Ditemukan 40320 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
The increasing population growth demands the availability of quality healthcare services, one of which is through the provision of adequate facilities, infrastructure, and medical equipment. Optimal management of data related to healthcare facilities, infrastructure, and equipment is essential to ensure that healthcare facilities, particularly Puskesmas, can provide services that meet established standards. Aplikasi Sarana Prasarana Alat Kesehatan (ASPAK) is a system developed by the Ministry of Health to facilitate the collection, monitoring, and planning of health facility needs. However, in Cianjur Regency, the management of ASPAK has not been optimal, as indicated by the fact that only 22 out of 47 Puskesmas were actively updating their ASPAK data as of March 2025. This study aims to evaluate the management of ASPAK in Puskesmas in Cianjur Regency using the HOT-Fit method. This research uses a quantitative method using a questionnaire distributed via Google Forms to ASPAK users in all Puskesmas. The results indicate that the human, organization, and technology variables are significantly related to the perceived net benefit of using ASPAK. Improvements in training, organizational support, and improvements in system quality and service quality are needed to optimize ASPAK management in Cianjur Regency.
AKI dan AKB di Papua masih tinggi, hampir dua kali lebih besar AKI dan AKB Nasional. Disisi lain Depkes menargetkan pada tahun 2009, AKI turun dari 307/100.000 kelahiran hidup menjadi 226/100.000 kelahiran hidup dan AKB turun dari 35/1000 kelahiran hidup menjadi 25/1000 kelahiran hidup. Tingginya AKI dan AKB di Papua, akibat akumulasi masalah di Puskesmas yang ada di Papua. Program KIA Puskesmas merupakan salah satu cara akselerasi menurunkan AKI dan AKB di Indonesia. penelitian ini dilakukan guna menganalisis sistem program KIA Puskesmas Desain penelitian ini adalah, kualitatif dengan pendekatan sistem. Metode pengumpulan data, dengan cara wawancara mendalam untuk data primer dan telaah dokumen untuk data sekunder. Selanjutnya data dianalisis dengan content analysis. Tempat penelitian dilakukan di Enam Puskesmas di kabupaten Mimika selama dua bulan. Hasil penelitian: Aspek Pembiayaan: Sumber dana dari retribusi Puskesmas kurang sebab masyarakat berobat gratis. Alokasi APBD tahun 2007, 80% untuk fisik dan 20% operasional. Waktu pencairan dana pada akhir tahun. Aspek SDM: ketersediaan tenaga bidan di puskesmas, bervariasi, dari 0 samapai 15 bidan. Ketercukupan tenaga bidan puskesmas dengan rasio 1:1000 penduduk, semua puskesmas belum cukup. Aspek sarana; ketersediaan bervariasi, dari belum ada sarana, ada tapi belum cukup sampai ada dan cukup. Kondisi, sebagian kecil rusak, sebagian lagi baik. Aspek peralatan: semua puskesmas tersedia, cukup dan baik kondisinya. Aspek obat-obatan: semua puskesmas tersedia, cukup dan baik kondisinya. Aspek fungsi manajemen: diterapak berdasarkan pengalaman, terfrakmentasi sebab belum ada Renstra Dinkes sebagai pedoman. Aspek cakupan pelayanan: semua cakupan program KIA seperti K1, K4, Persalinan oleh Nakes dan pertolongan neonatus oleh Nakes masih rendah. Hal ini disebabkan kompilasi masalah pada komponen input dan process dari sistem pengelolaan program KIA di Puskesmas. Rekomendasi: (1) Perlu dibuatkan Renstra Dinkes (2) Perlu upaya untuk meningkatkan biaya operasional program KIA melalui kajian tentang (a) biaya minimal untuk operasional program di Puskesmas (b) ASKES daerah. (c) Perda tentang ibu hamil dan anak Balita dipelihara Pemda dan (c) Perda Promkes masuk dalam Muatan lokal pengajaran TK, SD, SMP, SMA. (3) Terkait dengan tenaga bidan, perlu dilakukan upaya untuk meningkatkan Kualitas dan kuantitas tenaga bidan serta memperhatikan pendistribuasiannya. (4) Perlu ada pengadaan dan perbaikan sarana sesuai kebutuhan Puskesmas.
Penelitian ini membahas tentang faktor-faktor yang berkaitan dengan pengetahuan, sikap dan perilaku Karang Taruna Kelurahan Pejaten Barat mengenai aplikasi Mobile JKN. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain studi Cross Sectional. Jumlah responden dalam penelitian ini sebanyak 80 Karang Taruna Kelurahan Pejaten Barat. Diperoleh hasil bahwa Karang Taruna Kelurahan Pejaten Barat memiliki tingkat pengetahuan tinggi (86,3%), sikap yang favorable (mendukung/positif) (53,8%), dan perilaku bukan pengguna (66,3%) terhadap penggunaan aplikasi Mobile JKN. Terdapat hubungan antara sumber informasi (p-value 0,021) dengan perilaku penggunaan aplikasi Mobile JKN. Terdapat hubungan yang signifikan juga dengan perilaku penggunaan aplikasi Mobile JKN dengan sikap (p-value 0,005).
This study discusses the factors associated with the knowledge, attitudes, and practices of Karang Taruna in Pejaten Barat Sub-district regarding the Mobile JKN application. A quantitative approach was employed using a cross-sectional study design. The study involved 80 respondents from the Karang Taruna in Pejaten Barat. The results indicated that the majority of respondents had a high level of knowledge (86,3%), favorable (positive) attitudes (53,8%), and were predominantly non-users (66,3%) of the Mobile JKN application. Statistical analysis revealed a significant relationshio between information sources and application usage behavior (p-value = 0,021). Additionally, there was a significant association between attitudes and the use of the Mobile JKN application (p-value = 0,005).
Kata kunci: Evaluasi, Promosi Kesehatan, Tidak Merokok dalam Rumah
Puskesmas Muara Labuh shows high NSH percentage (71,1%) and Puskesmas Talunan has low NSH percentage (15,1%). Focusing on these two Puskesmas, this study evaluated the health promotion program using on theories of CDC and Bowen (analysis of stakeholder, program implementation, evaluation design, evidence based data, highlights of evaluation and sharing of the evaluation findings). The study used quantitative and qualitative approach. The findings were: 1. The involvement of wali nagari and community leaders play high role in the success of the activities of health promotion NSH, 2. Not yet all relevant stakeholders were involved, 3. Low resources, 4. Not specific plan for health promotion NSH, 5. Lack of advocacy on health promotion NSH, and 6. The theories of CDC and Bowen (Canadian Institute Of Health Research) could be used for evaluating health program. It is recommended to create clear role of the wali nagari and community leaders, the need for local regulation on NSH and to create indicators to measure the achievements of the activities on NSH.
Keywords: Evaluation, Health Promotion, Health Promotion on NSH.
