Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 33654 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Ayunda Shinta Nurarliah; Pembimbing: Pujiyanto; Penguji: Ede Surya Darmawan, Vetty Yulianty Permanasari, Sapto Harry Kriswanto, Sri Diana Ginting Suka
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efek penerapan restriksi obat otomatis melalui Sistem Informasi Rumah Sakit (SIMRS) terhadap efisiensi biaya obat pada pasien BPJS Kesehatan di Rumah Sakit Jantung Jakarta. Penelitian ini mengkaji dampak penerapan sistem restriksi terhadap biaya obat yang dikeluarkan oleh rumah sakit dan kualitas pelayanan yang diterima oleh pasien. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan restriksi obat otomatis menghasilkan penghematan signifikan, dengan penurunan biaya total resep obat sebesar 35%. Selain itu, jumlah resep yang tidak sesuai dengan Formularium Nasional (FORNAS) juga mengalami penurunan drastis. Penerapan sistem ini tidak hanya berhasil mengurangi biaya tetapi juga memastikan kualitas pelayanan tetap terjaga, dengan jumlah resep yang sesuai FORNAS tetap tinggi. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap pengurangan biaya termasuk pemilihan obat yang lebih selektif, pengelolaan stok yang lebih efisien, dan penggunaan teknologi SIMRS. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam meningkatkan pengelolaan obat yang lebih efisien di rumah sakit serta memberikan wawasan bagi rumah sakit lain dalam mengimplementasikan sistem serupa.

This study aims to evaluate the impact of implementing automatic medication restrictions through the Hospital Information Management System (SIMRS) on the drug cost efficiency for BPJS Health patients at Jakarta Heart Hospital. The research examines the effects of the restriction system on the hospital's drug expenses and the quality of care provided to patients. The results show that the implementation of the automatic medication restriction system significantly reduced the total medication costs by 35%. Additionally, the number of prescriptions not in accordance with the National Formularium (FORNAS) decreased drastically. This system not only succeeded in reducing costs but also ensured that the quality of care remained high, with the number of prescriptions compliant with FORNAS still high. Contributing factors to cost reduction include more selective drug selection, more efficient stock management, and the use of SIMRS technology. This study contributes to improving the more efficient management of medication in hospitals and provides insights for other hospitals in implementing similar systems.
Read More
B-2567
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ni Wayan Ari Anindita Sari; Pembimbing: Helen Andriani; Penguji: Pujiyanto, Purnawan Junadi, I Putu Oka Dharmawan, Dewa Ayu Swastini
Abstrak:
Lamanya waktu tunggu di pelayanan di instalasi farmasi rawat jalan Rumah Sakit Ari Canti masih belum sesuai target Standar Pelayanan Minimal, dimana standar pelayanan minimal (SPM) mewajibkan waktu tunggu obat non racikan ≤30 menit dan obat racikan ≤60 menit. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis waktu tunggu pelayanan obat rawat jalan JKN dengan lean hospital di RS Ari Canti Tahun 2023. Desain penelitian ini adalah operational research (OR). Tempat dari penelitian adalah Depo Farmasi Rawat Jalan di RS Ari Canti saat hari kerja pada bulan Mei – Juni 2023. Sampel dalam penelitian ini diambil sebanyak 98 resep obat yang dibagi ke dalam beberapa poliklinik di RS Ari Canti. Pengamatan langsung menggunakan lembar observasi VSM dan lembar waste, wawancara mendalam dengan infoman menggunakan lembar wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total waktu dalam pelayanan kefarmasian pada kondisi current state adalah 53 menit 12 detik. Lead time untuk obat racikan selama 1 jam 2 menit 28 detik sedangkan pada resep obat non-recikan selama 51 menit 41 detik. Setelah dilakukan pengkajian ditemukan 10 aktivitas waste yang terdiri dari 56,89% waste waiting, 20,75% waste defect, 15,53% waste motion, dan 6,83%waste overprocessing. Setelah dilakukannya intervensi lean hospital berupa 5S, visual management, heijunka borda pareto dan PDCA terjadi penurunan lead time dari 53 menit 12 detik menjadi 19 menit 47 detik dengan persentase penurunan sebesar 62,80%. Kemudian lead time berdasarkan resep obat racikan pasca intervensi selama 42 menit 7 detik, sedangkan lead time resep obat non racikan selama 18 menit 47 detik. Nilai value to waste ratio juga terjadi peningkatan dari sebelumnya pre intervensi sebesar 40,90% menjadi 88,32% pasca intervensi. Kesimpulan penelitian ini alalah Lean Hospital merupakan metode atau tool yang tepat untuk meningkatkan value to waste ratio dengan mengurangi pemborosan dan meningkatkan nilai tambah untuk pasien. Manajemen dapat melakukan langkah awal continuous improvement seperti menghitung kebutuhan obat secara berkala untuk dapat memproyeksikan persiapan obat sesuai dengan permintaan.

The length of time waiting for service at the outpatient pharmacy installation at Ari Canti Hospital is still not in accordance with the Minimum Service Standard target, where the minimum service standard (SPM) requires waiting time for non-concoction drugs ≤30 minutes and for mixed drugs ≤60 minutes. This study aims to analyze the waiting time for JKN outpatient drug services with lean hospital at Ari Canti Hospital in 2023. The design of this research is operational research (OR). The location of the research was the Outpatient Pharmacy Depot at Ari Canti Hospital during weekdays from May to June 2023. The sample in this study was taken as many as 98 drug prescriptions which were divided into several polyclinics at Ari Canti Hospital. Direct observation using VSM observation sheets and waste sheets, in-depth interviews with informants using interview sheets. The results showed that the total time in pharmaceutical services in the current state was 53 minutes 12 seconds. The lead time for concoction drugs is 1 hour 2 minutes 28 seconds while for non-recipe drug prescriptions it is 51 minutes 12 seconds. After conducting the study, it was found that 9 waste activities consisted of 56,89% waste waiting, 20,75% waste defects, 15,53% waste motion, and 6,83% waste overprocessing. After the lean hospital intervention in the form of 5S, visual management, heijunka borda pareto and PDCA, the lead time decreased from 53 minutes 12 seconds to 19 minutes 47 seconds with a decrease percentage of 62.80%. Then the lead time based on post-intervention concoction drug prescription was 42 minutes 7 seconds, while the non-concoction drug prescription lead time was 18 minutes 47 seconds. The value to waste ratio also increased from the previous pre-intervention of 40.90% to 88.32% post-intervention. The conclusion of this study is that Lean Hospital is the right method or tool to increase the value to waste ratio by reducing waste and increasing added value for patients. Management can take initial steps for continuous improvement, such as calculating drug needs on a regular basis to be able to project drug preparations according to demand.
Read More
B-2390
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Lucyanel Arlym; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Dumilah Ayuningtyas, Sandi Iljanto, Wirda Saleh
Abstrak: Tesis ini bertujuan untuk mengetahui kepuasan pasien terhadap pelayanan Instalasi Rawat Jalan Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) dan faktor-faktor yang berhubungan dengan kepuasan pasien, yakni karakteristik pasien dan pelayanan di instalasi rawat jalan. Metode penelitian analitik cross sectional pada 110 pasien rawat jalan. Digunakan analisis univariat, bivariat dan multivariate dengan uji statistic chi square dan regresi logistik.
Hasil penelitian 64% responden menyatakan puas. Tiga variabel karakteristik yang dominan berhubungan adalah pekenjaan, penghasilan dan pendidikan. Tiga variabel pelayanan di rawat jalan yang dominan berhubungan adalah lingkungan sarana/prasarana di ruang tunggu, pelayanan tenaga perawat di poli dan pelayanan tenaga dokter di ruang periksa. Dari karakteristik pasien didapatkan komunitas yang memerlukan pelayanan berorientasi pelanggan, komunikatif, cepat, tanggap, dan kualitas dan kompetensi pelaksana pelayanan. 
Prioritas saran untuk lingkungan sarana/prasana di ruang tunggu lebih memperhatikan kenyamanan ruang tunggu, melengkapi dengan kipas angin/ac, bahan bacaan dan kebersihan wc/toilet, diklat customer care training untuk perawat, kedisiplinan dokier, penjadwalan kunjungan, dan meningkatkan pemasaran rumah sakit.
 

This Research aims to determine patient satisfaction on service of ambulatory care Installation at Drug Dependence Hospital Jakarta in year 2010 and the factors associated with patient satisfaction, ie, patient characteristics and service in ambulatory care installation. The method of this thesis is cross sectional analytic study on 110 patients that used univariate analysis, bivariate and multivariate analysis. Chi square and logistic regression is used as statistic test. 
The research results that 64% respondents who expressed satisfaction. There are three dominant variables of patient characteristics that are related to occupation, income and education. There are three dominant variables of ambulatory services related with satisfaction, that are environmental infrastructure in the waiting room, nursing services, and physician services. By patients characteristics this research informed that requiring community services more customer-oriented, communicative, fast, responsive, and competence and quality of the service implementation.
 As Suggestions for waiting room facilities service is to keep waiting room comfortable with air conditioner, the reading materials and sanitary toilets, training for customer care, training for nurses, doctors are more disciplined and stand by at the poly, schedule visiting, and increase hospital marketing.
Read More
B-1259
Depok : FKM-UI, 2010
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Maya Setyawati; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Masyitoh Bashabih, Helen Andriani, Budi Raharjo, Alvin Kosasih
Abstrak:
Waktu tunggu pelayanan resep di instalasi rawat jalan merupakan salah satu indikator penilaian kinerja instalasi farmasi yang mempengaruhi mutu pelayanan rumah sakit sehingga rumah sakit perlu melakukan upaya agar waktu tunggu pelayanan resep di instalasi rawat jalan dapat memenuhi Standar Pelayanan Minimal (SPM). Melalui metode Lean dengan pendekatan Value Stream Mapping penelitian ini bertujuan untuk mengetahui prosedur pelayanan resep di instalasi rawat jalan RSKO Jakarta, mengidentifikasi value added serta waste yang terjadi sehingga dapat dianalisis faktor penyebab waste yang dapat dicegah melalui rekomendasi usulan perbaikan yang diberikan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pengumpulan data yang didapatkan melalui pengamatan dan pencatatan waktu tunggu pelayanan resep obat jadi dan obat racikan di instalasi rawat jalan RSKO Jakarta yang sudah menggunakan e-resep, penggalian informasi secara mendalam kepada informan serta telaah dokumen. Dilakukan pengamatan terhadap 20 resep obat jadi dan 10 resep obat racikan. Pemilihan informan dilakukan menggunakan teknik puposive sampling dan dilakukan wawancara kepada pasien untuk mendapatkan value dari perspektif customer sesuai prinsip dari metode Lean. Data yang didapatkan kemudian dianalisis untuk mendapatkan faktor penyebab lamanya waktu tunggu pelayanan resep menggunakan fishbone diagram kemudian dilakukan sistem skoring dengan menilai aspek urgency, severity serta growth penyebab masalah sehingga dapat dirumuskan prioritas rekomendasi yang perlu dilakukan. Hasil penelitian yang dilakukan pada bulan April-Mei 2023 mendapatkan bahwa rata-rata waktu tunggu pelayanan resep obat jadi adalah 49.25 menit (dengan nilai VAR 17.5%), dan untuk obat racikan 80.2 menit (dengan nilai VAR 33%) yang berarti masih melebihi SPM yang ditetapkan KMK No 128 tahun 2009 (obat jadi < 30 menit, obat racikan < 60 menit). Beberapa faktor penyebab terjadinya waste adalah inefisiensi SDM, sistem inventory farmasi yang belum otomatisasi, kurang optimalnya evaluasi/pemantauan penggunaan obat, tidak adanya sistem pemisahan pelayanan resep IGD dengan instalasi rawat jalan, SPO pelayanan resep yang belum disesuaikan dengan pelaksanaan e-resep dengan penetapan baku mutu respon time setiap proses, jaringan sistem informasi yang sering down/loading berulang dan seringnya interupsi permintaan informasi dari pasien. Diharapkan ke depannya dapat dilakukan strategi perbaikan untuk memperbaiki waktu tunggu pelayanan resep yaitu meningkatkan efisiensi SDM melalui pengaturan agar saat jam sibuk SDM farmasi fokus mengerjakan tupoksi pelayanan resep, adanya fasilitasi sistem inventory farmasi dengan sistem otomatisasi, penerapan sistem evaluasi pemantauan penggunaan obat dengan lebih efektif agar perencanaan pengadaan menjadi lebih akurat, pengaturan pemisahan pelayanan resep dari IGD, penyusunan SPO sesuai dengan pelaksanaan pelayanan resep, pemisahan penggunaan jaringan sistem informasi untuk pelayanan dengan perkantoran serta penyediaan dashboard informasi yang mudah terlihat oleh pasien (visual management)  

Analysis of Outpatient Installation Pharmacy Waiting Time at Special Hospital of Drug Addiction Jakarta in 2023 Abstract Prescription services waiting time in outpatient installations is one of the indicators for evaluating the performance of pharmaceutical installations that affects the quality of hospital services. Hospitals need to effort that prescription services waiting time meet the Minimum Service Standards (SPM). Through the Lean method with the Value Stream Mapping approach, this study aims to determine the prescription service procedures at the outpatient installation of RSKO Jakarta, identify value added and non-value added and waste that occurs so that factors that cause waste can be analyzed which can be prevented through the strategy recommendations obtained. This is a qualitative research with data collection obtained through observing and recording the e-prescriptions services waiting time at the RSKO outpatient installation, extracting in-depth information from informants and reviewing documents. Observations were made on 20 concoction medicine recipes and 10 concoction medicine recipes. The selection of informants was carried out using a purposive sampling technique and interviews were conducted with patients to obtain value from the customer's perspective according to the principles of the Lean method. The data obtained is then analyzed to obtain the factors affecting the prescription services waiting time duration using a fishbone diagram then a scoring system is carried out by assessing the urgency, severity and growth aspects of the cause problem so that priority recommendations can be formulated. The results of research conducted in April-May 2023 found that the average waiting time for prescription drug services was 49.25 minutes (VAR 17.5%) and for concoction drugs 80.2 minutes (VAR 33%), which means that it still exceeds the SPM set by KMK No. 128 of 2009 (no concoction drug recipe < 30 minutes, concoction drug recipe < 60 minutes). Some of the factors that cause waste are inefficiency in human resources, pharmaceutical inventory systems that have not been automated, inadequate evaluation/monitoring of drug use, the absence of a separate system for emergency prescription services, prescription service SPO that has not been adjusted with the establishment of prescription response time quality standardsfor each process, networks information system that frequently down/loads repeatedly and patient’s interruption for asking information. It is hoped that in the future an improvement strategy can be carried out to improve the waiting time for prescription services; increasing HR efficiency through arrangements so that during peak hours pharmaceutical HR focuses on working on the duties and functions of prescription services, facilitating a pharmaceutical inventory system with an automated system, implementing an evaluation system for monitoring drug use more effectively so that procurement planning becomes more accurate, regulation separates prescription services from the emergency room, providing SPO in accordance with prescription service implementation, separate the information system network between patient services and office and providing reachable information for pastient (visual management).  

Read More
B-2338
Depok : FKM-UI, 2023
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Handi Wirawan; Pembimbing: Prastuti Soewondo; Penguji: Pujiyanto, Atik Nurwahyuni, Ari Purwohandoyo, Slamet Tjahjono
Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui posisi biaya satuan layanan rawat jalan Diabetes Melitus Tipe II agar Manajemen Rumah Sakit dapat menentukan upaya efisiensi kedepannya dalam rangka menutup kesenjangan antara tarif Rumah Sakit dengan tarif INA CBG's. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan wawancara mendalam, observasi serta telaah dokumen terkait penelitian. Informan dalam penelitian adalah Kepala Bagian Keuangan, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Kepala Unit Rawat Jalan serta Petugas Bagian Farmasi. Total biaya Rajal DM sebesar Rp 369.573.586,- Hasil perhitungan menunjukkan bahwa besar unit cost untuk Rajal DM Tipe II adalah sebesar Rp 251.069,- dimana tarif INA CBGs untuk Rajal DM Tipe II hanya sebesar Rp 192.100,- yang berarti terdapat kesenjangan sebesar Rp 58.969,- . Efisiensi untuk menekan biaya tidak tetap dan mengurangi variasi pemberian obat serta pemeriksaan laboratorium Diabetes Melitus Tipe II dengan membuat clinical pathway Diabetes Melitus Tipe II. Untuk mengurangi beban biaya tetap, tindakan efisiensi yang dapat dilakukan adalah menaikkan angka kunjungan pasien Diabetes Melitus Tipe II dengan menyediakan dokter spesialis tetap untuk penyakit dalam agar pelayanan untuk pasien dapat maksimal serta kunjungan dapat meningkat
Read More
B-2122
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Syanti Puspitasari; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Hadijah
Abstrak: Peningkatan mutu dan keselmatan pasien merupakan dua hal yang tidak bisadipisaahkan dan harus berkesinambungan. Upaya peningkatan mutu dan keselamatanpasien di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Pusat Otak Nasional Prof. DR. dr. MaharMardjono digambarkan melalui capaian indicator pelayanan menurut Standar PelayananMinimal Rumah Sakit yang belum mencapai standar. Penelitian ini dilakukan untukmenganalisis waktu tunggu pelayanan obat jadi pasien JKN dan aktivitas risikoterjadinaya medication error dengan prinsip lean thinking dan swiss cheese model. Jenispenelitian ini adalah operational research dengan pendekatan kualitatif dan kuantitatif.Data kualitatif diperoleh melalui proses observasi dan telaah dokumen, sedangkankuantitatif berdasarkan data waktu tunggu dari electronic health record dan waktutunggu hasil observasi. Hasil penelitian menunjukan waktu tunggu adalah 1 jam 3 menit11 detik, dengan waktu tunggu terlama adalah pada proses penerimaan resep (30 menit42 detik). Kegiatan VA (79%) yaitu 13 menit 13 detik. Aktivitas NVA (21%) denganwaktu 49 menit 21 detik. Waste terbanyak adalah pada kegiatan waiting denganpresentasi waktu 92% dari waktu NVA. Bottleneck pada penelitian ini diambil dariproses waktu tunggu terlama dan hasil analisis swiss chesse model pada tahapanpengkajian dan pemeriksaan sediaan obat.Usulan perbaikan berdasarkan hasil analisisproses pengkajian dan pelayanan resep obat jadi ini adalah perlu adanya penyusunanregulasi pengkajian dan pelayanan obat sesuai standar pelayanan kefarmasian, telaahprofil indicator waktu tunggu obat jadi sesuai SPM rumah sakit, perlu adanya analisisbeban kerja, dan monitoring supervise kajian pelayanan resep obat. Usulan perbaikandigambarkan dalam future state map dengan mereduksi aktivitas NVA yang dapatsecara langsung dihapuskan tanpa dilakukan intervensi.
Kata kunci: lean thinking, , medication error, swiss chesse model waktu tunggupelayanan
Quality improvement and patient safety are two things that cannot separated and mustbe continuous. Effort to improve quality and patient safety at Outpatient PharmacyPusat Otak Nasional Prof. DR.dr. Mahar Mardjono Hospital is described through theachievement of service indicators according to the hospital minimum service standardsthet have not resched the standard. This study was conducted to analyze the waitingtime for JKN patient medication services and risk activities of medication errors usingprinciples of lean thinking and the swiss cheese model. This type of research isoperational research with qualitative and quantitative approaches. Qualitative data isobtained through the process of observation and document review, while quantitativedata is based on waiting time data from electronic health records and waiting time forobservations. The result showed that the waiting time was 1 hour 3 minutes 11 seconds,with the longest waiting time was in the process of receiving the recipe (30 minutes 42seconds). Value_added activity (79%) was 13 minutes 13 seconds, non value addedactivity (21%) for 49 minutes 21 second. Most of waste is in waiting activities with apresentation time of 92% of the time for non value added. The bottleneck in this studywas taken from the longest waiting time process and the result of the swiss cheesemodel analysis at the assessment and examination stage of drug preparations.Reviewing the waiting time indicator profile for the finished medicine according to theSPM of the hospital. There is a need for workload analysis, and monitoring of thereview of prescription services. Proposed improvements are described in a future statemap by reducing non value added activity which can be directly eliminated withoutintervention.
Key words: lean thinking, medication error, swiss chesse model, medication error,service waiting time.
Read More
S-10439
Depok : FKM UI, 2020
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Yuniar Sukmawati; Pembimbing: Mardiati Nadjib; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Pujiyanto, Diah Setia Utami, Riza Sarasvita
B-1601
Depok : FKM-UI, 2014
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nydia Andriani; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Anhari Achadi, Cut Minora
S-6959
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hanun Ernatyaswati; Pembimbing: Hasbullah Thabrany; Penguji: Ronnie Rivany, Wahyu setiakusumah, E.A Sani
Abstrak:

Krisis moneter yang tidak kunjung selesai bahkan diikuti dengan krisis yang lainnya, memicu timbulnya dampak yang tidak diinginkan. Salah satunya adalah peningkatan biaya kesehatan, sehingga menimbulkan beban ekonomi bagi orang yang membutuhkan. Begitu pula bagi perusahaan yang menjamin kesehatan para pegawainya seperti PT Pelindo II. RS Pelabuhan Jakarta yang merupakan penyelenggara pelayanan kesehatan bagi pegawai dan pensiunan berserta keluarganya dari PT Pelindo R juga merupakan salah satu anak perusahaan dari PT Pelindo II ikut bertanggung jawab untuk mengendalikan besarnya biaya yang timbul akibat kenaikan biaya pelayanan kesehatan.Sebelum diterapkan sistem kapitasi, PT Pelindo II melakukan cara pembayaran atas jasa pelayanan yang diberikan rumah sakit berdasarkan jasa per-pelayanan (fee-for-service). Sehingga anggaran setiap tabus untuk jaminan kesehatan parapegawai dan pensiunan berserta keluarganya meningkat terus tanpa dapat diprediksi.Sejak bulan April, PT Pelindo II yang merupakan salah satu pelanggan utama dari RS Pelabuhan Jakarta menjadi peserta JPKM sehingga berkewajiban membayar premi kepada Badan Penyelenggara (Bapel) RS Pelabuhan, dirnana Bapel merupakan badan penyelenggara asuransi kesehatan/lembaga pembayar kepada provider (RS Pelabuahn Jakarta). Sementara itu RS Pelabuhan Jakarta menerima pembayaran kapitasi dari Bapel RS Pelabuhan.Agar sistem pembayaran kapitasi berjalan sesuai seperti yang diharapkan, maka manajemen rumah sakit mengeluarkan beberapa kebijakan untuk membantu pelaksanaan kapitasi sehingga dapat membantu rumah sakit merencanakan pelayanan kesehatan yang akan diberikan tanpa menanggung kerugian dan tidak mengurangi. kualitas pelayanan kepada pasien.Perubahan pembayaran dari fee-for-service menjadi kapitasi, diharapkan dapat menunutkan biaya pemeliharaan kesehatan. Disini peneliti menyoroti biaya resep obat yang ditulis oleh dokter baik full timer maupun part-tinter dalam menangani kasus 10 penyakit terbanyak kunjungannya di rawat jalan RS Pelabuhan Jakarta untuk pelanggan dari JPKM (pegawai dari pensiunan berserta keluarga dari PT Pelindo II). Penurunan biaya resep obat rawat jalan diharapkan dapat ikut mengendalikan biaya pemeliharaan kesehatan bagi peserta JPKM tersebut karena biaya obat rawat jalan untuk pasien kelompok ini menyerap 75% lebih dari keseluruhan biaya untuk pemeliharaan kesehatan selama 5 tahun terakhir, bahkan sampai 80% untuk tahun 2001.Penelitian ini merupakan penelitian evaluasi berbentuk "pre post test evaluation" yang bersifat kuantitatif. Data yang digunakan adalah data sekunder yang diambil dari base data komputer Sistem Informasi RS Pelabuhan JakartaHasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah angka pemanfaatan di rawat jalan sesudah kapitasi mengalami penurunan sedikit dibandingkan sebelum kapitasi, yakni hanya 0,5%. Terjadi kenaikan penulisan obat generik baik oleh dokter full-timer maupun part-timer, masing-masing sebesar 4% dan 8%. Biaya rata-rata obat/resep yang ditulis dokter full-timer menurun secara bermakna terutama untuk penyakit hipertensi (p=0), gastritis (p=0)dan influenza (p=0,01).Jumlah resep yang bernilai lebih dan Rp. 200.000,- mengalami penurunan, dokter full timer sebesar ±6%, dokter part-timer 21,87%. Jumlah resep bernilai kurang atau sama dengan Rp. 200.000; meningkat untuk dakter 54,54%, perubahan ini dibuktikan bermakna terutama untuk penyakit hipertensi dan gastritis dan dokter part-timer sebesar 50,82%, yang bermakna pada 8 penyakit kecuali pharyngitis dan asthma bronchiale.Kesimpulan utama adalah tingkat pemanfaatan rawat jalan menurun kurang berarti sesudah diterapkan kapitasi dengan kebijakan pembatasan biaya resep terutama untuk penyakit kronis. Kenaikan penulisan obat generik terutama oleh dokter part-timer (8%), penurunan biaya rata-rata obat per-resep baik oleh dokter full-timer maupun part-timer serta terjadi penurunan jumlah resep obat yang mempunyai nilai biaya rata-rata obat per-resep lebih dari Rp. 200.000; untuk kedua jenis dokter. Peran dokter pengendali sangat besar dalam penurunan biaya resep obat rawat jalan.Saran peneliti, perlu dilakukan penelitian lanjutan dan peninjauan kembali kebijakan pembatasan obat terutama untuk pasien yang mempunyai penyakit kronikDaftar bacaan :23 (1985-2001)


 

The unfinished problem of the monetary crisis has triggered the development of other crisis where all together have brought about some unexpected impacts to the society_ One of the impacts is an increase in the health cost which creates a significant financial burden for those in need as well as for those companies which provide health insurance service for their employees. Pelabuhan Hospital, Jakarta, as an institution which provides health services for its employees and pensioners together with their families from PT Pelindo II, it also having a responsibility to manage its total cost as a consequence of the increase in the health cost.Prior to the application of the capitation system, PT Pelindo II had used the fee for service payment system. As the result, the management was not able to forecast the total health insurance cost for its employees and their families per year.Since the beginning of April 2002, PT Pelindo II, as one of the main customers of Pelabuhan Hospital, Jakarta, has become a JPKM member. As the consequence, PT Pelindo II is obliged to pay the premium to the organizing committee of Pelabuhan Hospital, Jakarta whereas, the organizing committee itself is a committee that manages the payment of the insurance to the Pelabuhan Hospital, JakartaEn order for the capitation system to work as expected, the hospital management has released a number of policies to support the implementation of this particular system as well as in planning the type of health service to be provided without affecting the quality of the services.The transformation of the fee for service type payment into the capitation system is expected to reduce the health cost. In the thesis, the writer highlights the prescription cost written by both fish-timer and part-timer doctors in handling 10 (ten) most common cases reported by the Out- patient Department of Pelabuhan Hospital, Jakarta for its customers from JPKM (employees, pensioners and theirs families from PT Pelindo II). The management expects that decline in the prescription costs at the out-patient department could provide a .contribution in controlling the health cost for JPKM members as the prescription cost for this particular group absorps more than 75% of the total health cost for the last five years period and the number once reached 80% in the year 2001.The study in thesis can be classified as a quantitative pre-post evaluation study where the data used are the secondary data taken from the database of the Information system department in Pelabuhan Hospital, JakartaThe result of this study shows that there is a minor change in the rate- utilization after the implementation of the capitation system (0,5%). There is also an increase in the generic type of medicine in the prescription for both full-time and part-time doctors, 4% for the full-timer and 8% for the part-timer. However, the average prescription written by full-time doctors has decrease significantly in particular for hypertensi (p=0), gastritis (p=0) and influenza (p=0,0l). In addition to that, there is also a decrease in the prescription with value of the Rp 200,000,- or more as prescribed by full-timer ( approximately 6%) and part-timer (21.87%). Meanwhile, there is an increase for the prescription with values less or equal to Rp 200,000, - for full-time doctor (64,34%) in cases like hypertension and gastritis, and this also happens for part-time doctor (50.82%) in 8 (eight) cases except for pharyngitis and asthma bronchiale.The main conclusion that can be drawn from this study is that the usage level of the capitation system in the out-patient department would only have a small impact to the rate-utilization. This small impact is mainly due to the management policy that restrict the prescription cost particularly for chronic cases, the increase in the prescription of the generic type medicine by the part-time doctor (8%), the decrease in the average medicine cost in prescription written by both full-time and part-time doctors, and the decrease in the prescription cost with average cost of more than Ap. 200,000,- for both full-timer and part-timer. In addition to that, it is also clear that the doctors, both full-timer and part-timer, play a significant role in reducing the prescription costs.Last but not least, the writer suggests that there is still a need for an advanced study in this system together with the review in the policy for the medicine restriction especially for those patients with chronical diseases.Bibliography :23 (1985-2001)

Read More
B-666
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Wulan Kinanthi Bekti; Pembimbing: Budi Hidayat; Penguji: Pujiyanto, Wachyu Sulistiadi, Inas Susanti, Achmad Oktorudy
Abstrak: Latar belakang penelitian ini adalah kenaikan tren kunjungan pasien JKN dirumah sakit Dewi Sri baik rawat jalan ataupun rawat inap. Kendali mutu dan kendalibiaya sangat diperlukan untuk menjamin agar pelayanan kesehatan pada peserta JKNsesuai dengan standar mutu yang ditetapkan dan diselenggarakan dengan efisien.Pilihan obat yang termasuk dalam pembayaran InaCBGs akan menjadi komponenpenting, sehingga review terhadap penggunaan obat sangat diperlukan dalam rangkameningkatkan kualitas pelayanan kesehatan dan efisiensi biaya obat.Penelitian ini menggunakan studi crosssectional dengan metode kuantitatif,untuk melihat gambaran rata-rata jumlah item obat per resep, persentase peresepanobat generik, peresepan antibiotik, peresepan obat fornas, dan jumlah biaya obatterhadap faktor jenis kelamin pasien, usia pasien, jenis kelamin dokter, umur dokterdan jaminan kesehatan sesuai dengan data sekunder yang didapat melalui data rekammedis dan resep di farmasi. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat perbedaan yangsignifikan jumlah item obat per resep, persentase oobat generik, persentase obatantibiotik, persentase obat fornas, dan biaya obat diantara ketiga jenis jaminankesehatan tersebut. Faktor yang paling berpengaruh terhadap persentase antibiotik dirawat jalan dan jumlah item obat per resep pada rawat jalan dan rawat inap adalahjenis kelamin dokter. Faktor yang paling berpengaruh pada persentase antibiotik dirawat inap, dan persentase generik, persentase fornas, dan biaya obat pada rawatjalan dan rawat inap adalah jaminan kesehatan. Sehingga perlu adanya kebijakanpenggunaan obat generik, penggunaan obat fornas, dan jumlah item obat per resep ≤2 jenis obat di lingkungan rumah sakit.Kata Kunci : Jumlah item obat per resep, persentase generik, persentase antibiotik,persentase obat fornas, biaya obat.
Read More
B-1781
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive