Ditemukan 31068 dokumen yang sesuai dengan query :: Simpan CSV
Salma Rizkia Kamila; Pembimbing: Trisari Anggondowati; Penguji: Putri Bungsu, Maptuha
Abstrak:
Read More
Indonesia merupakan negara dengan beban penyakit Tuberkulosis terbesar kedua di Dunia dalam kurun waktu 3 tahun terakhir dengan penderitanya didominasi oleh usia pekerja/produktif (15–64 tahun). Kementerian Ketenagkerjaan memberikan respon dengan menginisiasi Program Skrining Mandiri Tuberkulosis di Tempat Kerja guna memperkuat deteksi dini pada pekerja. Penelitian ini bertujuan menggambarkan distribusi hasil skrining berupa persebaran status terduga dan gambaran faktor risiko individu serta meninjau implementasi program dan mekanisme tindak lanjutnya menggunakan pendekatan studi mixed methods. Komponen kuantitatif menggunakan desain potong lintang memanfaatkan data sekunder Formulir Skrining Mandiri Tuberkulosis 2025 yang dianalisis secara deskriptif disertai analisis lanjutan. Komponen kualitatif dilakukan dengan wawancara mendalam kepada pemangku kebijakan dan perwakilan sektor perusahaan menggunakan purposive sampling. Dari 36.115 pekerja yang mengikuti skrining, sebanyak 6.566 (18,2%) terklasifikasi sebagai terduga Tuberkulosis. Penentuan status terduga didasarkan pada gejala klinis yang merujuk pada Tuberkulosis seperti batuk, demam hilang timbul, atau batuk disertai darah. Gejala dominan pada kelompok terduga adalah batuk (64,2%) dan penurunan berat badan (31,1%). Analisis bivariat menunjukkan kemungkinan terduga Tuberkulosis lebih tinggi pada pekerja laki-laki (OR: 1,49; 95% CI: 1,38–1,60), pekerja dengan riwayat Diabetes Mellitus (OR: 4,46; 95% CI: 3,58–5,59), status gizi kurus (OR: 2,61; 95% CI: 2,24–3,05), perokok aktif (OR: 1,81; 95% CI: 1,72–1,91)), serta sektor berisiko tinggi (OR: 1,25; 95% CI: 1,17–1,35) seperti pertambangan penggalian dan konstruksi. Temuan kualitatif mengindikasikan bahwa pelaksanaan program masih menghadapi kendala integrasi lintas sektor, keterbatasan anggaran dan sumber daya, serta kualitas instrumen dan sistem informasi. Studi ini mengindikasikan diperlukan adanya perbaikan dari sisi implementasi guna memaksimalkan hasil skrining serta pelaksanaan program kedepannya.
Indonesia is the world’s second-highest tuberculosis (TB) burden country according to the WHO Global Report 2025, with most patients in the working age population (15–64 years). In response, the Ministry of Manpower initiated a workplace TB self-screening program to strengthen early detection among workers. This study aimed to describe the distribution of screening outcomes, including the prevalence of presumptive TB and individual risk factors, and to assess program implementation also the follow up mechanisms using a mixed-methods approach. The quantitative component employed a cross sectional design using secondary data from the 2025 TB Self-Screening Form, analyzed with univariate statistics and additional analyses. The qualitative component comprised indepth interviews with policymakers and company representatives selected through purposive sampling. Among 36,115 screened workers, 6,566 (18.2%) were classified as presumptive TB. The most common symptoms among presumptive cases were cough (64.2%) and unintentional weight loss (31.1%). Bivariate analysis showed higher odds of presumptive TB among male workers (OR 1.49; 95% CI 1.38–1.60), those with a history of Diabetes Mellitus (OR 4.46; 95% CI 3.58–5.59), underweight workers (OR 2.61; 95% CI 2.24–3.05), current smokers (OR 1.81; 95% CI 1.72–1.91), and workers in high risk sectors (OR 1.25; 95% CI 1.17–1.35). Qualitative findings indicated challenges in cross-sector integration, limited funding and resources, and weaknesses in the screening instrument and information systems, suggesting the need for implementation improvements to optimize screening outcomes and future program phases.
S-12157
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Siti Maimanah Lubis; Pembimbing: Rizka Maulida; Penguji: Trisari Anggondowati, Radhiana Purisanti
Abstrak:
Read More
Kanker leher rahim masih menjadi masalah kesehatan utama pada perempuan di Indonesia sehingga program deteksi dini dengan metode HPV DNA co-testing IVA mulai diimplementasikan sejak 2023 dan diperluas secara nasional pada 2025. Penelitian ini bertujuan menggambarkan hasil skrining kanker leher rahim di Provinsi DKI Jakarta tahun 2023–2025 berdasarkan waktu, wilayah, kelompok usia, dan tindak lanjut kasus. Penelitian menggunakan desain cross-sectional deskriptif dengan data sekunder program deteksi dini kanker leher rahim terhadap 238.619 perempuan yang menjalani skrining HPV DNA dan IVA. Kriteria inklusi meliputi seluruh perempuan dengan data hasil skrining lengkap periode 2023–2025, sedangkan data duplikat dan tidak lengkap dikeluarkan dari analisis. Hasil penelitian menunjukkan partisipasi skrining meningkat signifikan, sementara proporsi HPV positif menurun dari 5,43% (CI 95% 5,01-5,85) menjadi 2,6% (CI 95% 2,47-2,63) dan IVA positif dari 1,8% (CI 95% 1,56-2,06) menjadi 0,8% (CI 95% 0,77-0,85). Kasus positif paling banyak ditemukan pada usia 30–39 tahun dan
Cervical cancer remains a major health problem among women in Indonesia, leading to the implementation of the HPV DNA and VIA co-testing screening program in 2023, which was expanded nationally in 2025. This study aimed to describe the results of cervical cancer screening in DKI Jakarta from 2023–2025 based on time distribution, region, age group, and follow-up management. A descriptive cross-sectional study was conducted using secondary data from the cervical cancer early detection program involving 238,619 women who underwent HPV DNA and VIA screening. Inclusion criteria included all women with complete screening result data from 2023–2025, while duplicate and incomplete data were excluded from the analysis. The results showed a significant increase in screening participation, while the proportion of HPV-positive cases decreased from 5.43% (95% CI 5.01–5.85) in 2023 to 2.6% (95% CI 2.47–2.63) in 2025, and VIA-positive cases decreased from 1.8% (95% CI 1.56–2.06) to 0.8% (95% CI 0.77–0.85). Positive cases in both screening methods were most found among women aged 30–39 years and
S-12256
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Nadhira Kannitha Putri; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Syahrizal Syarief, Retno Kusuma Dewi
Abstrak:
Penelitian ini melihat hasil pengobatan pasien TB RO serta faktor faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO di Indonesia pada tahun 2017 sampai 2019 dengan menggunakan desain cross sectional. Menggunakan data pasien dari e-TB Manager berumur ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatannya tahun 2017-2019. Terdapat 3822 kasus dengan sembuh sebanyak 35,5%, pengobatan lengkap sebanyak 4,7%, putus berobat sebanyak 32,8%, meninggal sebanyak 17,7%, gagal sebanyak 6,9%, perubahan diagnosis 1,2%, dan lainnya 8%. Jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, aksesibilitas geografis ke fasilitas pelayanan kesehatan secara statitsik tidak memiliki hubungan yang bermakna dengan hasil pengobatan. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan TB RO adalah usia (PR 1,328; 95% CI 1,773 - 2,332), pasien XDR (PR 1,353; 95% 1,225-1,494), pasien pre XDR (PR 1,234; 95% CI 1,145-1,330) pasien MDR (PR 0,869; 95% CI 0,8110,930), dan interval inisiasi pengobatan >7 hari (PR 1,069; 95% CI 1,002-1,140).
Read More
S-10788
Depok : FKM-UI, 2021
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Aurora Intan Maghfira; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Read More
Penyakit tidak menular (PTM) merupakan masalah kesehatan utama sehingga deteksi dini melalui program skrining menjadi strategi penting. Namun, pemetaan capaian dan pola faktor risiko hasil skrining PTM di Provinsi Jakarta masih terbatas. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan program skrining PTM di Provinsi Jakarta tahun 2020-2024 menurut tahun, jenis kelamin, dan wilayah kota di Provinsi Jakarta tahun 2020–2024. Studi menggunakan desain epidemiologi deskriptif dengan rancangan ekologi berbasis data agregat Dinas Kesehatan Provinsi Jakarta menurut tahun, jenis kelamin, dan lima wilayah kota. Hasil menunjukkan capaian skrining meningkat tajam dari 38,8% (2020) menjadi 99,1% (2021), mencapai 100% (2022), dan melampaui 100% pada 2023–2024 (100,4% dan 101,4%). Jumlah peserta skrining juga naik dari 2.746.144 (2020) menjadi 7.865.422 (2024), dengan mayoritas peserta perempuan (53,5%–56,1%). Tiga faktor risiko terbanyak secara konsisten adalah obesitas sentral, obesitas, dan tekanan darah tinggi. Pada 2024, proporsi obesitas sentral mencapai 45,5%, diikuti obesitas 32,0% dan tekanan darah tinggi 25,2%, dengan pola tiga faktor risiko teratas yang relatif serupa di seluruh wilayah kota. Penelitian ini menyimpulkan bahwa obesitas sentral dan obesitas masih tinggi di Provinsi Jakarta sehingga diperlukan penguatan intervensi promotif–preventif yang lebih terarah menurut kelompok sasaran dan wilayah.
Non-communicable diseases (NCDs) represent a major public health concern; therefore, early detection through screening programmes is a critical strategy. However, evidence mapping screening coverage and the patterns of NCD risk factors identified through screening in Jakarta Province remains limited. This study aimed to describe the NCD screening programme in Jakarta Province from 2020 to 2024 by year, sex, and municipal area. A descriptive epidemiological study with an ecological design was conducted using aggregated data from the Jakarta Provincial Health Office by year, sex, and five municipal areas. The results showed that screening coverage increased sharply from 38.8% (2020) to 99.1% (2021), reached 100% (2022), and exceeded 100% in 2023–2024 (100.4% and 101.4%). The number of individuals screened also increased from 2,746,144 (2020) to 7,865,422 (2024), with females comprising the majority of participants (53.5%–56.1%). The three most frequently identified risk factors were consistently central obesity, obesity, and hypertension. In 2024, the proportion of central obesity reached 45.5%, followed by obesity at 32.0% and hypertension at 25.2%, with a broadly similar pattern of the top three risk factors across all municipal areas. The study concludes that central obesity and obesity remain high in Jakarta Province, underscoring the need to strengthen more targeted health promotion and preventive interventions by population group and area.
S-12210
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Ira Candra Kirana; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Rizka Maulida, Sulistyo
Abstrak:
ABSTRAK Upaya pengendalian TB-MDR telah dilakukan, namun hasil akhir pengobatan pasien TBMDR masih merupakan permasalahan terkini yang perlu diselesaikan. Di Indonesia, terjadi penurunan angka keberhasilan pengobatan pasien TB resistan obat sejak lima tahun terakhir, yaitu kisaran 68%-46%, sedangkan hasil pengobatan yang buruk lebih fluktuatif dan masih tinggi yaitu kisaran 28%-47%. Penelitian ini menggunakan desain kohort retrospektif dan bertujuan untuk mengetahui gambaran dan faktor-faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan pasien TB-MDR di Indonesia. Data yang digunakan adalah data pasien TB-MDR yang berusia ≥15 tahun yang memulai pengobatan antara Januari 2013-Desember 2015 yang teregister dalam e-TB Manager. Didapatkan 1.683 kasus dengan 49,7% pasien TB-MDR yang sembuh, 2,7% pengobatan lengkap, 14,1% meninggal dunia, 4,4% gagal pengobatan, dan 29,1% loss to follow up. Analisis bivariat dilakukan untuk mengidentifikasi faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan buruk yang didefinisikan sebagai kematian, gagal, atau loss to follow up. Dalam penelitian ini didapatkan faktor risiko terhadap hasil pengobatan buruk adalah usia diatas 45 tahun (RR 1.32; 95%CI 1.20-1.46), resistansi OAT R, H disertai E dan/atau S dan/atau Z (RR 34.1; 95%CI 8.24-141.0), resistansi OAT lini 1 disertai OAT injeksi lini 2 dan/atau florokuinolon (RR 32; 95%CI 7.9-134.0), kavitas paru (RR 1.21; 95%CI 1.00- 1.44), interval inisiasi pengobatan > 30 hari (RR 1.11; 95%CI 1.00-1.24), dan tempat tinggal di wilayah pedesaan (RR 1.15; 95%CI 1.02-1.30). Sedangkan faktor protektor terhadap hasil pengobatan buruk adalah paduan standar OAT TB-MDR (RR 0.73; 95% CI 0.59-0.91). Kata kunci: TB MDR, Hasil Pengobatan, Indonesia Efforts to control MDR-TB have been done, but treatment outcome of MDR-TB patients remains a current issue that needs to be resolved. In Indonesia, success rate was declining in the last five years, from 68%-46%, whereas poor treatment results are more fluctuative and still high at 28%-47%. This cohort retrospective study was conducted to analyze the characteristics and factors influencing treatment outcomes of MDR-TB patients in Indonesia. This research was use data from e-TB Manager and included all MDR-TB patients who were ≥15 years and starting treatment between January 2013 and December 2015. Overall, 1.683 MDR-TB patients were included, 49.7% recovered, 2.7% complete treatment, 14.1% died, 4.4% treatment failure, and 29.1% loss to follow up. A bivariate analysis was used to identify risk factors for poor treatment outcomes, which were defined as death, treatment failure, or loss to follow up. The risk factors for poor treatment outcome were age above 45 years (RR 1.32, 95% CI 1.20-1.46), patients who are resistant first lines TB drugs (RR 34.1; 95% CI 8.24 -141.0) and first lines TB drugs + 2nd lines injection and/or fluoroquinolone (RR 32; 95% CI 7.9-134.0), lung cavity (RR 1.21, 95% CI 1.00-1.44), treatment initiation interval > 30 days (RR 1.11; 95% CI 1.00-1.24), and residence in rural areas (RR 1.15; 95% CI 1.02-1.30). While the protector factor for poor treatment outcome is standardized regimen (RR 0.73; 95% CI 0.59-0.91). Keywords: TB MDR, Treatment Outcome, Indonesia
Read More
S-9849
Depok : FKM-UI, 2018
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Sandrina Hagja Salsabila; Pembimbing: Dwi Gayatri; Penguji: Trisari Anggondowati, Nining Mularsih
Abstrak:
Read More
Stroke merupakan salah satu penyebab utama kematian dan kecacatan secara global. Kejadian maupun risiko komplikasi stroke dapat dicegah melalui pengendalian faktor risiko dan komorbid. Meskipun skrining penyakit tidak menular (PTM) memegang peran krusial dalam pencegahan primer maupun tersier, evaluasi program ini di Indonesia dan Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta umumnya masih terbatas pada lingkup fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aspek fisiologis (hipertensi dan hiperglikemia) dan stroke berdasarkan aspek epidemiologi (waktu, tempat, dan orang), serta menjelaskan korelasi antar faktor risiko dan komorbiditas pada populasi skrining PTM DKI Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain studi ekologi dengan data agregat sekunder dari Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta tahun 2020-2024. Analisis dengan jenis kelamin serta wilayah kota administrasi meliputi analisis tren, pemetaan kota, dan uji korelasi Spearman Rank untuk data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan tren pemulihan partisipasi masif pasca pandemi Covid-19 hingga mencapai lebih dari 7 juta partisipan pada tahun 2024. Terdapat kontribusi partisipasi skrining konsisten dengan dominasi perempuan (53–56%) serta konsentrasi terbesar di Jakarta Timur. Secara wilayah kota, ditemukan tren yang berbeda dengan Jakarta Selatan konsisten memiliki beban hipertensi tertinggi. Sementara itu, beban hiperglikemia menunjukkan tren kenaikan di Jakarta Selatan dan Timur, berbeda dengan penurunan di Jakarta Pusat dan Utara. Meskipun partisipasi laki-laki lebih rendah, kelompok ini menunjukkan kerentanan lebih tinggi dengan beban penyakit yang lebih besar. Hasil penelitian menemukan bahwa beban hipertensi memiliki hubungan korelasi yang kuat dengan proporsi temuan stroke pada seluruh populasi (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), berbeda dengan beban hiperglikemia yang tidak berkorelasi pada populasi umum maupun pada setiap jenis kelamin. Beban hipertensi konsisten pada kedua jenis kelamin dengan korelasi pada laki-laki (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) tercatat lebih kuat dibandingkan perempuan (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Oleh karena itu, diperlukan strategi intervensi yang gender-responsive serta pendekatan berbasis wilayah untuk mengendalikan beban penyakit di wilayah dengan risiko tinggi.
Stroke is a leading cause of death and disability globally. Both the incidence and risk of stroke complications can be prevented through control of risk factors and comorbidities. Although non-communicable diseases (NCDs) screening plays a crucial role in primary and tertiary prevention, evaluation of this program in Indonesia and Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta is generally limited to healthcare facilities. Therefore, this study aims to describe the burden of risk (hypertension and hyperglycemia) and stroke based on epidemiological aspects (time, place, and person), and to demonstrate the correlation between risk factors and comorbidities in the NCDs screening population of DKI Jakarta. This study used an ecological study design with secondary aggregate data from the DKI Jakarta Provincial Health Office for 2020-2024. Analysis by gender and administrative city area included trend analysis, city mapping, and Spearman Rank correlation test for non-normally distributed data. The results showed a trend of massive participation recovery after the Covid-19 pandemic, reaching more than 7 million participants by 2024. There was a consistent contribution to screening participation, with a female predominance (53–56%) and the largest concentration in East Jakarta. By city region, the burden shows a different pattern, with South Jakarta consistently having the highest hypertension burden. Meanwhile, the burden of hyperglycemia shows an increasing trend in South and East Jakarta, in contrast to a decrease in Central and North Jakarta. Despite lower male participation, this group demonstrates higher vulnerability with a greater burden of disease findings. The study found that the burden of hypertension was strongly correlated with stroke findings proportion in the population (r= 0,677; 95% CI= 0,354 – 0,845), in contrast to the burden of hyperglycemia findings, which did not correlate in the general population or in either sex. The pattern of hypertension findings was consistent across both sexes, with a stronger correlation in men (r= 0,718; 95% CI= 0,440 – 0,844) than in women (r= 0,537; 95% CI= 0,182 – 0,772). Therefore, gender-responsive intervention strategies and area-based approaches are needed to control the disease burden in high-risk areas.
S-12211
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Affan Priyambodo Permana; Promotor: Asri C. Adisasmita; Kopromotor: Sudarto Ronoatmodjo, Setyo Widi Nugroho; Penguji: Besral, Hadi Pratomo, Al Rasyid, Muhamad Thohar Arifin, Syahrul
Abstrak:
Read More
Trombektomi mekanik telah menjadi standar tata laksana stroke iskemik akut akibat oklusi pembuluh darah besar, namun belum tersedia sistem skoring prediktor luaran 90 hari yang dikembangkan dan divalidasi di Indonesia. Pengembangan sistem skoring nasional perlu mempertimbangkan baik faktor klinis individu maupun konteks sistem layanan stroke akut. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan sistem skoring prediktor keberhasilan trombektomi mekanik hari ke-90 yang merefleksikan determinan multilapis di Indonesia. Penelitian ini menggunakan desain mixed-methods sequential explanatory di dua rumah sakit rujukan nasional (RSUPN Cipto Mangunkusumo dan RSPON Mahar Mardjono) periode 2017–2025. Fase kuantitatif menggunakan kohort retrospektif berbasis rekam medis (n=234) dengan analisis Cox regression backward stepwise dan pengembangan sistem skoring. Fase kualitatif menggunakan studi kasus ganda dengan empat sesi Focus Group Discussion (FGD) dan mini-FGD yang melibatkan 48 peserta klinis multidisiplin (kelompok IGD dan kelompok Operator). Analisis kualitatif menggunakan framework analysis dengan keabsahan dijaga melalui kriteria trustworthiness. Hasil luaran fungsional baik (mRS 0–3) hari ke-90 dicapai 47% subjek dengan mortalitas 21,8%. Analisis multivariat mengidentifikasi delapan prediktor independen yang dikonversi menjadi sistem skoring 0–148 poin: jenis kelamin laki-laki, ASPECTS >6, alat stent, rekanalisasi mTICI 2B–3, tidak transformasi perdarahan, tidak transformasi malignan, tidak pneumonia, dan tidak gangguan ginjal akut. Sistem skoring memiliki diskriminasi baik (apparent AUC 0,769; 95% CI 0,710–0,828; optimism-corrected AUC 0,739) dan kalibrasi baik (Hosmer-Lemeshow p=0,681). Pada cut-off 120 (Youden Index 0,426), didapatkan sensitivitas 70% dan spesifisitas 72,6%, dengan post-test probability 69% pada skor ≥120 dan 26% pada skor
Mechanical thrombectomy has become standard of care for acute ischemic stroke due to large-vessel occlusion, but no Indonesian-developed and validated 90-day outcome prediction score is currently available. National score development must consider both individual clinical factors and the broader acute stroke service system context. To develop a prediction score for 90-day mechanical thrombectomy success that reflects multi-layered determinants in the Indonesian setting. This study used a sequential explanatory mixed-methods design at two national referral hospitals (RSUPN Cipto Mangunkusumo and the National Brain Center Hospital Mahar Mardjono, Jakarta) from 2017 to 2025. The quantitative phase used a retrospective medical-record cohort (n=234) with Cox regression backward stepwise analysis and score development. The qualitative phase used a multiple case study design (Yin, 2018) with four group-discussion sessions (FGD and mini-FGD) involving 48 multidisciplinary clinical participants (Emergency Department and Operator groups). Qualitative analysis used framework analysis with trustworthiness ensured through Lincoln & Guba's four criteria. Good functional outcome (mRS 0–3) at 90 days was achieved in 47% of subjects, with 21.8% mortality. Multivariate analysis identified eight independent predictors converted into a 0–148-point score: male sex, ASPECTS >6, stent device, mTICI 2B–3 recanalization, absence of hemorrhagic transformation, absence of malignant transformation, absence of pneumonia, and absence of acute kidney injury. The score showed good discrimination (apparent AUC 0.769; 95% CI 0.710–0.828; optimism-corrected AUC 0.739) and calibration (Hosmer-Lemeshow p=0.681). At the 120 cut-off (Youden Index 0.426), sensitivity was 70% and specificity 72.6%, with post-test probability of 69% at scores ≥120 and 26% at scores
D-637
Depok : FKM-UI, 2026
S3 - Disertasi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Winona Margareth Cindy Teresa Aipipidely; Pembimbing: Lhuri Dwianti Rahmartani; Penguji: Renti Mahkota, Sulistyo
Abstrak:
Read More
Latar Belakang: Tuberkulosis (TB) masih menjadi masalah kesehatan global dan Indonesia menempati peringkat kedua dengan beban TB tertinggi di dunia. Balita merupakan kelompok rentan karena sistem imun yang belum matang, sehingga infeksi TB pada balita dapat memengaruhi status gizi. Status gizi balita berperan penting dalam menentukan kesehatan dan kemampuan tubuh melawan infeksi. Balita dengan TB berisiko mengalami penurunan status gizi, sementara gizi buruk dapat memperburuk perjalanan penyakit. Tujuan: Mengetahui gambaran status gizi balita penderita TB di Indonesia. Metode: Penelitian cross-sectional ini menggunakan data 1.030 balita penderita tuberkulosis dari SSGI 2024. Status gizi balita sebagai variabel dependen diukur menggunakan indikator Berat Badan menurut Tinggi Badan/Panjang Badan (BB/TB atau BB/PB). Analisis bivariat deskriptif dilakukan untuk menggambarkan perbedaan distribusi status gizi berdasarkan faktor lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan, dan faktor individu, dengan uji chi-square. Nilai p digunakan untuk menunjukkan signifikansi perbedaan distribusi antar kategori variabel. Hasil: Dari 1.030 balita penderita TB yang dianalisis, 17,4% memiliki status gizi kurang, 75% gizi normal, dan 6,7% gizi lebih. Proporsi gizi kurang secara signifikan lebih tinggi pada balita dengan riwayat berat badan lahir rendah (25,1%) dibandingkan balita tanpa riwayat BBLR (15,3%) (p-value = 0,022), serta pada balita yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (21,6%) dibandingkan balita yang mendapatkan ASI eksklusif (10,7%) (p-value = 0,013). Variabel lain, yaitu jenis kelamin, usia, pendidikan orang tua, status imunisasi, pemantauan perkembangan, dan perilaku konsultasi gizi, tidak menunjukkan perbedaan signifikan terhadap status gizi balita. Secara geografis, proporsi gizi kurang tertinggi ditemukan di Papua (29,2%) dan secara signifikan lebih tinggi di wilayah pedesaan dibandingkan wilayah perkotaan (p-value = 0,040). Kesimpulan: Upaya perbaikan perlu diarahkan pada penguatan dukungan ASI, pemantauan dan intervensi khusus bagi bayi BBLR, peningkatan akses gizi dan layanan kesehatan di wilayah pedesaan.
Background: Tuberculosis (TB) remains a major global health problem, and Indonesia ranks second among countries with the highest TB burden worldwide. Children under five are a vulnerable group due to their immature immune systems, making TB infection in this age group more likely to affect nutritional status. Nutritional status plays a critical role in determining health outcomes and the body’s ability to fight infection. Children with TB are at increased risk of experiencing nutritional decline, while poor nutritional status can further worsen the progression of the disease. Objective: To describe the nutritional status of children under five with tuberculosis in Indonesia Methods: This cross-sectional study used data from 1,030 children under five with tuberculosis from SSGI 2024. Nutritional status of the children, as the dependent variable, was measured using the Weight-for-Height/Length (WH/L) indicator. Descriptive bivariate analysis was conducted to illustrate differences in the distribution of nutritional status based on environmental factors, behaviors, healthcare services, and individual factors, using the chi-square test. The p-value was used to indicate the significance of differences in distribution across variable categories. Results: Among the 1,030 children analyzed, 17.4% had undernutrition, 75% had normal nutrition, and 6.7% were overweight. The proportion of undernutrition was significantly higher among children with a history of low birth weight (25.1%) than among those without low birth weight (15.3%) (p-value = 0.022), and among children who did not receive exclusive breastfeeding (21.6%) than among those who received exclusive breastfeeding (10.7%) (p-value = 0.013). Other variables, including sex, age, parental education, immunization status, growth monitoring, and nutrition consultation behavior, did not show significant differences in nutritional status. Geographically, the highest proportion of undernutrition was observed in Papua (29.2%) and was significantly higher in rural areas than in urban areas (p-value = 0,040). Conclusion: Improvement efforts should focus on strengthening support for exclusive breastfeeding, enhancing monitoring and targeted interventions for low-birth-weight infants, and improving access to nutrition and health services in rural areas.
S-12188
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Rina Agustina; Pembimbing: Yovsyah; Penguji: Rizka Maulida, Sulistyo
Abstrak:
Kasus TB RO menyebabkan beban pengendalian penyakit TB menjadi bertambah. Adanya penurunan angka keberhasilan pengobatan dari tahun 2010 (67,9%) menjadi 51,1% tahun 2013 dan peningkatan kasus pasien putus berobat mendorong Indonesia menerapkan pengobatan jangka pendek untuk meningkatkan angka keberhasilan pengobatan TB RO dan menurunkan kasus pasien putus berobat. Penelitian ini melihat hasil pengobatan TB RO dan faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek di Indonesia tahun 2017 menggunakan desain penelitian kohort retrospektif. Menggunakan data pasien TB RO yang tercatat dalam e-TB manager berusia ≥15 tahun yang telah menyelesaikan pengobatan regimen pendek maksimal pada bulan November 2018. Didapatkan 223 kasus dengan 46,6% sembuh, 26,5 % putus berobat, 4,9% pengobatan lengkap, 14,2 meninggal, 6,3% gagal dan 1,3% lainnya. Usia, jenis kelamin, riwayat pengobatan sebelumnya, jenis resistensi, status HIV, status diabetes mellitus dan status kavitas paru secara statistik tidak berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek. Faktor yang berhubungan dengan hasil pengobatan regimen pendek ialah resisten terhadap amikasin (RR 7.4; 95% CI 4.68- 17.29), ofloksasin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), dan kanamisin (RR 9; 95% CI 4.68- 17.29), dan interval inisiasi pengobatan > 7 hari (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
Kata kunci: hasil pengobatan; pengobatan jangka pendek; TB RO
The case of drug-resistant tuberculosis causes the burden of controlling TB disease to increase. The decline in treatment success rates from 2010 (67.9%) to 51.1% in 2013 and an increase in cases of patients dropped out encouraged Indonesia to apply shortterm treatment to increase the success rate of DR-TB treatment and reduce cases of patients dropped out. This study aims to look the results of DR-TB treatment and factors related to treatment outcomes for short regimens in Indonesia in 2017 using a retrospective cohort study design. Using data on DR-TB patients recorded in the e-TB manager aged ≥15 years who have completed treatment for the maximum short regimen in November 2018. There were 223 cases with 46.6% cured, 26.5% dropped out, 4.9% completed, 14.2 died, 6.3% failed and 1.3% others.. Age, gender, previous treatment history, type of resistance, HIV status, DM status and lung cavity status were not statistically related to the results of treatment of short regimens. Factors related to the results of treatment of short regimens were resistant to amikacin (RR 7.4; 95% CI 4.68-17.29), ofloxacin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), kanamycin (RR 9; 95% CI 4.68- 17.29), and treatment initiation interval >7 days (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
Key words: treatment outcomes; short-term treatment; DR-TB
Read More
Kata kunci: hasil pengobatan; pengobatan jangka pendek; TB RO
The case of drug-resistant tuberculosis causes the burden of controlling TB disease to increase. The decline in treatment success rates from 2010 (67.9%) to 51.1% in 2013 and an increase in cases of patients dropped out encouraged Indonesia to apply shortterm treatment to increase the success rate of DR-TB treatment and reduce cases of patients dropped out. This study aims to look the results of DR-TB treatment and factors related to treatment outcomes for short regimens in Indonesia in 2017 using a retrospective cohort study design. Using data on DR-TB patients recorded in the e-TB manager aged ≥15 years who have completed treatment for the maximum short regimen in November 2018. There were 223 cases with 46.6% cured, 26.5% dropped out, 4.9% completed, 14.2 died, 6.3% failed and 1.3% others.. Age, gender, previous treatment history, type of resistance, HIV status, DM status and lung cavity status were not statistically related to the results of treatment of short regimens. Factors related to the results of treatment of short regimens were resistant to amikacin (RR 7.4; 95% CI 4.68-17.29), ofloxacin (RR 28; 95% CI 2.8-279.5), kanamycin (RR 9; 95% CI 4.68- 17.29), and treatment initiation interval >7 days (RR 0.307; CI 0.09-0.98).
Key words: treatment outcomes; short-term treatment; DR-TB
S-9891
Depok : FKM UI, 2019
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
Indah Mediana; Pembimbing: Syahrizal Syarif; Penguji: Yovsyah, Rina Handayani
S-10413
Depok : FKM-UI, 2020
S1 - Skripsi Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
☉
