Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30116 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Vestia Prilie Rosemarie Kindangen; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Jaslis Ilyas, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sri Dyah Indherawati, Mario Abet Nego
Abstrak:
Latar Belakang: Resistensi Antimikroba merupakan ancaman global yang berdampak pada peningkatan morbiditas, mortalitas, serta biaya perawatan Kesehatan. RS Hermina Jatinegara adalah RS swasta yang ditetapkan tepe B dengan layanan Umum sebagai RS pelayanan rujukan memiliki peran penting dalam mencegah resistensi melalui Implementasi Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA). RS Hermina Jatinegara telah memiliki komponen utama PPRA seperti Kebijakan PPRA, Pedoman penggunaan antibiotic, Tim PPRA, Kebijakan pengelompokan antibiotic AWaRe, serta system persetujuan antibiotic melalui E-RASPRO. Tujuan penelitian: secara umum Adalah Menganalisis implementasi PPRA, mengoptimalkan peran manajemen rumah sakit dalam mendukung penggunaan antibiotik secara bijak, dan strategi pengelolaan di Rumah Sakit Hermina Jatinegara, secara khusus adalah menganalisis penerapan pedoman dan kebijakan penggunaan antibiotik, tingkat kepatuhan tenaga medis terhadap pedoman penggunaan antibiotik, evaluasi efektivitas sistem monitoring dan evaluasi penggunaan antibiotik, peran manajemen rumah sakit dalam mendukung pelaksanaan PPRA, dan strategi perbaikan untuk meningkatkan efektivitas PPRA dan mutu pelayanan rumah sakit. Metode penelitian: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif melalui wawancan mendalam dengan manajemen RS, dokter, perawat, apoteker, dan Tim PPRA, FGD, serta telaah dokumen. Penelitian ini juga menggunakan data sekunder berupa data farmasi data peresepan, Laporan monitoring evaluasi PPRA yang didalamnya terdapat kepatuhan terhadap PPAB dan data resistensi kuman dari data mikrobiologi. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan bahwa regulasi PPRA di RS Hermina Jatinegara telah lengkap, termasuk PPAB, SK Tim PPRA, AWaRe, dan mekanisme persetujuan antibiotik melalui E-RASPRO. Namun implementasinya belum seragam di seluruh unit. Ketidaksesuaian penggunaan antibiotik ditemukan pada aspek durasi, indikasi, dan dokumentasi. Audit belum rutin dilakukan dan belum mencakup seluruh kasus prioritas. Integrasi data kultur ke dalam E-RASPRO belum optimal. Ketersediaan antibiogram belum representatif karena keterbatasan sampel kultur dan SDM mikrobiologi. Laporan PPRA telah dibuat secara berkala per triwulan, tetapi belum memuat indikator lengkap seperti Days Of Therapy (DOT), IV-to-PO, dan audit umpan balik. Kesimpulan: Implementasi PPRA di RS Hermina Jatinegara sudah berjalan namun belum optimal. Penguatan pembiayaan, kapasitas sampel mikrobiologi, kajian/audit rutin, integrasi data, serta pelatihan semua profesi diperlukan untuk meningkatkan konsistensi dan keberhasilan implementasi PPRA.

Background: Antimicrobial resistance is a global threat that has an impact on increased morbidity, mortality, and healthcare costs. Hermina Jatinegara Hospital is a private hospital designated as a type B hospital with general services as a referral hospital that plays an important role in preventing resistance through the implementation of the Antimicrobial Resistance Control Program (PPRA). Hermina Jatinegara Hospital has established key components of the PPRA, including PPRA policies, antibiotic usage guidelines, PPRA team, antibiotic grouping policies under the AWaRe framework, and an antibiotic approval system via E-RASPRO. Research Objectives: To analyze the implementation of the AMCP, optimize the role of hospital management in supporting prudent antibiotic use, and management strategies at Hermina Jatinegara Hospital. Specifically, it aims to analyze the implementation of guidelines and policies on antibiotic use, the level of compliance of medical personnel with antibiotic use guidelines, evaluate the effectiveness of the antibiotic use monitoring and evaluation system, the role of hospital management in supporting the implementation of PPRA, and improvement strategies to increase the effectiveness of PPRA and the quality of hospital services. Research method: This study used a qualitative design through in-depth interviews with hospital management, doctors, nurses, pharmacists, and the PPRA Team, FGDs, and document reviews. This study also used secondary data in the form of pharmacy prescription data, PPRA monitoring and evaluation reports containing compliance with PPAB, and germ resistance data from microbiology data. Research results: The results showed that PPRA regulations at Hermina Jatinegara Hospital were complete, including PPAB, PPRA Team Decree, AWaRe, and the antibiotic approval mechanism through E- RASPRO. However, implementation was not uniform across all units. Inappropriate antibiotic use was found in terms of duration, indication, and documentation. Audits have not been conducted routinely and do not cover all priority cases. The integration of culture data into E-RASPRO is not yet optimal. The availability of antibiograms is not representative due to limitations in culture samples and microbiology human resources. PPRA reports have been prepared quarterly, but do not yet include complete indicators such as Days Of Therapy (DOT), IV-to-PO, and feedback audits. Conclusion: The implementation of PPRA at Hermina Jatinegara Hospital is underway but is not yet optimal. Strengthening of funding, microbiology sample capacity, routine reviews/audits, data integration, and training for all professions are needed to improve the consistency and success of PPRA implementation.
Read More
B-2561
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Irmawati; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Jaslis Ilyas, Mardiati Nadjib, Arda Yunita Subardi, Mario Abet Nego
Abstrak:
Latar Belakang: Peningkatan penggunaan antibiotik dalam beberapa dekade terakhir telah memberikan dampak besar terhadap kesehatan masyarakat global. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance/AMR), berkontribusi terhadap meningkatnya angka kesakitan dan kematian, sekaligus menimbulkan beban ekonomi yang tinggi bagi sistem kesehatan. RSUD Kabupaten Bekasi sebagai rumah sakit rujukan daerah menghadapi tantangan serupa, ditandai dengan tingginya penggunaan antibiotik spektrum luas dan meningkatnya pola resistensi bakteri.  Berdasarkan antibiogram tahun 2024, angka MDRO untuk MRSA 22,22% dan ESBL 40%. Tujuan penelitian: Menilai implementasi Program Regulasi Antimikroba Sistem Prospektif (RASPRO) terhadap pola resistensi antimikroba dan efisiensi biaya penggunaan antibiotik, serta menganalisis peran tata kelola, sumber daya manusia, dan sistem monitoring evaluasi dalam mendukung program tersebut. Metode penelitian: Menggunakan desain kohort prospektif dengan pendekatan kuantitatif, membandingkan kondisi sebelum dan sesudah implementasi RASPRO. Subjek penelitian adalah pasien rawat inap yang mendapatkan terapi antibiotik di RSUD Kabupaten Bekasi dan memenuhi kriteria inklusi dalam penelitian ini. Data dianalisis melalui evaluasi pola penggunaan antibiotik (Defined Daily Dose/DDD), rasionalitas terapi berdasarkan metode Gyssens, serta analisis efisiensi biaya pembelian antibiotik. Hasil penelitian: Menunjukkan adanya perbaikan rasionalitas penggunaan antibiotik, penurunan penggunaan antibiotik spektrum luas tertentu, serta peningkatan biaya pengadaan antibiotik tertentu setelah implementasi RASPRO. Keberhasilan RASPRO juga sangat dipengaruhi oleh komitmen manajemen, kolaborasi tim PPRA, dan sistem audit prospektif yang konsisten. Kesimpulan: Implementasi RASPRO efektif dalam peningkatan rasionalitas penggunaan antibiotik namun dari segi biaya perlu adanya evaluasi faktor-faktor yang memengaruhi efisiensi dalam pembiayaan antibiotik.

Background: Antimicrobial resistance (AMR) represents a major challenge to the quality of healthcare services and hospital cost efficiency, largely driven by irrational antibiotic use. Bekasi District General Hospital implemented the Prospective Antimicrobial Regulation Program (RASPRO) as part of the Antimicrobial Resistance Control Program (PPRA) to optimize antibiotic use, reduce resistance, and improve cost efficiency. Research Objectives: Evaluate the impact of RASPRO implementation on antibiotic utilization patterns, appropriateness of therapy, antimicrobial resistance trends (antibiogram 2024), and antibiotic cost efficiency, while also analyzing the role of hospital governance and monitoring–evaluation systems in supporting program effectiveness. Research method: A prospective cohort study with a quantitative approach was conducted among hospitalized patients receiving antibiotic therapy before and after RASPRO implementation. Data were analyzed using indicators of antibiotic consumption, appropriateness of therapy assessed by the Gyssens method, antimicrobial resistance trends based on hospital antibiograms, and changes in antibiotic procurement costs. Research results:  demonstrated that RASPRO implementation improved the appropriateness of antibiotic use, reduced the utilization of broad-spectrum and restricted antibiotics, and achieved cost efficiency in antibiotic procurement. In addition, the program strengthened clinical governance through increased adherence to antibiotic use guidelines and optimization of the PPRA team’s role. Conclusion: The implementation of RASPRO has proven effective in improving the rational use of antibiotics. However, from a cost perspective, further evaluation is required to identify factors influencing the efficiency of antibiotic-related expenditures. Keywords: antimicrobial resistance; RASPRO; antibiotic stewardship; cost efficiency; hospital governance
Read More
B-2573
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Caslyn Jus; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, Sri Dyah Indherawati, Putri Nadia
Abstrak:
Persaingan rumah sakit swasta yang semakin ketat menuntut rumah sakit untuk memperkuat merek sebagai strategi dalam menarik dan mempertahankan pasien eksekutif atau non-JKN. RS Hermina Jatinegara menghadapi tantangan pada layanan rawat inap eksekutif, ditunjukkan oleh Bed Occupancy Rate (BOR) yang fluktuatif dan belum stabil pada ambang ideal, serta rendahnya konversi pasien dari rawat jalan eksekutif dan IGD eksekutif ke layanan rawat inap eksekutif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan Customer-Based Brand Equity (CBBE) berdasarkan model Keller, yang terdiri dari dimensi brand salience, brand performance, brand imagery, brand judgments, brand feelings, dan brand resonance, dengan keputusan pasien memilih layanan rawat inap eksekutif di RS Hermina Jatinegara. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel penelitian berjumlah 96 responden pasien eksekutif, terdiri dari 87 responden dari unit rawat jalan eksekutif dan 9 responden dari unit IGD eksekutif, yang dipilih dengan teknik consecutive sampling dan proportional sampling. Data primer dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert, sedangkan data sekunder diperoleh dari data operasional rumah sakit dan referensi pendukung. Analisis data dilakukan menggunakan SEM-PLS melalui pengujian outer model dan inner model. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keputusan pasien dalam memilih layanan rawat inap berada pada kategori baik. Seluruh dimensi CBBE juga menunjukkan persepsi yang baik, meskipun masih terdapat beberapa indikator yang perlu ditingkatkan, terutama pada aspek top of mind, kecepatan respons pelayanan, rasa aman, kebanggaan sosial, dan penghargaan personal. Nilai R-square sebesar 0,786 menunjukkan bahwa model mampu menjelaskan keputusan pasien sebesar 78,6%. Hasil uji bootstrap menunjukkan bahwa brand imagery berhubungan positif dan signifikan dengan keputusan pasien (p=0,023), demikian pula brand resonance (p=0,018). Sementara itu, brand salience, brand performance, brand feelings, dan brand judgments tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa citra merek dan keterikatan emosional pasien merupakan faktor utama yang berhubungan dengan keputusan pasien memilih layanan rawat inap eksekutif di RS Hermina Jatinegara. Oleh karena itu, rumah sakit perlu memperkuat repositioning citra sebagai rumah sakit umum modern, meningkatkan komunikasi clinical excellence, memperbaiki responsivitas layanan, serta membangun relationship marketing melalui layanan personal dan berkelanjutan bagi pasien eksekutif.

Increasing competition among private hospitals requires stronger brand development as a strategic effort to attract and retain executive or non-JKN patients. RS Hermina Jatinegara faces challenges in its executive inpatient services, as reflected in fluctuating Bed Occupancy Rate (BOR) performance that has not consistently reached the ideal standard, as well as the low conversion rate of patients from executive outpatient and emergency department services to executive inpatient care. This study aims to analyze the relationship between Customer-Based Brand Equity (CBBE), based on Keller’s model consisting of brand salience, brand performance, brand imagery, brand judgments, brand feelings, and brand resonance, and patients’ decision to choose executive inpatient services at RS Hermina Jatinegara. This study used a quantitative approach with a cross-sectional design. The sample consisted of 96 executive patients, including 87 respondents from the executive outpatient unit and 9 respondents from the executive emergency department, selected using consecutive sampling and proportional sampling techniques. Primary data were collected through a Likert-scale questionnaire, while secondary data were obtained from hospital operational records and supporting references. Data analysis was conducted using SEM-PLS through outer model and inner model testing. The results showed that patients’ decision to choose inpatient services was generally categorized as good. All CBBE dimensions also demonstrated positive patient perceptions, although several indicators still require improvement, particularly those related to top-of-mind awareness, service responsiveness, sense of security, social pride, and personal appreciation. The R-square value of 0.786 indicated that the model was able to explain 78.6% of the variance in patients’ decision-making. Bootstrap testing showed that brand imagery had a positive and significant relationship with patients’ decision-making (p = 0.023), as did brand resonance (p = 0.018). Meanwhile, brand salience, brand performance, brand feelings, and brand judgments did not show significant relationships. This study concludes that brand image and patients’ emotional attachment are the main factors associated with patients’ decision to choose executive inpatient services at RS Hermina Jatinegara. Therefore, the hospital needs to strengthen its repositioning as a modern general hospital, improve communication of clinical excellence, enhance service responsiveness, and develop relationship marketing through more personalized and continuous services for executive patients.
Read More
B-2600
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lanjar Sugiyanto; Pembimbing: Adang Bachtiar
B-447
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Pita Aprilia; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Purnawan Junadi, Susan Oktiwidya Ananda, Dian Trisnawati
Abstrak:
Persediaan farmasi harus dikelola dengan baik untuk kelancaran operasional dan keuangan rumah sakit. Sistem informasi dibutuhkan untuk mengelola persediaan farmasi agar memudahkan pengambilan keputusan dengan data yang akurat pada waktu yang tepat. RS Premier Jatinegara mengembangkan sistem persediaan baru yaitu RSDI yang menggabungkan informasi data perencanaan hasil analisis metode ABC-VEN dan MMSL, serta informasi terkini status tahap pemesanan obat. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur output dari penggunaan sistem RSDI yang ditinjau dari indikator efektivitas dan efisiensi. Penelitian dilakukan dengan operational research terhadap sampel obat hasil analisis ABC-VEN dan MMSL di Instalasi Farmasi RS Premier Jatinegara setelah dilakukan intervensi. Hasil analisis ABC diperoleh obat kategori A mewakili 70% dari total investasi. Jumlah non esensial mencapai 53% dari total obat secara keseluruhan. Obat kategori EA dan NA memiliki nilai investasi tertinggi yaitu 63%. Apabila obat kategori EA dan NA dikelola dengan baik maka sekitar 63% biaya investasi dapat dikendalikan. Hasil penelitian menunjukan angka kejadian kekosongan obat turun 57%. Kekosongan masih ada karena kondisi stok yang kosong di distributor yang tidak dapat dihindari oleh karena itu integrasi B2B dengan distributor perlu ditingkatkan. Namun nilai ITOR juga turun dari 7 kali menjadi 6 kali. Penyesuaian periode pengadaan, pengurangan lead time distributor dan pengurangan jumlah stok obat non esensial perlu dilakukan untuk meningkatkan efisiensi. Informan menyampaikan sistem RSDI membantu memprioritaskan pengadaan ketika obat vital, esensial atau kategori A kosong, mempercepat pengambilan keputusan, menghilangkan permintaan berulang, dan meningkatkan komunikasi antara Instalasi Farmasi-Gudang-Pengadaan. Penelitian diharapkan dapat dilanjutkan agar pencapaian efektivitas dan efisiensi persediaan semakin baik.

Pharmaceutical supplies must be managed well for smooth hospital operations and finances. Information systems are needed to manage pharmaceutical supplies to facilitate decision making with accurate data at the right time. Premier Jatinegara Hospital developed a new inventory system, namely RSDI. This research aims to measure the output from using the RSDI system in terms of indicators of effectiveness and efficiency. The research was carried out using operational research on drug samples resulting from ABC-VEN and MMSL analysis at the Pharmacy Department after the intervention. The results showed that total investment category A drugs is 70%. The number of non-essential drugs reaches 53%. EA and NA category drugs have the highest investment value 63%, if EA and NA category are managed well then around 63% of investment costs can be controlled. The research results showed that the incidence of stock out decreased by 57%. Stock out still exist due to unavailable stock at distributors which cannot be avoided, therefore B2B integration with distributors needs to be improved. However, the ITOR value also fell from 7 times to 6 times. Adjusting the procurement period, reducing distributor lead time, and reducing the amount of non-essential drug needs to be done to increase efficiency. Informants said that the RSDI system helps prioritize procurement when vital or category A drugs are out of stock, speeding up decision making, eliminating repetitive requests, and improving communication between the Pharmacy-Warehouse-Procurement. This research should be continued to achieve better inventory effectiveness and efficiency.
Read More
B-2424
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
NaniIndriana; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Jaslis Ilyas, Puput Oktamianti, Dwi Handriyani
Abstrak: Di Indonesia, upaya mengendalikan resistensi antimikroba salah satunya melalui dpembentukan Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) dan dibentuknya Permenkes no 8 Tahun 2015 tentang Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit. Penelitian ini bertujuan untuk menggali lebih dalam terhadap implementasi kebijakan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit dibandingkan antara rumah sakit pemerintah dengan rumah sakit swasta yaitu RS Persahabatan dan RS PMI, untuk selanjutnya dapat menjadi masukan dalam perumusan strategi pengendalian resistensi antimikroba yang efektif dan efisien di rumah sakit. Metode penelitian merupakan studi deskriptif dengan analisis kualitatif melalui wawancara mendalam dan telaah dokumen. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa Pelaksanaan Program Pengendalian Resistensi Antimikroba di Rumah Sakit Pemerintah lebih baik dari Rumah Sakit Swasta berdasarkan Permenkes No 8 Tahun 2015 tentang PPRA di Rumah Sakit. Saran yang diajukan adalah mempercepat peningkatan awwareness rumah sakit terhadap PPRA, Bagi RS Persahabatan dengan meningkatkan status tim menjadi Komite, bagi RS PMI dengan meningkatkan leadership tim PPRA. Kata kunci: PPRA, Resistensi Antimikroba, Rumah Sakit, Implementasi Kebijakan In Indonesia, an effort to control Antimicrobials Resistance at the hospital through the formation of Antimicrobials Resistance Control Commitee, and published Ministry of Health regulation no 8, 2015 about anti microbials resistance control program at the hospital. This research is to aim deeper The Implementation of The Regulation of Antimicrobials Resistance Control Program at the Hospital compare to public hospital with private hospital at Persahabatan Hospital and PMI Hospital, where next could be input in formulating the effective & efficient strategy of Antimicrobials Resistance Control at The Hospital. The research method is descriptive study with qualitative analysis through deep interview and studied document. The results concluded that the implementation of Antimicrobial Resistance Control Program in Government Hospital is better than Private Hospital based on Permenkes No. 8/2015 on PPRA at Hospital. The suggestion is to accelerate the increase of awareness of the hospital to PPRA, for Persahabatan Hospital by raising the status of the team to the Committee, for PMI Hospital by improving the leadership of PPRA team. Keywords: PPRA, Hospital, Antimicrobial Resistance, policy implementation
Read More
T-4949
Depok : FKM-UI, 2017
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Ekawati; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Helen Andriani, Wachyu Sulistiadi, Khiat Yulixar, Sri Mulyani
Abstrak:
Abstrak Unit Dose Dispensing (UDD) merupakan sistem distribusi obat di rumah sakit, di mana obat dikemas dalam bentuk dosis tunggal dan diserahkan kepada pasien untuk sekali pemakaian selama pengobatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai efektifitas dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilan pelaksanaan Unit Dose Dispensing di RS Hermina Bekasidengan menggunakan metode Technology Acceptance Model (TAM). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode potong lintang /cross sectional. Uji hipotesis dengan melakukan uji statistik univariat dan multivariat menggunakan Pearson Chi Square dengan sistem SPSS untuk melihat faktor-faktor yang berhubungan dan mempengaruhi implementasi sistem UDD dengan metode TAM. Penelitian menggunakan 100 sampel yang terdiri dari 5 profesi yaitu dokter spesialis anak, dokter umum, perawat, apoteker dan asisten apoteker. Pelaksanaan UDD di RS Hermina Bekasi yang merupakan Variabel Independent sedangkan Variabel Dependent adalah permodelan TAM yang terdiri dari 4 hal yang dinilai iatu persepsi kemudahan, persepsi manfaat , sikap penggunaan dan kecenderungan perilaku pengguna UDD. Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa Persepsi Kemudahan Penggunaan, Persepsi Manfaat yang didapatkan, Sikap terhadap penggunaan, dan Kecenderungan Perilaku menghasilkan nilai uji statistik yang signifikan bahwa terdapat pengaruh dan hubungan terhadap Pelaksanaan UDD. Sedangkan karakteristik responden yang terdiri dari Profesi, usia, jenis kelamin dan tingkat Pendidikan menujukan hanya kriteria usia dan profesi yang mempengaruhi terhadap pelaksanaan UDD. Sedangkan hasil dalam kepuasan pengguna didapatkan persersi kemudahan paling tinggi yang mempengaruhi kepuasan dari pengguna, dan ketidakpuasan terhadap pelaksanaan UDD berdampak pada kecenderungan perilaku yang tidak setuju apabila UDD tetap dilaksanakan selanjutnya. Kata kunci: unit dose dispensing, technology acceptance model, farmasi.

The Dose Dispensing Unit (UDD) is a drug distribution system in a hospital, where drugs are packaged in a single dose and given to the patient for one use during treatment. The purpose of this study was to assess the effectiveness and factors that influence the successful implementation of the Dose Dispensing Unit at the Secondary Hermina Hospital using the Technology Acceptance Model (TAM) method. This study uses a quantitative approach with cross sectional method. Hypothesis testing by performing univariate and multivariate statistical tests using Pearson Chi Square with the SPSS system to see the factors that are related and affect the implementation of the UDD system with the TAM method. The study used 100 samples consisting of 5 professions, namely pediatricians, general practitioners, nurses, pharmacists and pharmacist assistants. The implementation of UDD in RS Hermina Bekasi which is the Independent Variable while the Dependent Variable is a TAM modeling which consists of 4 things which are assessed, one is perceived ease, perceived usefulness, attitude of use and behavior tendencies of UDD users. Based on the results of the study showed that the perceived ease of use, perceived benefits, attitudes towards use, and behavioral tendencies resulted in a statistically significant test value that there was an influence and relationship to the implementation of UDD. Meanwhile, the characteristics of respondents which consisted of profession, age, gender and level of education indicated only the criteria of age and profession which influenced the implementation of UDD. While the results in user satisfaction obtained the highest level of convenience that affects user satisfaction, and dissatisfaction with the implementation of UDD has an impact on the tendency of behavior to disagree if the UDD is continued. Key words: unit dose dispensing, technology acceptance model, pharmacy
Read More
B-2452
Depok : FKM-UI, 2021
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Amelia Fauzia Rachim; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Ahmad Fauzi, Rakhmawati Caesaria
Abstrak:
Latar belakang: Infeksi yang bersinggungan terkait pelayanan kesehatan di Rumah Sakit adalah Health Care Associated Infection (HAIs) atau disebut dengan istilah Infeksi Terkait Pelayanan Kesehatan, telah menjadi salah satu masalah tinggi yang harus diselesaikan rumah sakit karena dapat meningkatkan angka kesakitan dan angka kematian. Adanya program pelaksanaan dan pengendalian infeksi yang berjalan tentunya akan menurunkan angka kejadian infeksi, namun kegiatan PPI juga membutuhkan dukungan sumber daya, sarana prasarana, anggaran, dan kebijakan. Tujuan penelitian: menganalisis pelaksanaan program pencegahan dan pengendalian infeksi di RS Kartika Husada Jatiasih. Metode:Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengambilan data primer melalui observasi, wawancara mendalam, dengan informan penelitian yaitu IPCLN, IPCN, Ketua Komite PPI, dan pihak Manajamen RS di RS Kartika Husada. Sementara itu, data sekunder berasal dari dokumen-dokumen di rumah sakit yang berkaitan dan mendukung penelitian ini. Hasil: penelitian disimpulkan pelaksanaan pencegahan dan pengendalian infeksi di RS Kartika Husada Jatiasih sudah sesuai dengan pedoman yang ada, namun kurangnya sumber daya manusia sejalan dengan kurang terlaksananya monitoring serta kurangnya pengetahuan pada pelaksanaan seperti kebersihan tangan Sebagian petugas belum melakukan sesuai standar dan capaian indikator yang ditargetkan.Saran yang dapat diberikan adalah melakukan Analisa beban kerja, mengadakan reward and punishment, serta membuat anggaran khusus pada program pencegahan dan pengendalian infeksi, sehingga dapat menghasilkan output dengan peningkatan mutu yang baik

An infection associated with hospital health care infection, called a health care associated infection, has been one of the high problems that hospitals have to deal with because it increases the number of pain and death. With existing program for administering and controlling infections, however, ppi activities also require resource support, infrastructure, budgets, and policies. The aim of the study to analyze the implementation of preventive and infectious programs at the husada husada hospital. Primary data retrieval by observation, in-depth interview, with research informants IPCLN, IPCN, the chairman of the ppi committee, and the hospital manager at kartika husada hospital. Meanwhile, secondary data came from documents at the hospital that linked and supported the study. Based on studies the implementation of prevention and infection control at the kartika husada was still followed by guidelines, but the lack of human resources was consistent with the lack of monitoring and lack of knowledge on practices such as the cleanliness of the hands of some officers had not done according to the standard and the aim of the indicators. The advice might be given is to analyze workload, execute reward and punishment, and set a specific budget on prevention and infection management programs, so that it can produce output with good improvement
Read More
B-2345
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indah Prihatin; Pembimbing: Atik Nurwahyuni; Penguji: Puput Oktamianti, Yulisar Khiat
Abstrak:
Rumah Sakit merupakan komponen penting dari sistem kesehatan untuk memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu untuk masyarakat, namun menjadi sistem dengan biaya kesehatan yang paling mahal. Peningkatan populasi usia lanjut, kemajuan teknologi, prevalensi kesalahan pengobatan, dan peningkatan pengeluaran untuk pengobatan dari tahun ke tahun menjadi alasan biaya kesehatan meningkat di seluruh dunia. Apoteker memiliki peran utama dalam menurunkan biaya melalui peninjauan aspek farmakoterapi pada pasien. Instalasi Farmasi merupakan salah satu penyumbang pendapatan terbesar di Rumah Sakit namun juga menghabiskan anggaran yang lebih tinggi dari pada biaya lain di Rumah Sakit melalui biaya obat. Sehingga kinerja Instalasi Farmasi menjadi salah satu kinerja yang harus diperhatikan, salah satunya melalui persentase Rasio Biaya Obat. Rasio Biaya Obat merupakan nilai persentase perbandingan antara total biaya obat dan BMHP Rumah Sakit dibandingkan dengan nilai pendapatan Rumah Sakit. Penelitian bertujuan untuk menganalisa pengendalian biaya obat di Rumah Sakit Hermina yang merupakan bagian dari perpektif keuangan dengan pendekatan Balanced Scorecard (BSC). Penelitian ini dilakukan menggunakan penelitian kualitatif jenis deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan data primer dengan wawancara mendalam berdasarkan pemetaan strategis yang timbul dari tiga perspektif lain yaitu perspektif pertumbuhan dan pembelajaran, perspektif bisnis internal, dan perspektif pelangggan serta menggunakan data sekunder dari laporan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Hermina. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata RS Hermina di tahun 2022 nilai rasio biaya obatnya masih belum mencapai standar yang ditentukan oleh korporasi. Perspektif pertumbuhan dan pembelajaran berkontribusi pada ketercapaian rasio biaya obat RS Hermina tahun 2022 secara tidak langsung. Perspektif proses bisnis internal berkontribusi pada ketercapaian rasio biaya obat RS Hermina tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beberapa parameter menunjukkan hasil yang baik, seperti kepatuhan penggunaan formularium, persentase biaya obat kadaluwarsa dan rusak, dan kejadian medication error terkait obat. Perspektif pelanggan kurang berkontribusi pada ketercapaian rasio biaya obat. Peningkatan pertumbuhan pelanggan lebih berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan pendapatan. Semua rumah sakit yang diteliti memiliki kinerja yang sesuai standar pada ketercapaian rata-rata diskon obat dan pendapatan farmasi, namun tidak ada yang mencapai target rasio biaya obat dan target profit margin. Sehingga diketahui bahwa standar rasio biaya obat yang ditetapkan saat ini belum menyesuaikan kemampuan dan beban rumah sakit.

Hospitals are an important component of the health system to provide quality health services to the community, yet they are the most costly health system. The increase in the elderly population, technological advances, prevalence of medication errors, and year-on-year increase in expenditure on medication are the reasons why healthcare costs are increasing worldwide. Pharmacists have a major role to play in reducing costs through reviewing pharmacotherapy aspects in patients. The Pharmacy Department is one of the largest contributors to the hospital's revenue but also spends more than any other department in the hospital through drug costs. So that the performance of the Pharmaceutical Installation is one of the performances that must be considered, one of which is through the percentage of the Drug Cost Ratio. Drug Cost Ratio is the percentage value of the ratio between the total cost of drugs and BMHP of the Hospital compared to the value of Hospital revenue. The study aims to analyze drug cost control at Hermina Hospital which is part of the financial perspective with the Balanced Scorecard (BSC) approach. This research was conducted using descriptive qualitative research with a case study approach. The data collection technique used primary data with in-depth interviews based on strategic mapping arising from three other perspectives, namely the growth and learning perspective, internal business perspective, and customer perspective and using secondary data from reports in the Hermina Hospital Pharmacy Installation. The results showed that on average Hermina Hospital in 2022 the value of its drug cost ratio still did not reach the standards set by the corporation. The growth and learning perspective contributes to the achievement of Hermina Hospital's drug cost ratio in 2022 indirectly. The internal business process perspective contributes to the achievement of the medicine cost ratio of Hermina Hospital in 2022. The results showed that several parameters showed good results, such as compliance with the use of formularies, the percentage of expired and damaged drug costs, and the incidence of drug-related medication errors. The customer perspective contributed less to the achievement of the drug cost ratio. Increased customer growth contributed more to increased revenue growth. All the hospitals studied performed within the standard on the achievement of average drug discount and pharmacy revenue, but none achieved the drug cost ratio target and profit margin target. Thus, it is known that the current drug cost ratio standard has not adjusted the ability and burden of the hospital.
Read More
B-2363
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Agnes Vianti; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Amal Chalik Sjaaf, Puput Oktamianti, Khafifah Any, Iing Icshan Hanafi
Abstrak:
Latar Belakang: RS Hermina Jatinegara adalah RS swasta yang ditetapkan menjadi RS dengan pelayanan anak sebagai layanan unggulan. Penetapan layanan unggulan ini dilakukan untuk menjaga keberadaan RS mengingat persaingan bisnis yang tinggi dengan adanya pertumbuhan jumlah RS baik swasta maupun pemerintah. Layangan unggulan anak ditetapkan di RS Hermina Jatinegara juga atas dasar riwayat RS yang sebelumnya merupakan RSIA dimana RS memiliki banyak sumber daya terkait pelayanan anak. Data rekam medis di RS Hermina Jatinegara menampilkan bahwa dalam kurun lima tahun terakhir didapatkan proporsi kunjungan pasien anak yang stabil baik rawat jalan maupun rawat inap. Tujuan penelitian: secara umum adalah tersusunnya rencana strategi pelayanan anak RS Hermina Jatinegara periode 2023-2027, secara khusus adalah teridentifikasi analisis situasi dan posisi RS, diperolehnya gambaran positioning RS, tersusunnya strategi yang tepat bagi RS Hermina Jatinegara untuk mengembangkan pelayanan kesehatan anak, ditetapkannya indikator kinerja yang tepat digunakan untuk mengevaluasi implementasi rencana strategi dengan pendekatan Balanced Scorecard, ditetapkannya target sesuai dengan indikator kinerja yang digunakan dan ditetapkannya aktivitas dan biaya yang dibutuhkan. Metode penelitian: Jenis data pada penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer berupa data kualitatif hasil wawancara mendalam (in depth interview) dan Consensus Decisions Making Group (CDMG) bersama informan. Data sekunder terdiri dari data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa laporan rekam medis dan laporan kinerja rumah sakit sedangkan data kualititatif adalah dokumen internal RS dan dokumen eksternal yaitu regulasi Pemerintah, literatur, hasil penelitian dan data pendukung lain. Hasil penelitian: visi dan misi RS mendukung rencana strategis pengembangan layanan anak. Analisis lingkungan internal dan eksternal dengan EFE Matrix dan IFE Matrix menunjukkan data yang mendukung untuk pengembangan. Hasil Matching Stage pada matriks IE menunjukkan posisi RS pada sel 1 di matriks IE, yaitu grow dan build sementara matriks TOWS menempatkan posisi RS pada future quadrant dengan SO strategies. Hasil QSPM dalam penentuan strategi prioritas menghasilkan urutan strategi sebagai berikut: pengembangan produk layanan kanker dan urologi anak, membuat jejaring rujukan dari FKTP dan FKRTL, pengembangan teknologi, redisain layout, promosi dan analisis unit cost. Strategi yang ada dilengkapi dengan 18 (delapan belas) KPI dengan target, aktivitas dan biaya masing-masing. Kesimpulan: rencana strategis yang dibuat lengkap dengan indikator sesuai BSC dan target akan mampu menjadi pedoman bagi RS dalam mewujudkan pelayanan anak sebagai layanan unggulan.

Background: Hermina Jatinegara Hospital is a private hospital that is designated as a hospital with children's services as a superior service. The determination of superior services is carried out to maintain the existence of hospitals considering the high business competition with the growth in the number of hospitals, both private and government. Children's flagship kites are set at Hermina Jatinegara Hospital also based on the history of the hospital which was previously an RSIA where the hospital has many resources related to children's services. Medical record data at Hermina Jatinegara Hospital shows that in the last five years, a stable proportion of pediatric patient visits, both outpatient and inpatient, has been obtained. Objesctives: In general, the preparation of a child service strategy plan for Hermina Jatinegara Hospital for the 2023-2027 period, specifically is the identification of the situation analysis and position of the hospital, obtaining an overview of hospital positioning, compiling the right strategy for Hermina Jatinegara Hospital to develop children's health services, the establishment of appropriate performance indicators used to evaluate the implementation of the strategy plan with an approach Balanced Scorecard, the setting of targets in accordance with the performance indicators used and the determination of activities and costs needed. Method: The types of data in this study are primary data and secondary data. Primary data is qualitative data from in-depth interviews and Consensus Decisions Making Group (CDMG) with informants. Secondary data consists of quantitative data and qualitative data. Quantitative data is in the form of medical record reports and hospital performance reports while qualitative data are internal hospital documents and external documents, namely government regulations, literature, research results and other supporting data. Results: the vision and mission of the hospital supports the strategic plan for the development of children's services. Analysis of the internal and external environment with EFE Matrix and IFE Matrix shows favorable data for development. The Matching Stage result in the IE matrix shows the RS position in cell 1 in the IE matrix, namely grow and build while the TOWS matrix places the RS position in the future quadrant with SO strategies. The results of QSPM in determining priority strategies resulted in the following sequence of strategies: development of children's cancer and urology service products, creating referral networks from FKTP and FKRTL, technology development, layout design, promotion and analysis of unit cost. The existing strategy is equipped with 18 (eighteen) KPIs with their respective targets, activities and costs. Conclusion: the strategic plan made complete with indicators according to BSC and targets will be able to become a guideline for hospitals in realizing children's services as superior services
Read More
B-2382
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive