Ditemukan 34422 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Remaja putri yang tinggal di panti sosial merupakan kelompok rentan yang berisiko tinggi terlibat dalam perilaku seksual berisiko, seperti kehamilan di luar nikah, infeksi menular seksual (IMS), dan kekerasan seksual. Kerentanan ini dipengaruhi oleh kurangnya dukungan keluarga, pengalaman trauma, keterbatasan akses informasi kesehatan reproduksi, serta pola asuh institusional yang kurang memberikan bimbingan emosional. Kehidupan setelah keluar dari panti yang tidak dipersiapkan dengan baik juga memperbesar risiko mereka mengalami masalah reproduksi. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan intervensi kesehatan seksual dan reproduksi yang dirancang khusus untuk remaja putri di panti sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Comprehensive Sexuality Education (CSE) terhadap peningkatan pengetahuan, persepsi risiko (keparahan, kerentanan, efikasi diri), dan niat pencegahan perilaku seksual berisiko. Penelitian menggunakan desain kuasi-eksperimental dengan kelompok intervensi (n=55), kontrol (n=62), dan peer educator (n=14). Hasil uji Wilcoxon menunjukkan peningkatan yang signifikan pada seluruh variabel dalam kelompok intervensi dan peer educator (p < 0,05), sedangkan kelompok kontrol menunjukkan perubahan yang tidak bermakna secara statistik (p > 0,05). Intervensi CSE terbukti efektif dalam meningkatkan kesiapan remaja putri menghadapi risiko perilaku seksual. Penelitian ini merekomendasikan pelaksanaan CSE berbasis peer education secara berkelanjutan di panti sosial.
Adolescent girls living in child welfare institutions are a vulnerable group at high risk of engaging in risky sexual behavior, such as unintended pregnancy, sexually transmitted infections (STIs), and sexual violence. This vulnerability is influenced by a lack of family support, past trauma, limited access to reproductive health information, and institutional care that often lacks emotional guidance. Poor preparation for life after leaving the institution further increases their risk of reproductive health issues. Based on this situation, sexual and reproductive health interventions tailored specifically for adolescent girls in child welfare institutions are needed. This study aimed to assess the effect of Comprehensive Sexuality Education (CSE) on improving knowledge, risk perception (severity, vulnerability, self-efficacy), and the intention to prevent risky sexual behavior. A quasi-experimental design was used involving an intervention group (n=55), control group (n=62), and peer educator group (n=14). Wilcoxon tests showed significant improvements in all variables for the intervention and peer educator groups (p < 0.05), while the control group showed no statistically significant changes (p > 0.05). The CSE intervention proved effective in increasing adolescents’ preparedness to face risky sexual behavior. This study recommends the sustainable implementation of peer-based CSE in child welfare institutions.
Tujuan penelitian ini adalahmengetahui determinan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita di SekolahLuar Biasa Kabupaten Semarang Tahun 2018. Penelitian ini merupakan penelitiankuantitatif dengan desain cross sectiona lyang dilakukan di Kabupaten Semarang. Data dikumpulkan dengan cara wawancara menggunakan kuesioner pada 82 siswa-siswiremaja tunagrahita di 5 sekolah luar biasa tunagrahita. Data dianalisis menggunakan ujiregresi logistik sederhana dan regresi logistik ganda.
Hasil penelitian menemukan43,9% siswa-siswi memiliki perilaku seksual berisiko tinggi dengan nilai median 80,0(skala 100). Variabel pengetahuan (p=0,001), peran guru (p=0,001), dan self-efficacy(p=0,017) dengan p-value <0,05 dinyatakan berhubungan signifikan dengan perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Peran guru menjadi variabel dominan yang mempengaruhi perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita. Perilaku seksual berisiko seperti berciuman bibir sebesar 31,7% serta memasukkan alat kelamin padapasangan masih ditemukan dalam penelitian ini. Peran aktif guru, orangtua, dan instansiterkait dapat meningkatkan pengetahuan dan self-efficay sehingga meminimalisir dampak perilaku seksual berisiko pada remaja tunagrahita.
Kata Kunci: Perilaku Seksual Berisiko, Remaja, Tunagrahita
The sexual behavior that leads to unwanted pregnancy and sexual abuse amongintellectual disability adolescents occured in Semarang Regency of 55.6% due to lack ofsexual health knowledge and information. Approximately 25% of Semarang Regency population is adolescents aged 10-24 years with the largest intellectual disability so thataffect the high risk sexual behavior among intellectual disability adolescents.
This study aimed to determine the determinant of sexual behavior among intellectual disability adolescents in Special School Semarang Regency 2018. This study was a quantitative study with cross sectional design conducted in Semarang regency. Data were collectedby interview using questionnaires on 82 intellectual disability adolescent students in 5special schools. Data were analyzed using simple logistic regression and multiplelogistic regression test.
The results found 43.9% of students who had high-risk sexualbehavior with a median value of 80.0 (scale 100). The analysis result proved thatknowledge (p = 0,001), teacher role (p = 0,001), and self-efficacy (p = 0,017) yieldingp-value <0,05 were significant relation with sexual behavior among intellectual disability adolescents. The teachers role was the dominant factor that influences sexualbehavior among intellectual disability adolescents. Sexual behavior such as kissing lipsby 31.7% and inserting genitals in couples are still found in this study results. The teachers and parents role, as well as the relevant agencies policies improve knowledge and self-efficacy among intellectual disability adolescents could prevent high-risksexual behavior among intellectual disability adolescents.
Keywords: Sexual Behavior, Adolescent, Intellectual Disability
