Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33993 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Restu Adya Cahyani; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono8/11/2025 Penguji: Besral, Popy Yuniar, Istiqomatul Fajriyah Yuliati, Anistyas Hayanti
Abstrak:

Kehamilan tidak diinginkan (KTD) masih menjadi tantangan serius dalam isu kesehatan reproduksi di Indonesia. Berbagai faktor telah diidentifikasi berperan dalam meningkatnya risiko KTD, termasuk faktor sosial, ekonomi, dan akses terhadap layanan kontrasepsi. Namun, aspek hubungan interpersonal dalam rumah tangga, seperti konflik domestik, masih jarang dikaji secara mendalam sebagai faktor risiko. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konflik domestik dan kehamilan tidak diinginkan pada wanita usia subur (WUS) yang sudah menikah di Indonesia, serta menganalisis faktor-faktor lain yang turut memengaruhi kejadian KTD.
Studi ini merupakan analisis kuantitatif menggunakan data sekunder yang bersumber dari Pemutakhiran Pendataan Keluarga Tahun 2024 Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/BKKBN. Desain yang digunakan adalah cross-sectional, dengan sampel sebanyak 91.895 WUS yang sedang hamil dan memiliki data lengkap. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah KTD, sedangkan variabel independen utama adalah konflik domestik. Analisis menggunakan complex sample dilakukan secara univariat, bivariat dengan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik berganda model faktor risiko.
Hasil analisis menunjukkan sebanyak 14,8% WUS mengalami kehamilan tidak diinginkan. Proporsi KTD lebih tinggi pada perempuan yang mengalami konflik domestik (20,9%) dibandingkan yang tidak (14,7%), dengan OR 1,533 (95% CI: 1,248 – 1,884). Setelah dilakukan uji interaksi dan konfounding, konflik domestik tetap menjadi faktor yang signifikan terhadap KTD, dengan AOR sebesar 1,533 (95% CI: 1,248 – 1,884). Dengan demikian, konflik domestik merupakan salah satu faktor risiko independen terhadap kehamilan tidak diinginkan. Intervensi kebijakan kesehatan reproduksi perlu mempertimbangkan dinamika relasi dalam rumah tangga dan meningkatkan layanan konseling serta akses kontrasepsi yang aman, terutama bagi perempuan yang hidup dalam situasi rumah tangga yang penuh konflik.


Unintended pregnancy remains a significant challenge in the domain of reproductive health in Indonesia. Numerous factors have been identified as contributing to the risk of unintended pregnancy, including social, economic, and access-related determinants of contraceptive use. However, interpersonal dynamics within the household, particularly domestic conflict, have received limited attention as potential risk factors. This study aims to examine the association between domestic conflict and unintended pregnancy among married women of reproductive age in Indonesia, while also analyzing other contributing factors. This research employed a quantitative approach using secondary data from the Pemutakhiran Pendataan Keluarga 2024 conducted by the Ministry of Population and Family Development (Kemendukbangga)/BKKBN. The study utilized a cross-sectional design and included a total sample of 91.895 women of reproductive age who currently pregnant with complete data. The dependent variable was unintended pregnancy, while the primary independent variable was domestic conflict. The analysis was conducted with complex sample through univariate, bivariate methods using the chi-square test, and followed by multivariate analysis logistic regression based on the risk factor model. The results revealed that 14,8% of women of reproductive age experienced unintended pregnancy. The proportion of unintended pregnancy was higher among those reporting domestic conflict (20,9%) compared to those who did not (14,7%), with an odds ratio (OR) of 1,533 (95% CI: 1,248 – 1,884). Following interaction and confounding tests, domestic conflict remained a significant factor associated with unintended pregnancy, with an adjusted odds ratio (AOR) of 1,533 (95% CI: 1,248 – 1,884). These findings underscore that domestic conflict is an independent risk factor for unintended pregnancy. Reproductive health interventions and policies should account for relational dynamics within households and strengthen access to counseling services and safe contraceptive options, particularly for women living in conflict-affected domestic settings.

Read More
T-7410
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yulia Dhanti Syafitri; Pembimbing: Toha Muhaimin; Penguji: Besral, Tin Afifah
S-7498
Depok : FKM-UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Eva Muzdalifah; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: Besral, Yudarini
S-5438
Depok : FKM-UI, 2008
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dewi Maharani Putri; Pembimbing: Sabarinah Prasetyo; Penguji: Tris Eryando, Mugia Bayu Raharja
Abstrak: Penelitian ini dibuat dengan tujuan untuk menggambarkan kejadian unmet needKB pada wanita menikah 2 tahun pascasalin dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Penelitian ini menggunakan data Survey Demografi danKesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2007 dengan analisis univariat dan bivariat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara umur, pendidikan,tingkat ekonomi, jumlah anak hidup, agama, pengambilan keputusan pemeriksaan kesehatan ibu, keadaan abstinen, komunikasi dengan pasangan, wilayah tempat tinggal, pemberian ASI eksklusif, kematian anak, keterpaparan dengan informasiKB, pengetahuan terhadap alat kontrasepsi, sikap terhadap kontrasepsi, dan ukuran ideal keluarga terhadap kejadian unmet need pada wanita 2 tahunpascasalin. Kata Kunci : kontrasepsi, pascasalin, unmet need.
This study was made in order to describe the incidence of unmet need forcontraception in women married 2 years postpartum and the factors that influenceit. This study uses data Indonesia Demographic and Health Survey (IDHS) 2007with univariate and bivariate analyzes. The results showed that there is arelationship between age, education, economic level, the number of livingchildren, religion, maternal health screening decision, the state of abstinence,communication with partner, region of residence, exclusive breastfeeding, infantmortality, exposure to family planning information, knowledge againstcontraceptives, attitudes toward contraception, and ideal family size on theincidence of unmet need in women married 2 years postpartum.Key Word:contraception, postpartum, unmet need.
Read More
S-7790
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tadzkia Dara Ayunda; Pembimbing: Tris Eryando; Penguji: Milla Herdayati, Mugi Wahidin
Abstrak: Kasus kanker payudara di seluruh dunia mengalami peningkatan tajam dalam limatahun terakhir terutama pada wanita. Dalam beberapa dekade terakhir, terjadi perubahan trendiet terjadi di berbagai negara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kaitan dietdengan kanker payudara pada wanita usia 15 tahun ke atas di Indonesia. Penelitian dilakukandengan desain cross sectional dengan sumber data yang digunakan adalah data Riskesdas 2013.Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan diet tidak sehat memiliki odds lebih tinggiuntuk mengalami kanker payudara (OR=1,14), serta faktor risiko lainnya adalah konsumsimakanan manis (OR=1,53), berlemak (OR=2,41), dan berkafein (OR=2,22) setelah dikontrololeh umur, status pernikahan, pendidikan, pekerjaan, tempat tinggal, penggunaan alatkontrasepsi hormonal, dan aktivitas fisik. Maka, dianjurkan kepada wanita usia 15 tahun keatas di Indonesia untuk meningkatkan konsumsi sayur dan buah serta membatasi konsumsimakanan manis, berlemak, dan berkafein untuk mencegah kanker payudara.Kata Kunci:diet, kanker payudara, wanita
Breast cancer cases in worldwide has increased sharply in the last ten years, especiallyin women. In recent decades, changes in diet trend occurred in various countries. The purposeof this study was to determine the dietary relationship to breast cancer in women aged 15years and over in Indonesia. The study was conducted with a cross sectional design with thesource of data used is Riskesdas 2013. The results shows that women with unhealthy diets havehigher odds of having breast cancer (OR = 1.14), as well as other risk factors are consumptionof sweet foods ( OR = 1.53), fat (OR = 2.41), and caffeine (OR = 2.22) after controlled by age,marital status, education, occupation, residence, the use of hormonal contraception, andphysical activity. Thus, it is recommended for women aged 15 years and over in Indonesia toincrease fruit and vegetable consumption and limiting consumption of sugary foods, fattyfoods, and caffeine to prevent breast cancer.Keywords:diet, breast cancer, women.
Read More
S-9299
Depok : FKM-UI, 2017
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Astari Nola Margaretha; Pembimbing: Kemal Nazarudin Siregar; Penguji: Milla Herdayati, Ika Saptarini
S-10152
Depok : FKM-UI, 2019
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Giri Widakdo; Pembimbing: Besral; Penguji: Toha Muhaimin, R. Sutiawan, Diding Sawaludin, Rusdi Effendi
Abstrak: Hasil Riskesdas tahun 2007 menunjukkan prevalensi ganguan mental emosional di Indonesia (usia 15 tahun keatas) sebesar 11,6 persen. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuinya hubungan antara penyakit kronis dengan gangguan mental emosional. Desain penelitian ini crossectional yang mengggunakan data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007. Sampel penelitian sebanyak 660.452 responden yang berusia 15 tahun ke atas dengan kriteria tidak sedang mengalami gangguan jiwa.
 
Hasil penelitian menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional sebesar 11,58 person, risiko untuk mengalami gangguan mental emosional menjadi lebih tinggi pada mereka yang memiliki jumlah penyakit kronis lebih banyak dibandingkan responden yang tidak menderita penyakit kronis. Responden yang menderita satu penyakit kronis berisiko 2,6 kali, responden yang menderita dua penyakit kronis berisiko 4,6 kali, untuk responden yang menderita tiga penyakit kronis berisiko 12,4 kali dan responden yang menderita empat penyakit kronis atau lebih berisiko 7,2 kali lebih tinggi mangalami gangguan mental emosional dibandingkan dengan responden yang tidak menderita penyakit kronis.
 
Disarankan kepada Direktorat Bina Pelayanan Kesehatan Jiwa Kementerian Kesehatan untuk membuat pedoman atau standart pelayanan-pelayanan tentang penyakit kronis yang terkait dengan gangguan mental emosional serta dibentuknya tim bimbingan teknis pelayanan tersebut bagi pemerintah daerah, dinas kesehatan dan rumah sakit.
 

 
Indonesia Basic Health Research (Riskesdas) year 2007 showed that the prevalence of mental emotional disorder in Indonesia estimated to 11.6 percents. The purpose of this study was to find out the relationship between chronic diseases with a mental emotional disorder. The study design was cross sectional, using data from Basic Health Research (Riskesdas) 2007. Total sample of 660.452 respondents aged 15 years and above with the criteria of not having a mental disorder.
 
Results showed that the prevalence of mental disorder at 11.58 percent, the risk of mental disorder to be higher relative to those who have higher number of chronic diseases. Respondents who suffer from one chronic disease have risk 2.6 times, two chronic disease have risk 4.6 times, three chronic disease have risk 12.4 times, four chronic disease have risk 7.2 times higher mental disorder as compared with respondents who did not suffer from chronic diseases.
 
We recommended to the Directorate of Community Mental Health Services Ministry of Health to create a guideline or standard care about the service-related chronic diseases mental emotional disorder and the establishment of the service team of technical guidance (tim bimbingan teknis) for local governments, health agencies, and hospitals.
Read More
T-3157
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Antika Nurinda; Pembimbing: Milla Herdayati; Penguji: R. Sutiawan, Flourisa Juliaan
Abstrak: Angka CPR Indonesia menunjukkan adanya peningkatan berarti semenjak 2002/2003 hingga 2007. Namun begitu, data SDKI 2007 menyebutkan angka pemenuhan KB yang tidak terpenuhi juga masih cukup tinggi. SDKI 2007 menuliskan bahwa ada sebesar 61,4 % wanita yang menggunakan kontrasepsi dan sebesar 9,1% wanita berstatus unmet need.. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pendidikan, pengetahuan KB, dan otonomi wanita terhadap kejadian unmet need (kebutuhan KB tidak terpenuhi) di Provinsi Yogyakarta dan NTT menurut SDKI 2007. Analisis dilakukan dengan menggunakan regresi logistik. Hasil multivariat menyebutkan bahwa interaksi antara media dengan pengetahuan menjadi faktor utama dalam menyebabkan kejadian unmet need di Yogykarta. Sedangkan jumlah anak masih hidup merupakan faktor utama dalam menyebabkan kejadian unmet need di NTT. Pendidikan rendah, pengetahuan kurang, dan kurang memiliki otonomi menyebabkan unmet need lebih tinggi dibandingkan dengan responden yang berpendidikan tinggi, pengetahuan baik, dan memiliki otonomi di Yogyakarta dan NTT.
 

Contraceptive prevalence rate of Indonesia showed a significant improve since 2002/2003 to 2007. However, unmet need of family planning still high on 9,1 % in IDHS (2007). IDHS describes that there are 61,4 of 100 women using contraceptive and there are 9 of 100 women are unmet need. The purpose of this study was to determine the relationship of education, knowledge of family planning, and women's autonomy for unmet need in Yogyakarta and NTT according to IDHS 2007. Regression analysis shows that several variables are significantly related to total unmet need in Yogyakarta dan NTT. The findings in Yogyakarta show that interaction between media and knowledge is a major statistically significant relationship. But in NTT, total number of children is a major statistically significant relationship. Although, education, knowledge, and autonomy have no significant association with unmet need, low of education, knowledge, and no having autonomy give higher total unmet need in Yogyakarta and NTT. Therefore recommended that inYogyakarta and NTT, health care services make full use of opportunities to provide family planning information and services.
Read More
S-8039
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Endang Uji Wahyuni; Pembimbing: Sutanto Priyo Hastono; Penguji: Besral, Riris Nainggolan, Nugroho Budi Santoso
Abstrak:

ABSTRAK Kejadian malaria dipengaruhi oleh beberapa faktor dan faktor yang paling berpengaruh terhadap kejadian malaria adalah faktor lingkungan seperti kondisi fisik bangunan, kebersihan lingkungan, tempat perindukan nyamuk (Soemirat, 2002). Faktor lain akan menjadi confounder antara lain karakteristik responden seperti umur dan jenis kelamin disebabkan paparan terhadap agent bagi setiap jenis kelamin berbeda (Harijanto, 2000), tidur menggunakan kelambu, kebiasaan di luar rumah pada malam hari, dan rumah terlindung dari nyamuk (Sulistyo, 2001). Berdasarkan uraian tersebut penulis bermaksud untuk mengkaji faktor lingkungan yang berhubungan dengan kejadian malaria pada balita di Indonesia yaitu lingkungan tempat tinggal, dinding rumah, tempat perindukan nyamuk, dan wilayah tempat bermukim. Untuk mengetahui hubungan factor lingkungan tempat tinggal (lingkungan kumuh, dinding rumah, tempat perindukan dan walayah tempat bermukim) dengan kejadian malaria pada balita di Indonesia setelah dikontrol dengan confounder. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan rancangan penelitian crosssectional yaitu merupakan rancangan penelitian yang pengukuran dan pengamatannya dilakukan secara simultan pada satu saat (sekali waktu).

Read More
T-3621
Depok : FKM-UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dita Kumala Ratri; Pembimbing: Sudijanto Kamso; Penguji: Engkus Kudinar Achmad, Upik Rukmini
Abstrak: Kesehatan mental merupakan aspek yang penting bagi kehidupan lansia yang sehat dan aktif. Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara diabetes melitus dengan gangguan neurosis pada lansia di Indonesia. Desain penelitian ini adalah cross sectional yaitu mengukur variabel pada satu waktu. Data yang digunakan pada penelitian ini adalah data sekunder Riset Kesehatan Dasar 2007. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa diabetes memiliki efek negatif pada kejadian gangguan neurosis pada lansia dengan nilai rasio odds sebesar 1,37.
 
Faktor lain yang diketahui berhubungan dengan kejadian gangguan neurosis pada lansia adalah jenis kelamin, umur, pendidikan, pekerjaan, status perkawinan, tempat tinggal, riwayat gangguan jiwa, penyakit jantung, hipertensi, dan stroke. Oleh karena itu penting adanya peningkatan pengetahuan mengenai deteksi dini diabetes melitus pada lansia sehingga lansia tidak mengalami diabetes melitus maupun gangguan neurosis.
 

 
Mental health is an important aspect of elderly healthy and active living. This study aims to investigate the relationship between diabetes mellitus with neurotic disorders of elderly in Indonesia. The study design was cross-sectional which measures variables at one time. The data used in this study is a secondary data Basic Health Research 2007. Based on the survey results, diabetes mellitus has a negative effect on the incidence of neurotic disorders in the elderly with odds ratio 1.37.
 
Other factors known to be associated with the incidence of neurotic disorders in the elderly are gender, age, education, occupation, marital status, place of residence, history of mental illness, heart disease, hypertension, and stroke. It is important to increase knowledge about early detection of diabetes mellitus in the elderly so they do not have diabetes mellitus or neurotic disorder.
Read More
S-7813
Depok : FKM-UI, 2013
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive