Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 26831 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Charisma Destrikasari; Pemmbimbing: Evi Martha; Penguji: Ahmad Syafiq, Sandra Fikawati, Leny Jakaria , Yayu Mukaromah
Abstrak:

Indonesia memiliki populasi remaja besar (15,8% berusia 10–19 tahun), menjadikannya kelompok strategis dalam program kesehatan reproduksi. Namun, pengetahuan dan praktik terkait pubertas serta manajemen kebersihan menstruasi (MKM) masih rendah. Untuk menjawab kebutuhan tersebut, UNICEF bersama PKBI meluncurkan aplikasi OKY sebagai media digital interaktif yang ramah remaja.
Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pelaksanaan edukasi pubertas dan MKM melalui aplikasi OKY menggunakan model CIPP (Context, Input, Process, Product). Desain penelitian kualitatif studi kasus dilakukan di dua SMK di Jakarta: SMK Negeri 50 yang memiliki PIK-R aktif dan SMK Muara Indonesia yang tidak lagi memiliki PIK-R. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan penanggung jawab program, guru, kepala sekolah, serta focus group discussion (FGD) bersama siswa, dan diperkuat analisis dokumen.
Hasil menunjukkan bahwa aspek konteks relevan dengan kebutuhan remaja akan informasi kesehatan reproduksi yang mudah diakses. Pada input, kolaborasi PKBI dengan sekolah berjalan baik, dengan variasi dukungan: SMK Negeri 50 memiliki PIK-R yang membantu siswa lebih terbiasa membicarakan isu kesehatan reproduksi, meskipun jumlah guru BK masih terbatas. SMK Muara Indonesia menghadapi tantangan berupa keterbatasan guru, fasilitas, dan koordinasi program. Dari sisi proses, kedua sekolah menyesuaikan pelaksanaan dengan kondisi masing-masing, tetapi keterlibatan dalam perencanaan, monitoring, dan evaluasi masih minim. Pada produk, kedua sekolah menunjukkan peningkatan pengetahuan, sikap, dan perilaku remaja, dengan perubahan lebih nyata di SMK Negeri 50 berkat dukungan PIK-R, sementara di SMK Muara Indonesia peningkatan tetap terjadi tetapi lebih terbatas dan memerlukan pendampingan intensif.
Kesimpulannya, aplikasi OKY efektif sebagai media edukasi digital, namun keberlanjutan program memerlukan penguatan kapasitas guru, monitoring berbasis hasil, keterlibatan orang tua, dan dukungan kebijakan lintas sektor


Indonesia has a large adolescent population (15.8% aged 10–19 years), making them a strategic group in reproductive health programs. However, knowledge and practices related to puberty and menstrual hygiene management (MHM) remain limited. To address this gap, UNICEF and PKBI introduced OKY, an interactive digital application designed to provide adolescent-friendly menstrual information. This study aimed to evaluate the implementation of puberty and MHM education through the Oky application using the CIPP (Context, Input, Process, Product) evaluation model. A qualitative case study design was conducted in two vocational schools in Jakarta: SMK Negeri 50, which has an active PIK-R, and SMK Muara Indonesia, which no longer has PIK-R. Data were collected through in-depth interviews with program officers, teachers, school principals, focus group discussions (FGDs) with students, and document reviews. Findings showed that the context aligned with adolescents’ need for accessible reproductive health information. Regarding input, collaboration between PKBI and schools was effective, though support varied: SMK Negeri 50 benefited from PIK-R in fostering openness, despite limited counseling teachers, while SMK Muara Indonesia faced challenges of limited staff, facilities, and coordination. In terms of process, both schools adjusted implementation to their conditions, but engagement in planning, monitoring, and evaluation remained limited. For product, both schools demonstrated improvements in knowledge, attitudes, and behaviors, with more significant changes at SMK Negeri 50 due to PIK-R support, whereas SMK Muara Indonesia showed progress but required stronger mentoring. In conclusion, Oky is effective as a digital education tool, yet program sustainability requires strengthened teacher capacity, results-based monitoring, parental involvement, and cross-sectoral policy support.

Read More
T-7454
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wahdania Ayuni; Pembimbing: Besral; Penguji: Popy Yuniar, Julie Rostina
Abstrak:
Masa remaja putri pada anak sekolah telah dikenal sebagai masa khusus dalam kehidupannya yang memerlukan perhatian, terutama pada saat menstruasi. Kurangnya pengetahuan, akses terbatas pada fasilitas sanitasi yang layak, stigma seputar menstruasi, dan kondisi sanitasi yang buruk secara umum dapat menghambat manajemen kebersihan menstruasi yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi praktik manajemen kebersihan menstruasi pada siswi SMP dan MTS di Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara. Desain penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 205 siswi kelas 7 dan 8, yang dipilih secara acak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas siswi memiliki praktik manajemen kebersihan menstruasi yang kurang baik. Analisis bivariat mengungkapkan hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan dengan praktik kebersihan menstruasi (p=0,047; OR=2,512). Namun, faktor lain seperti sikap, kepercayaan, ketersediaan pembalut, dan dukungan guru tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Temuan ini menyoroti pentingnya peningkatan edukasi kesehatan reproduksi dan penyediaan fasilitas kebersihan yang memadai di sekolah untuk mendukung praktik kebersihan menstruasi yang lebih baik.

The adolescent phase for school-aged girls is recognized as a critical period in their lives that requires special attention, particularly during menstruation. A lack of knowledge, limited access to proper sanitation facilities, stigma surrounding menstruation, and generally poor sanitation conditions can hinder effective menstrual hygiene management.This study aims to analyze the factors influencing menstrual hygiene management practices among junior high school and Islamic school (MTS) students in Tanjung Priok District, North Jakarta. The research employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 205 female students from grades 7 and 8, randomly selected from several schools in the area. Data were collected using a structured questionnaire covering predisposing factors (knowledge, attitudes, and beliefs), enabling factors (availability of sanitary pads, school sanitation facilities, and information exposure), and reinforcing factors (peer and teacher support). The findings revealed that the majority of students had poor menstrual hygiene management practices. Bivariate analysis showed a significant relationship between knowledge levels and menstrual hygiene practices (p=0.047; OR=2.512). However, other factors such as attitudes, beliefs, availability of sanitary pads, and teacher support did not show significant associations. These findings underscore the importance of enhancing reproductive health education and providing adequate sanitation facilities in schools to promote better menstrual hygiene management practices.
Read More
S-11869
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wanti Rejaningsih; Pembimbing: Sandra Fikawati
S-4009
Depok : FKM-UI, 2005
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ulfa Diya Atiqa; Pembimbing: Ella Nurlaella Hadi; Penguji: Sudarto Ronoatmodjo, Sandra Fikawati, M. Ilyas, Ica Mulia Kusuma Sari
Abstrak: Masa remaja merupakan suatu fase perkembangan antara masa anak-anak dan masa dewasa. Pada masa ini banyak berubahan yang terjadi salah satunya menstruasi. Praktik kebersihan menstruasi baik perlu dilakukan agar dapat terhindar dari penyakit yang dapat mengganggu organ reproduksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor- faktor yang berhubungan dengan praktik kebersihan menstruasi siswi SMPN Kecamatan Tinambung. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswi kelas VII dan VIII SMPN Kecamatan Tinambung. Sampel dalam penelitian ini adalah siswi SMPN Kecamatan Tinambung sebanyak 250 siswi. Pengabilan sampel dilakukan dengan metode proporsional random sampling. Hasil penelitian ini menunjukan sebanyak 39,2% siswi yang melakukan praktik kebersihan menstruasi baik. Terdapat hubungan antara pengetahuan (p=0.000), sikap (p=0.000), sarana prasarana sekolah (p=0.002), pendidikan ibu (p=0,001) dan paparan informasi (p=0.006) dengan praktik kebersihan menstruasi, sedangkan usa menarche (p=0.98) dan status sosial ekonomi (p=0,727) tidak berhubungan dengan praktik kebersihan menstruasi. Diperlukan upaya untuk mengoptimalkan penyuluhan kesehatan reproduksi dan meningkatkan sarana fasilitias sekolah untuk mendukung siswi melakukan praktik kebersihan menstruasi

The periode of adolescence is a development phase between the childhood period and the adult period. In this period, many changes will happen, one of which is menstruation. Good menstrual hygiene practice needs to be carries out by teenagers who are experiencing their menstrual cycle in order to avoid reproductive system diseases. This study aims to identify the factors related to menstrual hygiene practices. An kuantitave research design we used with a cross sectional study approach. The population of this study were all of the female student at VII and VIII grade at junior high school in Tinambung West Sulawesi. Sampel of this study are 250 students. Sampel were chosen using the proportional random sampling method. The results from this research show that 39,2% have good menstrual hygiene practice. It was also found that there was a relation between the knowledge (p=0,000), attitude (p=0,000), facilities and infrastructure (p=0.002), level of mother education (p=0,001) and exposure of information (p=0,006) with menstrual hygiene practice. Meanwhile, factors of menarche age (p=0,98) and socio economic status (p=0,727) have no relation with menstrual hygiene practice. Suggest to optimize reproductive health education and improved the facilities and infrastructure to support students doing menstrual hygiene practices.
Read More
T-5914
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuli Mulyanti; Pembimbing: Zarfiel Tafal
T-1157
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Noer Qoryati Hanun; Pembimbing: Caroline Endah Wuryaningsih; Penguji: Ella Nurlaela Hadi, Farida Mutiarawati Tri A, Asep Nugrahajaya, Magda Mina Puteri
T-2584
Depok : FKM-UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ria Rizki Palupi; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Sandra Fikawati, Tiska Yumeida, Endang Sri Wahyuningsih
Abstrak: Bayi yang diberi kesempatan untuk melakukan Inisiasi Menyusu Dini (IMD) denganmenyusu pada 1 jam pertama setelah kelahiran dan dilakukan kontak kulit ibu dengan bayiselama minimal 1 jam dapat menekan angka kematian bayi. Sedangkan, peran dan komitmendari instansi kesehatan dan pemberi pelayanan sangat diperlukan untuk mendukungpelaksanaan IMD. Untuk tercapainya hal tersebut perlu dilakukannya inovasi yang bisameningkatkan pengetahuan dan ketrampilan bidan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh penggunaan mediaKomunikasi, Informasi Edukasi (KIE) dalam pelaksanaan IMD oleh bidan di PuskesmasJakarta Timur Tahun 2018. Jenis penelitian quasy eksperimen dengan jumlah sampel 42bidan yang terbagi menjadi 21 bidan kelompok intervensi dan 21 bidan kelompok kontrol.Peneliti membuat suatu media KIE berupa poster dan booklet mengenai alur tahapanpelaksanaan IMD dalam asuhan bayi baru lahir yang menarik, mudah diingat dansebelumnya belum pernah ada, kemudian media tersebut diberikan pada kelompokintervensi. Penelitian dilakukan pada bulan April sampai Mei 2018. Data yang terkumpuldianalisis secara univariat dan bivariat menggunakan uji-t independen.Hasil penelitian didapatkan bahwa, pada analisis univariat jumlah nilai rata-rata skorpelaksanaan IMD pada kelompok intervensi lebih tinggi sebesar 97.41 dibandingkan nilairata-rata pada kelompok kontrol sebesar 78.28. Sedangkan hasil analisis bivariat dengan uji-tindependen didapatkan nilai p = 0.001 yang artinya nilai p < 0.05 dan secara statistikterdapat perbedaan yang signifikan rata-rata skor pelaksanaan IMD antara kelompokintervensi dan kelompok kontrol.Nilai skor pelaksanaan IMD oleh bidan pada kelompok intervensi yang mendapatkanKIE dengan media poster dan booklet lebih tinggi secara bermakna dibandingkan bidan padakelompok kontrol. Sehingga terdapat pengaruh media KIE terhadap pelaksanaan IMD.Kata Kunci : Media KIE, Bidan, Inisiasi Menyusu Dini
Infants given the opportunity to early initiation of breastfeeding by suckling in thefirst hour after birth and making skin contact with a baby for at least 1 hour can reduceinfant mortality. Meanwhile, the role and commitment of health agencies and providers ofservices is needed to support the implementation of early initiation of breastfeeding. Toachieve this it is necessary to do innovations that can increase knowledge and skills ofmidwives.This study aims to determine the influence of the use of communication, information,education media in the implementation of early initiation of breastfeeding by midwife incommunity health centers East Jakarta 2018. Type of quasy experimental research with asample of 42 midwives divided into 21 midwives of the intervention group and 21midwives of the control group. The researcher made a communication, information,education media in the form of posters and booklets about the flow of IMD implementationstage in newborn care that is interesting, easy to remember and never before, then themedia is given to the intervention group. The study was conducted from April to May 2018.Collected data were analyzed univariat and bivariate using independent t-test.The results showed that, in univariate analysis, the mean value of early initiation ofbreastfeeding implementation score in intervention group was higher by 97.41 than themean score in the control group was 78.28. While the results of bivariate analysis withindependent t-test obtained p value = 0.001 which means the value of p <0.05 andstatistically there is a significant difference in the average score of early initiation ofbreastfeeding implementation between the intervention group and the control group.The scores of early initiation of breastfeeding implementation scores by the midwivesin the intervention group that received of communication, information, education mediawith poster and booklet media were significantly higher than the midwives in the controlgroup. So that there is influence of communication, information, education media media onearly initiation of breastfeeding implementation.Keywords: communication, information, education media, Midwife, early initiation ofbreastfeeding.
Read More
T-5425
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Siti Fatimah; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Sabarinah Prasetyo, Indri Hapsari Susilowati, Nur Fatayani, Bintang Petralina
Abstrak:
Gangguan menstruasi merupakan gangguan pendarahan vagina yang terjadi sebagai bagian dari siklus bulanan wanita untuk mempersiapkan terjadinya kehamilan. Terdapat berbagai faktor yang dapat mempengaruhi gangguan menstruasi seperti stress, aktivitas fisik, status gizi, umur, umur menarche, pemakaian kontrasepsi dan jenis kontrasepsi. Di sektor pertambangan terdapat berbagai faktor dapat menyebabkan terjadinya gangguan menstruasi karena banyak hazard yang ada dilingkungan pekerjaan yang seringkali dikaitkan dengan penyakit system reproduksi pada wanita. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui faktor risiko yang berhubungan dengan gangguan menstruasi pada operator alat berat wanita. Penelitian ini dilakukan di perusahaan tambang XY pada operator alat berat wanita pada bulan September-Oktober 2022. Penelitian ini bersifat kuantitatif menggunakan desain studi cross sectional dilanjutkan dengan metode kualitatif melalui wawanara mendalam (in depth interview) dengan sampel total 43 responden dan 9 informan. Kuisioner yang digunakan telah teruji validitas dan realibilitasnya dari berbagai penelitian yaitu untuk pengukuran aktivitas fisik menggunakan kuisioner yaitu Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) WHO dan kuisioner Perceived Stress Scale (PSS-10) untuk pengukuran stress. Hasil dari penelitian ini menunjukkan terdapat hubungan yang siginifikan antara stress (nilai p = 0,023) dan jenis kontrasepsi (nilai p = 0,03) dengan gangguan menstruasi. Sedangkan variable aktivitas fisik, status gizi, umur, umur menarche, pemakaian kontrasepsi dan jenis kontrasepsi tidak ditemukan hubungan yang signifikan dengan gangguan menstruasi. Variabel yang paling berhubungan adalah stress dengan nilai Odds Ratio (OR) = 6,3 (95% CI: 1,447-27,454).

Menstrual disorders are vaginal bleeding disorders that occur as part of a woman's monthly cycle in preparing for pregnancy. There are various factors that can affect menstrual disorders such as stress, physical activity, nutritional status, age, age at menarche, use of contraception and type of contraception. In the mining sector there are various factors that can cause menstrual disorders because there are many hazards in the work environment which are often associated with diseases of the reproductive system in women. The purpose of this study is to determine the risk factors associated with menstrual disorders in female heavy equipment operators. This research was conducted at mining company XY with female heavy equipment operators in September-October 2022. This research was quantitative using a cross-sectional study design followed by qualitative methods through in-depth interviews with a total sample of 43 respondents and 9 informants. The questionnaire used has been tested for validity and reliability from various studies, namely for measuring physical activity using a questionnaire, namely the WHO Global Physical Activity Questionnaire (GPAQ) and the Perceived Stress Scale questionnaire (PSS-10) for measuring stress. The results of this study indicate that there is a significant relationship between stress (p value = 0.023) and type of contraception (p value = 0,03) towards menstrual disorders. While the variables of physical activity, nutritional status, age, age at menarche, and use of contraception found no significant association with menstrual disorders. The most related variable is stress with an Odds Ratio (OR) = 6.3 (95% CI: 1.447-27.454).
Read More
T-6509
Depok : FKM UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Aqidatul Izzah Taufiq; Pembimbing: Ahmad Syafiq; Penguji: Evi Martha, Samsu Budiman
Abstrak:
Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) adalah pengobatan antiretroviral yang diberikan kepada individu dengan status HIV negatif yang berisiko tinggi untuk tertular HIV. Program PrEP di Indonesia sudah dimulai pelaksanaannya pada akhir tahun 2021, namun hingga saat ini pelaksanaannya masih belum optimal. Keterlibatan komunitas dalam pelaksanaan program PrEP mampu berperan untuk mengatasi hambatan yang terjadi pada layanan, seperti dengan menjalankan peran sebagai konselor serta memberikan rujukan untuk PrEP. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan evaluasi terhadap dukungan Yayasan Lembaga Kasih Indonesia Kita dan Female Plus dalam pelaksanaan program PrEP pada aspek input, proses dan output. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus menggunakan data primer berupa wawancara dan telaah dokumen. Wawancara dilakukan kepada 6 informan utama dan 2 informan kunci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hal-hal yang sudah berjalan dengan baik pada aspek input adalah dana dan prosedur pelaksanaan; aspek proses adalah perencanaan dan pengorganisasian; dan output adalah capaian PrEP pada tahun 2024 sudah jauh lebih baik jika dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya. Pada aspek input, perlu perbaikan pada sumber daya manusia, yakni masih kurangnya pengetahuan dan jumlah petugas lapangan dan pendamping sebaya; serta sarana dan prasarana, yakni masih perlu diperbanyak lagi lokasi layanan PrEP dan lebih diperhatikan mengenai penjagaan privasi individu. Pada aspek proses, perlu perbaikan pada pelaksanaan terkait dengan ketersediaan konselor dan masih adanya stigma pada pengguna PrEP, serta pengawasan yang masih perlu ditingkatkan dari segi follow up pada pengguna. 

Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) is an antiretroviral treatment given to HIV-negative individuals who are at high risk of contracting HIV. The PrEP program in Indonesia began implementation at the end of 2021, but its execution remains suboptimal. Community involvement in the implementation of the PrEP program can play a role in overcoming service barriers, such as acting as counselors and providing referrals for PrEP. This study aims to evaluate the support of Yayasan Lembaga Kasih Indonesia Kita and Female Plus in the implementation of PrEP program, focusing on the aspects of input, process, and output. This research is a qualitative study with a case study approach using primary data from interviews and document reviews. Interviews were conducted with 6 main informants and 2 key informants. The results of the study show that the aspects that have been going well in terms of input are money and method; in terms of process, planning and organizing; and in terms of output, the access rates of PrEP in 2024 are significantly better compared to previous years. In terms of input, improvements are needed in man, particularly in the lack of knowledge and the number of field officers and peer counselors; and in terms of material, there is a need for more PrEP service locations and more attention to privacy protection for individuals. In terms of process, improvements are needed in the availability of counselors and the ongoing stigma faced by PrEP users, as well as increased supervision, particularly in the follow-up of users.
Read More
S-11847
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Uluhiyah; Pembimbing: Tri Yunis Miko Wahyono; Penguji: Achmad Kusdinar, Nana Mulyana, Rustika
Abstrak:

RSUD Pemerintahan Kabupaten Sumedang telah terpapar dengan kebijakan PMK dengan nomor 836/MenkesiSICN1/2005 tentang Pedoman Pengembangan Manajemen Kinerja (PMK) Perawat dan Bidan sejak tahun 2006. 1 (satu) orang Perawat sebagai DTOT kabupaten Sumedang serta 7 orang Perawat dan 1 orang Bidan sebagai First Line Manager (FLIVI) di Rumah Sakit mi. Berdasarkan hal tersebut dilakukan peneiitian Evaltzasi Kesiapan Implementasi PlvIK Perawat dan Bidan Di Unit Pelayanan Kesehatan Reproduksi RSUD Pemerintahan Daerah Kabupaten Surnedang Tahun 2010. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan kuantitatif (kuantifikasi data). Hasil penelitian menunjukan belurn siapnya inaplementasi P/vIK bagi perawat dan bidan di Rumah Sakit ini, karena belum ada SK khusus untuk mengimplementasikan PMK dan belum tersedianya alokasi anggaran khusus mengimplementasikan PMK bagi perawat dan bidan. Dua komponen PMK. yang disuswi berbeda yaitu: Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam bentuk Standar Asuhan Keperawatan (SAIC) dan uraian tu.gas perawat clan bidan berdasarkan kedudukan dalam struktur Rumah Sakit. Sementam 3 komponen lain yaitu: indikator kinetja, D.R.K serta monitoring dan evaluasi belum ada. Hasil evaluasi kinelja dari 31 orang perawat dan bidan di unit pclayanan kesehatan reproduksi Rumah Sakit ini, keadilan transparansi dalam penilaian kinerja di institusi tempat keija ditemukan kurang puas sebanyak 23 orang (74,2%). Disarankan pemegang komitmen dan pengambil keputusan untuk memberikan Support Sistem dan kebijakan dalam mengimplementasikan pengembangan manajemen kinelja bagi perawat dan bidan, 5 komponen PMK disusun dan dimplementasikan secara utuh untuk meniugkatkan kinexja perawat dan bidan khususnya dan mcningkatkan mutu pclayanan di Rumah Sakit ini pada umumnya.


 

Sumedang District Govemment Hospital has been exposed by policy of Clinical Performance Development Management Systems (CPDMS) with the number of 836/Menlces/SK/VI!2005 about Pedoman Pengembangan Mamjemen Kinerja (PMK) Perawa: dan Bidan and there is a nurse as District Trainee of Trainer (DTOT) of Sumedang and 7 nurses and a midwife as First Line Manager (FLM) in this Hospital since 2006. The research of evaluation of implementation readiness nurses and midwives in Clinical Performance Development Management Systems (CPDMS) in Reproductive Health Care Unit at Sumedang District Government Hospital 2010 based on the statement below. This research use qualitative and quantitative methods. The result shows the Clinical Performance Development Management Systems (CPDMS) policies aren’t ready yet for nurses and midwives in the hospital, because there is no special Decree to implement Clinical Perfomance Development Management Systems (CPDMS) and there is no specific budget allocation for the implementation of CPDMS for nurse and midwife. Two components of CPDMS which were prepared diferentlyz Procedure Operating Standard (POS) in the form of Nursing Care Standards (NCS) and job descriptions of nurses and midwives based on the position in the structure of the Hospital. Meanwhile the three other components, namely: performance indicators, Reflection of Case Discussion and monitoring, and evaluation still pending. The results of evaluating the performance of 31 nurses and midwives in reproductive health services unit. The results of evaluating the performance of 31 nurses and midwives in reproductive health services unit, justice of transparency in the assessment of institutional performance in the workplace found less satisfied as many as 23 people or (74.2). Suggested to holders and decision makers are committed to providing support systems and policies to implement the Perfonnance Management Development for Nurses and Midwives and the five components of CPDMS prepared and fully implemented to improve the performance of nurses and midwives in particular and improve the quality of care in general hospitals.

Read More
T-3266
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive