Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33358 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ainun Azizah Tasmira Salwa; Pembimbing: Dewi Susanna; Penguji: Budi Haryanto, Noni Chrissuda Anggraini
Abstrak:

Rumah sakit sebagai fasilitas pelayanan kesehatan menghasilkan limbah medis dan non-medis. Data menunjukkan limbah medis/B3 bersifat infeksius dan toksik, berisiko tinggi jika tidak dikelola dengan baik. Di Indonesia, banyak fasilitas kesehatan masih belum sepenuhnya sesuai standar pengelolaan limbah medis. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengelolaan limbah medis padat di Rumah Sakit Pendidikan Kota Depok, Jawa Barat, menggunakan desain studi kasus melalui observasi, wawancara, dan analisis dokumen.
Hasil penelitian menunjukkan rumah sakit menghasilkan total 138.370,3 kg limbah medis padat B3 pada tahun 2024. Secara keseluruhan, tingkat kesesuaian implementasi mencapai 72,2% ("Sesuai Sebagian"). Namun, kesenjangan masih ditemukan pada pemilahan di sumber (33,3%) dan pewadahan/pengumpulan (25%), seperti masih ditemukannya limbah medis tercampur limbah non-medis, yang dapat menyebabkan risiko luka tusuk jarum atau penyebaran infeksi nosokomial. Meskipun petugas memiliki pemahaman baik, penggunaan APD oleh semua petugas belum sepenuhnya konsisten. Tahap pengurangan, penyimpanan, pengangkutan internal, pengolahan, dan pemusnahan akhir menunjukkan kepatuhan tinggi (100%). Oleh karena itu, perbaikan berkelanjutan diperlukan, terutama pada tahapan hulu yang bergantung pada faktor manusia. Tenaga Kesehatan Lingkungan berperan penting dalam pengawasan, edukasi, dan pemutusan rantai penularan untuk menjaga keselamatan petugas, pasien, dan pengunjung. Penelitian ini berkontribusi untuk mengoptimalkan sistem pengelolaan limbah medis di rumah sakit pendidikan.


Hospitals, as healthcare service facilities, generate both medical and non-medical waste. Data show that medical waste, classified as hazardous (B3), is infectious and toxic, posing a high risk if not properly managed. In Indonesia, many healthcare facilities still do not fully comply with medical waste management standards. This study aims to evaluate the solid medical waste management system at a Teaching Hospital in Depok, West Java, using a case study design through observation, interviews, and document analysis. The findings indicate that the hospital produced a total of 138,370.3 kg of B3 solid medical waste in 2024. Overall, the compliance level of implementation reached 72.2% (“Partially Compliant”). However, gaps were still identified in segregation at source (33.3%) and in containment/collection (25%), such as the mixing of medical and non-medical waste, which can lead to risks like needlestick injuries or the spread of nosocomial infections. Although staff demonstrated a good understanding of procedures, the use of personal protective equipment (PPE) among all workers was not fully consistent. The stages of waste reduction, temporary storage, internal transport, treatment, and final disposal showed high compliance (100%). Therefore, continuous improvement is needed, particularly in the upstream stages that depend on human factors. Environmental Health personnel play a crucial role in supervision, education, and breaking the chain of transmission to ensure the safety of healthcare workers, patients, and visitors. This study contributes to strengthening medical waste governance in teaching hospitals.

Read More
S-12102
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Yuliani; Pembimbing: Robiana Modjo; Penguji: Abdul Kadir, Ali Syahrul Chairuman, Bimo Prasetyo
Abstrak:
Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan aspek vital dalam proyek konstruksi jalan tol yang memiliki risiko tinggi dan kompleksitas pekerjaan besar. Meskipun Sistem Manajemen Keselamatan Konstruksi (SMKK) telah diwajibkan melalui Permen PUPR No. 10 Tahun 2021, implementasinya di lapangan masih belum optimal, ditunjukkan oleh tingginya angka kecelakaan kerja pada proyek infrastruktur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor individu berdasarkan Model Green—yang mencakup faktor predisposisi (pengetahuan keselamatan, sikap terhadap keselamatan, kesadaran terhadap bahaya), faktor pemungkin (pelatihan keselamatan, fasilitas dan dukungan keselamatan, penerapan SOP dan kepatuhan), serta faktor penguat (kepemimpinan dan pengawasan K3, pengalaman kerja dan sharing session)—terhadap perilaku aman pekerja dalam implementasi SMKK pada proyek Jalan Tol Trans Sumatera ruas Palembang–Betung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional, melibatkan 138 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner skala Likert 1–5 dan dianalisis dengan uji korelasi Pearson serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan, seluruh faktor individu memiliki hubungan signifikan dengan perilaku aman (F = 4,462; p < 0,001). Namun secara parsial, hanya variabel pelatihan keselamatan yang berpengaruh signifikan (β = 0,373; p < 0,001). Faktor sikap terhadap keselamatan dan kesadaran terhadap bahaya menunjukkan korelasi positif signifikan pada uji korelasi (p < 0,05), tetapi belum cukup kuat dalam regresi parsial. Faktor lain, seperti pengetahuan keselamatan, fasilitas dan dukungan keselamatan, SOP dan kepatuhan, kepemimpinan dan pengawasan K3, serta pengalaman kerja dan sharing session tidak menunjukkan pengaruh signifikan dalam model regresi. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas implementasi SMKK sangat dipengaruhi oleh pelatihan keselamatan yang efektif, didukung komunikasi dua arah, kepemimpinan yang kuat, serta internalisasi nilai-nilai keselamatan untuk menciptakan budaya kerja yang aman dan berkelanjutan.

Occupational health and safety (OHS) is a vital aspect in toll road construction projects, which involve high risks and complex activities. Although the Construction Safety Management System (SMKK) is mandated by Ministry of Public Works Regulation No. 10 of 2021, its implementation in the field remains suboptimal, as indicated by the high number of occupational accidents in infrastructure projects. This study aimed to analyze the influence of individual factors based on the Green Model—including predisposing factors (safety knowledge, safety attitude, hazard awareness), enabling factors (safety training, safety facilities and support, SOP implementation and compliance), and reinforcing factors (leadership and OHS supervision, work experience and sharing session)—on safe behavior within SMKK implementation in the Trans Sumatera Toll Road Project, Palembang–Betung section. This research used a quantitative approach with a cross-sectional design involving 138 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a Likert scale (1–5) questionnaire and analyzed using Pearson correlation and multiple linear regression. The results showed that simultaneously, all individual factors had a significant relationship with safe behavior (F = 4.462; p < 0.001). However, partially, only safety training had a significant effect (β = 0.373; p < 0.001). Safety attitude and hazard awareness showed positive correlations with safe behavior (p < 0.05), but their effects were not strong enough in partial regression analysis. Other factors, such as safety knowledge, safety facilities and support, SOP implementation and compliance, leadership and OHS supervision, and work experience and sharing session did not show significant effects in the regression model. This study concludes that the effectiveness of SMKK implementation is highly influenced by effective safety training, supported by two-way communication, strong leadership, and internalization of safety values to establish a safe and sustainable construction work culture.
Read More
T-7351
Depok : FKMUI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vivin Desy Kurniawati; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Agus Handito, Sri Ridha Hasanah
Abstrak:
Hipertensi merupakan masalah kesehatan masyarakat dengan prevalensi yang tinggi di Kota Palembang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan kejadian hipertensi berdasarkan jenis kelamin pada penduduk usia ≥18 tahun di wilayah dengan prevalensi tinggi. Penelitian ini menggunakan desain observasional kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional menggunakan data sekunder skrining Penyakit Tidak Menular dari Aplikasi Sehat IndonesiaKu (ASIK) tahun 2025. Sampel penelitian adalah seluruh populasi eligible sebanyak 27.464 responden. Analisis data dilakukan secara deskriptif, bivariat, dan multivariat menggunakan Stata. Hasil penelitian menunjukkan prevalensi hipertensi lebih tinggi pada laki-laki (43,85%) dibandingkan perempuan (42,28%). Pada analisis multivariat, faktor yang berhubungan secara independen dengan kejadian hipertensi pada laki-laki adalah usia, status gizi, konsumsi garam, aktivitas fisik, konsumsi buah dan sayur, dan status pernah merokok. Sementara pada perempuan, determinan yang berhubungan adalah usia, status gizi, konsumsi garam, dan aktivitas fisik. Usia merupakan determinan paling kuat pada kedua kelompok, dengan risiko meningkat seiring bertambahnya usia. Status gizi di luar batas normal dan konsumsi garam berlebih juga konsisten meningkatkan prevalensi hipertensi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan bahwa determinan hipertensi relatif konsisten antara laki-laki dan perempuan, dengan variasi pada beberapa faktor perilaku. Intervensi pencegahan hipertensi perlu difokuskan pada pengendalian faktor risiko utama, terutama usia lanjut, status gizi, dan konsumsi garam.

Hypertension is a major public health problem with a high prevalence in Palembang City. This study aimed to identify the determinants of hypertension by sex among individuals aged ≥18 years in high-prevalence areas. This study employed a quantitative observational design with a cross-sectional approach using secondary data from Non-Communicable Disease screening in the Sehat IndonesiaKu (ASIK) application in 2025. The sample included all eligible populations, totaling 27.464 respondents. Data were analyzed using descriptive, bivariate, and multivariate methods with Stata.         The results showed that the prevalence of hypertension was higher in males (43,85%) than in females (42,28%). Multivariate analysis indicated that the determinants independently associated with hypertension in males were age, nutritional status, salt consumption, physical activity, fruit and vegetable consumption, and ever smoking status. In females, the associated determinants were age, nutritional status, salt consumption, and physical activity. Age was the strongest determinant in both groups, with increasing risk observed with advancing age. Non-normal nutritional status and excessive salt consumption consistently increased the prevalence of hypertension.          In conclusion, the determinants of hypertension were relatively consistent between males and females, with variations in certain behavioral factors. Hypertension prevention efforts should focus on controlling key risk factors, particularly older age, nutritional status, and salt consumption.
Read More
T-7549
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ina Nurhidayati; Pembimbing: Sri Tjahyani Budi Utami; Penguji: Laila Fitri, Feni Fitriani Taufik
Abstrak: Penyakit Asma merupakan penyakit inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang ditandai adanya mengi episodik, batuk dan rasa sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas, termasuk dalam kelompok penyakit saluran pernapasan kronik. Asma disebabkan oleh peradangan jalan napas di paru-paru, yang mengakibatkan hipersensitivitas sehingga mudah terjadi iritasi. Pada saat terjadi, saluran udara menyempit dan mengakibatkan berkurangnya udara yang masuk dan keluar paru-paru. Menurut Departemen Kesehatan di Indonesia pravelensi asma merupakan 10 besar penyebab kesakitan dan kematian, diperkirakan 2-5% dari seluruh penduduk Indonesia, artinya ada 12,5 juta pasien asma di indonesia. Lingkungan indoor atau lingkungan dalam ruangan atau rumah mampu memberikan kontribusi faktor pencetus serangan asma lebih besar dibandingkan lingkungan outdoor atau luar ruangan. Faktor lingkungan dalam rumah yang dapat mempengaruhi serangan asma bisa berupa kondisi lingkungan fisik rumah dan perilaku dari keluarga penderita asma. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kesehatan lingkungan fisik rumah dengan kasus asma akut di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur dengan studi kasus di Rumah Sakit Umum Pusat Persahabatan.
 
Metode penelitian ini menggunakan desain studi kasus kontrol dengan perbandingan 1 : 1 dimana besar sampel yaitu 44 penderita asma akut sebagai kasus dan 44 untuk kontrol. Hasil penelitian didapatkan kondisi kesehatan lingkungan fisik rumah : jenis lantai (p = 1,000; OR = 0,899), jenis dinding (p = 0,800, OR = 0,771), jenis atap (p = 1,000, OR = 1,000), ventilasi (p = 0,830, OR = 1,204), kepadatan penghuni (p = 0,829, OR = 1,207), suhu (p = 1,000, OR = 1,000) dan kelembaban (p = 0,644, OR = 1,379), sumber polutan dalam rumah : jenis bahan bakar yang digunakan (p = 1,000, OR = 2,023) dan penggunaan obat nyamuk bakar (p = 1,000, OR = 0,651) serta zat iritan (Asap rokok) (p = 0,663, OR = 1,330). Karakteristik individu, terkait umur (p = 0,352, OR = 2,222) tidak memiliki hubungan dengan kasus asma akut. Sedangkan jenis kelamin p = 0,002, OR = 0,203 dan riwayat genetik p = 0,000, OR = 47,095. memiliki hubungan dengan kasus asma akut di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur tahun 2012.
 
Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan variabel yang berhubungan dengan kasus asma akut di wilayah Kota Administrasi Jakarta Timur tahun 2012 adalah jenis kelamin dan riwayat genetik. Dapat disarankan agar Upaya kesehatan promotif dan preventif terutama ditujukan untuk peningkatan upaya pembinaan dan penyuluhan tentang penyehatan pemukiman rumah sehat/sanitasi rumah dan peningkatan pengetahuan serta informasi kepada masyarakat terutama untuk pengendalian penyakit asma akut.
 

Asthma is an inflammatory disease (inflammation) chronic airways characterized by episodic wheezing, coughing and tightness in the chest due to airway obstruction, belongs to a group of chronic respiratory disease. Asthma is caused by inflammation of the airways in the lungs, resulting in hypersensitivity occur so easily irritated. At the event, narrowed airways and lead to less air in and out of the lungs. According to the Ministry of Health in Indonesia pravelensi asthma is a major cause of illness and 10 deaths, an estimated 2-5% of the entire population of Indonesia, means that there are 12.5 million people with asthma in Indonesia. Indoor environment or in a room or home environment can contribute to trigger asthma attacks greater than outdoor or outdoor environments. Environmental factors in the home that may affect asthma attack can be a condition of the physical environment and the behavior of families with asthma. The purpose of this study was to determine the condition of the physical environment with acute asthma cases in the area of East Jakarta Administration City with a case study on Persahabatan Hospital.
 
This research method using a case-control study design with a ratio of 1: 1 where a large sample of 44 patients with acute asthma as cases and 44 for controls. Results, the physical home environment health conditions: type of flooring (p = 1.000; OR = 0.899), type of wall (p = 0.800, OR = 0.771), type of roof (p = 1.000, OR = 1.000), ventilation (p = 0.830 , OR = 1.204), occupant density (p = 0.829, OR = 1.207), temperature (p = 1.000, OR = 1.000) and humidity (p = 0.644, OR = 1.379), sources of pollutants in the home: the type of fuel used (p = 1.000, OR = 2.023) and the use of mosquito coils (p = 1.000, OR = 0.651) and an irritant (cigarette smoke) (p = 0.663, OR = 1.330). Individual characteristics, related to age (p = 0.352, OR = 2.222) had no connection with the case of an acute asthma. While gender p = 0.002, OR = 0.203 and p = 0.000 genetic history, OR = 47.095 has a relationship with acute asthma cases in East Jakarta Administration City area in 2012.
 
Based on the results of the study showed that the variables associated with cases of acute asthma in East Jakarta Administration City area in 2012 were gender and genetic history. Can be suggested that health promotion and prevention efforts primarily aimed at improving the coaching and counseling efforts on restructuring settlement healthy home / home sanitation and improvement of knowledge and information to the public, especially for the control of acute asthma.
Read More
S-8042
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Alamsyah; Pembimbing: I Made Djaya; Penguji: Ririn Aminsih Wulandari, Anwar Hasan, Ismoyowati, Suprapto
Abstrak:

Diare merupakan salah satu prioritas program pemberantasan penyakit menular di Indonesia. Dimana angka kesakitan diare pada semua golongan umur masih tinggi yaitu 280 per 1000 penduduk, episode diare pada balita 1,5 kali per tahun, sedangkan angka kematian balita karena diare 2,5 per 1000 balita yang merupakan penyebab kematian nomor 2 pada balita. Penelitian ini dilakukan di 4 Kecamatan (Bangkinang Barat, Bangkinang, Kampar dan Tambang) Kabupaten Kampar, dengan alasan masih tingginya kejadian diare, dimana pada tahun 2001 terdapat 1.200 balita (53,38%) menderita diare dari keseluruhan balita yang menderita diare pada 13 Kecamatan di Kabupaten Kampar. Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku hidup bersih keluarga dan balita, faktor keluarga ibu balita serta faktor sanitasi lingkungan dengan kejadian diare pada balita, unit analisanya adalah keluarga yang mempunyai anak umur lebih dari 1 tahun sampai dengan kurang dari 5 tahun (balita). Adapun desain penelitiannya adalah " Kasus Kontrol " dengan jumlah sampel kelompok kasus sebanyak 137 responden dan kontrol juga sebanyak 137 responden. Dari 19 sub hipotesis yang diajukan, ternyata hanya 10 sub hipotesis yang terbukti berhubungan secara bermakna dengan kejadian diare pada balita, sedangkan faktor yang paling dominan berhubungan dengan kejadian diare pada balita adalah tempat pembuangan sampah yang tidak baik dengan risiko (OR) sebesar 3,27. Hasil analisis model akhir dengan interaksi menunjukkan bahwa faktor yang secara bersama-sama berhubungan dengan kejadian diare pada balita adalah interaksi kebiasaan balita menghisap jari tangan/mainan dengan tempat pembuangan sampah yang tidak baik, pendapatan keluarga rendah dan pengetahuan kesehatan rendah dengan risiko (OR) masing-masing sebesar 3,56 , 2,08, dan 1,82. Kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar disarankan perlu adanya penyuluhan yang lebih menekankan pada aspek kesehatan lingkungan, kebersihan perorangan dan penyakit diare itu sendiri dengan model dan bahasa yang lebih mudah dipahami dan dimengerti. untuk menarik partisipasi masyarakat dalam hal pembuangan sampah yang baik dan benar perlu adanya bantuan stimulan tempat pembuangan sampah yang memenuhi syarat sesuai dengan kondisi daerah setempat. Diarrhea is one of priority program to eliminate disease contaminate in Indonesia. Wherever the number of diarrhea disease is high, 280 per 1000 population, diarrhea episode for children under five years old 1,5 diarrhea per year and then the number of disease cause of diarrhea is 2,5 per 1000 children under five years old which the two number of souse for them.


 

This research have done in four sub district (Bangkinang Barat, Bangkinang, Kampar and Tambang) Kampar regency, the reason is diarrhea disease still high, wherever in year 200I has 1.200 children under five years old (53,38%) diarrhea disease from at all the area is 13 sub district in Kampar regency. In general the purpose of this research is to know how far the relationship sanitation of life family, family mother of children under five years old and sanitation environment with diarrhea to children under five years old, unit of analysis is family have children under five years old. The design of research is "Case Control" whit sample the case is 137 respondents and the control is 137 respondents. From 19 sub hypothesis, just I0 sub hypothesis have correlation, it means that diarrhea disease to children under five years old, however the dominant factor is throw rubbish place is not good with odds ratio (OR) is 3,27. The last of technique analysis with interaction that are together to relationship diarrhea disease to children under five years old is finger calculate or toy with rubbish throw place is not good, family in come is low too with odds ratio (OR) they are 3,56 , 2,08 and 1,82. It is necessary that Dinas Kesehatan Kabupaten Kampar give explanation focusing on environmental health, personal hygiene and diarrhea with simpler language so that it will be easier to be understood. To attract the society's attention on appropriate disposal waste a stimulant which is qualified is needed.

Read More
T-1316
Depok : FKM UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Johanes; Pembimbing: Budi Haryanto, Dewi Susanna; Penguji: Sri Tjahjani Budi Utami, Sri Irianti, Dartini
Abstrak:

Infeksi Saluran Penfasasan Akut (ISPA) merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus, bakteri, jamur dan kapang yang ada dalam debu berukuran tertentu. Dapat golongkan dengan Pneumonia berat dan bukan Pnemonia untuk kelompok umur kurang dari dua bulan dan Pnemonia berat, Pnemonia sedang dan bukan Pnemonia untuk kelompok umur dua bulan sampai lima tahun. Kejadian ISPA diperkirakan 10-20% penderita penyakit di Indonesia atau dengan kejadian 1102.542 kasus yang dilaporkan oleh Puskesmas dan 810.124 kasus yang dilaporkan rumah sakit. Di Kabupaten Lima Puluh Kota khususnya di Kecamatan Payakumbuh masih merupakan masalah kesehatan yang utama dimana persentasenya 42,39 % tertinggi dalam 10 penyakit terbanyak yang di laporkan Puskesmas Kato Baru Simalanggang. Penelitian ini untuk mengetahui sejauh mama pajanan PM10 terhadap resiko ISPA pada Balita tahun 2006 dengan lingkungan rumah dan sumber pencemaran dalam rumah lainnya dalam rumah sebagai faktor yang mempengaruhi. Penelitian ini menggunakan rancangan Cross sectional dengan populasi balita yang berada di Kecamatan Payakumbuh sedangkan yang menjadi sample adalah balita yang terpilih dengan six!imatic random sampling. Data diperoleh dengan pengukuran kadar PM10, dan kelembaban, observasi dan pengamatan terhadap luas ventilasi dan iuas rumah dan wawancara dengan menggunakan kuisioner terhadap responden. Analisis data meliputi anal isis Univariat, Bivariat, Multivariat dan Uji lnteraksi. Hasil uji Bivariat terdapat lima variabel yang mempunyai hubungan yang berrnakna dengan kejadian ISPA Balita yaitu: PM10. luas ventilasi rurnah, kepadatan hunian, kebiasaan merokok anggota keluarga dan bahan bakar masak dengan nilai p < 0,05, yaitu PMio OR = 3,07 (95%CI: 1,98 - 4,76) nilai p = 0,00, luas ventilasi OR = 3,48 (95%CI: 2,23 - 5,43) nilai p = 0,00, kepadatan hunian OR = 1,95 (95%CI: 1,15 - 3,32) nilai p = 0,02 kebiaaan merokok OR = 1,76 (95%CI: 1,08 - 2,87) nilai p = 0,03, dan bahan bakar masak OR = 3,74 (95% CI : 1,87 - 7,45) nilai p = 0,00 dengan kejadian ISPA Balita. Dinas Kesehatan Kabupaten, Dinas Kesehatan Propinsi, dan Departemen Kesehatan diharapkan menggalakkan upaya imunisasi dalam pencegahan terhadap ISPA.. Untuk pelaksanaan program pemberantasan penyakit ISPA perlu ditunjang dengan persyaratan perumahan sehat dan patut jadi kajian bagi Dinas Kesehatan Kabupaten, Propinsi maupun Departemen Kesehatan, Kepada masyarakat disarankan agar ventilasi rumah minimal 10 % dan luas lantai dan perlunya diberi penyuluhan kepada masyarakat agar tidak merokok dalam rumah dan penggunaan bahan bakar gas untuk keperluan memasak sehari-hari.


 

Acute respiratory infections (ARI) are a group of diseases that can be induced by air pollution in homes. In Indonesia, the prevalence of ARI is estimated around 10-20% of cases, 1,702,542 cases reported from community health centres (Puskesmas) and 810,124 cases reported from hospitals. In Lima Puluh Kota District, especially in Payakumbuh Subdistrict, ARI remains a major health problem where it is one of the top tell diseases reported by Moto Baru Simalanggang Community Health Center with a prevalence of 42.39%. The objective of this study is to elucidate the extent of PMIO in affecting risks of ART among toddlers during 2006, with house environment and pollution sources in homes as affecting factors. This study used a cross-sectional research design using systematic random sampling, with toddlers in Payakumbuh Sub District as samples. Data obtained by measuring the level of PMIO and humidity, observing the coverage of ventilation and house area, as well as conducting interviews using questionnaire. Data were analyzed with univariate, bivariate. Bivariate analysis results showed that there are five variables with significant correlation with the incidence of ARI among toddlers. all with p values < 0.05, namely PM 10 with p value = 0.00 and OR = 3.07 (95%Cl: 1.98-4.76), coverage of ventilation in homes with p value = 0.00 and OR = 3.48 (95%CI: 2.23-5.43), population density in homes with p value = 0.02 and OR = 1.95 (95%CI: L15-3.32), smoking habit within family members with p value = 0.03 and OR = 1.76 (95%CI: 1.08-2.87), and fuel used for cooking with p value = 0.00 and OR = 3.74 (95%C1: 1.87-7.45), It is suggested that the community should he educated to not smoke inside the house, ensure that houses have coverage of ventilation of at least 10% of floor area, and never bring the children along when cooking in the kitchen. District and Provincial Health Offices and Ministry of Health should provide health education to the community regarding all of the above.

Read More
T-2257
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rafika Oktivaningrum; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Ricki Marojahan Mulia
Abstrak: Studi biomonitoring menunjukkan adanya pajanan Bisphenol A BPA terhadap penduduk dunia Aktifitas estrogenik BPA diketahui memiliki dampak kesehatan yang merugikan salah satunya terhadap sistem reproduksi dan perkembangan Oleh karena itu penelitian ini melakukan kajian sistematis terhadap dampak pajanan BPA pada sistem reproduksi dan perkembangan manusia melalui telaah terhadap berbagai penelitian in vitro dan observasional Hasil identifikasi studi dari 8 database jurnal Pubmed ACS ESCOHOST EHP JSTOR Proquest Science Direct dan Springerlink mengumpulkan 678 artikel Pemilihan studi dilakukan dengan melakukan tahap screening dan eligibility berdasarkan kriteria inklusi sehingga terpilihlah 36 artikel penelitian yang digunakan dalam penelitian ini Hasil penelitian menunjukkan terdapat berbagai dampak pajanan BPA terhadap sistem reproduksi yang ditemukan pada studi observasional berupa gangguan fertilitas seperti penurunan kualitas semen dan disfungsi seksual bagi pria dan kegagalan implantasi pada wanita yang melakukan fertilisasi in vitro Dampak pajanan BPA yang ditemukan pada perkembangan manusia adalah perilaku depresi dan kecemasan pada anak perempuan dan agresif pada anak laki laki serta ukuran saat kelahiran berupa kejadian BBLR KMK dan peningkatan ukuran lingkar kepala Penelitian ini menyimpulkan bahwa ditemukan efek kesehatan yang merugikan akibat pajanan BPA terhadap sistem reproduksi dan perkembangan manusia namun hasil penelitian yang ditemukan masih bersifat tidak konsisten satu sama lain Kata kunci Bisphenol A BPA sistem reproduksi perkembangan kajian sistematis.
 

Biomonitoring studies have shown evidences of BPA exposure to world population Estrogenic activity of BPA might cause adverse impact on human health such as reproduction system and development Therefore this study did a systematic review about the impact of BPA exposure on human reproduction system and human development Identification of study collected 678 articles from 8 journal databases Pubmed ACS ESCOHOST EHP JSTOR Proquest Science Direct dan Springerlink Those articles were checked through screening and eligibility phase for some criterias 36 studies included in this systematic review Review of observational studies indicate adverse effect to human fertility For man population BPA decrease semen quality and sexual disfunction and for woman BPA cause implantation failure among woman undergoing IVF Review on development studies indicate some impacts of BPA exposure such as increase anxiety and depression in girl and agressive behaviour in boys also birth outcomes such as LBW SGA and increased of head circumference This study conclude that BPA might cause adverse effect on human reproduction system and development however the result of those studies are still inconsistent Key words Bisphenol A BPA reproduction system development systematic review.
Read More
S-7747
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Budi Hartono; Pembimbing: Umar Fahmi Achmadi, Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Dewi Susanna, Hendra Martono, Ely Setyawati
Abstrak:

Adanya aktivitas pertambangan emas dan banyaknya penambangan emas liar tanpa izin (PETI) di Propinsi Sulawesi Utara berpotensi menimbulkan dampak yang merugikan baik terhadap lingkungan hidup maupun terhadap kesehatan manusia. Kondisi seperti ini merupakan suatu faktor risiko bagi masyarakat yang tinggal di sekitar teluk Buyat dan teluk Ratatotok, Kabupaten Minahasa Selatan, Propinsi Sulawesi Utara. Berdasar pada paradigma kesehatan lingkungan maka untuk mengetahui hubungan antara pencemaran lingkungan oleh logam berat serta pengaruhnya terhadap derajat kesehatan masyarakat diperlukan suatu pembuktian tingkat kandungan bahan pencemar sejak dari sumber, keberadaan di media lingkungan dan biomarker sampai pengaruhnya pada kesehatan manusia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran distribusi tingkat risiko terhadap timbulnya gangguan kesehatan pada masyarakat di wilayah studi terkait dengan sebaran logam merkuri di ikan dan di air. Penelitian ini bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah konsentrasi MeHg di ikan, konsentrasi MeHg di air, konsentrasi MeHg dalam darah, pola makan ikan, lama tinggal, tekanan darah, jenis pekerjaan dan status pendidikan, sedangkan variabel terikatnya adalah tingkat risiko timbulnya gangguan kesehatan. Pengolahan data menggunakan pendekatan statistik, analisis risiko dan spasisal terhadap seluruh variabel bebas dengan variabel terikat dilakukan untuk mendapatkan hubungan dan menentukan variabel bebas mana yang paling berpengaruh terhadap tingginya tingkat risiko kesehatan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kandungan merkuri yang ada pada ikan yang ditangkap di perairan teluk Buyat dan teluk Ratatotok telah menimbulkan risiko gangguan kesehatan terhadap masyarakat yang mengonsumsinya, sedangkan untuk sumber air yang berisiko menimbulkan gangguan kesehatan bagi masyarakat yang mengonsumsinya adalah air dari muara sungai Ratatotok, hulu sungai Buyat dan penampungan air bersih/air minum PT. Newmont Minahasa Raya. Variabel babas yang berhubungan dengan tingkat risiko kesehatan adalah konsentrasi MeHg di ikan, pola makan dan lama tinggal dengan variabel yang paling besar pengaruhnya terhadap tingginya tingkat risiko adalah konsentrasi MeHg di ikan. Pendekatan spasial menunjukkan bahwa wilayah penelitian yang paling besar tingkat risikonya berada pada areal yang dekat dengan pertambangan. Dengan melihat pada fenomena bahwa tingkat risiko gangguan penyakit akibat pencemaran merkuri semakin tinggi jika masyarakat di wilayah studi mengonsumsi ikan-ikan yang ditangkap dari perairan teluk Buyat dan teluk Ratatotok_ Maka untuk mengurangi tingkat risiko gangguan kesehatan akibat pemajanan merkuri, disarankan kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Minahasa Selatan untuk melakukan penyuluhan tentang diversifikasi bahan makanan.


 

Many of gold mining activities at Province of North Sulawesi have potential possibility to give worse effect to the environmental and human health. This condition is one of the risk factor for mercury exposured for the people who lived near the Buyat and Ratatotok bay at South Minahasa District, Province of North Sulawesi. From the environmental health paradigm, the ammount of risk agent from the source, environmental media and biomarker until the health effect sign need to assess to know the relation between environmental pollution from heavy metal and health effect. The objective of this study is to describe the distribution of risk qoutient of non carcinogen from water and fish which exposed by mercury. This research used cross sectional study and used statistic, environmental health risk assessment method, and spatial analysis for data analysis. The result of this study described that the contain of metil mercury of fish from Buyat and Ratatotok bay and the contain of metil mercury at downside of buyat and ratatotok river and water storage of PT.NMR became the potential risk to generate the adverse health effect for the people at study area. Bivariate analysis result some variables that connected to the Risk Qoutient such as metil mercury concentration of fish, fish diet and lived period_ The final model after co-linear test got the most significant variable to the RQ that is the concentration of metil mercury of fish. The recommended for community is to reduce the used of mercury and do not throw up the waste to the sea, river and ground. For the local government is to do some course or training about the health effect of mercury exposure and food diversification.

Read More
T-2319
Depok : FKM UI, 2006
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Widya Jufitri; Pembimbing: Ella Nurlaela Hadi; Penguji: Yoslien Sopamena, Indri Rahmania
Abstrak:
Anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan masyarakat, termasuk di wilayah kerja Puskesmas Cinere dengan prevalensi sebesar 21,51%. Rendahnya kepatuhan konsumsi Tablet Tambah Darah menunjukkan bahwa keberhasilan program suplementasi tidak hanya bergantung pada cakupan distribusi, tetapi juga adanya pemantauan yang terstruktur. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan, sikap, dan perilaku konsumsi TTD pada remaja putri SMP dengan dan tanpa program pemantauan TTD di wilayah kerja Puskesmas Cinere tahun 2026. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif untuk mengevaluasi dampak program pemantauan konsumsi Tablet Tambah Darah yang telah diimplementasikan oleh Puskesmas Cinere sejak November 2025. Sebanyak 100 siswi diambil sebagai sampel menggunakan teknik simple random sampling, terdiri dari 50 siswi dari sekolah dengan program pemantauan TTD dan 50 siswi dari sekolah tanpa program pemantauan. Pengumpulan data dilakukan dengan cara siswi mengisi kuesioner secara mandiri. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan siswi di sekolah dengan program pemantauan memiliki pengetahuan tinggi (90,0% vs 36,7%), sikap positif (53,3% vs 25%), dan kepatuhan konsumsi TTD (51,7% vs 15%) dibandingkan siswi di sekolah tanpa program pemantauan. Berdasarkan, hasil analisis terdapat perbedaan pengetahuan (p<0,001; (RR = 2,455; 95% CI = 1,742–3,459) sikap (p=0,001; RR= 2,133; 95% CI=1,296-3,511)), dan perilaku kepatuhan konsumsi TTD  (p<0,001; RR= 3,444; 95% CI = 1,798–6,599) antara siswi di sekolah yang mendapat program pemantaun dan tidak. Perluasan program PREMIUM TTD di seluruh sekolah wilayah kerja Puskesmas Cinere diperlukan melalui penguatan pemantauan konsumsi TTD secara rutin, edukasi interaktif, pembentukan kader sebaya, serta monitoring dan evaluasi berkala bersama guru UKS dan tenaga kesehatan guna meningkatkan kepatuhan konsumsi TTD pada remaja putri.

Anemia in adolescent girls remains an ongoing public health concern, including in the working area of Puskesmas Cinere, where the prevalence stands at 21.51%. The low compliance with Iron and Folic Acid (IFA) tablet consumption suggests that the success of supplementation programs relies not only on distribution coverage, but also on structured monitoring. Therefore, this study aimed to determine differences in knowledge, attitudes, and IFA consumption behavior among junior high school girls with and without an IFA monitoring program in the Puskesmas Cinere working area in 2026. This study used a retrospective cohort design to evaluate the impact of the Iron Supplementation Tablet monitoring program implemented by the Cinere Community Health Center since November 2025. A total of 100 female students were selected using simple random sampling, consisting of 50 students from schools implementing the monitoring program and 50 students from schools without the program. Data were collected through a self-administered questionnaire. Data analysis was performed using univariate and bivariate analysis with the Chi-Square test. The results showed that students in schools with the monitoring program had higher knowledge (90.0% vs. 36.7%), more positive attitudes (53.3% vs. 25.0%), and better IFA consumption compliance (51.7% vs. 15.0%) compared to students in schools without the program. Based on the analysis, there were significant differences in knowledge (p<0.001; RR=2.455; 95%CI=1.742–3.459), attitudes (p<0.001; RR=2.133; 95%CI=1.296–3.511), and IFA consumption compliance behavior (p<0.001; RR=3.444; 95%CI=1.798–6.599) between students in schools with and without the monitoring program. Expansion of the PREMIUM TTD program across all schools in the Puskesmas Cinere working area is needed through routine IFA consumption monitoring, interactive education, peer educator development, and periodic monitoring and evaluation involving school health unit (UKS) teachers and health workers to improve IFA consumption compliance among adolescent girls.
Read More
S-12281
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nelty Rosanna; Pembimbing: Wiku B. Adisasmito; Penguji: Mieke Savitri, Ernawati
S-4451
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive