Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 35820 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Maryam Casimira Kinanti; Pembimbing: Ratna Djuwita; Penguji: Putri Bungsu, Soewarta Kosen
Abstrak:

Depresi menjadi salah satu masalah gangguan mental yang paling umum terjadi dan merupakan penyebab utama disabilitas di dunia terutama pada kelompok anak muda. Di Indonesia, prevalensi depresi tertinggi terjadi pada kelompok usia 15-24 tahun dan 61% diantaranya pernah berpikiran untuk mengakhiri hidup. Gaya hidup, termasuk pola makan, juga berperan dalam kejadian depresi. Saat ini, tren pola konsumsi makanan di Indonesia cenderung tidak sehat. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola makan dengan kejadian depresi pada anak muda usia 15-24 tahun di Indonesia berdasarkan data SKI 2023. Penelitian ini menggunakan studi potong lintang dengan analisis univariat, bivariat dan stratifikasi berdasarkan usia, jenis kelamin, status ekonomi, wilayah tempat tinggal, aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan konsumsi alkohol. Hasil penelitian ini menunjukkan. Pola makan tidak sehat berhubungan signifikan dengan peningkatan risiko depresi pada anak muda usia 15–24 tahun di Indonesia (OR=1,40; 95% CI: 1,21–1,61). Hubungan pola makan dan kejadian depresi ini dipengaruhi oleh kelompok usia dan wilayah tempat dengan hubungan yang kuat pada kelompok remaja usia 15-19 tahun dan tinggal di wilayah perkotaan. Pencegahan depresi pada anak muda perlu didukung dengan edukasi pola makan sehat dan peningkatan akses terhadap makanan sehat.


Depression is one of the most common mental health problems and a leading cause of disability worldwide, especially among young people. In Indonesia, the highest prevalence of depression occurs in the 15–24 age group, with 61% of them having experienced suicidal thoughts. Lifestyle factors, including dietary patterns, also play a role in the occurrence of depression. Currently, dietary consumption trends in Indonesia tend to be unhealthy. Therefore, this study aims to examine the relationship between dietary patterns and the incidence of depression among young people aged 15–24 in Indonesia based on the 2023 SKI data. This cross-sectional study employs univariate, bivariate, and stratified analyses based on age, sex, socioeconomic status, residential area,  physical activity, smoking habits, and alcohol consumption. The results show that unhealthy dietary patterns are significantly associated with an increased risk of depression in Indonesian youth aged 15–24 (OR=1.40; 95% CI: 1.21–1.61). The association was influenced by age group and region of residence with a strong association in youth aged 15-19 years and living in urban areas.. Although a higher risk of depression was also seen among alcohol consumers, this was not statistically significant. Prevention of depression in young people should be supported by education on healthy eating and improved access to healthy foods.

Read More
S-12038
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gift Charity Yikwa; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Renti Mahkota, Yovsyah, Heny Lestary, Kamaluddin Latief
Abstrak:
Stunting masih merupakan permasalahan gizi utama pada balita di Indonesia, khususnya di wilayah Pulau Papua. Salah satu faktor biologis yang diduga berperan dalam terjadinya stunting adalah berat badan lahir rendah (BBLR), meskipun pengaruhnya dapat dipengaruhi oleh kondisi ibu dan faktor lingkungan. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara BBLR dan kejadian stunting pada anak usia 0-59 bulan di Pulau Papua menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan desain cross sectional yang memanfaatkan data sekunder SKI 2023. Sampel mencakup seluruh anak usia 0–59 bulan di Pulau Papua yang memenuhi kriteria inklusi. Variabel dependen adalah kejadian stunting, sedangkan variabel independen utama adalah BBLR. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat, dan multivariat menggunakan regresi Cox untuk memperoleh estimasi risiko yang telah diadjust oleh kovariat. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi stunting sebesar 27,12%. Analisis multivariat menunjukkan bahwa BBLR tidak berhubungan signifikan dengan kejadian stunting (PR = 1,21; 95% CI: 0,81-1,81; p = 0,341). Sebaliknya, pemeriksaan kehamilan yang tidak lengkap, status ibu KEK, tidak mendapat ASI eksklusif, serta jenis kelamin anak bersifat confounding dengan terjadinya kejadian stunting. Temuan ini menegaskan pentingnya peran faktor ibu dan praktik perawatan anak dalam pencegahan stunting di wilayah Pulau Papua.

Stunting remains a major nutritional problem among toddlers in Indonesia, especially in the Papua region. One of the biological factors suspected to contribute to stunting is low birth weight (LBW), although its influence can be affected by the mother's condition and environmental factors. This study aims to analyze the relationship between LBW and stunting in children aged 0-59 months in Papua Island using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). This study is an analytical study with a cross-sectional design that utilizes secondary data from SKI 2023. The sample included all children aged 0-59 months in Papua Island who met the inclusion criteria. The dependent variable was the incidence of stunting, while the main independent variable was LBW. Data analysis was performed univariately, bivariately, and multivariately using Cox regression to obtain risk estimates adjusted for covariates. The results showed a stunting prevalence of 27,12%. Multivariate analysis showed that LBW was not significantly associated with stunting (PR = 1,21; 95% CI: 0,81-1,81; p = 0,341). Conversely, incomplete antenatal care, maternal KEK status, not receiving exclusive breastfeeding, and child gender were confounding factors for the occurrence of stunting. These findings emphasize the importance of maternal factors and child care practices in preventing stunting in the Papua region.
Read More
T-7488
[s.l.] : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lina Anggraeni Mariyati; Pembimbing: Putri Bungsu; Penguji: Trisari Anggondowati, Dian Meutia Sari, Arum Ambarsari
Abstrak:
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas pada anak balita, terutama di negara berkembang. Status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir rendah (BBLR) merupakan faktor yang secara teoritis berhubungan dengan kejadian ISPA pada anak, namun belum adanya penelitian yang secara khusus mengevaluasi efek gabungan antara status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir terhadap kejadian ISPA pada balita. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kedua faktor tersebut dengan kejadian ISPA pada anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta baik secara terpisah (independent), maupun kombinasi (gabungan) berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 dengan menggunakan desain cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 711 anak usia 12–59 bulan di DKI Jakarta yang memenuhi kriteria inklusi, yaitu memiliki data lengkap pada setiap variabel yang diteliti. Variabel dependen adalah kejadian ISPA, yaitu anak yang tercatat dalam 1 bulan terakhir didiagnosis ISPA oleh tenaga kesehatan dan atau memiliki gejala demam disertai batuk/pilek/nyeri tenggorok, sedangkan variabel independen utama meliputi status imunisasi dasar, riwayat berat lahir, dan variabel gabungan status imunisasi dasar dan riwayat berat lahir. Variabel kovariat terdiri atas usia anak, status gizi, ASI eksklusif, paparan asap rokok dalam rumah, usia ibu, pendidikan ibu, status pekerjaan ibu, dan status ekonomi. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat dan multivariat menggunakan regresi generalized linear model dengan pendekatan backward elimination. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi ISPA pada anak usia 12–59 bulan sebesar 37,6%. Setelah mengotrol faktor perancu, anak dengan imunisasi dasar tidak lengkap memiliki prevalensi ISPA 13% lebih tinggi dibandingkan anak dengan imunisasi lengkap (aPR=1,13; 95%CI: 0,93–1,39), namun tidak bermakna secara statistik. Anak dengan riwayat BBLR juga memiliki prevalensi ISPA 33% lebih tinggi dibandingkan dengan anak yang tidak BBLR (aPR=1,33; 95%CI: 0,95–1,88). Pada analisis variabel gabungan, kelompok anak dengan imunisasi lengkap dan riwayat BBLR memiliki prevalensi ISPA tertinggi (aPR=1,62; 95%CI: 0,93–2,83) dibandingkan degan kelompok imunisasi lengkap dan tidak BBLR. Penelitian ini menyimpulkan bahwa status imunisasi dasar dan riwayat BBLR menunjukkan kecenderungan peningkatan risiko ISPA meskipun tidak bermakna secara statistik. Upaya pencegahan ISPA tetap perlu difokuskan pada peningkatan cakupan imunisasi dasar dan pemantauan kelompok anak dengan riwayat BBLR.

Acute Respiratory Infection (ARI) remains one of the leading causes of morbidity among children under five, particularly in developing countries. Basic immunization status and a history of low birth weight (LBW) are theoretically associated with the incidence of ARI in children; however, limited research has specifically evaluated the combined effect of these two factors on ARI among under-five children. Therefore, this study aimed to analyze the association between basic immunization status and birth weight history with the incidence of ARI among children aged 12–59 months in DKI Jakarta using data from the 2023 Indonesian Health Survey through a cross-sectional design. The study sample consisted of 711 children aged 12–59 months in DKI Jakarta who met the inclusion criteria and had complete data for all study variables. The dependent variable was the incidence of ARI, defined as a child who, within the previous month, had been diagnosed with ARI by a healthcare professional and/or experienced symptoms of fever accompanied by cough, runny nose, or sore throat. The main independent variables included basic immunization status, birth weight history, and a combined variable of basic immunization status and birth weight history. Covariates consisted of child age, nutritional status, exclusive breastfeeding, exposure to cigarette smoke inside the house, maternal age, maternal education, maternal employment status, and socioeconomic status. Data were analyzed using univariate, bivariate, stratified, and multivariate analyses with generalized linear model regression and a backward elimination approach. The results showed that the prevalence of ARI among children aged 12–59 months was 37.6%. After adjusting for potential confounders, children with incomplete basic immunization had a 13% higher prevalence of ARI compared with fully immunized children (aPR = 1.13; 95% CI: 0.93–1.39), although the association was not statistically significant. Children with a history of LBW had a 33% higher prevalence of ARI compared with those without LBW (aPR = 1.33; 95% CI: 0.95–1.88). In the combined-variable analysis, children with complete immunization and a history of LBW had the highest prevalence of ARI (aPR = 1.62; 95% CI: 0.93–2.83) compared with children who had complete immunization and no history of LBW. This study concludes that incomplete basic immunization status and a history of LBW tend to increase the risk of ARI, although the associations were not statistically significant. Efforts to prevent ARI should continue to focus on improving basic immunization coverage and monitoring children with a history of LBW.
Read More
T-7550
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Fika Muntahaya; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Yoslien Sopamena, Edduwar Idul Riyadi, Ika Malika
Abstrak:
Prevalensi depresi pada penduduk usia 15-24 tahun di Indonesia merupakan yang tertinggi (2%), namun proporsi individu dengan depresi pada kelompok usia tersebut yang memperoleh pengobatan merupakan yang terendah (10,4%) dibandingkan kelompok usia lain. Meskipun kesenjangan pengobatan pada kelompok usia ini cukup besar, faktor-faktor yang berhubungan dengan pencarian pengobatan pada individu usia 15–24 tahun yang mengalami depresi masih belum banyak diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor predisposisi, pemungkin, dan kebutuhan yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan pada kelompok usia tersebut yang mengalami depresi. Studi ini menggunakan desain cross-sectional dengan menganalisis data sekunder dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Sampel penelitian berjumlah 1.250 responden berusia 15-24 tahun yang memenuhi kriteria diagnosis depresi berdasarkan instrumen MINI (Mini International Neuropsychiatric Interview). Analisis data menggunakan regresi logistik multivariabel. Hasil penelitian menunjukkan hanya 9,3% responden yang mencari pengobatan medis untuk gejala depresi yang mereka alami. Gejala utama yang paling banyak dialami adalah kehilangan minat (84,9%), sedangkan gejala tambahan yang paling dominan adalah perasaan menyalahkan diri sendiri (74,9%). Hasil analisis multivariabel menunjukkan bunuh diri merupakan prediktor independen terkuat, di mana individu dengan pikiran bunuh diri memiliki peluang 4,3 kali lebih tinggi (95% CI: 2,40-7,74) dibanding yang tidak memiliki pikiran bunuh diri, dan individu dengan penyakit komorbid memiliki peluang 3,3 kali lebih tinggi (95% CI: 1,23-9,09) dibanding yang tidak memiliki penyakit komorbid, untuk mencari pengobatan depresi. Waktu tempuh ke fasilitas kesehatan juga menunjukkan hubungan yang signifikan secara statistik dengan pencarian pengobatan, namun dengan pola yang kontradiktif dengan hipotesis, yang kemungkinan dipengaruhi oleh faktor stigma. Individu yang tinggal lebih jauh dari fasilitas kesehatan cenderung memiliki peluang yang besar untuk mencari pengobatan depresi (POR ≤15 menit: 0,12 95% CI: 0,04-0,37; POR 16-30 menit: 0,13, 95%CI: 0,03-0,60). Tingkat pencarian pengobatan pada penduduk usia 15-24 tahun yang mengalami depresi di Indonesia sangat rendah dan cenderung dilakukan ketika kondisi sudah mencapai tahap krisis (seperti adanya pikiran bunuh diri)  atau kemungkinan didorong oleh kontak dengan tenaga kesehatan untuk pemeriksaan komorbiditas). Diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami dinamika pencarian pengobatan pada penderita depresi dan faktor-faktor penghambatnya. Selain itu, diperlukan penguatan literasi kesehatan mental dan sistem skrining dini di komunitas untuk meningkatkan pencarian pengobatan sebelum gejala depresi berkembang menjadi lebih parah.

The prevalence of depression among the population aged 15–24 in Indonesia is the highest (2%), yet the proportion of individuals in this age group with depression who receive treatment is the lowest (10,4%) compared to other age groups. Although the treatment gap in this group is substantial, the factors associated with treatment-seeking behavior among depressed individuals aged 15–24 remain largely underexplored. This study aims to identify predisposing, enabling, and need factors associated with treatment-seeking behavior in this age group with depression. This study employed a cross-sectional design, analyzing secondary data from the 2023 Indonesian Health Survey (Survei Kesehatan Indonesia, SKI). The sample comprised 1,250 respondents aged 15–24 who met the diagnostic criteria for depression based on the Mini International Neuropsychiatric Interview (MINI) instrument. Data were analyzed using multivariate logistic regression. The results showed that only 9.3% of respondents sought medical treatment for their depressive symptoms. The most commonly reported core symptom was loss of interest (84.9%), while the most dominant auxiliary symptom was feelings of self-blame (74.9%). Multivariate analysis revealed that suicidality was the strongest independent predictor, with individuals experiencing suicidal ideation having 4.3 times higher odds (95% CI: 2,40–7,74) of seeking depression treatment compared to those without. Additionally, individuals with comorbid conditions had 3.3 times higher odds (95% CI: 1,23–9,09) of seeking treatment compared to those without comorbidities. Travel time to health facilities also showed a statistically significant association with treatment-seeking, albeit with a pattern contradictory to the hypothesis, likely influenced by stigma-related factors. Individuals living farther from health facilities tended to have greater odds of seeking depression treatment (POR for ≤15 minutes: 0,12, 95% CI: 0,04–0.37; POR for 16–30 minutes: 0,3, 95% CI: 0,03–0,60). The rate of depression treatment-seeking among individuals aged 15–24 in Indonesia is remarkably low and tends to occur only when the condition has reached a crisis point (such as the presence of suicidal ideation) or is possibly driven by contact with healthcare providers for comorbidity examinations. Further research is needed to understand the dynamics of treatment-seeking among individuals with depression and its barriers. Moreover, strengthening mental health literacy and early screening systems in community settings is essential to improve treatment-seeking before depressive symptoms progress to more severe stages.
Read More
T-7651
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Syahrani; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Trisari Anggondowati, Nadia Shafira
Abstrak:
Latar Belakang: Menarche dini, atau menstruasi pertama pada usia sebelum 12 tahun, merupakan isu kesehatan masyarakat yang penting karena memengaruhi berbagai luaran kesehatan reproduksi seperti meningkatkan risiko kanker payudara dan endometrium. Terjadi tren penurunan rata-rata usia menarche di Indonesia, dari 13,0 tahun pada Riskesdas 2013 menjadi 12,8 tahun pada Riskesdas 2018. Menyikapi tren penurunan tersebut, penelitian berskala nasional yang secara khusus menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan kejadian menarche dini di Indonesia sangat diperlukan, mengingat ketersediaannya yang masih sangat terbatas. Tujuan: Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berasosiasi dengan menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia menggunakan data SKI 2023. Metode: Penelitian ini merupakan studi kuantitatif observasional analitik dengan desain potong lintang menggunakan data sekunder SKI 2023. Sebanyak 17.765 remaja perempuan usia 15–19 tahun yang telah mengalami menarche dan memiliki data usia menarche yang valid. Menarche dini yang didefinisikan sebagai menarche pada usia < 12 tahun memiliki beberapa variabel independen yang memengaruhinya, yakni status gizi, wilayah tempat tinggal, gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, pekerjaan ibu, aktivitas fisik, konsumsi minuman manis, konsumsi makanan berlemak, pajanan asap rokok. Analisis data dilakukan secara univariat, lalu bivariat menggunakan Chi-square dan dilanjutkan multivariat menggunakan regresi logistik dengan mempertimbangkan desain survei kompleks SKI 2023. Hasil: Prevalensi menarche dini pada remaja usia 15–19 tahun di Indonesia adalah 12,2%. Status gizi lebih meningkatkan odds menarche dini (aOR = 1,72; 95% CI: 1,44 – 2,07), sebaliknya, status gizi kurang menurunkan odds menarche dini (aOR = 0,58; 95% CI: 0,38 – 0,89) dibandingkan status gizi normal. Remaja yang berada di Kepulauan Maluku memiliki odds lebih rendah mengalami menarche dini (aOR = 0,38; 95% CI: 0,24 – 0,61), sedangkan tidak ada perbedaan odds yang signifikan pada Kalimantan (aOR = 0,84; 95% CI: 0,67 – 1,07) dan Papua (aOR = 0,82; 95% CI: 0,43 – 1,53). Remaja dari kuintil terendah (aOR = 0,71; 95% CI: 0,54 – 0,92) dan kuintil menengah bawah (aOR = 0,72; 95% CI: 0,57 – 0,91) memiliki odds menarche dini lebih rendah dibandingkan kuintil menengah. Remaja dengan ibu berpendidikan tinggi memiliki nilai odds menarche dini yang lebih tinggi (aOR = 1,30; 95% CI: 1,09 – 1,55). Kesimpulan: Studi ini menunjukkan bahwa menarche dini pada remaja Indonesia usia 15–19 tahun dipengaruhi oleh gugus pulau, kuintil kekayaan, pendidikan ibu, dan status gizi remaja, dengan status gizi sebagai faktor dengan asosiasi paling kuat. Temuan ini menggarisbawahi perlunya program intervensi kesehatan remaja yang komprehensif dan berbasis bukti, menyasar pengendalian status gizi anak hingga remaja, sebagai bagian dari upaya promotif dan preventif kesehatan reproduksi remaja di tingkat nasional.

Background: Early Age at Menarche (AAM), defined as the first menstruation occurring before age 12, is an important public health issue because it affects various reproductive health outcomes, including an increased risk of breast and endometrial cancer. Indonesia has seen a declining trend in average menarche age, from 13.0 years in Riskesdas 2013 to 12.8 years in Riskesdas 2018. In response to this trend, a national-scale study specifically analyzing the factors associated with AAM in Indonesia is greatly needed, given the still limited availability of such research. Objective: This study aims to analyze the factors associated with AAM among adolescents aged 15–19 years in Indonesia using 2023 Indonesian Health Survey (SKI) data. Methods: This is a quantitative, analytical observational study with a cross-sectional design using secondary data from SKI 2023. A total of 17,765 female adolescents aged 15–19 years who had experienced menarche and had valid menarche age data were included. AAM, defined as menarche occurring before age 12, was examined in relation to nutritional status, area of residence, island group, wealth quintile, maternal education, maternal occupation, physical activity, sugary beverage consumption, fatty food consumption, and secondhand smoke exposure. Data were analyzed univariately, followed by bivariate analysis using Chi-square, and multivariate analysis using logistic regression, accounting for the complex survey design of SKI 2023. Results: The prevalence of Early Age at Menarche (AAM) among adolescents (15–19 years) was 12.2%. AAM odds were significantly higher in those with overweight (aOR 1.72; 95% CI 1.44–2.07) and lower in those with underweight (aOR 0.58; 95% CI 0.38–0.89) compared to normal weight. Geographically, adolescents in the Maluku Islands had lower odds of AAM (aOR 0.38; 95% CI 0.24–0.61), while no significant differences were observed in Kalimantan (aOR 0.84; 95% CI 0.67–1.07) and Papua (aOR 0.82; 95% CI 0.43–1.53). Adolescents in the lowest (aOR 0.71; 95% CI 0.54–0.92) and lower-middle (aOR 0.72; 95% CI 0.57–0.91) wealth quintiles also showed lower odds of AAM compared to the middle quintile. Finally, higher maternal education was associated with increased odds of AAM (aOR 1.30; 95% CI 1.09–1.55). Conclusion: This study shows that AAM among Indonesian adolescents aged 15–19 years is influenced by island group, wealth quintile, maternal education, and nutritional status, with nutritional status as the factor most strongly associated with AAM. These findings underscore the need for comprehensive, evidence-based adolescent health intervention programs targeting nutritional status control from childhood through adolescence, as part of promotive and preventive efforts for adolescent reproductive health at the national level.
Read More
S-12324
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Marzalyla Putri Hendriansyah; Pembimbing: Helda; Penguji: Renti Mahkota, A Muchtar Nasir
Abstrak:
Diabetes melitus tipe 2 (DMT2) merupakan penyakit metabolik kronis yang menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Pada perempuan, risiko DMT2 dapat meningkat seiring bertambahnya usia, perubahan komposisi tubuh, serta penumpukan lemak abdominal. Lingkar perut merupakan salah satu indikator antropometri yang digunakan untuk menilai obesitas sentral, yaitu kondisi penumpukan lemak di area perut yang berkaitan dengan gangguan metabolik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2 pada perempuan usia 15 tahun ke atas di Indonesia berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain studi cross-sectional dengan sumber data sekunder SKI 2023 yang mencakup seluruh wilayah Indonesia. Sampel akhir dalam penelitian ini berjumlah 320.601 perempuan usia 15 tahun ke atas. Variabel dependen adalah diabetes melitus tipe 2, sedangkan variabel independen utama adalah obesitas sentral yang dikategorikan menjadi obesitas sentral dan tidak obesitas sentral. Analisis data dilakukan menggunakan Complex Samples Cox Regression dengan waktu konstan untuk mengetahui hubungan obesitas sentral dengan diabetes melitus tipe 2 setelah melakukan kontrol pada variabel perancu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata lingkar perut responden adalah 81,77 cm (95% CI: 81,68–81,85). Lebih dari separuh responden mengalami obesitas sentral, yaitu sebesar 53,8% (95% CI: 53,5–54,1). Perempuan dengan obesitas sentral memiliki prevalensi DMT2 sebesar 2,21 kali dibandingkan perempuan yang tidak mengalami obesitas sentral setelah dikontrol usia dan IMT (aPR=2,21; 95% CI: 1,95–2,52; p<0,001). Temuan ini menekankan pentingnya pengukuran lingkar perut secara rutin, baik untuk skrining kelompok berisiko maupun pemantauan pasien diabetes melitus tipe 2, disertai pola makan sehat dan aktivitas fisik teratur sebagai upaya pencegahan dan pengendalian diabetes melitus tipe 2.

Type 2 diabetes mellitus (T2DM) is a chronic metabolic disease and remains a major public health problem in Indonesia. Among women, the risk of T2DM may increase with age, changes in body composition, and abdominal fat accumulation. Waist circumference is an anthropometric indicator used to assess central obesity, a condition characterized by fat accumulation in the abdominal area that is associated with metabolic disorders. This study aimed to examine the association between central obesity and type 2 diabetes mellitus among women aged 15 years and above in Indonesia based on data from the 2023 Indonesian Health Survey (IHS). This study used a cross-sectional design with secondary data from the 2023 IHS, which covered all regions of Indonesia. The final sample consisted of 320,601 women aged 15 years and above. The dependent variable was type 2 diabetes mellitus, while the main independent variable was central obesity, categorized into central obesity and non-central obesity. Data were analyzed using Complex Samples Cox Regression with constant time to determine the association between central obesity and type 2 diabetes mellitus after controlling for confounding variables. The results showed that the mean waist circumference of respondents was 81.77 cm (95% CI: 81.68–81.85). More than half of the respondents had central obesity, accounting for 53.8% (95% CI: 53.5–54.1). Women with central obesity had a 2.21 times higher prevalence of T2DM than those without central obesity after controlling for age and BMI (aPR=2.21; 95% CI: 1.95–2.52; p<0.001). These findings emphasize the importance of routine waist circumference measurement for screening high-risk groups and monitoring patients with T2DM, along with healthy eating patterns and regular physical activity as part of T2DM prevention and control efforts.
Read More
S-12471
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noerachma Indah Amalia; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarif, Asep Sopari
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan denganperilaku hubungan seksual pranikah pada remaja di Indonesia menggunakan pendekatankuantitatif dengan desain potong lintang (cross-sectional). Data yang digunakanmerupakan data SDKI Kesehatan Reproduksi Remaja Tahun 2017 dengan sampelsebanyak 22.986 remaja belum menikah usia 15-24 tahun yang sesuai dengan kriteriainklusi dan eksklusi penelitian. Sebanyak 6,5% remaja mengaku pernah melakukanhubungan seksual pranikah.

Hasil penelitian multivariat menggunakan uji regresi logistikmenunjukkan bahwa umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status ekonomi keluarga,daerah tempat, sikap terhadap hubungan seksual pranikah, pengaruh teman, pengalamankonsumsi alkohol, perilaku pacaran berisiko, dan perilaku merokok berhubungansignifikan dengan perilaku hubungan seksual pranikah pada remaja di Indonesia. Faktorpaling dominan adalah perilaku pacaran berisiko, yaitu dengan nilai p = 0,000 dan aOR= 27,236 (95% CI: 19,979-37,129).

Kata kunci:Perilaku seksual, hubungan seksual pranikah, remaja, Indonesia.
Read More
S-10312
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Chandra Ilham El Anwary Junior; Pembimbing: Nurhayati Adnan; Penguji: Syahrizal Syarif, Lina R. Mangaweang
Abstrak: Remaja merupakan kelompok usia yang penting bagi bangsa. Namun, remaja rentan mengalami masalah mental, salah satunya gangguan mental emosional. Dari data Riskesdas 2018, didapatkan prevalensi gangguan mental emosional usia remaja 15-24 tahun sebesar 10%. Angka ini diatas angka prevalensi nasional. Sementara itu, Provinsi Jawa Barat yang memiliki jumlah usia produktif tertinggi sei-Indonesia termasuk ke dalam 10 besar Provinsi dengan prevalensi gangguan mental emosional tertinggi seIndonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor yang berhubungan dengan kejadian gangguan mental emosional pada remaja usia 15-24 tahun di Jawa Barat pada tahun 2018. Desain studi yang digunakan adalah studi cross-sectional dengan data lanjutan dari hasil Riskesdas 2018. Sampel yang digunakan pada penelitian ini ialah seluruh penduduk di wilayah Provinsi Jawa Barat yang berusia 15-24 tahun yang telah diwawancara dalam Riskesdas 2018 dan memiliki data lengkap. Total sampel pada penelitian ini, yaitu sebesar 10561 sampel. Hasil penelitian ini menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional pada remaja usia 15-24 tahun di Jawa Barat sebesar 11,2%. Prevalensi gangguan mental emosional tertinggi ditemukan pada remaja berjenis kelamin perempuan (13,3%), tingkat pendidikan rendah (11,7%), telah bercerai (12,2%), tidak bekerja (11,5%), status gizi yang kurus (13,8%), memiliki riwayat penyakit tidak menular (22,4%), mantan perokok (16,4%), dan mengonsumsi alkohol (27,0%). Berdasarkan hasil analisis multivariat, faktor yang paling dominan memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian gangguan mental emosional, ialah konsumsi alkohol (PR = 2,43, 95%CI: 1,92-3,06). Kemudian, diikuti dengan jenis kelamin, perilaku merokok, riwayat penyakit tidak menular, dan status pekerjaan.
Kata kunci: Gangguan Mental Emosional, Faktor-faktor, Remaja, Jawa Barat

Adolescents are an important age group for the nation. However, adolescents are prone to experiencing mental problems, one of which is emotional mental disorders. From the 2018 Riskesdas data, the prevalence of mental emotional disorders in adolescents 15-24 years was 10%. This figure is above the national prevalence rate. Meanwhile, West Java Province, which has the highest number of productive ages in Indonesia, is among the top 10 provinces with the highest prevalence of emotional mental disorders in Indonesia. This study aims to determine the relationship between factors associated with the incidence of emotional mental disorders in adolescents aged 15-24 years in West Java in 2018. The study design used was a cross-sectional study with follow-up data from the results of the 2018 Riskesdas. Samples used in this study are all residents in West Java Province aged 15-24 years who have been interviewed in Riskesdas 2018 and have complete data. The total sample in this study, amounting to 10561 samples. The results of this study indicate the prevalence of emotional mental disorders in adolescents aged 15-24 years in West Java by 11.2%. The highest prevalence of mental emotional disorders was found in female adolescents (13.3%), low education level (11.7%), divorced (12.2%), unemployed (11.5%), underweight nutritional status (13.8%), had a history of non-communicable diseases (22.4%), were former smokers (16.4%), and consumed alcohol (27.0%). Based on the results of multivariate analysis, the most dominant risk factor has a significant relationship with the incidence of mental emotional disorders, is alcohol consumption (PR = 2,43, 95%CI: 1,92-3,06). Then, followed by gender, smoking behavior, history of non-communicable diseases, and employment status.
Key words: Emotional Mental Disorder, Determinants, Adolescents, West Java
Read More
S-10313
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zahra Zetira Muchtar; Pembimbing: Asri C. Adisasmita; Penguji: Helda, Telly Purnamasari Agus, Agus Triwinarto
Abstrak:

Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 12,2 juta kasus baru stroke terjadi setiap tahun secara global, dan lebih dari 6,5 juta orang meninggal akibat stroke setiap tahunnya.  Di Indonesia, berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, prevalensi stroke pada penduduk usia ≥15 tahun tercatat sebesar 1,32%, dengan proporsi lebih tinggi pada laki-laki dan kelompok usia lanjut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara hipertensi, diabetes melitus dengan kejadian stroke pada penduduk DKI Jakarta. Penelitian ini merupakan studi analitik dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data SKI 2023. Analisis dilakukan dengan regresi logistik multivariat dengan dua pendekatan yaitu, variabel hipertensi self-reported dan menggunakan hasil pengukuran tekanan darah pada 8.942 responden menggunakan pendekatan non-weighted pada multivariat. Hasil multivariat baik pendekatan self- report maupun hasil pengukuran hipertensi menjadi faktor risiko terkuat penyebab stroke dengan (OR = 13,09; 95% CI: 7,06–24,28; p < 0,001) dan (OR = 6,13; 95% CI: 2,62–14,31; p < 0,001), Laki-laki memiliki risiko stroke 2 kali lipat dibanding perempuan (p = 0,005). Usia ≥60 tahun memiliki OR tertinggi yaitu 9,09 (95% CI: 3,38–24,44; p < 0,001). Diabetes hanya signifikan dalam model pengukuran dengan OR = 6,59 (p < 0,001), untuk aktivitas fisik terbukti protektif. Dapat disimpulkan hipertensi baik berdasarkan self-report maupun hasil pengukuran merupakan prediktor kuat kejadian stroke. Aktivitas fisik memiliki efek protektif yang signifikan. Penggunaan data tekanan darah terukur memberikan estimasi risiko yang lebih konservatif namun stabil. Hasil ini menegaskan pentingnya deteksi dini hipertensi dan promosi aktivitas fisik dalam strategi pencegahan stroke.


According to the World Health Organization (WHO), approximately 12.2 million new cases of stroke occur globally each year, with over 6.5 million deaths attributed to stroke annually. In Indonesia, based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of stroke among individuals aged ≥15 years was recorded at 1.32%, with higher proportions among males and the elderly population. This study aimed to determine the association between hypertension, diabetes mellitus, and stroke among residents of DKI Jakarta. This was an analytical cross-sectional study using SKI 2023 data, involving 8,942 respondents. Multivariate logistic regression was conducted using two approaches: self-reported hypertension and measured blood pressure. Both models were analyzed without weighting. The results showed that hypertension was the strongest risk factor for stroke, both in the self-reported model (OR = 13.09; 95% CI: 7.06–24.28; p < 0.001) and the measured blood pressure model (OR = 6.13; 95% CI: 2.62–14.31; p < 0.001). Males had twice the risk of stroke compared to females (p = 0.005). Individuals aged ≥60 years had the highest risk (OR = 9.09; 95% CI: 3.38–24.44; p < 0.001). Diabetes mellitus was significantly associated with stroke only in the model using measured blood pressure (OR = 6.59; p < 0.001). Physical activity was found to have a significant protective effect. In conclusion, hypertension—both self-reported and based on measured blood pressure is a strong predictor of stroke. Physical activity plays a significant protective role. Using objectively measured blood pressure yields a more conservative but stable risk estimate. These findings underscore the importance of early hypertension detection and the promotion of physical activity in stroke prevention strategies.

Read More
T-7428
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Sarah Narumi; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Rizka Maulida, Jeremia Immanuel Siregar
Abstrak:

Latar belakang: Hipertensi merupakan penyakit tidak menular dengan prevalensi tertinggi Indonesia. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, 30,8% penduduk usia ≥18 tahun mengalami hipertensi berdasarkan pengukuran, sedangkan prevalensi hipertensi berdasarkan diagnosis dokter adalah 8,6%. Selain itu, laporan SKI 2023 menekankan adanya kesenjangan antara perilaku pencarian pengobatan hipertensi dengan proporsi masyarakat yang terdiagnosis. Saat ini, sebesar 53,3% penyandang hipertensi tidak teratur minum obat atau tidak minum obat antihipertensi, dan 56,9% tidak teratur atau sama sekali tidak melakukan pemeriksaan ulang ke tenaga kesehatan.

Tujuan: Mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan hipertensi pada penyandang hipertensi usia ≥18 tahun di Indonesia.

Metode: Sebanyak 53.648 penyandang hipertensi usia ≥18 tahun berdasarkan data SKI 2023 diteliti dalam penelitian cross-sectional ini. Uji chi-square dan regresi logistik sederhana dilakukan untuk melihat hubungan antar variabel. Variabel luaran adalah perilaku pencarian pengobatan hipertensi. Variabel prediktor adalah jenis kelamin, usia, status pernikahan, tingkat pendidikan, status pekerjaan, pengetahuan terkait hipertensi, tempat tinggal, wilayah geografis, status sosial ekonomi, kepemilikan jaminan kesehatan, akses ke fasilitas kesehatan, multimorbiditas, dan perilaku cek kesehatan berkala.

Hasil: Proporsi perilaku pencarian pengobatan hipertensi yang aktif pada penyandang hipertensi usia ≥18 tahun di Indonesia tahun 2023 adalah 76,2%. Faktor-faktor yang berhubungan dengan perilaku pencarian pengobatan hipertensi adalah berjenis kelamin perempuan (OR = 1,24; 95% CI: 1,15-1,33), berusia 65-74 tahun (ref. 18-24 tahun; OR = 6,60; 95% CI: 4,35-10,04), sedang menikah (OR = 0,92; 95% CI: 0,85-0,99), memiliki tingkat pendidikan tersier (ref. Tidak sekolah; OR = 1,28; 95% CI: 1,12-1,47), tidak bekerja (OR = 1,15; 95% CI: 1,08-1,23), pernah mendapat informasi pengobatan hipertensi (OR = 3,98; 95% CI: 3,70-4,28), berasal dari Kepulauan Maluku (ref. Papua; OR = 1,97; 95% CI: 1,51-2,58), memiliki status sosial ekonomi teratas (OR = 1,36; 95% CI: 1,17-1,59), memiliki jaminan kesehatan (OR = 1,48; 95% CI: 1,36-1,61), memiliki multimorbiditas (OR = 1,77; 95% CI: 1,63-1,92), dan melakukan cek kesehatan minimal 1 bulan sekali (ref. Tidak pernah; OR = 6,16; 95% CI: 5,54-6,84).

Kesimpulan: Studi ini menunjukkan dibutuhkannya program untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat, khususnya kelompok usia produktif, dalam melakukan pengobatan hipertensi.
Kata kunci: Perilaku pencarian pengobatan, penyandang hipertensi, hipertensi


Background: Hypertension is a non-communicable disease with the highest prevalence in Indonesia. According to the Indonesian Health Survey (SKI) in 2023, 30.8% of people aged ≥18 experienced hypertension based on blood pressure measurement, while the prevalence of hypertension based on a doctor’s diagnosis was 8.6%. In addition, the SKI 2023 report emphasised the gap between hypertension health-seeking behaviour and the proportion of diagnosed patients. Currently, 53.3% of hypertensive patients do not regularly or do not take anti-hypertensive medication, and 56.9% do not regularly or do not have re-examinations with health professionals.  Objective: This study aims to determine the factors associated with hypertension health-seeking behaviour in hypertensive patients aged ≥18 years in Indonesia.    Methods: A total of 53.648 hypertensive patients aged ≥18 years based on SKI 2023 were analysed in this cross-sectional study. Chi-square test and simple logistic regression were used to determine the associations between variables. The outcome variable is hypertension health-seeking behaviour. The independent variables are gender, age, marital status, education level, employment status, hypertension-related knowledge, place of residence, geographic area, socioeconomic status, health insurance ownership, access to health facility, multimorbidity, and regular health check-up.   Results: The proportion of active hypertension health-seeking behaviour in hypertensive patients aged ≥18 years in Indonesia in 2023 was 76.2%. Factors associated with hypertension health-seeking behaviour were female (OR = 1.24; 95% CI: 1.15-1.33), aged 65-74 years (ref. 18-44 years; OR = 6.60; 95% CI: 4.35-10.04), married (OR = 0.92; 95% CI: 0.85-0.99), having tertiary education (ref. no formal education; OR = 1.28; 95% CI: 1.12-1.47), not working (OR = 1.15; 95% CI: 1.08-1.23), having received information on hypertension treatment (OR = 3.98; 95% CI: 3.70-4.28), living in the Maluku Islands (ref. Papua; OR = 1.97; 95% CI: 1.51-2.58), having the highest socioeconomic status (OR = 1.36; 95% CI: 1.17-1.59), insured (OR = 1.48; 95% CI: 1.36-1.61), having multimorbidity (OR = 1.77; 95% CI: 1.63-1.92), and doing a health check-up at least once a month (ref. never; OR = 6.16; 95% CI: 5.54-6.84).  Conclusion: This study indicates the need for a program to raise awareness and the active participation of the public, particularly the productive age population, in seeking hypertension treatment.  Key words: Health-seeking behaviour, hypertensive patients, hypertension

Read More
S-11934
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive