Hasil Pencarian :: Kembali

Ditemukan 38521 dokumen yang sesuai dengan query ::  Simpan CSV
cover
Syifa Azzahra Setiawan; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Puput Oktamianti, Gita Maya Koemara Sakti
Abstrak:
Akreditasi puskesmas merupakan instrumen penjaminan mutu yang berlaku nasional, tetapi puskesmas berakreditasi dasar masih banyak ditemukan pada wilayah dengan hambatan sistem tinggi. Penelitian ini bertujuan menggambarkan capaian Peningkatan Mutu Puskesmas (PMP) serta menganalisis hubungan faktor struktur dan dukungan sistem terhadap PMP pada puskesmas berakreditasi dasar berdasarkan dataset Lembaga Akreditasi Fasyankes Seluruh Indonesia (LASKESI) periode 2023 sampai 2025. Penelitian menggunakan desain potong lintang dengan data sekunder puskesmas berakreditasi dasar (n = 58). Analisis dilakukan melalui statistik deskriptif, uji beda PMP menurut karakteristik puskesmas (Wilcoxon dan Kruskal-Wallis), serta uji korelasi Spearman antara faktor struktur, yaitu perencanaan dan kemudahan akses bagi pengguna layanan, tata kelola organisasi, manajemen sumber daya manusia, manajemen fasilitas dan keselamatan, manajemen keuangan, pengawasan pengendalian dan penilaian kinerja (PPPK), serta pembinaan puskesmas oleh dinas kesehatan kabupaten atau kota (PPODK), dengan skor PMP. Hasil menunjukkan sebaran puskesmas berakreditasi dasar terkonsentrasi di wilayah Papua dan didominasi lokasi terpencil hingga sangat terpencil. Skor total PMP relatif homogen, tetapi analisis per standar menunjukkan kelemahan yang menonjol pada peningkatan mutu berkesinambungan dan program manajemen risiko. Analisis hubungan pada skor total memperlihatkan pola yang tidak selalu konsisten antar faktor struktur sehingga interpretasi temuan diperkuat melalui penelusuran elemen penilaian. Temuan elemen menunjukkan kelemahan utama berada pada mekanisme penutupan siklus perbaikan atau closing the loop, terutama pada ketuntasan tindak lanjut rekomendasi, pelaporan kinerja, verifikasi, serta umpan balik pembinaan. Temuan ini menegaskan bahwa mutu pada puskesmas berakreditasi dasar lebih ditentukan oleh kualitas pelaksanaan siklus monitoring, umpan balik, dan tindak lanjut pada level internal melalui PPPK dan pada level eksternal melalui PPODK, dibanding sekadar pemenuhan standar administratif. Implikasi penelitian menempatkan perbaikan mutu sebagai agenda lintas level yang memerlukan penguatan pelaksanaan monitoring, umpan balik, dan tindak lanjut oleh puskesmas, LASKESI, dinas kesehatan, serta Kementerian Kesehatan agar siklus perbaikan berjalan rutin, terukur, dan berkelanjutan.

Accreditation is a national quality assurance instrument for primary health care facilities in Indonesia, yet basic-accredited puskesmas remain concentrated in settings with substantial system constraints. This study aimed to describe quality improvement performance and to examine how structural and system support factors relate to the overall quality improvement score among basic-accredited puskesmas, using the Lembaga Akreditasi Fasyankes Seluruh Indonesia (LASKESI) dataset from 2023 to 2025. A cross-sectional design was applied with secondary data from 58 basic-accredited puskesmas. Analyses included descriptive statistics, group comparisons by facility characteristics, and Spearman correlation tests between key structural factors and the total quality improvement score. The distribution of basic-accredited puskesmas was concentrated in Papua and was dominated by remote and very remote contexts. While the total quality improvement score appeared relatively homogeneous across facilities, standard-level results indicated prominent weaknesses in continuous quality improvement and risk management programs. Element-level review showed that the most critical gaps lay in completing the improvement cycle, particularly in follow-up completion, performance reporting, verification, and actionable supervisory feedback. These findings indicate that quality improvement in basic-accredited puskesmas is driven primarily by the functioning of routine monitoring, feedback, and follow-up mechanisms at the internal level through PPPK and at the external level through district health office supervision (PPODK), rather than administrative compliance alone.
Read More
S-12197
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Clara Clarissa; Pembimbing: Kurnia Sari; Penguji: Puput Oktamianti, Albert Augustinus Maramis
Abstrak:
Peningkatan mutu dan keselamatan pasien merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan primer, termasuk pada klinik sebagai fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama. Dalam standar akreditasi klinik, Tata Kelola Klinik dapat dipahami sebagai komponen struktur yang mendukung pelaksanaan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan domain Tata Kelola Klinik dengan capaian Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien pada klinik berakreditasi madya di Indonesia berdasarkan data akreditasi LASKESI tahun 2023–2025. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain observasional analitik dan pendekatan potong lintang. Data yang digunakan merupakan data sekunder hasil akreditasi klinik LASKESI. Sampel akhir terdiri atas 51 klinik berakreditasi madya yang memenuhi kriteria kelengkapan data pada domain Tata Kelola Klinik dan Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat. Uji Mann-Whitney U dan Kruskal-Wallis digunakan untuk menganalisis perbedaan capaian PMKP berdasarkan karakteristik klinik, sedangkan uji korelasi Spearman dan Pearson digunakan untuk menganalisis hubungan domain Tata Kelola Klinik dengan capaian PMKP sesuai distribusi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa capaian PMKP tertinggi terdapat pada Sasaran Keselamatan Pasien, sedangkan capaian terendah terdapat pada Upaya Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien. Pada domain Tata Kelola Klinik, capaian tertinggi terdapat pada Pengorganisasian Klinik, sedangkan capaian terendah terdapat pada Tata Kelola Kerja Sama. Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa wilayah administratif dan kelompok pulau tidak menunjukkan perbedaan capaian PMKP yang bermakna secara statistik. Dari empat domain Tata Kelola Klinik, hanya Tata Kelola Fasilitas dan Keselamatan yang memiliki hubungan positif dan signifikan dengan capaian PMKP (r = 0,296; p = 0,035). Sementara itu, Pengorganisasian Klinik, Tata Kelola SDM, dan Tata Kelola Kerja Sama tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa penguatan Tata Kelola Fasilitas dan Keselamatan perlu menjadi perhatian penting dalam mendukung pelaksanaan PMKP pada klinik berakreditasi madya. Namun, penguatan tata kelola klinik tetap perlu diarahkan tidak hanya pada pemenuhan administratif, tetapi juga pada implementasi standar secara konsisten dalam praktik pelayanan sehari-hari.

Quality improvement and patient safety are essential components of primary health care, including clinics as first-level health care facilities. In clinic accreditation standards, Clinic Governance can be understood as a structural component that supports the implementation of Quality Improvement and Patient Safety. This study aimed to analyze the association between Clinic Governance domains and Quality Improvement and Patient Safety achievement among intermediate-accredited clinics in Indonesia using LASKESI accreditation data from 2023 to 2025. This study applied a quantitative approach with an observational analytic and cross-sectional design. The data were obtained from secondary accreditation records of clinics assessed by LASKESI. The final sample consisted of 51 intermediate-accredited clinics with complete data on Clinic Governance and Quality Improvement and Patient Safety domains. Data were analyzed using univariate and bivariate analyses. The Mann-Whitney U test and Kruskal-Wallis test were used to examine differences in Quality Improvement and Patient Safety achievement based on clinic characteristics, while Spearman and Pearson correlation tests were applied to analyze the association between Clinic Governance domains and Quality Improvement and Patient Safety achievement according to data distribution. The results showed that the highest mean achievement in the Quality Improvement and Patient Safety domain was found in Patient Safety Goals, while the lowest was found in Quality Improvement and Patient Safety Efforts. In the Clinic Governance domain, the highest mean achievement was found in Clinic Organization, while the lowest was found in Partnership Governance. Bivariate analysis showed that administrative area and island group were not significantly associated with Quality Improvement and Patient Safety achievement. Among the four Clinic Governance domains, only Facility and Safety Governance showed a positive and significant association with Quality Improvement and Patient Safety achievement (r = 0.296; p = 0.035). Meanwhile, Clinic Organization, Human Resource Governance, and Partnership Governance showed no significant association. This study concludes that strengthening Facility and Safety Governance should be considered an important priority in supporting Quality Improvement and Patient Safety implementation among intermediate-accredited clinics. However, clinic governance improvement should not be limited to administrative compliance, but should also emphasize consistent implementation of accreditation standards in daily service delivery.
Read More
S-12383
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herawati; Pembimbing: Mieke Savitri; Penguji: Ahmad Syafiq, Lucky Surya
S-6251
Depok : FKM UI, 2010
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rahma Muthia Zakia; Pembimbing: Ede Surya Darmawan; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Ananda
Abstrak:
Fenomena penuaan penduduk di Indonesia ditandai dengan terus meningkatnya proporsi penduduk lanjut usia. Kelompok pra lansia (45-59 tahun) dan lansia (≥60 tahun) menanggung beban penyakit tidak menular tertinggi sehingga memerlukan upaya deteksi dini melalui skrining kesehatan. Meskipun demikian, pemanfaatan layanan skrining pada penduduk usia pra lansia dan lansia di Indonesia masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran dan fator-faktor yang berhubungan dengan pemanfaatan skrining kesehatan pada usia ≥45 tahun berdasarkan data Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS) 2023. Penelitian ini menggunakan desain cross-sectional dengan sampel penelitian yang dipilih berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi. Variabel independen yang diteliti meliputi usia, jenis kelamin, wilayah tempat tinggal, tingkat pendidikan, partisipasi sosial, sumber pendapatan, dan status kesehatan. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan uji regresi logistik ganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pemanfaatan skrining kesehatan pada penduduk usia ≥45 tahun baru mencapai 37,1%, masih jauh di bawah target Rencana Aksi Nasional Kesehatan Lanjut Usia 2020–2024 sebesar 60%. Seluruh variabel independen terbukti memiliki hubungan yang signifikan (p value < 0,05) dengan pemanfaatan skrining kesehatan. Pemanfaatan skrining lebih tinggi pada kelompok lansia (≥60 tahun), perempuan, penduduk perkotaan, berpendidikan tinggi, aktif berpartisipasi sosial, bersumber pendapatan tidak mandiri, serta berstatus kesehatan buruk. Faktor yang paling dominan memengaruhi pemanfaatan skrining kesehatan adalah tingkat pendidikan (OR = 1,975; 95% CI: 1,691–2,307). Oleh karena itu, diperlukan peningkatan aksesibilitas serta penguatan strategi promosi skrining yang menargetkan kelompok dengan pemanfaatan rendah.

The aging of Indonesia’s population is characterized by a steadily increasing proportion of older adults. The pre-elderly (45–59 years) and elderly (≥60 years) groups bear the highest burden of noncommunicable diseases, necessitating early detection efforts through health screening. However, the utilization of screening services among the pre-elderly and elderly populations in Indonesia remains low. This study aims to analyze the profile and factors associated with the utilization of health screening among individuals aged ≥45 years based on data from the 2023 Indonesia Longitudinal Aging Survey (ILAS). This study employed a cross-sectional design with a sample selected based on inclusion and exclusion criteria. The independent variables examined included age, sex, residential area, educational level, social participation, source of income, and health status. Data were analyzed using univariate, bivariate (Chi-Square test), and multivariate (multiple logistic regression) analyses. The study results show that the utilization rate of health screenings among the population aged ≥45 years is only 37.1%, still far below the 60% target set by the 2020–2024 National Action Plan for Elderly Health. All independent variables were found to have a significant association (p < 0.05) with the utilization of health screenings. Screening utilization was higher among the elderly (aged 60 years and older), women, urban residents, those with higher education, those actively participating in social activities, those with non-independent sources of income, and those in poor health. The most dominant factor influencing health screening utilization was education level (OR = 1.975; 95% CI: 1.691–2.307). Therefore, improved accessibility and strengthened screening promotion strategies targeting groups with low utilization are needed.
Read More
S-12358
Depok : FKM-UI, 2026
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Rita Warsihayati D; Pembimbing: Suprijanto Rijadi; Penguji: Sumarti, Indang Trihandini, Enny Budijani, Ratna Sarti
Abstrak:

Pneumonia merupakan salah satu penyebab kematian anak umur di bawah 5 tahun. Perkiraan kematian yang disebabkan batuk dan nafas cepat sebesar 6 permil. Program pemberantasan penyakit ISPA diupayakan untuk mengurangi kematian karena pneumonia. Penatalaksanaan kasus pneumonia oleh petugas menggunakan tata laksanana ISPA. Keberhasilan upaya program P2 ISPA merupakan daya ungkit penurunan kematian karena ISPA.. Secara teori target penemuan kasus pneumonia adalah 10 % dari jumlah balita. Penemuan kasus pneumonia didukung oleh tenaga kesehatan terlatih penatalaksanaan ISPA dan sarana penemuan kasus pneumonia. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan penemuan kasus pneumonia di Puskesmas, diantaranya faktor tenaga, sarana dan manajemen.Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan cross sectional dengan sampel sebanyak 33 puskesmas atau total populasi di Kabupaten Bekasi. Data primer diperoleh melalui wawancara dengan kuesioner dan data sekunder dari data hasil cakupan penemuan kasus pneumonia tahun 2001. Analisis data dilakukan dengan bantuan komputer menggunakan perangkat lunak Epi Info dan perangkat lunak statistik lainnya.Hasil penelitian menunjukkan bahwa cakupan penemuan kasus pneumonia di 75,8 % puskesmas adalah kurang. Secara proporsional faktor tenaga yang kurang, berada pada puskesmas dengan cakupan penemuan kasus pneumonia kurang. Begitu pula faktor sarana yang kurang, berada pada puskesmas dengan cakupan penemuan kasus pneumonia yang kurang. Sementara faktor manajemen, bila dilihat satu per satu yaitu pembuatan rencana kerja tahunan, staff meeting, bimbingan teknis dan evaluasi tidak memberikan pengaruh terhadap cakupan penemuan kasus pneumonia.Penelitian ini hendaknya dilanjutkan dengan penelitian kualitatif dengan penajaman kuesioner atau observasi serta melihat faktor lain melalui pendekatan individu sehingga didapatkan gambaran yang utuh mengenai faktor-faktor yang berhubungan dengan cakupan penemuan kasus pneumonia.


 

Correlation Factors of Number of Pneumonia Case Finding in Public Health Center in Bekasi District for year 2001Pneumonia is the one of cause of death in under five children. The estimated of death caused by cough and rapid breath are sixth per miles. The Acute Respiratory Infections (ARI) Program is an effort to reduce of death caused by pneumonia. The management of pneumonia by health worker is using the management of ARI. The aim of ARI Program is to decrease the death caused by ARI. Theoretically, the target of pneumonia case finding is 10 % from the number of under five children. The pneumonia case finding is done by specially trainee health workers in ARI management. The aim of this research is to know about the factors correlated with the number of pneumonia case finding in public health center, including human factor, equipment factor and management factor.The research is designed with descriptive analysis by cross sectional on 33 Public Health Center (PHC) as samples which are similar with total PHC District Bekasi. Primary data was collected trough interviewing respondent with questioner; secondary data was collected from annual report of the number of pneumonia case finding in Bekasi District 2001. The data was analyzed using to Epi Info software and related statistical software.The result of this research indicated that the prevalence of pneumonia found in PHC 75,8 % was considered as under reported. Proportionally, it trained health worker shows that the lower the number of pneumonia case found in PHC. Also, PHC having less equipment has lower number of pneumonia case found. Analysis on individual management factors including annual planning, staff meeting, technical assistance, and evaluation, shows no impact on the number of pneumonia case finding.This research must be followed up by qualitative research using more accurate questioner or observation and other factors with individual approach to get the complete picture about factors correlated with the number of pneumonia case finding.

Read More
T-1330
Depok : FKM-UI, 2002
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Anthoneta; Pembimbing: Kusharisupeni Djokosujono; Penguji: Asih Setiarini, Dewi Damayanti
S-7439
Depok : FKM UI, 2012
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Herlina; Pembimbing: Wiku Bakti Bawono Adisasmito
Abstrak:
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar puskesmas dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Kabupaten Lampung Barat Tahun 2000. Rancangan penelitian cross sectional untuk melihat hubungan pendidikan, pengetahuan, sikap terhadap pelayanan dan petugas kesehatan, persepsi tentang sakit, persepsi terhadap kualitas pelayanan, pendapatan keluarga, harga pelayanan, jarak pelayanan, sarana transportasi dan asuransi kesehatan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar puskesmas. Responden adalah keluarga di Kabupaten Lampung Barat baik yang telah maupun yang belum memanfaatkan pelayanan kesehatan dasar puskesmas sejumlah 160 orang yang dipilih secara acak dan rancang bertingkat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan, pengetahuan, sikap terhadap pelayanan dan petugas kesehatan, persepsi tentang sakit, harga pelayanan dan sarana transportasi berhubungan bermakna dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar puskesmas. Sementara faktor persepsi terhadap kualitas pelayanan, pendapatan keluarga, jarak pelayanan dan asuransi kesehatan tidak berhubungan bennakna dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar puskesmas. Analisis multivariat pada penelitian ini bertujuan untuk mencari faktor-faktor yang sangat berhubungan dengan pemanfaatan pelayanan kesehatan. Dari analisis multivariat ini bahwa faktor pendidikan, persepsi tentang sakit, harga pelayanan kesehatan dan sarana transportasi merupakan faktor-faktor yang mempunyai hubungan signifikan terhadap pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar puskesmas. Proporsi pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar puskesmas di Kabupaten Lampung Barat adalah 23,$% dan 76,2% tidak memanfaatkan pelayanan. Agar pemanfaatan pelayanan kesehatan dasar puskesmas lebih baik dimasa yang akan datang, maka perlu dilakukan penyesuaian harga/tarif pelayanan dengan mempertimbangkan harga pelayanan kesehatan dan kemampuan membayar masyarakat. Penelitian ini mengindikasikan bahwa masyarakat Lampung Barat mempunyai kemampuan dan kemauan membayar pelayanan kesehatan puskesmas lebih tinggi dibandingkan dengan masyarakat Indonesia pada umumnya. Untuk itu pada daerah ini perlu dipertimbangkan bentuk puskesmas yang dapat mengelola pembiayaan pelayanan kesehatan sendiri (swadana).

Many Factor that Related with Utilization Basic Health Service of Community Health Centre in West Lampung District on 2000 YearsThe goal of this research was to discribe utilization of basic health services of community health center and factors associated with its utilization in West Lampung of the 2000. The project research cross sectional was aimed at seeing the correlation between education, knowledge, attitude to health service and health practitioner, perception about disease, perception to quality health service, income of family, cost of health service, distance of health centre, transportation and health assurance with utilization of basic health service of community health center. The respondents were families in West Lampung District that already utilized basic health service of community health center, total 160 person, with random selection and multistage sampling technique. The result of research showed education, knowledge, attitude to health service and health practitioner, perception about disease, cost of health service and transportation were associated with utilization of basic health services. Meanwhile the perception to quality of health service, family income, distance to health center and health assurance had no significance associated with utilization of basic health service in community health centre. Multivariate analysis was used in this research to ablain factors most associated with the utilization of health services. From this multivariate analysis, education, perception, cost of health service and transportation, were found significantly associated to the utilization of basic health service. The proportion of basic health service utilization in West Lampung showed 23.8% being utilized and 76.2% being not utilized. To improve basic health service utilization in the future, there is a need to consider the price of health services availability of health services and ability to pay of health services. This research indicated that community of West Lampung has higher ability and willingness to pay for health sercives provided by community health centers, compare to other general communities in Indonesia Therefore this area can be considered as self financed health center (swadana).
Read More
T-1018
Depok : FKM UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Iskandar; Pembimbing: Agustin Kusumayati
T-776
Depok : FKM UI, 2000
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Dyah Ayu Giandhari; Pembimbing: Puput Oktamianti; Penguji: Martya Rahmaniati Makful, Mieska Despitasari
Abstrak:
Meskipun Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) telah meningkatkan akses layanan kesehatan di Indonesia, hambatan seperti ketimpangan fasilitas, keterbatasan tenaga kesehatan, dan rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap layanan domestik masih terjadi. Hal ini mendorong sebagian masyarakat untuk mencari layanan kesehatan ke luar negeri, yang diperkirakan menyebabkan potensi kerugian devisa negara hingga Rp165 triliun per tahun. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan jenis layanan kesehatan luar negeri berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023. Desain yang digunakan adalah kuantitatif potong lintang dengan cakupan 38 provinsi. Dalam tiga tahun terakhir, medical check-up menjadi layanan yang paling banyak dipilih, disusul tindakan bedah dan pengobatan lainnya. Faktor predisposisi seperti umur, jenis kelamin, status perkawinan, tingkat pendidikan, dan status pekerjaan tidak menunjukkan hubungan signifikan. Sebaliknya, faktor pendukung seperti kepemilikan jaminan kesehatan, kelengkapan fasilitas layanan, dan negara tujuan berobat memiliki hubungan yang signifikan. Faktor kebutuhan berupa riwayat penyakit tidak menunjukkan hubungan signifikan terhadap jenis layanan yang dipilih. Temuan ini mengindikasikan perlunya pengembangan layanan unggulan nasional berdasarkan jenis layanan yang diminati masyarakat, peningkatan mutu layanan preventif, penguatan integrasi layanan kesehatan, serta perluasan layanan berbasis wellness di dalam negeri.


Despite improvements in healthcare access through the National Health Insurance (JKN) program, Indonesia continues to face challenges such as uneven distribution of facilities, limited healthcare professionals, and low public trust in domestic services. These conditions have led many Indonesians to seek medical care abroad, resulting in an estimated foreign exchange loss of up to IDR 165 trillion per year. This study aims to analyze factors associated with the types of overseas health services chosen by Indonesians using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI). A quantitative cross-sectional design was applied, covering 38 provinces. Over the past three years, medical check-ups were the most frequently selected service, followed by surgical procedures and other treatments. Predisposing factors, including age, gender, marital status, education level, and employment status, showed no significant relationship. In contrast, enabling factors such as health insurance ownership, availability of complete facilities, and destination country were significantly associated with service type. Need factors, particularly medical history, were not significantly related. These findings highlight the need to develop nationally prioritized services, improve preventive care quality, strengthen health service integration, and expand wellness-based services.
Read More
S-12089
Depok : FKM UI, 2025
S1 - Skripsi   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
cover
Ristiyani Yuliyantari; Pembimbing: Peter Pattinama; Penguji: Adang Bachtiar, Kusdinar Achmad, Herawani, Farida Djufri
Abstrak:
Dari berbagai pendapat dan analisis para pengelola pendidikan maupun pemakai tenaga kesehatan di pelayanan, ada simpulan dan benang merah yang sama yaitu "Mutu lulusan yang berkualitas masih menjadi harapan yang belum jadi kenyataan". Banyak faktor yang mempengaruhi mutu lulusan dan belum pernah diteliti. Dengan demikian penelitian ini bertujuan untuk mengetahui mutu lulusan Akper di Propinsi kalimantan Barat dan faktor-faktor yang berhubungan dengan mutu lulusan Akper di Propinsi Kalimantan Barat tahun 2000. Disain penelitian ini menggunakan pendekatan dua studi yaitu kuantitatif dan kualitatif. Pada studi kuantitatif menggunakan. rancangan penelitian potong lintang dengan jumlah sampel 83 orang, sementara studi kualitatif dengan menggunakan metode wawancara mendalam dengan 8 informan. Pengolahan data dengan menggunakan analisis univariat, bivariat dan multivariat, sedang untuk kualitatif dengan menggunakan analisis isi. Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa nilai rerata mutu lulusan Akper adalah 2,57 dengan range 1,01. Sementara hasil bivariat menunjukkan adanya hubungan bermakna antara kemampuan kualitatif (r= 0,404 ; p<0,05) dan kemampuan kuantitatif (r= 0,321; p<0, 05) dengan mutu lulusan Akper. Hasil analisis mutivariat terlihat bahwa kemampuan kualitatif dan kemampuan kuantitatif merupakan faktor dominan yang berhubungan dengan mutu lulusan Akper. Saran untuk meningkatkan mutu lulusan Akper di Propinsi Kalimantan Barat agar Sipensimaru dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku, serta informasi tentang penerimaan Sipensimaru Diknakes, khususnya D-III Keperawatan lebih optimal lagi untuk menjaring calon pendaftar sebanyak-banyak.

Analysis of the Quality of Nurse Academy Graduates and Factors that Correlate with the Quality of the Graduates in West Kalimantan Province in Year 2000Referring to comments and analyses obtained from the management of various nurse academies and from users of health workers in health services, it may be concluded that "Excellent graduates of nurse academies are still far from reality". There may he various factors that influence the quality of the graduates. However, these factors have not been revealed much in existing studies. Therefore, this study is aimed at investigating the quality of nurse academy graduates in West Kalimantan Province as well as investigating factors that correlate with quality of the nurse academy graduates in West Kalimantan Province in year 2000. This study employed two research approaches, namely quantitative and qualitative. In term of quantitative approach, the design of study was cross sectional with 83 people as study sample while the quantitative one employed an in-depth interview method with 8 informants. Quantitative data gathered were analyzed using univariate, bivariate and multivariate techniques while qualitative data obtained from the informants were analyzed by using content analysis technique. Results from univariate analysis show that the mean of the quality score of nurse academy graduates is 2, 57 with 1, 02 range while results from bivariate analysis show that there is a significant correlation between qualitative competence (r= 0,404; p<0, 05) and quantitative competence (r= 0,321; p<0, 05) with the quality score. The multivariate analysis revealed that both qualitative and quantitative competences are dominant factors that correlate with the quality of nurse academy graduates. It is recommended that to increase the quality of nurse academy graduates in West Kalimantan Province, the Sipensimaru (freshmen recruitment system) should be executed in compliance with the prevailing standards furthermore information regarding the opening of freshmen recruitment for health workers education (Diknakes), particularly for D-11I Nursing Program, should be disseminated widely to recruit as many enrollers as possible.
Read More
T-864
Depok : PPS FKM-UI, 2001
S2 - Tesis   Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
:: Pengguna : Pusat Informasi Kesehatan Masyarakat
Library Automation and Digital Archive