Ditemukan 33982 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Endro Dwi Iswanto; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Dien Anshari, Tiara Amelia, Mery Aderita Romaulina, Osi Kusuma Sari
Abstrak:
Read More
Kesehatan mental merupakan salah satu aspek penting dalam mewujudkan kesehatan secara keseluruhan. Secara global, pada tahun 2019 diketahui sekitar 970 juta orang di seluruh dunia hidup dengan masalah kesehatan mental dimana kasus gangguan kecemasan dan depresi yang paling umum. Di Indonesia sendiri ada 19 juta orang mengalami gangguan mental emosional dan 12 juta orang mengalami depresi pada penduduk usia lebih dari 15 tahun. Provinsi DKI Jakarta pun tidak luput dari masalah kesehatan mental. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Tahun 2023, prevalensi orang dengan masalah kesehatan jiwa di DKI Jakarta sebesar 2.3 lebih tinggi dari rata-rata Nasional yakni 2.0. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku mencari bantuan dipengaruhi oleh faktor predisposisi, pemungkin, dan kebutuhan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui determinan perilaku mencari bantuan kesehatan mental di Provinsi DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dan sampel adalah penduduk DKI Jakarta dengan rentang usia 25-34 tahun. Jumlah sampel sebanyak 347 responden. Pengumpulan data dilakukan dengan mengisi kuesioner dengan teknik pengambilan sampel Quota sampling. Data dianalisis menggunakan uji regresi logistik untuk multivariat. Sebanyak 53.3% responden melakukan perilaku mencari bantuan kepada formal help-seeking dalam 2 minggu terakhir. Variabel jenis kelamin, pekerjaan, literasi kesehatan mental, dukungan sosial, stigma publik, kondisi kesehatan mental, dan riwayat penyakit kronis memiliki hubungan terhadap perilaku mencari bantuan kesehatan mental. Kondisi kesehatan mental menjadi variabel yang paling dominan terhadap perilaku mencari bantuan kesehatan mental di Provinsi DKI Jakarta.
Mental health is one of the important aspects of achieving overall well-being. Globally, in 2019 around 970 million people worldwide were living with mental health issues, with anxiety and depression being the most common disorders. In Indonesia, 19 million people experienced emotional disorders and 12 million suffered from depression among the population aged over 15 years. In the Special Capital Region of Jakarta Province is also significantly affected by mental health issues. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of people with mental health issues in the Special Capital Region of Jakarta was 2.3, which is higher than the national average of 2.0. Factors influencing help-seeking behavior are generally affected by predisposing, enabling, and need factors. This study aims to identify the determinants of mental health help-seeking behavior in the Special Capital Region of Jakarta Province. This study used a cross-sectional design with a quantitative approach. The population and sample consisted of Jakarta residents aged 25-34 years. A total sample size of 347 respondents was recruited. Data collection was conducted by administering questionnaires using a quota sampling technique. Data were analyzed using multivariate logistic regression. A total of 53.3% of respondents reported engaging in formal help-seeking behavior within the last two weeks. Variables such as gender, occupation, mental health literacy, social support, public stigma, mental health status, and a history of chronic disease were found to be associated with mental health help-seeking behavior. Mental health status emerged as the most dominant variable for mental health help-seeking behavior in the Special Capital Region of Jakarta Province.
Mental health is one of the important aspects of achieving overall well-being. Globally, in 2019 around 970 million people worldwide were living with mental health issues, with anxiety and depression being the most common disorders. In Indonesia, 19 million people experienced emotional disorders and 12 million suffered from depression among the population aged over 15 years. In the Special Capital Region of Jakarta Province is also significantly affected by mental health issues. Based on the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), the prevalence of people with mental health issues in the Special Capital Region of Jakarta was 2.3, which is higher than the national average of 2.0. Factors influencing help-seeking behavior are generally affected by predisposing, enabling, and need factors. This study aims to identify the determinants of mental health help-seeking behavior in the Special Capital Region of Jakarta Province. This study used a cross-sectional design with a quantitative approach. The population and sample consisted of Jakarta residents aged 25-34 years. A total sample size of 347 respondents was recruited. Data collection was conducted by administering questionnaires using a quota sampling technique. Data were analyzed using multivariate logistic regression. A total of 53.3% of respondents reported engaging in formal help-seeking behavior within the last two weeks. Variables such as gender, occupation, mental health literacy, social support, public stigma, mental health status, and a history of chronic disease were found to be associated with mental health help-seeking behavior. Mental health status emerged as the most dominant variable for mental health help-seeking behavior in the Special Capital Region of Jakarta Province.
T-7394
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Puspita Alwi; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Ella Nurlaella Hadi, Rita Damayanti, Ujang Suherman, Lady Margaretha F. Sirait
Abstrak:
Read More
Rebranding adalah aktivitas yang mempunyai tujuan untuk melakukan transformasi kedudukan brand dibenak pemilik kepentingan dan menjadikan label serta personalitas pembeda dengan lembaga lain. Upaya rebranding yang dilakukan rumah sakit daerah milik Pemerintah DKI Jakarta mempunyai tujuan untuk memperbaharui posisi brand dibenak masyarakat melalui perubahan nama, logo, posisi brand, dan meningkatkan kesan yang positif serta peningkatakan fasilitas pelayanan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan pelayanan dan tingkat keparahan penyakit sebelum dan sesudah dilakukannya rebranding ‘Rumah Sehat Untuk Jakarta’ di RSUD Pasar Minggu. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan melakukan studi perbandingan antara dua waktu, sebelum dan sesudah rebranding ‘Rumah Sehat Untuk Jakarta’ di RSUD Pasar Minggu pada bulan Mei 2024 dengan melakukan wawancara mendalam dengan informan terpilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbandingan kualitas pelayanan yang terlihat signifikan perubahannya pada dimensi bukti fisik (tangible) dan tidak terdapat program promotif dan preventif yang khusus dibuat sesudah adanya rebranding. Namun, promosi kesehatan pada media sosial terjadi perbaikan dari segi visual dan konten, serta peningkatan intensitas penggunaannya. Tingkat keparahan penyakit belum bisa diukur perbedaannya karena waktu penelitian yang masih sedikit. Kesimpulannya, rebranding ‘Rumah Sehat Untuk Jakarta’ memiliki tujuan yang baik, dengan perubahan signifikan terlihat pada logo, sarana prasarana, surat menyurat, dan seragam petugas. Dampak rebranding terhadap tingkat keparahan penyakit memerlukan analisis jangka panjang. Saran peneliti diharapkan Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan keberlanjutan untuk rebranding ‘Rumah Sehat Untuk Jakarta’ dengan menginisiasi program promotif dan preventif dan RSUD Pasar Minggu diharapkan terus berkomitmen melaksanakan makna dari ‘Rumah Sehat Untuk Jakarta’ dalam memberikan layanan kepada pasien.
Rebranding is an activity that has aim of transforming the the brand’s position in the stakeholders’s mind and making the label and personality different from other institutions. The rebranding efforts carried out by regional hospitals belonging to the DKI Jakarta Goverment have the aim of renewing brand’s position in the public’s mind through changes in name, logo, brand position, increasing positive impressions and improving service facilities. This study aims to determine the comparison of services and severity level of illness before and after rebranding of ‘Rumah Sehat Untuk Jakarta’ at RSUD Pasar Minggu. This research is a descriptive qualitative approach by conducting a comparative study between two period, before and after rebranding 'Rumah Sehat Untuk Jakarta’ at RSUD Pasar Minggu in May 2024, through in-depth interviews with selected informants. The research results show that the comparison of service quality shows significant changes in the dimension of physical evidence (tangible) and there are no specific promotive and preventive programs created after the rebranding. However, health promotion on social media has improved in terms of visuals and content, as well as an increase in the intensity of its use. The difference in the severity level of illness cannot be measured because the research period. In conclusion, the rebranding ‘Rumah Sehat Untuk Jakarta’ has a positive purpose, with the significant changes observed in the logo, infrastructure, correspondence and staff uniforms. The impact of rebranding on severity level of illness requires long-term analysis. Researchers suggest that the DKI Jakarta Health Office should continue the rebranding efforts of 'Rumah Sehat Untuk Jakarta' by initiating promotive and preventive programs and RSUD Pasar Minggu is expected to continue committing to the essence of 'Rumah Sehat Untuk Jakarta' in providing patient services.
T-6958
Depok : FKM UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Gisti Respati Riyanti; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dien Anshari, Rita Damayanti, Bambang Purwanto, Bustomi
T-6927
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Wina Al Syifa; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Dian Ayubi, Rita Damayanti, Mimi Mariani Lusli, Noridha Weningsari
Abstrak:
Read More
Perempuan disabilitas merupakan kelompok yang rentan untuk mengalami kekerasan seksual akibat kondisi disabilitas dan stigma di masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui stigma dan coping strategy perempuan disabilitas penyintas kekerasan seksual di ranah personal dengan menggunakan Transactional Stress and Coping Model Lazarus & Folkman (1984) di HWDI Jakarta tahun 2023. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, desain studi kasus pada 4 orang perempuan disabilitas penyintas kekerasan seksual dan 8 informan kunci dari keluarga penyintas, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, UPT Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak DKI Jakarta serta konselor HWDI Jakarta. Pengumpulan data dengan wawancara mendalam dilakukan pada bulan Mei-Juli 2023 dan dianalisis secara konten. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas penyintas merasa tidak berdaya, tidak berharga, tidak percaya diri, menarik diri dari lingkungan hingga berpikir untuk bunuh diri. Meski telah mengantisipasi stigma dengan menyembunyikan kekerasan seksual yang dialami, semua penyintas tetap menerima stigma hingga diskriminasi karena kekerasan dan kondisi disabilitas yang dialami. Mayoritas penyintas mendapatkan dukungan keluarga dan komunitas. Pada jenis problem-foused coping, umumnya penyintas mencari bantuan ke keluarga dan/atau profesional, sedangkan emotion-focused coping, mayoritas penyintas berolahraga dan beribadah untuk mengelola emosi, hanya sebagian penyintas mengembangkan humor dan pemaknaan positif. Untuk itu, pemerintah perlu melakukan sosialisasi kepada lembaga yang menangani kasus kekerasan terkait kebijakan dan hak disabilitas, cara pelaporan dan penanganan kasus. Sosialisasi kepada masyarakat terkait stigma dan kekerasan seksual diperlukan untuk melindungi dan memenuhi hak perempuan disabilitas.
Women with disabilities are one amongst the groups who are vulnerable to become the target of sexual violence due to their condition and stigma from the public. This research aims to uncover the stigma and coping strategy of women with disabilities who survived personal sexual violence using the Transactional Stress and Coping Model proposed by Lazarus & Folkman (1984) at Indonesian Women with Disabilities Organization (HWDI) Jakarta in 2023. This research uses a qualitative approach with a study case design on 4 women with disabilities who survived sexual violence and 8 key informants which consists of the survivors' families, Jakarta Health Agency, Technical Implementation Unit (UPT) of the Women and Children Protection Centre in Jakarta as well as the counselor of HWDI Jakarta. The data are collected through in-depth interview which was conducted in May-July 2023 and are being analyzed using content analysis. The result shows that the majority of the survivors feel a sense of helplessness, unworthiness, lack of self confidence, forfeit themselves from the society to the extent of even having suicidal thoughts. Even after anticipating the stigma by hiding the sexual violence they have experienced, all of the survivors still received the stigma and discrimination due to the violence and disability condition that they are in. The majority of the survivors received support from their families and community. On the problem-focused coping type, the survivors are generally seeking help to their families and/or professionals, while on the emotion-focused coping, the majority of the survivors do exercises and pray to process their emotions, only a number of survivors develop a sense of humor and positive mindset. Therefore, the government needs to provide and hold socialization to agencies that handle violence concerning the policy and the rights of people with disabilities, how to report and handle cases regarding the issue. Socialization to the public about stigma and sexual violence is also urgent in order to protect and fulfill the rights of women with disabilities
T-6807
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Septia Rahmalina; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Adang Bachtiar, M. Andrian Senoputra
Abstrak:
Perencanaan merupakan hal yang penting dalam menetapkan dasar untuk mengatur, mengendalikan tujuan yang ingin dicapai dari sebuah sistem. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk menganalisis proses perencanaan tahunan di Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2019. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan metode kualitatif. Data dikumpulkan dengan wawancara mendalam dan telaah dokumen. Dari penelitian ini ditemukan bahwa sumber daya manusia (SDM) dari tenaga perencana yang ada belum sesuai dengan kebutuhan, belum adanya standar operasional prosedur (SOP) yang mengatur baik dalam hal kebutuhan SDM perencana serta proses perencanaan yang lebih merinci yang dapat dijadikan acuan para tenaga perencana dalam penyusunan perencanaan. Hasil penelitian menyarankan untuk perlu ditingkatkan lagi kualitas perencana, diberikan fasilitas yang memadai serta pembuatan SOP yang lebih detail. Kata kunci: Perencanaan, Sistem, Dinas Kesehatan
Read More
S-10037
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Kliping koran Media Indonesia 2015
[s.l.] :
[s.n.] :
s.a.]
Indeks Koran Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Muhammad Zaki Munawar; Pembimbing: Ririn Arminsih Wulandari; Penguji: Budi Hartono, Didik Supriyono
Abstrak:
Read More
Pneumonia merupakan salah satu penyakit infeksi saluran pernapasan penyebab morbiditas dan mortalitas pada balita. Berdasarkan SKI 2023, prevalensi pneumonia balita di DKI Jakarta mencapai 2,2% dan menempati peringkat ketiga nasional. Penelitian ini bertujuan menganalisis hubungan antara karakteristik balita, keluarga, dan karakteristik lingkungan rumah dengan kejadian pneumonia. Desain yang digunakan adalah potong lintang dengan data sekunder SKI 2023, melibatkan balita berusia 0-59 bulan sebagai unit analisisnya. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan tidak terdapat hubungan signifikan antara seluruh variabel yang diteliti dengan kejadian pneumonia balita di DKI (p>0,05). Temuan ini mengindikasikan bahwa perlu dilakukan penelitian menggunakan faktor lain di luar variabel yang telah diteliti. Meskipun demikian, tetap diperlukan upaya pencegahan secara multisektoral yang berkelanjutan untuk menekan kasus pneumonia pada balita seperti cakupan imunisasi dasar, gaya hidup bebas rokok, dan pemilihan material atap rumah yang tepat untuk mengurangi risiko pneumonia pada balita.
Pneumonia is a leading cause of illness and death in children under five. Based on the 2023 Indonesia Health Survey (SKI), its prevalence in DKI Jakarta reached 2.2%, the third highest nationally. This study analyzed the relationship between child, family, and housing characteristics and pneumonia incidence using a cross-sectional design and SKI 2023 data (n = 527 children aged 0–59 months). Chi-Square tests showed no significant associations (p > 0.05). These results indicate the need for further studies exploring other risk factors. Nonetheless, efforts such as improving immunization coverage, promoting smoke-free homes, and using safer roofing materials remain essential to prevent pneumonia in children.
S-11948
Depok : FKM-UI, 2025
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Winda Widyanty; Pembimbing: Dian Ayubi; Penguji: Rita Damayanti, Tri Krianto, Melyana Lumbantoruan, Ananda
Abstrak:
Read More
Provinsi Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta termasuk ke dalam lima provinsi dengan proporsi penggunaan rokok elektronik tertinggi di Indonesia, khususnya pada kelompok usia muda termasuk mahasiswa . Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku penggunaan rokok elektronik pada mahasiswa di DKI Jakarta menggunakan pendekatan Problem Behavior Theory (PBT). Teori ini digunakan karena mampu menjelaskan bagaimana perilaku menyimpang, termasuk penggunaan zat adiktif seperti rokok elektronik, terbentuk melalui interaksi kompleks antara faktor individu, lingkungan sosial, dan sistem perilaku. Penelitian ini melibatkan 281 mahasiswa berusia 20–24 tahun dari lima wilayah administratif Jakarta sebagai responden. Data dikumpulkan secara daring dan dianalisis dengan statistik deskriptif, uji chi-square, dan regresi logistik berganda. Hasil penelitian didapatkan sebanyak 17,8% responden merupakan pengguna aktif rokok elektronik, 35,9% pernah mencoba rokok elektronik, dan 41% mengaku telah berhenti menggunakan rokok elektronik. Dari pengguna aktif rokok elektronik, 56% menggunakannya setiap hari dan sebagian besar telah menggunakannya lebih dari dua tahun. Alasan utama penggunaan rokok elektronik meliputi rasa, aroma, kepraktisan, serta persepsi sebagai alternatif rokok konvensional. Faktor signifikan yang mempengaruhi perilaku penggunaan rokok elektronik mencakup jenis kelamin, struktur keluarga, perilaku merokok orang tua, kecocokan nilai orang tua dan teman, serta penolakan teman terhadap perilaku menyimpang dengan jenis kelamin sebagai sebagai variabel yang paling dominan, di mana mahasiswa laki-laki memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk menjadi pengguna rokok elektronik dibandingkan perempuan . Rekomendasi difokuskan pada pengembangan modul promosi kesehatan berbasis gender dan keluarga bersama perguruan tinggi, penguatan surveilans serta kawasan bebas rokok di kampus, pemanfaatan media digital dan sosial untuk edukasi, pemberdayaan mahasiswa sebagai peer leader dan micro-influencer, serta monitoring partisipatif melalui umpan balik digital. Penelitian lanjutan disarankan menggunakan pendekatan longitudinal untuk memahami dinamika jangka panjang.
The Province of Jakarta is is among the top five provinces in Indonesia with the highest proportion of electronic cigarette use, particularly among young people, including university students. This study aimed to identify the factors influencing electronic cigarette use behavior among college students in Jakarta by employing the Problem Behavior Theory (PBT) framework. This theory was selected because it effectively explains how deviant behaviors, including the use of addictive substances such as electronic cigarettes, are formed through complex interactions among individual factors, the social environment, and behavioral systems. The study involved 281 college students aged 20–24 years from the five administrative regions of Jakarta who served as respondents. Data were collected online and analyzed using descriptive statistics, chi-square tests, and multiple logistic regression. The results showed that 17.8% of respondents were active users of electronic cigarettes, 35.9% had tried using them, and 41% reported having quit. Among active users, 56% used electronic cigarettes daily, and most had been using them for more than two years. The primary reasons for using electronic cigarettes included taste, aroma, convenience, and the perception of e-cigarettes as an alternative to conventional cigarettes. Significant factors influencing electronic cigarette use behavior included gender, family structure, parental smoking behavior, congruence of values between parents and peers, and peer rejection of deviant behavior, with gender emerging as the most dominant factor, indicating that male students were more likely to use electronic cigarettes than female students. The recommendations focus on developing gender- and family-based health promotion modules in collaboration with universities, strengthening surveillance systems and smoke-free zones on campuses, utilizing digital and social media for educational outreach, empowering students as peer leaders and micro-influencers, and implementing participatory monitoring through digital feedback mechanisms. Further research using longitudinal approaches is recommended to better understand the long-term dynamics of electronic cigarette use behavior
The Province of Jakarta is is among the top five provinces in Indonesia with the highest proportion of electronic cigarette use, particularly among young people, including university students. This study aimed to identify the factors influencing electronic cigarette use behavior among college students in Jakarta by employing the Problem Behavior Theory (PBT) framework. This theory was selected because it effectively explains how deviant behaviors, including the use of addictive substances such as electronic cigarettes, are formed through complex interactions among individual factors, the social environment, and behavioral systems. The study involved 281 college students aged 20–24 years from the five administrative regions of Jakarta who served as respondents. Data were collected online and analyzed using descriptive statistics, chi-square tests, and multiple logistic regression. The results showed that 17.8% of respondents were active users of electronic cigarettes, 35.9% had tried using them, and 41% reported having quit. Among active users, 56% used electronic cigarettes daily, and most had been using them for more than two years. The primary reasons for using electronic cigarettes included taste, aroma, convenience, and the perception of e-cigarettes as an alternative to conventional cigarettes. Significant factors influencing electronic cigarette use behavior included gender, family structure, parental smoking behavior, congruence of values between parents and peers, and peer rejection of deviant behavior, with gender emerging as the most dominant factor, indicating that male students were more likely to use electronic cigarettes than female students. The recommendations focus on developing gender- and family-based health promotion modules in collaboration with universities, strengthening surveillance systems and smoke-free zones on campuses, utilizing digital and social media for educational outreach, empowering students as peer leaders and micro-influencers, and implementing participatory monitoring through digital feedback mechanisms. Further research using longitudinal approaches is recommended to better understand the long-term dynamics of electronic cigarette use behavior
T-7388
Depok : FKM UI, 2025
S2 - Tesis Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Roslina Susilawati; Pembimbing: Prastuti S. Chusnun
S-3277
Depok : FKM-UI, 2003
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Yuni Andrianningsih; Pembimbing: Laila Fitria; Penguji: Ririn Arminsih Wulandari, Nurusysyarifah Aliyyah
Abstrak:
Read More
Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan pada balita yang prevalensinya mengalami peningkatan. Kondisi ini diperparah oleh tingginya kepadatan penduduk, rendahnya persentase rumah layak huni, serta paparan polutan udara perkotaan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor determinan kejadian ISPA pada balita di Provinsi DKI Jakarta menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan data sekunder SKI. Variabel yang diteliti meliputi karakteristik balita (usia, jenis kelamin, riwayat BBLR, dan status imunisasi dasar), karakteristik keluarga (pendidikan ibu dan perilaku merokok anggota keluarga), serta kondisi lingkungan rumah (jenis atap, dinding, dan lantai). Hasil analisis menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan secara statistik antara seluruh variabel yang diteliti dengan kejadian ISPA (p > 0,05). Berdasarkan pemodelan multivariat, jenis atap rumah merupakan faktor yang paling dominan terhadap kejadian ISPA pada balita. Berdasarkan hasil tersebut mengindikasikan perlunya penelitian lebih lanjut dengan melibatkan variabel-variabel lain di luar cakupan studi ini guna memperoleh gambaran yang lebih komprehensif. Oleh karena itu, upaya pencegahan dan pengendalian ISPA pada balita tetap perlu dilakukan dengan pendekatan multisektoral, seperti mengadakan program intervensi rumah layak huni, meningkatkan kegiatan edukasi kepada masyarakat mengenai berbagai faktor risiko ISPA, dan membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat.
Acute Respiratory Tract Infection (ARI) is a health problem in toddlers whose prevalence is increasing. This condition is exacerbated by high population density, low percentage of habitable houses, and exposure to urban air pollutants. This study aims to analyze the determinants of the incidence of ARI in toddlers in DKI Jakarta Province using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). This study used a cross-sectional design with secondary SKI data. The variables studied included toddler characteristics (age, gender, history of low birth weight, and basic immunization status), family characteristics (maternal education and smoking behavior of family members), and home environmental conditions (type of roof, walls, and floors). The results of the analysis showed no statistically significant relationship between all studied variables and the incidence of ARI (p > 0.05). However, based on multivariate modeling, the type of roof is the most dominant factor in the incidence of ARI in toddlers. These results indicate the need for further research involving other variables beyond the scope of this study to obtain a more comprehensive picture. Therefore, efforts to prevent and control ARI in toddlers still require a multisectoral approach, such as implementing a habitable housing intervention program, increasing community education on various ARI risk factors, and promoting clean and healthy living habits.
S-12224
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
