-value<0,001). Kesimpulannya, seluruh variabel yang diteliti menunjukkan hubungan atau perbedaan median yang signifikan terhadap biaya pelayanan kesehatan penyakit GGK pada peserta JKN di Provinsi DKI Jakarta tahun 2023.


Chronic Kidney Disease (CKD) is a progressive and irreversible catastrophic illness with a high financial burden in the National Health Insurance (JKN) program. This study aims to describe the cost and identify factors affecting healthcare costs for CKD services among JKN participants in DKI Jakarta Province in 2023. This research employed a non-experimental quantitative design using secondary data from the 2024 BPJS Kesehatan sample dataset. Data were analyzed using univariate and non-parametric bivariate tests, including Spearman, Mann-Whitney, and Kruskal-Wallis tests, with a total sample of 22,619 participants. The results showed that the total healthcare expenditure for CKD in DKI Jakarta in 2023 was IDR 555,265,832,525, with an average cost per participant of IDR 3,250,400. The variables of male gender, age 15–59 years, unmarried status, PBI APBN membership segment, class II inpatient rights, frequency of outpatient and inpatient visits, and length of stay were significantly associated with differences in healthcare costs (p-value < 0.001). In conclusion, all studied variables showed a statistically significant relationship or difference in median costs for CKD healthcare services among JKN participants in DKI Jakarta in 2023.
Read More
S-12087
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aghata Fisca Fatya Prasasti; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Kurnia Sari, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Penelitian ini membahas terkait analisis utilisasi dan biaya pelayanan kesehatan pasien diabetes mellitus (DM) pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Provinsi DKI Jakarta berdasarkan Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2023. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode pengumpulan data melalui rancangan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan total sampling dari sampel seluruh data peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Provinsi DKI Jakarta dengan diagnosis penyakit diabetes mellitus (DM). Data sampel menunjukkan bahwa dari populasi 46.348 peserta, 3.598 di antaranya mengidap diabetes mellitus (DM). Hasil penelitian diperoleh bahwa rata-rata peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan diabetes mellitus (DM) di Provinsi DKI Jakarta mengakses layanan rawat jalan tingkat lanjut (RJTL) sebanyak 8,36 kali per tahun dan rawat inap tingkat lanjut (RITL) sebanyak 4,07 kali per tahun. Total biaya pelayanan kesehatan untuk peserta diabetes mellitus (DM) di RITL 86,67% dan di RJTL 13,33%. Karakteristik peserta yang paling banyak mengakses layanan kesehatan adalah lansia, perempuan, pilihan FKTP di Puskesmas, peserta segmen PBPU dan PBI APBD, serta hak rawat kelas III. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan diabetes mellitus (DM) di Provinsi DKI Jakarta memiliki tingkat utilisasi layanan kesehatan yang cukup tinggi, terutama untuk RJTL. Biaya pelayanan kesehatan untuk pasien diabetes mellitus (DM) di RITL tinggi, yang menunjukkan bahwa penyakit diabetes mellitus (DM) memberikan beban biaya yang signifikan bagi program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

This study discusses the analysis of utilization and costs of health service for diabetes mellitus (DM) patients among National Health Insurance (JKN) participants in DKI Jakarta Province based on the 2023 BPJS Health Sample Data. This research is a quantitative study with data collection method through a cross-sectional design. This research’s sampling technique uses total sampling from a sample of all National Health Insurance (JKN) participants data in DKI Jakarta Province with a diagnosis of diabetes mellitus (DM). Sample data shows that out of a population of 46,348 participants, 3,598 have diabetes mellitus (DM). The research results show that on average, participants of the National Health Insurance (JKN) with diabetes mellitus (DM) in DKI Jakarta Province access outpatient advanced care (RJTL) 8.36 times per year and inpatient advanced care (RITL) 4.07 times per year. The total healthcare service costs for diabetes mellitus (DM) participants are 86.67% in RITL and 13.33% in RJTL. Characteristics of participants who access healthcare services the most include the elderly, females, choosing FKTP in Community Health Centers (Puskesmas), participants in the PBPU and PBI APBD segments, and entitled to class III care. The research concludes that National Health Insurance (JKN) participants with diabetes mellitus (DM) in DKI Jakarta Province have a relatively high healthcare service utilization rate, especially for RJTL. Healthcare service costs for diabetes mellitus (DM) patients in RITL are high, indicating that diabetes mellitus (DM) imposes a significant cost burden on the National Health Insurance (JKN) program.
Read More
S-11770
Depok : FKM UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Monica Tara Chrishanti; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Sabarinah, Mardiati Nadjib
Abstrak:
Penyakit kardiovaskular merupakan penyebab utama kematian di Indonesia dan menimbulkan beban pembiayaan yang besar dalam Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Meskipun pelayanan Rawat Inap Tingkat Lanjut (RITL) menyerap proporsi pembiayaan JKN yang tinggi, hasil penelitian menunjukkan hanya sebagian kecil peserta JKN dengan penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta yang memanfaatkan RITL. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran dan hubungan karakteristik peserta JKN dengan utilisasi RITL kasus penyakit kardiovaskular di Provinsi DKI Jakarta tahun 2023. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional dan sumber data berupa Data Sampel BPJS Kesehatan Tahun 2024. Sampel penelitian terdiri atas 915 peserta sebelum pembobotan yang setelah dilakukan pembobotan merepresentasikan 142.621 peserta JKN yang memperoleh pelayanan di Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut di Provinsi DKI Jakarta dengan diagnosis primer penyakit kardiovaskular kode ICD-10 I05–I09, I11, I20–I25, dan I30–I50. Data dianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square dan regresi logistik sederhana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 9,0% peserta memanfaatkan RITL, sedangkan 91,0% tidak memanfaatkan RITL. Median lama rawat peserta RITL adalah empat hari. Usia, jenis kelamin, status perkawinan, hak kelas rawat, segmentasi kepesertaan, dan hubungan keluarga memiliki hubungan yang signifikan dengan utilisasi RITL (p-value <0,05). Proporsi RITL tertinggi ditemukan pada peserta usia 15 – 64 tahun sebesar 9,9%, perempuan sebesar 10,8%, belum menikah sebesar 10,5%, kelas II sebesar 14,9%, PBI APBN sebesar 14,5%, dan kelompok hubungan keluarga sebagai anak sebesar 33,8%. Kelompok tambahan pada variabel hubungan keluarga tidak menunjukkan hubungan yang signifikan dibandingkan peserta utama. Utilisasi RITL yang relatif rendah tidak dapat langsung dimaknai sebagai hambatan akses karena sebagian peserta dimungkinkan memperoleh pengelolaan melalui pelayanan primer dan rawat jalan tingkat lanjut. BPJS Kesehatan, Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, dan fasilitas kesehatan disarankan mempertahankan kesinambungan pengelolaan penyakit kronis serta memanfaatkan data klaim untuk memantau kelompok peserta dengan proporsi RITL relatif tinggi tanpa membatasi akses pelayanan sesuai kebutuhan medis.

Cardiovascular disease is the main cause of death in Indonesia and causes a large financing burden in the Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Although the Advanced Inpatient Service (RITL) absorbs a high proportion of JKN financing, research results show that only a small percentage of JKN participants with cardiovascular disease in DKI Jakarta Province take advantage of RITL. This study aims to find out the characteristics and relationship of JKN participants with the RITL utilization of cardiovascular disease cases in DKI Jakarta Province in 2023. Research uses a quantitative approach with cross-sectional design and data sources in the form of BPJS Health Sample Data for 2024. The study sample consisted of 915 participants before the weighting, who after the weighting represented 142,621 participants of JKN who received services at Advanced Reference Health Facilities in DKI Jakarta Province with primary diagnosis of cardiovascular disease code ICD-10 I05–I09, I11, I20–I25, and I30–I50. Data are analyzed univariate and bivariate using Chi-Square tests and simple logistic regression. Research results showed that 9.0% of participants used RITL, while 91.0% did not use RITL. The median length of care for RITL participants is four days. Age, sex, marital status, nursing class rights, participation segmentation, and family relationships have a significant relationship with RITL utilization (p-value <0.05). The highest proportion of RITLs was found in participants aged 15–64 at 9.9%, women at 10.8%, unmarried at 10.5%, class II at 14.9%, PBI APBN at 14.5%, and family relations groups as children at 33.8%. Additional groups on the family relationship variable showed no significant relationship compared to the main participants. The relatively low utilization of RITL cannot be immediately interpreted as an access barrier because some participants may obtain management through advanced primary and outpatient services. BPJS Health, the DKI Jakarta Provincial Health Office, and health facilities are advised to maintain continuous management of chronic diseases and utilize claim data to monitor groups of participants with relatively high proportions of RITL without limiting service access according to medical needs.
Read More
S-12434
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dina Yuliarty; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Prastuti Soewondo, Elshe Theresia
Abstrak:
Latar Belakang: Pada tahun 2021, kasus TB di Indonesia diperkirakan sebanyak 969.000 kasus, dengan notifikasi kasus TB pada tahun 2022 mencapai 724.309 kasus (75%). Penemuan kasus TB pada tahun 2022 ini merupakan penemuan kasus tertinggi sejak 1 dekade terakhir. Situasi ini dapat berkontribusi pada peningkatan biaya pelayanan peserta JKN dengan penyakit TB. Tujuan: Mengetahui biaya pelayanan kesehatan peserta JKN dengan penyakit Tuberkulosis (TB) di Wilayah Provinsi DKI Jakarta dalam satu tahun. Metode: Desain studi cross-sectional dengan analisis univariat dan bivariat. Sampel penelitan yaitu peserta JKN dengan penyakit Tuberkulosis (TB) berdasarkan data sampel BPJS Kesehatan Tahun 2023. Hasil: Hasil analisis didapatkan bahwa BPJS Kesehatan menghabiskan anggaran sebesar Rp14.244.980.234 (14 Milyar) untuk membayar klaim 3.492 peserta JKN di Wilayah Provinsi DKI Jakarta dengan penyakit Tuberkulosis (TB) pada Tahun 2022. Faktor-faktor yang berhubungan dengan biaya Tuberkulosis (TB) peserta JKN di Wilayah Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022 yaitu umur, jenis kelamin, penyakit penyerta (komorbiditas), segmentasi kepesertaan, hak kelas rawat, kunjungan RJTL, kunjungan RITL, lama hari rawat inap dan Wilayah tempat tinggal. Kesimpulan: Penelitian ini menggambarkan besarnya biaya pelayanan peserta JKN dengan penyakit Tuberkulosis (TB) sehingga program deteksi dini sangat penting untuk dilakukan sebagai upaya dalam menghemat biaya.

Background: In 2021, TB cases in Indonesia are estimated to be 969,000 cases, with TB case notifications in 2022 reaching 724,309 cases (75%). The discovery of TB cases in 2022 is the highest case discovery since the last decade. This situation can contribute to increasing service costs for JKN participants with TB disease. Objective: To find out the cost of health services for JKN participants with Tuberculosis (TB) in the DKI Jakarta Province Region in one year. Method: Cross-sectional research design with univariate and bivariate analysis. The research sample is JKN participants with Tuberculosis (TB) based on BPJS Health sample data for 2023. Results: The results of the analysis showed that BPJS Health spent a budget of IDR 14,244,980,234 (14 billion) to pay claims for 3.492 JKN participants in the Province. DKI Jakarta with Tuberculosis (TB) in 2022. Factors related to the cost of Tuberculosis (TB) for JKN participants in the DKI Jakarta Province Region in 2022, namely age, gender, comorbidity, membership segmentation, treatment class rights, RJTL visits, RITL visits , length of stay and region of residence. Conclusion: This research illustrates the high costs of JKN service participants with Tuberculosis (TB), so that an early detection program is very important to carry out as an effort to save costs.
Read More
S-11570
Depok : FKM-UI, 2024
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ahmad Saepu Bahril Ulum; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Puput Oktamianti, Laksmi Damaryanti
Abstrak:
Gagal ginjal kronis (GGK) merupakan penyakit kronik yang memerlukan pengobatan jangka panjang dan menimbulkan beban biaya kesehatan yang tinggi, khususnya dalam sistem Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Beban biaya tersebut berpotensi meningkat apabila pasien GGK disertai dengan komorbiditas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cost of illness kasus gagal ginjal kronis dengan dan tanpa komorbiditas pada peserta JKN di Indonesia tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan merupakan data sekunder sampel BPJS Kesehatan tahun 2024 yang merepresentasikan pelayanan kesehatan peserta JKN tahun 2023. Populasi penelitian adalah seluruh peserta JKN dengan diagnosis gagal ginjal kronis, baik dengan maupun tanpa komorbiditas. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan komparatif terhadap biaya pelayanan rawat jalan dan rawat inap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien gagal ginjal kronis merupakan pasien dengan komorbiditas. Kelompok usia terbanyak berada pada rentang usia 45–64 tahun. Biaya pelayanan rawat jalan relatif rendah dan stabil, sedangkan biaya rawat inap menunjukkan variasi yang lebih besar. Perbedaan yang signifikan ditemukan pada lama rawat inap antara pasien GGK dengan dan tanpa komorbiditas, sementara perbedaan biaya total tidak menunjukkan perbedaan yang bermakna. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan komorbiditas tidak selalu meningkatkan biaya pelayanan kesehatan per episode pada pasien gagal ginjal kronis. Oleh karena itu, pengelolaan penyakit kronik secara terintegrasi serta penguatan upaya promotif dan preventif perlu terus ditingkatkan untuk menekan beban biaya pelayanan GGK dalam sistem JKN.

Chronic kidney disease (CKD) is a chronic condition that requires long-term treatment and imposes a substantial financial burden on the healthcare system, particularly within Indonesia’s National Health Insurance (JKN) scheme. This burden may increase when CKD patients have comorbid conditions. This study aimed to analyze the cost of illness of chronic kidney disease with and without comorbidities among JKN participants in Indonesia in 2023.  This study employed a cross-sectional design with a quantitative approach. The data used were secondary sample data from BPJS Kesehatan in 2024, representing healthcare services for JKN participants in 2023. The study population consisted of all JKN participants diagnosed with chronic kidney disease, both with and without comorbidities. Data analysis was conducted descriptively and comparatively to assess outpatient and inpatient healthcare costs.  The results showed that the majority of CKD patients had comorbidities, with the largest proportion found in the 45–64 age group. Outpatient costs were relatively low and stable, while inpatient costs showed greater variation. A significant difference was observed in the length of hospital stay between CKD patients with and without comorbidities, whereas total healthcare costs did not show a statistically significant difference.  In conclusion, the presence of comorbidities does not always lead to higher healthcare costs per episode among CKD patients. Therefore, strengthening integrated chronic disease management as well as promotive and preventive efforts is essential to reduce the financial burden of CKD within the JKN system.
Read More
S-12176
[s.l.] : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Bunga Pramesuari Mei Syara; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Pujiyanto, Khaterina Kristina Manurung
Abstrak:
Kesehatan gigi merupakan bagian integral dari kesehatan tubuh secara keseluruhan, dan masalah kesehatan gigi berkontribusi signifikan terhadap beban penyakit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh berbagai variabel terhadap utilisasi layanan kesehatan gigi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) berdasarkan data sampel BPJS pada tahun 2023. Desain penelitian menggunakan uji Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney dengan total sampel sebanyak 8.694 peserta yang memanfaatkan layanan kesehatan gigi di FKTP wilayah Provinsi Jawa Barat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variabel usia 15-64 tahun, jenis kelamin Perempuan, tempat tinggal peserta di kota, status perkawinan kawin, lokasi FKTP kota, jenis FKTP klinik pratama, serta segmen kepesertaan PPU, semuanya memiliki hubungan signifikan terhadap utilisasi pelayanan kesehatan gigi di FKTP (p-value < 0,001). Kesimpulan dari penelitian ini yakni seluruh variabel berhubungan signifikan dengan utilisasi layanan kesehatan gigi di FKTP wilayah Provinsi Jawa Barat.


Dental health is an integral part of overall body health, and dental health problems contribute significantly to the burden of disease. This study aims to analyze the influence of various variables on the utilization of dental health services at the Primary Health Care (FKTP) based on BPJS sample data in 2023. The research design used the Kruskal-Wallis and Mann-Whitney tests with a total sample of 8,694 participants who utilized dental health services at FKTP in West Java Province. The results showed that the variables of age 15-64 years, female gender, residence in the city, marital status, location of city primary health care facilities, type of primary health care facilities, and PPU membership segment all had a significant relationship with the utilization of dental health services at primary health care facilities (p-value <0.001). The conclusion of this study is that all variables are significantly associated with the utilization of dental health services at primary health care facilities in West Java Province
Read More
S-12115
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Enzelika Rahel Sininta; Pembiming: Atik Nurwahyuni; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan menganalisis penggunaan persalinan sectio caesarea di fasilitas rujukan tingkat lanjut di Provinsi DKI Jakarta pada tahun 2023, menggunakan desain penelitian non-eksperimental analitikal dengan pendekatan cross-sectional data sampel BPJS Kesehatan 2024. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebesar 77,6% peserta melahirkan dengan tindakan sectio caesarea. Beberapa faktor ditemukan memiliki hubungan signifikan terhadap pemilihan metode persalinan ini, antara lain: usia >35 tahun (OR: 1,93; 95% CI: 1,68–2,21), domisili di Jakarta Timur (OR: 4,68; 95% CI: 4,18–5,25), status kepesertaan PBPU (OR: 2,50; 95% CI: 2,23–2,79), hak kelas rawat Kelas I, kepemilikan fasilitas swasta (OR: 3,19; 95% CI: 3,08–3,32), tipe FKRTL kelas C (OR: 1,50; 95% CI: 1,47–1,75), serta lokasi FKRTL di Jakarta Timur (OR: 3,75; 95% CI: 3,53–3,98). Faktor riwayat sectio caesarea merupakan prediktor terkuat (OR: 77,2; 95% CI: 61,42–97,2), yang menunjukkan adanya kecenderungan tinggi untuk menjalani sectio berulang. Temuan ini menegaskan pentingnya perhatian terhadap keputusan medis pada persalinan pertama yang berpotensi memengaruhi pola persalinan berikutnya. Intervensi perlu dilakukan secara menyeluruh, baik pada sisi ibu melalui intervensi preventif dan penguatan kesiapan sejak di layanan primer, maupun pada sisi pelayanan melalui audit medis dan penerapan panduan klinis yang ketat.


This study aims to analyze the use of caesarean section deliveries in advanced referral health facilities in DKI Jakarta Province in 2023, using an non-experimental analytical cross-sectional design based on BPJS Health sample data from 2024. Results showed that 77.6% of participants gave birth via caesarean section. Several factors were significantly associated with caesarean delivery, including age over 35 years (OR: 1.93; 95% CI: 1.68–2.21), residence in East Jakarta (OR: 4.68; 95% CI: 4.18–5.25), PBPU insurance status (OR: 2.50; 95% CI: 2.23–2.79), Class I inpatient entitlement, private hospital ownership (OR: 3.19; 95% CI: 3.08–3.32), Class C hospital type (OR: 1.50; 95% CI: 1.47–1.75), and facility location in East Jakarta (OR: 3.75; 95% CI: 3.53–3.98). History of caesarean section was the strongest predictor (OR: 77.2; 95% CI: 61.42–97.2), indicating a high likelihood of reccuring procedures. These findings highlight the importance of careful medical decision-making during the first delivery, as it can significantly influence subsequent delivery patterns. Comprehensive interventions are needed, both on the maternal side through preventive measures and strengthened readiness starting at the primary care level, and on the service side through medical audits and strict implementation of clinical guidelines.
Read More
S-12060
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nur Afifah; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Trisari Anggondowati, Chandra Nurcahyo
Abstrak:
Penelitian ini membahas mengenai utilisasi fasilitas kesehatan tingkat pertama  pelayanan kesehatan mental anxiety pada peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia. Penelitian menggunakan desain cross-sectional dengan menggunakan data sampel BPJS tahun 2025 yang berisi data kunjungan tahun 2024 dan menggunakan Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas peserta melakukan kunjungan ke FKTP sebanyak 1-3 kali dalam satu tahun yang termasuk dalam kategori utilisasi rendah sebanyak 158.957 peserta. Proporsi utilisasi pelayanan kesehatan mental anxiety di Indonesia lebih besar pada jenis kelamin perempuan sebanyak 118.730 peserta, kelompok umur dewasa (19-59 tahun) sebanyak 144.533 peserta, status kawin 110.577, tinggal di Provinsi Jawa Barat sebanyak 34.186 peseta, jenis fasilitas kesehatan puskesmas sebanyak 107.875 peserta, fasilitas kesehatan milik pemerintah sebanyak 113.261 peserta, dan segmen peserta PPU sebanyak 56.900 peserta. Faktor yang menunjukkan adanya hubungan signifikan diantaranya, yaitu umur, status perkawinan, dan segmentasi peserta.

This study analyses about utilization of first-level health facilities for mental health services for anxiety among National Health Insurance (NHI) in Indonesia. This study used cross-sectional design using BPJS sample data for 2025 which contained visit data for 2024 and used Chi-Square. The result shows that the majority of participants utilized at primary healthcare with range 1 – 3 visits per year in low category of utilization, totaling 158.957 participants. Proportion of mental health services utilization for anxiety at primary healthcare in Indonesia is greater in the female gender with 118.730 participants, adult group (19-59 years) with 144.533 participants, married status with 110.577 participants, livin in West Javawith 34.186 participants, visiting puskesmas with 107.875 participants, Government-owned healthcare facilities with 113.261 participants, and PPU participants segmentation with 56.900 participants. The factors significantly associated with anxiety related mental health service utilization were age, marital status, and participant segmentation.
Read More
S-12449
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Imma Nadya Simarmata; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Puput Oktamianti, Erfan Chandra Nugraha
Abstrak:
Latar Belakang: Pemanfaatan pelayanan KB di Indonesia masih belum optimaal ditandai dengan unmet need yang stagnan di angka 11% dan rendahnya kesertaan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP). Meskipun pelayanan KB dijamin dalam skema JKN dan dapat diakses melalui 23.639 FKTP, gambaran pemanfaatan pelayanan KB dalam konteks kepesertaan JKN secara nasional masih sangat terbatas. Tujuan: Menganalisis gambaran pemanfaatan pelayanan KB dan faktor-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan jenis pelayanan KB MKJP dan Non-MKJP. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan data sekunder dari Data Sampel BPJS Kesehatan Reguler Edisi 2025 menggunakan sampel berjumlah 13.660 peserta. Analisis data meliputi univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat menggunakan regresi logistik complex samples yang memperhitungkan desain sampel kompleks (strata, cluster, dan pembobotan). Hasil: Non-MKJP mendominasi sebesar 70,6% dengan jenis terbanyak adalah pemberian kontrasepsi suntik/pil dan pemantauan (36,6%). Dari 8 variabel yang diteliti, 4 variabel berhubungan bermakna dengan jenis pemanfaatan pelayanan KB, yaitu jenis kelamin (p=0,024), jenis FKTP (p=0,001), wilayah regional FKTP (p=0,001), dan wilayah tempat tinggal (p<0,001), sedangkan usia, status perkawinan, hubungan keluarga, dan segmentasi kepesertaan tidak berhubungan bermakna. Kesimpulan: Pemanfaatan MKJP di FKTP masih belum optimal dan terdapat disparitas signifikan berdasarkan karakteristik peserta dan wilayah.

Background: Family planning (FP) service utilization in Indonesia remains suboptimal, characterized by an unmet need that has stagnated at 11% and persistently low uptake of Long-Acting Contraceptive Methods (LACMs). Although FP services are covered under the National Health Insurance (JKN) scheme and accessible through 23,639 primary health care facilities (FKTP), a comprehensive national picture of FP service utilization among JKN participants remains largely unavailable. Objective: To analyze the profile of FP service utilization and the factors associated with the type of FP service utilized, namely LACMs and Non-LACMs. Methods: A cross-sectional study design was employed using secondary data from the BPJS Kesehatan Regular Sample Data 2025 Edition, with a sample of 13,660 participants. Data analysis included univariate (frequency distribution) and bivariate analyses using complex samples logistic regression. Results: Non-LACMs dominated at 70.7%, with contraceptive injection/pill provision being the most common service type (36.6%). Of the 8 variables examined, 4 were significantly associated with the type of FP service utilized, namely sex (p=0.024), type of FKTP (p=0.001), regional FKTP zone (p=0.001), and area of residence (p<0.001), whereas age, marital status, family relationship, and membership segmentation were not significantly associated. Conclusion: LACMs utilization at FKTP remains suboptimal, with significant disparities observed across participant characteristics and geographic regions.
Read More
S-12429
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive