Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 30767 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Fanny Dimasruhin; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Stevan Deby Anbiya Muhamad Sunarno, Sugiarto, Haryanto
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan Safety Management System (SMS) dengan pendekatan ERA Management Maturity Model (ERA MMM) pada PT X—sebuah badan usaha niaga migas nasional yang beroperasi di delapan regional. Kajian ini juga menganalisis penerapan SMS dengan Sistem Manajemen Keselamatan Migas (SMKM), SUPREME, lalu menganalisis komparasi ketiganya. Selain itu, dilakukan Analisis Siklus PDCA (Plan–Do–Check–Act) dan dilakukan evaluasi Leading–Lagging Indicator untuk memotret efektifitas ketiganya Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan data primer berupa hasil survei ERA MMM dan data sekunder dari hasil penilaian SMKM & SUPREME serta Lagging Indicator (Atlas Keselamatan Migas dan data kecelakaan hilir migas 2024–2025). Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan ERA MMM di PT X dengan hasil Maturity berada pada level Anticipating  . Dalam penerapan SMKM, PT X terkoreksi dengan nilai akhir 89% atau baik sedangkan penerapan SUPREME, PT X memperoleh nilai 81%, atau Acceptable, yang bermakna PT X menjalankan operasi dengan risiko yang telah dikelola dengan baik dan seluruh proses dan implementasi SMS memenuhi syarat minimum. Dengan membandingkan ketiganya ERA MMM menunjukkan Tingkat maturity PT X, sedangkan SMKM menunjukkan pemenuhan regulasi minimun di Industri Migas dan SUPREME menunjukkan operasional organisasi telah mengelola risiko dengan baik atau belum. Analisis Siklus PDCA menunjukkan bahwa ketiga sistem telah mengikuti siklus PDCA namun secara proporsional, setiap aspek memiliki jumlah elemen/substansi yang beragam.  Dengan mengevaluasi Leading–Lagging Indicator dalam konteks Safety Performance, SUPREME dan ERA MMM secara relatif lebih efektif menggambarkan kondisi manajemen keselamatan PT X dengan outcome kejadian kecelakaan di masing-masing regional.

This study aims to analyze the implementation of the Safety Management System (SMS) with the ERA Management Maturity Model (ERA MMM) approach at PT X—a national oil and gas trading company operating in eight regions. This study also analyzes the implementation of SMS with the Oil and Gas Safety Management System (SMKM), SUPREME, and then analyzes the comparison of the three. In addition, a PDCA cycle analysis and Leading–Lagging Indicator evaluation were conducted to capture the effectiveness of the three. This study uses a quantitative descriptive method with primary data in the form of ERA MMM survey results and secondary data from SMKM & SUPREME assessment results and Lagging Indicators (Atlas Migas and downstream oil and gas accident data 2024–2025). The results of the study indicate that the implementation of ERA MMM at PT X with Maturity results is at the Anticipating   level. In the implementation of SMKM, PT X was corrected with a final value of 89% or good while the implementation of SUPREME, PT X obtained a value of 81%, or Acceptable, which means PT X carries out operations with risks that have been well managed and all processes and implementation of SMS meet the minimum requirements. By comparing the three ERA MMM shows the maturity level of PT X, while SMKM shows the fulfillment of minimum regulations in the Oil and Gas Industry and SUPREME shows whether the organization's operations have managed risks well or not. The PDCA (Plan–Do–Check–Act) Cycle Analysis shows that the three systems have followed the PDCA cycle but proportionally, each aspect has a varying number of elements/substances. By evaluating the Leading–Lagging Indicator in the context of Safety Performance, SUPREME and ERA MMM are relatively more effective in describing the condition of PT X's safety management with the outcome of accidents in each region.
Read More
T-7480
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Gatot Prihandoko; Pembimbing: Indri Hapsari Susilowati; Penguji: Ridwan Zahdi Syaaf, L. Meily Kurniawidjaja, Johannes Simanjuntak, Hendi Gunadi
T-4731
Depok : FKM-UI, 2016
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Mahmud Husain; Pembimbing: Doni Hikmat Ramdhan; Penguji: Laksita Ri Hastiti, Yunita Karmilasari, Ahmad Alfin Afwan
T-7726
Depok : FKM-UI, 2026
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dwi Handaya; Pembimbing: Chandra Satrya; Penguji: Ridwan Z. Sjaaf, Wito Sugiono
Abstrak:
Pendahuluan: Kecelakaan di industri sebagian besar terjadi pada pegawai kontraktor. Perusahaan X berusaha rnenangani kecelakaan kerja kontraktor dengan cara mengeluarkan program CSMS (Contractor Saftty Managemem System). Empat tahun program berjalan masih memberik:an prosentase kecelakaan terbesar pada kontraktor, sehingga menimbulkan pertanyaan sejauh mana komitmen kontraktor dalam menjalankan program ini. Metode: Penelitian deskriptif analitik untuk mcrtgetahui tingkat komitmen kontraktor dengan variable identitikasi, keterllbatan dan loyalitas. Alat yang di gunakan dengan quisioner dan wawancara, Hasil: 20C.4 kontraktor bemda pada komitmen tinggi, 40% komitmen moderat dan 40% komitmen rendah. Kontraktor yang mempunyai jenis kontrak jangka panjang mempunyai tingkat komitmen yang lebih tinggi, Standar K3 di perusahaan kontraktor belum terbentuk, laporan klnerja K3 jarang di buat, belum ada sistem audit pada program K3 kontraktor, sedikit kontraktor yang terlibat dalam even K3 di perusahaan X. Keterbatasan SDM di kontraktor harus di bantu oleh manajemen perusahaan X. Kontraktor jangka pendek harus di perlakukan dan di drive dengan lebih ketar oleh mannjemen X.
Read More
T-2625
Depok : FKM UI, 2007
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iwan Jatmika; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Mufti Wirawan, Masjuli, Deddy Syam
Abstrak:
Sebagian besar kasus kecelakaan besar yang terjadi di sektor minyak dan gas disebabkan oleh kurangnya/ketidaktahuan akan pengelolaan asset integrity. Pada tahun 2021-2022 terdapat lima kasus kecelakaan terkait aset integrity di PT X. Untuk menjawab hal ini, PT X membuat Asset Integrity Management System (AIMS). Tujuan penelitian ini yaitu menganalisis AIMS di PT X berdasarkan konsep safety resilience. Manfaat penelitian yaitu memberikan perspektif implementasi safety resilience untuk menghadapi kejadian yang dapat diperkirakan atau tidak terduga seperti kegagalan pada aset di PT X. Penelitian ini merupakan penelitian semi kuantitatif dengan menggunakan desain studi analisis deskriptif, dan panduan analisis berdasarkan Resilience Analysis Grid. Unit analisis dalam penelitian ini mengambil dokumen terkait AIMS di PT X dan wawancara dengan stakeholder terkait AIMS di PT X. Hasil dari analisis empat faktor resilience pada AIMS di PT X adalah kemampuan respon (73,75%), kemampuan monitor (81,23%), kemampuan belajar (77,22%), dan kemampuan antisipasi (75,62%). Dari hasil tersebut, tingkat safety resilience pada AIMS sudah menuju level proactive dengan rata-rata sebesar 77%. Keterlibatan beberapa pihak, pembagian tanggung jawab yang jelas, dan penambahan indikator efektifitas AIMS, menjadi hal yang diperlukan untuk meningkatkan kemampuan resilience pada AIMS di PT X.

Most of the major accident cases that occur in the oil and gas sector are caused by the lack of / ignorance of asset integrity management. In 2021-2022 there were five cases of accidents related to asset integrity at PT X. To answer this, PT X created an Asset Integrity Management System (AIMS). The purpose of this research is to analyze AIMS at PT X based on the concept of safety resilience. The benefit of the research is to provide a perspective on the implementation of safety resilience to deal with predictable or unexpected events such as failures in assets at PT X. This research is semi-quantitative research using a descriptive analysis study design, and an analysis guide based on the Resilience Analysis Grid. The unit of analysis in this study took documents related to AIMS at PT X and interviews with stakeholders related to AIMS at PT X. The results of the analysis of the four resilience factors in AIMS at PT X are response capability (73.75%), monitoring capability (81.23%), learning capability (77.22%), and anticipation capability (75.62%). From these results, the level of safety resilience at AIMS has reached the proactive level with an average of 77%. The involvement of several parties, a clear division of responsibilities, and the addition of AIMS effectiveness indicators, are things that are needed to improve the resilience capabilities of AIMS at PT X.
Read More
T-6933
Depok : FKM-UI, 2024
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Muhammad Tommy Fathurahman; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Fatma Lestari, Mufti Wirawan, Iqro Glentar
Abstrak:
Process Safety Management (PSM) merupakan salah satu pendekatan untuk melakukan pengendalian risiko terhadap high hazard process dengan cara mengurangi Loss Of Primary Containment (LOPC) dari material berbahaya pada sebuah proses yang dapat berpotensi menjadi major event. Sebagai cara untuk mengurangi Loss Of Primary Containment (LOPC) dapat dilakukan dengan pencatatan terhadap informasi Process Safety Events (PSEs). Informasi ini kemudian direkam melalui program Process Safety Management (PSM) dan dapat menjadi persyaratan sebuah industri untuk beroperasi. Kerangka kerja untuk keselamatan proses, dan pengembangan indikator kinerja utama, diilustrasikan dalam Piramida Keselamatan Proses dan dibagi menjadi 4 tier. Keempat level Piramida Keselamatan Proses dapat menghasilkan berbagai langkah untuk keselamatan proses. Namun, penting untuk memilih KPI yang sangat relevan yang dapat mengukur integritas langkah - langkah pengendalian risiko dan memberikan peringatan dini (early warning system) terhadap penurunan sistem atau kegagalan sistemik. Key Performance Indicator (KPI) untuk Tier 4 adalah sebagai leading indicator yang disusun untuk memantau realisasi dari suatu program yang telah direncanakan, pemenuhan compliance dari regulasi, monitoring dan pencatatan, maupun upaya-upaya penyelesaian atau corrective action dari rekomendasi-rekomendasi yang muncul terkait aktivitas dalam 14 elemen. Oleh karena itu, KPI Tier 4 umumnya adalah untuk mengukur kegiatan yang direncanakan dan tujuannya adalah mencapai penyelesaian 100%. Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa PT.X sudah memperhitungkan PSM dalam operasinya, akan tetapi masih banyak ruang untuk dikembangkan lagi karena masih adanya hasil perhitungan beberapa elemen yang tergolong buruk. Kekurangan ini disebabkan karena kurangnya pemahaman terkait PSM baik dari top management hingga operator.

Process Safety Management (PSM) is one approach to controlling risk to the high hazard process by reducing the Loss Of Primary Containment (LOPC) of hazardous materials in a process that could potentially become a major event. As a way to reduce Loss Of Primary Containment (LOPC), it can be done by recording Process Safety Events (PSEs) information. This information is then recorded through the Process Safety Management (PSM) program and can become a requirement for an industry to operate. The framework for process safety, and the development of key performance indicators, is illustrated in the Process Safety Pyramid and is divided into 4 tiers. The four levels of the Process Safety Pyramid can provide various steps for process safety. However, it is important to choose highly relevant KPIs that can measure the integrity of risk control measures and provide an early warning system against system failures or systemic failures. Key Performance Indicator (KPI) for Tier 4 is a leading indicator designed to monitor the realization of a planned program, fulfillment of regulatory compliance, monitoring and recording, as well as efforts to resolve or corrective actions from recommendations that arise related to activities. in 14 elements. Therefore, a Tier 4 KPI is generally for measuring planned activities and the goal is to achieve 100% completion. In addition, Tier 4 indicators can also be used as an internal company tool for reporting and measuring the performance of each operating unit that needs to be continuously developed and adjusted to the actual conditions in the company (API 754). Based on the research that has been done, it can be concluded that PT.X has taken into account PSM in its operations, but there is still a lot of room for further development because there are still the results of calculating some elements that are classified as bad. This deficiency is caused by a lack of understanding regarding PSM from top management to operators.

Read More
T-5919
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Tomi Wahyu Hadi; Pembimbing: Dadan Erwandi; Penguji: Sjahrul M. Nasri, Farida Tusafariah, Susanto Kusnadi
Abstrak:

Sekarang ini, di industri geothermal serta minyak dan gas, tren penggunaan tenaga kontraktor semakin meningkat. Hal ini tentu saja diikuti oleh  meningkatnya resiko keselamatan kerja yang dihadapi oleh pekerja kontraktor, dengan demikian peran dari sistem manajemen keselamatan & kesehatan kerja kontraktor – Contractor SHE management system (CSMS) menjadi semakin penting untuk diperhatikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat implementasi CSMS di PT. X unit bisnis geothermal pada tahun 2011. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan desain deskriptif komparatif, menggunakan elemen-elemen dalam panduan sistem manajemen OHSAS sebagai referensi untuk mendapatkan faktor-faktor yang akan diidentifikasi. Jenis data yang digunakan adalah data primer dan sekunder, sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan, wawancara dan studi literatur. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya tingkat implementasi CSMS di PT. X unit bisnis geothermal pada tahun 2011 adalah faktor dokumentasi yaitu kurang informatifnya form yang disediakan pada tahap pre job dan faktor sumber daya dimana belum ditetapkan sumber daya yang disediakan untuk menjadi representasi SHE. Saran yang diberikan adalah dengan merevisi form pada tahap pre job, kemudian dengan membuat penugasan tertulis mengenai sumber daya yang ditunjuk untuk malakukan peran dan tanggung jawab dari representasi SHE. Kata kunci, Sistem manajemen Kesehatan & Keselamatan Kerja Kontraktor.


 

Right now, in geothermal, oil & gas industry, the tren of using contractor workforce is increasing. Of course this condition followed by the increase of health and safety risk faced by the contractor’s workers. Therefore the role of Contractor SHE Management System (CSMS) become more and more important to be noted. The objective of this research was to identify the cause factors of CSMS low implementation rate in geothermal unit business of PT. X in 2011. This research using Qualtative methode with Comparative Descriptive design. This research using elements of OHSAS management system guideline as a reference to get theidentify factors which will be analyzed, the data used was primary and secondary. The research found that the factor which causing low implementation rate of CSMS in geothermal unit business of PT. X in 2011 was the factor of document, that the form of pre job phase which was not informative and the factor of human resource, that the resource for the SHE representative was not yet decided. It is sugested to revise the form in pre job phase to be more informative and to make a writen assignment of personnel who will take the role & responsibility of SHE representative. Keyword Contractor Safety Management System, CSMS

Read More
T-3651
Depok : FKM UI, 2012
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Zul Amri; Pembimbing: Baiduri Widanarko; Penguji: Indri Hapsari Susilowati, Mufti Wirawan, Andri Cahyadi, Santi Hairunissa
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara iklim keselamatan, kepemimpinan keselamatan, Contractor Safety Management System (CSMS), dan kinerja keselamatan pada perusahaan penyedia layanan teknologi informasi dan komunikasi (ICT provider) PT X yang beroperasi di sektor migas pada tahun 2025. Latar belakang penelitian ini didorong oleh meningkatnya keterlibatan kontraktor dalam kegiatan operasional migas, yang menuntut penerapan sistem manajemen keselamatan yang efektif serta kepemimpinan yang berfokus pada penguatan budaya keselamatan kerja. Pendekatan penelitian yang diterapkan bersifat kuantitatif, dengan analisis Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menilai hubungan kausal antar variabel laten. Data dikumpulkan melalui survei menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada personel internal dan eksternal (kontraktor) yang terlibat dalam proyek di PT X. Hasil analisis menunjukkan bahwa iklim keselamatan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kepemimpinan keselamatan (β = 0,850) dan CSMS (β = 0,407), namun pengaruh langsungnya terhadap kinerja keselamatan tidak signifikan (β = -0,022). Sementara itu, kepemimpinan keselamatan juga memberikan pengaruh positif terhadap CSMS (β = 0,212), tetapi tidak signifikan terhadap kinerja keselamatan secara langsung (β = 0,012). Di sisi lain, CSMS terbukti memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja keselamatan (β = 0,890), menunjukkan perannya sebagai variabel mediasi utama yang menghubungkan iklim dan kepemimpinan keselamatan dengan kinerja keselamatan. Nilai R² kinerja keselamatan sebesar 0,879 mengindikasikan bahwa model penelitian ini mampu menjelaskan sekitar 87,9% variasi kinerja keselamatan melalui kontribusi ketiga variabel tersebut. Temuan ini menegaskan bahwa peningkatan kinerja keselamatan pada perusahaan ICT provider di sektor migas sangat tergantung pada implementasi CSMS yang efektif, serta dukungan iklim dan kepemimpinan keselamatan yang kuat di seluruh tingkatan organisasi.

This study aims to explore the relationship between safety climate, safety leadership, Contractor Safety Management System (CSMS), and safety performance at PT X, an information and communication technology (ICT) provider operating in the oil and gas sector, in 2025. The background of this study is driven by the increasing involvement of contractors in oil and gas operational activities, which requires the implementation of an effective safety management system and leadership that focuses on strengthening a work safety culture. The research approach applied is quantitative, with Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) analysis to assess the causal relationship between latent variables. Data were collected through a survey using questionnaires distributed to internal and external personnel (contractors) involved in projects at PT X. The results of the analysis show that safety climate has a positive and significant influence on safety leadership (β = 0.850) and CSMS (β = 0.407), but its direct influence on safety performance is not significant (β = -0.022). Meanwhile, safety leadership also had a positive effect on CSMS (β = 0.212), but was not directly significant on safety performance (β = 0.012). Conversely, CSMS was shown to have a positive and significant effect on safety performance (β = 0.890), indicating its role as a key mediating variable linking safety climate and leadership to safety performance. The R² value for safety performance of 0.879 indicates that this research model is able to explain approximately 87.9% of the variation in safety performance through the contribution of these three variables. This finding confirms that improving safety performance in ICT providers in the oil and gas sector is highly dependent on the implementation of an effective CSMS, as well as the support of a strong safety climate and leadership at all levels of the organization.
Read More
T-7458
Depok : FKM-UI, 2025
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Hamas Musyaddad Abdul Aziz; Pembimbing: Zulkifli Djunaidi; Penguji: Mufti Wirawan, Indri Hapsari Susilowati, Yan Fuadi, M. Hadi Rachman
Abstrak: Secara global, industri pertambangan telah lama dianggap sebagai salah satu industri paling berbahaya dengan risiko kesehatan dan keselamatan yang besar bagi para pekerjanya. Frekuensi kejadian kecelakaan kerja dapat di cegah dengan perencanaan, pelaksanaan dan pengawasan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di tempat kerja sekaligus perilaku perilaku tenaga kerja pada khususnya dan masyarakat pada umumnya, yang mulai menyadari pentingnya penerapan norma K3 di tempat kerja. Kematangan tingkat budaya keselamatan (safety maturity level) sangat penting untuk pencegahan perilaku tidak aman, terutama berbagai sector industry dengan tingkat cedera dan kematian yang tinggi. Konsep ini bertujuan untuk membantu organisasi dalam menetapkan tingkat kematangan budaya keselamatan mereka saat ini dan mengidentifikasi tindakan yang diperlukan untuk meningkatkan budaya keselamatan mereka, sehingga diketahui dimensi dan aspek budaya keselamatan yang perlu diperbaiki . Tujuan dari penelitian ini mendesain instrumen pengukuran budaya yang sesuai dengan kondisi di lingkungan PT. XYZ dengan 10 variabel penelitian commitment & support, Leadership, policy & strategy, engagement & involvement, value, safety cost, competency & training, information & communication dan safety performance, melakukan pengukuran budaya keselamatan pada PT. XYZ berdasarkan model tingkatan kematangan budaya keselamatan, dan melihat hubungan antar dimensi budaya keselamatan . Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah mix methode, kuantitatif dan studi literature untuk memilih dimensi budaya keselamatan yang dijadikan variable penelitian dengan jumlah sampel penelitian 123 orang. Hasil penelitian dianalisis menggunakan Structural Equation Modelling (SEM) . Hasil penelitian menunjukan penilaian terhadap safety maturity level dengan 10 (sepuluh) dimensi budaya keselamatan di PT.XYZ berada pada poin 3.56 (Compliant to Proactive), terdapat 9 (sembilan) hipotesis yang dapat diterima, terdapat hubungan yang bermakna antara Leadership (L) dengan Policy & Strategy (PS), dimensi Policy & Strategy (PS) dengan Safety Cost (SC), dimensi Commitment & Support (CS) dengan Process (P), dimensi Leadership (L) dengan Engagement & Involvement (EI), dimensi Safety Cost (SC) dengan Competency & Training (CT), dimensi Process (P) dengan Information & Communication (IC), dimensi Engagement & Involvement (EI) dengan Value (V), dimensi Competency & Training (CT) dengan Safety Performance (SP), Value (V) dengan Safety Performance (SP) dan 1 hipotesis yang tidak diterima, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara dimensi Information & Communication (IC) dengan Safety Performance (SP).
Globally, the mining industry has long been considered one of the most dangerous industries with great health and safety risks to its workers. The frequency of work accidents can be prevented by planning, implementing and monitoring Occupational Safety and Health (K3) in the workplace as well as the behavior of workers in particular and the community in general, who are starting to realize the importance of implementing OSH norms in the workplace. Maturity level of safety culture (safety maturity level) is very important for the prevention of unsafe behavior, especially various industrial sectors with high rates of injury and death. This concept aims to assist organizations in determining the maturity level of their current safety culture and identify the actions needed to improve their safety culture, so that the dimensions and aspects of safety culture need to be improved . The purpose of this study is to design a cultural measurement instrument that is appropriate to the conditions in the PT. XYZ with 10 research variables commitment & support, Leadership, policy & strategy, engagement & involvement, value, safety cost, competency & training, information & communication and safety performance, measured safety culture at PT. XYZ is based on a safety culture maturity level model, and looks at the relationship between safety culture dimensions. The method used in this study is a mix method, quantitative and literature study to select the dimensions of safety culture which are used as research variables with research sample of 123 people. The results were analyzed using Structural Equation Modeling (SEM). The results of the study show that the assessment of the safety maturity level with 10 (ten) dimensions of safety culture at PT. XYZ is at point 3.56 (Compliant to Proactive), there are 9 (nine) hypotheses that can be accepted, there is a significant relationship between Leadership (L) and Policy & Strategy (PS), Policy & Strategy (PS) dimension with Safety Cost (SC), Commitment & Support (CS) dimension with Process (P), Leadership dimension (L) with Engagement & Involvement (EI), Safety Cost dimension (SC) with Competency & Training (CT), Process dimension (P) with Information & Communication (IC), Engagement & Involvement (EI) dimension with Value (V), Competency & Training (CT) dimension with Safety Performance (SP) , Value (V) with Safety Performance (SP) and 1 hypothesis which is not accepted, there is no significant relationship between Information & Communication (IC) and Safety Performance (SP) dimensions.
Read More
T-6466
Depok : FKM-UI, 2022
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Nugroho Joko; Pembimbing: Fatma Lestari; Penguji: Zulkifli Djunaidi, Dadan Erwandi, Deni Andrias, Wayne Satria
Abstrak:
Penelitian ini menganalisis penerapan sistem keselamatan kebakaran di gedung A dan B PT X pada Tahun 2020 menggunakan Fire Safety Evaluation System (FSES). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui kondisi sistem keselamatan kebakaran di gedung A dan B PT X. Disain penelitian menggunakan deskriptif dengan pendekatan semi kuantitatif. Gedung A dan B merupakan gedung untuk aktifitas perkantoran. Evaluasi dilakukan terhadap 12 safety parameter menurut NFPA 101A: Alternate Approaches to Life Safety dangan standar NFPA 101: Life Safety Code. Parameter yang di evaluasi adalah konstruksi gedung, pemisahan bahaya, bukaan vertikal, sprinkler, alarm kebakaran, pendeteksi asap, interior finish, pengendalian asap, akses keluar, jalur evakuasi, koridor/ kompartemen dan program tangap darurat. Analisis tambahan juga dilakukan pada sistem proteksi pasif, sistem proteksi aktif dan sarana penyelamat jiwa pada gedung A dan B. Hasil Penelitian menunjukan bahwa penerapan sistem keselamatan kebakaran di gedung A dan B PT X masih memenuhi nilai minimum keselamatan kebakaran gedung perkantoran berdasarkan mandatory requirement pada FSES.

This study analysis implementation of fire safety system at A and B buildings PT X in 2020 using Fire Safety Evaluation System (FSES). The purpose of this study was to know the condition of fire safety system at A and B building PT X. The design research was a descriptive with approach to semi quantitative. The building A and B are buildings for office activities. The evaluation was carried out for 12 safety parameters according to NFPA 101A: Alternate Approaches to Life Safety with the NFPA 101: Life Safety Code standard. The parameters evaluated are building construction, hazard separation, vertical openings, sprinklers, fire alarms, smoke detectors,  2 interior finish, smoke control, exit access, evacuation routes, corridors/ compartment and emergency response programs. Additional analysis was also carried out on passive protection system, active protection system, and lifesaving facilities in building A and B. The result showed that the implementation of fire safety at A and B building PT X still met the minimum value of fire safety in the office building based on the mandatory requirements in FSES.   

Read More
T-5877
Depok : FKM-UI, 2020
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive