Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 23772 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Hilma Fitria Nur Faiz; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Vetty Yulianty Permanasari, Purnawan Junadi, Sri Mulyani, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Latar Belakang: Pelayanan rumah sakit masih menghadapi tantangan dalam mendeteksi secara dini penurunan kondisi klinis pasien yang berisiko menimbulkan kegawatan dan mengancam keselamatan pasien. Early Warning System (EWS) dikembangkan sebagai alat bantu klinis berbasis skor fisiologis untuk mendukung deteksi dini dan respons klinis yang tepat waktu. RS Roemani Muhammadiyah Semarang telah mengimplementasikan EWS sejak tahun 2022, namun kejadian Code Blue dan angka kematian pasien rawat inap masih menunjukkan pola fluktuatif dan belum menurun secara konsisten. Selain itu, evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan EWS belum pernah dilakukan, sehingga terdapat kesenjangan antara kebijakan, implementasi, dan luaran keselamatan pasien. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus, yang dianalisis menggunakan kerangka struktur–proses–outcome. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan focus group discussion (FGD) terhadap tenaga kesehatan yang terlibat langsung dalam implementasi EWS, dengan pemilihan informan secara purposive. Selain itu, dilakukan telaah dokumen terhadap rekam medis, formulir EWS, laporan kejadian Code Blue, serta dokumen kebijakan dan prosedur rumah sakit untuk menilai aspek struktur dan proses implementasi EWS serta luaran keselamatan pasien. Penelitian dilaksanakan di RS Roemani Muhammadiyah pada November–Desember 2025. Analisis data dilakukan secara tematik melalui proses pengodean, pengelompokan tema, dan interpretasi, dengan penerapan triangulasi sumber dan metode untuk menjaga keabsahan data. Hasil: Implementasi EWS belum berjalan optimal. Pada aspek struktur, dukungan kepemimpinan dan mekanisme pendukung klinis telah tersedia, namun masih terdapat keterbatasan pada kesiapan sistem dan sumber daya dalam mendukung pelaksanaan EWS secara konsisten. Pada aspek proses, kepatuhan terhadap dokumentasi dan eskalasi klinis masih bervariasi, serta komunikasi antarprofesi berbasis skor EWS belum terstandar dan masih bergantung pada inisiatif individu. Pada aspek outcome, kejadian Code Blue masih terjadi secara fluktuatif meskipun EWS telah diterapkan, disertai angka kematian pasien rawat inap yang belum menunjukkan penurunan yang konsisten. Kondisi ini mengindikasikan adanya kesenjangan antara implementasi EWS dan luaran keselamatan pasien. Kesimpulan: EWS di RS Roemani Muhammadiyah Semarang belum sepenuhnya berfungsi sebagai sistem deteksi dini yang efektif dalam mencegah kejadian Code Blue. Permasalahan utama tidak hanya terletak pada kepatuhan individu, tetapi juga pada aspek sistemik, termasuk tata kelola klinis, integrasi sistem, dan budaya komunikasi berbasis skor. Diperlukan pendekatan berpikir sistem yang menekankan penguatan struktur, standardisasi proses, serta monitoring dan evaluasi berkelanjutan untuk meningkatkan keselamatan pasien.

Background: Hospitals continue to face challenges in the early detection of clinical deterioration that may lead to acute emergencies and threaten patient safety. The Early Warning System (EWS) was developed as a physiology-based scoring tool to support early detection and timely clinical responses. RS Roemani Muhammadiyah has implemented EWS since 2022; however, Code Blue events and in-hospital mortality rates remain fluctuating and have not shown a consistent decline. Moreover, a comprehensive evaluation of EWS implementation has not yet been conducted, resulting in a gap between policy, practice, and patient safety outcomes. Methods: This study employed a qualitative case study design analyzed using the structure–process–outcome framework. Data were collected through in-depth interviews and focus group discussions (FGDs) with healthcare professionals directly involved in EWS implementation, selected purposively. Document reviews of medical records, EWS forms, Code Blue reports, and hospital policies and procedures were also conducted to assess structural and process aspects as well as patient safety outcomes. The study was conducted at RS Roemani Muhammadiyah from November to December 2025. Data were analyzed thematically through coding, theme development, and interpretation, with source and method triangulation applied to ensure trustworthiness. Results: EWS implementation was not yet optimal. In terms of structure, leadership support and basic clinical support mechanisms were in place; however, limitations remained in system readiness and resource capacity to ensure consistent implementation. Regarding process, compliance with documentation and clinical escalation varied, and interprofessional communication based on EWS scores was not standardized and often relied on individual initiative. In terms of outcomes, Code Blue events continued to occur in a fluctuating pattern despite EWS implementation, accompanied by in-hospital mortality rates that did not demonstrate a consistent decline. These findings indicate a gap between EWS implementation and patient safety outcomes. Conclusion: EWS at RS Roemani Muhammadiyah Semarang has not yet functioned optimally as an effective early detection system to prevent Code Blue events. The challenges identified are not limited to individual compliance but reflect broader systemic issues, including clinical governance, system integration, and a culture of score-based communication. A systems-thinking approach that emphasizes structural strengthening, process standardization, and continuous monitoring and evaluation is required to enhance patient safety.
Read More
B-2572
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rosakawati; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Pujiyanto; Vetty Yulianty Permanasari, Astrid Saraswaty Dewi, Tuan Juniar Situmorang
Abstrak: Dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, institusi rumah sakit harus menyediakan sarana dan prasarana serta standar pelayanan yang memperhatikan quality assurance bagi para pemberi asuhan kesehatan dalam memberikan pelayanan yang profesional yang berpusat pada pasien. Rumah sakit harus memiliki kebijakan, pedoman dan panduan serta standar prosedur dengan mengedepankan keselamatan pasien sebagai fokus dalam setiap jenis pelayanan yang diberikan. Standar nasional akreditasi rumah sakit (SNARS) edisi 1 merupakan standar akreditasi baru yang bersifat nasional dan diberlakukan secara nasional di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa Implementasi Early Warning System di Rumah Sakit Mandaya Penelitian kualitatif ini dilakukan pada bulan Januari - April 2018. Lokasi penelitian dilakukan di Departemen Rawat Inap RS Mandaya Karawang. Sumber datang diperoleh melalui wawancara kepada 31 informan yang terdiri dari direktur, dokter jaga, perawat penanggung jawab shift dan perawat pelaksana serta clinical nurse educator dan data rekam medis pasien rawat inap bulan januari 2018 mengenai kelengkapan pengisian formulir Catatan Observasi. Implementasi Early Warning System dilaksanakan dengan baik pada awalnya namun terdapat inkonsistensi dalam proses pelaksanaannya sehingga angka kejadian code blue tidak menurun pada bulan januari 2018. Perawat dengan masa kerja yang minim masih harus terus diberikan pelatihan-pelatihan oleh bagian diklat keperawatan dan menuntut observasi yang lebih ketat baik dalam tindakan keperawatan maupun dalam pendokumentasian. Selain itu tidak ada reward dan punishment yang jelas bagi staf klinis sehingga perlu menjadi perhatian penting bagi manajemen rumah sakit untuk peningkatan kelengkapan rekam medis. Profesi pemberi asuhan (PPA) wajib melengkapi dokumen rekam medis pasien dengan tepat dan benar sesuai dengan tindakan yang sudah dilakukan. Pengisian rekam medis pasien langsung dilakukan segera setelah melakukan tindakan agar tidak terlupakan dalam mencatat. Melengkapi sarana dan prasarana merupakan salah satu hal yang menunjang implementasi berjalan dengan baik
n order to provide healthcare services to the public, hospital institutions must be provide facilities and infrastructure also service standards that pay attention to quality assurance for health providers in providing patient-centered professional services. The organization should have policies, guidelines and guidelines as well as standard procedures by prioritizing patient safety as a focus in each type of service provided. The national standard of hospital accreditation (SNARS) edition 1 is a new national accreditation standard and applied nationally in Indonesia. This study aims to analyze the Implementation of Early Warning System at Mandaya Hospital This qualitative study was conducted in January - April 2018. The location of the research was conducted at the Department of Inpatient RS Mandaya Karawang. Sources came through interviews with 31 informants consisting of directors, physicians, shift nurses and implementing nurses as well as clinical nurse educators and medical records data of inpatients in January 2018 on completeness of the form of Observation Notes. Implementation of the Early Warning System is well implemented initially but there is inconsistency in the implementation process so that code blue incidence rate does not decrease in January 2018. Nurses with minimal working period still have to continue to be given training by nursing department and demands more rigorous observation both in nursing actions and in documentation. In addition there is no clear rewards and punishment for clinical staff so it is necessary to be of paramount concern for hospital management to improve the completeness of the medical record. The Professional Caregiver (PPA) is required to complete the patient's medical record documents correctly in accordance to the action that have been done. Filling patient medical record should immediately done after taking action so that nothing is forgotten in the recording. Completing facilities and infrastructure is one of the things that support the implementation goes well.
Read More
B-2108
Depok : FKM-UI, 2019
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nova Lasmaria Hotmatua Simbolon; Pembimbing: Masyitoh; Penguji: Wachyu Sulistiadi, Antonius Yudianto, Andy Aryoko
Abstrak:
Latar Belakang: Early Warning System (EWS) merupakan sistem deteksi dini yang dirancang untuk mengenali perburukan klinis sebelum pasien jatuh pada kondisi kegawatan. Namun, di Charitas Hospital Palembang masih ditemukan kejadian Code blue pada pasien dengan kategori EWS hijau/kuning, yaitu kelompok risiko rendah hingga sedang yang seharusnya masih berada dalam fase preventif. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengevaluasi implementasi EWS dalam deteksi dini perburukan klinis pada kejadian Code blue kategori hijau/kuning di instalasi rawat inap dewasa Charitas Hospital Palembang tahun 2025 dengan pendekatan Swiss Cheese Model. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif evaluatif dengan audit rekam medis sebagai tahap awal. Audit dilakukan terhadap 68 kasus Code blue kategori EWS hijau/kuning dengan 204 window   audit, yaitu W0, W1, dan W2 sebelum aktivasi Code blue. Data diperoleh melalui audit rekam medis, telaah dokumen, wawancara mendalam, dan Focus Group Discussion. Analisis dilakukan secara deskriptif dan tematik dengan memetakan temuan ke dalam lapisan Swiss Cheese Model, meliputi organisasi, supervisi, prekondisi kerja, teknologi, komunikasi, dan perilaku individu. Hasil: Implementasi EWS telah tersedia melalui kebijakan, SPO, dokumentasi EMR, alur eskalasi, dan dashboard skor otomatis. Namun, EWS belum sepenuhnya berfungsi sebagai sistem deteksi dini aktif. Dari 68 kasus, sebanyak 45 kasus atau 66,2% memiliki monitoring tanda vital yang tidak sesuai SPO. Dari 204 window   audit, 181 window   atau 88,7% memiliki dokumentasi lengkap, tetapi 45 window   menunjukkan skor EWS tidak akurat. Dari 102 window   yang memiliki indikasi eskalasi, hanya 40 window   atau 39,2% yang dilakukan sesuai skor, sedangkan 62 window   atau 60,8% tidak dilakukan atau tidak terdokumentasi. Outcome pasca Code blue terdiri atas 31 pasien masuk ICU/perawatan intensif dan 37 pasien meninggal. Wawancara dan FGD menunjukkan celah implementasi berupa sosialisasi yang belum merata, supervisi yang masih berfokus pada kelengkapan dokumentasi, beban kerja, persepsi aman terhadap kategori hijau/kuning, ketidakakuratan input parameter, komunikasi SBAR-EWS yang belum konsisten, serta belum adanya reminder monitoring ulang dan alert eskalasi aktif. Kesimpulan: Kejadian Code blue pada pasien EWS hijau/kuning merupakan hasil pertemuan celah pada berbagai lapisan sistem, bukan akibat satu faktor tunggal. Perbaikan perlu difokuskan pada audit pra-Code blue 24 jam, reminder monitoring ulang, watch list pasien berisiko, alert eskalasi, validasi skor, penguatan SBAR-EWS, pelatihan lintas profesi, dan umpan balik kasus secara rutin agar EWS berfungsi sebagai mekanisme prediktif dan preventif dalam meningkatkan keselamatan pasien. Kata Kunci: Code blue, Early Warning System, EWS hijau/kuning, keselamatan pasien, Swiss Cheese Model.

Background: The Early Warning System (EWS) is designed to detect early signs of clinical deterioration before patients progress to critical conditions. However, Code blue events still occurred at Charitas Hospital Palembang among patients categorized as green or yellow EWS, a low-to-moderate risk group that should conceptually remain within the preventive phase. Objective: This study aimed to evaluate the implementation of EWS in detecting clinical deterioration among green/yellow EWS Code blue cases in adult inpatient units at Charitas Hospital Palembang in 2025 using the Swiss Cheese Model. Methods: This study used an evaluative qualitative design, beginning with a medical record audit. The audit involved 68 green/yellow EWS Code blue cases with 204 audit window  s, consisting of W0, W1, and W2 before Code blue activation. Data were obtained through medical record audits, document reviews, in-depth interviews, and Focus Group Discussion. Data were analyzed descriptively and thematically by mapping the findings into the Swiss Cheese Model layers, including organization, supervision, work preconditions, technology, communication, and individual behavior. Results: EWS had been implemented through policies, standard operating procedures, EMR documentation, escalation pathways, and an automated scoring dashboard. However, EWS had not yet fully functioned as an active early detection system. Among 68 cases, 45 cases or 66.2% did not comply with vital sign monitoring requirements according to the standard operating procedure. Among 204 audit window  s, 181 window  s or 88.7% were completely documented, but 45 window  s showed inaccurate EWS scores. Among 102 window  s requiring escalation, only 40 window  s or 39.2% were escalated according to the score, while 62 window  s or 60.8% were not escalated or not properly documented. Post-Code blue outcomes consisted of 31 patients admitted to intensive care and 37 deaths. Interviews and Focus Group Discussion revealed implementation gaps, including uneven socialization, supervision that remained focused on documentation completeness, workload, false reassurance toward green/yellow categories, inaccurate parameter input, inconsistent SBAR-EWS communication, and the absence of monitoring reminders and active escalation alerts. Conclusion: Code blue events among green/yellow EWS patients resulted from aligned gaps across multiple system layers rather than a single causal factor. Improvement efforts should focus on routine 24-hour pre-Code blue audits, monitoring reminders, risk-based patient watch lists, escalation alerts, score validation, strengthening SBAR-EWS communication, interprofessional training, and regular case-based feedback to ensure that EWS functions as a predictive and preventive mechanism to improve patient safety. Keywords: Code blue, Early Warning System, green/yellow EWS, patient safety, Swiss Cheese Model.
Read More
B-2623
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Liana Zulfa; Pembimbing: Adang Bachtiar; Penguji: Hafizurrachman, Purnawan Junadi, Wahyu, R.B., Hendrianto Trisnowibowo
Abstrak:

ABSTRAK Rumah Sakit Ibu dan Anak Puspa Husada saat ini masih menerapkan pelayanan administrasi secara manual baik dari pengumpulan data pasien, pengumpulan tagihan pasien, serta perhitungannya. Hal ini dinilai kurang efektif karena mengakibatkan waktu pelayanan yang lama, terutama bagi pasien rawat inap. Rumah Sakit Ibu dan Anak Puspa Husada bermaksud mengembangkan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) secara bertahap yang dimulai dari computerized billing system pada instalasi rawat inap. Billing system yang tepat waktu dan akurat sangat dibutuhkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan yang efisien karena Rumah Sakit ibu dan Anak Puspa Husada merupakan rumah sakit swasta, yang sangat bergantung pada revenue pasien. Tujuan: Menyusun disain computerized billing system pada instalasi rawat inap Rumah Sakit Ibu dan Anak Puspa Husada untuk mendukung kepuasan pasien terhadap pelayanan kesehatan Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deksriptif dengan pendekatan kualitatif. Informan dalam penelitian ini adalah pegawai Rumah Sakit Ibu dan Anak Puspa Husada yang berkaitan dengan sistem billing rawat inap, yaitu: Direktur Keuangan, petugas loket pendaftaran rawat inap. petugas administrasi billing di ruang rawat inap, petugas administrasi instalasi farmasi, petugas administrasi instalasi laboratorium, dan petugas administrasi instalasi radiologi. Adapun instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar wawancara dan alat perekam suara. Hasil: Pengembangan computerized billing system yang dilakukan di Rumah Sakit Ibu dan Anak Puspa Husada dimulai dengan melakukan analisa sistem yang berjalan saat ini, spesifikasi kebutuhan sistem, serta perancangan sistem yang meliputi hardware, software, dan brainware. Disain usulan computerized billing system Rumah Sakit Ibu dan Anak Puspa Husada dimulai dengan satu modul administrasi rawat inap dan dibangun dengan spesifikasi access project yang merupakan aplikasi microsoft access yang menggunakan database MySQL server. Kesimpulan: Manajemen Rumah Sakit Ibu dan Anak Puspa Husada telah mengembangkan computerized billing system. Program pengembangan tersebut merupakan upaya meningkatkan mutu pelayanan kesehatan kepada pasien dan keluarga pasien. Pengembangan computerized billing system baru diterapkan di instalasi rawat inap berdasarkan banyaknya keluhan mengenai lamanya waktu tunggu pembayaran tagihan pasien saat hendak pulang setelah dirawat. Untuk menunjang implementasi maka perlu dipersiapkan kemampuan sumber daya manusia, pemeliharaan sistem, dan usaha pengembangan sistem.


ABSTRACT Still today Puspa Husada Mother and Child Hospital manually administered serviced on collecting, gathering, and calculating patient bills. The less effective services caused longer time services, especially for inpatient installation. Puspa Husada Mother and Child Hospital intend to develop Hospital Management Information system gradually, starting from computerized billing system at inpatient installation on time and accurate billing system is well needed to efficiently increased healthcare services in Puspa Husada Mother and Child Hospital, a small private hospital who depends on the patients revenue. Objectives: To develop computerized billing system at inpatient installation in order to support healthcare satisfaction Puspa Husada Mother and Child Hospital. Method: A descriptive method with a qualitative approach being held with these researches. Informant in these research are employee at Puspa Husada Mother and Child Hospital that connected and linked with Hospital billing system; Finance Director, officer at inpatient registration, billing administration, pharmaceutical administration, laboratorial administration, and Radiology administration. Instrument been used contain written and recording interview. Result: The development of computerized billing system in Puspa Husada Mother and Child Hospital started by Analyzing system that rolled before until recent, and system design that included the environment system necessity; hardware, software, and brainware. Proposal design of computerized billing system of Puspa Husada Mother and Child Hospital began with the development of an administration inpatient module and build with access project which was Microsoft access that used MySQL server. Conclusions: The management of Puspa Husada Mother and Child Hospital had developed computerized billing system. The program was an attempt to enhanced quality health services to patient and patient family. The development of computerized billing system at inpatient installation based on many complain regarding the waiting time for hospital billing at inpatient installation after care. To support the implementation, It's best to prepare Human Resources, System maintenance, and the continuing of system development.

Read More
B-1492
Depok : FKM-UI, 2013
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dian Natalia; Pembimbing: Dumilah Ayuningtyas; Penguji: Helen Andriani, Yudianto Budi Saroyo, Friana Asmely, Purnawan Junaidi
Abstrak:
Latar Belakang: Angka Kematian Ibu (AKI) masih menjadi indikator utama kualitas pelayanan kesehatan, dan belum mencapai target SDGs, terutama akibat keterlambatan deteksi dini dan penanganan komplikasi maternal (WHO, 2023). Kondisi kegawatan maternal sering diawali dengan tanda yang tidak spesifik, sementara pemantauan kondisi ibu masih bersifat konvensional dan subjektif, sehingga meningkatkan risiko keterlambatan intervensi dan kejadian failure to rescue. Modified Early Obstetric Warning System (MEOWS) terbukti efektif dalam mengidentifikasi perburukan kondisi maternal secara objektif dan mempercepat respons klinis (Kemenkes RI, 2024). Namun, implementasi MEOWS sangat bergantung pada kesiapan struktural rumah sakit. RSUD Pasar Minggu sebagai rumah sakit rujukan dengan layanan PONEK menunjukkan peningkatan kasus komplikasi maternal, namun belum menerapkan sistem deteksi dini secara optimal, sehingga diperlukan analisis kesiapan struktural untuk implementasi MEOWS. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kualitatif dengan pendekatan studi kasus di RSUD Pasar Minggu pada periode Desember 2025–Februari 2026. Data dikumpulkan melalui triangulasi metode yang meliputi wawancara mendalam, observasi non-partisipan, Focus Group Discussion (FGD), dan telaah dokumen. Informan dipilih secara purposive dan dikembangkan dengan teknik snowball sampling hingga mencapai kejenuhan data (data saturation), dengan melibatkan tenaga kesehatan dan manajemen yang berperan dalam implementasi MEOWS. Fokus penelitian adalah menganalisis kesiapan aspek struktur berdasarkan pendekatan 5M (man, material, machine, method, dan milieu). Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan analisis tematik melalui proses transkripsi, pengodean, kategorisasi, dan penarikan tema. Hasil: Kesiapan implementasi MEOWS di RSUD Pasar Minggu belum optimal pada seluruh aspek struktur. Aspek man menunjukkan keterbatasan kompetensi dan belum adanya pelatihan terstruktur. Pada aspek material dan machine, sarana tersedia namun lembar MEOWS belum standar dan belum terintegrasi dengan SIMRS. Aspek method ditandai belum adanya SOP baku dan sosialisasi tanpa praktik. Sementara aspek milieu relatif mendukung, meskipun masih terdapat kendala pada privasi dan pelaporan insiden. Hambatan utama terletak pada regulasi, kompetensi SDM, dan integrasi sistem. Kesimpulan: Implementasi MEOWS di RSUD Pasar Minggu belum siap secara optimal ditinjau dari aspek struktur (5M), terutama pada regulasi, kompetensi SDM, dan integrasi sistem. Diperlukan penguatan melalui penyusunan SOP baku, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan melalui on the job training, serta pengembangan integrasi MEOWS ke dalam SIMRS agar implementasi berjalan efektif dan berkelanjutan.

Introduction: Maternal Mortality Ratio (MMR) remains a key indicator of healthcare quality and has not yet achieved the SDGs target, primarily due to delays in early detection and management of maternal complications (WHO, 2023). Maternal emergencies often begin with non-specific signs, while clinical monitoring remains conventional and subjective, increasing the risk of delayed intervention and failure to rescue. The Modified Early Obstetric Warning System (MEOWS) has been proven effective in objectively identifying maternal deterioration and accelerating clinical response (Ministry of Health Indonesia, 2024). However, its implementation depends on the structural readiness of hospitals. RSUD Pasar Minggu, as a referral hospital with comprehensive emergency obstetric and neonatal care (PONEK) services, has shown an increase in maternal complication cases but has not optimally implemented an early warning system. Therefore, an analysis of structural readiness for MEOWS implementation is required. Method: This study employed a qualitative case study design conducted at RSUD Pasar Minggu from December 2025 to February 2026. Data were collected through methodological triangulation, including in-depth interviews, non-participant observation, Focus Group Discussions (FGD), and document review. Informants were selected purposively and expanded using snowball sampling until data saturation was achieved, involving healthcare providers and management personnel engaged in MEOWS implementation. The study focused on analyzing structural readiness based on the 5M framework (man, material, machine, method, and milieu). Data were analyzed using thematic analysis, including transcription, coding, categorization, and theme development. Result: The findings indicate that the readiness for MEOWS implementation at RSUD Pasar Minggu is not yet optimal across all structural aspects. The man aspect reveals limited competencies and the absence of structured capacity-building initiatives. In the material and machine aspects, facilities are available; however, the MEOWS chart is not standardized and has not been integrated into the hospital information system. The method aspect is characterized by the absence of standardized clinical guidelines and the implementation of training without practical components. The milieu aspect is relatively supportive, although challenges remain in patient privacy and incident reporting. Key barriers include regulatory gaps, limited human resource capacity, and lack of system integration. Conclusion: The implementation of MEOWS at RSUD Pasar Minggu is not yet structurally ready based on the 5M framework, particularly in terms of regulation, human resource capacity, and system integration. Strengthening efforts are required through the development of standardized clinical guidelines, capacity building of healthcare personnel through on-the-job training, and integration of MEOWS into the hospital information system to ensure effective and sustainable implementation.
Read More
B-2615
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Makkie Mubarak; Pembimbing: Wahyu Sulistiadi; Penguji: Ratu Ayu Dewi Sartika, Sumijatun, Ihsan Ramdani
Abstrak: Penelitian ini bertujuan mengetahui hubungan antara karakteristik perawat dengankepuasan kerja Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Tk.II Moh. Ridwan Meuraksa .Jenis penelitian ini kuantitatif dengan metode cross sectional menggunakankuesioner. Penelitian dilakukan di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Tk.II MOh.Ridwan Meuraksa pada bulan Mei 2015 dengan sampel berjumlah 77 orang. Analisishubungan menggunakan uji fisher exact dan regresi logistik. Hasil penelitianmenunjukkan gaji, hubungan teman kerja, persepsi, kebijakan mempunyai hubungansignifikan dengan kepuasan kerja perawat. Instalasi Rawat Inap RS Tk.II Moh.Ridwan Meuraksa harus memperhatikan serta meningkatkan kepuasan para perawatsehingga mutu pelayanan menjadi meningkat.
Kata kunci : Karakteristik Perawat, Kepuasan Kerja
This study aims to determine the relationship between the Characteristics of nursesand job satisfaction at the Hospital Moh. Ridwan Meuraksa. This type ofquantitative research with cross sectional method using questionnaires . The studywas conducted at Hospital Moh. Ridwan Meuraksa in May 2015, with a sampletotaling 77 nurses. Analysis of the relationship using fisher exact test and logisticregression. The results showed the part of characteristic such as salary, therelationship between nurses, perception and the last is wisdom and job satisfactionhas a significant relationship. The Hospital should care and improve the nurses jobsatisfaction and job satisfaction in order to increase quality of service.
Keyword : Characteristics of nurses, Job Satisfaction
Read More
B-1723
Depok : FKM UI, 2015
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nursofianty; Pembimbing: Sandi Iljanto; Penguji: Anhari Achadi, Puput Oktamianti; Rizka Hasanah
B-1975
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Vania Russendra Setiawan; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito; Penguji: Mieke Savitri, Ronnie Rivany, Benjamin Lahey
Abstrak:
Saat ini rumah sakit dan tenaga kesehatan rawan akan tuntutan-tuntutan yaitu tuntutan mutu pelayanan, tuntutan hukum dari pasien dan banyak pesaing dalam bidang perumahsakitan. Atas dasar ilu perlu perbaikan mutu dan menjaga mum. Rekam medis yang tidak lengkap merupakan kendala daiam menghasilkan rekam medis yang bermutu, formulir relcam medis rawat inap merupakan salah satu sumber data untuk mendapatkan informasi asuhan medis. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentiiilcasikan kelengkapan rekam medis rawat inap Rumah Sakit Family Medical Center. Sehingga diharapkan kualitas rekam medis dapat ditingkatkan yang secara tidak langsung mereileksikan mutu pelayanan medis di rumah sakit bersangkutau. Penelitian dilalcukan dengan metode pendekatan lcuantitatifdan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian pada rekam medis rawat inap pada bulan Januari - Mare: tahun 2009 adalah dari 444 rekam medis pemeriksaan Esik (anamnesis) ketidaklcngkapannya sebesar 50%, pemyataaan pulang paksa yaitu 85%, selanjutnya fommlir Resume medis mempakan hal yang paling sering tidak 50 %_ Dari wawancam mendalam pada kelengkapan pengisian rekam medis memang masih ada kekurangan dalam pengisian rekam medis. Ditemukan juga beberapa faktor yang mempenganzhi kelengkapan rekam medis Rumah Sakit Family Medical Center. Atas dasar temuan tersebut disarankan peningkatan kualitas sumber daya manusia dan pemberdayaan staff sub bagian rekam medis, peningkatan iimgsi dan peranan manajemen, peningkatan disiplin waklu kerj; peningkatan sosialisasi buku pedoman pengelolaan rekam medis, peningkatan prasarana Esik dan sarana.

Recently, the hospital and health personel are troubled by claims that are the claim of service quality, the claim of employee’s welfare, criminal procedure by teha patient and other competitors in hospitalization aspects. Base on those facts, so some effort improving and maintaining the quality is needed. Incomplete medical records are the constraint in producing good and valuable medical record of which inpatient medical record as a one of many data resource to produce information about medical record. The objective of this research is to identify the completeness of inpatient medical records content in "Family Medical Center" hospital in order. That effort is to assure the medical records quality could be developed which is indirectly reflect the quality of health care in the hospital. The research methodology is canied out by quantitive approach and qualitative approach. The result of this research was from 444 medical records can be found in assessment and physical examination 50% incomplete, force discharged 85% incomplete, and medical resume 50% incomplete. From in-depth interview whether in completeness of medical records are still there are lacking in writing medical records documentation. The research also found some factors that influence the firltllling medical record sheet and make it incomplete. Based on those findings, it is suggested to improve the quality of human resources and make the management to be efficient, enhance the function, improve the discipline of working hours, enhance the socialization of the guiding book of medical record management, improve the physical utility and pre-utility.
Read More
B-1162
Depok : FKM UI, 2009
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Indri Permanasari; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Jaslis Ilyas, Vetty Yulianty Permanasari, Eka Musridharta, Novita Dwi Istanti
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kolaborasi antar profesi kesehatan di Instalasi Rawat Intensif RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta. Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dengan pendekatan kuantitatif. Jumlah sampel 110 orang dari berbagai profesi yang bertugas di Instalasi Rawat Intensif RSPON Prof. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta selama bulan November 2023. Kuesioner AITCS II digunakan untuk menilai tingkat kolaborasi dan Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) untuk menilai faktor-faktor yang dianggap berhubungan dengan kolaborasi seperti Budaya Organisasi, Komunikasi, Penghargaan dan Kepercayaan, Peran dan Tanggung Jawab, Ketersediaan Waktu dan Sumber daya, Dukungan Manajemen dan Kepemimpinan. Hasilnya menunjukkan tingkat kolaborasi baik dengan rata-rata skor AITCS II sebesar 4,14. Kesimpulan : Budaya organisasi, komunikasi, dan pemahaman terhadap peran dan tanggung jawab mempengaruhi secara signifikan terhadap kolaborasi antar profesi. Temuan ini menjadi masukan bagi rumah sakit untuk meningkatkan efektivitas layanan kesehatan dengan mengoptimalkan peran dan tanggung jawab tenaga kesehatan di rumah sakit. Budaya kolaboratif dan komunikasi efektif juga menjadi kunci dalam meningkatkan hasil perawatan pasien.

This research aims to identify factors that influence collaboration between health professionals at the RSPON Prof. Intensive Care Installation. Dr. Dr. Mahar Mardjono Jakarta. This research uses a cross sectional design with a quantitative approach. The total sample is 110 people from various professions who work at the RSPON Prof. Intensive Care Installation. Dr. dr. Mahar Mardjono Jakarta for November 2023. The AITCS II questionnaire was used to assess the level of collaboration and Structural Equation Modeling - Partial Least Squares (SEM-PLS) to assess factors considered to be related to collaboration such as Organizational Culture, Communication, Respect and Trust, Roles and Responsibilities, Availability of Time and Resources power, Management and Leadership Support. The results show a good level of collaboration with an average AITCS II score of 4.14. Organizational culture, communication, and understanding of roles and responsibilities significantly influence collaboration between professions. These findings provide input for hospitals to improve the effectiveness of health services by optimizing the roles and responsibilities of health workers in hospitals. A collaborative culture and effective communication are also key to improving patient care outcomes.
Read More
B-2435
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Putri Nadia; Pembimbing: Vetty Yulianty Permanasari; Penguji: Anhari Achadi, Wachyu Sulistiadi, Suharno ; Akmal Yadi
Abstrak: Pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Rumah Sakit memerlukan obat-obatanyang aman, berkhasiat, bermutu dan terjangkau dalam jenis dan jumlah yang cukup. RSXYZ telah menjadi provider program pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional sejak bulanMei 2017 dan terjadi lonjakan pasien yang cukup signifikan. Rumah sakit perlu berbenahdiri dalam melakukan perbaikan untuk pengelolaan persediaan obat di instalasi farmasidemi tercapainya efektifitas dan efisiensi persediaan obat di farmasi. Tujuan daripenelitian ini adalah mendeskripsikan implementasi pengelolaan persediaan obat instalasifarmasi Rumah Sakit XYZ dalam Era Jaminan Kesehatan Nasional dalam rangkapenyusunan Rencana Kebutuhan Obat Rumah Sakit XYZ. Penelitian ini menggunakanmetode deskriptif cross-sectional yang bersifat kualitatif dan kuantitaif denganwawancara mendalam, observasi, telaah dokumen dan penghitungan klasifikasi analisaABC obat di instalasi farmasi. Penelitian in menunjukkan bahwa RS XYZ belummemiliki metode perencanaan dan pengadaan obat khususnya di era JKN. Perencanaanobat melihat trend pemakaian 1 minggu ke belakang untuk penggunaan 10 hari kedepan.Peneliti melakukan analisa ABC untuk melihat pengelolaan persediaan obat di RS XYZ.Analisa ABC yang dilakukan pada penggunaan obat di instalasi farmasi menunjukkanbahwa terdapat 1024 jenis obat yang digunakan dimana analisa ABC pemakaiankelompok C yang termasuk slow moving memiliki jumlah yang paling tinggi yaitu 70 %.Hasil analisa ABC investasi kelompok A memiliki jumlah investasi paling besar yaitu4.445.922.485. Hasil analisa ABC indeks kritis didapatkan hanya 55 % obat indeks kritisyang masuk kedalam formularium. Terdapat 30 % dokter yang belum patuh terhadapperesepan sesuai formularium. RS XYZ belum memiliki Rencana Kebutuhan Obat(RKO) dalam rangka memenuhi syarat untuk ikut dalam proses e-purchasing. RS XYZbelum memiliki sistem pengelolaan persediaan obat yang sesuai standar. RS XYZdiharapkan dapat membuat Rencana Kebutuhan Obat yang menerapkan prinsip efisiensikendali mutu kendali biaya. RS XYZ diharapkan memiliki penghitungan jumlah obatyang harus di pesan, safety stock dan juga titik pemesanan kembali obat.Kata Kunci : Jaminan Kesehatan Nasional, Persediaan Obat, Analisa ABC, Formularium,Rencana Kebutuhan obat.
Read More
B-1938
Depok : FKM-UI, 2018
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive